Jurnal Online Universitas Muhammadiyah Surabaya
Not a member yet
8612 research outputs found
Sort by
From Group Work to Independent Writing: Enhancing Students’ Analytical Exposition Texts through Task-Based Learning
This study aims to investigate the extent to which the implementation of the Task-Based Learning (TBL) model can enhance the ability of Grade XI students at a public senior high school in Surabaya to write analytical exposition texts. Conducted as a Classroom Action Research over ten weeks, the study comprised three cycles. The first two cycles applied the Project-Based Learning (PjBL) approach, while the third cycle introduced TBL as the main instructional intervention. Each cycle followed the stages of planning, action, observation, and reflection. Data were collected through writing assessment rubrics, classroom video recordings, and teacher reflection sheets. The findings revealed that although collaborative methods like PjBL encouraged initial engagement, they were insufficient in fostering independent writing skills. In contrast, the application of TBL in the third cycle, featuring context-rich, differentiated writing tasks conducted without gadget use, significantly improved students’ abilities in constructing arguments, organizing ideas, and using linguistic features accurately. The average student score rose to 75.78, with 55.56% of students reaching the minimum target score of 75, thus meeting the study’s success criteria. Additionally, student engagement improved markedly, particularly in focus, initiative, and language accuracy. These findings indicate that Task-Based Learning is an effective instructional approach for developing analytical exposition writing skills at the secondary level, especially when supported by leveled tasks and structured formative assessment
MENINGKATKAN KEMAMPUAN GRAMMAR “SIMPLE PAST TENSE” SISWA KELAS 8 MELALUI METODE GAMIFIKASI
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap simple past tense melalui penerapan strategi game-based learning dengan permainan “Past Tense Treasure Hunt”. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya pemahaman siswa kelas VIII-G SMPN 36 Surabaya terhadap penggunaan simple past tense dalam recount text, yang tercermin dari nilai rata-rata pre-test sebesar 52,33. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa di kelas 8-G SMPN 36 Surabaya. Pengumpulan data dilakukan melalui Google Form yang digunakan untuk mengukur hasil pre-test dan post-test siswa. Pada siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 82,9 dan pada siklus II mencapai 88,33. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan game-based learning mampu meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan. Strategi pembelajaran ini juga meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif siswa selama proses belajar. Dengan demikian, metode ini efektif untuk digunakan sebagai pendekatan inovatif dalam pembelajaran tata bahasa Bahasa Inggris di tingkat SMP
ENINGKATAN PEMAHAMAN MAJAS PADA TEKS PUISI KELAS 8 SMP MELALUI MEDIA POHON MAJAS
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap jenis-jenis majas dalam teks puisi dengan menggunakan media pohon majas. Subjek penelitian adalah kelas VIII Al-Fathonah SMP Muhammadiyah 7 Surabaya yang terdiri dari 25 peserta didik. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, peserta didik diberikan tabel perbandingan majas, sedangkan pada siklus kedua mereka menggunakan media pohon majas yang lebih interaktif dan menarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pohon majas mampu membantu peserta didik memahami jenis-jenis majas secara lebih konkret dan menyenangkan. Rata-rata nilai peserta didik meningkat dari 62 pada pra tindakan menjadi 73 di siklus I dan 85 di siklus II. Selain itu, partisipasi aktif peserta didik juga meningkat, baik dalam diskusi kelompok maupun saat presentasi. Hasil ini membuktikan bahwa media visual seperti pohon majas sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman gaya bahasa dalam puisi secara kreatif dan menyenangkan
Peningkatan Minat Belajar Melalui Pembelajaran Kooperatif TGT pada Peserta Didik Kelas VII D di SMP Muhammadiyah 11 Surabaya
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi teks resensi fiksi dan nonfiksi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus di kelas VII-D SMP Muhammadiyah 11 Surabaya. Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian mencakup angket minat belajar, tes hasil belajar, dan lembar observasi aktivitas belajar. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan baik pada minat maupun hasil belajar peserta didik setelah diterapkannya model Teams Games Tournament (TGT). Penerapan Teams Games Tournament (TGT) dalam pembelajaran telah terbukti memiliki dampak positif. Metode ini tidak hanya membantu peserta didik untuk menumbuhkan minat dan keaktifan mereka, tetapi juga membantu mereka memahami materi melalui diskusi kelompok dan pertimbangan bersama. Kesimpulannya, model Teams Games Tournament (TGT) efektif meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik melalui suasana pembelajaran yang kompetitif, kolaboratif, dan menyenangkan
Implikasi Keterampilan Digital terhadap Profesionalisme Guru UPT Satuan Pendidikan SDN Pager dalam Menghadapi Disrupsi Pendidikan
Digital transformation in education has required teachers to develop digital skills to enhance the quality of learning and their professionalism. This study aims to explore the level of digital skills, the application of technology in teaching, and the challenges faced by teachers at UPT Satuan Pendidikan SDN Pager II. A qualitative descriptive approach was employed, utilizing data collection techniques such as surveys, classroom observations, semi-structured interviews, and document analysis.
