Jurnal Infotel (Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto)
Not a member yet
392 research outputs found
Sort by
Sistem Pendeteksi Kesegaran Ikan Bandeng Menggunakan Citra
Penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik dalam pemeriksaan kesegaran ikan bandeng pada usaha kecil menengah. Teknik pemeriksaan kesegaran ikan bandeng selama ini masih ditentukan dengan cara analisis mikrobiologi dan kimiawi. Teknik ini dianggap kurang tepat dikarenakan selain membutuhkan banyak tenaga manusia yang rentan dalam melakukan kesalahan dan kelelahan fisik, juga membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama, sehingga mempengaruhi produksi ikan bandeng. Dalam penelitian ini diusulkan suatu metode pengolahan citra dengan teknik mencari selisih nilai R, G, B pada citra referensi (latih) dengan citra masukan (uji) untuk selanjutnya nilai selisih tersebut dihitung dengan persamaan Euclidian (Length) dan dibandingkan dengan nilai threshold (T). Data referensi yang digunakan 3 ikan bandeng segar, Sehingga citra referensi yang dihasilkan pada posisi R=160,G=35,B=35 dan threshold 55, Dari hasil percobaan dengan menggunakan 10 ikan bandeng segar dihasilkan nilai deteksi sebesar 100%, dan percobaan dengan menggunakan 10 ikan bandeng tidak segar dihasilkan nilai deteksi sebesar 80%Penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik dalam pemeriksaan kesegaran ikan bandeng pada usaha kecil menengah. Teknik pemeriksaan kesegaran ikan bandeng selama ini masih ditentukan dengan cara analisis mikrobiologi dan kimiawi. Teknik ini dianggap kurang tepat dikarenakan selain membutuhkan banyak tenaga manusia yang rentan dalam melakukan kesalahan dan kelelahan fisik, juga membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama, sehingga mempengaruhi produksi ikan bandeng. Dalam penelitian ini diusulkan suatu metode pengolahan citra dengan teknik mencari selisih nilai R, G, B pada citra referensi (latih) dengan citra masukan (uji) untuk selanjutnya nilai selisih tersebut dihitung dengan persamaan Euclidian (Length) dan dibandingkan dengan nilai threshold (T). Data referensi yang digunakan 3 ikan bandeng segar, Sehingga citra referensi yang dihasilkan pada posisi R=160,G=35,B=35 dan threshold 55, Dari hasil percobaan dengan menggunakan 10 ikan bandeng segar dihasilkan nilai deteksi sebesar 100%, dan percobaan dengan menggunakan 10 ikan bandeng tidak segar dihasilkan nilai deteksi sebesar 80
Robot Line Follower Berbasis Kendali Proportional-Integral-Derivative (PID) Untuk Lintasan Dengan Sudut Ekstrim
Robot line follower merupakan robot otonom yang dapat mengikuti jalur. Jalurnya bisa berupa garis berwarna hitam diatas permukaan putih atau sebaliknya. Selama ini kebanyakan peneliti merancang robot line follower kendali PID (Proportional-Integral-Derivative) untuk lintasan dengan tikungan yang relatif tumpul, namun pada penelitian ini, sistem kendali PID diterapkan pada robot line follower untuk menelusuri tiga jenis lintasan dengan sudut yang extrim. Robot ini menggunakan 8 buah sensor dengan asumsi 1 atau 2 sensor menyentuh garis lintasan dengan tebal 2 cm. Pada percobaan max. speed PWM 100 didapat tunning PID terbaik yaitu Kp = 3, Ki = 3 dan Kd = 0, menghasilkan waktu mencapai finish untuk lapangan A, B dan C masing-masing sebesar 3,59 s, 3,10 s dan 3,69 s. Sedangkan untuk max. speed PWM 255 didapat tunning PID terbaik yaitu Kp = 5, Ki = 5 dan Kd = 5, menghasilkan waktu mencapai finish untuk lapangan A, B dan C masing-masing sebesar 2,67 s, 2,46 s dan 2,78 s. Terakhir, max. speed sangat berpengaruh terhadap hasil tuning PID untuk lintasan extrim, Hal ini dikarenakan ketika kecepatan tinggi dibutuhkan sistem PID dengan respon time yang relatif cepat dan stabil.Robot line follower merupakan robot otonom yang dapat mengikuti