Jurnal Universitas Islam Malang
Not a member yet
    3345 research outputs found

    Pembuatan madu lemu (madu, albumin lele, dan ekstrak temulawak) sebagai makanan tinggi protein untuk pencegahan stunting

    Get PDF
    Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan serius di Indonesia, termasuk di Desa Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah. Salah satu upaya pencegahan stunting adalah dengan meningkatkan asupan protein hewani, salah satunya melalui konsumsi albumin ikan. Bahan tersebut dapat dikombinasikan dengan madu untuk memperbaiki rasa dan temulawak sebagai penambah nafsu makan, menjadi produk fungsional bernama Madu Lemu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada kader posyandu di Desa Polokarto mengenai pemanfaatan bahan alam tinggi protein serta teknik pembuatan Madu Lemu. Kegiatan dilaksanakan selama Juli–Agustus 2024 kepada 36 kader yang terbagi dalam 12 kelompok. Metode yang digunakan adalah service learning dengan evaluasi melalui instrumen pretest dan posttest. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan signifikan dari skor rata-rata 62,58 menjadi 95,16. Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman kader tentang bahan alam bergizi tinggi dan keterampilan membuat produk Madu Lemu. Para kader juga telah meneruskan pelatihan ini di tingkat RT. Upaya ini merupakan langkah strategis dalam mendukung penurunan angka stunting secara berkelanjutan di tingkat desa

    Peningkatan kapasitas guru dalam penyusunan soal literasi AKM berbasis kearifan lokal melalui aplikasi digital

    Get PDF
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan secara eksplisit untuk meningkatkan kapasitas guru-guru di Yayasan Uswatun Hasanah Kota Lubuklinggau dalam menyusun soal literasi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan aplikasi digital. Fokus kegiatan diarahkan pada pengembangan kompetensi guru dalam mengintegrasikan konteks budaya lokal ke dalam soal literasi, guna menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna bagi siswa. Kegiatan ini menghasilkan produk konkret berupa bank soal digital berbasis kearifan lokal, yang dirancang menggunakan platform digital interaktif agar dapat digunakan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran dan asesmen di sekolah mitra. Metode pelaksanaan mencakup pelatihan, pendampingan teknis, praktik penyusunan soal, serta uji coba implementasi soal dalam lingkungan belajar terbatas. Proses evaluasi dilakukan secara menyeluruh melalui instrumen pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru, disertai lembar observasi, angket kepuasan, dan dokumentasi portofolio produk. Evaluasi juga mencakup refleksi partisipatif antara fasilitator dan peserta, guna mengidentifikasi keberhasilan maupun tantangan dalam pelaksanaan kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terhadap konsep AKM, kemampuan menyusun soal berbasis kearifan lokal, serta keterampilan penggunaan aplikasi digital dalam pendidikan. Kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas asesmen di tingkat sekolah mitra, tetapi juga membuka peluang replikasi di lembaga pendidikan lain. Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model praktik baik dalam integrasi teknologi dan nilai budaya lokal untuk penguatan literasi siswa serta pengembangan profesionalisme guru di era Kurikulum Merdeka

    Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Penerapan Standard Precautions Di Kalangan Mahasiswa Profesi Kedokteran (Dokter Muda) Di Rumah Sakit Pendidikan

