Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
281 research outputs found
Sort by
Pemeriksaan Izin Masuk Penumpang ke Daerah Keamanan Terbatas di Bandara Internasional Soekarno Hatta
Keamanan penerbangan merupakan suatu keadaan yang memberikan perlindungan kepada penerbangan dari segala tindakan melawan hukum melalui keterpaduan pemanfaatan sumber daya manusia, fasilitas, dan prosedur. Namun gangguan terhadap keamanan penerbangan senantiasa ada dan berpotensi terjadi. Oleh karena itu, tindakan antisipasi menjaga keamanan penerbangan harus selalu dilakukan dengan menerapkan standar keamanan dan keselamatan penerbangan agar terhindar dari segala gangguan dan ancaman. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui standar pemeriksaan izin masuk penumpang ke daerah keamanan terbatas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem keamanan Bandara Internasional Soekarno Hatta masuk dalam kategori A, dan telah dilaksanakan sesuai SE 40 tahun 2020 tentang Pedoman Langkah-langkah Keamanan Penerbangan dalam Masa Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman dari Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), di mana pada masa pandemi Covid-19, setiap pintu masuk ke terminal bandara sudah dipasang alat thermo scan sebagai pengukur suhu tubuh semua orang yang masuk ke bandara, dan juga penambahan prosedur pemeriksaan hasil dan valiadasi tes Covid-19 kepada penumpang pesawat udara. Prosedur pemeriksaan keamanan bagi penumpang yang mau berangkat, secara standar dapat ditetapkan sebanyak 3 kali untuk menunjukkan identitas diri (ID), tiket, dan keterangan hasil tes Covid-19, yaitu dilakukan pada saat di check in counter oleh petugas airline, di SCP-2 oleh petugas avsec dan di boarding check oleh petugas airline. Berdasarkan KM 211 tahun 2020 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, pemeriksaan izin masuk dan pencocokan identitas di SCP-2 harus dilakukan dengan membuka sementara masker. Fakta di lapangan, pemeriksaan izin masuk dan pencocokan identitas tersebut perlu secara konsisten diterapkan oleh petugas avsec bandara
OPTIMALISASI KETERSEDIAAN TEMPAT DUDUK (SEAT CAPACITY) ANGKUTAN UDARA PADA MASA LEBARAN DENGAN PENDEKATAN POTENTIAL DEMAND BERBASIS BIG DATA
Trend permintaan angkutan udara menunjukkan kecenderungan meningkat secara signifikan, namun ketersediaan tempat duduk sering tidak terpenuhi terutama pada masa lebaran H-7 s.d H+7. Disisi lain terdapat permasalahan beban angkutan jalan yang sangat tinggi pada masa lebaran khususnya di Pulau Jawa yang berdampak pada lamanya waktu tempuh arus mudik-balik masa lebaran. Moda angkutan udara dapat dimaksimalkan pada koridor tertentu untuk mengurangi beban jalan pada masa arus mudik balik lebaran. Potential demand dengan pendekatan Big Data melalui Maskapai Penerbangan dan Travel Agent Online dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan ketersediaan tempat duduk (seat capacity) pesawat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Optimalisasi melalaui pendekatan Big Data bersinergi dengan para stakeholders diharapkan dapat memetakan potential demand, sehingga dapat tercapai pemenuhan kebutuhan ketersediaan tempat duduk (seat capacity) pada masa lebaran. Hasil penelitian menunjukan dari 12 rute penerbangan yang diduga merupakan rute terpadat, terdapat 6 rute yang perlu dilakukan penambahan seat capacity mengingat potensi permintaan penumpang angkutan udara yang cukup tinggi. Sementara pengamatan terhadap kemampuan bandar udara, dari enam (6) bandara pengamatan diperoleh hasil bahwa bandara “mampu” melayani lonjakan arus mudik balik lebaran. Penilaian didasari atas