The results reveal a significant gap in teachers' digital skills. Approximately 40% of teachers lack adequate proficiency in using digital tools, while the remaining 60% exhibit varying levels of competence, ranging from basic to advanced. Although most teachers have integrated technology into their teaching, its use remains limited to simple activities such as document creation or sourcing learning materials. Only 20% of teachers leverage technology to create interactive learning experiences. Major challenges include limited access to technological devices, insufficient ongoing training, and time constraints due to heavy workloads. These findings highlight the need for relevant and sustainable training programs, adequate technological infrastructure, and the development of learning communities to support technology adoptionTransformasi digital dalam pendidikan telah menuntut guru untuk mengembangkan keterampilan digital guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat keterampilan digital, penerapan teknologi dalam pembelajaran, serta kendala yang dihadapi guru di UPT Satuan Pendidikan SDN Pager II. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa survei, observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan signifikan dalam penguasaan keterampilan digital di antara guru. Sebanyak 40% guru belum menguasai perangkat digital secara memadai, sementara 60% sisanya memiliki keterampilan bervariasi, dari tingkat dasar hingga mahir. Meskipun sebagian besar guru telah menggunakan teknologi untuk mendukung pembelajaran, penggunaannya masih terbatas pada aktivitas sederhana seperti membuat dokumen atau mencari sumber belajar. Hanya 20% guru yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran interaktif. Kendala utama yang dihadapi meliputi keterbatasan akses perangkat teknologi, minimnya pelatihan berkelanjutan, dan keterbatasan waktu karena beban kerja. Temuan ini menunjukkan perlunya pelatihan yang relevan dan berkelanjutan, penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai, serta pengembangan komunitas belajar untuk mendukung adopsi teknolo
Implementasi Bulan Karakter sebagai Inovasi untuk Mengukir Generasi Berkarakter
This study aims to describe the implementation of the character month program as a form of school innovation in shaping the character of students, as well as to examine in depth the obstacles that arise in the implementation of character month at the School. The research method used is qualitative with an ethnographic approach. Data collection techniques in this study were designed with participatory observation and structured interviews. The object of this research specifically focuses on aspects related to the character month program, including strategies, impact on students, and reviewing the extent of involvement of all parties in charge of running the character month program. The research subjects are the head of Muhammadiyah Elementary School Kottabarat Special Program, teachers, students, and parents and the research system includes primary and secondary data. The collected data will later be analyzed using the Miles & Huberman analysis technique. The results of this study are 1) the implementation of character month is implemented through learning and extracurricular activities to instill and create students with ulul albab character, not only intelligent but also have an Islamic personality; 2) There are several obstacles that occur during the implementation of character month that need to be evaluated more deeply, such as the lack of understanding and commitment of school parties, time constraints, unstructured evaluation, and rapid policy changes that disrupt the continuity of character month.
