E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
DRAMATURGI PERTUNJUKAN TARI PIRING KUMUN DEBAI KOTA SUNGAI PENUH
Tulisan berjudul Dramaturgi Pertunjukan Tari Piring Kumun Debai Kota Sungai Penuh menggunakan
metode penelitian metode penelitian kualitatif dengan pendekatan content analysis. Tahap-tahap
penelitiannya adalah menentukan objek penelitian, pengumpulan data (observasi, wawancara,
dokumentasi), analisis data, dan hasil penelitian (laporan). Penelitian ini bertujuan menganalisis
pertunjukan tari piring Kumun, terdapat tiga unsur pertunjukan; Sekapur Sirih sebagai pembuka, gerakan
tari Piring Kumun, serta musik pengiring. Tari Piring Kumun merupakan ekspresi maupun visualisasi
masyarakat adat Kumun. Tari Piring Kumun merupakan tari tradisional masyarakat Kumun yang masih
terjaga orisinalitas, keaslian, dan kesakralannya sehingga terdapat beberapa dampak kepada keberadaan
Tari Piring Kumun di Tengah masyarakat adat Kumun. Dokumentasi merupakan salah satu upaya dalam
pelestarian Tari Piring Kumun, sebab pelestarian budaya merupakan tugas kita sebagai masyarakat yang
memiliki budaya tersebut. penjelasan-penjelasan singkat diatas merupakan penjelasan mengapa Tari Piring
Kumun merupakan hal yang urgen ataupun penting untuk dikaji.
Kata Kunci : Tari Piring Kumun, Sekapur Sirih, Pertunjukan
RESILIENSI BUDAYA BERBASIS KEARIFAN LOKAL SENI BUDAYA FOLKLOR PADA KEMASAN MAKANAN BORONDONG DAN BORONCO
Budaya Indonesia menghadapi tantangan besar di era percepatan teknologi digital, ekonomi, dan sosial.
Tantangan besar ini diikuti peluang dan kesempatan yang besar untuk menunjukan eksistensi dan identitas
budaya bangsa Indonesia. Salah satu budaya Indonesia yang popular adalah makanan tradional. Makanan
tradisional di setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas yang mencerminkan kondisi sosial, ekonomi,
budaya, dan potensi daerah tersebut. Desa Ibun, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
terdapat Kampung Borondong memiliki potensi makanan tradisional yang sudah dipasarkan di Indonesia.
Modifikasi kemasan makanan tradisional Borondong dan variasi rasa pada boronco menjadi daya tarik
tersendiri bagi konsumen. Desain kemasan makanan dengan gambar folklore budaya menjadi salah satu
upaya resiliensi berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif
pada kemasan makanan boronco dan pelaku umkm Borondong di kecamatan Ibun Majalaya. Hasil
penelitian ini menjelaskan Resiliensi Budaya Berbasis Kearifan Lokal Seni Budaya Folklor pada Kemasan
Makanan Borondong dan Boronco.
Kata Kunci: resiliensi, identitas, Borondong, boronco, folklo
EKSPLORASI PENGAPLIKASIAN NATURAL PIGMENT PADA MEDIA KAYU BERBASIS BAHAN ALAMI
Warna tidak bisa dipisahkan dari bidang seni rupa, karena warna merupakan salah satu unsur penting yang
memiliki peran dan klasifikasi. Di era modern, warna hadir dalam bentuk produk pabrikan yang banyak
dibuat dengan bahan kimia, dan tidak jarang proses pembuatan, penggunaan, dan limbahnya
membahayakan kelangsungan lingkungan dan kesehatan penggunanya. Berdasarkan permasalahan di atas,
maka penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan sebagai upaya menciptakan cat ramah lingkungan
yang dapat diaplikasikan pada berbagai media. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi. Hasil
dari penelitian ini berupa rumusan komposisi dari berbagai cat dalam pengaplikasiannya pada berbagai
medium, terutama seni lukis baik kertas, kanvas, kayu, maupun besi. Hasil dari penelitian ini dapat
diaplikasikan pada berbagai mata pelajaran atau mata kuliah praktik seni rupa. Lebih jauh, dapat digunakan
oleh masyarakat umum untuk memperindah produk ciptaannya tanpa harus mengorbankan
keberlangsungan lingkungan dan kesehatan dirinya.
