E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
KESENIAN BADAWANG DAN PERKEMBANGANNYA (KECAMATAN RANCAEKEK, KABUPATEN BANDUNG)
ABSTRAK
Seni badawang merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang hidup dan berkembang di wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Kabupaten Bandung. Pada awalnya, kesenian badawang khususnya di Rancaekek diperkenalkan oleh seniman bernama Pak Een Rachmat. Kemudian Pak Een Rachmat mendirikan Lingkung Seni Tumaritis sebagai wadah seniman badawang di Rancaekek. Saat ini kesenian badawang dilanjutkan oleh generasi penerusnya yang merupakan anggota grup Tumaritis untuk dapat mempertahankan kesenian badawang sebagai warisan budaya. Seiring perkembangannya, kesenian badawang yang semakin dikenal juga memberi pengaruh terhadap hadirnya grup kesenian badawang yang baru di Rancaekek. Regenerasi itu berlangsung sebagai salah satu usaha untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan kesenian tersebut. Tulisan ini, merupakan deskripsi analisis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teori yang digunakan, yaitu teori pewarisan budaya. Temuan dari hasil penelitian ini yaitu, membahas hasil model pewarisan budaya dari Lingkung Seni Tumaritis dengan transmisi vertikal, transmisi horizontal, dan transmisi miring. Proses pewarisan kesenian ini dilakukan menggunakan konsep internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Ada pun beberapa faktor internal dan eksternal sebagai pendukung ataupun penghambat dalam proses pewarisan seni badawang.
Kata Kunci: Kesenian Badawang, Lingkung Seni Tumaritis, dan Pewarisan Budaya
ABSTRACT
Badawang art is a form of folk art that lives and develops in the West Java region, especially in the Bandung Regency area. At first, badawang art, especially in Rancaekek, was introduced by an artist named Pak Een Rachmat. Then Mr. Een Rachmat founded the Tumaritis Art Circle as a forum for badawang artists in Rancaekek. Currently badawang art is continued by the next generation who are members of the Tumaritis group to be able to maintain badawang art as a cultural heritage. Along with its development, the art of badawang which is increasingly recognized also has an influence on the presence of a new badawang art group in Rancaekek. The regeneration takes place as one of the efforts to be able to maintain and develop the arts. This paper is a description of the analysis using qualitative research methods. The theory used is the theory of cultural transmission. The findings of this study are discussing the results of the cultural inheritance model from the Lingkung Seni Tumaritis with vertical transmission, horizontal transmission, and oblique transmission. The process of art inheritance is carried out using the concepts of internalization, socialization, and enculturation. There are also several internal and external factors that support or hinder the process of inheriting the art of badawang.
Keywords: Badawang Art, Lingkung Seni Tumaritis, Cultural Transmission
Sistem Nada Atau Tuning System pada Perangkat Gamelan Sekaten DI Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon
Sekaten atau Muludan merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bunyi gamelan dikumandangkan di tiga kota yang memiliki sejarah kerajaan bercorak Islam-Jawa seperti Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon. Semua perangkat gamelan di ketiga kota tersebut menggunakan sistem nada mirip laras pelog pada karawitan Jawa pada umumnya. Meskipun terdengar seperti laras pelog, nada-nada yang ada di setiap perangkat gamelan tersebut sama sekali berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian khusus tentang pengukuran frekuensi dan jangkah nada yang dilakukan dengan metode deskripsi analitis dan pendekatan etnomusikologi.