jalur. Jalurnya bisa berupa garis berwarna hitam diatas permukaan putih atau sebaliknya. Selama ini kebanyakan peneliti merancang robot line follower kendali PID (Proportional-Integral-Derivative) untuk lintasan dengan tikungan yang relatif tumpul, namun pada penelitian ini, sistem kendali PID diterapkan pada robot line follower untuk menelusuri tiga jenis lintasan dengan sudut yang extrim. Robot ini menggunakan 8 buah sensor dengan asumsi 1 atau 2 sensor menyentuh garis lintasan dengan tebal 2 cm. Pada percobaan max. speed PWM 100 didapat tunning PID terbaik yaitu Kp = 3, Ki = 3 dan Kd = 0, menghasilkan waktu mencapai finish untuk lapangan A, B dan C masing-masing sebesar 3,59 s, 3,10 s dan 3,69 s. Sedangkan untuk max. speed PWM 255 didapat tunning PID terbaik yaitu Kp = 5, Ki = 5 dan Kd = 5, menghasilkan waktu mencapai finish untuk lapangan A, B dan C masing-masing sebesar 2,67 s, 2,46 s dan 2,78 s. Terakhir, max. speed sangat berpengaruh terhadap hasil tuning PID untuk lintasan extrim, Hal ini dikarenakan ketika kecepatan tinggi dibutuhkan sistem PID dengan respon time yang relatif cepat dan stabil
Analisis Penggunaan Marker Tracking Pada Augmented Reality Huruf Hijaiyah
Teknologi augmented reality berdasarkan metode pelacakan (tracking) terbagi menjadi dua yaitu marker based tracking dan markerless. Kedua metode ini memiliki persamaan yaitu dipengaruhi oleh jarak pendeteksian dan intensitas cahaya dalam keberhasilannya memunculkan suatu objek. Akan tetapi belum diketahui berapa jarak yang tepat dan kondisi intensitas cahaya yang ideal bagi kedua metode tersebut. Penelitian ini diusulkan untuk menganalisis pengaruh jarak pendeteksian serta integritas cahaya terhadap metode marker based tracking dan markerless. Variasi jarak yang digunakan adalah 5cm, 10cm, 20cm, 30cm, 40cm, 50cm, dan 80cm sebagai sub indikator jarak pendeteksian kemudian untuk mendapatkan variasi besarnya intensitas cahaya digunakan sumber cahaya matahari, lampu berwarna kuning, merah, hijau, biru, dan putih (terang). Metode pengujian yang digunakan yaitu menentukan jarak minimum dan jarak maksimum pendeteksian serta menentukan besarnya intensitas cahaya untuk memunculkan suatu objek. Hasil pengujian ini adalah jarak minimum dan maksimum pendeteksian serta intensitas cahaya yang didapatkan untuk kedua metode yang diusulkan yaitu marker based tracking memiliki rata-rata jarak minimum 7.5 cm dan maksimum 80.5 cm. Sedangkan markerless rata-rata jarak minimum 3.8 cm dan maksimum 300 cm. Sistem dapat memunculkan objek pada intensitas 97 lux -1605 luxTeknologi augmented reality berdasarkan metode pelacakan (tracking) terbagi menjadi dua yaitu marker based tracking dan markerless. Kedua metode ini memiliki persamaan yaitu dipengaruhi oleh jarak pendeteksian dan intensitas cahaya dalam keberhasilannya memunculkan suatu objek. Akan tetapi belum diketahui berapa jarak yang tepat dan kondisi intensitas cahaya yang ideal bagi kedua metode tersebut. Penelitian ini diusulkan untuk menganalisis pengaruh jarak pendeteksian serta integritas cahaya terhadap metode marker based tracking dan markerless. Variasi jarak yang digunakan adalah 5cm, 10cm, 20cm, 30cm, 40cm, 50cm, dan 80cm sebagai sub indikator jarak pendeteksian kemudian untuk mendapatkan variasi besarnya intensitas cahaya digunakan sumber cahaya matahari, lampu berwarna kuning, merah, hijau, biru, dan putih (terang). Metode pengujian yang digunakan yaitu menentukan jarak minimum dan jarak maksimum pendeteksian serta menentukan besarnya intensitas cahaya untuk memunculkan suatu objek. Hasil pengujian ini adalah jarak minimum dan maksimum pendeteksian serta intensitas cahaya yang didapatkan untuk kedua metode yang diusulkan yaitu marker based tracking memiliki rata-rata jarak minimum 7.5 cm dan maksimum 80.5 cm. Sedangkan markerless rata-rata jarak minimum 3.8 cm dan maksimum 300 cm. Sistem dapat memunculkan objek pada intensitas 97 lux -1605 lu
