Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
The Development of Pottery Making Traditions and Maritime Networks during the Early Metal Age in Northern Maluku Islands
Abstrak. Perkembangan Tradisi Pembuatan Tembikar dan Jejaring Maritim pada Masa Logam Awal di Bagian Utara Kepulauan Maluku.Selama masa Neolitik atau Jaman Logam Awal setelah 2300 sampai 2000 tahun BP di Wallacea, migrasi manusia dan jaringan maritim menjadi lebih berkembang. Melalui bukti linguistik, misalnya, trans-migrasi oleh kelompok berbahasa Austronesia dan kelompok berbahasa Papua atau bukti arkeologi seperti perluasan dan pengembangan tembikar yang memiliki kemiripan membuat tradisi ini menjadi bukti sejarah adanya perdagangan rempah-rempah dengan China, India dan lebih jauh ke arah Barat lainnya dalam studi kasus di Maluku. Kedatangan budaya logam (baik perunggu maupun besi) dan bahan kaca dinilai penting karena mungkin menunjukkan pengembangan lebih lanjut jaringan migrasi dan perdagangan manusia yang aktif di wilayah ini. Dengan berpijak pada pemahaman tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan bukti-bukti kedatangan budaya logam di Maluku Utara sebagai indikasi jaringan migrasi dan perdagangan masa lalu. Ekskavasi sebagai pendekatan penelitian dilakukan pada situs baru di Maluku Utara antara tahun 2012-2014. Hasil penelitian menemukan bahwa Situs terbuka Gorua di pesisir timur laut Pulau Halmahera (Kabupaten Tobelo) merupakan salah satu dari situs-situs tersebut yang berumur sekitar 2300-2000 tahun BP (atau 300-50 SM). Sekaligus menjadi penanda perkembangan pembuatan tembikar dan pola jaringan maritim di Kawasan Maluku Utara pada masa Paleometalik/Perundagian. Abstract. During the post Neolithic times or Early Metal Age, after 2300 to 2000 years BP, in Wallacea human migrations and maritime networks were more developed. Through linguistic evidence, for instance the trans-migration by Austronesian language speaking groups and Papuan language speaking groups, or archaeological evidences such as expansion and development of similar pottery, make the traditions a historical evidence for the spice trade with China, India, and further West for the Maluku case. The arrival of metal (both bronze and iron) and glass materials is also considered important due to the fact that it possibly shows further development of active human migrations and trade networks in that region. On the basis of such backgrounds and understanding, the aim of this research is to uncover evidences of the arrival of metal culture in Northern Maluku as an indication of migration and trade networks in the past. Excavations as research approach were carried out at some new sites in Northern Maluku during 2012-2014. Results show that an open site, Gorua, on the eastern coast of Halmahera Island (Tobelo Regency) is one of the sites, which dates to around 2300-2000 years BP (or 300-50 BC). It also marks the development of pottery-making and the pattern of maritime network within the Northern Maluku Islands during the Early Metal Age
Perkembangan Ragam Hias Pada Batu Nisan Tipe Malik As-Shaleh Abad 13 - 17.
Decorative variety is a decorative element, its main function as a decoration to beautify the appearance of an object so that it becomes a work of art. The function of the decoration is shown through the integrated forms, textures, materials, and art elements. An object decorated with decorative or decorative elements is a tombstone made of stone. Decorative on the gravestone is formed by sculpting then produce certain forms adorn the headstone so it looks not plain. The development of tombstones of this type and their decorations include the dimensions of time and space. The Malik As-Shaleh type headstone originally evolved from the gravestone on the tomb of Sultan Malik As-shaleh in the 13th century. The tombs spread eastwards to Sumatra, Banten, Lombok, and Gowa in South Sulawesi in the 17th century. The variety of decoration on the gravestone Malik As-Shaleh type in its development is distinguished two groups namely the first group of ornamental fashions whose existence always persists from the beginning to the end of its development and the two groups of decoration whose existence is lost or replaced with other types of decorations. The standard Malik As-Shalh standard headstone is in the tomb of Sultan Malik As-Shaleh. All kinds of decorative elements are on the tombstone so it looks beautiful or highway. The similar type of grave on another tomb has a simple ornamental variety. AbstrakRagam hias merupakan elemen dekoratif, fungsi utamanya sebagai hiasan untuk memperindah penampilan suatu obyek sehingga menjadi sebuah karya seni. Fungsi ragam hias tersebut ditunjukkan melalui bentuk, tekstur, bahan, serta unsur seni yang terpadu. Suatu obyek yang diberi elemen ragam hias atau dekoratif ialah nisan yang dibuat dari bahan batu. Ragam hias pada nisan dibentuk dengan cara dipahat selanjutnya menghasilkan bentuk-bentuk tertentu menghiasi nisan sehingga terlihat tidak polos. Perkembangan batu nisan tipe tersebut beserta ragam hiasnya mencakup dimensi waktu dan ruang. Nisan tipe Malik As-Shaleh pada awalnya berkembang dari nisan pada makam Sultan Malik As-shaleh pada abad ke-13. Selanjunya nisan menyebar ke arah timur ke Sumatra, Banten, Lombok, dan Gowa di Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ragam hias pada nisan tipe Malik As-Shaleh dalam perkembangannya dibedakan dua kelompok yakni pertama kelompok ragam hias yang keberadaannya selalu tetap ada dari awal hingga akhir perkembangannya dan kedua kelompok ragam hias yang keberadaannya hilang atau diganti dengan ragam hias jenis lainnya. Nisan tipe Malik As-Shaleh yang standar terdapat pada makam Sultan Malik As-Shaleh. Semu jenis elemen dekoratif terdapat pada nisan tersebut sehingga terlihat indah atau raya. Adapun nisan tipe sejenis pada makam lainnya memiliki ragam hias yang sederhana
Binatang-Binatang Totem Pada Seni Cadas Prasejarah di Sulawesi Selatan.
