Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
Not a member yet
    281 research outputs found

    Evaluasi Kinerja Pelayanan Penumpang di Bandar Udara Sultan Thaha Jambi

    No full text
    Bandar udara Sultan Thaha adalah bandar udara yang terletak di Kota Jambi dikelola oleh PT. Angkasa Pura II, tanggal 27 Desember 2015 Terminal Bandara Baru Bandara Sultan Thaha baru dioperasikan seluas 9.801 m2 dapat menampung 1,8 juta penumpang per tahun. Pergerakan Penumpang mengalami kenaikan sebesar 2,66%, pada tahun 2014 menjadi 1.316.379 penumpang. Oleh karena itu, pengelola bandara dapat meningkatkan kualitas pelayanan sesuai dengan standar pelayanan pengguna jasa bandar udara agar dapat memberikan kepuasan terhadap penumpang. Metode analisis yang digunakan adalah Customer Satisfaction Index (CSI) . Hasil yang diperoleh terhadap 24 indikator kinerja pelayanan terhadap kepuasan penumpang sebesar 79,85, hal ini menunjukan bahwa Bandar udara Sultan Thaha Jambi sudah memberikan pelayanan yang memuaskan terhadap penumpang. Berdasarkan Standar pelayanan pengguna jasa bandar udara penilaian terhadap fasilitas proses keberangkatan dan kedatangan penumpang di bandar udara ini dengan nilai 90 yaitu A (istimewa), fasilitas yang memberikan kenyaman dengan nilai 85 yaitu B (baik sekali), dan fasilitas yang memberikan nilai tambah dengan nilai 50 yaitu B (baik sekali). Berdasarkan standar pelayanan nilai tambah Bandar udara Sultan Thaha Jambi belum memiliki ruang bermain anak dan fasilitas air minum, sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas layanan pengelola Bandar udara Sultan Thaha agar menyediakan kedua fasilitas tersebut agar standar pelayanan penguna jasa bandar udara terpenuhi. [The Evaluation of Passenger Services Performance in Sultan Thaha Airport - Jambi] Sultan Thaha Airport which is located at Jambi is one of airports managed by PT Angkasa Pura II (Persero). At December 27, 2015, the new terminal of Sultan Thaha Airport officially operated with building area of 9,801 m2 and can accommodate up to 1.8 million passengers per year. In the year of 2014, the airport experienced the increase of passenger movement by 2.66% which made the total amount of 1,316,379 passengers. Therefore, the airport operator needs to improve the services quality in accordance with the standard of the airport user services in order to maintain the customer satisfaction. The analytical method that is used in this study is Customer Satisfaction Index (CSI). The results assign the satisfaction score of 79.85 for 24 service performance indicators which means Sultan Thaha Airport provide satisfactory services for its users. In regard of the airport user services standard, the rank of those services indicators is as follows the departure and arrival facilities indicator receives the score of 90 which is equal to A (exceptional), facilities that provide comfort indicator receives the score of 85 which is equal to B (excellent), and facilities that provide added value indicator receives the score of 50 which is equal to B (excellent). However, Sultan Thaha Airport is still lack of kids playground and tap water facilities that can be proposed as consideration for the improvement of the airport service quality

    Kajian Optimalisasi Bandar Udara International Adi Sumarmo Solo melalui Peningkatan Konektivitas antara Solo-Yogyakarta dengan Angkutan Kereta Api Khusus Bandar Udara.

