UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran Yogyakarta: Portal Journals
Not a member yet
5715 research outputs found
Sort by
Alluvial Soil Physical Properties in A Post-Earthquake Liquefaction Zone in Yogyakarta: Sifat Fisik Tanah Aluvial Pada Zona Likuifaksi Pasca Gempa Bumi Yogyakarta
Liquefaction is a secondary impact of earthquakes that can cause severe land degradation, including damage to agricultural areas. Bantul Regency experienced liquefaction during the 2006 earthquake, making it prone to further liquefaction, especially in the Jetis subdistrict. This study investigates the physical characteristics of soils prone to liquefaction and examines the correlation between the soil maturity index and liquefaction potential. Sampling points were determined using purposive sampling. The liquefaction potential index value was calculated using qualitative geological techniques at depths of 0–300 cm, yielding values of 28.40 and 18.01 for perennial tree and seasonal crop areas, respectively. Soil samples were collected, and laboratory analyses, including soil particle size, texture, organic matter, maximum moisture content, electrical conductivity (EC), permeability, redox potential (Eh), and plasticity index, were conducted. The results show key characteristics supporting liquefaction potential, including a dominant sand fraction (79.15%), maximum moisture content (88.94%), moderately fast permeability, high EC (0.416 mS/cm), and Eh values indicating aerobic tendency. All soil samples were categorized as physically immature based on the soil maturity index, reflecting weak interparticle bonding and high dispersion when saturated. Regression analysis between the soil maturity index and median grain size (D50) revealed insignificant correlations, with R = -0.56 (R2 = 0.3161) and 0.38 (R2 = 0.145) for perennial and seasonal crop areas, respectively. Visually, quadratic regression yielded R² values of 0.4109 and 0.4226, suggesting a potential nonlinear pattern. These findings indicate that soil maturity index influences liquefaction propensity. Further research is necessary to understand other controlling variables
Social Media Engagement\u27s Impact on Gen Z\u27s Political and Civic Participation and Activism
This study examines the relationship between the social media engagement of Generation Z (Gen Z) and their political engagement, civic participation, and activism. A convenience sample of 296 Gen Z, was used in Bangladesh to investigate the impact of their social media on their political engagement, civic engagement, and civic activism in a quantitative research study. We used SPSS 29 to perform the analyses in the study to test the hypotheses. The research found that there is a strong and positive relationship between the social media use among Gen Z and their political participation, civic engagement, and activism. The findings can offer interesting information on the manner in which digital platforms, especially social media, influence political and civic involvement among Gen Z. In addition, this study contributes to the growing body of literature on digital citizenship and provides analysis on how virtual spaces could help future generations negotiate political and civic issues
Re-Design of ESP Pump in EHS-155 Well in Tanjung Field Based on Problematic Scale and Economic Analysis
The repair of Electric Submersible Pump (ESP) in well X-155 at the Tanjung Field has become a major issue impacting production rates and increasing operational costs. In 2024, well X-155 experienced 7 well service interventions due to pump failures, which caused damage to the pump impeller and resulted in a loss of oil production. This failure was identified as being caused by the deposition of carbonate minerals (scale), which became the primary cause of damage to the ESP pump. To confirm the presence of scale, solid scale deposition was analyzed using X-ray Diffraction (XRD) methods in an independent laboratory, along with fluid property testing. This method was used to determine the composition and crystalline phases of the scale formed in the well. This study aims to analyze the causes of scale formation in the ESP system. It is expected that the findings from this research will provide solutions to pump failures, reduce the frequency of such failures, and improve operational efficiency at the Tanjung Field, particularly through the implementation of scale inhibitor treatments. The scale treatment for well X-155 is unique due to the need to formulate a scale inhibitor that can function effectively under the high-temperature and high-pressure conditions present in the wel
PENINGKATAN KAPASITAS MANAJEMEN USAHA DALAM UPAYA OPTIMALISASI PENDAPATAN PADA KUB “ SIDOMUKTI ”
Kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat (PbM) internal ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra saat ini. Pemberian bantuan perlatan produksi diharapkan dapat memberikan dampak nyata yaitu berupa peningkatan kapasitas produksi mitra dan omzet penjualan sebesar 15%. Homogenitas produk yang dihasilkan oleh mitra dengan produk yang dihasilkan oleh UKM lain mengharuskan mitra untuk terus berinovasi, baik dari segi desain, kwalitas dan juga keunikan hasil karya produksi dan juga inovasi terkait strategi pemasaran. Berbagai terobosan baru harus dilakukan untuk dapat terus eksis dan berkembang. Hal ini menjadi salah satu argumen mengapa kegiatan PbM ini perlu dilakukan kembali. Program Pengabdian kepada Masyarakat internal ini berupaya memberikan solusi yang diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan baru terkait bagaimana mitra dapat mempertahankan bisnisnya, dan juga meningkatkan kwantitas dan juga kwalitas mebel kayu yang dihasilkan, sehungga dapat mempertahanan eksistensi bisnisnya. Pada produksi, pengadaan peralatan produksi yang lebih modern diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi mitra baik dari segi kwantitas maupun kwalitasnya. Solusi dari permasalahan di bidang manajemen pemasaran adalah dengan membantu memasarkan hasil produksi mitra melalui digitalisasi sistem pemasaran dari yang semula hanya mengandalkan sistem pemasaran konvensional. Pemberian pelatihan menggunakan media sosial untuk lebih mengenalkan produksi mitra kepada masyarakat sehingga mereka dapat lebih memperluas jangkauan pemasaran mereka. Evaluasi keberhasilan pelaksanaan program terus dilakukan sehingga diharapakan semua kegiatanyang dijalankan benar-benar merupakan Solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh mitra, sehingga usaha industri rumah tangga ini akan terus eksis dalam kondisi yang semakin sulit.
Kata Kunci : digitalisasi, pemasaran, inovasi, evaluasi Kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat (PbM) internal ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra saat ini. Pemberian bantuan perlatan produksi diharapkan dapat memberikan dampak nyata yaitu berupa peningkatan kapasitas produksi mitra dan omzet penjualan sebesar 15%. Homogenitas produk yang dihasilkan oleh mitra dengan produk yang dihasilkan oleh UKM lain mengharuskan mitra untuk terus berinovasi, baik dari segi desain , kwalitas dan juga keunikan hasil karya produksi dan juga inovasi terkait strategi pemasaran. Berbagai terobosan baru harus dilakukan untuk dapat terus eksis dan berkembang. Hal ini menjadi salah satu argumen mengapa kegiatan PbM ini perlu dilakukan kembali. Program Pengabdian kepada Masyarakat internal ini berupaya memberikan solusi yang diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan baru terkait bagaimana mitra dapat mempertahankan bisnisnya, dan juga meningkatkan kwantitas dan juga kwalitas mebel kayu yang dihasilkan , sehungga dapat mempertahanan eksistensi bisnisnya. Pada produksi, pengadaan peralatan produksi yang lebih modern diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi mitra baik dari segi kwantitas maupun kwalitasnya . Solusi dari permasalahan di bidang manajemen pemasaran adalah dengan membantu memasarkan hasil produksi mitra melalui digitalisasi sistem pemasaran dari yang semula hanya mengandalkan sistem pemasaran konvensional. Pemberian pelatihan menggunakan media sosial untuk lebih mengenalkan produksi mitra kepada masyarakat sehingga mereka dapat lebih memperluas jangkauan pemasaran mereka. Evaluasi keberhasilan pelaksanaan program terus dilakukan sehingga diharapakan semua kegiatanyang dijalankan benar-benar merupakan Solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh mitra , sehingga usaha industri rumah tangga ini akan terus eksis dalam kondisi yang semakin sulit.
Kata Kunci : digitalisasi , pemasaran , inovasi , evaluasi 
Penggunaan PENGGUNAAN STORYTELLING DALAM MEMPERKUAT NILAI JUAL BATIK LOKAL BENGKULU
Batik Bengkulu merupakan salah satu identitas daerah yang menjadi instrumen dalam memperkenalkan Bengkulu di kancah nasional dan internasional. Dalam motif batik terkandung filosofi suatu daerah yang selain memiliki unsur estetika juga memiliki cerita kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Cerita yang terkandung dalam motif-motif batik lokal banyak tidak diketahui oleh masyarakat luar. Kondisi ini membuat produk tidak dikenal berdasarkan cerita yang terkandung dalam batik tersebut sehingga promosi dari pembeli tidak dapat berjalan secara mendalam. Pengabdian ini memperkuat brand batik lokal Bengkulu dengan cara melengkapi produk dengan storytelling terhadap produk tersebut. Proses memperkuat nilai jual batik lokal ini adalah dengan membuat website yang menceritakan asal usul dan makna dalam motif batik. Pada pengabdian kali ini batik Bengkulu yang dipilih untuk dibuat storytelling adalah batik Les Plank yang mengambil inspirasi dari motif rumah adat Melayu Bengkulu. Storytelling mencakup tentang makna, sejarah dan budaya Melayu Bengkulu yang terdapat dalam motif batik Les Plank. Berbagai cerita tersebut dirangkum dalam website lesplank.com. Informasi dalam website dihubungkan dengan setiap produk dengan menempelkan stiker QR Code sehingga setiap konsumen dapat secara cepat mengetahui informasi tentang produk batik Les Plank yang mereka beli.