Keywords: Learning innovation; Character Month; Elementary School; Character GenerationPenelitian berikut bertujuan untuk mendeskripsikan pengimplementasian program bulan karakter di Sekolah Dasar Muhammadiyah PK Kottabarat sebagai bentuk inovasi sekolah dalam membentuk karakter peserta didik, serta menelaah secara mendalam kendala- kendala yang muncul dalam pelaksanaan bulan karakter di Sekolah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dirancang dengan observasi partisipatif dan wawancara terstruktur. Adapun objek penelitian ini secara khusus berfokus pada aspek- aspek yang berkaitan dengan program bulan karakter, termasuk strategi, dampak terhadap peserta didik, serta meninjau sejauh mana keterlibatan seluruh pihak yang bertugas dalam menjalankan program bulan karakter. Adapun subjek penelitian yaitu, kepala seolah SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, guru, peserta didik, dan orang tua dan dengan tata penelitian mencakup data primer dan sekunder. Data yang terlah terkumpul nantinya akan dianalisis dngan menggunakan teknik analisis Miles & Huberman. Adapun hasil penelitian ini adalah 1) pelaksanaan bulan karakter diimplementasikan melalui kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler untuk menanamkan dan menciptakan peserta didik yang berkarakter ulul albab, selain cerdas namun juga memiliki kepribadian yang islami; 2) terdapat beberapa kendala yang terjadi selama pelaksanaan bulan karakter yang perlu untuk di evaluasi lebih mendalam berupa kurangnya pemahaman dan komitmen pihak sekolah, keterbatasan waktu, evaluasi yang kurang terstruktur, dan perubahan kebijakan yang tergolong sangat cepat yang mengganggu keberlangsungan bulan karakter
Penerapan Pembelajaran Mendalam di Sekolah Dasar untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kualitas Pembelajaran IPAS
This study explores the implementation of a deep learning approach by IPAS subjects at SD Negeri Sumbertaman 2. It uses a qualitative method with a case study approach involving participatory observation, in-depth interviews, and document analysis. The results show the school’s success in adapting the three main aspects of deep learning according to the local context. The meaningful learning approach is realized through learning that is linked to real problems in the students’ environment, while mindful learning is implemented with structured metacognitive strategies. In addition, joyful learning is implemented by integrating local cultural elements into learning. To overcome the limitations of digital infrastructure, the school develops a hybrid learning model and improves teachers’ capacity through continuous professional development programs. This implementation positively impacts students’ critical thinking skills, strengthening character and social skills according to the “6C” concept and increasing learning motivation. This learning model exemplifies how schools in urban border areas can make meaningful educational transformations by integrating cognitive, social-emotional, and cultural aspects in IPAS learning.Penelitian ini mengkaji implementasi pendekatan deep learning mata Pelajaran IPAS di SD Negeri Sumbertaman 2 dengan mengintegrasikan tiga aspek utama pembelajaran: meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Pendekatan ini dilaksanakan melalui metode kualitatif dengan desain studi kasus, menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah berhasil mengadaptasi ketiga aspek tersebut secara kontekstual sesuai dengan karakteristik lokal. Meaningful learning diwujudkan dengan mengaitkan materi pelajaran pada permasalahan nyata di lingkungan siswa, sedangkan mindful learning diterapkan melalui strategi metakognitif terstruktur seperti jurnal refleksi dan diskusi kelompok. Joyful learning diintegrasikan melalui unsur budaya lokal yang menjadikan proses belajar lebih menyenangkan dan bermakna. Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur digital, sekolah mengembangkan model pembelajaran hybrid dan melaksanakan program pengembangan profesional guru secara berkelanjutan. Penerapan pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, karakter, serta kemampuan sosial siswa sesuai dengan kerangka “6C”. Selain itu, motivasi belajar siswa turut mengalami peningkatan. Model ini menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan yang bermakna dapat diwujudkan di sekolah dasar wilayah semi-urban melalui integrasi aspek kognitif, sosial-emosional, dan budaya dalam proses pembelajaran IPAS
IDENTIFIKASI RISIKO KERJA DENGAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS MENGGUNAKAN NORDIC BODY MAP PADA PENGEPUL RONGSOKAN UD SUMBER REJEKI LUMAJANG
ABSTRAK
Pendahuluan: Beban kerja berlebih dengan postur yang salah, pengulangan, dan mengangkat beban berat dapat mengakibatkan keluhan musculoskeletal. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan jenis penelitian observasional. Desain penelitian menggunakan penelitian cross sectional. Tempat penelitian di UD Rongsokan Sumber Rejeki Dusun Curah Tekor RT.04//RW.06, Desa Ledoktempuro, Kec. Randuagung, Kab. Lumajang. Waktu penelitian dan pengambilan data dilakukan pada bulan Maret 2025. Variabel yang diteliti adalah keluhan musculoskeletal. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling, sampelnya berjumlah 35 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM). Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi. Hasil: Sebanyak 20 pengepul dengan kategori rendah, dan terdapat 15 pengepul dengan kategori sedang. Sedangkan jika di rata-rata skor para pengepul adalah 50,8 yang artinya risiko dalam kategori sedang. Kesimpulan: Setelah dilakukan identifikasi risiko keluhan muskuloskeletal pada 35 pengepul rongsokan UD Sumber Rejeki Lumajang dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) didapatkan hasil sebanyak 75% mengalami nyeri pinggang, bahu dan leher, 65% mengalami nyeri tangan dan pergelangan tangan, 90% mengalami nyeri lutut.
