74254 research outputs found
Sort by
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kayu Jao Kabupaten Solok
Prevalensi stunting di Puskesmas Kayu Jao sebesar 17,9% yang melebihi target perencanaan daerah tahun 2023 dan wilayah kerjanya termasuk lokasi prioritas penanganan stunting tahun 2022. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kayu Jao. Penelitian menggunakan desain kasus kontrol berpasangan. Jumlah sampel adalah 40 sampel kasus yang diambil menggunakan simple random sampling dan 40 sampel kontrol dipilih secara purposive sampling dengan mencocokkan usia dan jenis kelamin balita. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu riwayat pemberian MP-ASI (p=0,009) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (p=0,034) sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu pengetahuan ibu (p=0,332), status ekonomi keluarga (p=0,5), riwayat pemberian ASI (p=0,423), dan riwayat diare (p=0,75). Variabel yang paling dominan yaitu riwayat pemberian MP-ASI. Riwayat pemberian MP-ASI menjadi faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian stunting pada balita. Tenaga kesehatan puskesmas dapat membuat buku saku untuk kader posyandu mengenai pemberian MP-ASI yang tepat dan variasi menu MP-ASI
Studi Eksperimental Pengaruh Angkur CFRP pada Kapasitas Geser Balok T dengan Perkuatan CFRP Strip Dua Sisi Lebar 100 mm
Salah satu kerusakan material yang dapat terjadi pada struktur bangunan adalah korosi. Korosi terjadi pada baja tulangan sehingga dapat mengurangi kualitas dari struktur bangunan sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Pada penelitian ini, digunakan CFRP (Carbon Fiber Reinforced Polymer) sebagai bahan alternatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui kotribusi dari pengaruh CFRP strip dan CFRP angkur pada balok. Variasi benda uji yang digunakan adalah balok T tanpa tulangan transversal yang akan dibandingkan dengan empat benda uji yang diberi perkuatan dengan variasi jumlah lapisan CFRP lembaran dan dilengkapi atau tidaknya CFRP angkur. Balok kontrol yang digunakan sebagai pembanding diasumsikan mengalami keruntuhan geser karena memiliki kapasitas geser yang rendah sedangkan empat balok lainnya yang diberi perkuatan mengalami keruntuhan lentur karena kapasitas gesernya yang meningkat 61,41%
KEANEKARAGAMAN HEMIPTERA PADA EKOSISTEM TANAMAN PANGAN DAN SAYURAN DI KECAMATAN PAYAKUMBUH DAN HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
Hemiptera merupakan salah satu dari lima ordo serangga dengan keanekaragaman terbesar. Sebagian besar Hemiptera berperan sebagai herbivora, predator dan ada yang berperan sebagai vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman Hemiptera pada ekosistem tanaman pangan dan sayuran di Kecamatan Payakumbuh dan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian dilaksanakan pada ekosistem tanaman pangan dan sayuran di Kecamatan Payakumbuh dan Harau, kemudian identifikasi dilakukan di Laboratorium Bioekologi Serangga Departemen Proteksi Tanaman Universitas Andalas. Penelitian ini berbentuk survei dan penentuan lokasi dilakukan menggunakan Purposive Sampling. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan Vacuum cleaner. Hasil penelitian menunjukkan jumlah Hemiptera yang ditemukan sebanyak 1.949 individu yang terdiri atas 20 spesies dan tersebar dalam 10 famili. Indeks keanekaragaman tanaman pangan dan sayuran tertinggi terdapat pada tanaman jagung Kecamatan Payakumbuh lahan Payolansek sebesar 1,72 dan tanaman cabai Kecamatan Payakumbuh lahan Talang sebesar 1,07, dimana kedua tanaman tersebut termasuk kategori keanekaragaman sedang. indeks kemerataan tanaman pangan dan sayuran tertinggi terdapat pada tanaman jagung Kecamatan Harau lahan Sarilamak sebesar 0,93 dan tanaman cabai Kecamatan Payakumbuh lahan Talang sebesar 0,77, kedua tanaman tersebut termasuk kategori kemerataan tinggi. Indeks kesamaan spesies tertinggi terdapat pada tanaman terung Payakumbuh lahan Kubu Gadang dan cabai Harau lahan Batu Balang, terung Payakumbuh lahan Kubu Gadang dan cabai Harau lahan Sarilamak, jagung Harau lahan Taram dan jagung Harau lahan Batu Balang, serta cabai Harau lahan Batu balang dan cabai Harau lahan Sarilamak dengan nilai 1,00 dan termasuk kategori sangat tinggi. Bemisia tabaci adalah spesies yang paling dominan ditemukan dengan indeks nilai penting sebesar 12,9
