AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Not a member yet
115 research outputs found
Sort by
Pengaruh Inokulasi Glomus etunicatum terhadap Biokimia Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) yang Ditanam pada Cekaman Garam
The presence of salt levels can cause an important abiotic stress today. Plants have a special strategy for dealing with salt stress. The purpose of this study was to determine the effect of the inoculation of the arbuscular mycorrhizal fungus Glomus etunicatum on several biochemical parameters of tomato (Solanum lycopersicum L.) grown under high levels of salt stress conditions. This study used a randomized block design with a factorial pattern and five replications. The first factor was with and without inoculation of the fungus G. etunicatum. The second factor was several concentrations of NaCl (0, 50, 100 and 200 mM). Parameters observed were levels of phosphorus, root infection, concentrations of chlorophyll and carotenoids, activity of antioxidant enzymes (superoxide dismutase and catalase) and levels of malondialdehyde at the end of observation (day 45). The results showed that the increasing concentration of NaCl, decreased the levels of phosphorus, the concentration of chlorophyll and carotenoids as well increased the activity of superoxide dismutase, catalase and malondialdehyde levels. While the G. etunicatum inoculation treatment had the opposite effect from the NaCl treatment. Likewise, the parameters of root infection decreased in tomato plants inoculated with G. etunicatum with increasing NaCl concentration treatment. The conclusion of this study is that the presence of arbuscular mycorrhizal fungi can reduce the negative impact of salt stress on tomato plants.Hadirnya kadar garam dapat menyebabkan cekaman abiotik yang penting saat ini. Tanaman memiliki strategi khusus dalam menghadapi cekaman garam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh inokulasi jamur mikoriza arbuskula Glomus etunicatum terhadap beberapa parameter biokimia pada tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) yang ditanam pada kondisi cekaman garam kadar tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial dan lima ulangan. Faktor pertama tanpa dan inokulasi jamur G. etunicatum. Faktor kedua beberapa konsentrasi NaCl (0, 50, 100 dan 200 mM). Paramater yang diamati yaitu kadar fosfor, infeksi akar, konsentrasi klorofil dan karotenoid, aktivitas enzim antioksidan (superoksida dismutase dan katalase) serta kadar malondialdehid pada akhir pengamatan (hari ke-45). Hasilnya menunjukkan perlakuan konsentrasi NaCl yang meningkat semakin menurunkan kadar fosfor, konsentrasi klorofil dan karotenoid serta semakin meningkatkan aktivitas superoksida dismutase, katalase dan kadar malondialdehid. Sedangkan perlakuan inokulasi G. etunicatum berpengaruh sebaliknya dari perlakuan NaCl. Begitupun parameter infeksi akar semakin menurun pada tanaman tomat yang dinokulasi G. etunicatum dengan meningkatnya perlakuan konsentarasi NaCl. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kehadiran jamur mikoriza arbuskula mampu menurunkan dampak negatif dari cekaman garam pada tanaman tomat
Dampak Dosis Urea terhadap Sifat-sifat Tanah, Populasi Mikroba, dan Produksi Sorgum (Sorghum bicolor L.) pada Tanah Latosol
Urea Fertilizer doses are a significant factor in sorghum production. This research was conducted to study soil characteristics and sorghum production through the applications of urea fertilizer doses in Latosol soil. This research was conducted from May to September 2019 in the KST GA Siwabesy experiment field at Pasar Jumat, South Jakarta. The design used in this study was a randomized block design (CRD) with 4 treatments in the form of fertilizer N doses of 0 kg ha-1, 50 kg ha-1, 100 kg ha-1, and 200 kg ha-1. The results showed that applying N fertilization did not affect soil pH, soil P available, soil organic C, soil N total, C/N ratio, CO2 content, and soil nitrate content. N fertilization significantly affected the number of functional microbes, Azotobacter and Phosphate Solubilizing Microbes (MPF). In addition, N uptake of sorghum and dry weight of sorghum seeds increased significantly by 5.54 times and 2.29 times, respectively, from control when urea fertilizer was applied to 200 kg urea ha-1.Pemberian dosis urea menjadi faktor penting dalam budidaya sorgum. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengaruh dosis pupuk urea (N) pada tanah Latosol asal Pasar Jumatterhadap sifat tanah dan produksi Sorghum bicolor var. Samurai 2. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan sebanyak 4 macam meliputi dosisi pupuk N sebanyak 0 kg ha-1, 50 kg ha-1, 100 kg ha-1, 200 kg ha-1. Hasil penelitian membuktikan bahwa aplikasi pupuk N tidak berpengaruh terhadap N total tanah, P tersedia tanah, C-organik tanah, C/N ratio, pH tanah, kandungan nitrat tanah, dan kadar CO2. Namun, pemupukan N berpengaruh nyata terhadap serapan N tanaman, berat kering biji sorghum masing-masing sebanyak 5,54 kali dan 2,29 kali dari kontrol ketika dosis urea ditambahkan sebanyak 200 kg urea ha-1. Selain itu, pupuk N berpengaruh nyata terhadap jumlah mikroba fungsional Mikroba Pelarut Fosfat (MPF) dan Azotobacter
Morfologi, Hasil, dan Korelasi Organ Vegetatif dan Generatif Tanaman Kedelai Varietas Wilis di Tanah Masam pada Musim Hujan: Morfologi, Hasil, dan Korelasi Organ Vegetatif dan Generatif Tanaman Kedelai Varietas Wilis di Tanah Masam pada Musim Hujan
Soybean poorly performed if planted during dry season. Planting during the rainy season can overcome problem of limited water availability. This study examines the response of soybean to rainy season in acid dry land. Research was then conducted at Timbangan village, Ogan Ilir, South Sumatra from October 2020 through January 2021. Soybean seeds of Wilis variety as planting material were already one month old. The research was carried out without applying experimental design. Five plots were prepared with each size 4 m x 2.5 m, and planted in 6 rows. Soil was prepared by thoroughly mixing with dolomite (2 tons ha-1), chicken manure 10 tons ha-1, and Urea (50 kg ha-1), SP 36 (100 kg ha-1), and KCl (50 kg ha-1). Sampling of plants by purposive sampling. The variables measured were plant height, number of leaves, number of branches, number of filled pods, weight of seeds per plant, dry weight of pods, stems, leaves, and roots. Finding of the research, plant height (68.5±5.45 cm) and weight of 100 seeds per plant (13.19±3.27 g) was above description. Correlation-regression test showed that root dry weight had a significantly positive correlation to stems and branch numbers, leaf dry weight and pod dry weight.Tanaman kedelai menunjukkan penampilan yang rendah jika ditanam saat musim kemarau. Penanaman saat musim hujan dapat mengatasi masalah terbatasnya ketersediaan air. Penelitian bertujuan mengkaji respons kedelai terhadap musim hujan di lahan kering masam. Penelitian dilaksanakan Desa Timbangan, Ogan Ilir, Sumsel sejak Oktober 2020 sampai Januari 2021. Benih kedelai berasal dari varietas wilis yang berumur satu bulan. Penelitian disusun menggunakan metode noneksperimental. Ada lima petak tanam yang dipersiapkan dengan masing-masing ukuran (4 m x 2.5 m), jarak tanam 40 cm x 20 cm, dan ada enam baris tanam. Setiap petak tanam diberi dolomit dosis 2 ton ha-1,pupuk kandang ayam 10 ton ha-1, dan Urea (50 kg ha-1), SP 36 (100 kg ha-1), dan KCl (50 kg ha-1). Pengambilan sampel secara sengaja. Peubah yang diukur yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah polong isi, berat biji per tanaman, bobot kering untuk polong, batang-cabang, daun, dan akar. Hasil penelitian menunjukan kedelai varietas Wilis mempunyai tinggi (68.5±5.45 cm) dan berat 100 biji per tanaman (13.19±3.27 g) yang melebihi rata-rata deskripsi. Persentase distribusi bobot kering organ vegetative (41.92%) dan organ generative (58.08%). Pengujian regresi-korelasi menunjukan bobot kering akar berkorelasi positif yang signifikan terhadap bobot kering batang dan cabang, bobot kering daun dan bobot kering polong
Evaluasi 36 Genotipe Padi Gogo Terhadap Cekaman Biotik Dan Abiotik Pada Enam Lokasi Berbeda: Evaluasi 36 Genotipe Padi Gogo Terhadap Cekaman Biotik Dan Abiotik Pada Enam Lokasi Berbeda