Kata kunci: batik; motif; les plank; storytelling ; websiteBatik Bengkulu merupakan salah satu identitas daerah yang menjadi instrumen dalam memperkenalkan Bengkulu di kancah nasional dan internasional. Dalam motif batik terkandung filosofi suatu daerah yang selain memiliki unsur estetika juga memiliki cerita kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Cerita yang terkandung dalam motif-motif batik lokal banyak tidak diketahui oleh masyarakat luar. Kondisi ini membuat produk tidak dikenal berdasarkan cerita yang terkandung dalam batik tersebut sehingga promosi dari pembeli tidak dapat berjalan secara mendalam. Pengabdian ini memperkuat brand batik lokal Bengkulu dengan cara melengkapi produk dengan storytelling terhadap produk tersebut. Proses memperkuat nilai jual batik lokal ini adalah dengan membuat website yang menceritakan asal usul dan makna dalam motif batik. Pada pengabdian kali ini batik Bengkulu yang dipilih untuk dibuat storytelling adalah batik Les Plank yang mengambil inspirasi dari motif rumah adat Melayu Bengkulu. Storytelling mencakup tentang makna, sejarah dan budaya Melayu Bengkulu yang terdapat dalam motif batik Les Plank. Berbagai cerita tersebut dirangkum dalam website lesplank.com. Informasi dalam website dihubungkan dengan setiap produk dengan menempelkan stiker QR Code sehingga setiap konsumen dapat secara cepat mengetahui informasi tentang produk batik Les Plank yang mereka beli.
Kata kunci: batik; motif; les plank; storytelling ; websit
PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR MELALUI KEGIATAN “RJP GOES TO BANYUMAS”
Henti jantung mendadak merupakan salah satu penyebab utama kematian yang dapat terjadi secara tiba-tiba di masyarakat. Upaya pertolongan pertama melalui tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) terbukti efektif dalam meningkatkan peluang keselamatan korban. Namun, tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat terhadap tindakan BHD masih terbatas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar masyarakat Kabupaten Banyumas dalam melakukan tindakan BHD melalui sosialisasi dan pelatihan menggunakan maneken RJP. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, edukasi teori, serta praktik langsung dengan maneken RJP. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan peserta sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta mengenai BHD. Selain itu, peserta juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam melakukan tindakan RJP setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan interaktif dengan media maneken efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan masyarakat menghadapi kasus henti jantung mendadak.
Kata kunci: Bantuan Hidup Dasar, Resusitasi Jantung Paru, pelatihan masyarakat, henti jantung mendadak, pengabdian masyarakatHenti jantung mendadak merupakan salah satu penyebab utama kematian yang dapat terjadi secara tiba-tiba di masyarakat. Upaya pertolongan pertama melalui tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) terbukti efektif dalam meningkatkan peluang keselamatan korban. Namun, tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat terhadap tindakan BHD masih terbatas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar masyarakat Kabupaten Banyumas dalam melakukan tindakan BHD melalui sosialisasi dan pelatihan menggunakan maneken RJP. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, edukasi teori, serta praktik langsung dengan maneken RJP. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan peserta sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta mengenai BHD. Selain itu, peserta juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam melakukan tindakan RJP setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan interaktif dengan media maneken efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan masyarakat menghadapi kasus henti jantung mendadak.
