Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
    742 research outputs found

    Pengaruh Pemberian Jus Jambu Biji Merah Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi Di Panti Werdha Sinar Abadi

    Get PDF
    Hipertensi dikategorikan sebagai The silent killer karena penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hi- pertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Padahal bila terjadi hipertensi terus-menerus bisa memicu stroke, seiring dengan bertambahnya usia maka tekanan darah akan bertambah tinggi, karena pada lansia ter- jadi perubahan pada pembuluh darah yang menyebabkan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeta- hui pengaruh pemberian jus jambu biji merah terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain penelitian quasy experiment dengan pre and post without control. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Werdha Sinar Abadi Singkawang pada tanggal 13 – 26 Februari 2017. Analisa data menggunakan uji statistik Paired T test dan Teknik pengambilan sampel beru- pa purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 17 responden. Berdasarkan hasil penelitian setelah pemberian jus jambu biji merah didapatkan nilai tekanan darah sistolik dengan nilai p value =0,002 (p value<0.05) dan tekanan darah diastolik dengan nilai p value =0,001 (p value<0,05). Dapat disimpulkan bahwa dengan meminum jus jambu biji merah secara rutin dapat menurunkan tekanan darah. Diharapkan jus jambu biji merah ini dapat dijadikan alternatif pengobatan non farmakologis dalam menangani kasus hipertensi serta petugas kesehatan dapat mensosialisasikan kepada masyarakat tentang manfaat jus jambu biji merah

    HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN Pediculosis capitis PADA SANTRI PUTRI MADRASAH TSANAWIYAH (MTs) DI PESANTREN X KECAMATAN MEMPAWAH TIMUR

    Get PDF
    Pediculus humanus capitisatau yang biasa dikenal dengan sebutan kutu kepala merupakan ektoparasit penyebab infeksi pada kulit kepala yang menyebabkan penyakit Pediculosis capitis.Pediculus humanus capitismenyerang kulit kepala dimana telurnya sering dijumpai pada regio occipital dan retro auricular. Gatal merupakan gejala utama dari Pediculosis capitis. Salah satu faktor penyebab Pediculosis capitisadalah personal hygienedan tingkat pengetahuan seseorang terhadap Pediculosis capitis. Penelitian  ini  bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan personal hygienedengan kejadian Pediculosis capitispada santri putri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren X Kecamatan Mempawah Timur hubungan. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan rancangan penelitian jenis cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 139 orang. Variabel bebas penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan personal hygienesubjek penelitian sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian Pediculosis capitispada santri putri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren X Kecamatan Mempawah Timur. Sebanyak 98,3% subjek penelitian memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penyakit Pediculosis capitisdan 94,2% subjek penelitian memiliki personal hygieneyang baik tentang penyakit Pediculosis capitis. Uji statistik yang telah dilakukan tidak terdapat hubungan yang bermakna pada kedua variabel dengan nilai p>0,05. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan personal hygienedengan kejadian Pediculosis capitispada santri putri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren X Kecamatan Mempawah Timur.         Â

    Pijat Oksitosin Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Pospartum Primipara Di Kota Singkawang