Kata kunci: eksplorasi, natural pigment, media seni rup
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI SENI BUDAYA DALAM UPAYA PENGEMBANGAN DESA WISATA DI KAB. BANDUNG
PENGEMBANGAN DESA WISATA DALAM MENGGALI POTENSI DESA CIMEKAR UNTUK PENINGKATAN KESEHTERAAN ASYARAKAT DI KEC. CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG
Kajian Estetika Simbolik Mihrab Masjid Raya Al Jabbar Bandung
Tulisan ini menelusuri makna estetika simbolik bentuk mihrab pada Masjid Raya Al Jabbar Bandung. Bentuk mihrab pada masjid ini berbeda dengan bentuk mihrab masjid konvensional, sehingga menarik untuk dicari latar belakang makna dan konteksnya. Analisis ini mengunakan metode etnografi yaitu dengan membuat analisis deskriptif bentuk mihrab tersebut dikaitkan dengan makna bentuk sejenis yang terdapat pada kebudayaan lokal tempat masjid tersebut berada. Analisis kajian menggunakan makna bentuk dasar pada kebudayaan lokal Sunda, khususnya yang relevan dengan bentuk mihrab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun bentuknya berbeda dengan model mihrab konvensional, tetapi memiliki makna simbolik yang dapat terbaca mengenai nilai religiusitas. Kajian ini diharapkan dapat memberi gambaran umum kepada masyarakat mengenai desain dan arsitektur khususnya masjid dengan desain kontemporer yang tidak lagi berupa bangunan pengulangan dari yang sudah ada, tetapi bentuk baru yang selain berupa bangunan indah dengan desain baru juga mengandung makna yang memperkaya batin manusia
Proses Kreatif Penciptaan Karya Kabayan The Musical
ABSTRAK
Si Kabayan sangat dikenal sebagai tokoh imaginatif Sunda. Aktualisasi karakter Kabayan saat ini perlu dikemas ke dalam bentuk baru agar dapat diapresiasi oleh generasi muda pada zamannya. Tujuan penelitian ini menjelaskan bagaimana proses produksi Kabayan The Musical melalui metode kreativitas Mark A. Runco. Konsep kreativitas diterapkan yang melibatkan beberapa elemen, yaitu keahlian, kemampuan berpikir kreatif, dan motivasi. Implementasinya menitikberatkan pada kompetensi kreator dan pemerannya, begitu pula pengalaman pencipta. Pemikiran pencipta dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan dorongan internal untuk menghasilkan karya seni. Analisis dilakukan pada bagaimana eksplorasi tokoh Kabayan yang diinterpretasikan kembali dalam bentuk teater musikal. Hasil analisis menunjukkan bagaimana tokoh Kabayan diwujudkan kembali dengan pendekatan dan karakter yang baru. Pertunjukan digarap dalam bentuk teater musikal yang menekankan kemampuan para pemeran dalam berakting, bernyanyi, dan menari. Pengembalian popularitas terhadap figur Kabayan mencerminkan kesadaran terhadap situasi aktual dan perilaku masyarakat perkotaan di Kota Bandung saat ini. Kata Kunci: kreativitas, Kabayan, teater musika
Wayang Kulit ‘Gara-Gara’ Pergelaran Bayangan: Materi Pendidikan Karakter Melalui Cara Baca Bahasa Rupa
Artikel ini merupakan hasil penelitian yang membaca sabetan/gerak wayang bayangan pada pertunjukan wayang kulit bayangan dalam babak adegan ‘Gara-Gara’
tentang pendidikan karakter
, dengan menggunakan bahasa rupa sebagai keilmuan. Temuan penelitian ini yang berupa kosakata ‘gerak’ sebagai gagasan untuk kekaryaan seni rupa kontemporer. Penelitian ini menggunakan m
etode kualitatif
dengan pendekatan keilmuan bahasa rupa untuk
menjawab pertanyaan tentang aspek bercerita pada tiap ‘gerak’ wayang. Bahasan khusus bahasa rupa ditekankan pada aspek bercerita, bukan pada kaidah estetis dan makna simbolik.
Keilmuan b
ahasa rupa
, merupakan keilmuan yang menggunakan bahasa gambar untuk membaca gambar-gambar yang sudah ada dan sudah tercipta
.
Bahasa gambar tersebut, diungkapkan dalam bentuk bayangan wayang pada layar, melalui sinar lampu yang disebut blencong. Analisis gambarnya adalah aspek ‘gerak’ dari bayangan wayang hasil sabetan dalang.
Penelitian ini merupakan usaha dalam menjawab pertanyaan, dengan membaca gambar pada gerak wayang hasil permainan sabetan dari dalang, yang berhubungan dengan pendidikan karakter.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa
Wayang Kulit bayangan yang berupa hasil sabetan dalang, dengan menggunakan pembacaan gambar melalui rekaman video, dalam bentuk pembagian scene by scene pada babak adegan Gara-gara yang kemudian dapat terbaca perilaku tokoh-tokohnya, yang dapat dipakai untuk mempelajari karakter baik dan buruk, untuk meningkatkan pemahaman pendidikan karakter sebagai manusia yang sanggup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Artikel ini merupakan hasil penelitian yang membaca sabetan/gerak wayang bayangan pada pertunjukan wayang kulit bayangan dalam babak adegan ‘Gara-Gara’ tentang pendidikan karakter, dengan menggunakan bahasa rupa sebagai keilmuan. Temuan penelitian ini yang berupa kosakata ‘gerak’ sebagai gagasan untuk kekaryaan seni rupa kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan keilmuan bahasa rupa untuk menjawab pertanyaan tentang aspek bercerita pada tiap ‘gerak’ wayang. Bahasan khusus bahasa rupa ditekankan pada aspek bercerita, bukan pada kaidah estetis dan makna simbolik. Keilmuan bahasa rupa, merupakan keilmuan yang menggunakan bahasa gambar untuk membaca gambar-gambar yang sudah ada dan sudah tercipta. Bahasa gambar tersebut, diungkapkan dalam bentuk bayangan wayang pada layar, melalui sinar lampu yang disebut blencong. Analisis gambarnya adalah aspek ‘gerak’ dari bayangan wayang hasil sabetan dalang. Penelitian ini merupakan usaha dalam menjawab pertanyaan, dengan membaca gambar pada gerak wayang hasil permainan sabetan dari dalang, yang berhubungan dengan pendidikan karakter. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa Wayang Kulit bayangan yang berupa hasil sabetan dalang, dengan menggunakan pembacaan gambar melalui rekaman video, dalam bentuk pembagian scene by scene pada babak adegan Gara-gara yang kemudian dapat terbaca perilaku tokoh-tokohnya, yang dapat dipakai untuk mempelajari karakter baik dan buruk, untuk meningkatkan pemahaman pendidikan karakter sebagai manusia yang sanggup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kata kunci: pendidikan karakter, wayang kulit, ‘gara-gara’, bahasa rupa