Jurnal Online Poltekkes Kemenkes Pontianak
Not a member yet
742 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KETERSEDIAAN BAHAN PANGAN, PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN, HYGIENE SANITASI LINGKUNGAN DAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP STUNTING
Sambas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat memiliki berbagai masalah kesehatan, salah satunya terjadinya stunting pada balita. Penyebab stunting menurut hasil evaluasi program Kemeterian Kesehatan adalah praktek pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas, masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi, dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Tujuan penelitian mengetahui hubungan ketersediaan bahan pangan, praktik pemberian makanan, hygiene sanitasi lingkungan dan asi eksklusif terhadap kejadian stunting di wilayah perbatasan dan kepulauan kabupaten sambas. Metode penelitian studi case control, populasi adalah balita usia 24-59 bulan dan sampel sebanyak 200 orang. Lokasi penelitian di kabupaten Sambas. Hasil penelitian tidak ada hubungan yang bermakna (p≥0,05) antara IMD dengan kejadian stunting di wilayah dataran tinggi, sedangkan wilayah pesisir terdapat hubungan yang bermakna (p≤0,05). tidak ada hubungan yang bermakna (p≥0,05) antara praktik pemberian ASI dengan kejadian stunting baik di wilayah dataran tinggi maupun di wilayah pesisir. tidak ada hubungan yang bermakna (p≥0,05) antara praktik pemberian makan dengan kejadian stunting baik di wilayah dataran tinggi maupun di wilayah pesisir. Kesimpulan Tidak ada hubungan antara IMD, ASI ekskluif dan Praktik Pemberian makanan dengan kejadian stunting baik di wilayah dataran tinggi maupun di wilayah pesisir
PENGARUH EDUKASI PERSONAL HYGIENE DAN SANITASI MAKANAN TERHADAP PERILAKU PEDAGANG SATE BULAYAK
Salah satu cara menjaga kesehatan tubuh ialah mengonsumsi makanan yang aman dan memastikan makanan dalam keadaan baik atau aman. Makanan yang telah terkontaminasi dapat menjadi wadah berkembangnya pathogen yang biasa dikenal dengan food borne diseases. Upaya keamanan makanan diantaranya dengan menerapkan hiegene dan sanitasi makanan. Hal tersebut dapat didukung apabila pedagang memiliki pengetahuan yang baik dalam menerapkan perilaku positif dalam melakukan pengolahan hingga penyajian makanan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh edukasi personal hiegene dan sanitasi terhadap perilaku pedagang sate bulayak. Penelitian ini menggunakan 30 orang pedagang Sate Bulayak yang akan diberikan edukasi untuk melihat perubahan perilaku tentang personal hygiene dan sanitasi makanan. Sampel dalam penelitian menggunakan metode sampel jenuh, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel. Jenis penelitian ini adalah pra-eksperimen dengan metode one group pre-test post-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh edukasi personal hiegene dan sanitasi makanan yang ditunjukkan dengan perubahan perilaku pedagang dengan menerapkan kegiatan personal hiegene dengan baik mulai dari persiapan hingga penyajian. Hasil uji statistik perilaku menggunakan paired t test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.015 (p<0,05)
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pemberian MPASI Dengan Konsumsi Sayur dan Buah pada Balita
Konsumsi sayur dan buah memberikan banyak manfaat bagi balita. Tetapi kebanyakan balita tidak mencapai konsumsi yang cukup dalam sehari. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh karena orang tua masih mengatur makanan yang dikonsumsi balita. Faktor lainnya adalah umur pemberian MPASI dan umur pengenalan sayur dan buah. Balita seharusnya mendapatkan makanan pada umur 6 bulan dan sebaiknya segera dikenalkan dengan sayur dan buah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh, umur pemberian MPASI, dan umur pengenalan sayur dan buah dengan konsumsi sayur dan buah pada balita. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Kupang pada bulan Maret sampai Juni 2023. Sampel dalam penelitian ini adalah balita berumur 24-59 bulan berjumlah 366 orang. Data penelitian dianalisis menggunakan uji korelasi pearson. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara prompting and encouragement to eat (p-value=0,001), control over eating (p-value=0,023), umur pemberian MPASI (p-value=0,033), dan umur pengenalan sayur (p-value=0,041) dengan konsumsi sayur pada balita. Pola asuh emotional feeding (p-value=0,035), prompting and encouragement to eat dan control over eating (p-value=0,041), umur pemberian MPASI (p-value=0,000) dan umur pengenalan buah (p-value=0,029) berhubungan dengan konsumsi buah pada balita. Orang tua sebaiknya memilih pola asuh yang mendukung konsumsi sayur dan buah pada balit
Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Formulasi Flakes Tepung Umbi Kribang, Kacang Hijau dan Kulit Pisang