    Get PDF
    Abstract: The Oxytocin Massage Improved Breastmilk Production on Primipara Postpartum Mother In Singkawang City The challenge in providing exclusive breastfeeding is the complaints of Primipara Postpartum Mother (PPM) who are difcult to give breast milk because of limitation. The various attempts have been made, one of them by doing oxytocin massage is attemps to help breastfeeding production. The Aims of this study is to determine the effectiveness of oxytocin massage toward breastmilk production in the PPM. This study used a quasi experimental with a Case control design. A total of 30 samples were divided to intervention and control groups. This research was conducted for 6 months. The research instrument used the breastfeeding checklist. The data were analyzed by using Chi Square test. The results of Chi Square statistical test between oxytocin massage and breastmilk production obtained signifcant p = 0.025 (<0.05). These results indicate that there was a relationship between oxytocin massage and breastmilk production in the PPM. The OR value was 8 (CI (95%)) which explained that the PPM who performed oxytocin massage had eight times chance of breast milk production faster and smoother than mothers who did not do oxytocin massage. This study recommended to use large number of sample for high quality of research. Abstrak: Pijat Oksitosin Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Pospartum Primipara Di Kota Singkawang. Tantangan dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI) eklusif adalah keluhan ibu postpartum primipara yang sukar memberikan ASI karena ASI nya tidak keluar. Pijat Oksitosin merupakan suatu upaya untuk membantu dalam pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin dalam pengeluaran ASI pada ibu Pospartum primipara. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan rancangan kasus kontrol. Sebanyak 30 sampel yang dibagi dalam kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dengan Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar checklist pengeluaran asi. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat adanya pengaruh antar variabel. Hasil uji statistik Chi-Square antara pijat oksitosin dengan pengeluaran ASI diperoleh nilai sig p= 0,025 (< 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pijat oksitosin dengan pengeluaran ASI pada ibu pospartum primipara. Nilai Odd Ratio (OR) dalam penelitian ini sebesar 8 (CI (95 %)) yang menjelaskan bahwa ibu pospartum primipara yang melakukan pijat oksitosin berpeluang 8 kali produksi ASI lebih cepat dan lancar dibandingkan dengan ibu yang tidak dilakukan pijat oksitosin. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar untuk kualitas yang lebih baik

    Pengaruh Suhu Penyeduhan terhadap Kadar Protein pada Susu Formula Menggunakan Metode KJELDAHL

    Get PDF
    Abstract: Formula milk is a liquid or powder with a specifc formula given to infants and children. Serves as a substitute for breast milk. Formula milk has an important role in baby food because it often acts as the only source of nutrition for infants. Milk includes a high quality protein source. The purpose of this research is to determine the effect of temperature brewing on protein content in formula milk using the KJELDAHL method. This research was an experimental research using quasi-experiment. The samples in this research were 25 samples consisting of 5 treatments with repetition of each treatment 5 times. The examination method used in this research is a Kjeldahl method. From these results, the data obtained were analyzed statistically using a simple linear regression test. The results obtained in this study were the mean protein content of formula milk that was brewed at 40˚C, 50˚C, 60˚C, 70˚C and 80˚C respectively were 5,38%, 5,52%, 5.82%, 5.62% and 5.43%. Based on the results of statistical tests obtain p-value (0.139)> α (0,05) which means that Ha is rejected. Of the result it can be concluded that there is no effect of temperature brewing on protein content in formula milk using KJELDAHL method.Abstrak: Susu formula adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak. Berfungsi sebagai pengganti ASI. Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi. Susu termasuk sumber protein berkualitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu penyeduhan terhadap kadar protein pada susu formula dengan menggunakan metode kjeldahl. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan quasi experiment. Sampel pada penelitian ini berjumlah 25 sampel yang terdiri dari 5 perlakuan dengan pengulangan setiap perlakuan sebanyak 5 kali. Metode pemeriksaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode KJELDAHL. Dari hasil tersebut, data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu rata-rata kadar protein pada susu formula yang diseduh pada suhu 40˚C, 50˚C, 60˚C, 70˚C dan  0˚C berturut-turut adalah 5,38%, 5,52%, 5,82%, 5,62% dan 5,43%. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,798) > α (0,05) yang berarti bahwa Ha ditolak. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh suhu penyeduhan terhadap kadar protein pada susu formula menggunakan metode KJELDAHL

    Pengaruh Air Rebusan Rimpang Jeringau Merah (Acorus Calamus L.) Konsentrasi 100%, 75%, 50%, Dan 25% terhadap Sensitifitas Bakteri Escherichia Coli, Salmonella Typhi dan Shigella sp

