Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Not a member yet
    440 research outputs found

    “OMO HADA” Arsitektur Tradisional Nias Selatan Diambang Kepunahan

    Get PDF
    AbstractThe South Nias cultural heritage presented through the artifacts, in the form of traditional architectural buildings, as well as various megalithic stone buildings with all their forms, is an ancestral cultural work that not only contains aesthetic values, uniqueness and art, but also local wisdom as a source of knowledge which is very valuable to be studied and studied. This important and very valuable heritage must be preserved and preserved. But the attitudes and views of the people towards their cultural heritage are changing, as if they no longer have sacred values, even the value of local wisdom begins to fade over time. The existence of South Nias traditional houses is relatively more sustainable compared to other traditional houses. To maintain its existence, changes are needed to accommodate the current residential needs of the community. On the other hand, these changes have the potential to eliminate the character or authenticity of traditional Nias Selatan architecture. This study aims to find out about traditional technologies and architectural changes that occur and their impact on the existence of traditional South Nias houses. From the various problems of the South Nias cultural heritage that are being faced, this study tries to highlight aspects of traditional architecture and local wisdom, including the accompanying megalithic elements. The subjects that will be studied use an ethno-archaeological approach with emphasis on the observation method through direct observation of objects of material culture and social aspects at the research site. In this way it makes it easier for us to observe directly and in detail the architectural forms and components, both exterior and interior as well as the decorative types in the past cultural context of South Nias.Keywords: Traditional Architecture, Megalithic, Cultural HeritageAbstrak Warisan budaya Nias Selatan yang dipresentasikan lewat  peninggalan artefak, berupa  bangunan berarsitektur tradisional, maupun beragam bangunan batu megalit dengan segala rupa bentuknya, merupakan karya budaya leluhur  yang tidak hanya mengandung nilai estetika, keunikan dan seni semata, tetapi juga merupakan kearifan lokal sebagai sumber ilmu pengetahuan yang sangat berharga untuk dikaji dan dipelajari.  Warisan yang penting dan sangat berharga  ini wajib dipelihara dan dilestarikan. Namun sikap dan pandangan masyarakatnya  terhadap warisan budayanya, sedang berubah, seakan tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral, bahkan  nilai kearifan lokal pun mulai luntur seiring perjalanan waktu. Keberadaan rumah tradisional Nias Selatan relatif lebih bertahan eksistensinya dibandingkan rumah tradisional lainnya. Untuk mempertahankan eksistensinya, diperlukan perubahan untuk mengakomodasi kebutuhan hunian masyarakat saat ini. Di sisi lain, perubahan tersebut berpotensi menghilangkan karakter atau keaslian  arsitektur tradisional Nias Selatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tradisional dan perubahan arsitektur yang terjadi dan dampaknya terhadap eksistensi dari rumah tradisional Nias Selatan. Dari berbagai masalah warisan budaya Nias Selatan yang sedang dihadapi itu,  maka penelitian ini mencoba menyoroti aspek  arsitektur tradisional maupun kearifan lokalnya, termasuk unsur megalitik yang menyertainya. Subyek yang akan  dikaji ini memakai pendekatan etnoarkeologi dengan  penekanan  pada metode  observasi melalui pengamatan langsung terhadap obyek-obyek budaya material dan aspek sosial di lokasi penelitian. Dengan cara ini memudahkan kita mengamati secara langsung dan detil bentuk-bentuk arsitektur dan komponennya, baik eksterior dan interior maupun ragam hias dalam konteks budaya masa lalu Nias Selatan.Kata Kunci: Arsitektur Tradisional, Megalitik, Warisan Buday

    Preface Kalpataru Volume 27, nomor 2, tahun 2018

    No full text

    Artefak Batu Preneolitik Situs Leang Jarie: bukti teknologi Maros point tertua di kawasan budaya Toalean, Sulawesi Selatan

    Get PDF
    The Preneolithic Stone Artefact of Leang Jarie Site: The Oldest Evidence of Maros Point  Technology in the Toalean Culture Region, South Sulawesi. Maros Point is one type of flake tool that shows characteristics of the techno-complex Toalean from South Sulawesi. Early emergence of the Toalean Culture phase is still debated, but most experts agree that this tool only appeared no more than 4000 years ago and is positioned include with pottery or Neolithic period. The Maros Point is considered to be made by the early occupants of Sulawesi after the arrival and contact with Austronesian speakers migration in South Sulawesi. The problem is that the results of the latest research are contrary to previous opinions. This paper aims to show new evidence of excavation at the Leang Jarie Site, as the oldest Maros Point technology ca. 8,000 years ago in the Toalean Cultural Region. Maros Point is made simpler with the support flake without using reduction pattern of flake-blade technology. Flakes with an asymmetrical shape can also be utilized as long as it have a pointed and thin tip. The "backed" retouched technique is also used to maximize flakes with steep sharp edges. Thus, the phase of Toalean Culture compiled by previous studies needs to be reviewed and the presence of Maros Points can no longer be used as a marker of the youngest phase. Maros Point is produced from the early holocene or Preneolithic Period and has possibility its continuation until Neolithic period.Maros Point adalah salah satu tipe alat serpih yang menunjukkan karakteristik teknokompleks budaya Toalean dari Sulawesi Selatan. Awal munculnya masih diperdebatkan. Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa alat ini baru muncul tidak lebih dari 4.000 tahun yang lalu dan diposisikan sekonteks dengan tembikar atau masa neolitik. Maros Point dianggap dibuat oleh penghuni awal Sulawesi setelah kedatangan dan kontak dengan migrasi penutur Austronesia di Sulawesi Selatan. Permasalahannya adalah hasil penelitian terbaru justru bertentangan dengan pendapat sebelumnya. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bukti baru dari penggalian di situs  Leang Jarie, sebagai teknologi Maros Point paling tua berumur ca. 8.000 tahun lalu di kawasan budaya Toalean. Maros Point dari masa preneolitik dibuat lebih sederhana dengan dukungan serpih tanpa harus menggunakan pola penyerpihan teknologi serpih bilah. Serpih dengan bentuk yang tidak simetris pun dapat dimanfaatkan selama memiliki ujung runcing dan tipis. Teknik peretusan “dipunggungkan” juga digunakan untuk memaksimal serpih dengan tepian tajaman yang terjal. Dengan demikian, fase budaya Toalean yang disusun oleh penelitian sebelumnya perlu ditinjau ulang dan kehadiran Maros Point tidak bisa lagi dijadikan sebagai penanda fase paling muda. Maros Point diproduksi dari awal holosen atau preneolitik dan mungkin terus berlanjut hingga masa neolitik

    Cover Vol. 37 No. 1 (2019)

    No full text

    IDENTIFIKASI SITUS ARKEOLOGI BAWAH AIR TINGGALAN PERANG DUNIA II DI PERAIRAN TELUK AMBON

    Get PDF
     Abstract. City of Ambon holds the evidence of colonialism as part of World War II history. Various maritime cultural activities contain historical data that can reconstruct the history of Indonesia. One example is Duke of Sparta (SS Aquila) shipwreck, located in Ambon Bay, that is well-known by local and international divers. However, underwater cultural heritage has not optimally managed, even suffers from thievery. Since underwater cultural heritage in Ambon Bay is significant to support national and international interests, this study aims to identify and record underwater cultural heritage in Ambon Bay by using Side Scan Sonar (SSS) and direct observation through diving survey. This preliminary study was conducted as the first stage of underwater cultural heritage preservation effort. The result shows findings of archaeological remains of shipwrecks and aircrafts. Some parts were incomplete, covered by coral ecosystem, and become fish habitat. High level of sedimentation has a role in disrupting the recent condition as most of the wreckages are now covered by sediment materials. Thus, preservation and protection efforts are necessary to be well-managed by central and local governments.  Keywords: Underwater archaeology, World War II, Ambon Bay, Side Scan Sonar  Abstrak. Kota Ambon mempunyai sejarah dalam Perang Dunia II yang menyimpan bukti-bukti sejarah kolonialisme. Berbagai aktivitas budaya maritim telah meninggalkan data yang melimpah untuk merekonstruksi sejarah bangsa ini. Di Perairan Teluk Ambon terdapat situs kapal kargo Duke of Sparta (SS Aquila) yang sangat dikenal oleh penyelam lokal maupun mancanegara. Permasalahan pada sisi lain sumber daya tinggalan budaya bawah air belum optimal dimanfaatkan, bahkan seringkali diambil secara ilegal. Mengingat bahwa peninggalan arkeologi bawah air di Indonesia khususnya perairan Ambon tidak hanya memiliki signifikansi nasional, tapi juga regional bahkan internasional. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi tinggalan budaya arkeologi bawah laut Ambon menggunakan Side Scan Sonar (SSS) serta pengamatan secara langsung (penyelaman). Kegiatan ini sebagai upaya awal perlindungan terhadap tinggalan tersebut. Hasil pengamatan memperlihatkan beberapa temuan tinggalan arkeologi bawah laut berupa kapal tenggelam SS Aquila, SS Victoria serta situs pesawat. Beberapa bagian situs telihat sudah tidak utuh dan tertutupi oleh ekosistem karang dan dihuni oleh ikan-ikan. Tingginya tingkat sedimentasi berpengaruh terhadap keberadaan situs tersebut, sehingga beberapa bagian situs tertimbun material sedimen. Upaya penyelamatan dan perlindungan perlu dilakukan lebih lanjut baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Kata kunci: Arkeologi Bawah Air, Perang Dunia II, Teluk Ambon, Side Scan Sona

    Cover Kalpataru Volume 28, nomor 1, tahun 2019

    No full text

    Preface Kalpataru Volume 28, nomor 1, tahun 2019

    No full text

    Tiga Tipe Tata Ruang Desa Tradisional di Nias Selatan, Sumatera Utara

    Get PDF
    South Nias is one of many regions in Indonesia that still mantains the existence of traditional settlement. Villages found in this regency have unique characteristic as are shown by their linear forms with two rows of houses facing each other. Although the villages seem to have similar forms, in fact, there are three types of spatial patterns which present in South Nias traditional villages. The main purpose of this research relates to the variations of spatial patterns in this region’s traditional settlement. Moreover, its aim is to obtain the classification of settlement forms in South Nias. The research method used to answer the question is qualitative and the data are obtained by field observation, interviews, and literature study. The result reveals that traditional villages in South Nias have spatial patterns in the form of branched linear, I-shaped linear, and T-shaped linear. Classification of the settlement form is based on differences in the shape and location of village materil components. This research also intents to conduct documentation about South Nias traditional villages together with their components which become scarce in present day because damaged by natural factors or deliberately replaced by modern components.Nias Selatan adalah salah satu wilayah di Indonesia yang masih mempertahankan keberadaan permukiman tradisional. Desa-desa yang ditemukan di kabupaten tersebut memiliki karakteristik yang unik, yaitu berbentuk linear dengan dua baris rumah yang saling berhadapan. Meskipun sekilas desa-desa itu tampak memiliki bentuk yang sama, sebenarnya terdapat tiga tipe bentuk tata ruang yang dijumpai pada desa tradisional di Nias Selatan. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan variasi bentuk tata ruang permukiman tradisional di wilayah tersebut. Tujuannya untuk memperoleh klasifikasi bentuk permukiman tradisional Nias Selatan. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab permasalahan adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan desa tradisional di Nias Selatan memiliki bentuk tata ruang linear bercabang, linear I, dan linear T. Klasifikasi bentuk permukiman tersebut didasarkan atas perbedaan bentuk dan keletakan komponen materi desa. Penelitian ini juga berupaya untuk melakukan dokumentasi desa-desa tradisional Nias Selatan beserta komponennya yang kini menjadi langka karena rusak oleh faktor alam maupun sengaja diganti dengan komponen yang modern

    Potential of submerged landscape archaeology in Indonesia

    Get PDF
    Abstract. Indonesia has a great potential to be a country-wide laboratory of underwater landscape study. This is due to the fact that its two main contingents, Sunda and Sahul, had been experiencing sea level rise event in the late of ice age , in which intersectedcrosses the timeline of prehistoric human migration. Even though Indonesian ocean preserves the richness of underwater resources, including archaeological data, the study itself has not been touched by many. This paper will focus in two objectives: 1) Reconstructing paleo-river model and; 2) Potential prehistoric remnants in Misool Islands caves. The method used includes a field survey , by diving and data brackets by using sub-bottom profiler. Besides, we also conducted literature reviews.The results of this study indicate that the Sunda and Sahul Exposures are likely to be inhabited by humans, but at this time the remains have sunk on the seabed. It is hoped that this study can be the basis and motivation for future archeological research such as prehistoric human settlements and migration in a submerged landscape environment.Keywords: Submerged landscape, Sunda shelf, Sahul shelf, Sea-level change, Underwater archaeologyAbstrak. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah laboratorium penelitian lanskap bawah air. Gagasan ini didasarkan pada fakta bahwa dua kontingen yang membentuk Indonesia, Paparan Sunda dan Sahul, mengalami perubahan air laut pada akhir zaman es yang bersinggungan dengan migrasi manusia prasejarah. Walaupun lautan Indonesia menyimpan kekayaan alam, termasuk data arkeologi, penelitian tentang lanskap bawah laut belum banyak disentuh. Studi ini bertujuan untuk membahas dua hal: 1) rekonstruksi model sungai purba dan ;2) potensi peninggalan jejak prasejarah di gua bawah air di Pulau Misool. Metode yang digunakan adalah melakukan survei lapangan, dengan melakukan penyelaman dan perkeman data menggunakan alat akustik sub-bottom profiler, selain itu kami juga melakukan kajian dan review pustaka.Hasil studi ini menunjukkan bahwa Paparan Sunda dan Sahul kemungkinan besar telah dihuni oleh manusia namun pada saat ini peninggalannya telah tenggelam di dasar laut, diharapkan kajian ini dapat menjadi dasar dan motivasi untuk riset arkeologi mendatang seperti hunian dan migrasi manusia prasejarah pada lingkungan lanskap yang tenggelam.Kata kunci: Lanskap bawah air, Paparan sunda, Paparan sahul, Perubahan tinggi air laut, Arkeologi bawah ai

    Cover Kalpataru Volume 27, Nomor 2, Tahun 2018

    No full text

    202

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Publikasi Ilmiah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