Jurnal Universitas Abdurrab
Not a member yet
    1637 research outputs found

    MEMBANGUN DESA CERDAS PEMILU UNTUK MEWUJUDKAN PEMILU TAHUN 2024 YANG IDEAL DI DESA TEBING, KECAMATAN KELAPA, KABUPATEN BANGKA BARAT

    Full text link
    the 2024 Election. The activity was carried out in partnership with the Tebing village government, Kelapa sub-district, West Bangka Regency. This activity was carried out with the consideration that it is necessary to increase the political knowledge or insight of Tebing residents, especially in the process of elections and regional elections, so that they know and understand what elections and regional elections are. Not only that, this socialization also aims to provide Tebing residents with an understanding of how to deal with issues that have the potential to hinder the implementation of ideal elections such as black campaigns, hoax news, identity politicization and also money politics, as well as other issues. The activities carried out include conducting offline socialization about elections to Tebing Village Residents, Kelapa District, West Bangka Province with the aim that Tebing Village Residents who will later become voters can recognize elections and their objectives properly, know how to vote during elections at polling stations correctly and how to avoid fraud and hoaxes that are spread and react to them wisely so that elections run well.Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk memberikan sosialisasi masyarakat untuk menghadapi Pemilu 2024. Kegiatan yang dilakukan bermitra dengan pemerintah desa Tebing Kecamatan Kelapa, Bangka barat. Kegiatan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa diperlukan upaya peningkatan pengetahuan politik atau wawasan warga Tebing terutama dalam proses pemilu dan pilkada, sehingga mereka mengetahui dan memahami apa itu pemilu dan pilkada. hanya itu sosialisasi ini juga bertujuan untuk memberikan pengertian kepada para Warga Tebing bagaimana menghadapi isu-isu yang berpotensi menjadi penghambat terselenggaranya pemilu yang ideal seperti kampanye hitam, berita hoax, politisasi identitas dan juga politik uang, serta isu lainnya. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain adalah melakukan sosialisasi mengenai pemilu secara offline ke Warga Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat dengan tujuan yaitu agar Warga Desa Tebing yang nantinya akan menjadi pemilih dapat memahami pemilu serta tujuannya dengan baik, mengetahui bagaimana cara memilih saat pemilu di TPS dengan benar dan bagaimana caranya agar dapat menghindari kecurangan dan juga hoax yang tersebar dan menyikapinya dengan bijaksana agar terwujudnya pemilu yang berjalan dengan baik

    PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG TANAMAN HERBAL TOGA SEBAGAI TERAPI GASTRITIS SISWA SMK IBRAHIMY 1 P2S3 SITUBONDO

    Full text link
    Family Medicinal Plants (TOGA) are nutritious plants planted in yards and fields and managed by families. The types of plants grown fulfill the family's need for traditional medicines that can be made by themselves. The medicinal plants chosen are usually plants that can be used for first aid. The presence of medicinal plants in the home environment is very important, especially for families who do not have easy access to medical services such as clinics, health centers or hospitals. Each family can cultivate medicinal plants independently and use them so that the principle of independence in family medicine will be realized. The method used is counseling, distributing leaflets, asking questions and distributing questionnaires. The aim of the activity is to increase knowledge regarding herbal plants used for gastritis therapy, the importance of maintaining health as a prophylaxis, especially for gastritis which can cause other diseases and cultivating herbal plants. The results obtained were that the majority of respondents were 18 years old at 27.8%, the respondents' education was class After delivering the material the results showed that 90.28% knew TOGA. The usefulness of the activity for participants was 94.44%.Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan mau- pun ladang dan dikelola oleh keluarga. Jenis tanaman yang ditanam memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri. Tanaman obat yang dipilih biasanya adalah tanaman yang dapat dipergunakan untuk pertolongan pertama. Keberadaan tanaman obat di lingkungan rumah sangat penting, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki akses mudah ke pelayanan medis seperti klinik, puskesmas ataupun rumah sakit. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga. Metode yang dilakukan melakukan penyuluhan, pembagian leaflet, tanya jawab dan pembagian quisioner. Tujuan kegiatan meningkatkan pengetahuan, mengenai tanaman herbal yang digunakan untuk terapi gastritis, Pentingnya menjaga Kesehatan sebagai profilaksis terutama pada penyakit gastritis yang bisa menimbulkan penyakit yang lain dan bisa membudidayakan tanaman herbal. Hasil yang di dapatkan usia responden terbanyak yaitu 18 tahun sebanyak 27,8%, Pendidikan Responden yaitu kelas XII sebanyak 45,83%, Sebanyak 47,22% belum mengetahui tentang toga dan responden belum mengetahui gastritis sebanyak 62,5%. Setalah penyampaian materi hasil menunjukan sebanyak 90,28% mengetahui TOGA. Kemanfaatan kegiatan untuk peserta yaitu 94,44%

    DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG KESEHATAN

    Full text link
    Media sosial kini telah menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat masa kini, membawa pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan. Metode penelitian yang digunakan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Subjek penelitian adalah individu yang aktif menggunakan media sosial untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam dampak media sosial terhadap sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki dampak yang kompleks terhadap sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi platform yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran, edukasi, dan akses informasi kesehatan. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sumber informasi yang salah dan menyesatkan, yang dapat berakibat negatif terhadap kesehatan mental dan fisik individu. Melalui analisis kualitatif yang mendalam, penelitian ini akan mencoba memahami bagaimana media sosial memengaruhi cara masyarakat memandang kesehatan, bagaimana informasi yang tersebar di media sosial memengaruhi keputusan kesehatan mereka, dan bagaimana literasi media sosial dapat memoderasi pengaruh tersebut.Social media has become an inseparable part of modern society, influencing various aspects of life, including people's attitudes and behavior regarding health. The research method used uses data collection techniques through in-depth interviews. Research subjects are individuals who actively use social media to obtain information about health. This research aims to explore in depth the impact of social media on people's attitudes and behavior regarding health. The research results show that social media has a complex impact on people's attitudes and behavior regarding health. On the one hand, social media can be a useful platform for increasing awareness, education and access to health information. On the other hand, social media can also be a source of false and misleading information, which can have negative consequences for an individual's mental and physical health. Through in-depth qualitative analysis, this research will try to understand how social media influences the way people view health, how information spread on social media influences their health decisions, and how social media literacy can moderate this influence

    Determination of Salicylic Acid Levels in Anti-Acne Creams Sold in Online Shops and Pharmacies Using UV-Vis Spectrophotometric and Alkalimetric Methods

    Full text link
      Krim merupakan sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60%. Asam salisilat zat anti jerawat sekaligus keratolik umum diberikan secara topikal. Penelitian ini bertujuan menganalisa kadar asam salisilat pada krim anti jerawat yang dijual di online dan apotek. Pengujian Kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV -Vis dan Alkalimetri. Pengujian kuantitatif dengan Spektrofotometri UV-Vis, terdapat 3 sampel yang dijual di apotek mengandung asam salisilat dengan kadar sampel A 1,568%, B 1,755%, C 0,895%, dan sampel yang dijual di Online mengandung asam salisilat dengan kadar sampel D 0,151%. Pengujian kuantitatif secara Alkalimetri, 3 sampel yang dijual di Apotek mengandung asam salisilat dengan kadar sampel A 0,71%, B 0,36%, C 0,48%, dan sampel yang dijual di Online mengandung asam salisilat dengan kadar sampel D 0,42 %. Berdasarkan persyaratan dari BPOM kadar asam salisilat yang diperbolehkan pada kosmetik tidak melebihi dari 2%, sehingga produk krim anti jerawat memenuhi persyaratan dari BPOM. Uji kadar asam salisilat menggunakan  spektrofotometri  Uv-Vis  dan  dianalisis  menggunakan  Kruskal Wallis dengan Hasil nilai signifikansi 0,00 (P0,05) dikatakan metode spektrofotometri ada pengaruh penetapan kadar asam salisilat dari sampel A – D. Uji homogenitas dengan Homogenity of Variances test dengan nilai signifikansi P (0,104 0,05) data homogen dianalisis menggunakan Anova. Hasil analisis uji One Way Anova menunjukkan  nilai  signifikansi  0,00  (P  0,05)  maka  kadar  asam  salisilat  dari sampel A – D yang dilakukan dengan alkalimetri menunjukkan adanya pebedaan yang signifikan dari ke 4 sampel yang diuji.Cream is a semi-solid preparation, using an emulsion containing not less than 60% water. Salicylic acid, an anti-acne and keratolic agent, is commonly administered topically. This study aims to analyze salicylic acid levels in anti-acne creams sold online and in pharmacies. Quantitative Testing uses UV -Vis Spectrophotometry and Alkalimetry. Quantitative testing using UV-Vis Spectrophotometry, there were 3 samples sold in pharmacies containing salicylic acid with sample levels A 1.568%, B 1.755%, C 0.895%, and samples sold online contained salicylic acid with sample levels D 0.151%. Alkalimetric quantitative testing, 3 samples sold in pharmacies contained salicylic acid with sample levels A 0.71%, B 0.36%, C 0.48%, and samples sold online contained salicylic acid with sample levels D 0, 42 %. Based on BPOM requirements, the permitted level of salicylic acid in cosmetics does not exceed 2%, so the anti-acne cream product meets BPOM requirements.  The salicylic acid level was tested using Uv-Vis spectrophotometry and analyzed using Kruskal Wallis with a significance value of 0.00 (P0.05). It was said that the spectrophotometric method influenced determining the salicylic acid level from samples A – D. The salicylic acid level used alkalimetry. Homogeneity test with the Homogeneity of Variances test with a significance value of P (0.104 - 0.05) homogeneous data. Data were analyzed using ANOVA. The results of the One Way Anova test analysis show a significance value of 0.00 (P 0.05), so the salicylic acid levels of samples A – D carried out using alkalimetry show a significant difference between the 4 samples tested

    PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA MELAKUKAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP KELANCARAN ASI PADA IBU MENYUSUI

    Full text link
    ABSTRACT The important role of the family in the mother's ability to provide exclusive breastfeeding to her child is one factor. The mother gets full support so she can care for her child well. The external factor that most influences the success of exclusive breastfeeding is family support. Exclusive breastfeeding will not be successful if family support is lacking. Some breastfeeding mothers still have difficulty producing breast milk in the right way. Three-quarters of a dozen breastfeeding mothers were respondents in this study. Data collection was carried out through questionnaires, SOP sheets and observation sheets. Data analysis was carried out by considering research ethics and using editing, coding and tabulation. Analysis was carried out before and after intervention using the McNemar test. The aim is to find out how family support influences oxytocin massage for ease of breastfeeding. There is strong evidence that there is a substantial change in breastfeeding fluency between pretest and posttest, as shown by the findings of the McNemar test which produces a significance value (sig.) of 0.00. The operational area of ​​the Arjasa Community Health Center will be the research location from October 2022 to January 2023. Based on the Chi Square test findings, characteristics that can interfere with smooth breastfeeding do not show a significant relationship. It is recommended that more research be carried out to find out whether maternal massage significantly affects how well breast milk flows.Peran penting keluarga terhadap kemampuan ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya merupakan salah satu faktornya. Sang ibu mendapat dukungan penuh agar bisa merawat anaknya dengan baik. Faktor eksternal yang paling mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif adalah dukungan keluarga. Pemberian ASI eksklusif tidak akan berhasil bila dukungan keluarga kurang. Beberapa ibu menyusui masih kesulitan memproduksi ASI dengan cara yang benar. Tiga perempat dari selusin ibu menyusui menjadi responden dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, lembar SOP, dan lembar observasi. Analisis data dilaksanakan dengan mempertimbangkan etika penelitian dan menggunakan penyuntingan, pengkodean, dan tabulasi. Analisis dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan uji McNemar. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana dukungan keluarga dalam melakukan pijat oksitosin untuk kemudahan kemalncaran ASI dalam proses menyusui. Terdapat bukti kuat bahwa terdapat perubahan substansial dalam kelancaran menyusui antara pretest dan posttest, seperti yang ditunjukkan oleh temuan uji McNemar yang menghasilkan nilai signifikansi (sig.) sebesar 0,00. Wilayah operasional Puskesmas Arjasa akan menjadi lokasi penelitian pada bulan Oktober 2022 hingga Januari 2023. Berdasarkan temuan uji Chi Square, karakteristik yang dapat mengganggu kelancaran pemberian ASI tidak menunjukkan adanya kaitan yang berarti. Disarankan agar dilakukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui apakah pemijatan pada  ibu secara signifikan mempengaruhi seberapa baik kelancaran AS