Kata Kunci: Pengepul, Musculoskeletal Disorders, Nordic Body Map
ANALYSIS OF PHARMACEUTICAL LOGISTICS FORECASTING BY ACT CLASSIFICATION METHODS
Objective: This study aims to evaluate the effectiveness and compare the accuracy of the Exponential Smoothing and Moving Average methods in forecasting pharmaceutical logistics needs at BB Hospital.
Methods: A quantitative approach with a descriptive- comparative design was used. The data analyzed were monthly pharmaceutical logistics needs over a 12-month period, categorized into solid, liquid, and topical dosage forms. Forecasting was performed using Exponential Smoothing and Moving Average methods. Statistical analysis was conducted using ANOVA and independent t-tests to examine the significance of differences in forecasting accuracy.
Results: Both methods showed satisfactory accuracy, as reflected in comparable values of Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Squared Error (MSE), and Mean Absolute Percentage Error (MAPE). The ANOVA test revealed a statistically significant difference between the methods (p = 0.000); however, the independent t-test showed a significance value of 0.756, indicating no significant difference in the average forecasting results between the two methods.
Conclusion: Both Exponential Smoothing and Moving Average methods are effective for forecasting pharmaceutical logistics needs. Since no significant difference was found in their average forecasting performance, either method can be applied flexibly based on the hospital’s specific requirements. These findings provide practical insights for strategic decision- making in pharmaceutical inventory management
The Relationship Between Job Statification And Health Workers Performane At Ende Regional Public Hospital
Objective: To identify how healthcare worker performance directly impacts the quality of hospital services and patient outcomes, this study examines the link between job satisfaction and staff performance at RSUD Ende, East Nusa Tenggara, Indonesia. In regions like Ende, healthcare facilities face challenges such as high workloads, insufficient resources, and limited access to professional development, which can negatively affect employee morale, retention, and service quality. According to the Indonesian Audit Board (BPK, 2024), RSUD Ende demonstrates weak planning and monitoring in inpatient services, indicating a need for stronger human resource strategies. While previous studies have explored job satisfaction and performance, few have focused on remote, resource-limited hospitals, particularly in Eastern Indonesia. This study aims to fill that gap by analyzing the impact of job satisfaction on healthcare worker performance to guide hospital leadership and policymakers in creating targeted interventions.
Method: This article used a descriptive research design with a cross-sectional approach. The study involved a randomly selected sample of 100 employees from RSUD Ende. Data were collected using a structured questionnaire with Likert scale items and analyzed using the Chi-Square non-parametric test.
Results: The majority of respondents were female (70%), aged 30–40 years, married (80%), and held a Diploma III degree (70%). Most had 5–10 years of work experience. Overall, job satisfaction levels were rated as “moderately satisfied,” while healthcare worker performance in outpatient care was considered “fairly good.” The findings suggest a significant relationship between job satisfaction and staff performance in a limited-resource hospital setting