Andalas University

eSkripsi Universitas Andalas
Not a member yet
    74254 research outputs found

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU KONVERSI SPUTUM DAN HUBUNGANNYA DENGAN LUARAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU RESISTEN OBAT DENGAN REGIMEN JANGKA PENDEK DI SUMATERA BARAT

    Get PDF
    Latar Belakang: Tuberkulosis paru resisten obat (TB-RO) merupakan tantangan besar kesehatan masyarakat, khususnya di Indonesia termasuk Sumatera Barat. Penerapan terapi regimen jangka pendek untuk TB-RO bertujuan meningkatkan kepatuhan pasien, mengurangi efek samping, dan mempercepat pemulihan. Penelitian ini bertujuan menilai faktor-faktor yang memengaruhi konversi sputum pasien TB-RO yang diberikan terapi regimen jangka pendek di Sumatera Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik potong lintang dengan pendekatan retrospektif pada pasien TB-RO yang terdaftar dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) antara tahun 2020 hingga 2024. Kriteria inklusi: Pasien usia ≥ 18 tahun dan pasien TB-RO dengan data lengkap di SITB. Kriteria eksklusi: Pasien TB-RO yang meninggal atau putus berobat dalam 3 bulan pertama terapi dengan hasil sputum yang belum mengalami konversi. Hasil: Ditemukan total 97 pasien TB-RO dengan terapi regimen jangka pendek. Karakteristik dasar pasien usia ≤ 45 tahun dan > 45 tahun relatif sebanding. Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki 63 (64,9%), status gizi kurang 57 (58,8%), dan menikah 57 (58,8%). Komorbiditas ditemukan pada 42 (42,3%) pasien, dengan sepertiga memiliki satu komorbiditas, paling sering diabetes melitus 18 (18,6%). Lebih dari setengah pasien memiliki riwayat pengobatan TB 56 (57,1%) dan mayoritas tidak menunjukkan adanya kavitas 70 (72,2%), tidak mengalami reaksi obat yang merugikan 50 (51,5%), mengalami konversi sputum dalam ≤ 3 bulan 72 (74,2%), dan luaran pengobatan berhasil 61 (62,9%). Faktor yang secara signifikan memengaruhi konversi sputum adalah usia (p=0,004; OR=6,875) dan status gizi (p=0,038; OR=3,976). Waktu konversi sputum ≤3 bulan secara signifikan berhubungan dengan keberhasilan terapi (p<0,001; OR=14,00). Kesimpulan: Usia dan status gizi merupakan faktor utama yang memengaruhi waktu konversi sputum. Konversi sputum ≤3 bulan berkorelasi kuat dengan luaran pengobatan yang berhasil

    ANALISIS YURIDIS EKSPOR DAN IMPOR GANJA DALAM RANGKA KESEHATAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN HUKUM INTERNASIONAL DAN NASIONAL