Kata kunci: Bantuan Hidup Dasar, Resusitasi Jantung Paru, pelatihan masyarakat, henti jantung mendadak, pengabdian masyaraka
SINERGI HEPTAHELIX UNTUK PENGUATAN BRANDING DAN DAYA SAING PENGOLAH EMPON-EMPON DESA BANYURADEN
Kelompok Wanita Tani (KWT) Pengolah Empon-Empon di Desa Banyuraden memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk herbal berbasis bahan lokal seperti jahe, kencur, kunyit, dan temulawak. Namun, potensi tersebut belum diimbangi dengan kemampuan branding dan pemasaran yang memadai, sehingga produk belum dikenal luas dan sulit bersaing di pasar modern. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas KWT melalui penerapan model sinergi heptahelix yang melibatkan tujuh unsur: akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, media, lembaga keuangan, dan masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, pelatihan branding dan pemasaran digital, pendampingan legalitas produk, serta fasilitasi kerja sama multipihak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman anggota KWT terhadap strategi promosi dan pengemasan produk. Produk yang dihasilkan kini memiliki identitas merek yang lebih kuat, kemasan yang menarik, serta akses pasar digital yang lebih luas. Selain itu, terbentuk jejaring kolaboratif antara KWT, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan heptahelix efektif dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, meningkatkan daya saing, dan menciptakan ekosistem pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.
Kata Kunci: heptahelix, branding, daya saing, empon-empon, BanyuradenKelompok Wanita Tani (KWT) Pengolah Empon-Empon di Desa Banyuraden memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk herbal berbasis bahan lokal seperti jahe, kencur, kunyit, dan temulawak. Namun, potensi tersebut belum diimbangi dengan kemampuan branding dan pemasaran yang memadai, sehingga produk belum dikenal luas dan sulit bersaing di pasar modern. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas KWT melalui penerapan model sinergi heptahelix yang melibatkan tujuh unsur: akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, media, lembaga keuangan, dan masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, pelatihan branding dan pemasaran digital, pendampingan legalitas produk, serta fasilitasi kerja sama multipihak. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman anggota KWT terhadap strategi promosi dan pengemasan produk. Produk yang dihasilkan kini memiliki identitas merek yang lebih kuat, kemasan yang menarik, serta akses pasar digital yang lebih luas. Selain itu, terbentuk jejaring kolaboratif antara KWT, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan heptahelix efektif dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, meningkatkan daya saing, dan menciptakan ekosistem pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal secara berkelanjutan
Pertiwi, R.P.C. Pemanfaatan Manipulasi Fotoperiod dalam Produksi Ikan-ikan Budidaya (Update – Studi pada Ikan Cupang): (UPDATE – STUDI PADA IKAN CUPANG)
Fotoperiod merupakan tindakan manusia untuk mengatur duraspencahayaan dalam budidaya ikan. Hal ini telah dilakukan pada beberapa ikan laut atau pun ikan air tawar. Efek yang dapat dicapai adalah meningkatkan kelangsungan hidup, meningkatkan pertumbuhan, mempercepat atau menunda laju reproduksi ikan. Sinyal fotoperiod merangsang sistim saraf pusat di otak, selanjutnya mengirimkan sinyal ke organ-organ terkait pada metabolisme tubuh ikan. Hasil penelitian terbaru (update) pada ikan cupang jantan dengan penerapan fotoperiod berbeda. Fotoperiod dengan lama pencahayaan 14 jam terang (14L) dan 10 jam gelap (10D), dibandingkan dengan 10L:14D, dan kontrol (pencahayaan alami), telah dilakukan pada ikan cupang jantan. Ikan cupang untuk penelitian ini sudah memijah pertama dan bersiap menuju pemijahan berikutnya. Untuk itu, dipelihara di bawah pencahayaan 14L:10D, 10L:14D, dan kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan jantan dengan pencahyaan 14L:10D mampu mempercepat waktu pemijahan kembali menjadi 30 hari. Normalnya mencapai 2-3 bulan, sebagaimana dicapai pada Kontrol. Pencahayaan 10L:14D tercapai pemijahan kembali pada 42 hari. Perkembangan testis tertinggi juga dihasilkan pencahyaan 14L:10D, dibanding 10L:14D, dan Kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan manipulasi fotoperiod mampu mempercepat pemijahan kembali ikan cupang jantan. Percepatan pemijahan kembali berarti ikan cupang jantan mampu siap memijah kembali dalam waktu lebih singkat. Hal ini memungkinkan peningkatan produksi ikan cupang dalam budidayanya.
