Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
ANALYSIS OF HOUSEHOLD'S INCOME AND WELFARE IN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PROGRAMS (CASE STUDY IN THE TAMAN KEHATI-FARMER GROUP EMPOWERED BY PT AQUA GOLDEN MISSISSIPI)
Perusahaan sebagai aktor pembangunan ekonomi nasional harus berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan lingkungan sekitarnya, bentuk kepedulian tersebut melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang telah melaksanakan program CSR yaitu PT. Aqua Golden Mississipi yang berlokasi di Desa Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Perusahaan besar tentunya dapat mengoptimalkan bantuan sosialnya untuk dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar perusahaan. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Mendeskripsikan penerapan CSR PT AGM pada kelompok tani Taman Kehati, (2) menganalisis pendapatan rumah tangga sebelum dan sesudah menerima program CSR ECODEV PT. AGM, (3) menganalisis kesejahteraan rumah tangga penerima program CSR ECODEV PT. AGM. Penelitian dilaksanakan di desa binaan sebagai tempat pelaksanaan program ECODEV. Metode yang digunakan adalah analisis pendapatan dan pengeluaran rumah tangga dengan pendekatan Sajogyo (1997), World Bank dan BPS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok tani Taman Kehati ialah kelompok binaan PT. AGM yang bergerak dibidang pertanian, pendapatan rumah tangga petani mengalami peningkatan setelah mengikuti program CSR ECODEV yang berasal dari pendapatan usaha utama. Nilai pengeluaran petani berada diatas kriteria kesejahteraan oleh karena itu, mayoritas rumah tangga petani Kelompok Taman Kehati tergolong dalam kategori rumah tangga tidak miskin.Companies as national economic development actors must contribute to improving the welfare of the surrounding environment, this form of concern is through the Corporate Social Responsibility (CSR) program of companies that have implemented CSR programs, namely PT. Aqua Golden Mississippi is located in Babakan Pari Village, Cidahu District, Sukabumi Regency. Large companies can of course optimize their social assistance to be able to help improve the economy of the community around the company. The aims of this study were (1) to describe the implementation of PT AGM's CSR in Taman Kehati farmer groups, and (2) to analyze household income before and after receiving the PT. ECODEV CSR program. AGM, (3) analyzing the welfare of households receiving the ECODEV PT CSR program. AGM. The research was carried out in the assisted villages as the place for the ECODEV program to be implemented. The method used is an analysis of household income and expenditure using the approach of Sajogyo (1997), the World Bank, and BPS. The results of the study showed that the Taman Kehati farmer group was a group fostered by PT. AGM which is engaged in agriculture, the income of farmer households has increased after participating in the ECODEV CSR program which comes from the main business income. The farmer's expenditure value is above the welfare criteria, therefore, the majority of the Taman Kehati Group farmer households belong to the category of non-poor households
ANALYSIS OF FARMING AND HOUSEHOLD EXPENDITURE OF LOWLAND PADDY FARMERS IN SUNGAI DUA VILLAGE, BANYUASIN REGENCY
Beras merupakan komoditi pangan pokok yang dibudidayakan oleh sebagian besar petani, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, maupun untuk dijual dan ditukar dengan kebutuhan konsumsi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani padi dan pengeluaran rumah tangga petani padi. Penelitian dilakukan di Desa Sungai Dua, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja karena memiliki karakteristik lahan yang khas, yaitu berupa rawa dataran rendah. Sampel penelitian terdiri dari 30 orang petani padi yang diambil secara simple random sampling. Data diolah dengan menggunakan rumus matematis pendapatan usaha tani dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang kemudian dijelaskan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani padi di Desa Sungai Dua sebesar Rp. 19.125.908,00 per musim tanam. Pengeluaran untuk produksi beras dan konsumsi rumah tangga sebesar Rp. 5.935.652,00 dan Rp. 6.004.888,89 per musim tanam. Pendapatan dari usahatani padi di Desa Sungai Dua tidak mencukupi kebutuhan padi petani selama setahun, mengingat intensitas bertanam padi di Desa Sungai Dua hanya setahun sekali. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan solusi melalui berbagai kebijakan dan program yang dapat membantu petani meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraannya tanpa harus meninggalkan usahatani padinya.Rice is a staple food commodity that is cultivated by the majority of farmers, both to meet household food needs, as well as to be sold and exchanged for other consumption needs. This study aimed to analyze the income of rice farming and the household expenditure of rice farmers. The research was conducted in Sungai Dua Village, Banyuasin Regency, South Sumatra Province. The location of the study was determined purposively because it has a distinctive land characteristic, namely in the form of a lowland swamp. The research sample consisted of 30 rice farmers who were taken at simple random sampling. The data was processed using a mathematical formula of farm income and household consumption expenditure, which is then explained in a quantitative descriptive manner. The results showed that the income of rice farming in Sungai Dua Village was IDR. 19,125,908.00 per growing season. Expenditures for rice production and household consumption were IDR. 5,935,652.00 and IDR. 6,004,888.89 per growing season, respectively. The income from rice farming in Sungai Dua Village is not sufficient to cover the needs of rice farmers for a year, considering that the intensity of rice cultivation in Sungai Dua Village is only once a year. Therefore, the government needs to provide solutions through various policies and programs that can help farmers increase their income and improve their welfare without having to leave their rice farming
MACROZOOBENTHOS COMMUNITY AS BIOINDICATOR OF WATER QUALITY FOR FISH CULTIVATION IN THE AIR DUREN RIVER, BANGKA REGENCY
Rivers are one source of water that is often used by humans for their life activities and the habitat for organisms that live in these waters. The quality decreases due to pollutants originating from domestic waste, both liquid waste and solid waste, and is also polluted by difficult organic compounds/chemicals. degraded such as detergents, phosphates or other compounds. One type of aquatic organism that is influenced by changes in the environment and water quality is macrozoobenthos, the sensitivity of macrobenthos to changes that occur in the water, making macrobenthos an indicator of the condition of a water area. This research aims to determine the diversity of macrozoobenthos as a bioindicator of water quality for fish cultivation in the Air Duren River Stream and to determine the water quality of the Air Duren River Stream for Aquaculture activities. Sampling was carried out in the Air Duren River using benthos filters. and analysis at the Aquaculture Laboratory, Faculty of Agriculture, Fisheries and Biology, Bangka Belitung University. Based on the results, it is known that the macrozoobenthos encountered were 6 species with a moderate level of diversit
REVIEW: KAJIAN KONSERVASI IKAN ENDEMIK TERANCAM PUNAH Betta burdigala (Kottelat & Ng, 1994) ASAL PERAIRAN BANGKA SELATAN
Ikan Betta burdigala (Kottelat & Ng, 1994) merupakan ikan endemik asli pulau bangka. Ikan Betta burdigala ini telah terdaftar daftar merah spesies terancam punah Red List-IUCN dengan kategori terancam kritis (Critically Endangered). Penurunan populasi ikan Betta burdigala ini disebabkan akibat adanya degradasi lingkungan, hilang atau berubahnya habitat, introduksi ikan asing dan eksploitasi yang berlebihan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji ikan endemik Pulau Bangka Betta burdigala dan upaya pelestariannya sebagai dasar dalam pengelolaan ikan asli perairan Bangka. Pengelolaan sumber daya alam tidak dapat