    Get PDF
    Pembahasan ganja dalam konteks kesehatan dan ilmiah kini beralih dari isu legalisasi domestik ke aspek perdagangan internasional. Regulasi ganja berbeda di setiap negara, namun Single Convention on Narcotic Drugs 1961 menjadi pondasi yang mengatur setiap negara. Single Convention on Narcotic Drugs 1961 memungkinkan produksi, perdagangan, ekspor, dan impor ganja secara ketat untuk tujuan medis dan ilmiah, asalkan diatur oleh otoritas berwenang di masing-masing negara. Di sisi lain, Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, mengklasifikasikan ganja sebagai narkotika Golongan I, yang secara umum dilarang untuk pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Namun, undang-undang ini membuka kemungkinan penggunaan terbatas untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan izin dari Menteri Kesehatan dan rekomendasi BPOM. Rumusan masalah: (1)bagaimana pengaturan ekspor dan impor ganja untuk kesehatan dan pengetahuan medis menurut hukum internasional dan nasional Indonesia, (2) bagaimana implementasi ekspor impor ganja untuk kesehatan dan pengetahuan medis di Indonesia. Metode penelitian menggunakan metode empiris dengan pendekatan deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Barat (BNNP Sumbar), Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), dan Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Hasil penelitian menunjukkan pengaturan ekspor dan impor ganja diatur dalam Single Convention on Narcotic Drugs 1961 menjadi acuan utama hukum internasional, bahwa ganja dapat diproduksi, diperdagangkan, dan didistribusikan untuk tujuan medis dan ilmiah sebagaimana diatur dalam Article 2 paragraph 5 dan Article 4. Konvensi ini mengharuskan negara pihak untuk menyampaikan estimasi kebutuhan nasional setiap tahun (Article 19) dan menerapkan pembatasan kuota produksi serta distribusi (Artcile 21). Ketentutan ekspor dna impor ganja diatur dalam Article 31, yang mewajibkan adanya otorisasi ekspor dan sertifikasi impor oleh otoritas kompeten masing-masing negara. Dalam konteks nasional, Indonesia merujuk pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Nartkotika. Ganja diklasifikasikan sebagai narkotika golongan I dalam Lampiran undnag-undang tersebut, yang secara umum dilarang untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan/teknologi pada Pasal 8 ayat 1. Namun, Pasal 8 ayat 2 membuka kemungkinan penggunaan ganja untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan/teknologi dengan syarat adanya izin dari Menteri Kesehatan setelah mendapatkan rekomendasi BPOM. Ketidak harmonisasn antara norma internasional dan regulasi nasional menciptakan tantangan dalam implementasi kebijakan ekspor impor ganja untuk pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, sehingga diperlukan peninjauan regulasi secara akuntabel dan terukur

    KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TEMBAGA OKSIDA (CuONPs) HASIL GREEN SYNTHESIS MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN BUNGA KERTAS (BOUGAINVILLEA) SEBAGAI REDUKTOR UNTUK APLIKASI FILM TIPIS

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian mengenai sintesis nanopartikel tembaga oksida (CuONP) menggunakan ekstrak daun bunga kertas (Bougainvillea) sebagai agen pereduksi alami untuk aplikasi pada lapisan tipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun Bougainvillea dalam pembentukan nanopartikel tembaga serta mengevaluasi karakteristik lapisan tipis yang dihasilkan. Sintesis dilakukan dengan metode green synthesis menggunakan variasi perbandingan ekstrak daun dengan larutan Cu(NO₃)₂, yaitu 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, dan 1:5. Karakterisasi dilakukan menggunakan UV-Vis spektroskopi untuk menentukan nilai absorbansi dan celah pita energi (band gap ), X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui struktur dan ukuran kristal, serta Scanning Electron Microscope (SEM) untuk melihat morfologi permukaan. Uji transmitansi lapisan tipis dilakukan menggunakan UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa nanopartikel tembaga memiliki puncak serapan pada panjang gelombang 360 nm, dengan nilai band gap berada dalam rentang 2,71 eV sampai 2,94 eV. Analisis XRD mengindikasikan ukuran kristal CuO berkisar antara 15,6–84,3 nm dengan struktur cubic, sedangkan ukuran kristal Cu(NO₃)₂ berada dalam rentang 26,6–44,1 nm dengan struktruk orthorhombic. SEM menunjukkan rata-rata ukuran nanopartikel tembaga pada variasi sampel 1:1 adalah 122,15 nm. Nanopartikel tembaga oksida yang dihasilkan memiliki morfologi yang tidak beraturan (irregular). Persentase transmitansi dari lapisan tipis adalah dengan rentang 5% sampai dengan 75%, yang menandakan bahwa lapisan dengan komposisi tersebut berpotensi digunakan sebagai material pelapis opti

    Penentuan Koefisien Ground Motion Prediction Equation (GMPE) Khusus Zona Subduksi Mentawai pada Wilayah Sumatera Barat dengan Menggunakan Analisis Regresi Berganda