Hasil pengukuran frekuensi dan jangkah nada menghasilkan pengetahuan bahwa: (1) Perbedaan sistem nada mirip laras pelog terletak pada karakteristik, rasa, dan nuansa yang dihasilkan; (2) Ada beberapa perangkat gamelan yang rentang nada atau ambitusnya sangat sulit ditirukan oleh suara sopran manusia; dan (3) Pada sepasang gamelan di tiap kota yang sama, memiliki karakteristik, rasa, dan nuansa yang berbeda juga yang diakibatkan oleh adanya perbedaan frekuensi nada dari masing-masing instrumen. Catatan mengenai data musikal ini merupakan arsip penting bagi peneliti dan praktisi di bidang ilmu Etnomusikologi, Karawitan, maupun Musikologi di Nusantara
REPRESENTASI RAJA DANGDUT RHOMA IRAMA DALAM FILM “SATRIA BERGITAR”
Abstrak
Film-film Rhoma Irama seakan menjadi ruang temu maya antara penggemar yang ingin melihat sosok sang idola dengan Rhoma Irama yang berjuang dakwah melalui teknologi media populer. Naratologi, sinematik, serta mise-en-scene sebagai analisis utama dalam kajian ini untuk mengkaji data-data penelitian yang didapatkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara. Pendekatan teori Struart Hall dan Paul Du Gay, tentang lima unsur yang saling berkaitan dalam bentuk identity, representation, production, regulation and consumption. Tinjauan sosiologis memperkenalkan tiga pendekatan utama untuk menjelaskan representasi bekerja pada kebudayaan. Pertama the reflective, kedua the intentional, dan ketiga constuctionist.
Film musikal Satria Bergitar Rhoma Irama merupakan representasi atas perjalanan karir bermusik dan dakwah Rhoma dan Soneta Group. Peneliti memandang bagaimana struktur naratif film dan keislaman direpresentasikan oleh timur tengah (global) diupayakan untuk dilokalkan dalam film musikal Satria Bergitar Rhoma Irama. Alur disusun dan disesuaikan dengan cerita lagu pengiring, tampil dengan pelbagai karakter dan seting yang berbeda beda dalam setiap filmnya serta menggambarkan nuansa kolosal.
Abstract
Rhoma Irama\u27s films become meeting point of the fans who want to see the figure Rhoma Irama as their idol doing who are struggling to preach through popular media technology. Narcotology, cinematic, and mise-en-scene as the main analysis in this study to study the research data obtained through observation, literature study, and interviews. The approach of Struart Hall and Paul Du Gay, about the five interrelated elements in the form of identity, representation, production, regulation and consumption. Sociological reviews introduce three main approaches to explain the representation of work in culture. First the reflective, second the intentional, and third the constuctionist.
The musical film Satria Bergitar Rhoma Irama is a representation of the career journey of music and preaching of Rhoma and Soneta Group. The researcher looked at how the narrative and Islamic structure represented by the Middle East (global) was sought to be localized in the musical film Satria Bergitar Rhoma Irama. The plot is arranged and adapted to the accompaniment song story, appearing with various characters and settings that are different in each film and illustrate colossal feelings
LAGU TURI PUTIH KARYA SUNAN KALIGAJA SEBAGAI INSPIRASI KARYA DENGAN TEKNIK LUKIS TIONGKOK
The song Turi Putih is a Javanese song that was written by Sunan Kalijaga, one of the figures who spread Islam in Java. Currently, the popularity of the song Turi Putih has declined and is no longer known, especially among children. In fact, the song has a deep spiritual meaning, especially for Indonesian Muslims. In this research, we will try to visualize the meaning of the song Turi Putih in the form of paintings using Chinese painting techniques. This research has several problem formulations, including: 1) How is the song Turi Putih interpreted? 2) How to visualize the result of Turi Putih song interpretation in Chinese painting? This research method uses qualitative descriptive analysis technique. This research uses a semiotic approach. The production method consists of several steps. The first stage is the search for ideas and ideas. The second stage is the deepening or maturation of ideas. The third or final stage is the realization of the artwork. The production technique is based on Chinese painting techniques. The result of this research is a work that represents the interpretation of the song “Turi Putih” by Sunan Kalijaga. The painting depicts several objects that symbolize death, including white Turi flowers, Kedasih birds, and Besrek batik. Turi putih symbolizes pocong, Kedasih bird is a bird that brings news of death, and Besrek batik is batik used to cover the corpse. The results of this creative research are expected to add insight to readers and contribute to expanding the treasures of global art diversity.The song Turi Putih is a Javanese song that was written by Sunan Kalijaga, one of the figures who spread Islam in Java. Currently, the popularity of the song Turi Putih has declined and is no longer known, especially among children. In fact, the song has a deep spiritual meaning, especially for Indonesian Muslims. In this research, we will try to visualize the meaning of the song Turi Putih in the form of paintings using Chinese painting techniques. This research has several problem formulations, including: 1) How is the song Turi Putih interpreted? 2) How to visualize the result of Turi Putih song interpretation in Chinese painting? This research method uses qualitative descriptive analysis technique. This research uses a semiotic approach. The production method consists of several steps. The first stage is the search for ideas and ideas. The second stage is the deepening or maturation of ideas. The third or final stage is the realization of the artwork. The production technique is based on Chinese painting techniques. The result of this research is a work that represents the interpretation of the song “Turi Putih†by Sunan Kalijaga. The painting depicts several objects that symbolize death, including white Turi flowers, Kedasih birds, and Besrek batik. Turi putih symbolizes pocong, Kedasih bird is a bird that brings news of death, and Besrek batik is batik used to cover the corpse. The results of this creative research are expected to add insight to readers and contribute to expanding the treasures of global art diversity.