    No full text
    The airport is one of the transportation nodes that has important role in organizing intermodal transportation especially for air transportation, road transportation, and rail transportation. Nowadays, one of mass transit modes in Yogyakarta and Solo is train (Prameks and Sidomukti line) that serves passengers from Yogyakarta Tugu station to Solo Balapan station. Meanwhile, Adi Sutjipto Yogyakarta airport has land limitation to develop the airport in serving at least 7,2 million pax/year for its passenger traffic. Regarding this problem, it needs strategic actions in order to get appropriate and fast solution. One of the solutions is offering optimization of secondary airport. Adi Sumarmo Solo airport is the nearest airport to Adi Sutjipto airport that can be optimized for accommodating passenger traffic from and to Yogyakarta. This option is also supported by airport train development that eases passenger connectivity between Adi Sumarmo airport and Adi Sutjipto airport. The purpose of this research is to measure the optimization level of Adi Sumarmo Solo airport through airport train connectivity that has been planned. Using stated preference approach technique and ServQual analysis, this research will identify air passenger behavior for airport train. The result of the research shows the majority respondents (91%) stated agree for airport train option as transportation mode from/to Adi Sucipto airport, 65% respondents stated willing to pay Rp 20.000 - Rp 40.000 as maximum tariff. Besides that, ServQual analysis shows the main priority for respondents toward airport train services is time variable. Furthermore, this research is expected to be consideration for stakeholders and give impact for the objective of National Transportation System (SISTRANAS) policy in achieving effective and efficient transportation services through some indicators that are accessibility, integration, affordable tariff, and high utility. Bandar udara merupakan salah satu simpul transportasi yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan transportasi antarmoda khususnya antara moda udara, jalan dan rel. Saat ini salah satu sarana angkutan umum massal yang dimiliki kota Yogyakarta dan Solo adalah Kereta api Prameks dan Sidomukti yang melayani pergerakan penumpang dari stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Solo Balapan. Sementara Bandara  Adi Sutjipto Yogyakarta saat ini memiliki keterbatasan lahan untuk pengembangan bandara dalam melayani pergerakan penumpang pesawat yang telah mencapai 7,2 juta penumpang/tahun.  Dengan permasalahan tersebut tentu  perlu diambil langkah strategis guna mendapatkan solusi yang cepat dan tepat. Salah satu alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah menawarkan opsi dengan mengoptimalkan bandara terdekat (secondary airport). Bandara Adi Sumarmo Solo merupakan bandara terdekat dengan Bandara Adi Sutjipto yang memungkinan untuk dioptimalkan agar dapat menampung lonjakan pergerakan penumpang dari dan menuju Yogyakarta. Hal tersebut juga didukung dengan telah dimulainya pembangunan kereta api bandara khusus yang memudahkan akses pergerakan penumpang pesawat di Bandara Adi Sutjipto menuju Bandara Adi Sumarmo. Dilatarbelakangi dengan permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk  mengukur tingkat optimasi Bandara Adi Sumarmo Solo melalui indikator konektivitas Kereta Api Khusus Bandara yang tengah dicanangkan. Dengan menggunakan teknik pendekatan stated preference dan ServQual Analysis penelitian ini bermaksud untuk melihat air passenger behavior dengan akan diadakannya kereta api khusus bandara.  Hasil penelitian menunjukan mayoritas responden (91%) menyatakan setuju dengan alternatif KA Bandara sebagai alat transportasi dari/menuju Bandara Adi Sutjipto dan 65 % responden menyatakan  bersedia membayar tarif maksimal sebesar Rp 20.000-Rp 40.000. Sementara hasil analisa ServQual prioritas utama responden terhadap layanan kereta api khusus bandara adalah variabel waktu

    Peningkatan Fasilitas Landas Pacu Bandar Udara Fatmawati Soekarno – Bengkulu Untuk Meningkatkan Pelayanan Penerbangan

    No full text
    The improvement of the quality and quantity of airplanes owned by some airlines as well as the increasing number of passengers’ movement have demanded every airport to improve its facilities. Fatmawati Soekarno airport has improved the quality of its runway with the value of Pavement Classification Number (PCN) 45 F/X/C/T. With the increasing Pavement Classification Number (PCN) , it is expected that airports can facilitate Boeing 737-900ER aircraft.The problems in this study is the what figure of Permitted Total Load (Pta) of aircrafts is if the Pavement Classification Number (PCN) value is increased. From the above calculation, it shows that the Permitted Total Load (Pta) that can perform landing in the airport’s runway is 75.655 kg. Meanwhile, the Pavement Classification Number (PCN) value is PCN 45/F/C/X/T and the CAN value of a Boeing 737-900ER aircraft is 51 (max) and 24 (min) for CBR low with the Maximum Take Off Weight of 85.130 kg. Peningkatan kualitas dan kuantitas pesawat yang dimiliki oleh beberapa maskapai penerbangan, serta pertumbuhan jumlah pergerakan penumpang, menuntut setiap bandar udara untuk meningkatkan fasilitasnya. Bandar udara Fatmawati Soekarno telah meningkatkan kualitas fasilitas landas pacu dengan nilai Pavement classification Number (PCN) 45 F/X/C/T. Dengan peningkatan nilai Pavement Classification Number (PCN) tersebut, diharapkan bandar udara ini mampu melayani pesawat tipe 737-900ER.Permasalahan dari penelitian ini adalah berapa nilai beban ijin total (Pta) pesawat bila nilai Pavement Classification Number ditingkatkan. Dari hasil perhitungan diatas terlihat bahwa beban ijin total pesawat (Pta) yang dapat mendarat di runway Bandar udara Fatmawati Soekarno adalah 75.655 kg. Sementara itu, Nilai Pavement Clasification Number (PCN) adalah PCN 45/F/C/X/T, dan nilai ACN dari Pesawat Boeing 737 - 900 ER adalah 51 (max) dan 24 (min) untuk CBR Low, dengan Maksimum Take Off Weight (MTOW) sebesar 85.130 kg

