e-Jurnal Poltekkes Tanjungkarang
Not a member yet
1715 research outputs found
Sort by
Pencegahan Transmisi Virus Hepatitis B pada Masa Perinatal
Hepatitis adalah peradangan pada sel-sel hati, yang bisa disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), obat-obatan (termasuk obat tradisional), konsumsi alkohol, lemak yang berlebih dan penyakit autoimun . Indonesia merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang menduduki salah satu negara dengan endemis hepatitis. Metode dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur (literature review).Wanita hamil dengan infeksi virus hepatitis B akut memiliki jalur yang tidak jauh berbeda dengan populasi orang dewasa, tetapi risiko penularan Hepatitis B ke neonatus meningkat pada masa kehamilan, saat infeksi akut terjadi.Infeksi Hepatitis B kronis biasanya dapat meningkat setelah melahirkan.Risiko penularan perinatal tertinggi pada wanita dengan tingkat viraemia tinggi; hal ini menjelaskan kegagalan imunoprofilaksis.Penularan terbesar terjadi kepada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan positif hepatitis B. Penularan terhadap bayi terjadi ketika masih dalam kandungan, saat melahirkan dan setelah persalinan. Pencegahan hepatitis B dapat dilakukan dengan melakukan skrining pada saat pemeriksaan kehamilan pertama.Untuk menurunkan angka transmisi penularan hepatitis B, dianjurkan ibu hamil dengan positif hepatitis B melakukan persalinan dengan metode sectio caesaria elektif
Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan TB Paru dan Dukungan Sosial Pasien RS Khusus Paru Respira
Penelitian mengetahui hubungan usia, jenis kelamin,dan pengetahuan dengan pengetahuan tentang TB Paru dan dukungan sosial keluarga. Penelitian merupakan deskriptif kuantitatif dengan rancangan crosssectional. Sampel sebanyak 79 responden dengan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisa menggunakan Uji Spearman Rank. Hasil usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang TB Paru didapatkan p-value 0,021; 0,004; dan 0,01. Analisis usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan tingkat pengetahuan dengan dukungan sosial keluarga didapatkan p-value 0,035; 0,037; 0,006; dan 0,000. Ada hubungan antara usia, jenis kelamin, dan pendidikan dengan dengan pengetahuan tentang TB. Ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pengetahuan dengan dukungan sosial keluarga
Faktor-Faktor Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Malaria Vivax di Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan Plasmodium. Pada tahun 2017, kasus malaria di dunia mencapai 216 juta kasus. Lampung merupakan salah satu provinsi dengan kejadian malaria yang masih cukup tinggi dengan Kabupaten Pesawaran sebagai daerah dengan kasus terbanyak, khususnya pada Puskesmas Hanura. Tujuan penelitian ini yaitu identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada penderita malaria vivax di wilayah kerja Puskesmas Hanura. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel adalah penderita malaria vivax selama kurun waktu enam bulan terakhir yaitu April - September 2019. Didapatkan proporsi tinggi penderita malaria vivax tidak patuh dalam minum obat yaitu sebesar 53,4%. Dimana perempuan memiliki kepatuhan minum obat yang lebih tinggi daripada laki-laki. Sebesar 51,1% pasien berusia ≥ 17 tahun memiliki kepatuhan yang tinggi daripada usia < 17 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, usia, dan pengalaman menderita malaria sebelumnya dengan kepatuhan minum obat
HUBUNGAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) DENGAN SENSITIVITAS KAKI PADA PENDERITA DIABETES TIPE II
Hiperglikemi kronis dapat menyebabkan sel endotel pembuluh darah dan sel saraf menjadi hiperglisolia. Kondisi ini mengakibatkan perubahan berbagai jalur biokimia, salah satunya protein kinase C (PKC) yang menyebabkan penebalan pembuluh darah sehingga terjadi penurunan nilai ABI. Penurunan nilai ABI akan mengganggu metabolisme sel Schwann sehingga hantaran saraf perifer mengalami gangguan. Terganggunya hantaran saraf perifer akan menyebabkan penurunan sensitivitas kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ankle brachial index (ABI) dengan sensitivitas kaki pada penderita diabetes tipe II. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 86 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan spygmonanometer digital dan monofilament 10 g. Hasil uji Chi square di dapatkan p=0,000 menunjukan bahwa ada hubungan ABI dengan sensitivitas kaki pada penderita diabetes mellitus tipe II. Penurunan nilai ABI akan diikuti dengan penurunan sensitivitas kaki, jika hal ini tidak dicegah akan berisiko menimbulkan kaki diabetik pada penderita diabetes melitus tipe IIHiperglikemi kronis dapat menyebabkan sel endotel pembuluh darah dan sel saraf menjadi hiperglisolia. Kondisi ini mengakibatkan perubahan berbagai jalur biokimia, salah satunya protein kinase C (PKC) yang menyebabkan penebalan pembuluh darah sehingga terjadi penurunan nilai ABI. Penurunan nilai ABI akan mengganggu metabolisme sel Schwann sehingga hantaran saraf perifer mengalami gangguan. Terganggunya hantaran saraf perifer akan menyebabkan penurunan sensitivitas kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ankle brachial index (ABI) dengan sensitivitas kaki pada penderita diabetes tipe II. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 86 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan spygmonanometer digital dan monofilament 10 g. Hasil uji Chi square di dapatkan p=0,000 menunjukan bahwa ada hubungan ABI dengan sensitivitas kaki pada penderita diabetes mellitus tipe II. Penurunan nilai ABI akan diikuti dengan penurunan sensitivitas kaki, jika hal ini tidak dicegah akan berisiko menimbulkan kaki diabetik pada penderita diabetes melitus tipe II