    Get PDF
    Sumber gempa bumi zona subduksi Mentawai berpotensi menghasilkan gempa bumi besar di masa yang akan datang. Gempa bumi tersebut menjadi ancaman guncangan kuat terhadap wilayah Provinsi Sumatera Barat karena posisi pantainya berhadapan langsung dengan zona subduksi Mentawai. Ground Motion Prediction Equation (GMPE) sangat penting ditentukan berdasarkan karakteristik suatu sumber gempa untuk mengestimasi guncangan tanah berupa parameter Peak Ground Acceleration (PGA) dengan lebih sesuai sehingga meminimalisir risiko gempa bumi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan koefisien GMPE berdasarkan karakteristik sumber gempa bumi zona subduksi Mentawai pada wilayah Sumatera Barat dengan menggunakan analisis regresi berganda. Data yang digunakan berupa data rekaman PGA akselerograf milik BMKG yang terpasang di Sumatera Barat beserta parameter gempa bumi sumber subduksi Mentawai dengan magnitudo ≥ 4,8 Mw dan kedalaman ≤ 100 km pada periode tahun 2019 hingga 2023. Hasil analisis regresi diperoleh koefisien baru yang sesuai dengan karakteristik sumber gempa bumi subduksi Mentawai yaitu C1= -1,600, C2= 0,551, C3= 0,001 dan C4= -0,004. Estimasi PGA dari hasil perhitungan persamaan GMPE regresi menghasilkan nilai yang mendekati rekaman PGA akselerograf dibandingkan persamaan GMPE lainnya yang umum digunakan di wilayah Sumatera Barat dengan standar deviasi 0,3837. Persamaan GMPE hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam kajian bahaya gempa dan mitigasi risiko gempa pada wilayah Sumatera Barat berdasarkan sumber gempa bumi subduksi Mentawai

    PENGARUH PERBANDINGAN BUBUK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) DAN BUBUK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORI TEH HERBAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan bubuk daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan bubuk jahe merah (Zingiber officinale Var. Rubrum) terhadap karakteristik kimia dan sensori teh herbal. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan dengan perbandingan bubuk daun binahong dan bubuk jahe merah: Pada perlakuan A (100%:0%), perlakuan B (90%:10%), perlakuan C (80%:20%), perlakuan D (70%:30%), dan perlakuan E (60%:40%). Parameter yang diuji pada penelitian ini meliputi kadar air, kadar abu, aktivitas antioksidan IC50, total polifenol, dan uji organoleptik (warna, rasa dan aroma). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji DMRT. Hasil menunjukkan bahwa semua perlakuan memenuhi persyaratan kadar air dan kadar abu menurut SNI 3836-2013 tentang teh celup dalam kemasan yaitu maksimal 8%. Perlakuan E (60%:40%) menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi (IC50=81,8997 ppm) dan nilai total polifenol sebesar 128,564 mg GAE/g, dengan penerimaan sensori terbaik pada parameter warna 3,48 (suka), rasa 3,48 (suka), dan aroma 3,60 (suka). Perbandingan bubuk daun binahong dan bubuk jahe merah berpengaruh nyata pada warna dan berpengaruh sangat nyata pada kadar abu, aktivitas antioksidan IC50, dan total polifenol. Namun penelitian ini berbepengaruh tidak nyata terhadap kadar air, rasa, dan aroma