    Kajian Desain Kelaiktabrakan Pesawat Terbang

    No full text
    Lalu lintas penerbangan di Indonesia mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan frekuensi penggunaan pesawat terbang tentunya akan meningkatkan kemungkinan kejadian kecelakaan. Konsep kelaiktabrakan pesawat terbang menjadi hal penting yang perlu mendapat perhatian untuk mencegah kerusakan struktur dan cedera pada penumpang. Desain kelaiktabrakan struktur pesawat berada pada tahapan desain awal yang terintegrasi kedalam proses desain pesawat secara keseluruhan. Struktur subfloor pada pesawat terbang menjadi bagian yang digunakan untuk menyerap energi kinetik tabrakan dalam kasus pembebanan vertikal pada pesawat terbang. Crash box merupakan komponen pada subfloor yang akan menyerap energi kinetik tabrakan dengan mengubahnya menjadi deformasi plastis. [A Review of Aircraft Crashworthiness Design] Air traffic in Indonesia is experiencing a positive trend in recent years. The increase in the frequency of aircraft operation might particularly increase the possibility of accidents occurrence. Aircraft crashworthiness concept becomes an important matter that need to be considered in order to prevent structural damage and injuries to the passengers. Aircraft structural crashworthiness design is developed in the aircraft preliminary design phase which is, later, integrated into the overall aircraft design process. Aircraft subfloor structure is the part of the aircraft that is used to restrain the kinetic energy of a collision in the case of vertical loading on the aircraft. Subsequently, crash box is a component of the subfloor that will absorb collisions kinetic energy by turning it into plastic deformation

    Analisis Flutter Pada Uji Model Separuh Sayap Pesawat N219 di Terowongan Angin Kecepatan Rendah

    No full text
    Fenomena flutter akan terjadi apabila ada gaya dan momen aerodinamika yang berinteraksi berlebihan di permukaan sayap di dalam terowongan angin atau pesawat sesungguhnya. Sayap akan bergetar dan berosilasi bertambah besar menuju ke keadaan tidak stabil. Osilasi osilasi membuat osilasi yang lebih besar terjadi sehingga frekuensi dan damping pada daerah kecepatan tertentu dengan mudah terlihat apabila terjadi flutter pada model separuh sayap. Penelitian ini, digunakan model separuh sayap dari pesawat N219 yang di uji pada terowongan angin kecepatan rendah BBTA3, kawasan Puspiptek, Serpong. Kecepatan flutter terjadi pada 40,5 m/s pada hasil analisis komputasional dan hasil pengujian di terowongan angin sebesar 40,83 m/s. [The Analysis of Half Wing Flutter Test N219 Aircraft Model in The Low Speed Wind Tunnel] The flutter phenomenon will occur when the aerodynamic force and moment excessively interacted on the wing surface, whether it takes place in the wind tunnel or on the real aircraft. The wing will vibrate and oscillate towards an unstable condition. Each oscillation will subsequently build a greater one until the damping and frequency on a certain speed range can be seen easily when flutter occur on the half wing model. On this research, the half wing model of N219 aircraft was tested in the low speed wind tunnel of BBTA3, Puspitek Serpong. The flutter speed occurred at 40,5 m/s based on computational analysis while the wind tunnel result is at the speed of 40,83 m/s