Biotic and abiotic stress during cultivation is one of the challenges in increasing upland rice production. Stress can be mild to severe, potentially reducing yield. Knowing the ability of plants to adapt to stressful environments from the start is essential information in the assembly of new high-yielding varieties. This study aims to determine stress in 36 upland rice lines and the adaptability of several upland rice lines to environmental stress. The genetic material used was 36 upland rice lines and two comparison varieties with four replications. The line is planted in Lampung, DI. Yogyakarta and East Java, two locations each. That area has different soil types and elevations. Data were analyzed descriptively and tabulated. In addition, the average scoring of biotic and abiotic stress for each location was calculated. The results showed that biotic stresses found in the plantations were Leaf Blast, Neck Blast, Bacterial Leaf Blight, Brown Spot, Red Striped, Rats, Birds, Rice Leaf Roller, and Stem Borer. Meanwhile, the abiotic stresses found were drought and salinity. From 36 tested lines, it showed that G26 was resistant to biotic stress caused by pests and diseases, G29 was drought-tolerant, and G6 was salinity tolerant.Cekaman biotik dan abiotik selama budidaya merupakan salah satu tantangan dalam peningkatan produksi padi gogo. Cekaman dapat berskala ringan hingga berat sehingga berpotensi menurunkan hasil. Mengetahui kemampuan tanaman dalam beradaptasi dengan lingkungan tercekam sejak dini merupakan informasi penting dalam perakitan varietas unggul baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cekaman yang muncul pada 36 galur padi gogo serta mengetahui kemampuan adaptasi galur tersebut dalam menghadapi cekaman lingkungan. Bahan genetik yang digunakan adalah 36 galur padi gogo hasil persilangan dan 2 varietas pembanding yang ditanam sebanyak 4 ulangan. Galur ditanam pada 2 lokasi per daerah dari Propinsi Lampung, DI. Yogyakarta, dan Jawa Timur dimana memiliki jenis tanah dan ketinggian yang bervariasi. Data yang diperoleh dilakukan analisis secara deskriptif dan dilakukan tabulasi serta dihitung rata-rata skoring cekaman biotik dan abiotik yang terjadi pada setiap lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan, cekaman biotik yang ditemukan pada pertanaman adalah Blas Daun, Blas Leher, Hawar Daun Bakteri, Bercak Coklat, Hawar Daun Jingga, Tikus, Burung, Hama Putih Palsu, dan Penggerek Batang. Sedangkan Cekaman abiotik yang ditemukan adalah kekeringan dan salinitas. Selain itu, diketahui bahwa G26 tahan terhadap cekaman biotik baik yang disebabkan hama maupun peyakit, galur G29 toleran kekeringan dan galur G6 toleran salinitas
Induksi Kalus Sisik Umbi Lilium longiflorum Thunb. oleh Auksin dan Sitokinin, serta Respons Pertumbuhannya Secara In Vitro: Induksi Kalus Sisik Umbi Lilium longiflorum Thunb. oleh Auksin dan Sitokinin, serta Respons Pertumbuhannya Secara In Vitro
Lilium longiforum Thunb.is a potential ornamental plant that has been developed in several indusrtry, such as pharmaceutical industry and floriculture industry. Generative propagation of L. longiflorum is difficult and more effective when propagated asexually through tissue culture techniques. This research aimed to analyze callus induction from L. longiflorum bulb scale and its growth response to the addition of auxin and cytokinin in culture media. This research were tested in two treatments: MS + 3.0 mg L-1 2.4-D + 0.5 mg L-1 BAP, incubated in dark condition for 24 hours (treatment 1) and MS + 1.5 mg L-12.4-D + 1.0 mg L-1BAP, photoperiod 16/8 h (treatment 2). Furthermore, calli were planted on regeneration media (MS + 3.4 mg L-1BAP + 0.09 mg L-1NAA). The result showed that explant in treatment 2 (MS + 1.5 mg L-12.4-D + 1.0 mg L-1BAP, photoperiod 16/8 hours dark/light) is more responsive than treatment 1 on callus induction and subculture treatment. This treatment also produced good quality of calli which were shown in a compact texture, yellowish green colour and 100% survived. Regeneration media succeeded in regenerating calli into indirect shoots by 100%, even though no direct shoots and roots were found in this experiment. This research suggest that treatment 2 can used as an effective protocol on developing L. longiflorum.Lilium longiforum Thunb. adalah florikultura potensial untuk dikembangkan di bidang industri farmasi dan florikultura. Perbanyakan L. longiflorum secara generatif sulit dilakukan dan perbanyakan vegetatif dengan kultur jaringan jauh lebih efektif. Oleh karena itu, diperlukan sebuah protokol perbanyakan L. longiflorum secara in vitro yang efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengamati induksi kalus dari eksplan sisik umbi dari planlet L. longiflorum dan respons pertumbuhannya terhadap penambahan auksin dan sitokinin dalam media kultur. Respons sisik umbi pada induksi kalus diuji dengan dua perlakuan, yaitu MS + 3,0 mg L-1 2,4-D + 0,5 mg L-1 BAP dengan inkubasi dalam keadaan 24 jam gelap (perlakuan 1) dan MS + 1,5 mg L-1 2,4-D + 1,0 mg L-1 BAP dengan fotoperiode 16/8 jam (perlakuan 2), selama 28 minggu. Kemudian, respons regenerasi kalus menjadi tunas diuji dengan penanaman kalus pada media regenerasi (MS + 3,4 mg L-1 BAP + 0,09 mg L-1 NAA) selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan pada perlakuan 2 lebih responsif untuk menginduksi kalus dari sisik umbi L. longiflorum dibandingkan eksplan pada perlakuan 1. Kalus yang dihasilkan bertekstur kompak dan berwarna hijau kekuningan dengan tingkat kesintasan 100% dan daya proliferasi yang tinggi. Media regenerasi berhasil meregenerasikan kalus menjadi tunas sebesar 100%, meskipun tidak terdapat pertumbuhan akar dalam penelitian ini. Perlakuan MS + 1,5 mg L-1 2,4-D + 1,0 mg L-1 BAP dengan fotoperiode 16/8 jam direkomendasikan sebagai sebuah protokol yang efektif dalam pengembangan L. longiflorum
Sifat Gelatinisasi Beras Hitam Pratanak Varietas Sirampog pada Variasi Waktu Perendaman dan Konsentrasi Natrium Sitrat: Sifat Gelatinisasi Beras Hitam Pratanak Varietas Sirampog pada Variasi Waktu Perendaman dan Konsentrasi Natrium Sitrat
Black rice still contains epidermis which is composed of several layers, including pericarp, lemma, aleuron and testa so that cooking takes a long time. To speed up the cooking time on rice can be modified by parboiling process so that it changes the character of gelatinization. The research aims to find out the effect of the concentration of sodium citrate solution and immersion time on the process of black rice parboiled Sirampog varieties on its gelatinization properties. Soaking in sodium citrate solution at a certain time is expected to accelerate the cooking time of black rice. The research using Completely Randomized Factorial design consisting of concentration of sodium citrate solution (0, 3, 5 and 7%) and immersion time (20, 30 and 40 minutes). The variables observed were gelatinization properties including gelatinization temperature, peak viscosity, final viscosity, breakdown viscosity, trough viscosity and setback viscosity. The results showed that the setback viscosity and peak viscosity of Sirampog rice were affected by the concentration of sodium citrate. The sodium citrate solution of 5% as a marinade produces Sirampog varieties of parboiled rice with high trough viscosity and lowest setback viscosity, which means it is easier to cook and more resistant to retrogradation during cooling.Beras hitam sebagai beras pecah kulit masih mengandung kulit ari yang tersusun oleh beberapa lapisan, diantaranya perikarp, lemma, aleuron dan testa sehingga pemasakannya memerlukan waktu lama. Untuk mempercepat waktu pemasakan pada beras dapat dilakukan modifikasi dengan proses pratanak sehingga mengubah karakter gelatinisasi. Perendaman dalam larutan natrium sitrat pada waktu tertentu diharapkan dapat mempercepat waktu pemasakan beras hitam. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi larutan natrium sitrat dan waktu perendaman pada proses pratanak beras hitam varietas Sirampog terhadap sifat-sifat gelatinisasinya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap factorial terdiri dua faktor yaitu konsentrasi larutan natrium sitrat (0, 3, 5 dan 7 %) dan waktu perendaman (20, 30 dan 40 menit). Sifat gelatinisasi yang diamati meliputi suhu gelatinisasi, viskositas puncak, viskositas akhir, viskositas breakdown, viskositas trough dan viskositas setback. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi larutan natrium sitrat sebagai bahan perendam pada pembuatan beras hitam pratanak varietas Sirampog berpengaruh nyata terhadap viskositas trough dan viskositas setback. Larutan natrium sitrat sebesar 5% sebagai bahan perendam menghasilkan beras hitam pratanak varietas Sirampog dengan nilai viskositas trough tinggi dan viskositas setback terendah, yang artinya lebih mudah dimasak dan lebih tahan terhadap retrogradasi selama pendinginan
The Analisis Korelasi dan Sidik Lintas Karakter Pertumbuhan dan Komponen Hasil terhadap Hasil Bawang Merah (Alllium Cepa L. Var Aggregatum) di Dataran Tinggi: Analisis Korelasi dan Sidik Lintas Karakter Pertumbuhan dan Komponen Hasil terhadap Hasil Bawang Merah (Alllium Cepa L. Var Aggregatum) di Dataran Tinggi
Shallot commodity is a strategic commodity and has high economic value and cannot be substituted for other commodities. This research aimed to observe the correlation, direct and indirect effect between growth and yield components characters to shallot yield in the highlands. This experiment was conducted from September to November 2019 in Lembang (West Bandung Regency), Pacet (Bandung Regency), and Samarang (Garut Regency). The research material included 12 shallot genotypes, namely B1 clone, B19 clone, B63 clone, B72 clone, B77 clone, B102 clone, B222 clone, Trisula, Bali Karet, Maja Cipanas, Bima Brebes, and Sumenep. The experiment was arrange in Randomized Block Design (RBD), with 3 (three) replication. The results of the correlation analysis showed that there was a very significant positive correlation between the character of leaf length, and wet bulb weight per clump to wet bulb yields per hectare in all test locations. Leaf length is a character that has a very significant positive correlation and has a very high positive direct effect on the yield of wet bulb per hectare in all test locations in the highlands. Selection of shallots to increase the yield of wet bulb per hectare in the highlands can be done directly through the growth character, namely leaf length.Komoditas bawang merah merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai ekonomis tinggi serta tidak dapat disubstitusi dengan komoditas lain. Penelitian dilakukan untuk mengetahui korelasi dan pengaruh langsung dan tidak langsung antara karakter pertumbuhan dan komponen hasil terhadap hasil bawang merah di dataran tinggi. Penelitian dilakukan dari bulan September sampai dengan November 2019 di Lembang (Kab. Bandung Barat), Pacet (Kab. Bandung), dan Samarang, (Kab. Garut). Materi penelitian ini meliputi 12 genotipe bawang merah yaitu klon B1, klon B19, klon B63, klon B72, klon B77, klon B102, klon B222, Trisula, Bali karet, Maja cipanas, Bima brebes dan Sumenep. Rancangan percobaan yang digunakan di setiap lokasi adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK),diulang 3 (tiga) kali. Hasil analisis korelasi menunjukkan terdapat korelasi positif sangat nyata antara karakter panjang daun, dan berat basah umbi per rumpun terhadap hasil umbi basah per hektar di semua lokasi pengujian. Karakter panjang daun merupakan karakter yang berkorelasi positif sangat nyata dan memiliki pengaruh langsung positif sangat tinggi terhadap hasil umbi basah per hektar di seluruh lokasi pengujian di dataran tinggi. Seleksi bawang merah untuk meningkatkan hasil umbi basah per hektar di dataran tinggi dapat dilakukan secara langsung melalui karakter pertumbuhan yaitu panjang daun
Penyakit Utama Tanaman Lada di Kabupaten Bangka Selatan: Penyakit Utama Tanaman Lada di Kabupaten Bangka Selatan