    No full text
    Abstract Standard precautions are the fundamental principles of infection prevention and control that must be applied by healthcare workers, including medical interns during clinical practice. Although included in the medical curriculum, compliance levels remain varied. This study aimed to analyze factors influencing medical interns’ adherence to standard precautions. An observational analytic study with a quantitative cross-sectional design was conducted on 102 medical interns in a teaching hospital. The dependent variable was compliance with standard precautions, while the independent variables included individual factors (knowledge, attitude, risk perception), organizational factors (safety climate, availability of PPE and facilities, infection prevention and control training during clerkship), and occupational factors (workload, implementation barriers). Data were collected through questionnaires and observations, then analyzed using logistic regression. The results revealed significant associations between compliance and knowledge (p=0.007), attitude (p=0.043), safety climate (p=0.010), availability of PPE and facilities (p=0.008), as well as infection prevention and control training during clerkship (p=0.018), while risk perception, workload, and barriers showed no significant effect (p>0.05). Knowledge emerged as the most dominant factor with Exp(B)=17.590. In conclusion, knowledge is the key determinant of medical interns’ compliance with standard precautions. Therefore, continuous education, structured training, and organizational support are essential to strengthen the culture of safety and improve adherence to infection prevention and control. Keywords: Standard precautions, clinical clerks, medical students, teaching hospital, individual factors, organizational factors, occupational factor, compliance.   Abstract Standard precautions merupakan prinsip dasar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang wajib diterapkan oleh tenaga kesehatan, termasuk dokter muda selama praktik klinik. Meskipun telah tercakup dalam kurikulum pendidikan kedokteran, tingkat kepatuhan penerapannya masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan dokter muda terhadap standard precautions. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan kuantitatif cross-sectional, melibatkan 102 dokter muda di rumah sakit pendidikan. Variabel dependen adalah kepatuhan terhadap standard precautions, sedangkan variabel independen mencakup faktor individu (pengetahuan, sikap, persepsi risiko), faktor organisasi (iklim keselamatan, ketersediaan APD dan fasilitas, pelatihan PPI saat clerkship), serta faktor pekerjaan (beban kerja, hambatan penerapan). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara kepatuhan dengan pengetahuan (p=0,007), sikap (p=0,043), iklim keselamatan (p=0,010), ketersediaan APD dan fasilitas (p=0,008), serta pelatihan PPI saat clerkship (p=0,018), sedangkan persepsi risiko, beban kerja, dan hambatan tidak berpengaruh signifikan (p>0,05). Pengetahuan terbukti sebagai faktor dominan dengan Exp(B)=17,590. Disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan penentu utama kepatuhan dokter muda dalam menerapkan standard precautions. Oleh karena itu, edukasi berkesinambungan, pelatihan PPI terstruktur, dan dukungan organisasi diperlukan untuk memperkuat budaya keselamatan serta meningkatkan kepatuhan terhadap pencegahan dan pengendalian infeksi. Kata Kunci: Standard precautions, dokter muda, coass, profesi, rumah sakit pendidikan, faktor individu, faktor pekerjaan, faktor organisasi, kepatuhan

    Evaluation of Wheelchair Fit and Its Impact on Physical Comfort in a Community-Based Program in Malang

    Get PDF
    Background: Proper wheelchair fit is essential to ensure comfort, postural stability, and to prevent secondary health complications in individuals with disabilities. In community-based programs, mismatches between wheelchair dimensions and users' anthropometric characteristics often go unnoticed, potentially leading to long-term issues. Objective: This study aims to evaluate the alignment between users’ body dimensions and the wheelchairs distributed through a community-based program in Malang, and to examine the potential ergonomic and clinical implications of mismatched fit. Methods: A descriptive quantitative design was employed, involving 20 full-time wheelchair users selected purposively. Anthropometric measurements (seated height, popliteal length, hip width, elbow height) and wheelchair dimensions (seat height, seat depth, seat width, backrest height, armrest height) were directly measured. Normality was tested using the Shapiro–Wilk test, followed by Pearson correlation analysis. Outliers were identified using z-score thresholds. Results: Significant positive correlations were found between seat height and armrest height (r = 0.65, p < 0.01), and between backrest height and seat width (r = 0.58, p < 0.05). No correlation was found involving seat depth. Two participants showed notable mismatches requiring individual adjustments, highlighting risks such as discomfort, postural imbalance, and mobility limitation. Conclusion: Mismatch between wheelchair dimensions and user anthropometry can contribute to preventable discomfort and postural strain. Personalized assessments and ergonomic adjustments are crucial in community wheelchair programs. These findings support the implementation of anthropometric-based distribution strategies and training for service providers

