Ejournal Universitas Warmadewa
Not a member yet
5210 research outputs found
Sort by
Pelaksanaan Jual Beli Bahan Bakar Minyak Melalui Pertamini di Kecamatan Denpasar Utara
Nowadays, people have created creative ideas resembling the machinery at PT Pertamina to make profits with the uneven distribution of fuel oil by creating Pertamini. Pertamini traders are unlicensed traders who prey on unsuspecting customers by selling substandard fuel at inflated prices. This is very contrary to consumer rights. The problems are, How the factors that cause consumers to prefer Pertamini in North Denpasar Subdistrict? and How is the responsibility of fuel oil traders through Pertamini for consumers who are harmed in North Denpasar Subdistrict? This research uses empirical methods with sociological, conceptual and statutory approaches. The research location was carried out in North Denpasar District. Related data collected in this study using primary data and secondary data. Therefore, the researcher concludes that the factors that cause consumers to choose to fill fuel oil in Pertamini are in addition to consumers following the latest technological trends, as well as the advantages of Pertamini, including faster and more practical use. Then, consumers who are disadvantaged regarding the price given through Pertamini are more expensive and the dose given is not in accordance with what should be obtained. Therefore, pertamini traders can be held accountable for the losses suffered by the consumers themselves
Sanksi Hukum Terhadap Rumah Sakit yang Melakukan Pencemaran Lingkungan dengan Sampah Alat-Alat Kesehatan
Hospitals are a double burden on society because despite offering much-needed medical care, they also risk spreading disease and contributing to pollution due to the waste they produce. The formulation of the problem from this study is: How is the legal regulation for hospitals that pollute the environment with medical equipment waste? and What are the legal sanctions against hospitals that pollute the environment with medical equipment waste? This type of research uses normative legal research with the type of approach used is a statutory approach. Legal material is collected through literature studies and the analysis method that researchers will use is qualitative descriptive. The results of the analysis of the regulation of the Hospital Law that pollutes the environment with medical equipment waste are contained in the Law of the Republic of Indonesia Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management. Legal sanctions against hospitals that pollute the environment with plastic medical device waste where hospitals that dispose of medical waste carelessly will be subject to legal sanctions in the form of revocation of the hospital's operating license and punished with a maximum imprisonment of 3 (three) years and a maximum fine of Rp. 3,000,000,000,000,00 (three billion rupiah)".
Covernote Notaris dalam Perjanjian Kredit Perspektif Hukum Jaminan (Studi Kasus PN Kab. Kediri Nomor 107/Pdt.G/2020/PN Gpr)
Credit is the provision of money and types of loans that must be paid back. Credit has a high risk for banks, so notaries as public officials make cover notes in credit agreements. The formulation of the problem discussed is How is the Authority and Responsibility of Notaries in Credit Agreements and How is Legal Protection for Creditors in Credit Agreements Related to the Use of Notary Covernote? The research method used is normative juridical. The results showed that the obligations and responsibilities of notaries in credit agreements are to bridge the interests of creditors and borrowers in making deeds to credit agreements. Lending and borrowing agreements are regulated in the Civil Code Article 1754 to Article 1769. Legal protection for bank creditors in credit agreements using notary covernote in the event of default before the issuance of mortgage rights gives the bank's position only as a concurrent creditor and legal protection for banks is based on Articles 1131 and 1132 of the Civil Code
Penegakan Hukum Bagi Pelaku Pencemaran di Sungai Badung Denpasar
There is so much accumulation of waste every day that this has the potential to increase as the population increases. Waste is a major problem seen from the development of population, so policies are needed to overcome this, one of which is the policy of managing households. The formulation of the problems in this study are How is law enforcement against the perpetrators of pollution in the Badung river Denpasar? What factors are the obstacles in law enforcement against pollution of the Badung Denpasar river basin? The research method used is empirical legal research with field data as the main data source, such as the results of interviews and observations. There is a need for cooperation between DLHK and village officials to carry out socialization to the community regarding the impact of garbage pollution due to garbage disposal, as well as the participation of traditional interpreters in terms of addressing issues about garbage by urging people not to directly throw their garbage into the river
Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Pencemaran Limbah Industri di Sungai
Environmental pollution is one of the factors of environmental damage. The development of environmental problems with inadequate law enforcement is becoming increasingly severe. Based on the background, the problem formulation is: What are the legal regulations regarding industrial waste pollution in rivers? What are the criminal sanctions for perpetrators of criminal acts of industrial waste pollution in rivers? The aim of the research is to regulate the law regarding industrial waste pollution in rivers. To find out criminal sanctions against perpetrators of criminal acts of industrial waste pollution in rivers. This thesis research uses normative juridical research methods, with a library approach. Sources of legal materials consist of primary, secondary and tertiary legal materials. The research results show that regulations regarding industrial waste pollution in rivers are regulated in the 1945 Constitution, UURI No. 4/1982 concerning the basic provisions of environmental management to UURI No. 23/1997 concerning environmental management, UURI No. 32/2009 concerning environmental protection and management, PP No. 22/2021 2021 Concerning the Implementation of Environmental Protection and Management. There are two types of sanctions against perpetrators of industrial waste pollution in rivers, namely criminal sanctions and administrative sanctions. UURI No. 32/2009 concerning Environmental Management and Protection provides administrative sanctions from Article 76 to Article 83 of the UUPPLH and criminal sanctions regulated in Chapter XV, namely from Article 97 to Article 120 of the UUPPLH. Sanctions against perpetrators of waste pollution who do not follow the regulations regarding B3 waste management are contained in article 102
Sanksi Pidana Terhadap Tindak Pidana Korupsi yang Dilakukan Ketua LPD Desa Adat Kapal
Perkembangan zaman saat ini membawa banyak sekali dampak negatif terutama manusia dalam memenuhihasratnya serta kebutuhannya seringkali melakukan bermacam cara dalam memenuhi hal tersebut seperti halnyamelaksanakan tindakan korupsi. Perbuatan semacam ini di Indonesia sudah menjadi seperti budaya yangdilakukan oleh oknum – oknum yang ingin memperkaya dirinya sendiri walaupun perbuatan nya tersebut nyatanyamerugikan banyak pihak terutama masyarakat kecil. Perbuatan korupsi pada umumnya dilaksanakan oleh oknumyang memegang kekuasaan terhadap jabatan atau kedudukan sehingga memunculkan suatu peluang dalammelakukan korupsi, seperti halnya tindak korupsi yang dilakukan oleh ketua LPD kapal serta beberapaanggotanya, hal ini menunjukan bahwa pemimpin tidak bisa menjaga kepercayaan masyarakatnya. Rumusanmasalah yang angkat adalah Bagaimana pengaturan terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ketuadesa adat Kapal dalam Putusan Nomor 22/Pid.Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019 dan Bagaimana sanksi pidanaterhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ketua LPD Desa Adat Kapal dalam putusan Nomor22/Pid.Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019. Berdasarkan rumusan masalah maka disimpukan tujuan penelitian:Mengidentifikasi dan menganalisis kerangka regulasi atau peraturan hukum yang mengatur tindak pidana korupsiyang dilakukan oleh ketua desa adat Kapal, sebagaimana dijelaskan dalam Putusan Nomor 22/Pid.SusTPK/2018/PN Dps Tahun 2019 dan Menganalisis sanksi pidana yang diberikan kepada ketua LPD Desa AdatKapal dalam Putusan Nomor 22/Pid. Sus-TPK/2018/PN Dps Tahun 2019 sebagai akibat dari tindak pidanakorupsi yang dilakukan. Serta pada penulisan ini menggunakan penelitian hukum normatif. Penerapan sanksipidana terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Terdakwa selaku Ketua LPD Desa Adat Kapaldinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana pada dakwaan primair
Pengaturan Wasiat Wajibah Terhadap Anak Luar Kawin Menurut Kompilasi Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Perdata Pengadilan Agama Denpasar Nomor 363/Pdt.G/2020/Pa.Dps)
Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam mengatur Wasiat Wajibah hanya diberikan untuk anak angkat dan orang tua angkat. Pada Kompilasi Hukum Islam tidak mengatur wasiat wajibah terhadap anak luar kawin, sehingga hal ini menimbulkan kekosongan hukum. Dalam konteks ini, "anak di luar kawin" biasanya mengacu pada anak yang lahir dari hubungan yang di luar batas-batas yang ditetapkan oleh hukum Islam atau dari hubungan yang di luar pernikahan. Tujuan penulisan ini untuk mengkaji tentang pengaturan wasiat wajibah pada Kompilasi Hukum Islam dan mengetahui apakah anak luar kawin mempunyai hak untuk mendapat waris berdasarkan wasiat wajibah menurut Kompilasi Hukum Islam? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus dan perundang-undangan. Hasil studi menunjukan bahwa Wasiat wajibah diatur pada Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam hanya memberikan wasiat wajibah kepada orang tua angkat dan anak angkat. Kompilasi Hukum Islam tidak mengatur pemberian wasiat wajibah kepada anak diluar kawin namun Putusan Pengadilan Agama Denpasar No. 363/Pdt.G/2020/PA.Dps memberikan wasiat wajibah terhadap anak di luar kawin dengan dasar pertimbangan mengisi kekosongan hukum dan hakim memiliki kewenangan untuk melakukan penemuan hukum baru
Tanggung Jawab Bank terhadap Tindakan Phising dalam Sistem Penggunaan E-Banking (Studi: Kasus Phising pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk)
Phishing adalah kejahatan peretasan yang berkembang seiring berjalannya waktu di sektor perbankan, terlebih dengan hadirnya sistem e-banking. UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan, UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini. Metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan kasus. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perlindungan hukum yang diberikan kepada nasabah terkait tindakan phising dalam penggunaan sistem e-banking dilakukan melalui penerapan prinsip kerahasiaan oleh pihak bank. Prinsip ini melibatkan upaya preventif dan represif. Upaya preventif merupakan tindakan pencegahan dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah pencegahan sebelum tindakan phising terjadi kepada nasabah. Sementara itu, upaya represif melibatkan penyelesaian masalah, baik melalui proses hukum di pengadilan maupun di luar pengadilan. Tanggung jawab PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terhadap tindakan phising dalam sistem penggunaan e-banking yaitu melalui penyediaan layanan pengaduan, adanya upaya pemeriksaan dan penyelidikan, serta memberikan dukungan kepada nasabah dalam menemukan solusi terkait kerugian yang mungkin timbul. Dalam menghadapi ancaman tindakan phising dalam sistem penggunaan e-banking maka diharapkan Pemerintah untuk segera membuat regulasi terkait e-banking serta adanya peningkatan pengawasan yang optimal dari berbagai pihak, diantaranya bank, OJK, dan nasabah itu sendiri. Hal ini mengingat tindakan phising sangat memiliki risiko pada perlindungan data milik nasabah dan reputasi bank terkait
Implementasi Jaminan Keselamatan Dan Kesehatan (K3) Pada Pekerja Work From Anywhere (WFA)
The Work From Anywhere (WFA) work system implemented by some companies allows workers to work from various places, which can become workplaces for them. In reality, each location has various potential risks of work accidents, especially if the place is not suitable for work, and often workers are not aware of the risks that may exist. The purpose of this research is to analyze the application of Occupational Safety and Health (OHS) Guarantees for Work From Anywhere (WFA) workers. This research uses an empirical juridical method with a focus on statutory analysis using a conceptual approach, because all data collected through interviews. Data is obtained through interviews with workers who undergo the WFA work system in various companies in Indonesia. The results show that there is currently no expansion of the regulations that have been adopted by the Ministry of Manpower that cover all types of work, including those undergoing WFA. In addition, companies that implement WFA only provide personal insurance to their workers, without clear provisions regarding the application of work in situations where workers experience work accidents while undergoing WFA.Sistem kerja Work From Anywhere (WFA) yang diterapkan oleh beberapa perusahaan memungkinkan pekerja untuk bekerja dari berbagai tempat, yang dapat menjadi tempat kerja bagi mereka. Dalam kenyataannya, setiap lokasi memiliki potensi risiko kecelakaan kerja yang beragam, terutama jika tempat tersebut tidak sesuai untuk bekerja, dan sering kali pekerja tidak menyadari risiko yang mungkin ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pekerja Work From Anywhere (WFA). Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan fokus pada analisis perundang-undangan menggunakan pendekatan konseptual, karena semua data yang dikumpulkan melalui wawancara. Data diperoleh melalui wawancara dengan pekerja yang menjalani sistem kerja WFA di berbagai perusahaan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini belum ada perluasan regulasi yang telah diadopsi oleh KEMNAKER yang mencakup semua jenis pekerjaan, termasuk mereka yang menjalani WFA. Selain itu, perusahaan yang menerapkan WFA hanya memberikan asuransi pribadi kepada pekerjanya, tanpa ketentuan yang jelas terkait penerapan kerja dalam situasi di mana pekerja mengalami kecelakaan kerja saat menjalani WFA
Tradisi Bakar Batu Dalam Perspektif KUHP Baru
Pentingnya penulisan ini yakni guna memahami pelaksanaan tradisi bakar batu di Papua dan menganalisisnya dari perspektif KUHP Baru. Hal ini dikarenakan tradisi tersebut merupakan media penyelesaian konflik yang menjadi penghubung antar pihak berselisih sebagaimana sesuai dengan konsep keadilan restoratif. Tradisi ini dapat memenuhi keadilan yang sesuai dengan naluri kebangsaan sebagaimana mandat dari ideologi negara sehingga dapat merepresentasikan upaya pembinaan hukum nasional dengan menerapkan hukum baru melalui Pasal 2 sebagai bagian dari pembaharuan KUHP. Berdasarkan pada pembaharuan KUHP, dimungkinkannya pemberlakuan the living law dengan batasan pemberlakuannya. Adapun tradisi bakar batu merupakan tradisi yang hidup di dalam masyarakat Papua sebagai tradisi yang digunakan sebagai penyelesaian konflik dalam perkara pidana maupun perkara adat. Adapun objek kajian pada penulisan hukum normatif ini adalah penemuan hukum in concreto dengan pendekatan statute dan conceptual. Pendekatan statute digunakan karena penulis mengkaji KUHP Baru tepatnya pada Pasal 2 mengenai the living law. Sedangkan pendekatan conceptual untuk memahami konsep tradisi bakar batu dan keterkaitannya dengan prinsip-prinsip atau norma yang berlaku di masyarakat. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode studi pustaka dan dianalisis secara kualitatif. Adapun hasil penulisan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi bakar batu adalah sanksi adat sebagai penyelesaian perkara yang dapat dijadikan sebagai bentuk pemidanaan terhadap perbuatan yang dinyatakan terlarang berdasarkan the living law yang diatur pada Pasal 2 dengan membayarkan denda. Selain itu, tradisi bakar batu sesuai dengan limitasi yang juga diatur pada Pasal 2 KUHP Baru yang pada intinya tidak bertentangan dengan prinsip atau norma yang berlaku di masyarakat