Rancang Bangun Alat Pointing Antena VSAT Berbasis Mikrokontroler
Penelitian ini membahas salah satu aplikasi mikrokontroler Atmega16 yang digunakan sebagai media pointing antena VSAT. Untuk menentukan sudut azimuth dan elevasi, menggunakan perubahan linier dari potensiometer yang terhubung dengan mikrokontroler digunakan sebagai sensor sudut dalam menentukan sudut azimuth dan elevasi. Untuk menentukan sudut tersebut mikrokontroler memanfaatkan fitur ADC internal sebagai konversi dari analog menjadi digital berdasarkan perubahan linier potensiometer. Tujuan utama dari penelitian ini ialah dapat membandingkan hasil yang diperoleh dari pointing manual dan otomatis dengan memanfatkan potensiometer sebagai sensor sudut, parameter yang diguakan sebagai acuan dari hasil pointing alat ini adalah signal strength, signal quality, BER dan C/N. Dari hasil pengujian pointing pada dua satelit yang berbeda didapat kesimpulan bahwa perbandingan hasil pointing manual lebih baik dari pada hasil pointing elektronik dari segi signal strength dan Signal Quality. Sedangkan perbedaan nilai BER dan C/N tidak terlalu besar, bahkan cenderung sama. Nilai total rata-rata dari hasil pointing manual untuk satelit TELKOM 1 adalah signal strength 37%, Signal Quality 56%, BER 10-5, C/N 8 dB dan pointing elektronik dengan nilai rata-rata total yaitu signal strength 36%, Signal Quality 55,4%, BER 10-5 dan C/N 7,9 dB. Untuk hasil rata-rata total pointing satelit PALAPA D yaitu signal strength 43,5%, Signal Quality 59,5%, BER 10-5, C/N 8,5dB dan pointing elektronik dengan nilai rata-rata total yaitu signal strength 36%, Signal Quality 40,9%, BER 10-5 dan C/N 8,5dB. Meski demikian alat ini dapat bekerja lebih sempurna apabila ditambahkan sensor yang memliki tingkat akurasi lebih baikPenelitian ini membahas salah satu aplikasi mikrokontroler Atmega16 yang digunakan sebagai media pointing antena VSAT. Untuk menentukan sudut azimuth dan elevasi, menggunakan perubahan linier dari potensiometer yang terhubung dengan mikrokontroler digunakan sebagai sensor sudut dalam menentukan sudut azimuth dan elevasi. Untuk menentukan sudut tersebut mikrokontroler memanfaatkan fitur ADC internal sebagai konversi dari analog menjadi digital berdasarkan perubahan linier potensiometer. Tujuan utama dari penelitian ini ialah dapat membandingkan hasil yang diperoleh dari pointing manual dan otomatis dengan memanfatkan potensiometer sebagai sensor sudut, parameter yang diguakan sebagai acuan dari hasil pointing alat ini adalah signal strength, signal quality, BER dan C/N. Dari hasil pengujian pointing pada dua satelit yang berbeda didapat kesimpulan bahwa perbandingan hasil pointing manual lebih baik dari pada hasil pointing elektronik dari segi signal strength dan Signal Quality. Sedangkan perbedaan nilai BER dan C/N tidak terlalu besar, bahkan cenderung sama. Nilai total rata-rata dari hasil pointing manual untuk satelit TELKOM 1 adalah signal strength 37%, Signal Quality 56%, BER 10-5, C/N 8 dB dan pointing elektronik dengan nilai rata-rata total yaitu signal strength 36%, Signal Quality 55,4%, BER 10-5 dan C/N 7,9 dB. Untuk hasil rata-rata total pointing satelit PALAPA D yaitu signal strength 43,5%, Signal Quality 59,5%, BER 10-5, C/N 8,5dB dan pointing elektronik dengan nilai rata-rata total yaitu signal strength 36%, Signal Quality 40,9%, BER 10-5 dan C/N 8,5dB. Meski demikian alat ini dapat bekerja lebih sempurna apabila ditambahkan sensor yang memliki tingkat akurasi lebih bai
Komunikasi Bergerak Frekuensi 2.3 GHz Melewati Pepohonan Menggunakan Metode Giovanelli Knife Edge