    Relevansi Batas Usia Perkawinan dalam Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Pencegahan Pernikahan Dini di Pandeglang

    No full text
    This study examines the phenomenon of early marriage in Pandeglang District, a region with one of the highest rates of child marriage in Banten Province, Indonesia. Rooted in socio-cultural traditions, economic hardship, and low levels of education, early marriage persists despite the revision of Indonesia's Marriage Law through Law No. 16 of 2019, which sets the minimum marriage age at 19 for both genders. Positioned at the intersection of Islamic legal norms and national law, this research explores how early marriage is legitimized or challenged through both religious and state frameworks. Using a qualitative socio-legal approach, data were collected through in-depth interviews with religious leaders, judges, families, and underage spouses, alongside analysis of legal documents and classical Islamic jurisprudence. The findings reveal a gap between legal norms and community practices, where dispensations granted by religious courts often undermine protective legislation. Moreover, interpretations of Islamic law that emphasize baligh (puberty) over psychological readiness contribute to the persistence of early marriage. This study highlights the urgency of contextualizing Islamic legal principles—particularly the maqāṣid al-sharī‘ah—to align with child protection standards in national law, emphasizing that legal harmonization must be supported by educational and cultural transformation at the grassroots level.   Keywords: Child Marriage, Islamic Law, Positive Law,   Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena pernikahan dini di Kabupaten Pandeglang, sebuah wilayah dengan tingkat pernikahan anak tertinggi di Provinsi Banten, Indonesia. Praktik ini berlangsung karena tradisi sosial-budaya, tekanan ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan, meskipun Undang-Undang Perkawinan telah direvisi melalui UU No. 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas usia minimal perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Penelitian ini berada pada titik temu antara norma hukum Islam dan hukum positif, dengan tujuan memahami bagaimana praktik pernikahan dini dilegitimasi atau ditentang oleh kedua kerangka hukum tersebut. Dengan pendekatan yuridis-sosiologis kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, hakim, keluarga, dan pasangan usia dini, serta analisis dokumen hukum dan literatur fiqh klasik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik masyarakat, di mana dispensasi yang diberikan oleh Pengadilan Agama sering kali melemahkan perlindungan hukum. Selain itu, penafsiran hukum Islam yang menitikberatkan pada baligh dibanding kesiapan psikologis turut memperkuat praktik ini. Penelitian ini menegaskan urgensi kontekstualisasi prinsip hukum Islam khususnya maqāṣid al-sharī‘ah, agar selaras dengan standar perlindungan anak dalam hukum nasional, serta perlunya harmonisasi hukum didukung oleh pendidikan dan transformasi budaya di tingkat akar rumput.   Kata Kunci: Pernikahan Anak, Hukum Islam, Hukum PositifPenelitian ini mengkaji fenomena pernikahan dini di Kabupaten Pandeglang, sebuah wilayah dengan tingkat pernikahan anak tertinggi di Provinsi Banten, Indonesia. Praktik ini berlangsung karena tradisi sosial-budaya, tekanan ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan, meskipun Undang-Undang Perkawinan telah direvisi melalui UU No. 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas usia minimal perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Penelitian ini berada pada titik temu antara norma hukum Islam dan hukum nasional, dengan tujuan memahami bagaimana praktik pernikahan dini dilegitimasi atau ditentang oleh kedua kerangka hukum tersebut. Dengan pendekatan yuridis-sosiologis kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, hakim, keluarga, dan pasangan usia dini, serta analisis dokumen hukum dan literatur fiqh klasik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum dan praktik masyarakat, di mana dispensasi yang diberikan oleh Pengadilan Agama sering kali melemahkan perlindungan hukum. Selain itu, penafsiran hukum Islam yang menitikberatkan pada baligh dibanding kesiapan psikologis turut memperkuat praktik ini. Penelitian ini menegaskan urgensi kontekstualisasi prinsip hukum Islam—khususnya maqāṣid al-sharī‘ah—agar selaras dengan standar perlindungan anak dalam hukum nasional, serta perlunya harmonisasi hukum didukung oleh pendidikan dan transformasi budaya di tingkat akar rumput

