Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi
Not a member yet
125 research outputs found
Sort by
UJI PENGHAMBATAN AKTIVITAS ENZIM XANTIN OKSIDASE TERHADAP EKSTRAK KULIT KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.)
ABSTRAK Enzim xantin oksidase adalah enzim yang berperan sebagai katalisator dalam proses oksidasi hipoxantin menjadi xantin dan kemudian menjadi asam urat. Asam urat adalah produk dari metabolisme purin yang mengendap di persendian dan membentuk kristal sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan kaku, menyebabkan pembesaran dan penonjolan sendi. Obat sintetik yang biasa digunakan untuk mengatasi asam urat adalah allopurinol. Allopurinol bekerja menghambat pembentukan asam urat dari prekursornya (xantin dan hipoxantin). Akan tetapi allopurinol memiliki beberapa efek samping, kadang–kadang terjadi toksisitas pada gastrointestinal dan meningkatkan serangan akut gout pada awal terapi. Oleh karena itu, banyak masyarakat memanfaatkan tanaman obat sebagai anti asam urat karena memiliki efek samping yang relatif kecil, mudah didapatkan, dan harganya relatif murah dibandingkan dengan obat sintesis. Kulit kayu secang (Caesalpinia sappan L.), ternyata memiliki kemampuan sebagai anti asam urat. Hasil penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa ekstrak kulit kayu secang mampu menghambat aktivitas enzim xantin oksidase sampai 56,47%, sementara allopurinol mampu menghambat aktivitas enzim xantin oksidase sampai 87,47%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kulit kayu secang memiliki aktivitas penghambatan enzim xantin oksidase, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional anti asam urat. Kata kunci : xantin oksidase, kulit kayu secang, asam urat ABSTRACT Xanthine oxidase is an enzyme that act as catalyst in the process of oxidizing hypoxanthine to become xanthine and then into uric acid. Uric acid is the product of metabolism of purine that settles in the joints and form crystal that sparks great pain and stiffness, also an enlargement and protrusion of swollen joints. As synthetic drug commonly used to overcome uric acid is allopurinol. Allopurinol work by inhibiting the formation of uric acid precursor (xanthine and hypoxanthine), however allopurinol have few side effects, sometimes occurs in gastrointestinal toxicity and increase gout attack acute at the beginning of therapy. Hence, many people use medicinal plants as anti uric acid because it has less side effects, easy to get and are relatively inexpensive as opposed to synhesis medicine. Bark of secang (Caesalpinia sappan L.).have the capability to inhibit of the activity of the xanthine oxidase until 56,473%, while allopurinol capable of inhibiting the activity of the xanthine oxidase until 87,474%. The result of this research proves that bark of secang having activity to inhibit of xanthine oxidase, so that it can be used as traditional medicines for anti uric acid. Keywords : xanthine oxidase, bark of secang, inhibitory activity. Â
PRESISI UJI ANTIHIPERURISEMIA IN VITRO BERDASARKAN PENGUKURAN SERAPAN PADA DUA PANJANG GELOMBANG
ABSTRAK Metode yang digunakan dalam skrining obat antihiperurisemia in vitro berdasarkan pada kemampuan suatu bahan menghambat enzim xantin oksidase dalam mengubah substrat xantin menjadi asam urat. Para peneliti mengukur aktivitas antihiperurisemia berdasarkan asam urat yang terbentuk atau xantin yang tersisa. Untuk mengetahui presisi kedua pengukuran tersebut, telah dilakukan pengujian aktivitas antihiperurisemia alopurinol berdasarkan pengukuran serapan pada panjang gelombang 291 nm dan 268 nm. Pada kondisi optimum diperoleh simpangan baku relatif persen penghambatan berdasarkan jumlah asam urat yang terbentuk 0,24-1,30%, sedangkan berdasarkan sisa xantin adalah 0,25-2,39%. Kata kunci : pengambatan, xantin oksidase, in vitro, alopurinol, presisi  ABSTRACT The method used in in vitro antihiperurisemia drug screening based on the ability of a substance to inhibit the xanthine oxidase enzyme in converting the substrate xanthine to uric acid. The researchers measured the hyperuricemia treatment activity based on the formation of uric acid or the remaining xanthine. To determine the precision of the measurements, antihiperurisemia activity of allopurinol was conducted by measuring absorption at a wavelength of 291 nm and 268 nm. At the optimum conditions, the relative standard deviation of percent inhibition based on the amount of uric acid was 0.24 to 1.30%, while based on the rest of the xanthine was 0.257 to 2.39%. Keywords : inhibition, xanthine oxidase, in vitro, allopurinol, precisio
EFEKTIFITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAUN SIRSAK SEBAGAI KOMPLEMEN NATRIUM DIKLOFENAK PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR
ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang efektivitas antiinflamasi ekstrak daun sirsak sebagai komplemen natrium diklofenak pada tikus putih jantan. Pada penelitian ini digunakan 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol positif (Tween 80 2%), natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kgbb, ekstrak daun sirsak dosis 100 mg/kgbb, kombinasi natrium diklofenak dosis 2,25 mg/kgbb dengan ekstrak daun sirsak dosis 50 mg/kgbb, kombinasi natrium diklofenak dosis 1,125 mg/kgbb dengan ekstrak daun sirsak dosis 25 mg/kgbb. Seluruh kelompok hewan diberikan sediaan uji masing – masing kemudian setelah 1 jam diinduksi radang dengan karagen 1% melalui intraplantar. Selanjutnya dilakukan pengukuran volume telapak kaki sebelum dan sesudah diinduksi radang setiap 30 menit selama 6 jam untuk menghitung persentase radang telapak kaki tersebut. Nilai AUC total dari persentase radang yang diperoleh menjadi parameter untuk menggambarkan aktifitas antiinflamasi pada kelompok perlakuan. Hasil analisis statistik dengan uji T independen menunjukkan bahwa radang yang terbentuk pada kelompok kombinasi natrium diklofenak dan daun sirsak dengan dosis ¼ dosis tunggalnya masing-masing tidak berbeda nyata dengan kelompok yang diberikan dosis tunggal natrium diklofenak sehingga dapat disimpulkan bahwa efek antiinflamasi ekstrak daun sirsak sebagai komplemen pada dosis kombinasi yang lebih kecil tersebut sebanding dengan natrium diklofenak dosis tunggalnya sehingga dapat dikatakan terjadi efek adisi pada kelompok kombinasi tersebut dan ekstrak daun sirsak mampu menurunkan dosis penggunaan natrium diklofenak sebagai antiinflamasi. Kata kunci : Antiinflamasi, komplemen, daun sirsak, natrium diklofenak ABSTRACT The study of antiinflamatory efectivity soursop leaf’s extract as diclofenac sodium complement on white male rat has been done. Five groups have been used on this study. Those were positif control (Tween 80 2%), diclofenac sodium 4,5 mg/kgbw, soursoup leaf’s extract 100 mg/kgbw, combination of diclofenac sodium 2.25 mg/kgbw and soursoup leaf’s extract 50 mg/kgbw, combination of diclofenac sodium 1.125 mg/kgbw and soursoup leaf’s extract 25 mg/kgbw. Each animal from all groups was given test compound and after one hour inflammation was induced by caraagenan via intra plantar. Paw volume was measured every 30 minutes during 6 hours to calculate inflammatory percentage. .The AUC of inflammatory percentage used as antiinflamation activity parameter. The result showed that there was no diffrerence activity between group of combination at quarter dose of each component and group of single dose of diclofenac sodium. Apparently, there is an additive effect of the combination. It also indicates that soursoup leaf’s extract as complement can reduce the dose of diclofenac sodium for anti-inflammatory effect. Keywords : antiinflamatory, complement, soursoup leaf, diclofenac sodiu
FORMULA SEDIAAN LOSION ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL KULIAH BUAH COKLAT (Theobroma cacao L.)
Penelitian tentang formulasi sediaan losion antioksidan ekstrak etanol kulit buah coklat dengan konsentrasi 0,0864% dan 0,1728% telah dilakukan. Penetapan IC50 dilakukan berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier antara larutan uji dan persentase peredaman. Formulasi losion dimulai dengan orientasi basis dengan parameter organoleptik, homogenitas, pH dan viskosita. Diketahui bahwa losion dengan konsentrasi asam stearat 2,5% dan triatanolamin 0,2% adalah basis losion terbaik. Evaluasi formulasi termasuk evaluasi fisik (organoleptis, homogenitas, viskositas dan stabilitas) dalam evaluasi kimia (pH dan stabilitas aktivitas antioksidan). Evaluasi aktivitas antioksidan formula yang mengandung lauran 1, 1-diphenyl-2-picrylhidrazyl menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukan bawa formula yang mengandung 0.1728% enstak etanol kulit buah coklat memberikan aktivitas anti oksidan terbaik dab stabil selama penyimpanan
KAJIAN PENDAHULUAN POTENSI ANTI KANKER DENGAN UJI TOKSISITAS METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT) TERHADAP EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI-FRAKSI DARI KULIT BATANG KEMIRI Aleurites moluccana (L.) Willd.