Kata Kunci: Ikan Cupang, testis, fotoperiod, pemijahanFotoperiod merupakan tindakan manusia untuk mengatur durasi pencahayaan dalam budidaya ikan. Hal ini telah dilakukan pada beberapa ikan laut ataupun ikan air tawar. Efek yang dapat dicapai adalah menambah kelangsungan hidup, meningkatkan pertumbuhan, mempercepat atau menunda laju reproduksi ikan. Sinyal fotoperiod merangsang sistim saraf pusat di otak, selanjutnya mengirimkan sinyal ke organ-organ terkait pada metabolisme tubuh ikan. Hasil penelitian terbaru (update) pada ikan cupang jantan dengan penerapan fotoperiod berbeda. Fotoperiod dengan lama pencahayaan 14 jam terang (14L) dan 10 jam gelap (10D), dibandingkan dengan 10L:14D, dan kontrol (pencahayaan alami), telah dilakukan pada ikan cupang jantan. Ikan cupang untuk penelitian ini sudah memijah pertama dan bersiap menuju pemijahan berikutnya. Untuk itu, dipelihara di bawah pencahayaan 14L:10D, 10L:14D, dan kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan jantan dengan pencahyaan 14L:10D mampu mempercepat waktu pemijahan kembali menjadi 30 hari. Normalnya mencapai 2-3 bulan, sebagaimana dicapai pada Kontrol. Pencahayaan 10L:14D tercapai pemijahan kembali pada 42 hari. Perkembangan testis tertinggi juga dihasilkan pencahyaan 14L:10D, dibanding 10L:14D, dan Kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan manipulasi foto[eriod mampu mempercepat pemijahan kembali ikan cupang jantan. Percepatan pemijahan kembali berarti ikan cupang jantan mampu siap memijah kembali dalam waktu lebih singkat. Hal ini memungkinkan peningkatan produksi ikan cupang dalam budidayanya
The BOOMERANG MECHANISM IN HUMAN RIGHTS ADVOCACY: BALOCH LONG MARCH AGAINST CHINA-PAKISTAN ECONOMIC
Transnational advocacy networks (TANs) and the “boomerang” pattern of influence can bypass domestic repression and internationalise local human rights struggles, as shown by the 2023–2024 Baloch Long March. Pakistani activists led by the women\u27s organisation Baloch Yakjehti Committee (BYC) marched from Gwadar to Islamabad to demand justice for enforced disappearances and extrajudicial killings in Balochistan, facing censorship, arbitrary arrests, and state violence. When local channels were blocked, movement leaders allied with international NGOs (Amnesty International, Human Rights Watch) and global media to present their plight to the UN and international public. This strategy led to UN expert statements in early 2025 and international media coverage, increasing pressure on Pakistan\u27s government. This study examines how the Long March employed external pressure to highlight human rights violations associated with the China–Pakistan Economic Corridor, utilizing Keck and Sikkink\u27s “boomerang” framework and other norm-based theories. Despite Pakistani authorities\u27 repressive measures (information blackouts, protest bans), the international outcry raised the cost of rights abuses and internationalised the Baloch cause. This paper demonstrates how marginalized activists utilized global media and networks to advocate for domestic rights.
 
Perbandingan Akurasi UAV Multirotor dan Fixed Wing Berbasis Post Processing Kinematic (PPK) untuk Pemetaan Skala Besar
Abstrak: Perkembangan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) telah menghadirkan alternatif survei pemetaan yang lebih efisien dibandingkan metode terestrial konvensional. Namun demikian, akurasi hasil pemetaan sangat bergantung pada metode georeferencing, khususnya penggunaan Ground Control Point (GCP) dan pendekatan Post Processing Kinematic (PPK). Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat akurasi UAV tipe Multirotor (DJI Phantom 4 RTK) dan Fixed Wing (VTOL) berbasis PPK, baik dengan maupun tanpa kombinasi GCP, untuk menentukan efektivitasnya dalam pemetaan berskala besar. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dengan luas ±24 hektar. Data dikumpulkan melalui akuisisi udara dan pengukuran GCP/ICP, kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Emlid Studio dan Agisoft Metashape. Hasil uji akurasi menunjukkan model DJI Phantom 4 RTK dengan 3 GCP menghasilkan ketelitian vertikal terbaik (LE90 = 0,104 m), sedangkan model tanpa GCP memiliki ketelitian horizontal tertinggi (CE90 = 0,059 m). Sementara itu, UAV VTOL memberikan akurasi vertikal lebih baik dibanding DJI Phantom 4 RTK tanpa GCP. Analisis visual memperlihatkan perbedaan tajam tekstur dan ketajaman objek akibat variasi tinggi terbang dan spesifikasi kamera. Kesimpulannya, kombinasi metode PPK dengan tambahan minimal GCP mampu meningkatkan akurasi vertikal secara signifikan, sedangkan UAV Multirotor lebih unggul pada akurasi horizontal