KEKUATAN LENTUR PELAT BETON BERTULANG DIPERKUAT DENGAN PELAT DAN PEMASANGAN ANGKUR CFRP PADA BENTANG GESER DENGAN JARAK 200 MM
Dari seluruh komponen struktur utama bangunan, pelat lantai merupakan salah satu elemen struktur yang berperan sangat penting, tidak kalah penting dari elemen struktur lainnya. Fungsi utamanya adalah untuk menahan dari beban hidup, dan menyalurkannya ke struktur yang ada di bawahnya (balok dan kolom). Pelat lantai yang umum digunakan adalah jenis pelat lantai beton bertulang. Untuk kasus tertentu, perlu adanya perkuatan tambahan pada pelat lantai tersebut untuk memperpanjang umur rencana atau untuk memperbaiki struktur yang sudah tua. Maka dapat digunakan salah satu perkuatan yaitu CFRP (Carbon Fiber Reinforced Polymer) berupa pelat dan angkur. Penggunaan perkuatan CFRP selain untuk meningkatkan kekuatan lentur, juga untuk memperkecil kemungkinan terjadinya debonding atau kegagalan antara CFRP dengan pelat beton bertulang. Penelitian ini bersifat eksperimental yang diuji secara langsung di Laboratorium Material dan Struktur, Fakultas Teknik, Universitas Andalas. Pada penelitian ini diteliti empat benda uji dengan spesifikasi sebagai berikut; PL-C (pelat beton bertulang solid), PL-P (pelat beton bertulang dengan pelat CFRP), PL-PA3 (pelat beton bertulang dengan pelat CFRP dan angkur CFRP jarak 200-200-200 mm) dan PL-PA6 (pelat beton bertulang dengan pelat CFRP dan angkur CFRP jarak 200-0-200 mm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan lentur dari semua benda uji tersebut. Hasil kegiatan eksperimental akan dianalisis dan dibandingkan dengan teori momen debonding dan analisis dengan aplikasi RCCSA v4.3. Dari penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan. Pelat PL-P, PL-PA3, dan PL-PA6 lebih kuat secara lentur dibanding PL-C dengan perbedaan kekuatan lentur sangat signifikan. Namun saat dibandingkan antara benda uji PL-PA3 dan PL-PA6, didapatkan kesimpulan bahwa pelat PL-PA6 (pelat tanpa angkur di bagian lentur murni) sedikit lebih kuat dari PL-PA3 dengan perbedaan yang tidak signifikan. Lalu dilakukan juga terhadap benda uji PL-P, PL-PA3, dan PL-PA6 dari hasil kegiatan eksperimental, perhitungan teoritis momen debonding, dan hasil analisis menggunakan software RCCSA v4.3., didapatkan nilai momen yang tidak memiliki perbedaan yang signifikan, atau mendekati satu sama lain
Peran Konsultan Pengawas Dalam Mengantisipasi Kegagalan Pekerjaan Pada Proyek Pembangunan / Peningkatan Jalan Wilayah Penarik - Lubuk Pinang Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu
Pembangunan jalan di Indonesia saat ini menjadi prioritas utama dalam Pembangunan Infrastruktur.Konsultan Pengawas merupakan bagian dari struktur Organisasi Proyek pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan tersebut.Pada pekerjaan proyek konstruksi biasanya terjadi kendala pada pekerjaan proyek tersebut,baik kendala yang memang sudah diperhitungkan maupun kendala yang diluar perhitungan oleh perencana.Kendala tersebut dapat menjadi penyebab keterlambatan dan bisa menjadi kegagalan suatu proyek,sehingga proyek tersebut tidak berlangsung sesuai dengan rencana,dalam hal ini pada proyek Pembangunan Jalan Provinsi Bengkulu dimana sering terjadi kegagalan baik dari segi teknis maupun non teknis. Studi kasus ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan atau mengetahui faktor-faktor utama pendukung yang mempengaruhi kegagalan.Studi kasus ini dilakukan berdasarkan berbagai kajian Pustaka dan hasil studi yang relavan tentang peran konsultan pengawas dalam proses pelaksanaan konstruksi serta indikator kinerja konstruksi proyek jalan yang diteliti, (Proyek Pengawasan Proyek Pembangunan / Peningkatan Jalan Penarik – Lubuk Pinang). Metodelogi penelitian menggunakan tahapan proses, mengkaji berbagai isu, kajian pustaka, hasil penelitian yang relavan,identifikasi permasalahan penelitian, mempersiapkan instrument penelitian, menganalisis permasalahan penelitian dan membahas hasil penelitian yang diperoleh. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif, dengan mengkaji berbagai data primer dan sekunder yang dikumpulkan, studi kasus ini menghasilkan identifkasi peran konsultan pengawas pada keberhasilan pembangunan proyek nantinya