ABSTRAK Pohon kemiri Aleurites moluccana (L.) Willd., adalah tanaman asli Indonesia multiguna, tumbuh menyebar hingga 10-15 meter pada area terbuka di dataran Indonesia Malaysia dan kepulauan Pasifik. Penelitian sebelumnya menunjukkan tanaman kemiri mengandung tanin, saponin, flavonoida dan polifenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi anti kanker melalui pengujian toksisitas ekstrak etanol kulit batang kemiri Aleurites moluccana (L.) Willd. dengan metode BSLT menggunakan hewan uji larva udang Artemia salina. Pengukuran toksisitas dinyatakan dengan nilai LC50. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol. Hasil pengujian toksisitas ditunjukkan dengan nilai LC50 dari ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksana, dan fraksi air. Nilai toksisitas yang paling kuat hingga paling lemah adalah fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, ekstrak etanol, fraksi air secara berturut-turut adalah 17,10 ppm; 35,74 ppm; 39,29 ppm; dan 378,532 ppm. Intensitas nilai LC50 hasil pengujian BSLT dari fraksi etil asetat, fraksi n-heksan, ekstrak etanol dan fraksi air berturut-turut adalah sangat toksik, sangat toksik, sangat toksik, dan toksik. Hasil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan penampak bercak spesifik menunjukkan dugaan golongan flavonoid pada ekstrak etanol dan fraksi etil asetat pada kulit batang kemiri. Kata kunci  : BSLT, kulit batang kemiri, Aleurites moluccana (L.) Willd., flavonoid. ABSTRACT Aleurites moluccana (L.) Willd., also known as candlenut, is a native to Indonesia great domesticated multipurpose trees, typically grows to 10-15 m in open areas, It is native to the Indo-Malaysia region and was introduced throughout the Pacific Island. Previous studies have demonstrated that the leaves and stem bark of Aleurites moluccana (L.) Willd. presents  tannins, saponin, flavonoid, and polyphenols. The aim of this research was to determine the toxicity value using BSLT method as screening for new potential cytotoxic drug. This research was started with maceration technique using ethanol solvent. The research was started with maceration method using ethanol solvent. Determination of toxicity value of Aleurites molucana (L.) Willd. stem bark were examined using BSLT method. The toxicity value for extract and each fractions was reported as medial lethal concentration (LC50) value, expressed in ppm. The LC50 value using BSLT method of ethyl acetate fraction, n-hexane fraction, ethanol extract, water fraction were 17,10 ppm; 35,74 ppm; 39,39 ppm; 380,93 ppm respectively. While intensity of LC50 value for toxicity value of ethyl acetate fraction, n-hexane fraction, ethanol extract, water fraction were very toxic, very toxic, very toxic, and toxic. Chromatogram pattern were observed by Thin Layer Chromatography (TLC) with specific spray agent, detected the flavonoid in ethanol extract and ethyl acetate fraction from stem bark of Aleurites moluccana (L.) Willd. Key words  : BSLT, stem bark of candlenut, Aleurites moluccana (L.) Willd., flavonoid
PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOLIK DAUN KEPEL (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI
ABSTRAK Daun Kepel  telah dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat, dan mampu menurunkan kadar kolesterol, buahnya sehingga berkhasiat sebagai antioksidan dan daunnya sekarang dipercaya untuk mengatasi penyakit diabetes. Laporan penelitian mengindikasikan bahwa senyawa yang berperan pada aktivitas ini adalah golongan senyawa flavonoid. Penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan data kadar flavonoid dalam daun kepel. berdasarkan kadar rutin sebagai standard. Daun Kepel diperoleh dari Propinsi Yogyakarta. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi, sebagai penyari adalah etanol 70%. Penetapan kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri dengan larutan pembanding rutin, pereaksi geser AlCl3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total dengan metode spektrofotometri dalam daun kepel adalah 9,3 %(b/b), 9,9%(b/b) dan 10,1 %(b/b). Â
PEMBENTUKAN DAN KARAKTERISASI KOMPLEKS INKLUSI FENILBUTAZON DAN Î’-SIKLODEKSTRIN DENGAN METODA CO-GRINDING
