Cakrawala (E-Journal)
Not a member yet
432 research outputs found
Sort by
Prediksi Harga Emas dan Nilai Tukar Rupiah dengan Pendekatan Estimator Deret Fourier Birespon
Harga emas dan nilai tukar merupakan indikator ekonomi penting yang berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi dan kebijakan moneter. Prediksi yang akurat dibutuhkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan pengambilan keputusan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi harga emas dan nilai tukar menggunakan regresi nonparametrik birespon berbasis estimator deret Fourier. Metode ini dipilih karena fleksibilitasnya dalam menangkap pola tanpa asumsi bentuk fungsional tertentu. Data yang digunakan adalah data bulanan harga emas dan nilai tukar di Indonesia yang dibagi menjadi 80% insampel dan 20% outsampel selama periode Januari 2016 hingga Desember 2024, di mana satu variabel prediktor digunakan untuk memodelkan dua respon secara simultan. Model dievaluasi menggunakan Mean Absolute Percentage Error (MAPE), dengan hasil sangat akurat, sebesar 1,31%. Model ini mendukung strategi investasi dan kebijakan ekonomi di sektor keuangan
Evaluasi Kinerja Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa pada Program Kolaborasi Riset Pasca Kebijakan Integrasi ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis evaluasi kinerja ORPA pada Program Kolaborasi Riset Pasca Kebijakan Integrasi ke dalam BRIN serta faktor apa saja yang menghambat kinerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut efektivitas, kolaborasi riset menghasilkan kinerja yang melebihi target, Efisiensi, serapan anggaran dua tahun terakhir mengalami peningkatan, kecukupan, program riset ORPA belum cukup memenuhi kebutuhan mitra, perataan, beban kerja dan anggaran kepada pusat riset di setiap judul riset sudah proporsional, responsivitas, permintaan mitra riset terakomodir dengan baik, dan ketepatan, perencanaan yang matang diawal, kemudian pengawalan dengan monitoring dan evaluasi secara periodik dan dibuat dokumen laporan kinerja serta dokumen manajemen risiko. Secara umum evaluasi kinerja ORPA pada program kolaborasi riset berdasarkan kriteria-kriteria yang ada sudah sesuai dan berjalan dengan baik atau berkinerja tinggi. Namun, secara kelembagaan ORPA tidak dapat dibandingkan dengan LAPAN apple to apple serta ORPA belum mempunyai dokumen kajian khusus terkait program riset yang sesuai dengan kebutuhan eksternal (user). Adapun faktor penghambatnya adalah sulitnya mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Periset, pengadaan bahan riset, antrian penggunaan alat dan laboratorium, submit publikasi ilmiah yang tidak dibiayai, waktu penerimaan proposal riset yang tidak tepat
Analisis K-Means Cluster pada Pengelompokkan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Berdasarkan Faktor yang Mempengaruhi IDG
Indikator untuk mengukur kesenjangan gender dapat diketahui dari Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Tahun 2021 IDG Jatim mengalami penurunan sebesar 0.67, sehingga kesenjangan meningkat antara IDG Indonesia dan IDG Jatim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh signifikan terhadap variasi IDG Jatim menggunakan analisis regresi linier berganda metode backward serta mengelompokan daerah dengan menggunakan metode K-Means. Berdasarkan variabel yang signifikan dalam regresi linier berganda yaitu variabel kesenjangan indeks pembangunan manusia (X1), kesenjangan pengeluaran perkapita (X2), Indeks Pendidikan (X3), Indeks Pengeluaran (X4), persentase tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan (X5), persentase perempuan yang duduk di DPRD (X8) dan Persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak (X9), dilanjutkan menggunakan metode K-Means didapatkan 2 (dua) cluster. Untuk daerah yang masuk dalam cluster 1 merupakan Kabupaten/Kota yang telah memahami pentingnya kesetaraan gender dan terjadi sebaliknya pada daerah yang masuk dalam cluster 2
Analisis Stakeholder dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis untuk SMA/SMK di Provinsi Jawa Timur
Penelitian ini bermaksud menganalisis stakeholder yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) di Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan berdasarkan document analysis dengan penyajian secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan stakeholder sangat berpengaruh dalam mendukung pelaksanaan program. Setelah dianalisis menggunakan “power/interest gridâ€, ditemukan stakeholder yang termasuk dalam kategori “subject†yaitu Akademisi, Komite Sekolah Donatur/Swasta, Kepala Sekolah, Guru, dan Bendahara sekolah. Untuk “player†yaitu Gubernur Jatim, Wakil Gubernur Jatim, DPRD Jatim, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, dan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Sedangkan “crowd†yaitu siswa dan orang tua siswa. Dan “context setter†yaitu media massa. Agar selanjutnya pelaksanaan program BPOPP dapat berjalan sesuai regulasinya, maka perlu dilaksanakan evaluasi dan monitoring. Selain itu, pembinaan terhadap bendahara sekolah dalam pengelolaan anggaran juga diperlukan agar anggaran tepat sasaran. Demi keberlanjutan program BPOPP diperlukan payung hukum yang lebih tinggi yaitu Peraturan Daerah sehingga kepala daerah lebih memiliki komitmen yang sifatnya lebih mengikat untuk melanjutkan program
Tata Kelola Kolaboratif Pengembangan Pariwisata dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pacitan
Merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan fokus penelitian menganalisis peran aktor kolaboratif, menganalisis proses kolaborasi tata kelola pengembangan pariwisata Kabupaten Pacitan dan juga menganalisis kontribusi sektor pariwisata ke PAD Kabupaten Pacitan. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran aktor kolaborasi telah dijalankan dengan baik sesuai perannya masing-masing. Berikut proses kolaborasi yang telah berlangsung; (1)Dinamika kolaborasi, antar aktor telah melakukan pengungkapan atas apa yang menjadi tujuan kolaborasinya, hal tersebut dituangkan dalam proses diskusi hingga tercipta motivasi bersama, (2)Tindakan kolaborasi, Disparpora sebagai aktor sentral memfasilitasi tindakan kolaborasi seperti pelatihan dan bimbingan teknis untuk pengelola dan komunitas (pokdarwis), memfasilitasi kegiatan akademisi untuk riset di Pacitan dan memfasilitasi diskusi dengan pegiat media sosial, (3)Kolaborasi telah menghadirkan dampak yang cukup signifikan, masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengembangan wisata dan objek wisata berkembang signifikan sesuai konsep Sapta Pesona. Proses kolaborasi berhasil meningkatkan kunjungan wisata ke Pacitan dan kontribusi sektor pariwisata ke PAD sebesar 7% pada tahun 2022
Kebijakan Penilaian Kondisi Perkerasan Lentur Menggunakan Metode PCI dan Analisis Penyebab Kerusakan pada Ruas Jalan Genteng-Temuguruh Kabupaten Banyuwangi
Ruas Jalan Genteng – Temuguruh merupakan Jalan provinsi yang menghubungkan kecamatan Singojuruh dan Sempu menuju kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Sepanjang ruas jalan banyak ditemukan titik kerusakan perkerasan. Kerusakan terjadi pada lapis permukaan yang didominasi pada lajur kanan menuju kota kecamatan Genteng. Data kerusakan jalan dibutuhkan untuk penyusunan indeks kerusakan perkerasan pada metode Pavement Condition Index (PCI). Tujuannya untuk mengetahui kondisi perkerasan jalan dengan cara identifikasi kerusakan, jenis kerusakan dan tingkat kerusakan perkerasan (Shahin,1994). Hasil temuan di lapangan terdapat 7 jenis kerusakan dengan yakni retak pinggir 64,565%, kegemukan 11,874%, pelapukan & butiran 10,852%, retak memanjang & melintang 8,155%, retak buaya 3,272%, retak slip 1,073%, dan lubang sebesar 0,209%. Rata – rata nilai PCI sebesar 78,72 menunjukkan kondisi perkerasan sangat baik, tetapi kondisi riil masih terjadi kerusakan. Hasil analisa penyebab kerusakan jalan diperoleh nilai truk faktor lajur kiri 1,1003 dan lajur kanan 0,7441, untuk nilai TF>1 menunjukkan kerusakan jalan yang disebabkan overloading kendaraan berat
Penerapan Regulatory Impact Assessment dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan: Suatu Kewajiban atau Saran?
Diundangkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 mengenalkan secara formal metode tambahan dalam menyusun Naskah Akademik pada suatu rancangan peraturan perundang-undangan yaitu dengan menggunakan alat bantu Regulatory Impact Assessment atau RIA. Penggunaan RIA di Indonesia dapat ditarik kembali pada awal tahun 2000 dimana beberapa badan pemerintahan menggunakan RIA walaupun belum dipergunakan secara luas. Undang-Undang tersebut tidak mewajibkan penggunaan RIA namun berdasarkan penggunaan RIA secara luas di negara-negara asing, dapat terlihat bahwa RIA digunakan secara masif. Ditambah dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh RIA, maka penggunaan RIA dalam penyusunan peraturan perundang-undangan, maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia sudah sewajarnya untuk mengadopsi penggunaan RIA dalam penyusunan perundang-undangan secara formal
The Elements Required for Multi-Stakeholder Collaboration to Achieve Sustainable Agricultural: Based on Jarwo Super Application in West Java
The Jarwo Super innovation platform is identified as a framework for introducing Jarwo Super rice cultivation technology through the use of technological components developed for irrigated rice fields. This research examines the determining factors for the success of the collaboration process in producing agricultural innovation resulting from research and development in Indonesia. Using an innovation platform framework, this research conducted semi-structured interviews with relevant stakeholders, including researchers, policy makers, information disseminators, and local governments, to investigate multi-stakeholder perspectives. The Multi Channel Dissemination Structure (SDMC) of the Agricultural Research and Development Agency, which was created as a policy scheme starting with research, assessment, development, and application and feedback on technology, depicts actor collaboration. The findings of this study highlight the importance of three elements—demand-based participation (innovation evolution), capacity building, and commitment—for achieving multi-stakeholder collaboration. The first component, demand-based participatory, consists of implementation procedures, testing, evaluation, and research. further, the capacity building component indicates that a platform for experimentation, learning, and knowledge development is necessary for successful collaboration. The third factor is commitment which aims to encourage new developments, where the innovation platform can be a solution according to needs based on goals and vision and as a form of legitimacy for the innovation produced. We suggest that these factors can be of interest for practical application by experts to minimize uncertainty in innovation outcomes and increase the effectiveness of decision making