terlaksana secara efektif jika hanya dilakukan oleh pemerintah. Diperlukan partisipasi masyarakat lokal dalam proses pelaksanaan dan pemantauan pengelolaan sumber daya alam tersebu. Kompleksitas permasalahan yang muncul dalam suatu komunitas seringkali diselesaikan dengan mengacu pada kepekaan komunitas terhadap perlindungan spesies ikan endemik di wilayah tersebut, strategi pengembangan usaha perikanan yang dilaksanakan dengan cara-cara yang bijak dan bertanggung jawab, dengan memperhatikan keberlanjutan ekologi, sosial, ekonomi dan kelestarian sumber daya perikanan. Upaya pelestarian ikan endemik atau lokal dengan cara mengkonservasi pemacuan stok ikan, rehabilitasi lingkungan dan modifikasi habitat dan upaya domestikasinya. Di Pulau Bangka, rehabilitasi perlu dilakukan pada rawa-rawa dan sungai yang tercemar akibat penambangan timah. Upaya yang dapat dilakukan antara lain; membuat kolam untuk menampung limbah agar tidak langsung dibuang ke sungai atau rawa dan menanam tanaman air sebagai tempat berlindung bagi ikan lokal. Selanjutnya benih ikan hasil budidaya (aquaculture) dapat didistribusikan kembali ke habitat aslinya (restocking) untuk menjaga keberadaannya (sustainability)
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR BULU AYAM TERHADAP STATUS HARA NITROGEN DAN PERTUMBUHAN TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) DENGAN HIDROPONIK SISTEM SUMBU
Budidaya tanaman menggunakan teknologi hidroponik semakin berkembang seiring dengan menurunnya luas lahan pertanian setiap tahun karena banyak dialihfungsikan. Kekurangan budidaya secara hidroponik yaitu harga nutrisi yang relatif mahal dan penggunaan bahan kimia pada larutan nutrisi. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan pemanfaatan limbah bulu ayam menjadi pupuk organik cair sebagai pengganti nutrisi anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi pupuk organik cair limbah bulu ayam terhadap status hara nitrogen (N) dan pertumbuhan tanaman pakcoy pada hidroponik sistem sumbu. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2019 sampai April 2020 di Kebun Percobaan dan Penelitian fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kali ulangan dan 4 taraf perlakuan yaitu K0 (AB Mix 100%), K1 (POC 90%), K2 (POC 70%), dan K3 (POC 50%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi Pupuk Organik Cair bulu ayam, jumlah Ntotal dalam jaringan tanaman semakin meningkat. Pemberian pupuk organik cair memberikan pengaruh pertumbuhan tanaman pakcoy. Perlakuan konsentrasi POC 50% menghasilkan pertumbuhan tanaman pakcoy yang terbaik namun lebih rendah dibandingkan dengan AB Mix.Cultivation of plants using hydroponic technology is growing along with the decreasing area of agricultural land every year because it is being converted a lot. Disadvantages of hydroponic cultivation are the relatively expensive price of nutrients and the use of chemicals in nutrient solutions. Efforts that can be made are by utilizing waste chicken feathers to become liquid organic fertilizer as a substitute for inorganic nutrients. This study aims to determine the effect of giving various concentrations of liquid organic fertilizer from chicken feather waste on nitrogen (N) nutrient status, growth and yield of pakcoy plants with hydroponic wick systems. This research was conducted from November 2019 to April 2020 at the Experimental and Research Garden of the Faculty of Agriculture, Fisheries and Biology. This study used a completely randomized design (CRD) with 6 replications and 4 treatment levels of K0 (100% AB Mix), K1 (90% liquid fertilizer), K2 (70% liquid fertilizer), and K3 (50% liquid fertilizer). The results showed that the higher the concentration of chicken feather Liquid Organic Fertilizer, the amount of Ntotal in plant tissue increased. The application of liquid organic fertilizer has an effect on the growth of pakcoy plants. The application of liquid organic fertilizer has an effect on the growth of pakcoy plants. Treatment of 50% liquid fertilizer concentration resulted the best growth of pakcoy plants however lower than AB Mix nutrition