Keyword : Turi Putih, Chinese Painting, Bird
---------------------------------------------------------------------
Lagu Turi Putih merupakan lagu jawa yang diTuris oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh penyebar agama islam di tanah jawa. Saat ini popularitas lagu Turi Putih sudah menurun dan sudah tidak dikenal lagi terutama di kalangan anak-anak. Nyatanya, lagu Turi Putih mempunyai makna spiritual yang mendalam khususnya bagi umat Islam Indonesia. Dalam penelitian ini, kami akan mencoba memvisualisasikan makna lagu Turi Putih dalam bentuk lukisan dengan menggunakan teknik lukis Tiongkok. Penelitian ini mempunyai beberapa rumusan masalah, antara lain: 1) Bagaimana nyanyian Turi putih diartikan? 2) Bagaimana memvisualisasikan hasil penafsiran Lagu Turi Putih dalam lukisan Tiongkok? Metode penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotik. Metode produksi terdiri dari beberapa langkah. Tahap pertama pencarian ide dan gagasan. Tahap kedua berupa pendalaman atau pematangan gagasan. Tahap ketiga atau terakhir adalah realisasi karya seni. Teknik produksi karya ini didasarkan pada teknik melukis Tiongkok. Hasil penelitian ini berupa sebuah karya yang mewakili tafsir tembang “Turi Putih†karya Sunan Kalijaga. Lukisan tersebut menggambarkan beberapa benda yang menjadi simbol kematian, antara lain bunga Turi putih, burung Kedasih, dan batik Besrek. Turi putih melambangkan pocong, burung Kedasih adalah burung pembawa kabar kematian, dan batik Besrek adalah batik yang digunakan untuk menutupi mayat. Hasil penelitian kreatif ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca dan turut memperluas khasanah keberagaman seni rupa global.
Kata Kunci : Turi Putih, Seni Lukis Cina, Burun
The Movement of Sundanese Karawitan Artist in the Indie Music From the Perspectiv of Music Sociology
This research delves into the attitudes and perspectives of Sundanese karawitan artists toward the indie music movement through the lens of music sociology. Employing qualitative methodologies such as literature review and fieldwork, the study reveals that these artists do not merely act as preservers of cultural heritage but also actively adapt and integrate their traditional music into the indie music scene. As pivotal figures, they engage in collaborations with global elements within the indie world, making substantial contributions to the evolution of indie music. This active participation fosters a unique harmony that mirrors the diverse and dynamic nature of Indonesian culture. The study offers a comprehensive analysis of how Sundanese karawitan artists interact with and influence the indie music scene. Their involvement is not just a preservation of traditional art forms but a dynamic adaptation that enriches both their cultural heritage and the broader indie music movement. By blending traditional and contemporary elements, these artists create innovative music that appeals to a global audience while retaining its cultural roots. Furthermore, this research highlights the significant role of Sundanese karawitan artists in the indie music scene, showcasing their ability to navigate between tradition and modernity. Their contributions reflect a broader trend in the Indonesian music landscape where traditional art forms are not static but are continually evolving and adapting to new contexts and influences. This dynamic interplay between tradition and innovation is crucial for the sustainability and growth of both traditional and indie music genres in Indonesia
Unveiling ‘HEREDIAQUA’: An Exploration of Association Picture Storytelling in Documentary Filmmaking