Sistem komunikasi antara MS (Mobile Station) dan RBS (Radio Base Station) dengan frekuensi 2.3 GHz kondisi uplink, komunikasi yang terjadi ketika pengguna MS yang bergerak disepanjang trotoar terhadap RBS yang berada di tepi bagian atas gedung. Propagasi melewati pepohonan yang berada diantara kedua ruas jalan dan juga berada disepanjang trotoar, sehingga metode difraksi menggunakan single knife-edge dan Giovanelli knife-edge. Pada penelitian ini berfokus pada variasi ketinggian gedung dan daya pancar. Analisa ditunjukkan pada persentase daerah cakupan disepanjang lintasan MS. Persentase tersebut terjadi peningkatan dengan variasi daya pancar 20 dBm hingga 40 dBm yang diikuti peningkatan ketinggian gedung. Hasil penelitian, menunjukkan beberapa titik pada lintasan yang memiliki loss yang sangat besar, menjadikan sedikit peningkatan persentase daerah tercakup RBS. Pengaruh dari komunikasi tersebut diantaranya karena pepohonan, atmosfer, dan juga jarak komunikasiSistem komunikasi antara MS (Mobile Station) dan RBS (Radio Base Station) dengan frekuensi 2.3 GHz kondisi uplink, komunikasi yang terjadi ketika pengguna MS yang bergerak disepanjang trotoar terhadap RBS yang berada di tepi bagian atas gedung. Propagasi melewati pepohonan yang berada diantara kedua ruas jalan dan juga berada disepanjang trotoar, sehingga metode difraksi menggunakan single knife-edge dan Giovanelli knife-edge. Pada penelitian ini berfokus pada variasi ketinggian gedung dan daya pancar. Analisa ditunjukkan pada persentase daerah cakupan disepanjang lintasan MS. Persentase tersebut terjadi peningkatan dengan variasi daya pancar 20 dBm hingga 40 dBm yang diikuti peningkatan ketinggian gedung. Hasil penelitian, menunjukkan beberapa titik pada lintasan yang memiliki loss yang sangat besar, menjadikan sedikit peningkatan persentase daerah tercakup RBS. Pengaruh dari komunikasi tersebut diantaranya karena pepohonan, atmosfer, dan juga jarak komunikas
Desain Jaringan WLAN Berdasarkan Cakupan Area dan Kapasitas
Penelitian ini mengangkat kasus pada Kampus 2 Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) yang belum memiliki fasilitas jaringan wireless, padahal pemanfaatannya sudah dimulai pada awal tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dibuat desain jaringan wireless yang mempertimbangkan cakupan area dan kapasitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain jaringan wireless berdasarkan cakupan area dibutuhkan 15 buah AP untuk JTE, 20 buah AP untuk JAK, dan 19 buah AP untuk JAN. Sedangkan untuk desain jaringan wireless berdasarkan cakupan area dan kapasitas dibutuhkan 20 buah AP untuk JTE, 25 buah AP untuk JAK, dan 25 buah AP untuk JAN. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam perancangan penempatan AP pada Kampus 2 PNUP sebaiknya mempertimbangkan cakupan area dan kapasitas, karena rancangan yang mempertimbangkan cakupan area saja hanya dapat memenuhi 77,00% kebutuhan AP. Penelitian ini mengangkat kasus pada Kampus 2 Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) yang belum memiliki fasilitas jaringan wireless, padahal pemanfaatannya sudah dimulai pada awal tahun ajaran 2015/2016. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dibuat desain jaringan wireless yang mempertimbangkan cakupan area dan kapasitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain jaringan wireless berdasarkan cakupan area dibutuhkan 15 buah AP untuk JTE, 20 buah AP untuk JAK, dan 19 buah AP untuk JAN. Sedangkan untuk desain jaringan wireless berdasarkan cakupan area dan kapasitas dibutuhkan 20 buah AP untuk JTE, 25 buah AP untuk JAK, dan 25 buah AP untuk JAN. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam perancangan penempatan AP pada Kampus 2 PNUP sebaiknya mempertimbangkan cakupan area dan kapasitas, karena rancangan yang mempertimbangkan cakupan area saja hanya dapat memenuhi 77,00% kebutuhan AP. 