variabel yang dijadikan indikator untuk menentukan kesiapan, variabel tersebut adalah fasilitas dan personil sisi udara, sisi darat, ground handling dan ketersediaan slot time. Dari ke-6 bandara tersebut 5 (lima) bandara siap melayani penerbangan extra flight maupun penggantian pesawat menjadi wide body (bigger size), sementara hanya 1 bandara yaitu Bandara Adi Sucipto yang tidak memungkinkan untuk melakukan penambahan kapasitas melalui perubahan type pesawat yang lebih besar (bigger Size), dengan demikian penambahan kapasitas dilakukan melalui penambahan frekwensi penerbangan (extra flight). Sementara berdasarkan capturing terhadap potential demand berbasis big data diperoleh hasil terdapat 64 % hingga 89,5 % penumpang yang tidak dapat memperoleh tiket pada 12 rute pengamatan selama rentang masa lebaran tahun 2018. Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan kebijakan para stakeholders dan memberikan impact terhadap ketersediaan kursi (seat capacity) angkutan udara pada masa lebaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta diharapkan pula pada koridor tertentu angkutan udara dapat mengurangi beban jalan sehingga tidak terjadi kemacetan panjang selama masa arus mudik balik lebaran
Model ARIMA Musiman dengan Outlier untuk Peramalan Penumpang Pesawat Tujuan Domestik dari Bandara Soekarno Hatta di Masa Pandemi Covid-19
Pemodelan deret waktu sangat rentan akibat adanya data outlier. Kehadiran data outlier bisa menyebabkan tidak terpenuhinya asumsi error berdistribusi normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan ARIMA musiman dengan outlier untuk peramalan penumpang pesawat terbang domestik dari Bandara Soekarno-Hatta di masa pandemi Covid-19. Model yang terbentuk bermanfaat untuk meramal jumlah penumpang pesawat terbang ke depannya. Hasil penelitian didapatkan bahwa model ARIMA (0,1,1)(0,1,0)12 dengan variabel outlier terpilih karena sudah memenuhi asumsi white noise dan dapat mengatasi masalah pelanggaran asumsi error berdistribusi normal yang terjadi pada ARIMA biasa. Peramalan penumpang pesawat terbang domestik dari Bandara Soekarno Hatta pada bulan Juni 2021 adalah 858.112 dan Desember 2021 adalah 792.12
Kajian Mitigasi Dampak Lingkungan Akibat Operasi Bandar Udara dan Pengaruh Lingkungan Terhadap Operasi Bandar Udara Bali Baru
Penelitian ini membahas mengenai kajian mitigasi dampak lingkungan akibat operasi bandar udara dan pegaruh lingkungan terhadap operasi Bandara Bali Baru di provinsi Bali. Berdasarkan data yang diperoleh, kajian ini lebih banyak menekankan kepada aspek kualitatifnya. Kajian mitigasi dampak lingkungan akibat operasi bandar udara dilakukan dengan melihat aspek-aspek seperti tingkat pencemaran yang ditimbulkan baik pencemaran udara, suara, dan air serta terjadinya fragmentasi lingkungan di sekitar bandara akibat pembangunan dan pengoperasian bandar udara. Sedangkan dari sisi pengaruh lingkungan terhadap pengoperasian bandar udara, hal yang dikaji meliputi gangguan seperti bird strike serta masuknya hewan mamalia ke daerah operasi bandar udara. Identifikasi masalah-masalah yang ditimbulkan ini kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan alternatif tindakan mitigasi agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan sehingga operasi bandar udara dapat dilakukan dengan aman namun juga tidak memberikan dampak yang berarti bagi lingkungan sekitarnya. Di akhir penelitian ini, diberikan beberapa rekomendasi praktis yang dapat dilakukan baik oleh pihak pengembang maupun pihak operator Bandar Udara Bali Baru in
Rancangan Restrukturisasi VFR Route : Sebuah Studi Kasus Dari Majalengka CTR Perum LPPNPI Unit Kertajati