    Evaluasi Kondisi Fasilitas Terminal Bandara Raden Inten II Untuk Peningkatan Pelayanan Penumpang dan Sebagai Pemenuhan Syarat Sebagai Embarkasi Haji

    No full text
    Bandar udara Radin Inten IILampung setiap tahun mengalami peningkatan pergerakan penumpang, dalam hal ini akan mengurangi tingkat kenyamanan di terminal bandar udara. Untuk itu perlu mengevaluasi kinerja fasilitas terminal bandara dalam meningkatkan pelayanan penumpang. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif yaitu dengan mengevaluasi kinerja fasilitas berdasarkan SKEP/77/IV/2005 dan perkiraan/forecasting penumpang. Hasil analisis diperoleh bahwa Bandar udaraRadin Inten II Lampung saat ini memiliki kapasitas terminal penumpang dengan kategori menengah, dan perlu penambahan hall kedatangan 1.181 m2,hall keberangkatan 1.442 m2, luas baggage claim 475 m2. Sedangkan hasil peramalan penumpang dengan menggunakan regresi linier menunjukkan peningkatan dengan rata-rata 5 sampai 8 % pertahunnya.Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Agama Nomor 4 tahun 2012 dan PM 30 tahun 2012 Bandar udara Radin Inten II belum memenuhi persyaratanpanjang landasan (kurang dari 2.750 m) sebagai bandara embarkasi haji. Bandar udara belum memiliki kemampuan untuk melayani pesawat udara dengan kapasitas paling sedikit 325 (tiga ratus dua puluh lima) tempat duduk berdasarkan sertifikat tipe dan tempat parkir pesawat (apron) paling sedikit untuk 2 (dua) pesawat udara haji dengan tidak menggangu pelayanan selain penerbangan haji, sedangkan jumlah jemaah haji yang dilayani paling sedikit 14 (empat belas) kloter setiap tahun musin hajiBandar udara Radin Inten II Lampung sudah memenuhi persyarata dijadikan bandar udara embarkasi. [The Evaluation of The Radin Inten II Airport Terminal Facilities Towards The Improvement of Passenger Services and as For Fulfillment of The Hajj Embarkation Requirements] Due to the significant passenger movement growth over years in the Radin Inten II Airport, the level of comfort in the airport terminal is perceived to be decline. Therefore, there is a need to evaluate the performance of the airport terminal facilities in order to keep or even improve the passenger services. The methodology that used in this paper is descriptive analysis, both of qualitative and quantitative, which evaluate the performance of airport terminal facilities based on SKEP/77/IV/2005 and passenger movement forecast. The results found that the Radin Inten II Airport has a terminal with medium category of passenger capacity that needs additional expansion of 1.181 m2 of arrival hall, 1.442 m2 of departure hall, and 475 m2 of baggage claim area. Whilst the result of passenger forecasting using linier regression indicates the average increase of 5 to 8 percent per year. Based on Joint Decree between Ministry of Religious Affairs (PM No. 4/2012) and Ministry of Transportation (PM No. 30/2012), the Radin Inten II Airport does not meet the requirement for the runway length (minimum of 2.750 m) as to be the hajj embarkation airport. Moreover, the airport does not have the capability to serve the aircraft with minimum 325 seats the lack of at least 2 apron for the aircraft that serve the hajj flight. However, based on the number of hajj group, which is minimum of 14 group per year, the Radin Inten II Airport has fulfilled the requirement

    Analisis Pengaruh Pergeseran Runway Holding Position terhadap Runway Occupancy Time dan Runway Capacity (Studi Kasus: Bandar Udara Internasional Juanda)