Analisis Pemanfaatan Metode Markerless User Defined Target Pada Augmented Reality Sholat Shubuh
Aplikasi augmented reality pada umumnya menggunakan marker khusus untuk menjalankan aplikasi (marker based). Penggunaan marker tersebut membuat aplikasi menjadi ketergantungan, karena aplikasi hanya akan dapat dijalankan jika marker tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menampilkan objek 3 dimensi pada lingkungan augmented reality tanpa menggunakan marker khusus pada perangkat android. Aplikasi dibuat menggunakan metode markerless user defined target dan melakukan pengujian tentang pemanfaatan metode tersebut menggunakan parameter seperti kontras warna permukaan datar, bentuk objek, jarak, cahaya dan sudut kamera pada saat tracking. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa seluruh benda dapat digunakan pada metode markerless user defined target. Benda terbaik untuk menampilkan objek 3 dimensi adalah permukaan datar kertas dengan kontras bagus, sudut tracking 45°, menggunakan sumber cahaya terang yang tidak tegak lurus dengan marker dan jarak ideal 15 cm sampai 25 cm.Aplikasi augmented reality pada umumnya menggunakan marker khusus untuk menjalankan aplikasi (marker based). Penggunaan marker tersebut membuat aplikasi menjadi ketergantungan, karena aplikasi hanya akan dapat dijalankan jika marker tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menampilkan objek 3 dimensi pada lingkungan augmented reality tanpa menggunakan marker khusus pada perangkat android. Aplikasi dibuat menggunakan metode markerless user defined target dan melakukan pengujian tentang pemanfaatan metode tersebut menggunakan parameter seperti kontras warna permukaan datar, bentuk objek, jarak, cahaya dan sudut kamera pada saat tracking. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa seluruh benda dapat digunakan pada metode markerless user defined target. Benda terbaik untuk menampilkan objek 3 dimensi adalah permukaan datar kertas dengan kontras bagus, sudut tracking 45°, menggunakan sumber cahaya terang yang tidak tegak lurus dengan marker dan jarak ideal 15 cm sampai 25 cm
Implementasi Metode Profile Matching Untuk Evaluasi Potensi Akademik Penjurusan Siswa MAN 2 Kota Kediri
Pelaksanaan proses penjurusan siswa menggunakan cara manual menyebabkan pengolahan data belum dilaksanakan secara maksimal. Hal ini mendorong perlunya mengembangkan sistem berbasis komputer untuk memudahkan proses penjurusan. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan metode profile matching untuk evaluasi potensi akademik penjurusan siswa. Metode profile matching digunakan dengan menganalisa kriteria penilaian akademik dan non akademik. Kriteria nilai akademik meliputi nilai rata-rata raport dan nilai Ujian Nasional sedangkan data nilai non akademik siswa meliputi minat siswa, minat orang tua, tes IQ dan catatan prestasi siswa. Adapun rekomendasi jurusan meliputi jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Selanjutnya kriteria penilaian disesuaikan dengan nilai gap kompetensi jurusan berdasarkan kategori core factor dan secondary factor. Perancangan aplikasi menggunakan bahasa pemrograman java dan database mySQL. Hasil penelitian berupa rancangan aplikasi yang dapat menunjukkan rekomendasi jurusan siswa Madrasah
Penerapan City Directory Dalam Membangun Identitas Kota Melalui Penyediaan Informasi Publik
Kemampuan setiap kota dalam menarik investor dan wisatawan tersebut dapat dilihat dari bagaimana keseriusan pemerintah kota dalam membangun identitas kotanya. Salah satu hal yang dapat menjadikan sebuah kota memiliki identitas yang unik adalah kemampuannya menyediakan informasi publik yang benar dan lengkap mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kota tersebut seperti fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos). Salah satu konsep yang populer digunakan dalam menjawab tantangan tersebut adalah konsep city directory. City directory adalah salah satu bentuk layanan berbasis lokasi untuk dapat memberikan informasi yang dapat diakses kapan dan dimanapun mengenai keberadaan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) dari sebuah kota. Konsep city directory merupakan