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala yang dialami oleh personel Air Traffic Controller (ATC) di Perum LPPNPI Unit Kertajati dalam pemberian pelayanan lalu lintas penerbangan di Majalengka CTR, dan berkontribusi membuat rancangan restrukturisasi (selanjutnya disebutkan sebagai pembaharuan) VFR route sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan level satu dengan pendekatan secara kualitatif dan pemaparan secara deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan. Berdasarkan data yang dikumpulkan, diketahui bahwa VFR route yang letaknya tidak separate dengan rute pesawat IFR menjadi faktor yang menghambat kelancaran arus lalu lintas penerbangan di Majalengka CTR. Dengan begitu, penelitian ini membuat rancangan pembaharuan VFR route di Majalengka CTR Perum LPPNPI Unit Kertajati. Perancangan VFR route menggunakan simplified/standard method dengan pembuktian masalah yang mengikuti prosedur
Perhitungan Emisi Gas Pesawat Udara pada Fase Taxi-Out dengan Operasi Satu Mesin Mati di Bandar Udara Soekarno-Hatta
Pesawat udara mengeluarkan emisi gas di setiap fase penerbangan, khususnya pada fase taxi-out. Makalah ini bertujuan untuk menghitung emisi gas pesawat udara pada saat taxi-out dengan menggunakan data operasional harian aktual pesawat udara di Bandar Udara Soekarno-Hatta dan melakukan evaluasi potensi pengurangan emisi apabila fase taxi-out dilakukan dengan strategi operasi satu mesin pesawat udara mati. Emisi gas pesawat udara dihitung dengan menggunakan metode hybrid berdasarkan formula yang direferensikan dalam International Civil Aviation Organization Airport Air Quality Manual. Perhitungan emisi gas pesawat udara dilakukan pada setiap penerbangan domestik, internasional dan kargo di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada bulan Januari sampai dengan Juli tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dengan operasi satu mesin mati memberikan potensi pengurangan emisi gas pesawat udara sebesar 37% s.d 40%
Kesiapan Indonesia Dalam Implementasi Pelatihan Berbasis UPRT
Loss of Control in Flight (LOC-I) merupakan penyebab kecelakaan pesawat udara dengan tingkat fatalitas yang paling tinggi, 49% dari total fatalitas. Kecelakaan terkait LOC-I terjadi ketika pilot berusaha mengendalikan kembali pesawat udara secara manual yang justru membuat pesawat udara mengalami upset dan stall. Sekitar 80% kecelakaan pesawat udara disebabkan oleh human factor, dan 57% dari human factor tersebut adalah karena pilot error. Guna menghadapi masalah tersbut, International Civil Aviation Organization (ICAO) mengeluarkan persyaratan pelatihan terkait pelatihan terbang berbasis Upset Prevention and Recovery Training (UPRT). Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan Indonesia saat ini dalam implementasi UPRT. Dilakukan pengumpulan data dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) selaku regulator, Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug selaku Lembaga Pelatihan Terbang (Approved Training Organization/ATO), dan dari PT. Indonesia Air Asia (IAA) selaku Operator Pesawat Udara. Diketahui bahwa meskipun IAA sendiri sudah melaksanakan pelatihan UPRT secara internal, namun masih kurang optimalnya peraturan terkait UPRT di Indonesia, sehingga DKPPU perlu merumuskan aturan terkait implementasi UPRT tersebut. Aturan yang disusun akan digunakan sebagai acuan bagi ATO dan Operator Pesawat Udara dalam merumuskan program UPRT-nya. DKPPU perlu melakukan pemutakhiran regulasi dan standar praktis UPRT dan menyusun Advisory Circular (AC). Pembentukan kelompok kerja (Task Force) oleh DKPPU dapat membantu percepatan implementasi UPRT