White pepper production is not in line with the government\u27s extensification and intensification efforts, these are due to disease infection in the pepper plant that tends to increase. Information about disease progression of black pepper plants in production center areas is rarely updated. This research was conducted to observe and determine incidence and severity disease of the black pepper plantations by using the purposive sampling method. The results of the study found three types of disease that infected on black pepper plantations in the South Bangka Regency, namely yellow disease, stem rot disease, and viral disease. The incidence and severity disease are relatively higher in the Tukak Sadai District than others. The incidences of yellow disease, rot stem disease, and viral disease about 3,33 to 90,48 %; 0 to 43,70 %, and 12,5 to 100 %, respectively. The severity of rot stem disease until 43,11 %; and viral disease about 4,58 to 59,57 %.Produksi tanaman lada tidak sejalan dengan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi pemerintah, hal ini disebabkan masih banyaknya infeksi penyakit pada tanaman lada bahkan cenderung bertambah baik dari jenis penyakit maupun intensitas infeksi penyakitnya. Informasi mengenai perkembangan penyakit tanaman lada di area centra produksi lada yang jarang diperbaharui. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati dan menentukan kejadian dan keparahan penyakit tanaman lada menggunakan metode purposive samping. Hasil penelitian ditemukan 3 jenis penyakit yang menginfeksi tanaman lada di Kabupaten Bangka Selatan, yaitu penyakit kuning, busuk pangkal batang dan kerdil virus. Tingkat kejadian dan keparahan penyakit relatif lebih tinggi terjadi di Kecamatan Tukak Sadai. Kejadian penyakit kuning lada, penyakit busuk pangkal batang, dan penyakit virus berkisar 3,33-90,48 %; 43,70 %; dan 12,5-100 %, secara berturut-turut. Keparahan penyakit busuk pangkal batang mencapai 43,11 % dan penyakit virus berkisar 4,58-59,57 %
Keragaan Agronomi dan Hasil Biji Kacang Hijau pada Lima Dosis Pupuk NPKS di Lahan Sawah: Keragaan Agronomi dan Hasil Biji Kacang Hijau pada Lima Dosis Pupuk NPKS di Lahan Sawah
Mungbean is one of the main commodity which are planted in the dry season after planting rice. Even though having a high marketable value, the productivity of mungbean is still quite low because the farmers rarely provide enough fertilizer dosage and use the low growed seeds which resulted directly to the low quality or productivity. This study aims to determine the response of three mungbean varieties in paddy fields with five levels of NPKS (15:15:15:10) fertilizers. The study was consisted of three varieties (Vima-1, 2, 4) and five doses of NPKS fertilizer (100, 200, 300, 400, 500 kg ha-1). The study was applied to the randomized completely block design with three replications. The results showed that plant height, number of clusters, biomass dry weight, and seed yield ha-1 of mungbean are significant different between Vima-1, Vima-2 and Vima-4 varieties, while the addition of NPKS inorganic fertilizers could increase plant height and root weight. The interactions between varieties and the NPKS fertilizer dosage was experienced in the number of pods and seed weight per plant. The highest yield of mungbean was resulted in Vima-1 (2.18 tons ha-1) whereas the lowest yield was obtained by Vima-2 which resulted in seed 1.42 tons ha-1. The application of inorganic fertilizer NPKS (15:15:15:10) 100 kg ha-1 has quite enough to produce an optimum productivity of mungbean in Malang rice fields.Kacang hijau merupakan salah satu komoditas utama yang ditanam di musim kemarau setelah tanaman padi. Meskipun nilai jual di pasar cukup tinggi namun produktivitas di tingkat petani masih cukup rendah karena petani jarang memberikan pupuk dan sering menggunakan benih dengan kualitas dan produktivitas rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tiga varietas kacang hijau di lahan sawah dengan lima taraf pupuk NPKS (15:15:15:10). Penelitian terdiri dari tiga varietas (Vima 1, 2, 4) dan lima dosis pupuk Phonska (100, 200, 300, 400, 500 kg/ha). Penelitian diterapkan pada rancangan kelompok teracak lengkap dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman, jumlah klaster, bobot biomas, dan hasil biji ha-1 kacang hijau berbeda diantara varietas Vima 1, Vima 2 dan Vima 4, sedangkan penambahan pupuk anorganik NPKS dapat meningkatkan tinggi tanaman dan bobot akar. Interaksi antara varietas dengan takaran pupuk NPKS mempengaruhi jumlah polong dan bobot biji per tanaman. Hasil biji tertinggi diperoleh pada varietas Vima 1, yaitu 2,18 ton ha-1, dan hasil biji terendah diperoleh pada varietas Vima 2, yaitu1,42 ton ha-1. Penambahan pupuk anorganik NPKS Phonska (15:15:15:10) 100 kg ha-1 telah cukup untuk meningkatkan hasil secara maksimal tanaman kacang hijau di lahan sawah daerah Malang