    No full text
    The number of passengers, cargo and aircraft movements at Juanda International Airport has increased over the past 5 years with the average of passenger growth 7.7% per year, 2.3% of cargo and 6.3% per year for aircraft movements. With this increase the airport operator is required to increase the capacity of the airport from both side of landside and air side. Capacity is an important parameter of an airport\u27s performance. Juanda International Airport has single runway with a capacity of 33 aircraft/hour (Airnav Indonesia, 2015). The defect of taxiway surface prompted the airport management to displace the runway holding position on the taxiway N1 to the taxiway NP2 with the distance of 275 m from threshold runway 10. This study aims to determine the effect of that displacement to runway occupancy time and runway capacity by using DORATASK Method. The result of study shows that the displacement of runway holding position has effected runway occupancy time. Mean Runway Occupancy Time (MROT) is obtained 105,35 second for runway 10 and 96,65 second for runway 28. From the calcuation obtained that Declared Runway Capacity (DCR) is 30 movement/hour, that is decreasing 3 movement/hour after the displacement. Bandara Internasional Juanda telah mengalami peningkatan jumlah  penumpang,  barang  dan  pergerakan  pesawat selama 5 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan untuk penumpang 7,7% per tahun, kargo 2,3% per tahun dan pergerakan pesawat 6,3% per tahun. Dengan adanya peningkatan ini pihak pengelola bandara dituntut untuk mengoptimalkan kapasitas bandara baik dari sisi darat maupun sisi udara. Bandara Juanda memiliki satu runway dengan kapasitas 33 pesawat/jam (Airnav Indonesia, 2015). Kondisi permukaan taxiway N1 yang mengalami kerusakan mendorong pihak pengelola bandara untuk mereposisi runway holding position di taxiway N1 ke taxiway NP2 sejauh 275 m dari threshold runway 10. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pergeseran tersebut terhadap runway occupancy time dan runway capacity dengan menggunakan Metode DORATASK. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pergeseran runway holding position mempengaruhi nilai runway occupancy time. Mean Runway Occupancy Time (MROT) runway 10 didapat 105,35 detik dan 96,65 detik untuk runway 28. Berdasarkan perhitungan diperoleh Declared Runway Capacity (DCR) adalah 30 pergerakan/jam, yang menunjukkan penurunan runway capacity sebesar 3 pergerakan/jam akibat adanya pergeseran runway holding position

    Analisis Kualitas Pelayanan Terminal Kargo Bandara Dengan Jaringan Probabilistik

    No full text
    Pengukuran kualitas pelayanan di bandara dapat memberikan banyak masukan penting bagi manajemen bandara terutama dalam menentukan strategi pengelolaan bandara yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan kausal faktor-faktor yang diasumsikan dapat mempengaruhi proses pelayanan di terminal kargo. Model hubungan kausal dibangun berdasarkan persepsi kepuasan pengguna jasa terhadap kinerja fasilitas, kinerja Sumber Daya Manusia (SDM), dan kinerja pelayanan di terminal kargo bandara. Pengembangan model hubungan kausal menggunakan metode jaringan probabilistik. Hasil analisis pada kasus terminal kargo Bandara Juanda - Surabaya menunjukkan bahwa peningkatan kinerja fasilitas dan kinerja SDM dapat meningkatkan kinerja pelayanan di terminal kargo. Adapun faktor-faktor penting yang mempengaruhi peningkatan kinerja PELAYANAN adalah fasilitas penyimpanan barang, kelengkapan atau ketersediaan peralatan penanganan barang di apron, dan keterampilan kerja dan pengetahuan petugas terminal kargo. [Quality Analysis of Cargo Terminal Services Using Probabilistic Networks] Service quality measurement at the airport can give a lot of essential input for the airport management, especially in determining the appropriate airport management strategy. This study aims to assess the causal relationship of several factors that are assumed may affect the service process at the cargo terminal. The causal relationship model is built on the perception of the service user satisfaction on the performance of the facilities, the performance of Human Resources (HR), and the performance of services at the airport cargo terminal. Thedevelopment of causal relationship model using probabilistic networks. The analysis results on the case of cargo terminal of Juanda Airport in Surabaya show that the performance improvement of facilities and HR can improve the performance of services in the cargo terminal. Furthermore, the important factors that affect the performance improvement of SERVICES arethe storage facilities, the availability of handling equipment in apron, and the skill and knowledge of the officer in the cargo terminal

    Tanggung Jawab Layanan Bagasi (Baggage Handling) Pada Maskapai Penerbangan PT. Garuda Indonesia