Kajian Potensi Cross Wind Dalam Pembangunan New Yogyakarta International Airport Guna Keselamatan Penerbangan
Angin merupakan unsur cuaca yang sangat penting dalam keselamatan penerbangan. Penelitian ini bertujuan melakukan analisa profil angin bulanan dan potensi terjadinya Crosswind dalam pembangunan New Yogyakarta International Airport. Metode yang dipakai dengan memasang 4 (empat)buah AWS (Automatic Weather Station) di ujung landasan selama bulan Maret Huingga September 2017. Hasil pengamatan dan analisa menunjukan bahwa pola angin pada periode Maret – Mei memiliki arah yang bervariasi dengan kecepatan rata-rata 5 – 8 knot. Pada Juni – September, pola angin berhembus dari arah Timur – Tenggara dengan kecepatan rata-rata 6 – 9 knot. Selama periode pengamatan kecepatan angin maksimum yang terjadi antara 14 – 20 knot dan tidak ditemukan potensi terjadinya cross wind untuk panjang runway 3.600 meter
Evaluasi Pengelolaan General Aviation Terminal (GAT) Ditinjau Dari Regulasi Penerbangan
General Aviation dan Air Charter menjadi salah satu sektor terobosan yang semakin berkembang. Kebanyakan penumpang di GAT ini merupakan pengguna pesawat carter untuk kebutuhan wisata sekaligus bisnis. Di Indonesia, pengembangan General Aviation Terminal di bandar udara belum secara spesifik diperuntukkan untuk melayani penerbangan General Aviation dan Air Charter yang melayani masyarakat umum. Saat ini Bandar udara Ngurah Rai Bali yang sudah menyediakan terminal khusus bagi penumpang pesawat General Aviation dan Air Charter. Dalam pengelolaan General Aviation Terminal (GAT) harus mengacu terhadap standar. Namun saat ini aturan pengelolaan GAT secara khusus belum ada masih mengacu terhadap standar pengelolaan terminal penerbangan komersil. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan bahwa masih perlu ditingkatkan standar keamanan bagi penumpang dalam pemeriksaan penumpang dan bagasi serta optimalisasi fasilitas dan jumlah petugas dalam meningkatkan pelayanan
Analisis Kapasitas Ruang Udara Medan East TMA Setelah Implementasi Rute PBN (RNAV1)
Ruang udara terdiri atas beberapa sektor dengan keterbatasan atau kapasitas yang tentunya berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi banyak faktor yang kemudian dapat mempengaruhi optimalisasi ruang udara tersebut. Kapasitas sistem ATC dengan beban kerja sebagai indikator yang diperhituangkan, menjadi salah satu faktor yang difokuskan dalam menganalisis kapasitas ruang udara pada penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pessimistic Sector Capacity. Metode ini mengadopsi Document Eurocontrol Experiment Center (EEC) Note no.21/23 yang merupakan pengembangan metode regresi ATC Capacity Analyser Tool (CAPAN) untuk menghitung kapasitas sebuah sektor serta menganalisis regresi beban kerja petugas ATC dibandingkan dengan jumlah penerbangan pada suatu sektor. Data primer pada penelitian ini diperoleh melalui survei langsung terhadap kegiatan ATC yaitu saat memberikan pelayanan lalu lintas penerbangan pada suatu sektor ruang udara selama 1 jam pada saat peak hours dalam kurun waktu 30 hari. Data sekunder yang diperlukan untuk mendukung analisis yaitu terkait jumlah penerbangan saat jam puncak, kondisi cuaca, dan rencana penerbangan. Hasil penelitian menunjukkan, setelah diimplementasikannya PBN (RNAV1), terdapat peningkatan nilai kapasitas ruang udara di sektor Medan East TMA dari 22 traffic/jam menjadi 25 traffic/jam. Selanjutnya, analisis ini dapat dijadikan baseline guna peningkatan kapasitas ruang udara di masa yang akan datang dalam rangka antisipasi permintaan lalu lintas penerbangan yang terus meningkat