Penelitian ini merupakan penerapan metode kuantitatif Sauvet dkk. (2009) untuk menunjukkan konteks budaya penggambaran motif binatang pada kawasan seni cadas berdasarkan statistik frekuensi dan persebarannya dalam kawasan. Data statistik pada kawasan-kawasan seni cadas etnografi menurut metode tersebut menunjukkan konteks budaya totemisme, shamanisme, dan kehidupan sehari-hari. Data penelitian ini adalah 86 gambar yang terdiri dari 17 motif binatang pada 10 gua di Kabupaten Maros, 13 gua di Kabupaten Pangkep, dan dua gua di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode kuantitatif Sauvet dkk. (2009) dapat digunakan pada kawasan seni cadas prasejarah Sulawesi Selatan. Penerapan metode tersebut menunjukkan bahwa penggambaran motif binatang pada kawasan seni cadas prasejarah di Sulawesi Selatan menunjukkan konteks budaya totemisme
Osteobiografi individu nomor 38 dari Situs Prasejarah Gilimanuk.
Penelitian ini bertujuan untuk mempresentasikan osteobiografi seorang individu yang berasal dari situs kubur masa Paleolitik Gilimanuk, Bali. Material yang dipergunakan adalah individu nomor 38 yang disimpan pada Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi, Universitas Gadjah Mada. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis makroskopis, tanpa menggunakan proses destruktif.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa individu nomor 38 memiliki jenis kelamin perempuan dengan umur sekitar 50 tahun ketika individu ini meninggal. Selain itu, individu ini memiliki beberapa gangguan kesehatan diantaranya atrisi gigi pada seluruh permukaan giginya, trauma pada molar pertama maxilla kiri, salah satu rusuk kanan patah ketika masih hidup dan telah tersambung dengan baik, adanya kemungkinan parturisi, adanya degenerasi persendian temporomandibular atau porositas yang terdapat pada fossa mandibularis. Adanya osteopit dan porositas pada beberapa bagian tulang seperti pada ossa carpi, ossa tarsi, ruas tulang belakang, dan keberadaan eburnasi atau kilapan pada bagian talus yang dapat diidentikkan dengan gejala osteoarthritis
Ragam Hias dan Inskripsi Makam di Situs Dea Daeng Lita Kabupaten Bulukumba.
Ragam hias makam di Nusantara memperlihatkan percampuran, kaligrafi yang dibawah Islam dengan unsur budaya lokal pada pemberian gunungan (meru) dan ragam hias floralistik di makam. Penelitian ini, bertujuan mengungkap kebudayaan Islam pada masa lampau melalui ragam hias dan inskripsi makam. Agar dapat memberikan gambaran, bagaimana kebudayaan dan ajaran Islam terintegrasi dan menyatu kedalam budaya lokal masyarakat. Dalam pencapaiannya digunakan teknik observasi dan analisis dari segi keanekaragaman bentuk, fungsi serta makna ragam hias dan inskripsi. Di kompleks Makam Dea Daeng Lita memperlihatkan paduan jirat gunungan yang terbentuk dari ragam hias sulur-sulur dengan nisan menhir serta inskripsi lafadz zikir dan ketahuidan sebagai refleksi ajaran tasawuf mengambarkan harmonisasi ajaran Islam dengan kebudayaan lokal dalam membentuk peradaban di Kabupaten Bulukumba.Kata kunci : Ragam hias, inskripsi, jirat, nisan