    Get PDF
    Abstract: Red Jeringau (Acorus calamus L.) is one of the endemic plants of West Kalimantan which contains antibacterial, phytochemical, and antioxidant activity. This plant has been used for generations by people who live in the interior and away from health services as a mixture of traditional medicines. This study aims to determine the effect of the concentration of Jeringau Red rhizome water on the sensitivity of Escherichia coli, Salmonella typhi and Shigella sp with concentrations of 100%, 75%, 50%, and 25%. The Red Jeringau Rhizome is obtained from the Landak Regency and then boiled using distilled water. This study uses a quasi-experimental design with sampling techniques using purposive sampling. This study was conducted with 6 replications for each treatment. The effectiveness test of the Red Jeringau rhizome boiled water was carried out using the Kirby Bauer method with bacterial suspension which was adjusted to Mc Farland’s turbidity standard. The data obtained were then analyzed using a simple linear regression test and obtained p (0.00) <α (0.05) against the bacteria Escherichia coli, Salmonella typhi, and Shigella sp. This means that H1 is accepted so that it can be stated that there is an influence of the concentration of Jeringau Red rhizome water on Escherichia coli, Salmonella typhi, and Shigella sp. The magnitude of the contribution effect of Jeringau Red rhizome on bacterial sensitivity is 85.7% (R = 0.857) in Escherichia coli, 91.1% (R = 0.911) in Salmonella typhi, and 85.7% (R = 0.857) in Shigella sp.Abstrak Jeringau Merah (Acorus calamus L.) merupakan salah satu tanaman endemik Kalimantan Barat yang mengandung antibakteri, ftokimia, dan aktivitas antioksidan. Tumbuhan ini secara turun temurun dimanfaatkan masyarakat yang tinggal dipedalaman dan jauh dari pelayanan kesehatan sebagai ramuan obat tradisional.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi air rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap sensitiftas bakteri Escherichia coli, Salmonella typi dan Shigella sp dengan konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Rimpang Jeringau Merah diperoleh dari Kabupaten Landak kemudian direbus menggunakan aquadest. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan teknik pengmbilan sampel dengan cara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan 6 replikasi untuk masing-masing perlakuan. Uji efektiftas air rebusan rimpang Jeringau Merah dilakukan menggunakan metode Kirby Bauer dengan suspensi bakteri yang disesuaikan dengan standar kekeruhan Mc Farland. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana dan didapatkan p (0,00) < α (0,05) terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella sp. Hal ini berarti H1 diterima sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi air rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella sp. Besarnya kontribusi pengaruh rebusan rimpang Jeringau Merah terhadap sensitiftas bakteri yaitu 85,7% (R=0,857) pada Escherichia coli, 91,1% (R=0,911) pada Salmonella typhi, dan 85,7% (R=0,857) pada Shigella sp

    Validasi Spektrofotometer UV-VIS pada Analisis Formalin Di Poltekkes Kemenkes Pontianak