Laut Cina Selatan: Menakar Peran Indonesia Dalam Dewan Keamanan United Nation
Indonesia telah terpilih menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Anggota Tidak Tetap DK PBB) pada periode 2019-2020. Hal ini merupakan salah satu prestasi yang luar biasa, mengingat Indonesia dipercaya oleh negara-negara anggota PBB untuk menjadi salah satu anggota dari Organ Utama PBB yang memiliki tugas untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Wilayah Laut Tiongkok Selatan (LTS) merupakan wilayah yang tengah menjadi sengketa antara negara-negara sekitar yang merasa memiliki klaim atas wilayah tersebut. Sengketa ini telah menjadi perhatian dunia dimana ketegangan-ketegangan sikap yang ditunjukkan oleh negara-negara tersebut semakin hari semakin mencemaskan dalam stabilitas keamanan di wilayah tersebut. Berbagai provokasi dan kebijakan luar negeri dari masing-masing negara dilakukan untuk memenangkan klaim atas wilayah tersebut. Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB memiliki salah satu kewajiban untuk ikut serta dalam menyelesaikan sengketa internasional atas wilayah LTS tersebut yang di klaim oleh negara-negara. Indonesia dapat menjadi pihak penengah untuk memberikan sudut pandang lain dalam menyelesaikan sengketa tersebut secara damai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji keterlibatan Indonesia dalam upaya menyelesaikan sengketa di wilayah LTS berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian hukum normatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti dan mengkaji bahan-bahan pustaka yang telah dikumpulkan oleh tim peneliti. Bahan pustaka yang diteliti dan dikaji terdiri atas bahan primer, bahan sekunder, dan bahan tersier. Pencarian data dilakukan dengan studi pustaka atau studi dokumen dan keseluruhan data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif.Indonesia has been elected as a Non-Permanent Member of the United Nations Security Council (Non-Permanent Member of the UN Security Council) in the 2019-2020 period. This is an extraordinary achievement, considering that Indonesia is trusted by UN member countries to be one of the members of the UN Main Organ which has the task of maintaining world peace and security. The South China Sea (LTS) is an area that is being disputed between neighboring countries that feel they have a claim to the area. This dispute has become the world's attention where the tensions shown by these countries are increasingly worrying about security stability in the region. Various provocations and foreign policies from each country were carried out to win claims to the territory. Indonesia as a non-permanent member of the UN Security Council has one of the obligations to participate in resolving international disputes over the LTS area which is claimed by countries. Indonesia can be a mediator to provide another point of view in resolving the dispute peacefully. The purpose of this study is to examine Indonesia's involvement in efforts to resolve disputes in the South China Sea region based on the 1982 United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982). The method used in this research is normative legal research. This research was conducted by researching and reviewing library materials that had been collected by the research team. The library materials that were researched and studied consisted of primary materials, secondary materials, and tertiary materials. Data search is done by literature study or document study and all data obtained will be analyzed qualitativel
Tafsir Hakim Judex Facti dan Judex Juris Terkait Batas Maksimal Upaya Administratif