ABSTRAK Fenilbutazon merupakan obat Anti Inflamasi Non Steroid (NSAID) dan diklasifikasikan dalam kelas II dari biopharmaceutic classification systems (BSC) yang memiliki kelarutan rendah permeabilitas tinggi. Pembentukan kompleks inklusi merupakan salah satu metoda untuk meningkatkan kelarutan dan disolusi suatu zat dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi fenilbutazon dengan cara pembentukan kompleks inklusi fenilbutazon dengan β-siklodekstrin. Pembuatan kompleks inklusi dilakukan dengan metoda co-grinding dengan variasi rasio molar 1:1, 2:1 dan 1:2. Interaksi padatan komplek inklusi dan campuran fisik dikarakterisasi dengan difraksi sinar X serbuk, spektrofotometri inframerah, Scanning Microscopy electron (SEM) dan Differential Thermal Analyzer (DTA). Uji disolusi dilakukan dengan mengacu pada uji disolusi USP apparatus II. Hasil karakterisasi kompleks inklusi menggunakan spektrofotometri inframerah, Scanning Microscopy electron (SEM) dan Differential Thermal Analyzer (DTA)  memperlihatkan adanya interaksi antara fenilbutazon dan β-siklodekstrin dan terbentuk komplek inklusi fenilbutazon-β-siklodekstrin. Hasil difraksi sinar-x menunjukkan bahwa pembentukan komplek inklusi fenilbutazon-β-siklodekstrin menurunkan derjat kristalinitas obat. Uji disolusi secara in vitro menunjukkan terjadinya peningkatan laju disolusi komplek inklsi dibandingkan dengan fenilbutazon murni. Kata kunci : Fenilbutazon, β-siklodekstrin, Co-grinding, dan kompleks inklusi. ABSTRACT Phenylbutazone is a Non-Steroid Anti-Inflammatory drugs (NSAID and classified  in class II of biopharmaceutic classification system (BSC) which has low solubility, high permeability. Formation of inclusion complexes is one method to increase the solubility and dissolution of a substance in the water. This study investigated improving of inclusion complex with B-cyclodextrin to solubility and dissolution rate of phenylbutazone. Inclusion complexes was made by co-grinding method in molar ratio 1: 1, 2: 1 and 1: 2. The solid state interaction inclusion complexes and physical mixture was evaluated by using X-raypowder diffraction, thermal DTA, and SEM. The dissolution studies were conducted in USP type II apparatus. The results characterization of inclusion complexes using infrared spectrophotometry, Scanning Electron Microscopy (SEM) and Differential Thermal Analyzer (DTA) showed that there was interaction between phenylbutazone and β-cyclodextrin, and inclusion complexes was formed. The results of x-ray diffraction showed that inclusion complex of β-cyclodextrin-phenylbutazon reduced the degrees of crystallinity of the drug. In vitro dissolution test showed inclusion complex in dissolution rate was higher than pure phenylbutazone. Key words  : Phenylbutazone, β- cyclodextrin, Co-grinding, and inclusion comple
AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI n-HEKSAN EKSTRAK ETANOL DAUN LENGLENGAN (Leucas lavandulifolia JE. Smith) PADA TIKUS DM TIPE-2 YANG MENGALAMI RESISTENSI INSULIN
ABSTRACT This study is an effort to discover new anti-diabetic compounds from natural products in the type-2 diabetes mellitus treatment. The purpose of this study was to determine the potential of n-hexane fraction (FHDL) from lenglengan leaf ethanol extract as an antidiabetic in insulin resistance type-2 diabetic Rat. Insulin resistance was induced by administration of long-acting insulin (Lantus®) 1.80 IU.Kg BW-1.day-1 for 14 days. Insulin resistance rats tested by using parameter fasting blood glucose (FBG), before and after treatment of long-acting insulin. Rat has to type-2 diabetes due to insulin resistance when FBG on day 18 exceeded 85 mg.dL-1. Test results show the animal had insulin resistant.  Rat with the insulin resistance is divided into five treatment groups consisting of one group of diabetic control (treats with CMC-Na 0.5%, 25 mL.Kg BW-1.day-1), three dose groups of FHDL (62.5; 125 and 250) mg.Kg BW-1.day-1 and a positive control group (treats with metformin 150 mg.Kg BW-1.day-1). FHDL and metformin 150 mg.Kg BW-1.day-1 were administered once daily for 14 days. FBG data, before and after treatments were compared. FBG assay is using a reagent kit. The results showed that FHDL (125 and 250) mg.Kg BW-1.day-1 and metformin 150 mg.Kg BW-1.day-1 are shown to have antidiabetic effects in insulin resistance type-2 diabetic rat. FHDL 250 mg.Kg-1.day-1 antidiabetic effect (25.87%) is equivalent to metformin 150 mg.Kg BW-1.day-1 (21.50) (p>0.05). The results of this research can proceed to find the novel antidiabetic compound from the lenglengan leaf ethanol extracts. Key words  : n-Hexane fraction, Lenglengan extract, Anti-diabetic effects, Insulin resistance, Type-2 diabetic rats.Â