    Get PDF
    Abstract: Validation is the process of determine a method, an instrument and a technician to fulfl the requirements for testing. Validation of the instrument needs to be done separately. The UV-VIS spectrophotometer in Poltekkes Kemenkes Pontianak has many advantages such as wave length 190 - 1100 nm, using double beam optical system, has 2 nm spectrum bandwidth, but the using of the instrument has not been maximized. It is necessary to validate the UV-VIS spectrophotometer. The aim of this research is to determine the precision, accuracy, linearity, Limit of Detection (LOD) and Limit of Quantifcation (LOQ) on UV-VIS spectrofotometer on formalin analysis at Poltekkes Kemenkes Pontianak. The research uses pre-experimental design and purposive sampling method with formalin standard as population. The sample used is formalin standard with various concentration 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm and 5 ppm with nine replication. Samples reacted with chromatophore acid, the purple color showed the sample containing formalin, then absorbance value measured to obtain formalin content in the sample. The result of precision value 94.43%, accuracy value 97.77%, linearity test in the concentration range 0-10 ppm gives correlation coeffcient value r = 0.918 with the limit of detection (LOD) of the formalin is 4.98 ppm and the limit of quantifcation (LOQ) of the formalin is 16.60 ppm. Based on the result of the research that it can be concluded that UV-VIS spectrophotometer on formalin analysis in Poltekkes Kemenkes Pontianak well validated because of the fulfllment of fve validation parameter criteria.Abstrak: Validasi adalah proses untuk memastikan apakah suatu metode, alat dan teknisi memenuhi persyaratan untuk pengujian. Validasi alat perlu dilakukan tersendiri. Spektrofotometer UV-VIS yang ada di Poltekkes Kemenkes Pontianak memiliki banyak kelebihan diantaranya rentang gelombang yang lebih lebar 190 – 1100 nm, menggunakan sistem optik double beam, memiliki bandwidth spektrum 2 nm, namun penggunaannya belum maksimal. Maka perlu dilakukan validasi terhadap spektrofotometer UV-VIS tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui presisi, akurasi, linearitas, batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ) pada Spektrofotometer uv-vis pada analisis formalin di Poltekkes Kemenkes Pontianak. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental metode purposive sampling dengan populasi standar formalin. Sampel yang digunakan yaitu standar formalin dengan berbagai konsentrasi 0 ppm , 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm dan 5 ppm dengan pengulangan sebanyak sembilan kali. Sampel direaksikan dengan asam kromatofat, perubahan warna menjadi ungu menunjukkan sampel mengandung formalin, kemudian diukur nilai absorbansinya untuk mendapatkan kadar formalin dalam sampel. Hasil penelitian nilai presisi 94.43%, nilai akurasi 97.77%, uji linearitas pada rentang konsentrasi 0 – 10 ppm memberikan nilai koefsien korelasi r = 0.918 dengan batas deteksi (LOD) formalin 4.98 ppm dan batas kuantitasi (LOQ) 16.60 ppm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa spektrofotometer UV-VIS pada analisis formalin di Poltekkes Kemenkes Pontianak tervalidasi dengan baik karena terpenuhinya kriteria lima parameter validasi

    Perbedaan Perasan dan Rebusan Buah Pare (Momordica Charantia L) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Candida Albicans

    Get PDF
    Abstract:  Pare plants have social value and wide use in public health service, such as traditional medicine to cure some kind of disease including skin disease type. Pare has an antifungal effect because it contains saponins, triterpenoids, and alkaloids. Candida albicans is a species that causes Candidiasis disease. The purpose of this research is to know the difference of juice and stew o pare (Momordica charantia L) in inhibiting the growth of Candida albicans. This research method is a quasi experiment. The samples of pare came from the Parit Haji Husein II Gang Karya IX. The samples in this research were 25 samples of juice consisting of 5 replications and 25 samples of stew consisting of 5 replications with each concentration of 60%, 70%, 80%, 90%, and 100%. The method used is the diffusion of the disc. Data analysis using Kruskal-Wallis Test. The result of Kruskal-Wallis test shows that there is a signifcant difference between the juice and stew of the pare inhibiting the growth of Candida albicans where the juice has p value (0,009)<0,05 and the p value (0,000)<(0,05). Positive control using fluconazole with 20 mm inhibit zone. It can be concluded there is a signifcant difference between juice and stew of pare (Momordica charantia L) in inhibiting the growth of Candida albicans.Abstrak:  Tanaman pare mempunyai nilai sosial dan kegunaan yang luas dalam pelayanan kesehatan masyarakat, diantaranya sebagai bahan obat tradisional untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit termasuk jenis peyakit kulit. Buah pare memiliki efek antifungi karena mengandung saponin, triterpenoid, dan alkaloid. Candida albicans adalah spesies yang menyebabkan penyakit Kandidiasis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perasan dan rebusan buah pare (Momordica charantia L) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu. Sampel buah pare berasal dari Parit Haji Husein 2 Gang Karya IX. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 25 sampel perasan yang terdiri dari 5 replikasi dan 25 sampel rebusan yang terdiri 5 replikasi dengan masing-masing konsentrasi 60%, 70%, 80%, 90% dan 100%. Metode yang digunakan adalah difusi cakram. Analisa data menggunakan Kruskal-Wallis Test. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifkan antara perasan dan rebusan buah pare dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dimana perasan memiliki nilai p value (0,009) < 0,05 dan rebusan nilai p value (0,000) < ɑ (0,05). Kontrol positif menggunakan fluconazole dengan luas zona hambat sebesar 20 mm. Dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifkan antara perasan dan rebusan buah pare (Momordica charantia L) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans

    Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea Di Ruang Santa Anna Rumah Sakit Santo Vincentius Singkawang Tahun 2016

    Get PDF
    Pre operasi merupakan kondisi yang dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke kamar operasi. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga menimbulkan berbagai masalah psikologis bagi pasien salah satunya adalah kecemasan. Penelitian ini mencoba mengungkapkan hubungan karakteristik (jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pen- galaman dan dukungan sosial keluarga) dan tingkat pengetahuan responden dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi sectio caesarea di sruang St. Anna Rumah Sakit St. Vincentius Singkawang Tahun 2016. Penelitian ini bersifat kuantitatif analisis dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 33 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia responden dengan tingkat kecemasan diperoleh nilai p=0,048; Terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman operasi sebelumn- ya dengan tingkat kecemasan dengan nilai p=0,001; Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan tingkat kecemasan dengan nilai p=0,037; Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan dengan nilai p=0,000. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signi- fikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan dengan nilai p=0,217

    Isolasi Bakteri Aerob Patogen pada Kue Siap Saji di Pasar Grogol Jakarta

    Get PDF
    Abstract: Isolation of Pathogenic Aerobic Bacteria from Cakes in Grogol Market Jakarta. Market snacks in the cakes are foods that are consumed by many urban communities. Conditions that are not hygienic cake and indication of microbial contamination has the potential to cause disease. Aerobic bacteria is one type of bacteria that causes the occurrence of food contamination due to microorganisms. The aim of the study is identify the presence of the pathogenic aerobic bacteria from food. This research was conducted in May-June 2017 at Kesosi institute of health science laboratory Jakarta. Materials used are BGLB (Brilliant Green Lactose Bile Broth) NA (Sodium Agar), MCA (Mc Concey) medium, NaCl physiological, and gram crystalline violet dye. The samples used are bugis and talam from cake vendors at Grogol Market in Jakarta. Bacterial isolation from 10 bugis cake samples grown on NA and MCA medium then followed by gram staining identifed with characteristics; the form of bacilli (stem), gram negative, and non spora. These identifed characteristics lead to species Escherichia coli (E.coli). The result of isolation and identifcation of bacteria on sample of 10 talam cake samples was identifed by characteristic; colony-shaped bacillus, bacterial cell size 0.6-1.0 μm x 1.2 - 3.0 μm, motile, non spora, encapsulated and has a flagellum. These identifed characteristics lead to the type of bacteria Enterobacter aerogenes (E. Aerogenes).Abstrak: Isolasi Bakteri Aerob Patogen Pada Kue Siap Saji di Pasar Grogol Jakarta. Jajanan pasar dalam bentuk kue adalah makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat perkotaan. Kondisi kue yang tidak higienis dan terindikasi kontaminasi mikroba berpotensi menimbulkan penyakit. Bakteri Aerob adalah salah satu jenis bakteri yang menjadi penyebab terjadinya kontaminasi makanan akibat mikroorganisme. Penelitian ini bersifat analitik deskripsi untuk mengidentifkasi keberadaan bakteri aerob patogen dari makanan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei-Juni 2017 di Laboratorium Stikes Kesosi Jakarta. Bahan yang digunakan Media BGLB (Brilliant Green Lactose Bile Broth), NA (Natrium Agar), Media MCA (Mc Concey), NaCl fsiologis, dan pewarna gram kristal violet. Sampel yang digunakan adalah kue bugis dan kue talam yang berasal dari penjual kue di Pasar Grogol Jakarta. Isolasi bakteri terhadap 10 sampel kue Bugis yang ditumbuhkan pada media NA dan MCA lalu dilanjutkan dengan pewarnaan gram teridentifkasi dengan ciri; bentuk basil (batang), gram negatif, dan tidak berspora. Ciri-ciri yang teridentifkasi tersebut mengarah pada spesies Escherichia coli (E.coli). Hasil isolasi dan identifkasi bakteri pada 10 sampel kue talam teridentifkasi dengan ciri; koloni berbentuk basil, ukuran sel bakteri 0,6-1.0 µm x 1,2 – 3,0 µm, motil, tidak membentuk spora, berkapsul dan memiliki flagel. Ciri-ciri yang teridentifkasi tersebut mengarah pada jenis bakteri Enterobacter aerogenes