Untuk mengajukan upaya administratif berupa keberatan diberikan waktu maksimal 21 hari kerja. Meskipun demikian ada perbedaan penerapan terhadap upaya administratif tersebut antara hakim judex facti dengan hakim judex juris. Hakim judex facti melalui putusan nomor 21/G/2020/PTUN dan 76/B/2021/PT.TUN JKT menerapkan upaya administratif adalah hal yang wajib diterapkan, putusan ini dikuatkan oleh hakim di Pengadilan Tingkat Tinggi Tata Usaha Negara. Namun putusan tersebut dibatalkan oleh hakim judex juris (tingkat Mahkamah Agung) melalui putusan nomor 420 K/TUN/2021. Dasar judex juris melakukan pembatalan terhadap putusan judex facti didasarkan pada frasa “dapat” yang tercantum pada Pasal 75 ayat (1) UU Nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Sehingga upaya administratif melalui keberatan maupun banding administratif merupakan suatu pilihan bukan wajib. Upaya administratif merupakan usaha untuk mewujudkan prinsip Pancasila ke dalam penyelesaian permasalahan administrasi, yakni dalam penyelesaian permasalahan administrasi supaya terlebih dahulu diselesaikan melalui musyawarah mufakat. Apabila musyawarah mufakat tidak bisa menemukan titik perdamaian maka bisa diselesaikan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara.To administrative effort in the form of an objection, a maximum time of 21 working days is given. However, there are differences in the application of these administrative efforts between judex facti judges and judex juris judges. Judex facti judges through decisions number 21/G/2020/PTUN and 76/B/2021/PT.TUN JKT implementing administrative measures are mandatory, this decision was upheld by judges at the State Administrative High Court. However, the decision was annulled by the judge judex juris (Supreme Court level) through decision number 420 K/TUN/2021. The basis for the judex juris to cancel the judex facti decision is based on the phrase "can" as stated in Article 75 paragraph (1) of Law Number 30 of 2014 concerning Government Administration. So that administrative efforts through objections or administrative appeals are an option, not mandatory. Administrative efforts are efforts to realize the principles of Pancasila into the settlement of administrative problems, namely in the resolution of administrative problems so that they are first resolved through deliberation and consensus. If consensus deliberation cannot find a point of peace, it can be resolved through the State Administrative Cour
Kajian Ektoparasit pada Budidaya Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x E. lanceolatus) di Perairan Ringgung dan Durian, Pesawaran, Lampung : Identifikasi, Prevalensi, dan Intensitas
Kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) memiliki nilai strategis dalam marikultur di Indonesia dan menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan di Lampung. Namun keberadaan ektoparasit berpotensi menurunkan produksi kerapu Cantang. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi prevalensi, intensitas, dan identifikasi ektoparasit pada kerapu Cantang di perairan Ringgung dan Durian Kabupaten Pesawaran. Metode penelitian dengan pengambilan sampel secara acak di dua lokasi karamba jaring apung. Pengambilan sampel sebanyak tiga kali dengan jumlah ikan sebanyak 30 ekor pada setiap lokasi. Pengamatan ektoparasit dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Hasil penelitian menunjukan ada 3 jenis ektoparasit yang menginfeksi kerapu cantang di Perairan Ringgung dan Durian yaitu Pseudorhabdosynochus sp., Neobenedenia sp. dan Brooklynella sp.. Ektoparasit Pseudorhabdosynochus sp. memiliki nilai prevalensi 100% pada lokasi satu, dan ektoparasit Brooklynella sp memiliki nilai intensitas 873 ind/ekor pada lokasi dua. Indeks keanekaragaman (H’) pada lokasi satu 0,18 dan lokasi dua 0,10. Indeks keseragaman (e) pada lokasi satu 0,27 dan lokasi dua 0,09. Indeks dominansi (c) pada lokasi satu 0,91 dan lokasi dua 0,96. Berdasarkan hasil tersebut nilai prevalensi tertinggi yaitu pada Pseudorhabdosynocus sp. dan nilai intensitas tertinggi pada Brooklynella sp.. Hasil juga menunjukkan adanya co-infeksi sebesar 30% pada sampel kerapu cantang berasal dari perairan Ringgung. Organ insang dominan terinfeksi oleh Pseudorhabdosynocus sp., sedangkan lendir didominanasi terinfeksi oleh Neobenedenia sp. dan Brooklynella sp.. Dibutuhkan pendekatan lain untuk mengontrol kelimpahan ektoparasit pada budidaya kerapu cantang di Teluk Lampung disamping menggunakan perendaman dengan air tawar yang selama ini dilakukan pembudidaya. The