EFEK HIPOGLIKEMIK EKSTRAK AIR DAUN BUNGUR (Lagerstroemia speciosa L. Pers.) PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN DENGAN METODE TOLERANSI GLUKOSA
ABSTRAK Tumbuhan bungur (Lagerstroemia speciosa L. Pers.) adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai antidiabetes, mengobati kencing batu dan tekanan darah tinggi.Penelitian sebelumnya menunjukkan ekstrak air daun bungur mempunyai efek hipoglikemik dengan metode induksi aloksan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efek hipoglikemik ekstrak air daun bungur pada mencit Swiss Webster jantan dengan metode toleransi glukosa. Pembuatan ekstrak air daun bungur dilakukan dengan perebusan. Ekstrak air daun bungur dosis 75, 150 dan 300 mg/kg bb diberikan pada hewan uji, dan sebagai pembanding digunakan metformin dosis 65 mg/kg bb. Kadar glukosa darah ditentukan menggunakan alat tes glukosa Accu Chek® pada menit ke 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120 dan 180 setelah diinduksi dengan larutan glukosa 2 g/kg bb secara oral. Hasil uji hipoglikemik menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air daun bungur dosis 75, 150 dan 300 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Ekstrak air daun bungur dosis 75 mg/kg bb menunjukan perbedaan secara bermakna pada menit ke- 180 dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa dosis terbaik ekstrak air daun bungur untuk menurunkan kadar glukosa darah adalah 75 mg/kg bb. Kata kunci : Bungur, Lagerstroemia speciosa L. Pers., antidiabetes, hipoglikemik, ekstrak air ABSTRACT Bungur is one of the herbs used to treat diabetic, bladder stones and high blood pressure. Previous study stated that bungur leaves had hypoglycemic effect with aloksan induced methods. This study is done in order to test the effect of water extract of bungur leaves in male Swiss Webster mice with glucose tolerance methods. Water extract of bungur leaves is made by boiling. Test Animal were given water extract of bungur leaves at doses of 75, 150 and 300 mg/kg bw. Metformin 65 mg/kg bw was used as comparator. Blood glucose levels was measured with Accu Chek® glucose test kits at minute 10 , 20 , 30 , 45 , 60 , 90 , 120 and 180 after induced by the glucose solution at dose of 2 g / kg bw orally . The results showed that water extract of bungur leaves at dose of 75, 150 and 300 mg/kg bw could reduce blood glucose level compared to control group. water extract of bungur leaves at dose of 75 mg/kg bw was significantly different at minute 180 compared to control group (p<0,05). It can be concluded thatthe best dose of water extract of bungur leaves to reduce blood glucose level was 75 mg/kg bw. Key words  : Bungur, Lagerstroemia speciosa L. Pers., antidiabetic, hypoglycemic, water extrac
EFEK EKSTRAK ETANOL HERBA CECENDET (Physalis angulata L.) PADA KADAR PROTEINURIA HEWAN MODEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK
Penderita lupus eritematosus sistemik menggunakan imunosupresan untuk mengurangi manifestasi klinik yang timbul, diantaranya adalah proteinuria. Penelitian sebelumnya menunjukkan herba cecendet (Physalis angulata L.) mempunyai efek imunosupresan. Pristana merupakan senyawa yang dapat menginduksi lupus pada tikus. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efek ekstrak etanol herba cecendet terhadap proteinuria pada tikus Wistar yang diinduksi pristana.Pembuatan ekstrak etanol herba cecendet dilakukan menggunakan seperangkat alat Soxhlet. Pemodelan Lupus Eritematosus Sistemik dilakukan dengan induksi 0,5 mL pristana ip. Empat minggu setelah induksi pristana, ekstrak etanol herba cecendet dosis 50 dan 100 mg/kg bb diberikan selama6 minggu, dan sebagai pembanding digunakan Metilprednisolon1,4 mg/kg bb serta siklofosfamid35 mg/kg bb. Kadar protein dalam urin diukur pada setiap 3 minggu.Hasil uji proteinuria menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol herba cecendet dosis 50 mg/kg bb selama 6 minggu dapat menghambat kenaikan protein dalam urin dan berbeda jika dibandingkan kontrol (p<0,1), sedangkan ekstrak etanol herba cecendet dosis 100 mg/kg bb dapat menghambat kenaikan protein dalam urin meskipun tidak berbeda bermakna jika dibandingkan kontrol (p>0,1).Dapat disimpulkan bahwa dosis terbaik ekstrak etanol herba cecendet untuk menurunkan kadar proteinuria adalah 50 mg/kg bb