Aplikasi Pemberian Kolostrum terhadap Percepatan Pelepasan Tali Pusat
Background: Colostrum is breast milk for postpartum mothers which is released at the beginning of labor until the 3rd day after the baby is born. It is very important to be given in the first life of the baby because it contains immune substances, especially immunoglobulin (IgA) which can protect babies from infectious diseases. Giving colostrum by applying to the umbilical cord care. Purpose: To determine the effect of the application of colossal distribution on the acceleration of the release of the umbilical cord at the Bara-Baraya Makassar Health Center.Methods: This study used a quasy experimental method with a posttest only control design. The total population in this study were all newborn babies at the Bara-Baraya Makassar Health Center from August to October 2020 as many as 32 babies. Based on these data, the samples in this study were 30 newborns according to the inclusion criteria.Results: Research conducted at the Bara-Baraya Makassar Health Center in 2020 found that from 30 respondents, the average time to release the umbilical cord using colostrum was 5 days. Whereas in the Dry Open group the average time to release the umbilical cord was 6.40 days. The results of the analysis using the Mann Whitney Statistical Test showed the results (Ï-value 0.001). Conclusion: Colostrum administration accelerates the release of the umbilical cord in newborns. It is important to be implemented in the care of newborns and to educate mothers who give birth.Latar Belakang: Kolostrum merupakan ASI ibu postpartum yang dikeluarkan pada awal persalinan sampai dengan hari ke-3 setelah bayi lahir. Ia sangat penting untuk diberikan pada kehidupan pertama bayi karena mengandung zat kekebalan terutama Immunoglobulin (IgA) yang dapat melindungi bayi dari penyakit-penakit infeksi. Pemberian kolostrum dengan mengoleskan pada perawatan tali pusat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh aplikasi pemberian kolosrtum terhadap percepatan pelepasan tali pusat di Puskesmas Bara-Baraya Makassar.Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasy eksperimen dengan rancangan posttest only control design. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi baru lahir di Puskesmas Bara-Baraya Makassar mulai Agustus-Oktober 2020 sebanyak 32 Bayi. Berdasarkan data tersebut yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 Bayi Baru Lahir yang sesuai dengan kriteria Inklusi. Hasil: Penelitian yang di lakukan di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tahun 2020 didapati dari 30 Responden, rata – rata waktu pelepasan tali pusat dengan menggunakan Kolostrum adalah 5 hari. Sedangkan pada kelompok kering terbuka rata-rata waktu pelepasan tali pusat adalah 6,40 hari. Hasil Analisis dengan Uji Statistik Mann Whitney  didapatkan hasil (Ï-value 0,001). Simpulan:  Pemberian kolostrum mempercepat pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir. Ia penting diimplementasikan dalam asuhan perawatan bayi baru lahir dan melakukan edukasi kepada ibu bersali
Perbedaan Determinan Balita Stunting di Pedesaan dan Perkotaan di Provinsi Lampung
Stunting merupakan indikator malnutrisi kronik yang menggambarkan riwayat kurang gizi dalam jangka waktu lama dan berkaitan dengan adanya proses perubahan patologis. Data menunjukan bahwa prevalensi stunting di wilayah pedesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan balita Stunting usia 2 – 5 tahun di pedesaan dan perkotaan. Penelitian ini termasuk penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional. Subjek yang dijadikan kasus adalah balita stunting usia 2-5 tahun yang terdiri dari 32balita stunting di pedesaan dan 32balita stunting di perkotaan. Variabel yang diamati meliputi berat lahir, panjang lahir, tinggi badan ibu, pemberian ASI ekslusif, MP-ASI dini, dan sosial ekonomi. Analisis data dilakukan dengan uji t, mann whitney, uji chi squere dan atau fisher. Hasil penelitian ada perbedaan berat lahir, tinggi badan ibu dan sosial ekonomi di desa dan di perkotaan. Hasil tersebut merekomendasikan agar kegiatan ANC perlu dilakukan secara rutin oleh ibu hamil terkait dengan berat badan lahir serta peran serta Pemerintah daerah untuk meningkatkan status sosial ekonomi warganya
Studi Deskriptif Bahan Tambahan Dilarang Pada Jajanan Pasar di Pasar Kota Bandar Lampung
Pewarna tambahan merupakan zat warna atau bahan lain yang dibuat dengan cara sintetis atau cara kimiawi, atau bahan alami dari tanaman, hewan, mineral atau sumber lainnya yang diekstrak, diisolasi atau terbuat dari akstrak atau isolat dengan atau tanpa perubahan identitas, yang bila ditambahkan atau digunakan ke dalam bahan makanan, obat atau kosmetik, atau ketubuh/bagian tubuh, bisa (sendiri atau karena reaksi dengan bahan lain) menjadi bagian dari warna dari bahan tersebut. Jajanan adalah makanan dan atau minuman yang diolah oleh pengrajin makanan ditempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel. Tujuan Penelitian untuk mengetahui berapa persentase jajanan yang memenuhi persyaratan Permenkes RI No.033 tahun 2013. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Populasi sekaligus sampel adalah jajanan pasar yang dijual di Pasar Kota Bandar Lampung. Pemeriksaan bahan tambahan yang dilarang, dengan cara kualitatif  menggunakan Tes Kit. Hasil penelitian didapatkan 2 sampel (16,67%) positif mengandung rhodamin B, sehingga tidak sesuai persyaratan Permenkes RI No. 033 tahun 2013. Seluruh sampel (100%) tidak mengandung boraks
