CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
Not a member yet
376 research outputs found
Sort by
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEBOBO KOTA KUPANG
ABSTRAKBerat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Berat Badan Lahir Rendah termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonates, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR adalah berat badan, paritas, jarak kehamilan, status gizi (LILA) dan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Oebobo Kota Kupang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian retrospektif korelasional dengan pendekatan yang digunakan adalah case control. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan kelompok kasus 19 responden dan kelompok kontrol 19 responden. Hasil uji statistik menggunakan uji spearman dengan taraf signifikan 0,05 untuk faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR didapatkan p-value (p<0,05) yaitu jarak kehamilan, status gizi (LILA) dan anemia yang ada hubungan dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR). Faktor dominan dari kejadian BBLR adalah anemia. Artinya Ibu dengan kadar Hb < 11 g/dl pada saat hamil memiliki risiko 72,536 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan dengan ibu yang kadar Hb > 11 g/dl. Keyword : Berat badan lahir rendah (BBLR), jarak kehamilan, status gizi (LILA) dan Anemia. ABSTRACT Low birth weight is a newborn baby with a birth weight less than 2500 grams. Low Birth Weight including major factor in the increase in mortality, morbidity and disability neonates, infants and children as well as provide long-term impact on his/her life in the future. Many factors affect the incidence of low birth weight is the weight of mother, parity, pregnancies spacing, nutritional status (LILA) and anemia. This study aims to analyze the factors that affect the incidence of LBW in Puskesmas Oebobo Kupang. The design of the study is a correlational retrospective study of with the approach used is case control. Sampling using simple random sampling technique with 19 respondents case group and 19 respondents control group. Statistical test results using Spearman test with significance level of 0.05 for the factors that influence the incidence of low birth weight was obtained p-value (p <0.05), the distance of the pregnancy, nutritional status (LILA) and anemia in connection with the incidence of birth weight low (LBW). The dominant factor of LBW is anemia. Meaning Mom with Hb < 11 g / dl during pregnancy have an increased risk 72.536 times for having a baby with low birth weight than mothers with Hb > 11 g / dl. Keyword : Low birth weight (LBW), spacing pregnancies, nutritional status (LILA) and anemi
STRATEGI PROMOSI MELALUI ADVOKASI DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA TERHADAP PEMBERIAN MAKANAN BERGIZI BALITA 0-23 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS ALAK NUSA TENGGARA TIMUR
Introduction. Intake of nutritional and nutritional foods is the key to growth of infants. But for mothers with low education do not understand the importance of providing nutritious food for their infants aged 0-23 months. Purpose. Analyze the effectiveness of health promotion through advocacy and training of mothers in Alak Community Health Center. Methods. The study used analytical survey with cross sectional approach. Mother Research Population with 0-23 month old baby counted 257 people. Sampling technique sampling purposed 132 respondents. Data analysis technique using Chi Square and Odd Ratio. Results. Advocacy mothers have tendency to manage nutritious food 7.90 times compared mothers who are not advocated with Relative Risk 2.14, meaning that advocates have 2.14 times more chance managing nutritious food than mothers who do not get advocacy. While the mothers who received training have tendency 10 times greater applying nutritious food processing than mothers who are not trained, with Relative Risk 2.05. This means the opportunity to manage nutritious food 2.05 times greater than mothers who are not trained. Conclusion. Advocacy and empowerment in the form training is health promotion strategy to increase knowledge and skills of mothers about the management of nutritious food to support the growth of infants aged 0-23 months.Keyword. Advocacy strategies, empowerment, healthy babie
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS PADEDIWATU KABUPATEN SUMBA BARAT