    Perbedaan Perasan dan Rebusan Daun Cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Trichophyton rubrum

    Get PDF
    Abstract: Cengkodok leaves (Melastoma malabtahricum L.) is one of plant that has usefulness like medicine and has the potential to be researched. One of the usefulness of treating skin diseases caused by Trichophyton rubrum fungus. The research aims to determine the defference of juice and boiled of cengkodok leaves (Melastoma malabathricum L.) in inhibiting the growth of Trichophyton rubrum fungus. Each treatment of juice and stew has concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%,70%, 80%, 90%, 100%. The research method is a quasi experiment, sampling technique by purposive sampling, and use method of solid dilution using PDA (Potato Dextrose Agar) with 3 replications. The results of the research on the juiced treatment that concentration of 10% have an average growth 261 CFU. The higher concentration of antifungi ingredients then the number of fungal colonies growth decreases until concentration of 100% have an average growth 12 CFU. The 10% concentration boiled treatment there was an average growth of 205 CFU and the number of fungal colonies growth decreases at concentration of 100% have an average growth 1 CFU. Effective concentration of cengkodok leaves juiced (Melastoma malabathricum L.) starts from concentration of 60% with inhibiting Trichophyton rubrum growth fungus 52,77% and boiled start from concentration 50% with percentage of inhibiting 59,41%. The data obtained were analyzed statistically using independent t test obtained p value (Sig. 2 tailed) 0.116 > 0.05. The results showed no difference between the juice and boiled of Cengkodok leaves (Melastoma malabathricum L.) in inhibiting Trichophyton rubrum fungus.Abstrak: Daun cengkodok (Melastoma malabathricum L.) merupakan tumbuhan berkhasiat obat, salah satu khasiatnya yakni mengobati penyakit kulit yang diakibatkan oleh Jamur Trichophyton rubrum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perasan dan rebusan daun cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dalam menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Masing-masing perlakuan memiliki konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%,70%, 80%, 90%, 100%. Metode penelitian ini adalah Quasi Experiment, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling, dan menggunakan metode dilusi padat menggunakan media PDA (Potato Dextrose Agar) dengan 3 replikasi. Hasil penelitian pada perlakuan perasan konsentrasi 10% terdapat rata-rata pertumbuhan jumlah koloni jamur yakni 261 CFU. Semakin tinggi konsentrasi bahan antifungi maka jumlah pertumbuhan koloni jamur semakin berkurang hingga pada konsentrasi 100% terdapat rata-rata jumlah koloni jamur yakni 12 CFU. Pada perlakuan rebusan konsentrasi 10% terdapat rata-rata pertumbuhan jumlah koloni jamur yakni 205 CFU dan semakin berkurang jumlah pertumbuhan koloni jamur pada konsentrasi 100% sebesar 1 CFU. Konsentrasi efektif perasan daun cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dimulai dari konsentrasi 60% dengan hambatan pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum sebesar 52.77% dan rebusan dimulai dari konsentrasi 50% dengan persentase hambatan 59.41%. Dianalisis statistik menggunakan uji independent t test didapatkan hasil p value (Sig. 2 tailed) 0.116 > 0.05 yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara perasan dan rebusan daun cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dalam menghambat jamur Trichophyton rubrum

    605

    full texts

    742

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