    No full text
    The analysis result shows that the main problems are in terms of lost, damage and pilferage, there are approximately 45 cases/day or 1,356 cases/month. Meanwhile, damage compensation according to the type, brand, size and shape of the baggage, for the case of lost and destroyed is ranged from Rp 200,000/kg to Rp 4,000,000/passenger and compensation for delay is Rp 200,000/day. Therefore, PT Garuda Indonesia has conducted an evaluation on the problems by improving its baggage handling services in certain methods like: additional personnel, more proactive Branch Office in the control and surveillance of loading/unloading processes and firmness in personnel who conduct pilferage and damage to passengers’ baggage.Hasil analisis ditemukan permasalahan yang utama diantaranya baggage handling (Lost, Damage, Pilferage) rata-rata sebesar 45 kasus/hari atau 1.359 kasus/bulan, dengan ganti rugi kerusakan dengan penggantian sesuai jenis, merk, ukuran dan bentuknya, kehilangan dan musnah sebesar RP. 200.000,- /kg dan maksimal Rp. 4.000.000,-/penumpang, keterlambatan dengan uang tunggu sebesar Rp. 200.000,-/hari, untuk itu PT. Garuda dengan mengevaluasi permasalahan tersebut dengan meningkatkan layanan bagasi antara lain: perlu penambahan SDM, Branch Office lebih proaktif dalam pengendalian dan pengawasan proses loading/ unloading, ketegasan kepada oknum SDM yang melakukan kecurangan/pengrusakan bagasi

    Pengembangan Sebuah Prosedur Penentuan Standar Kualitas Kabin

    No full text
    Cabin Reliability Control Program [Cabin RCP] merupakan sebuah rangkaian aktivitas aktivitas untuk pengendalikan efektivitas perawatan kabin pesawat terbang. Cabin RCP disusun berdasarkan Advisory Circular 120 17A dengan penambahan bagian penilaian kualitas kabin. Saat ini prosedur penentuan standar kualitas kabin pesawat yang ada pada Cabin RCP yang dimiliki oleh Maskapai XYZ belum memiliki dasar yang kuat. Penelitian ini bertujuan menyusun prosedur penentuan standar kualitas kabin menggunakan Analytical Hierarchy Process [AHP] dan metode Delphi. Kerangka kerja metode yang digunakan didasari oleh AHP, sedangkan metode Delphi digunakan untuk menentukan bobot elemen matriks dan rentang nilai dari item kabin. Percentage Weighted Deviation [PWD] dari setiap item kabin kemudian dapat dihitung berdasarkan bobot dan nilai dari masing-masing item kabin. PWD akan mengidentifikasi item kabin mana yang harus diprioritaskan dalam aktivitas perawatan pesawat. Prosedur untuk menentukan standar kualitas kabin ini kemudian diterapkan pada kabin pesawat milik Maskapai XYZ. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas kabin ternyata utamanya dipengaruhi oleh aspek penampilan dan fungsional. Setiap kondisi kabin dapat dinilai menggunakan standar kualitas kabin untuk mendapatkan PWD. Penyusunan standar kualitas kabin terverifikasi melalui perbandingan faktor pemberat untuk setiap item kabin dengan pendapat ahli. Untuk penelitian selanjutnya disarankan menggunakan data dari responden langsung, yaitu para penumpang. [The Development of A Procedure to Establish A Cabin Quality Standards] A Cabin Reliability Control Program [Cabin RCP] is a series of activities to control the effectiveness of the aircraft cabin maintenance program. Cabin RCP is developed based on the Advisory Circular 120 17A with an addition on the assessment of the cabin quality. The Cabin RCP of the XYZ Airlines so far has no credible method to establish the cabin quality standard. The research attempt to develop a procedure to establish a cabin quality standard based on the Analytical Hierarchy Process [AHP] and the Delphi Method. The workflow of the method follows AHP, while the Delphi Method is used to determine the weighing factor of the matrix elements and the range of the cabin value. The Percentage Weighted Deviation [PWD] of each cabin item is then calculated based on the weight and the score of each cabin item. PWD will identify which cabin items should be prioritized in the maintenance activities. The procedure for establishing the cabin quality standard is applied to XYZ Airline\u27s aircraft cabin. The result of the procedure application is verified by comparing with expert opinion. The research results show that the cabin quality is determined by the appearance and the functional aspects. Any cabin condition can be assessed using the cabin quality standard in order to have the PWD\u27s. The procedure has been verified by comparing the weighing factor of each cabin item with expert opinion. It is recommended to collect data from a more direct respondents, namely the passengers

    0

    full texts

    281

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Warta Adhia - Jurnal Perhubungan Udara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