    HUBUNGAN BACKGROUND KELUARGA DENGAN SIKAP KELUARGA PADA KASUS RUJUKAN KEGAWATDARURATAN MATERNAL

    Full text link
    Maternal emergencies can occur during pregnancy, childbirth, and the postpartum period, if not treated immediately, it can cause maternal and fetal death. Maternal neonatal emergencies can be prevented if first aid is provided for obstetric emergencies in mothers and babies. It also depends on the family's attitude in responding to this event. Family background includes age, knowledge and economic support/employment is one of the supporters of family attitudes in referring emergencies. The purpose of this study was to determine the correlation between family background and family attitudes in cases of emergency for pregnant women. This correlational research design with a cross sectional approach has a population of all family members of pregnant women at TPMB Kartini during November 2023 to April 2024. This research uses accidental sampling on pregnant women experiencing emergencies in the last 6 months, the sample obtained is 30 respondents. The instrument in the study was given to family members to fill out a questionnaire provided by the researcher. Data analysis of this study used gamma and somers'd correlation tests. The results of this study obtained a P value in the age category with an attitude of p = 0.003 r = 0.6; in the education category with an attitude of p = 0.01 r = 0.42 and in the employment category with an attitude of p = 0.001 r = 0.82. It can be concluded that there is a relationship between family background (age, education and occupation) and attitude in cases of referral of maternal emergencies. Further research is recommended to analyze the delay in referral of emergencies as a source of reference for anticipatory measures of maternal and fetal mortalityKegawatdaruratan maternal dapat terjadi selama proses kehamilan, persalinan, dan masa nifas, apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Kondisi kegawatdaruratan maternal neonatal dapat dicegah jika mendapatkan pertolongan pertama pada kasus gawat darurat obstetri pada ibu dan bayi. Hal ini juga bergantung atas sikap keluarga dalam menanggapi kejadian ini. Background keluarga meliputi usia, pengetahuan dan dukungan ekonomi/pekerjaan merupakan salah satu pendukung sikap keluarga dalam rujukan kegawtdaruratan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui korelasi background keluarga dengan sikap keluarga pada kasus kegawatdaruratan ibu hamil. Desain penelitian korelasional dengan   pendekatan   cross sectional ini memiliki populasi seluruh anggota keluarga ibu hamil di TPMB kartini selama bulan November 2023 hingga April 2024. Riset ini menggunakan accidental sampling pada ibu hamil mengalami kegawatandaruratan dalam 6 bulan terakhir maka sampel yang diperoleh sebanyak  30 responden. Instrumen  dalam penelitian   diberikan kepada anggota keluarga untuk mengisi kuesioner yang telah disediakan peneliti. Analisis data penelitian ini menggunakan uji korelasi gamma dan somers’d. Hasil penelitian ini memperoleh nilai P pada kategori usia dengan sikap p= 0,003 r=0,6; pada kategori  pendidikan dengan sikap p=0,01 r=0,42 dan pada kategori pekerjaan dengan sikap p=0,001 r=0,82. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan background keluarga (usia, pendidikan dan pekerjaan) dengan sikap  pada kasus rujukan kegawatdaruran maternal. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk melakukan analisis keterlambatan rujukan kegawatdaruratan sebagai sumber rujukan akan langkah antisipasi angka kematian ibu dan janin

    STATUS ANEMIA IBU SAAT HAMIL TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12-23 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMAPULUH KOTA PEKANBARU

