e-journal STAI Mahad Aly Al-Hikam Malang
Not a member yet
997 research outputs found
Sort by
RELASI DAN REKONSILIASI ANTARA PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDIDIKAN BARAT
Mengacu pada daftar yang dilansir http://www.mbctimes.com/, 20 negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik pada tahun 2015/2016 adalah: 1) Korea Selatan; 2) Jepang; 3) Singapura; 4) Hong Kong; 5) Finlandia; 6) Inggris Raya (UK); 7) Kanada; 8) Belanda; 9) Irlandia; 10) Polandia; 11) Denmark; 12) Jerman; 13) Rusia; 14) Amerika Serikat; 15) Australia; 16) Selandia Baru; 17) Israel; 18) Belgia; 19) Republik Ceko; 20) Swiss 1. Demikian halnya dengan daftar perguruan tinggi terbaik edisi tahun 2015/2016 yang dilansir berbagai media online seperti http://www.webometrics, mayoritas masih didominasi oleh negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (Harvard University [1], Stanford University [2], Massachusetts Institute of Technology [3]), Inggris (University of Oxford [13], University of Cambridge [14]) dan Kanada (University of Toronto [16]) 2. Terlepas dari bias media, sungguh miris jika menengok laporan ini, karena tidak ada satu pun negara mayoritas muslim yang masuk di dalamnya. Data ini menunjukkan dominasi sistem pendidikan Barat terhadap pendidikan Islam.Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa pendidikan Barat telah memberi pengaruh signifikan terhadap berbagai dimensi pendidikan Islam. Misalnya: Input peserta didik diklasifikasikan melalui tes IQ yang dikembangkan psikolog Perancis, Alferd Binet tahun 1905. Metode Binet dalam menghitung angka IQ adalah usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis, lalu dikalikan dengan 100. Rumusnya adalah: IQ = MA/CA x 100 di mana MA adalah Mental Age, sedangkan MC adalah Chronological Age3. Atau trend yang lebih mutakhir adalah tes Kecerdasan Majemuk yang dikenal dengan Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah instrumen riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecenderungan kecerdasan seseorang. Dari hasil analisis MIR, dapat disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. MIR ini mengacu pada Kecerdasan Majemuk (Multiple Inteligences) yang digagas psikolog Amerika Serikat, Howard Gardner 4.Metode pembelajaran berbasis siswa aktif mayoritas didasarkan pada teori yang digagas ilmuwan Barat, seperti Quantum Teaching oleh Bobbi DePorter dkk. Quantum Teaching diciptakan berdasarkan berbagai teori pendidikan, seperti Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistik Programming (Ginder dan Bandler), Experiential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson and Johnson) dan Elemen of Effective Instruction (Hunter). Jadi, Quantum Teaching telah merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik, sehingga menjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan dan kompatibel dengan otak yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi 5. Demikian halnya dengan model-model pembelajaran kooperatif seperti STAD (Student Teams Achievement Division) yang dikembangkan Robert Slavin dan Jigsaw oleh Elliot Aronson; model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang dikembangkan Robert M. Gagne; Contextual Teaching and Learning (CTL) yang digagas Elaine B. Johnson; dan lain sebagainya 6.Evaluasi pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam juga masih didasarkan pada taksonomi Benjamin S. Bloom, yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Bloom, 90% perbedaan prestasi belajar disebabkan tiga faktor utama. Pertama, perilaku entri kognitif, yaitu kompetensi peserta didik ketika dihadapkan pada tugas belajar baru. Kedua, perilaku entri afektif yang terkait motivasi belajar awal hingga optimal. Ketiga, menyesuaikan pembelajaran yang berkaitan degan media dan waktu serta dorongan dan individualisasi 7. Pada praktiknya, penilaian yang dilakukan pendidik harus memuat keseimbangan ketiga domain tersebut. Penilaian aspek kognitif dilakukan setelah peserta didik mempelajari satu kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian aspek afektif dilakukan selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, baik di kelas maupun di luar kelas. Penilaian psikomotorik dilakukan selama berlangsungnya proses belajar-mengajar 8.Paparan di atas mengindikasikan bahwa pendidikan Barat telah berpengaruh signifikan terhadap pendidikan Islam, baik pada tahap pra, proses maupun pasca pembelajaran.Di samping membawa pengaruh positif, pendidikan Barat juga membawa pengaruh negatif terhadap pendidikan Islam. Inilah pandangan Mujamil Qomar yang menegaskan bahwa problem utama pendidikan Islam saat ini adalah problem epistemologi. Hal ini disebabkan filsafat pendidikan yang diberikan pada departemen kependidikan Islam sekarang ini, sepenuhnya filsafat pendidikan Barat, sehingga sistem pendidikan Islam kental oleh pengaruh pendidikan Barat. Sedangkan pendidikan Barat dibangun di atas filsafat pendidikan yang menggunakan pendekatan epistemologi yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam, semisal anti-metafisika 9.Misalnya: Filsafat pendidikan Barat yang bersifat Pragmatisme dan Materialisme berimplikasi pada tujuan pendidikan yang cenderung diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dunia