Multiplikasi Pucuk pada Tanaman Doyo (Curculigo latifolia Dryand.) Menggunakan Beberapa Kombinasi BAP dan IBA pada Perbanyakan In-Vitro: Multiplikasi Pucuk pada Tanaman Doyo (Curculigo latifolia Dryand.) Menggunakan Beberapa Kombinasi BAP dan IBA pada Perbanyakan In-Vitro
The development of the Ulap Doyo weaving industry in East Kalimantan is constrained by doyo plants availability as raw material. Cultivation of Doyo or Marasi plant conventionally faces obstacles due to the low germination rate and deteriotation of doyo seeds. Tissue culture is considered as an important technology for mass propagation producing disease-free, high quality, uniform and rapid production of planting material. This study aims to induce regeneration and increase the multiplication of doyo plant for mass multiplication to support the doyo plant conservation program. The research was conducted in 3 stages: shoot initiation, shoot multiplication and plant regeneration (root induction). Shoot initiation and multiplication experiments were carried out using several combinations of 6-Benzylaminopurine (BAP) and Indole-3-butyric acid (IBA) in solid MS media, and two explants types, shoots and rhizomes. The root induction was carried out by growing the plants in MS media containing 0.25 mg L-1 IBA. The results showed that the rhizome was the best part of the plant as a source of explants in doyo plant tissue culture. Initiation medium of 3.75 mg L-1 BAP + 0.50 mg L-1 IBA and the multiplication medium of 37.50 mg L-1 BAP + 0.50 mg L-1 IBA, gave the best effect resulting in the highest survival and responsiveness percentage (80%), percentage of shoot producing explants( 60%, and number of shoots per explant ( 4.00). The plant regeneration has good potential for doyo plant mass propagation, in which 87.50% of the resulting shoots were able to form good root system.Pengembangan industri kerajinan tenun Ulap Doyo di Kalimantan Timur terkendala sulitnya mendapatkan tanaman doyo sebagai bahan baku. Upaya yang dapat dilakukan untuk pembudidayaan doyo adalah dengan kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menginduksi regenerasi dan meningkatkan multiplikasi tunas tanaman doyo untuk perbanyakan tanaman secara massal dalam waktu yang relatif singkat sehingga dapat mendukung program konservasi tanaman doyo. Penelitian dilakukan dalam 3 tahapan: tahap inisiasi tunas, multiplikasi tunas dan regenerasi tanaman (induksi pengakaran). Percobaan inisiasi dan multiplikasi tunas menggunakan RAL faktorial 2 faktor. Faktor pertama yaitu variasi kombinasi konsentrasi ZPT BAP dan IBA dalam media MS padat (7 kombinasi), sedangkan faktor kedua adalah jenis eksplan yaitu tunas dan rimpang. Setiap kombinasi perlakuan diulang 5 kali. Tahapan regenerasi tanaman dilakukan dengan menumbuhkan tanaman pada media MS padat yang mengandung 0,25 mg L-1 IBA untuk merangsang pertumbuhan akar. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang merupakan bagian tanaman terbaik sebagai sumber eksplan dalam kultur jaringan tanaman doyo, eksplan rimpang yang diinduksi pada media perlakuan inisiasi i6 = 3,75 mg L-1 BAP + 0,50 mg L-1 IBA dan media perlakuan multiplikasi m6 = 37,50 mg L-1 BAP + 0,50 mg L-1 IBA, memberikan pengaruh terbaik dengan persentase hidup dan responsif tertinggi yaitu 80% serta persentase bertunas tertinggi yaitu 60% dengan rerata jumlah tunas per eksplan 4,00. Regenerasi tanaman hasil multiplikasi memiliki potensi yang baik untuk perbanyakan tanaman secara massal yang ditandai dengan 87,50% tunas yang dihasilkan mampu membentuk sistem perakaran yang baik