    Full text link
    Stunting is defined as the condition of children’s height which is not suitable with their age. The result of their body height measurement index compared to the age (PB/U) less than -2 SD. Based on Indonesian Toddler Nutrition Status Survey data in 2022, the stunting prevalence Riau Province was 17,0%. Limapuluh Sub District is a sub district with the highest number of stunting occurrence in Pekanbaru City with prevalence 4,47%. One of causative factors for stunting is anemia history in the pregnant women. Anemia in pregnant women generally is caused by the physiological change during the pregnancy. When the infant and the baby were born, iron deficiency anemia caused the infant growth inhibited and premature birth until it can cause stunting. If stunting does not get the right management, then it will cause short term and long term impact on the children. To find out the correlation between anemia history in pregnancy and stunting occurrence in toddlers age 12- 23 months in the work area of Limapuluh Community Health Center Pekanbaru City. Used analytic observational study design with cross sectional design. The sampling technique was proportionate stratified random sampling sampling with sample size 142 respondents..The data were tested statistically using Spearman correlation test. There is correlation between anemia history during pregnancy in stunting occurrence p-value 0,000. The value of correlation coefficient was 0,590 which meant the correlation strength was medium. Anemia history during pregnancy are related to stunting occurrence on toddlers age 12-23 months in the work area of Limapuluh Community Health Center Pekanbaru City.Stunting didefinisikan sebagai kondisi tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Hasil pengukuran indeks panjang badan dibanding umur (PB/U) kurang dari -2 SD. Berdasarkan data survei status gizi balita indonesia tahun 2022 prevalensi stunting di Provinsi Riau sebesar 17,0%. Kecamatan Limapuluh merupakan Kecamatan dengan angka kejadian stunting tertinggi di Kota Pekanbaru dengan prevalensi 4,47%. Salah satu faktor penyebab stunting adalah riwayat anemia pada ibu hamil. Anemia pada ibu hamil umumnya disebabkan karena perubahan fisiologis saat kehamilan. Pada janin dan bayi yang dilahirkan, anemia defisiensi besi mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat dan kelahiran prematur sehingga dapat menyebabkan stunting. Apabila stunting tidak mendapatkan penanganan, maka akan menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat anemia dalam kehamilan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru. Penelitan ini menggunakan desain studi observasional analitik, dengan rancangan penelitian cross sectional . Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik Proportionate Stratified Random Sampling dengan besar sampel 142 responden. Data diuji secara statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Ditemukan terdapat hubungan riwayat anemia dalam kehamilan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan dengan nilai p-value 0,000. Nilai koefesien korelasi 0,590 yang berarti kekuatan hubungan sedang Riwayat anemia dalam kehamilan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru

    GAMBARAN FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN KEJADIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA REMAJA DI MADRASAH ALIYAH HASANAH KOTA PEKANBARU

    Full text link
    enyakit tidak menular merupakan isu kesehatan yang menjadi perhatian  nasional dan global pada saat ini. Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit yang tidak ditularkan kepada orang lain melalui kontak dalam bentuk apapun. Saat ini, PTM tidak hanya menimpa kalangan lanjut usia saja, namun   mulai banyak bermunculan pada kelompok usia muda dan usia kerja. Hal ini disebabkan pesatnya perkembangan teknologi, perubahan lingkungan, dan peralihan gaya hidup tradisional ke modern. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  memberikan  gambaran  faktor  risiko  perilaku  PTM  pada  remaja.  Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Hasanah Kota Pekanbaru pada September-Oktober 2023. Penelitian  ini  menggunakan  metode  desktiptif observasional dengan pendekatan cross sectional pada 68 responden. Hasil IMT yang beresiko (>25kg/m2) sebanyak 20,6%, pemeriksaan lingkar perut ditemukan lingkar perut berlebih sebanyak 13,2%, pemeriksaan tekanan darah >140/90mmHg sebanyak 8,8%, pemeriksaan kolesterol didapatkan hasil kolestrol yang tinggi sebanyak 4,4%. Hasil penelitian kebiasaan merokok responden sebanyak 23,5%, minum alkohol sebanyak 10,3% responden, konsumsi sayur dan buah  < 5 porsi sehari sebanyak 79,4% dan responden yang kurang aktifitas fisik sebanyak 10,3%. Hasil pemeriksaan penyakit tidak menular pada diri sendiri hanya ditemukan penyakit asma sebanyak 8,8 %. Hasil pemeriksaan riwayat penyakit tidak menular pada keluargaditemukan penyakit diabetes melitus sebanyak 11,8 %, hipertensi sebanyak 27,9 %, jantung 7,4 % stroke 4,4%, asma 13,2 %, kanker 1,5 %, dan kolesterol 17,6%.Non-communicable diseases are a health issue that is currently of national and global concern. Non-communicable diseases (NCDs) are diseases that are not transmitted to other people through contact in any form. Currently, PTM does not only affect the elderly, but is starting to appear more frequently in young and working age groups. This is due to the rapid development of technology, environmental changes, and the transition from traditional to modern lifestyles. This study aims to provide an overview of the risk factors for NCD behavior in adolescents. This research was conducted at Madrasah Aliyah Hasanah, Pekanbaru City in September-October 2023. This research used a descriptive observational method with a cross-sectional approach on 68 respondents. The BMI results that were at risk (>25kg/m2) were 20.6%, the examination of abdominal circumference found excess abdominal circumference as much as 13.2%, blood pressure examination >140/90mmHg was 8.8% of respondent, cholesterol examination showed high cholesterol results as much as 4.4%. The research results showed that 23.5% of respondents had smoking habits, 10.3% of respondents drank alcohol, 79.4% consumed <5 portions of fruit and vegetables a day and 10.3% of respondents lacked physical activity. The results of self-examination of non-communicable diseases only found asthma in 8.8% respondent. The results of examination of the history of non-communicable diseases in the family found 11.8% diabetes mellitus, 27.9% hypertension, 7.4% heart disease, 4.4% stroke, 13.2% asthma, 1.5% cancer, and 17,6% cholesterol