korporasi; sehingga mengantarkan keterampilan vokasional sebagai tujuan pokok pendidikan. Parameter kesuksesan lembaga pendidikan pun menjadi lebih dangkal, yaitu seberapa besar alumni yang berhasil diserap oleh dunia usaha. Orientasi vokasional yang berlebihan tersebut telah mengikis orientasi spiritualisme dalam pendidikan Islam. Dampaknya adalah krisis moral yang mengarah pada dehumanisasi. Contoh konkretnya adalah fenomena “Indonesia Darurat Moral†yang digaungkan oleh para tokoh nasional, seperti Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva yang menyebut Indonesia saat ini tengah dilanda darurat moral lantaran maraknya kejahatan seksual yang sudah masuk ke berbagai generasi bangsa 10.Dalam konteks rekonsiliasi antara pendidikan Barat dan pendidikan Islam, penulis tertarik untuk membangun “jembatan emas†antara aspek positif pendidikan Barat dengan aspek positif pendidikan Islam. Jembatan emas tersebut dibangun di atas pilar Maqashid Syariah. Maqashid Syariah adalah tujuan-tujuan agung Syariat Islam atau hikmah-hikmah yang diletakkan oleh Allah SWT dalam setiap hukum syariat Islam. Inti Maqashid Syariah adalah merealisasikan kemaslahatan umat manusia, di dunia maupun di akhirat; baik dengan cara mendatangkan manfaat maupun menampik mafsadat 11. Inilah yang penulis maksudkan dengan redaksi ‘rekonfigurasi’ sepanjang bahasan dalam tulisan ini.Â
STUDI EVALUATIF TENTANG KEBERADAAN SEKOLAH PROGRAM BAKAT ISTIMEWA DI MTsN MALANG III BERDASARKAN 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGKAT SMP/MTS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas tentang keberadaan sekolah program bakat istimewa dengan cara menganalisis standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolahan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan pada Program Bakat Istimewa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III dan mengevaluasi berdasarkan 8 standar nasional pendidikan tingkat SMP/MTs yang meliputi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolahan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dimana sumber data diperoleh dari: informan (Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Waka Sarana dan Prasarana, Waka Bendahara, Ketua Program Bakat Istimewa, guru dan pelatih, serta siswa) dan dokumen. Keabsahan data menggunakan triangulasi. Sementara hasil penelitian menggunakan teknik analisis model interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil dari temuan data penelitian di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III pada Program Bakat Istimewa dapat disimpulkan bahwa: (1) Keberadaan Sekolah Program Bakat Istimewa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III dari awal diselenggarakan pada tahun pelajaran 2013/2014 sampai dengan 2016/2017 telah mengalami peningkatan dalam pemenuhan sarana dan prasarana bagi peserta didik program bakat istimewa, meskipun masih ada yang harus ditingkatkan lagi berkaitan dengan lapangan yang digunakan dalam proses latihan. Sedangkan dalam Standar Penilaian pada program Bakat Istimewa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III yang dilaksanakan masih kurang spesifik dalam perumusan kompetensi. Hal ini terlihat dari format raport yang tidak disesuaikan dengan cabang olahraga yang dipilih oleh peserta didik, (2) Keberadaan Sekolah Program Bakat Istimewa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III meningkatkan mutu peserta didik khususnya dalam bidang non-akademik olahraga. Hal ini dapat dilihat dari prestasi yang dihasilkan baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional yang diperoleh madrasah melalui peserta didik yang menempuh program bakat istimewa.Kata Kunci: Program Bakat Istimewa, Standar Nasional Pendidika
MANAJEMEN PEMBELAJARAN AQIDAH AHLU AL-SUNNAH WA AL-JAMAAH DI PONDOK PESANTREN NURUL ISLAM JEMBER
Ditengah munculnya berbagai aliran yang dinilai menyimpang dari mainstream, banyak cara yang dilakukan dalam rangka penguatan aqidah dan klarifikasi terhadap kritik, berbagai tuduhan bid‘ah, syirik, kafir yang kerap di alamatkan kepada penganut setia mazhab Abu al-Hasan al-Ash‘ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Pondok pesantren Nurul Islam Jember, merupakan salah satu dari sekian banyak pesantren di Indonesia yang melakukan penguatan ‘aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‘ah terhadap para santrinya secara serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Manajemen pembelajaran ‘aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‘ah di pondok pesantren Nurul Islam Jember. Adapun aspek yang akan diteliti yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajarannya. Penelitian tentang manajemen pembelajaran ‘aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‘ah di pondok pesantren Nurul Islam Jember ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif-studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi partisipasi moderat, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa proses perencanaan di PP. Nurul Islam Jember ini yang dimulai dari perumusan tujuan, proses kebijakan dan prosedur perencanaan, kesemuanya itu telah berjalan sesuai dengan teori dan konsep-konsep yang ada kecuali pada strategi pengorganisasian dan rekrutmen tenaga pendidiknya. Sedangkan dalam pelaksanaan pembelajarannya, semuanya bagus kecuali pada pengelolaan ruang kelas dan guru. Dan pada tahap evaluasi, ditinjau dari segi waktunya di pesantren ini dilakukan sebanyak tiga kali yaitu bulanan, tengah dan akhir semester. Dan ditinjau dari sisi bentuknya evaluasi ada dua macam, yaitu pertama berbentuk laporan capaian materi, kedua berbentuk ujian tulis.Kata kunci : Manajemen pembelajaran ‘aqidah ahlu al-sunnah wa al-jama‘ah