    SISTEM PEMANTAUAN HEWAN LIAR DAN MANUSIA DI SEKITAR TENDA BERBASIS SINGLE BOARD COMPUTER MENGGUNAKAN ALGORITMA YOLO

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem pemantauan nirkabel real-time guna mengatasi tantangan keamanan di area perkemahan terpencil. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi keberadaan hewan liar dan manusia di sekitar tenda. Metode yang diterapkan melibatkan integrasi teknologi visi komputer dengan komputasi edge menggunakan NVIDIA Jetson Nano dan model deteksi objek YOLOv5. Model ini dilatih secara khusus untuk mengenali sepuluh kelas objek, termasuk manusia dan berbagai jenis hewan liar. Pendekatan ini menggunakan arsitektur nirkabel dua kotak yang inovatif, transmisi video latensi rendah, serta logika alarm yang diaktifkan oleh buzzer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini mampu mencapai kecepatan pemrosesan yang stabil hingga 11 FPS dan tingkat akurasi rata-rata ([email protected]) sebesar 0.9. Kinerja sistem terbukti andal dalam kondisi pencahayaan minim, meskipun terdapat penurunan akurasi pada jarak lebih dari 4 meter karena keterbatasan resolusi kamera non-autofokus. Kesimpulannya, sistem ini berhasil membuktikan kelayakannya sebagai solusi keamanan yang efektif, portabel, dan hemat energi untuk aplikasi pemantauan di alam bebas, dengan potensi komersial yang menjanjikan

    SISTEM INFORMASI DAN PENDATAAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (SITANJAKMAS)

    Get PDF
    SITANJAKMAS merupakan sistem informasi cerdas yang dirancang untuk mengotomatisasi proses pendataan dan seleksi calon penerima bantuan sosial. Aplikasi ini dikembangkan untuk membantu Dinas Sosial, Kecamatan, dan Kelurahan dalam menentukan kelayakan penerima bantuan secara lebih efisien melalui penerapan algoritma klasifikasi berbasis kriteria kesejahteraan yang komprehensif. Sistem ini menggantikan metode manual yang lambat dan berpotensi subjektif dengan proses digital yang terstandarisasi. Fitur unggulan SITANJAKMAS meliputi: (1) analisis data otomatis menggunakan algoritma klasifikasi, (2) integrasi dengan Google Maps API untuk visualisasi spasial penerima bantuan, serta (3) kemampuan dokumentasi lapangan melalui unggahan foto kondisi rumah (tampak luar dan dalam) beserta dokumen pendukung. Implementasi sistem ini telah terbukti meningkatkan transparansi, kecepatan, dan objektivitas dalam proses pendataan, sekaligus mendukung akurasi dan keadilan distribusi bantuan sosial di Kota Dumai

    In vitro Root Induction of Curcuma sumatrana Miq. for The Successful Micropropagation of Sumatran Endemic Turmeric Species

    Get PDF
    Curcuma sumatrana is an endemic plant species from Sumatra with various potential applications, particularly in the fields of medicine, food, and textiles. Due to its limited distribution in natural habitats and its classification as a vulnerable species by the IUCN, conservation efforts are urgently needed. One promising method is through plant tissue culture. In vitro root induction can enhance the plant’s ability to survive upon reintroduction into natural habitats. This study aimed to evaluate the effects of different concentrations of NAA combined with full- and half-strength Murashige and Skoog (MS) media on root induction of C. sumatrana. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) in factorial with 8 treatment and 5 replications. The culture media used were full-strength and half-strength MS supplemented with NAA at concentrations of 0, 0.25, 0.5, and 1 mg L⁻¹.The results showed that MS strength (full or half) did not significantly affect any observed parameter. However, NAA treatments at concentrations of 0.25–1 mg L⁻¹ tended to promote better root formation, with 0.25 mg L⁻¹ for leaf development. The longest roots were observed in the combinations of full-strength MS + 0.25 mg L⁻¹ NAA and ½ MS + 0 mg L-1 NAA. The highest survival rate (100%) during acclimatization was achieved under NAA concentrations of 0 and 0.25 mg L⁻¹ in both full- and half- strength MS media, as well as full-strength MS + 1 mg L⁻¹ NAA

    Implementasi Kebijakan Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan, Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) Oleh BKAD Kabupaten Sijunjung

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Implementasi Kebijakan Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan, Pedesaan dan Perkotaan yang dilaksanakan oleh BKAD Kabupaten Sijunjung berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2021. Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya Peraturan yang mengatur tentang PBB-P2 yaitu Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2021 tetapi masih rendahnya kepatuhan wajib Pajak serta minimnya sosialisasi, dan pemuktahiran data objek pajak. Penelitian ini menggunakan metode dan desain penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Pemilihan informan dengan teknik purposive sampling dan teknik keabsahan data yang peneliti gunakan yaitu triangulasi sumber. Untuk menganalisis, penelitian ini menggunakan teori implementasi kebijakan yaitu oleh Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn yang terdiri dari 6 variabel yaitu standar dan sasaran kebijakan, sumber daya, komunikasi antar organisasi, karakteristik agen pelaksana, kondisi sosial, ekonomi, dan politik serta disposisi implementor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Implementasi Kebijakan Pemungutan PBB-P2 di Kabupaten Sijunjung masih belum terlaksana dengan maksimal dikarenakan tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan tersebut belum dapat terpenuhi secara utuh. Pada variabel standar dan sasaran kebijakan, tujuan dari kebijakan belum tercapai sepenuhnya karena indikator keadlian belum terpenuhi. Variabel sumber daya manusia masih terdapat kekurangan dari segi kuantitas begitupun dari segi sumber daya non manusia. Komunikasi dan koordinasi antar organisasi sudah berjalan dengan baik. Karakteristik agen pelaksana sudah berjalan dengan baik. Demikian juga dengan disposisi para pelaksana yang mendukung dan memahami pelaksanaan kebijakan tersebut. Pola hubungan birokrasi di internal pelaksana sudah berjalan dengan baik. Kondisi sosial dalam implementasi kebijakan ini dapat dilihat dari respon masyarakat ada yang patuh dan ada yang tidak patuh dalam membayar pajak. Pada variabel ekonomi masih belum mendukung secara optimal. Pada indikator kondisi politik sudah berjalan dengan baik, namun masih belum maksimal untuk dukungan dari elit politik

    Karakterisasi Aktivitas Fosfatase Tanah pada Inceptisol dengan Beberapa Penggunaan Lahan di Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang

    Get PDF
    Aktivitas enzim fosfatase dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan faktor biotik seperti jenis tanaman dan mikroorganisme tanah. Setiap jenis tanaman dapat mempengaruhi aktivitas enzim di sekitar melalui eksudat akar, yang berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroba tanah yang memproduksi enzim tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mempelajari pengaruh beberapa penggunaan lahan yaitu kebun kakao, kabun jagung, kebun campuran, dan semak belukar pada Inceptisol terhadap aktivitas enzim fosfatase tanah di Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Metode pengambilan sampel tanah yaitu Purposive sampling, sampel tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm. parameter yang di analisis yaitu pH tanah, C-organik, P-tersedia, Respirasi Tanah, C-biomassa, dan aktivitas enzim fosfatase asam dan basa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas enzim fosfatase asam lebih aktif yaitu pada lahan semak belukar. Aktivitas enzim fosfatase asam yaitu 4,27 sampai 5,01 μmol pNP/g tanah/jam lebih tinggi dibandingkan aktivitas enzim fosfatase basa yaitu, 2,38 sampai 3,41 μmol pNP/g tanah/jam . Adapun di lahan semak belukar memiliki nilai karakteristik aktivitas fosfatase asam dan basa terbaik dengan pH H2O 5,18; pH KCl 3,96; kandungan C-Organik 2,44%; kadar P-tersedia 8,00 ppm; respirasi tanah 19,14 mg CO2/m2/hari; kandungan C-biomassa mikroba 0,42 mg C/g tanah; nilai aktivitas fosfatase asam 5,01 μmol pNP/g tanah/jam; dan nilai aktivitas fosfatase basa 3,24 μmol pNP/g tanah/jam Dalam meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung aktivitas enzim fosfatase tanah disarankan penambahan bahan organik serta pengurangan intensitas pengolahan tanah serta pengaturan pH tanah melalui pengapuran tanah

    58,132

    full texts

    74,254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eSkripsi Universitas Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