KONFLIK TANAH ULAYAT MASYARAKAT ADAT DI NAGARI KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT (Studi Kasus: Konflik Tanah Ulayat Masyarakat Adat Kinali Dengan PT LIN)
Konflik tanah ulayat merupakan salah satu konflik yang pernah terjadi di Nagari Kinali, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Konflik ini menimbulkan permasalahan antara kelompok masyarakat adat Kinali baik itu masyarakat Anam Koto maupun masyarakat Langgam dengan PT LIN. Permasalahan ini berawal dari penyerahan tanah ulayat kepada Bupati Pasaman oleh ninik mamak Kinali yang nantinya diberikan kepada investor atau perusahaan dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU) sebagai hak pengusahaan terhadap kegiatan perkebunan. Konflik ini semakin rumit karena perbedaan pemahaman antara prinsip adat “adat diisi limbago dituang” dan hukum negara terkait kepemilikan tanah. Konflik tanah ini menunjukkan pentingnya peran tanah dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sebagai identitas budaya. Konflik ini sudah terjadi sejak 1989, dan masih berlangsung hingga saat ini.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dengan kriteria-kriteria khusus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dengan observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi pustaka. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menyiapkan dan mengorganisasikan data, mereduksi data, dan menyajikan data dalam bentuk pembahasan. Penelitian ini menggunakan teori perlawanan dari James Scott.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sengketa tanah ulayat yang muncul akibat perbedaan pemahaman antara masyarakat adat kinali dan perusahaan terhadap tanah ulayat dan penyerahan tanah ulayat tersebut. Penyerahan tanah yang dilakukan tersebut lambat laun tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang menimbulkan beberapa konflik diantara masalah letak tanah dan belum terpenuhi hak masyarakat adat Kinali. Ketidaksesuaian tersebut sehingga menimbulkan perlawanan. Perlawanan yang muncul menuntut tanah ulayat mereka dikembalikan dan tuntutan plasma 20% dari lahan yang dikelola. Perlawanan ini sebagai bagian dari usaha masyarakat adat Kinali dalam upaya memperjuangkan hak mereka terhadap tanah ulayat yang dikelola oleh perusahaan. Perlawanan yang dilakukan terbagi menjadi perlawanan terbuka yaitu dengan masyarakat menuntut hak dengan cara melakukan unjuk rasa hingga melapor ke berbagai pihak dan melakukan perlawanan tertutup seperti gosip sebagai bentuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap situasi yang sedang terjadi.
Kata Kunci : Konflik, Tanah Ulayat, Masyarakat, Perusahaa
Penentuan Umur Simpan Menggunakan Metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Pada Bubuk Pewarna Alami Bunga Telang (Clitoria ternatea) Foam-Mat Drying dengan Berbagai Jenis Kemasan
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung umur simpan bubuk pewarna alami bunga telang berdasarkan parameter kritisnya menggunakan metode ASLT (Accelerated Shelf-Life Testing) dan mengetahui kemasan yang tepat untuk penyimpanan bubuk pewarna alami bunga telang. Bubuk pewarna alami bunga telang dikemas dengan kemasan polipropilen, polietilen, aluminium foil, dan botol kaca serta disimpan pada tiga suhu yang berbeda (30oC, 40oC, dan 50oC).Pengamatan dilakukan satu minggu sekali selama empat minggu. Parameter kritis pada penentuan umur simpan didapatkan dari nilai energi aktivasi terendah dari pengamatan yang telah dilakukan. Parameter yang diamati yaitu kadar air dan total antosianin. Parameter kritis yang digunakan untuk pendugaan umur simpan adalah kadar air. Umur simpan bubuk pewarna alami bunga telang pada masing-masing kemasan yaitu pada kemasan aluminium foil adalah 82,31 hari, kemasan botol kaca 76,05 hari, kemasan PP 67,58 hari, kemasan PET 59,32 hari. Umur simpan bubuk pewarna alami bunga telang yang dikemas dengan kemasan aluminium foil lebih lama dibandingkan tiga kemasan lainnya yang berarti kemasan aluminium foil adalah kemasan yang terbaik untuk penyimpanan bubuk pewarna alami bunga telang.