    Exploring students’ experiences and perceptions in adapting folk tales into picture books within multiliteracies pedagogy

    Get PDF
    Although folk tales are central to the nation’s cultural heritage, their potential in English language education is often overlooked due to the dominance of traditional literacy practices and limited multimodal learning. Implementing multiliteracies pedagogy also remains underexplored. This study explores how adapting folk tales into English-language picture books within a multiliteracies framework can enrich university-level EFL pedagogy. Moving beyond translation, this approach encourages students to critically reflect on cultural narratives while expressing them creatively through multimodal design. The project involved thirty-six seventh-semester students in a Literature in ELT course. It was structured around the four pedagogical stages of the multiliteracies framework: Situated Practice, Overt Instruction, Critical Framing, and Transformed Practice. Using a qualitative content analysis design, researchers collected data through classroom observations, field notes, group discussions, student projects, and interviews. Findings show that students critically engage with folk tales’ sociocultural, moral, and symbolic dimensions. They reinterpreted these stories for new audiences, balancing creative adaptation with cultural authenticity. This process enhanced their multimodal composition skills, textual analysis, and audience awareness while strengthening their confidence and voice as future educators. The study highlights the value of integrating folk tales and multimodal practices in EFL settings to promote critical thinking, intercultural competence, and pedagogical creativity. Students showed a greater sense of identity formation through the project, emphasizing the transformative impact of culturally responsive, student-centered pedagogies. This study recommends future research to explore applying student-generated picture books in a real classroom with supporting pedagogical variables to evaluate their impact on long-term literacy development

    Penguatan kompetensi penggunan media digital untuk guru SILN sebagai penguatan pembelajaran literasi di sekolah dasar

    Get PDF
    Pelatihan program literasi berbasis media digital Google Sites dilatarbelakangi oleh belum adanya program/pembelajaran literasi yang berbasis media digital. Tujuannya untuk memberikan penguatan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menunjang pembelajaran literasi di Sekolah Dasar. Metode yang digunakan mencakup ceramah, demonstrasi, pelatihan terbimbing, dan diskusi yang melibatkan 19 guru dengan karakteristik sejumlah besar guru tersebut bukan merupakan lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selain itu, guru diberikan pendampingan keterampilan praktik dalam mengimplementasikan pembelajaran literasi  berbasis teknologi digital. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan Google Sites literasi memberikan manfaat yang signifikan sebagai media pembelajaran.  Hal ini terbukti dengan terlaksananya proses belajar yang menjadi lebih praktis dan mudah diakses oleh guru maupun siswa.  Program ini dinilai efektif dalam menyediakan akses bacaan, membangun keterampilan berpikir kritis siswa, serta memperkuat penguasaan kosakata bahasa Indonesia. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam penguatan kompetensi guru khususnya dalam pengembangan program/pembelaran literasi digital di lingkungan SILN. Meskipun demikian, guru menyarankan agar platform ini dapat dikembangkan lebih lanjut, di antaranya dengan menyediakan akses secara offline dan penambahan koleksi buku digital

    Analisis Kesulitan Maharah Kitabah dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah Pekajangan

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan yang dialami siswa dalam menguasai keterampilan menulis (maharah kitabah) bahasa Arab di SMP Muhammadiyah Pekajangan. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih menitikberatkan pada keterampilan membaca (qirā’ah) dan berbicara (kalām), sedangkan kajian mengenai keterampilan menulis di tingkat SMP masih sangat terbatas. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan siswa kelas VII serta guru bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam membedakan bunyi huruf yang mirip ketika menulis dikte, menentukan huruf hijaiyah yang dapat disambung maupun yang tidak, serta mengenali bentuk huruf pada posisi awal, tengah, dan akhir kata. Penelitian ini memberikan gambaran lebih mendalam mengenai persoalan maharah kitabah di lingkungan SMP Muhammadiyah dan menawarkan solusi praktis yang dapat digunakan guru dalam merancang strategi pembelajaran menulis bahasa Arab yang lebih efektif. Kata Kunci: Kesulitan Belajar, Maharah KitabahPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan dan juga mengeksplorasi solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kesulitan maharah kitabah dalam pembelajaran bahasa Arab pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah Pekajangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti mengumpulkan data melalui tiga teknik: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan oleh peneliti secara langsung di SMP Muhammadiyah Pekajangan, dengan pendekatan datanya menghasilkan analisis deskriptif berupa kalimat secara lisan (wawancara) dari subjek penelitian, yaitu siswa kelas VII dan guru bahasa Arab. Setelah memperoleh deskripsi yang jelas, peneliti akan menyusun ringkasan informasi yang diperoleh dari proses sebelumnya. Tahapan dari penelitian ini mengikuti prosedur penelitian kualitatif seperti pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari data yang diteliti menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam membedakan beberapa bunyi huruf yang terdengar mirip saat guru mendikte, beberapa siswa juga kesulitan dalam menentukan huruf hijaiyah yang bisa di sambung ataupun yang tidak bisa disambung, serta membedakan bentuk huruf diawal, tengah, dan akhir kata

    Children's Emotional During Learning at Home in COVID-19 Pandemic

    Get PDF
    Abstract The government policy of nationwide school closure to minimize the spreading of COVID-19 has affected over 80 million students in Indonesia. Understanding their emotions is essential because of their vulnerability, but it is still lacking in Indonesia. This study aimed to investigate emotional symptoms among children during learning at home. A cross-sectional online survey of 102 parents with children aged 6-18 years and their children who are learning at home. The survey was conducted in February 2021 in East Java province, Indonesia. Demographic information, emotional symptoms, and level of knowledge were assessed with a Strengths and Difficulty Questionnaire (SDQ). This research showed the rate of emotional problems among children is low and there is no relationship between the children’s age, education level, and knowledge level with the emotional symptoms in children (p > 0,05).  The abnormal emotional symptoms are higher in middle school compared to other level schools and also higher in children aged 13-18 years old compared to 6-12 years old. The rate of emotional problems among children 6-18 years old is low, but this is essential to investigate because children are one of the vulnerable groups and older students are more likely to experience emotional symptoms. Keywords : Children, Emotional Symptom, Knowledge, Learning at Hom

    Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah obat yang tepat dan berkelanjutan

    Get PDF
    Penumpukan limbah farmasi di rumah tangga menimbulkan risiko serius terhadap lingkungan dan kesehatan akibat penyimpanan serta pembuangan obat yang tidak tepat. Meskipun kesadaran akan isu ini terus meningkat, banyak rumah tangga di Indonesia masih kurang memahami pengelolaan limbah farmasi yang benar, termasuk metode pembuangan yang sesuai serta pentingnya memahami istilah seperti Tanggal Kedaluwarsa (Expiration Date/ED) dan Periode Setelah Dibuka (Period After Opening/PAO). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi edukasi dalam meningkatkan pengetahuan rumah tangga mengenai penyimpanan dan pembuangan obat yang aman. Melalui survei pre dan post-intervensi yang dianalisis menggunakan uji t setelah dilakukan uji normalitas, hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan secara statistik (p < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berperan penting dalam mendorong pengelolaan limbah farmasi yang bertanggung jawab. Sebagai kesimpulan, penelitian ini mendukung penerapan program edukasi yang luas dan mudah diakses sebagai solusi terhadap permasalahan limbah farmasi rumah tangga. Implementasi program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, memperbaiki praktik pengelolaan limbah farmasi, serta berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan

    3,113

    full texts

    3,345

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Islam Malang
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