ABSTRACT Pregnancy is the beginning of a new life period of growth. The period of pregnancy is a very important period for the formation of quality human resources in the future, because the growth of children will be determined by the conditions at the time the fetus in the womb. Anemia is a health problem especially for women of reproductive age and pregnant women. The most common causes of anemia in pregnancy are iron deficiency, folic acid, and acute bleeding and can occur due to interactions between the two.The purpose of this study was to find out the description of factors That affecting anemia in pregnant women at Padediwatu Sumba Barat Public Health Center.The method used in this research is descriptive with cross sectional study design. Total respondent 63 with sampling technique using total sampling with instrument used in this research is questionnaire.Respondents with age category 20-30 years with high school education level, diet always, adhering to consume tablet Fe, socioeconomic status of minimum and maximum wage, with distance of pregnancy> 2 years and most respondents had mild anemia.For respondents who have anemia still maintain the condition so it does not arrive at severe anemia. Keywords: Anemia, Pregnant Woman
SURVEI MOBILISASI DINI PADA IBU POST PARTUM DI RUANG FLAMBOYAN DAN SASANDO RSUD. PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
ABSTRAKMobilisasi dini merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya. Mobilisasi dini dapat di lakukan 2 jam pada post partum normal dan 6 jam pada post partum SC. Penting dilakukan mobilisasi dini karena kematian ibu terbanyak terjadi pada masa nifas dimana penyabab utamanya adalah perdarahan pasca persalinan. Hal ini disebabkan oleh kontraksi uterus yang kurang baik sehingga tidak dapat menutup pembuluh darah bekas implantasi plasenta.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mobilisasi dini pada ibu post partum di ruang flamboyan dan sasando RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan survey. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 44 responden. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 responden terdapat 30 responden yaitu (68,2%) ibu post partum normal dan 14 responden yaitu (31,8%) ibu post partum SC semuanya melakukan mobilisasi dini dengan baik. Pada ibu post partum normal pada 2 jam pertama dapat melakukan semua tahap mobilisasi dini dan pada ibu SC pada 6 jam pertama hanya dapat melakukan sampai pada tahap nomor 7.Dari hasil penelitian ini diharapkan agar peran perawat dan bidan dalam memberikan penyuluhan dan pendampingan harus di tingkatkan lagi. Kata kunci : mobilisasi dini
SURVEY FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU POST PARTUM DI PUSKESMAS ALAK KOTA KUPANG
ABSTRAK Pemberian nutrisi yang optimal sejak dini dapat diberikan melalui pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi baru lahir. ASI merupakan cairan yang terbaik bagi bayi baru lahir sampai usia 6 bulan karena mengandung berbagi komponen antibodi, nutrisi yang lengkap dan mudah dicerna oleh bayi baru lahir dibandingkan dengan susu formula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada ibu post partum di Puskesmas Alak Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 47 orang yang didapat dengan menggunakan teknik consecutive sampling sesuai dengan kriteria sampel yang ditetapkan. Data diambil dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini terdiri dari 4 variabel faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada ibu post partum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51% subjek memiliki tingkat pengetahuan rendah, 89 % tidak mengalami masalah psikologi, 36% mengalami masalah kesehatan dan 51 % mengalami masalah sosial budaya. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan kepada pihak tenaga kesehatan perlu mengadakan penyuluhan dan promosi kesehatan kepada masyatakat khususnya pada ibu-ibu menyusui tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir. Kata kunci: Pemberian ASI eksklusif, pengetahuan, psikologis, kesehatan, sosial budaya
PENGETAHUAN GIZI, PERILAKU JAJAN, DAN STATUS GIZI SISWA SEKOLAH DASAR GMIT KUANINO KOTA KUPANG
ABSTRAKAnak sekolah dasar merupakan aset negara yang sangat penting bagi keberhasilan pembangunan bangsa yang harus disiapkan kesehatannya sejak dini, baik secara fisik maupun mental. Akan tetapi, banyak anak sekolah dasar yang mengalami masalah gizi, yaitu kurang gizi (stunting dan wasting) dan gizi lebih (overweight dan obesitas). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan adanya masalah gizi pada anak sekolah yang harus menjadi perhatian semua pihak. Secara nasional prevalensi pendek pada anak umur 5-12 tahun adalah 30,7%, kurus 11,2%, dan gemuk 18,8%. Banyak faktor yang berkaitan dengan terjadinya masalah gizi, antara lain pengetahuan gizi dan perilaku jajan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan gizi, perilaku jajan, dan status gizi siswa SD GMIT Kuanino Kupang. Jenis penelitian ini adalah cross-sectional. Adapun responden penelitian adalah siswa kelas V dan VI dengan sampel sebanyak 148 siswa. Hasil yang diperoleh yaitu lebih banyak responden berjenis kelamin laki-laki yang berpengetahuan gizi kurang dibandingkan perempuan, tetapi responden berjenis kelamin laki-laki berperilaku jajan lebih baik dibandingkan perempuan. Sebagian besar responden berstatus gizi normal (57.40%) sedangkan responden yang kurus sebesar 34.50% dan obesitas 2.70%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian besar responden telah memiliki perilaku jajan yang baik, tetapi tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi responden yang masih rendah. Perlu ada upaya berkelanjutan untuk peningkatan pengetahuan gizi siswa. Kata kunci: status gizi, pengetahuan gizi, perilaku jajan, anak sekolah dasar ABSTRACTElementary school children are nation’s assets that will play vital roles in the development of our country whose health must be prepared early, both physically and mentally. However, many elementary school children have nutrition-related health problems, such as malnutrition (stunting and wasting), overweight and obesity. Based on 2013 Riskesdas, there were nutritional problems that should become the concern of all parties involved. The prevalence of stunting in children aged 5-12 years is 30.7%, 11.2 for wasting and 18.8% for overweight cases. Many factors can be associated with nutritional problems, such as nutrition knowledge and snacking behavior. The aim of this study is to describe knowledge about nutrition, snacking behavior, and nutritional status of elementary school students at SD GMIT Kuanino, Kupang. The study was cross-sectional and involving the total samples of 148 students. The results showed that male respondents had less knowledge about nutrition than female respondents, yet males respondents had better snacking behavior that female respondents. Most respondents had a normal nutritional status (57.40%), stunting 34.50%, and obsessed 2.70%. It is concluded that even though most respondents have good snack behavior, their nutritional knowledge is still low. There needs to an on going effort to increase students’ knowledge on nutrition. Keywords: nutritional status, nutritional knowledge, snacking behavior, elementary school childre
HUBUNGAN KARAKTERISTIK DAN FREKUENSI KEMOTERAPI DENGAN TINGKAT GANGGUAN FISIK (ALOPESIA, NAUSEA DAN VOMIT)PADA PASIEN KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RUANGAN MUTIS RSUD Prof. Dr. W. Z. JOHANNES KUPANG
Latar Belakang:Kanker adalah suatu penonjoloan atau pertumbuhan tidak wajar yang dapat terjadi pada setiap bagian tubuh, kanker biasanya di rawat dengan kemoterapi. Frekuensi pemberian kemoterapi dapat menyebabkan beberapa efek seperti mual, muntah, kerontokan, kehilangan berat badan, perubahan rasa, konstipasi, diare, perubahan emosi, dan supresi sumsum tulang.Tujuan:Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik dan frekuensi kemoterapi dengan tingkat gangguan fisik (alopesia, nausea dan vomit) pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di Ruangan Mutis RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.Metode:Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah retrospektif dengan rancangan penelitian cross sectional. Total responden 63 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner dan lembar observasi.Hasil :Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan nilai signifikasi 0,110, 0,147, 0,193, 0,393, 0,320 nilai tersebut lebih besar dari nilai α = 0,05 (p >0,05) artinya tidak ada hubungan antara karakteristik dengan tingkat gangguan fisik (alopesia, nausea dan vomit), dan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan nilai signifikansi 0,001 nilai tersebut lebih kecil dari nilai α = 0,05 (p < 0,05) artinya ada hubungan antara frekuensi kemoterapi dengan tingkat gangguan fisik (alopesia, nausea dan vomit)Kesimpulan:Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien kanker dengan tingkat gangguan fisik (alopesia, nausea dan vomit), ada hubungan yang signifikan antara frekuensi kemoterapi dengan tingkat gangguan fisik (alopesia, nausea dan vomit) Kata kunci: Kanker, Kemoterapi, Karakteristik, Frekuensi, Gangguan Fisik.
PENGETAHUAN IBU TENTANG PENGGUNAAN KMS BERHUBUNGAN DENGAN PERTUMBUHAN ANAK 6-24 BULAN
ABSTRAKAnak merupakan generasi penerus bangsa yang perlu untuk dijaga kualitas hidupnya agar dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Pertumbuhan anak dapat dipantau melalui Kartu Menuju Sehat (KMS). Melalui KMS, gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat. Pengetahuan ibu tentang isi KMS sangat penting dalam pemantauan pertumbuhan anak. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang KMS dengan pertumbuhan anak 6-24 bulan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah cross-sectional dengan metode studi kasus. Responden penelitian adalah semua anak 6-24 bulan yang berada di Posyandu Kasih Bunda dan Posyandu Harapan Kasih di wilayah kerja Puskesmas Sikumana, Kota Kupang. Sampel penelitian sebanyak 35 anak. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang penggunaan KMS (51.43%). Sebanyak 71.43% anak bertumbuh dengan baik. Hasil uji statistik menunjukkan pengetahuan ibu tentang penggunaan KMS berhubungan signifikan dengan pertumbuhan anak 6-24 bulan (p <0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang penggunaan KMS berhubungan secara signifikan dengan pertumbuhan anak 6-24 bulan. Oleh karena itu peningkatan pengetahuan ibu tentang KMS perlu ditingkatkan secara berkesinambungan sehingga anak dapat bertumbuh secara optimal. Kata kunci: pengetahuan ibu, penggunaan KMS, pertumbuhan anak. ABSTRACTChildren are nation’s future generation whose life quality must be maintained so that they can grow and develop optimally. Children’s growth can be monitored through KMS (Kartu Menuju Sehat). With KMS, growth disorders and the risk of nutrients excess can be caught early so the preventive measures can be done more quickly before the problem become more severe. Mothers’ knowledge about the content of KMS is very important to children growth monitoring. The purpose of this research is to determine the relationship between mother’s knowledge about KMS and the growth of children of 6-24 months of age at Posyandu Kasih Bunda dan Posyandu Harapan Kasih in Puskesmas Sikumana, Kupang. There were 35 children chosen as study samples. The results showed that 51.43% of mothers have good knowledge about the use of KMS, and about 71.43% of 6-24 months children have good growth. Statistical test indicates that mother’s knowledge about the use of KMS correlates significantly with the growth of children aged 6-24 months. It is suggested that mothers’ knowledge be continuously improved in order to ensure the optimal growth of their children. Keywords: mothers’ knowledge, the use of KMS, children’s growth
KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MANAJEMEN CAIRAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA
ABSTRAKPasien penyakit ginjal kronik yang melakukan hemodialisa tentunya akan dianjurkan untuk melakukan diit makanan dan cairan yang sesuai agar tidak memperparah kerja dari ginjal. Selain itu makanan dan cairan yang dikonsumsi juga dapat dipergunakan sepenuhnya oleh tubuh. Kondisi ini kadang tidak sepenuhnya dijalani oleh pasien PGK yang menjalankan hemodialisa. Salah satu masalah yang sering ditemukan pada pasien PGK yang menjalani hemodialisa adalah ketidak patuhan terhadap asupan cairan. Oleh karenanya diperlukan peran serta keluarga untuk mendampingi pasien selama perawatannya dengan pemberian konseling analisis transaksional pada keluarga akan meningkatkan kemampuan pemahaman keluarga dalam merawat klien dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh konseling analisis transaksional keluarga terhadap kepatuhan manajemen cairan pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialis. Desain dalam penelitian ini adalah quasy experimental pre-post tes with control group design. Kelompok intervensi akan diberikan konseling analisis transaksional sedangkan kelompok kontrol akan diberi konseling menyesuaikan protap yang ada di bangsal. Sampelnya penelitian sebanyak 40, adapun 20 kelompok intervensi dan 20 kelompok kontrol. Hasil penelitian menggunakan uji wilcoxon menunjukan bahwa pada kelompok intervensi terdapat pengaruh pemberian konseling