This study explores the application of the “association picture story” genre in documentary filmmaking, particularly focusing on the film “Herediaqua,” to effectively communicate water sustainability issues. The research employs a three-stage methodology: exploration (field research, observation, interviews, and collection of visual materials), experimentation (applying association picture story techniques in short film formats and testing with audiences), and creation (synthesizing findings to produce a cohesive and impactful film).Results indicate that “Herediaqua” successfully uses strong visual symbolism and narrative to convey messages about the interconnectedness between humans and nature, effectively enhancing audience awareness and understanding of water sustainability issues. The film employs powerful visual language to communicate its environmental message, evoking emotional responses from viewers. Positive audience feedback confirms the film’s success in communicating its message, demonstrating the effectiveness of the association picture story technique in visual narration. The conclusion asserts that the “association picture story” technique is a powerful tool for conveying environmental messages through visual storytelling. “Herediaqua” serves not only as a viewing experience but also as an educational medium and a catalyst for inspiring environmental conservation efforts. By leveraging compelling visual narration and engaging storytelling, the film promotes awareness and encourages concrete actions for sustaining the planet’s life. This research contributes to advancing documentary filmmaking by highlighting the effectiveness of combining visual symbolism with strong narrative techniques
PENGARUH PENGGUNAAN FACE PRIMER PADA RIASAN PANGGUNG
Saat ini banyak orang yang semakin mengerti mengenai make up, tentunya hal ini ditunjang oleh pengaruh
media sosial yang sangat pesat dalam hal penyampaian informasinya. Termasuk dalam hal penggunaaan
make up semakin banyak orang yang mengerti bahwa tahapan base make up sangat mempengaruhi make
up yang dihasilkan. Salah satu cara yaitu dengan menggunakan Face Primer dalam tahapan skin
preparation (base make up) dimana urutannya terdiri dari penggunaan pembersih wajah, toner, serum,
mousturizer, face primer, dan setelah itu baru tahapan pemakaian make up utama. Penggunaannya dalam
rangkaian persiapan sebelum menggunakan make-up sangat penting, untuk menjaga riasan agar tidak
berubah dan dapat bertahan lama. Rias wajah yang menggunakan face primer dapat terlihat menjadi lebih
halus, mate, dan bertahan lama. Dalam kegiatan pertunjukan di ISBI Bandung hal ini sangat berpengaruh
terhadap riasan panggung, karena biasanya panggung dilengkapi dengan artistiknya berupa lampu-lampu
yang menyorot ke arah panggung. Apabila riasan yang digunakan kurang baik maka make-up akan cepat
luntur dan riasan wajahnya akan terlihat tidak rata serta berminyak. Salah satu cara yang diambil untuk
mengatasi hal tersebut yaitu dengan digunakannya Face Primer sebagai Skin Preparation. Metode
Komparatif atau perbandingan dengan cara membandingkan obyek yaitu yang menggunakan Face Primer
sebelum dan sesudah digunakan dalam pertunjukan. Target luaran pertama yang dihasilkan dalam
penelitian ini yaitu berupa video dan Luaran kedua berupa artikel yang dipublikasikan.
Keyword: Make-up, face primer, skin preparation, base make-up
VISUALISASI KEHENINGAN DALAM MEDITASI
Hening: Visualisasi Keheningan dalam Meditasi merupakan riset keberlanjutan dari sebelumnya, yaitu riset
Manekung: Fotografi Sebagai Media Meditasi. Ketertarikan kegiatan meditasi (manekung) yang belum
diketahui banyak oleh orang, baik tujuan atau pun manfaatnya. Meditasi sejak dahulu banyak dilakukan,
dengan capaian kesadaran diri sebagai mahluk ciptaan yang Maha Kuasa. Penyadaran diri untuk pencerahan
menuju penyatuan diri dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan bijak. Pada tahap awal, kesadaran
masih dalam pengembaraan alam fisik. serta peluapan emosi menuju ketenangan pikir dan hati. Berikutnya,
capaian keheningan yang divisualkan melalui karya fotografi. Suasana hening yang ditangkap dalam karya
fotografi, secara inderawi lebih mengutamakan olahan peka rasa. Permasalahan yang dimunculkan dari riset
ini yaitu bagaimana produksi dan publikasi karya foto hening melalui proses meditasi. Riset “Hening”
berupa cipta karya fotografi dengan proses pembuatannya menerapkan pendekatan Practice-led Research
yang dilakukan melalui studi praktik dengan memokuskan pada “Visualisasi Keheningan Meditasi”.