sebuah rangkaian proses yang bertahap, jangka panjang, dan komprehensif sehingga diperlukan konsistensi dalam penerapannya. Penelitian kali ini dilakukan dalam rangka membangun identitas kota purbalingga dengan menerapkan konsep city directory. Dengan menggunakan metode wawancara, analisis dokumen, dan observasi langsung di lapangan, studi ini menunjukan proses penerapan konsep city directory kota Purbalingga dilakukan secara bertahap, bersinergi dengan rencana pembangunan yang ada, berjalan secara komprehensif dan paralel pada semua aspek yang dapat memperkuat identitas kota yaitu pengembangan dan partisipasi penduduk lokal, infrastruktur, pelayanan, dan promosi kota
Analisis Unjuk Kerja Horizontal Handover Mobile Wimax Mendukung Layanan Mobile TV
IEEE 802.16e-2005 teknologi mobile WiMAX merupakan salah satu alternatif yang dapat memberikan datarate 15 Mbps yang lebih baik daripada teknologi 3G, WLAN, dan lain-lain. Mobile WiMAX juga memberikan cakupan area yang luas. Oleh karena itu, WiMAX mampu memberikan layanan berbagai macam aplikasi multimedia seperti VoIP, IPTV, Video conferencing. dan aplikasi real-time lainnya. Selain itu, Mobile WiMAX juga mendukung mobility secara portable, mobile, dan nomadic. Saat ini IPTV muncul pada mobile phone, yang dinamakan mobile TV dimana layanan IPTV akan dapat diakses dalam keadaan bergerak. Hal itu membutuhkan suatu teknologi yang mendukung mobility namun tetap dapat menerima layanan IPTV dengan baik. Teknologi mobile WiMAX adalah teknologi yang cocok untuk mendukung layanan IPTV khususnya untuk user yang sedang bergerak. Akibat dari user yang bergerak maka memungkinkan user tersebut melakukan handover. Penelitian ini menganalisis parameter unjuk kerja yang mempengaruhi pada mobile TV saat user melakukan handover pada jaringan mobile WiMAX seperti jitter, end to end delay, throughput, handover delay dengan skenario perbedaan kecepatan dan perubahan jumlah user dalam satu cakupan area. Berdasarkan hasil simulasi untuk skenario perbedaan kecepatan (maksimum 100 km/jam) diperoleh nilai end to end delay sebesar 23.234 ms, jitter sebesar 0.047 ms, throughput sebesar 637.723 Kbps. Sedangkan skenario jumlah user diperoleh nilai end to end delay 27.218 ms, jitter sebesar 0.057 ms, throughput sebesar 558.881 Kbps. Hasil dari kedua skenario menunjukkan bahwa saat kecepatan dan jumlah user naik maka parameter kualitas layanan turun namun masih memenuhi syarat kualitas layanan Mobile TV (IPTV).IEEE 802.16e-2005 teknologi mobile WiMAX merupakan salah satu alternatif yang dapat memberikan datarate 15 Mbps yang lebih baik daripada teknologi 3G, WLAN, dan lain-lain. Mobile WiMAX juga memberikan cakupan area yang luas. Oleh karena itu, WiMAX mampu memberikan layanan berbagai macam aplikasi multimedia seperti VoIP, IPTV, Video conferencing. dan aplikasi real-time lainnya. Selain itu, Mobile WiMAX juga mendukung mobility secara portable, mobile, dan nomadic. Saat ini IPTV muncul pada mobile phone, yang dinamakan mobile TV dimana layanan IPTV akan dapat diakses dalam keadaan bergerak. Hal itu membutuhkan suatu teknologi yang mendukung mobility namun tetap dapat menerima layanan IPTV dengan baik. Teknologi mobile WiMAX adalah teknologi yang cocok untuk mendukung layanan IPTV khususnya untuk user yang sedang bergerak. Akibat dari user yang bergerak maka memungkinkan user tersebut melakukan handover. Penelitian ini menganalisis parameter unjuk kerja yang mempengaruhi pada mobile TV saat user melakukan handover pada jaringan mobile WiMAX seperti jitter, end to end delay, throughput, handover delay dengan skenario perbedaan kecepatan dan perubahan jumlah user dalam satu cakupan area. Berdasarkan hasil simulasi untuk skenario perbedaan kecepatan (maksimum 100 km/jam) diperoleh nilai end to end delay sebesar 23.234 ms, jitter sebesar 0.047 ms, throughput sebesar 637.723 Kbps. Sedangkan skenario jumlah user diperoleh nilai end to end delay 27.218 ms, jitter sebesar 0.057 ms, throughput sebesar 558.881 Kbps. Hasil dari kedua skenario menunjukkan bahwa saat kecepatan dan jumlah user naik maka parameter kualitas layanan turun namun masih memenuhi syarat kualitas layanan Mobile TV (IPTV)