    MOLUSKUM KONTAGIOSUM: SEBUAH LAPORAN KASUS

    Full text link
    Molluscum contagiosum adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus Molluscipox, yang termasuk dalam keluarga Poxviridae. Infeksi ini umumnya ditemukan pada anak-anak, meskipun dapat terjadi pada individu dari segala usia. Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau melalui benda-benda yang terkontaminasi. Lesi yang muncul biasanya berupa bintik-bintik kecil, berwarna daging, dengan tonjolan di tengahnya, dan dapat muncul di berbagai bagian tubuh. Laporan kasus ini mendokumentasikan seorang pasien dengan molluscum contagiosum, suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh virus Molluscipox. Pasien, seorang anak berusia 3 tahun 1 bulan, datang dengan keluhan bintik-bintik kecil yang muncul di berbagai bagian tubuhnya. Pemeriksaan fisik mengidentifikasi lesi berwarna daging dengan tonjolan di tengahny

    GAMBARAN POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS LIMAPULUH

    Full text link
    Stunting adalah kondisi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan diakibatkan dari permasalahan gizi berupa kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Pada tahun 2022 prevalensi kejadian stunting Kota Pekanbaru mengalami kenaikan menjadi 16,8%. Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2022 menunjukkan prevalensi kejadian stunting tertinggi berada di Kecamatan Limapuluh sebanyak 60 balita, dimana dibuktikan dengan studi pendahuluan di Puskesmas Limapuluh Kecamatan Limapuluh mendapatkan prevalensi kejadian stunting sebesar 4,47%. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kejadian stunting adalah pola asuh ibu. Pola asuh ibu mempengaruhi keadaan gizi anak, rangsangan psikososial, perawatan dan praktek kesehatan pada anak. Pola asuh ibu yang buruk akan menyebabkan anak mengalami kondisi stunting. Jika tidak ditangani dengan cepat, akan memberikan dampak merugikan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu teknik Proportionate Stratified Random Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 142 sampel. Analisis data yang digunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pola asuh ibu dengan risiko kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru. Ditemukan hubungan antara pola asuh ibu dengan risiko kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru dengan nilai p-value 0,027 dan nilai PR sebesar 1,826. Pola asuh ibu berhubungan dan merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 12-23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru.Stunting is a growth disorder in toddlers due to prolonged nutrition deficiency. In 2022, the prevalence of stunting in Pekanbaru increased to 16,8%. Based on the 2022 from Pekanbaru Health Office, the highest prevalence of stunting was found in Limapuluh District, comprising of 60 toddlers. This was proven by a pilot study in Limapuluh Health Center with a stunting prevalence of 4,47%. Various factors affect stunting, including maternal parenting. Aside from affecting nutrition, parenting will also affect children’s psychosocial stimulus, health care, and health practice at home. Poor maternal parenting leads to poor nutrition, which in turn will cause stunting. Poor management will lead to short and long-term detrimental effects. This was an observational analytics study that uses a cross-sectional design. The study was conducted within the work area of Limapuluh Health Center Pekanbaru. Samples were obtained with the proportionate stratified random sampling technique with a total sample of 142. Univariate and bivariate analyses were used for data analysis using Chi-Square statistical test. To determine the correlation between maternal parenting and the risk of stunting in 12-23 months toddlers in the work area of Limapuluh Health Center Pekanbaru. There was a correlation between maternal parenting and the risk of stunting in 12-23 months old toddlers in the work area of Limapuluh Health Center Pekanbaru with a p- value of 0,027 and a PR value of 1,826. Maternal parenting was related and was a risk factor for stunting in 12-23 months old toddlers in the work area of Limapuluh Health Center Pekanbaru

    1,530

    full texts

    1,637

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Abdurrab
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