Tujuannya yaitu menyajikan kreativitas pengkaryaan bidang fotografi. Karya yang dihasilkan memiliki
kebaruan fotografi ekspresi, dan menambah khazanah keilmuan. Tahapan metode riset penciptaan memakai
tiga tahap: pertama, yaitu Praproduksi, dilakukan eksplorasi yang menggambarkan suasana di berbagai
tempat; dan perancangan yang dihasilkan dari tahapan sebelumnya; kedua, tahap Produksi, suatu
pewujudan dengan memotret, menyusun, dan menyunting karya fotografi; dan ketiga Pascaproduksi,
penyajian pada bentuk karya dan pameran. Hasil produksi foto dikemas dengan frame dan disajikan pada
pameran dengan menyertakan suasana keheningan dan ketenangan. Riset ini sebagai pembuktian konsep
(Proof of Concept) dan menghasilkan produk baru berupa karya fotografi yang memvisualisasikan hening.
Kata kunci: hening, fotografi, penciptaan, karya sen
PELATIHAN RIAS DAN TARI DI SANGGAR GENTA SENTRAMAS
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat adalah bagian dari salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi
yang harus dilaksakan oleh Dosen. Adapun pelaksanaannya dapat berupa PKM mandiri maupun lewat
seleksi yang diadakan LPPM ISBI Bandung, melalui presentasi proposal. Pada kesempatan kali ini Peneliti
mengajukan PKM di Kodya Bandung, adapun sasaran PKM adalah di Sanggar Gentasentramas yang
beralamat di jalan BKR no 127 Kotamadya Bandung. Sanggar Gentasentramas merupakan salah satu
sanggar tari Jawa yang berkembang di Jawa Barat dan satu satunya Sanggar yang sudah ber-Akte Notaris.
Hanya sayang sanggar ini belum punya tenaga atau SDM yang mumpuni sehingga sangat repot ketika
mengadakan pertunjukan. Pada saat mengadakan pertunjukan sanggar ini masih menggunakan metode
lama yaitu sangat berjam jam ketika pertunjukan dan sangat membosankan. Pada kesempatan PKM kali ini
program yang ditawarkan adalah pelatihan rias dan tari pada sanggar Genta Sentramas. Hal ini merujuk
pada Peneliti ketika diundang untuk melihat pertunjukan. Ada dua point untuk yang harus dibenahi dalam
sanggar ini yaitu bagaimana membuat sebuah pertunjukan padat yang memikat dan disertai rias yang dapat
merubah wajah yang jelek menjadi cantik, dan yang cantik semakin tambah cantik. Sehingga Ketika
melaksanakan pertunjukan dapat hasil yang maksimal. Dalam PKM ini, penulis akan melibatkan juga salah
satu Mahasiswa ISBI Bandung untuk diajak berolah rasa, pikir dan olah kreatifitas di Sanggar Genta
Sentramas.Pengabdian Kepada Masyarakat di Sanggar Genta Sentramas ini akan dijadwalkan seminggu
2 kali, Latihan. Hal ini dilakukan karena peserta sanggar banyak yang mempunyai pekerjaan, di antaranya,
Ojol, penjual gorengan dan pengusaha Rumah Makan, sehingga perlu untuk bagi bagi waktu. Adapun
sasaran dari Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah ingin menampilkan hasil PKM pada acara acara
antar komunitas dan event event penting di Bandung dengan bentuk panggung proscenium maupun
dipentaskan dialam terbuka atau out door.
Kata Kunci: Rias, Pelatihan tari, Sanggar Gentasentramas