Kata Kunci - bubuk pewarna alami; bunga telang; jenis kemasan; umur simpa
ANALYSIS OF ESG DISCLOSURE IN ASEAN COUNTRIES: THE INFLUENCE OF BOARD CSR ORIENTATION, BOARD CSR STRATEGY, GRI, AND NATIONAL CULTURAL DIMENSIONS
This study aims to examine the influence of board CSR orientation, board CSR strategy, the adoption of the Global Reporting Initiative (GRI), and national cultural dimensions on Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure in ASEAN countries. The data used in this research is derived from 147 companies over the 2014–2023 period, with a total of 1,470 observations. The data analysis technique applied in this study is Panel Data Regression using STATA 17. Board CSR orientation was found to have a significant positive influence on ESG disclosure, as boards committed to CSR are able to enhance transparency and the quality of ESG reporting, as well as build stakeholder trust. Board CSR strategy also significantly encourages the integration of CSR into corporate strategies, which improves transparency and supports long-term sustainability goals. Furthermore, the adoption of GRI guidelines shows a significant positive impact, helping companies produce structured and comparable reports, thus enhancing competitiveness and investor confidence. In the aspect of national culture, individualism has a significant positive influence on ESG disclosure, as such cultures tend to emphasize transparency and reputation. On the other hand, uncertainty avoidance has a significant negative effect, indicating that cultures with low levels of uncertainty avoidance prioritize flexibility over structured ESG reporting. Meanwhile, the femininity dimension shows a positive but not significant impact on ESG disclosure, which may be attributed to weak regulatory frameworks in ASEAN. Control variables such as firm age, board size, and board meeting frequency also influence ESG disclosure
Gambaran Kejadian Infeksi Giardiasis pada Balita Stunting Usia 24-59 Bulan di Kenagarian Koto Tinggi Kabupaten Lima Puluh Kota
Stunting sampai saat ini masih menjadi perhatian besar dalam dunia kesehatan terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini merupakan dampak dari gangguan asupan gizi dan nutrisi pada anak balita yang terjadi dalam waktu yang lama. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2022 masih tinggi yaitu sebesar 21,6%. Salah satu penyebab stunting adalah infeksi saluran cerna yang mengakibatkan diare pada anak. Jenis protozoa usus yang menjadi penyebab tersering dari infeksi saluran cerna manuasia dan mengakibatkan gangguan absorpsi nutrisi adalah Giardia lamblia, protozoa penyebab giardiasis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian infeksi giardiasis pada balita stunting di Kenagarian Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan pemeriksaan sampel feses yang sudah dikumpulkan dari 46 balita stunting berusia 24–59 bulan di Nagari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sampel feses diperiksa menggunakan metode pemeriksaan langsung secara mikroskopis dan Copro-ELISA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita stunting termasuk dalam kategori severely stunted (95,7%), didominasi oleh laki-laki (54,3%) dan kelompok usia 36–47 bulan (39,2%). Prevalensi infeksi G. lamblia ditemukan sebesar 13% dengan proporsi lebih tinggi pada balita perempuan (66,7%), kelompok usia 24–35 bulan (50%), dan seluruh kasus infeksi giardiasis terjadi pada balita dengan status severely stunted.
Simpulan dari penelitian adalah mayoritas balita stunting merupakan severely stunted, laki-laki, dan kelompok usia 36–47 bulan. Sementara itu, prevalensi G. Lamblia adalah 13%, mayoritas pada balita severely stunted, perempuan, dan kelompok usia 24–35 bulan. Selain itu, peneliti menegaskan pentingnya upaya pencegahan infeksi G. lamblia sebagai bagian dari intervensi stunting di Nagari Koto Tinggi melalui peningkatan kebersihan lingkungan, jamban sehat, dan akses terhadap air bersih
Hubungan Status Gizi dengan Kesintasan Hidup 3 Tahun pada Pasien Kanker Serviks yang Menjalani Radioterapi di RS Dr. M. Djamil Padang
Kanker Serviks merupakan kanker keempat yang paling umum terjadi pada perempuan, terdapat 604.000 kasus baru dan 342.000 kematian yang terjadi pada tahun 2020. Radioterapi, termasuk radiasi sinar eksternal dan brachytherapy, merupakan salah satu pilihan terapi yang umum digunakan untuk mengobati kanker serviks. Salah satu permasalahan yang terjadi pada pasien kanker serviks adalah masalah pada status gizi pasien. Penurunan status gizi ini dipengaruhi oleh gangguan metabolisme akibat sitokin-sitokin pro-inflamasi yang dikeluarkan oleh sel tumor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kesintasan hidup 3 tahun pada pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi di RS Dr. M. Djamil Padang.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian studi kohort retrospektif dan dilakukan pada bulan November 2023 – Juni 2024 penelitian ini didapatkan 30 sampel pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi di RS Dr. M. Djamil Padang. Pada penelitian ini dilakukan analisis univariat dan analisis survival dengan menggunakan alat statistik yaitu SPSS dan STATA.
Hasil penelitian ini menunjukan pasien kanker serviks berusia 40-49 tahun (46,6%), stadium III (43,3%), riwayat pengobatan radioterapi saja (36,7%), berat badan normal (40,0%). Kesintasan hidup pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi sebesar 27%. Pasien dengan berat badan kurang memiliki kesintasan hidup 12%. Nilai uji p-log rank pada penelitian ini adalah 0,074. Analisis rasio hazard tidak menunjukan hasil yang signifikan (HR: 2,82; IK 95%: 0,97 – 8,25, nilai-p: 0,058).
Penelitian ini mendapatkan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kesintasan hidup pada pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi berdasarkan status gizi