study was conducted to evaluate the prevalence, intensity, and identification of ectoparasites in Cantang grouper in the waters of Ringgung and Durian, Pesawaran Regency, Lampung. Research method with random sampling in two locations of floating net cages in Lampung Bay at Ringgung and Durian waters. Sampling was done three times with a total of 30 fish at each location (10 fish each sampling). Ectoparasite observations were carried out at the Laboratory of Fish and Environmental Health, Main Center for Marine Aquaculture Fisheries of Lampung. The results showed there were 3 species of ectoparasites that infected cantang grouper in Ringgung and Durian waters, namely Pseudorhabdosynochus sp., Neobenedenia sp., and Brooklynella sp. Ectoparasites Pseudorhabdosynochus sp. had a prevalence value of 100% at location one, and ectoparasites Brooklynella sp. had an intensity value of 873 individuals at location two. The diversity index (H’) at location one is 0.18 and at location two is 0.10. The uniformity index (e) at location one is 0.27 and at location two was 0.09. The Dominance index (c) at location one 0.91 and location two 0.96. Based on these results, the highest prevalence value was in Pseudorhabdosynocus sp. and the highest intensity value was in Brooklynella sp.. The results also showed a co-infection of 30% in Cantang grouper samples from Ringgung waters. The gill organs were dominantly infected by Pseudorhabdosynocus sp., while the dominant slime was infected by Neobenedenia sp. and Brooklynella sp
PENGARUH DERAJAT KEMIRINGAN ALAT DAN KETINGGIAN RIFFLE PADA PENINGKATAN KADAR SN SISA HASIL PENGOLAHAN (SHP) TIMAH MENGGUNAKAN SLUICE BOX SKALA LABORATORIUM
PT Babel Utama Korpora mengolah Sisa Hasil Pengolahan yang memiliki konsentrat berkadar rendah sebesar 0,06 %. Penelitian ini bertujuan melakukan pencucian menggunakan alat sluice box untuk meningkatkan kadar Sn. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Bahan Galian di Universitas Bangka Belitung dan Laboratorium eksplorasi PT. Timah Tbk. Penelitian dilakukan sebanyak 9 kombinasi dengan menggunakan variabel derajat kemiringan alat sebesar 3º, 4º, dan 5º. Tinggi riffle sebesar 2,2 cm; 2,3 cm; dan 2,4 cm dengan variabel konstan debit air sebesar 0,63 L/detik dan berat total sampel sebesar 90 kg. Metode analisis yang digunakan adalah analisis GCA (Grain Counting Analysis), XRF Portable dan XRD serta dianalisis statistic data yang diperoleh menggunakan SPSS. Hasil pencucian menggunakan sluice box diperoleh nilai kadar Sn tertinggi dengan pengaturan variabel derajat kemiringan alat sebesar 4º dan tinggi riffle 2,2 cm. Berdasarkan nilai kadar Sn uji GCA (Grain Counting Analysis) dan XRF (X-Ray Fluorescence) Portable sebesar 1,02% dan 0,57%. Hasil recovery tertinggi ada pada sampel 4 yaitu sebesar 37,31 %, sedangkan nilai recovery terendah dari hasil pencucian sebesar 66,83%. PT Babel Utama Korpora mengolah Sisa Hasil Pengolahan yang memiliki konsentrat berkadar rendah sebesar 0,06 %. Penelitian ini bertujuan melakukan pencucian menggunakan alat sluice box untuk meningkatkan kadar Sn. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Bahan Galian di Universitas Bangka Belitung dan Laboratorium eksplorasi PT. Timah Tbk. Penelitian dilakukan sebanyak 9 kombinasi dengan menggunakan variabel derajat kemiringan alat sebesar 3º, 4º, dan 5º. Tinggi riffle sebesar 2,2 cm; 2,3 cm; dan 2,4 cm dengan variabel konstan debit air sebesar 0,63 L/detik dan berat total sampel sebesar 90 kg. Metode analisis yang digunakan adalah analisis GCA (Grain Counting Analysis), XRF Portable dan XRD serta dianalisis statistic data yang diperoleh menggunakan SPSS. Hasil pencucian menggunakan sluice box diperoleh nilai kadar Sn tertinggi dengan pengaturan variabel derajat kemiringan alat sebesar 4º dan tinggi riffle 2,2 cm. Berdasarkan nilai kadar Sn uji GCA (Grain Counting Analysis) dan XRF (X-Ray Fluorescence) Portable sebesar 1,02% dan 0,57%. Hasil recovery tertinggi ada pada sampel 4 yaitu sebesar 37,31 %, sedangkan nilai recovery terendah dari hasil pencucian sebesar 66,83%. 