keluarga pada kelompok intervensi. Pada kelompok kontrol terdapat pengaruh pemberian intervensi sesuai protap rumah sakit pada kelompok kontrol. Hasil uji Mann-Whitney diperoleh nilai p = 0,001. Nilai p < 0,05 mempunyai arti bahwa ada pengaruh konseling analisis transaksional keluarga terhadap kepatuhan manajemen cairan pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisa pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Oleh karena itu perlunya perhatian dari perawat tentang pentinya peran serta keluarga dalam memperhatikan pasien dalam menjalankan manajemen cairan dan diit yang tepat selama hemodialisa. Kata Kunci : Konseling Keluarga, Managemen Cairan, Penyakit Ginjal Kronik. ABSTRACTPatients of Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing haemodialysis will surely be advised to undergo appropriate food and fluid diet in order not to worsen kidney performance, while at the same time ensure that the food and fluid consumed are fully utilized by the body. Such diet, however, are not usually faithfully followed by CKD patients. In other words, the problem is that the patients show disobedience when following such strict diet. Therefore, family’s role is urgently needed in supervising the patients during their treatment. This can be obtained by giving the family of the patients family transactional analysis counselling which is expected to increse family’s understanding in treating CKD patients and helping them improve their quality of life. The purpose of this research was to identify the influence of family transactional analysis counselling on fluid management obedience by CKD patients undergoing haemodialysis. This was a quasy experimental research with pre-post test with control group design. Intervention group would be given transactional analysis counselling whereas control group would be given counselling as stated by wards’ fixed standards. There were 40 samples, divided evenly into two groups: intervention and control. Wilcoxon test applied to the results of this research showed that in intervention group there was influence of family transactional analysis counselling toward the samples in the group. This also happened in the control group. Mann-Whitney test indicated p=0.001. With p < 0.05, it is concluded that there is influence of family transactional analysis councelling on fluid management obedience by patients with CKD undergoing haemodialysis both in intervention and control group in RSUD W.Z. Johannes Kupang. Therefore, it is important that nurses take into consideration family’s participation in taking care of the patients in following fluid management and appropriate diet during haemodialysis. Kata Kunci : Camily Counseling, Fluid Management, Chronic Kidney DIseas
EFEKTIFITAS RENDAM KAKI DENGAN AIR HANGAT TERHADAP PERUBAHAN NILAI ANKLE BRAKIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEPOI KOTA KUPANG
Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang menyebabkan aterosklerosis sehingga akan terjadi Penyakit Arteri Perifer (PAP). Salah satu pemeriksaan untuk mendiagnosis PAP adalah pemeriksaan ankle brakial index (ABI). Merendam kaki dengan air panas/hangat merupakan prosedur yang sederhana tetapi efektif terhadap sirkulasi darah dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas rendam kaki dengan air hangat terhadap perubahan ABI pada pasien hipertensi di rumah di wilayah kerja Puskesmas Oepoi Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasy-experiment, dengan rancangan penelitian Non-randomized Pre-test Post-test With Control Group Design. Teknik pengambilan sampel menggunakan systematic sampling dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu perlakuan/A dan kontrol/B. Setiap responden kelompok perlakuan/A mendapat terapi sebelum dan setelah sebanyak 5 kali dalam 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan kelompok perlakuan/A mengalami penurunan nilai ABI sebanyak 0,084 sedangkan kelompok kontrol/B sebagian responden tidak mengalami penurunan nilai ABI. Hasil uji t pada kelompok perlakuan/A diperoleh nilai. Kata kunci: Nilai ankle brakial index (ABI), Hipertensi, Rendam kaki dengan air hangat