Kekurangan gizi pada ibu hamil masih menjadi masalah utama di Indonesia, salah satunya adalah Kekurangan Energi Kronik. Upaya untuk mengatasi kekurangan energi kronik dapat dilakukan dengan Pemberian Makanan Tambahan. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan adalah dengan menggali potensi pangan lokal sebagai upaya diversifikasi olahan pangan yaitu memanfaatkan umbi kribang yang di substitusi tepung kacang hijau dan tepung kulit pisang sebagai bahan baku untuk pembuatan flakes. Kribang merupakan jenis umbi-umbian yang dapat menjadi alternatif makanan pokok dengan nilai gizi yang tinggi namun rendah kadar gula yang dapat di substitusi dengan menggunakan kacang hijau dan memanfaatkan kulit pisang yang memiliki kandungan serat yang tinggi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Formula produk terdiri atas tiga taraf (P) yaitu tepung umbi kribang dengan penambahan tepung kacang hijau dan tepung kulit pisang kepok (30%:70% ; 50%:50% ; 70%:30%). Perlakuan terbaik dalam pengujian organoleptik ada pada P2, dilanjutkan dengan analisis fisikokimia warna: L 34,38, a* 8,83 dan b* 16,94, waktu ketahanan kerenyahan dalam susu selama 4 menit 25 detik, daya serap air sebesar 161,57 % dan daya rehidrasi sebesar 17,04 %. Hasil analisis proksimat : kadar air 5,03%, kadar abu 4,11%, kadar lemak 9,07%, protein 7,72%, karbohidrat 64,90% dan serat kasar 9,16%
PENGARUH PSIKOEDUKASI MOBILISASI DINI TERHADAP LAMANYA HARI RAWAT PADA PASIEN POST OPERASI APPENDIKSITIS TAHUN 2020 LITERATURE REVIEW
Mobilisasi dini dilakukan pada pasien post operasi appendiksitis setelah sadar dari pengaruh anastesi untuk membantu proses penyembuhan pasca operasi. Tetapi akibat nyeri, takut jahitan sobek, dan ketidaktahuan mengenai pentingnya mobilisasi dini, pasien post operasi appendiksitis takut dan binggung untuk melakukan mobilisasi dini. Hal ini dapat berdampak pada lamanya hari rawat pasien dirumah sakit menjadi lebih dari 4 hari dan beresiko mengalami luka akibat tirah baring lama dan komplikasi lainnya. Psikoedukasi berupa pemberian pengetahuan dan mendemonstrasikan langsung mengenai mobilisasi dini sesuai dengan standar operasional prosedur, sehingga pasien dapat melakukan mobilisasi dini dengan baik dan dapat mempengaruhi lamanya hari rawat pasien di rumah sakit menjadi lebih singkat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap lamanya hari rawat pada pasien post operasi appendiksitis. Jenis penelitian yang digunakan adalah study literature menggunakan tipe kajian systematic review. Pencarian artikel menggunakan Science Direct dan Google Scholar untuk menemukan artikel sesuai kriteria kemudian dilakukan review. Artikel dalam penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pra-eksperimen, quasi eksperiment, dan observasi analitik. Pencarian berbatas mulai dari tahun 2010 hingga tahun 2019 yang diakses fulltext dalam format pdf. Hasil penelitian yang di ambil dari kedua jurnal dan kedua skripsi menunjukkan bahwa pemberian mobilisasi berpengaruh pada memendeknya lama hari rawat pasien post operasi appendiksitis selama perawatan di rumah sakit. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu pemberian mobilisasi terbukti dapat memberikan efek terhadap memendeknya lama hari rawat pada pasien post operasi appendiksitis di rumah sakit
ANALISIS KADAR TIMBAL (Pb) DAN ARSEN (As) PADA AIR GAMBUT DI DESA RASAU JAYA KABUPATEN KUBU RAYA
One of the abundant water resources on the island of Kalimantan is peat water, because peatlands are widely distributed in West Kalimantan, especially in Kubu Raya Regency. Residents living in peat swamps in parts of Kalimantan, especially in the area of Rasau Jaya Village, Kubu Raya Regency, use peatlands as a residence and land for plantations and agriculture, so that they use dug wells in the form of peat water and are widely used by local residents to carry out daily activities days such as washing, bathing, cooking and so on. Heavy metals in the form of Pb and As are pollutants that are difficult to degrade and even tend to accumulate in the body of exposed living things. The purpose of this study was to analyze the content of Pb and As metals in peat water in Rasau Jaya Village, Kubu Raya Regency. The research design used is descriptive method. The population in this study was peat water in the area of Rasau Jaya Village, Kubu Raya Regency. A sample of 10 peat well water samples from the Dusun Kebun Jeruk residents, Rasau Jaya Village, Kubu Raya Regency. The results were obtained based on Permenkes RI RI No. 32 of 2017 Concerning Environmental Health Standard Quality Standards and Water Health Requirements for Hygiene, Swimming Pool, Solus Per Aqua, and Public Baths used for clean well water samples that met 40% quality standards, namely Well 3, 6, 8 and 9
Differences In Urine With Sediment Results Preserving Formalin And Toluena
Urine sediment examination is done to see the organic and inorganic elements in the urine. Urine examination no later than 2 hours from the time urine is collected, postponement urine for 2 hours without being stored at 2-80C and without the addition of preservatives can reduce the quality of examination results. Giving preservatives in the urine causing the development of bacteria can be suppressed. The purpose of this study is to determine differences in urine sediment yield with formalin and toluene preservatives. This type of research is analytic with an experimental approach. The sample used was 15 female students who were menstruating. The results of data analysis with the One-way anova and Kruskal Wallis tests showed the results of p value of erythrocytes, leukocytes, epithelial cells, crystals and bacteria respectively of 0.137; 0.699; .342; 0.665; 0,600 where p value> 0,005 which means there is no difference in urine sediment yield with preservative formalin and toluene. But each element has morphological changes after preserving it with formalin and toluene preservatives. In formalin, morphological changes are slightly smaller and enlarged, whereas in toluene, morphological changes occur in a smaller and irregular manner. It is hoped that urine sediment examination is checked immediately with fresh urine to get accurate results and can support the diagnosis of a disease. Keywords: urine sediment, formalin, toluen
The Relationship Personal Hygiene with Superficial Mycosis at Islamic Boarding School
Superficial mycoses are skin infections caused by fungal colonization. One of the factors that cause infection and the spread of superficial mycoses is personal hygiene. Superficial mycoses transmission can occur when a person lives together. One of the places that have a risk of superficial mycoses transmission is Islamic boarding school. This study aims to analyze the relationship between personal hygiene and superficial mycoses in Islamic Boarding School. This type of research is quantitative with a cross sectional research design. Data was collected by means of interviews, filling out questionnaires and examining superficial mycoses macroscopically and microscopically. The results of the study using the contingency coefficient test showed that there was a relationship between personal hygiene and superficial mycoses (Approv.Sig 0.036 < 0.05). Superficial mycoses can also caused by environmental conditions, humidity, temperature and population density. Cases of superficial mycoses are still common in Islamic boarding schools
HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI FAST FOOD DAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA
Remaja merupakan suatu kelompok yang rawan mengalami masalah gizi, seperti gizi lebih dan gizi kurang. Hal ini dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara konsumsi fast food dan asupan zat gizi makro pada remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumusi fast food dan asupan zat gizi makro dengan status gizi pada remaja SMA Negri  di Surakarta. Penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan pendekatan Cross-sectional dan menggunakan analisis statistik yaitu uji pearson dari jumlah sampel 101. Kebiasaan frekuensi konsumsi fast food diperoleh dari kuesioner food frequency questionnaire selama 1 bulan terakhir dan asupan zat gizi makro diperoleh dari hasil recall 3 x 24 jam. Status gizi diperoleh dengan menimbang berat badan dan tinggi badan kemudian di tentukan dengan nilai IMT/U. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebiasaan frekuensi konsumsi fast food dinyatakan sering 22,77%, hasil asupan energi kurang 60,39% (p value=0,017), hasil asupan protein kurang 50,49% (p value= 0,002), hasil asupan lemak kurang 51,48% (p value=0,002), hasil asupan karbohidrat kurang 61,38% (p value=0,040). Disimpulkan bahwa ada hubungan antara frekuensi konsumsi fast food dan asupan zat gizi makro dengan status gizi pada remaja
Produksi Komponen Darah Packed-Red Cell (PRC), Liquid Plasma (LP), Thombocytes Concentrates (TC) dan Fresh-Frozen-Plasma (FFP) di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro
The processing of blood components is an act of separating the components of donor blood through a process by taking into account the quality and safety of blood component products. Its process produce various type of blood component, such as Packed Red Cell, Liquid Plasma, Thrombocytes Concentrate and Fresh Frozen Plasma. The quantity of each blood production depends on the mount of demant from hospital to threat the patient for transfusion. Indonesia Red Cross especially in Blood Donor Unit of each region have a important duty to collect and process the whole blood component as much as it needed. This type of research is a descriptive study with a cross sectional approach. The population used was the production of PRC, LP, TC and FFP Â at UDD PMI Bojonegoro from June to July 2022 as many as 2124 kolf. The sampling technique used purposive sampling. Data analysis using univariate analysis which is presented in the form of a frequency distribution table and ghraphic for daily production. Production of blood components as much as 2124 kolf, Production of PRC as 984 kolf (46%), LP as 904 kolf (43%0, TC as 200 kolf (9%), and FFP as 36 kolf (2%). The highest blood component production is PRC, followed by LP, TC and FFP, respectfully. Â