Literature Review: Perbandingan Efektivitas Platelet Rich Plasma (PRP) dengan Asam Hialuronat (HA) sebagai Terapi Osteoarthritis
The prevalence of osteoarthritis is increasing with age. In osteoarthritis, there is a change in the joint process that fails to repair damaged cartilages and manifestations such as joint narrowing, osteophytosis, subcondral sclerosis, and abnormal bone shape. Pharmacological therapies such as analgesics, corticosteroids, glucosamine, chondroitin sulfate, and non-steroidal anti-inflammatory drugs are used together with viscosupplementation to help and improve the development of arthritis. Intra-articular injection therapy is also used as a good choice for osteoarthritis therapy. Hyaluronic acid (HA) and platelet-rich plasma (PRP) are the two choices of intraarticular therapy that can be used. Hyaluronic acid can reshape cartilage through aggregation with proteoglycans and can improve synovial fluid present in the joints, but therapy with hyaluronic acid has a long-lasting, expensive, and proven effect. Platelet-rich plasma (PRP) is a new therapy. PRP is obtained from blood centrifugation several times. PRP is very easy to get, cheap and non-invasive. PRP contains various growth factors that can regenerate damaged cartilages. PRP can be applied and has the same benefits as HA, but until now there has been no consensus that which is a better outcome between the two therapies. From various literature it is known that PRP is more effective than hyaluronic acid as osteoarthritis therapy
Hubungan Pola Makan, Tingkat Kecukupan Energi, dan Protein dengan Status Gizi pada Remaja
Adolescence is a time of growth and development. The process of growth and development takes place quickly so that the level of adequate protein and energy increases. Diet is an important habit that can affect nutritional status and meet nutritional needs. The research objective was to determine the relationship between diet, energy, and protein adequacy levels with adolescent nutritional status. The research design used analytic observational with the cross sectional approach. The population of all respondents aged 12-16 years at SMP IT Iqra consisting of 491 people with 88 people as the sample, using stratification random sampling technique. Data collection used primary data with the FFQ form and Food Recall for nutritional status using scales and microtoise. Data processing is carried out in several steps, editing, coding, tabulating, entry, and cleaning. Data analysis was univariate and bivariate with the Chi-square test. The results showed that there was a relationship between diet, energy adequacy level, and protein adequacy level with adolescent nutritional status. In conclusion, there is a significant relationship between diet, energy adequacy level, and protein adequacy level with adolescent nutritional status. It is better if schools conduct education about good eating patterns and eating portions by the guidelines for balanced nutrition to the Teens of SMP IT Iqra Bengkulu City so that their normal nutritional status increases
PENILAIAN RISIKO KERJA MENGGUNAKAN METODE HIRARC DI PT. SINAR LAUT INDAH NATAR LAMPUNG SELATAN
PT Sinar Laut Indah is a concrete manufacturing plant that has a risk of occupational accidents and occupational diseases due to exposure to particulates, use of work tools, and work methods. The purpose of this research is to find out what are the dangers in a factory, to assess the risk (risk assessment) and risk control (risk control) at each work stage using the HIRARC method.The work risk assessment uses the HIRARC method, which consists of three stages of assessment, namely hazard identification, risk assessment and risk control. The research subjects were all activities in the paving block production section including tools, materials and work processes. Data collection was carried out by observing and measuring exposure, which was then standardized using two risk assessment parameters, namely probability/likelihood of hazard and severity of the hazard. Risk control is the final stage formulated based on the results of the risk assessment from the previous stage.The results of the study found 4 activities in the high category, mixing and stirring of materials, checking rolling boxes, paving blocks presseing, and cleaning the remaining material. The highest risk of occupational diseases is respiratory problems and skin or eye irritation during the mixing and stirring activities of the ingredients, as well as cleaning the remaining materials. Meanwhile, the highest risk of work-related accidents is in rolling box-checking activities.The use of the HIRARC method and the application of probability/likelihood of hazard and severity of hazard are good enough to assess the risk of occupational accidents and occupational diseases. Carrying out repair and maintenance of machines, determining danger zones, using personal protective equipment, and administrative controls are efforts that must be made to avoid risks due to wor