ANALISIS STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
Sistem pendidikan di Indonesia secara nasional mempunyai standar dalam pengelolaannya. Secara umum standar pengelolaan pendidikan dibuat untuk menseragamkan kualitas manajemen di sekolah/madrasah. Namun secara khusus perlu untuk dianalisis pada masing-masing poin guna pengembangan kualitas pelayanan pendidikan pada sekolah/madrasah yang melaksanakannya. Analisis tersebut haruslah mampu menunjang lebih maju untuk pengembangan lembaga pendidikan menjadi lebih profesional dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
Tahapan Operasional Konkret Jean Piaget dalam Internalisasi Moral Religius Anak Usia Sekolah Dasar 7 – 12 Tahun
Usia rentang sekolah dasar 7-12 ialah masa yang sangat rentan dan peka terkait perkembangan sikap dan perilaku, dalam tahapan Jeans Piaget adalah operasional konkret. Pada tahap operasional konkret anak sudah mempunyai kemampuan mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral, anak memiliki kemampuan menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah. Peran Orang dewasa dalam mengarahkan nilai religius kepada anak antara lain, memberikan keteladanan, membiasakan hal-hal yang baik, menanamkan disiplin, memberikan motivasi, memberikan penghargaan secara psikologis, memberikan punishment dalam hal kedisiplinan
“Pesantren Ramah”: Deskripsi Eksklusif Pengalaman Santri di Lingkungan Pesantren: “Friendly Pesantren”: an Exclusive Description of Students’ Experiences in Pesantren Environment
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam implementasi konsep pesantren ramah santri di Pesantren Darul Hikmah Al-Islamy Kabupaten Probolinggo, serta mengungkap pengalaman santri dalam berinteraksi dan beradaptasi di lingkungan pesantren yang menekankan nilai-nilai kasih sayang, penghargaan, dan pelatihan karakter. Pesantren ini menjadi representasi lembaga pendidikan Islam yang berkomitmen menciptakan atmosfer belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan, sekaligus mengedepankan pembentukan karakter santri secara utuh melalui keseimbangan antara aspek spiritual, sosial, dan emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang berorientasi pada penggambaran fenomena secara alami dan faktual tanpa manipulasi terhadap konteks penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan santri, ustadzah, dan pengasuh pesantren; observasi partisipatif terhadap kegiatan harian santri; serta dokumentasi berbagai aktivitas pelatihan. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berkelanjutan hingga perolehan pemaknaan yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip ramah santri di Pesantren Darul Hikmah Al-Islamy diwujudkan melalui kebijakan pembinaan tanpa kekerasan, pendekatan edukatif yang humanis, serta pengembangan kegiatan bernilai karakter seperti halaqah akhlak, pelatihan tahfidz Al-Qur\u27an, kepemimpinan, dan kegiatan sosial. Suasana pesantren yang terbuka dan komunikatif menciptakan hubungan yang harmonis antara santri, ustadzah, dan pengasuh, sehingga menumbuhkan rasa aman, dihargai, dan diterima di lingkungan belajar. Kondisi tersebut berdampak positif terhadap terbentuknya karakter santri yang religius, disiplin, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Dengan demikian, pesantren ramah santri tidak hanya menjadi wadah pembelajaran keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembentukan kepribadian yang humanis dan berkeadaban
Penguatan Literasi Keagamaan Berbasis Kajian Kitab Safinatun Najah di Sekolah Menengah Kejuruan: Strengthening Religious Literacy Based on the Study of the Book of Safinatun Najah in Vocational High Schools
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya penguatan literasi keagamaan melalui kajian kitab Safinatun Najah di SMK Bustanul Hasan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya literasi keagamaan dalam membentuk karakter dan akhlak siswa, terutama dalam konteks sekolah menengah kejuruan yang tidak berafiliasi langsung dengan sistem pendidikan pesantren. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan guru dan siswa dari latar belakang pesantren dan non-pesantren sebagai subjek. Data diperoleh melalui wawancara, observasi partisipatif, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan literasi keagamaan dilakukan dengan mengintegrasikan kajian kitab sebagai muatan lokal dalam kurikulum sekolah. Meskipun terdapat tantangan seperti perbedaan latar belakang pemahaman siswa terhadap teks keagamaan, strategi pembelajaran yang kontekstual dan pendekatan praktis terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan siswa. Kajian ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan agama berbasis kitab klasik dapat menjadi strategi efektif dalam menanamkan nilai religiusitas di sekolah vokasional