PERAN MEDIA MASSA DAN UPAYA MITIGASI BANJIR ROB DI PANTAI PASIR PADI KOTA PANGKALPINANG
Banjir Rob dengan dampak terbesar terjadi sejak Januari tahun 2021 sampai dengan Januari tahun 2023 di Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang. Hal ini menjadi perhatian sekaligus keprihatinan seluruh elemen masyarakat, mulai dari masyarakat yang tinggal di wilayah Pantai Pasir Padi, pelaku usaha, pengelola, pengunjung, pemerintah, dan tentunya media massa. Perhatian ini terutama tertuju pada intensitas banjir Rob yang semakin sering terjadi, dampaknya terhadap infrastruktur yang ada di Pantai Pasir Padi seperti jalan aspal, bangunan usaha, sampai dengan resiko bencana yang akan terjadi jika banjir ini tidak segera ditangani. Agenda Setting Theory Maxwell McCombs dan Donald L.Shaw digunakan untuk menganalisis fungsi media massa melalui pemberitaannya secara online dalam upaya membentuk opini publik dan mendorong peran masyarakat terkait permasalahan lingkungan yang mengancam wilayah Pantai Pasir Padi dikaji dalam artikel ini. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa secara substansi pemberitaan media massa telah menginformasikan terkait banjir Rob dan dampak yang ditimbulkannya, namun belum menyentuh kesadaran terkait permasalahan lingkungan utama yang menjadi penyebabnya. Sebanyak 30 media massa online dianalisis isi pemberitannya terkait banjir Rob, dengan hasil: (1) jumlah pemberitaan sebanyak 36 pemberitaan; (2) kategori pemberitaan yang dimuat dalam bentuk artikel dan video didominasi oleh pemberitaan terkait peran pemerintah kota dalam memberikan peringatan/himbauan/turun langsung ke lokasi, dan pemberitaan yang sifatnya menginformasikan kejadian banjir Rob; dan (3) intensitas pemberitaan paling banyak sebesar17 kali pada tanggal 13 Januari 2021 sebab ini merupakan pertama kali terjadi banjir Rob terbesar di Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang. Banjir Rob dengan dampak terbesar terjadi sejak Januari tahun 2021 sampai dengan Januari tahun 2023 di Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang. Hal ini menjadi perhatian sekaligus keprihatinan seluruh elemen masyarakat, mulai dari masyarakat yang tinggal di wilayah Pantai Pasir Padi, pelaku usaha, pengelola, pengunjung, pemerintah, dan tentunya media massa. Perhatian ini terutama tertuju pada intensitas banjir Rob yang semakin sering terjadi, dampaknya terhadap infrastruktur yang ada di Pantai Pasir Padi seperti jalan aspal, bangunan usaha, sampai dengan resiko bencana yang akan terjadi jika banjir ini tidak segera ditangani. Agenda Setting Theory Maxwell McCombs dan Donald L.Shaw digunakan untuk menganalisis fungsi media massa melalui pemberitaannya secara online dalam upaya membentuk opini publik dan mendorong peran masyarakat terkait permasalahan lingkungan yang mengancam wilayah Pantai Pasir Padi dikaji dalam artikel ini. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa secara substansi pemberitaan media massa telah menginformasikan terkait banjir Rob dan dampak yang ditimbulkannya, namun belum menyentuh kesadaran terkait permasalahan lingkungan utama yang menjadi penyebabnya. Sebanyak 30 media massa online dianalisis isi pemberitannya terkait banjir Rob, dengan hasil: (1) jumlah pemberitaan sebanyak 36 pemberitaan; (2) kategori pemberitaan yang dimuat dalam bentuk artikel dan video didominasi oleh pemberitaan terkait peran pemerintah kota dalam memberikan peringatan/himbauan/turun langsung ke lokasi, dan pemberitaan yang sifatnya menginformasikan kejadian banjir Rob; dan (3) intensitas pemberitaan paling banyak sebesar17 kali pada tanggal 13 Januari 2021 sebab ini merupakan pertama kali terjadi banjir Rob terbesar di Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang