Journal Nursing Care and Biomolecular
Not a member yet
210 research outputs found
Sort by
HAND HYGIENE MERUPAKAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA KECACINGAN PADA SISWADI SDN SIDORAHAYU 04 WAGIR KABUPATEN MALANG (Hand Hygiene As Risk Factor of Intestinal Wormy Diseases at Elementary School Students†Sidorahayu “ 04 Malang Regency of Wagir)
Perilaku hand hygiene merupakan tindakan mencuci tangan dan memotong kuku jari. Infeksi yang sering menyerang pada masa pertumbuhan adalah cacingan. Cacingan merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi parasit. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara perilaku hand hygiene terhadap kejadian resiko cacingan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah siswa siswi di sekolah dasar kelas I dan II  di SDN Sidorahayu 04 Wagir Kabupaten Malang sebanyak 40 anak. Sampel dipilih sesuai dengan kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling. Hasil uji spearman menunjukkan nilai p=0,000 dengan α= 0,05, ada hubungan yang signifikan antara perilaku hand hygiene dengan resiko cacingan. Nilai korelasi r= 0.754 menunjukkan kekuatan korelasi yang kuat, dan arah korelasi positif . Perilaku hand hygiene yang cukup atau kurang dapat menyebabkan terjadinya resiko cacingan.perilaku hand hygiene yang kurang pada anak dapat menyebabkan anak beresiko terinfeksi cacingan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang bermakna pada perilaku hand hygiene dengan resiko cacingan pada anak usia sekolah di SDN Sidorahayu 04 Wagir Kabupaten Malang. Selanjutnya disarankan untuk menanamkan perilaku hand hygiene  sejak dini pada anak baik di rumah ataupun di sekolah, agar resiko cacingan dapat menurun
PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 0-6 BULAN ANTARA YANG DIBERIKAN ASI EKSKLUSIF DENGAN YANG DIBERIKAN SUSU FORMULA DI POSYANDU KELURAHAN TANJUNGREJO KECAMATAN SUKUN KOTA MALANG (Differences between Exclusive Breast feeding recipients and Fo
Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak, dengan perkiraan 1,3 miliar episode dan 3,2 juta kematian setiap tahun pada balita. Daerah kota malang bulan Januari-Juli terdapat 870 kasus diare untuk bayi berusia dibawah 1 tahun. Kejadian diare pada bayi disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makan, dimana bayi sudah diberi makan selain ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan antara yang diberikan ASI eksklusif dengan yang diberikan susu formula.Penelitian menggunakan desain Studi Komparasi pendekatan cross sectional.Terdiri dari dua kelompok sampel yaitu  yang diberikan ASI Eksklusif  berjumlah 16 responden dan yang diberikan Susu Formula berjumlah 26 responden di Posyandu Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang, dengan teknik pengambilan sampel yaitu Insidental Sampling dan analisa data dilakukan dengan uji Independent T-test. Dimana didaptkan nilai signifikansi sebesar 0,315 lebih besar dari P value sebesar 0,05, artinya tidak ada  perbedaan angka kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan antara yang deberikan ASI Eksklusif dengan yang diberikan Susu Formula.Hal tersebut menunjukkan perbedaan antara literatur dengan hasil penelitian. Kemungkinan hal yang membuat masih tingginya kejadian diare pada bayi yang diberikan ASI eksklusif adalah faktor lain diluar protektifitas yang terkandung dalam ASI, yaitu kurangnya kebersihan diri pada ibu, pemberian MP-ASI dini pada bayi berupa bubur, dan ibu mengkonsumsi makanan berserat tinggi. Saran perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menambah jumlah sampel dan mengendalikan confinding variable yang dapat mempengaruhi hasil penelitian
Gaya Kepemimpinan Koordinator UKP dan Motivasi Kerja Karyawan Puskesmas Sukomoro, Magetan Leadership Style of UKP Coordinator and Employee Motivation of Sukomoro Community Health Center, Magetan
The existence of competing demands from other health practitioners, both public and private status, would to force the primary health centers to think business-like and innovate on the services provided. Sukomoro Public Health Center as one of the public health centers that would change the status into BLUDs expected to increase their responsibilities in serving health care. It was necessary for the performance of a good employee, the employee must have a highly motivated and loyal to the institution so that the objective the institution would be more easily achieved. It needed to be supported by leadership style, especially coordinators employees who deal directly with the performance of his subordinates and could increase employee productivity and improve service quality. The objective of this study was to analyze the association between UKP coordinator leadership style with employee motivation PHC Sukomoro Magetan. This study used cross sectional design. The study population were all employees UKP include General Poli, health of both mother and child or family planning. The number of samples were 35 people using simple random sampling. Most types of UKP coordinator leadership style was participative leadership style of 65.71%. The level of employee motivation was 51.43% have a high motivation to work. Based on the results of Chi Square test, there was an association between UKP coordinator leadership style with employee motivation Sukomoro PHC Magetan (p=0,024). The results of the test output contingency coefficient of 0.024, which means the level of associationbetween UKP coordinator leadership style with the employee motivation Sukomoro PHC was very low
Hubungan Persepsi Tentang Nyeri Kardiak Dengan Keterlambatan Prehospital Pada Pasien Sindrom Koroner Akut Di IGD RSUD dr. T.C. Hillers
Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan kondisi kegawatan yang paling sering mengakibatkan kematian. Penyakit ini membutuhkan penatalaksaan yang cepat dan tepat, tetapi yang sering terjadi adalah waktu keterlambatan prehospital yang panjang. Penyebab keterlambatan prehospital dikaitkan dengan persepsi pasien tentang nyeri kardiak. Tujuan penelitian yaitu untuk menjelaskan hubungan persepsi nyeri kardiak dengan keterlambatan prehospital pada pasien SKA di IGD RSUD dr. T.C. Hillers Maumere. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan besar sampel sebanyak 42 orang. Data dikumpulkan dengan lembar wawancara pada bulan April-Juni 2017, kemudian di analisis secara univariat dan bivariat (uji contingency coefficient). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 28 pasien (66.7%) mempersepsikan nyeri kardiak adalah bukan penyakit jantung, pasien tiba terlambat di IGD sebanyak 26 pasien (61.9%). Hasil uji contingency coefficient diperoleh ada hubungan persepsi nyeri kardiak dengan keterlambatan prehospital pada pasien SKA di IGD RSUD dr. T.C. Hillers Maumere (p=0.002). Nilai contingency coefficient sebesar 0.437, maka dapat disimpulkan hubungan ke dua variabel dalam kategori sedang. Penelitian ini mengindikasikan pentingnya penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan persepsi pasien yang sesuai
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT The Relationship Between Therapeutic Communication and Family Patient’ Anxiety in The Intensive Care Unit
Banyak faktor penyebab terjadinya kecemasan dalam diri pasien dan keluarganya selama dirawat di ruang ICU. Salah satunya faktor komunikasi terapeutik perawat. Komunikasi terapeutik dilakukan dengan tujuan membantu pasien dan keluarganya mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di Ruang Intensive Care Unit RSUD Pare Kab Kediri tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga pasien di Ruang Intensive Care Unit RSUD Pare Kab Kediri dengan jumlah sampelnya 30 orang yang dipilih dengan teknik quota sampling. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini komunikasi terapeutik telah diberikan perawat dengan baik, yaitu sebanyak 29 (96,7 %) responden dan hanya 1 (3,3 %) responden yang merasa komunikasi terapeutik diberikan dengan cukup. Dari tingkat kecemasan keluarga diketahui 10 (33,3 %) keluarga mengalami kecemasan ringan dan berat (panic). Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik Rank Spearman dengan nilai signifikan sebesar 0,233 yang berarti lebih besar dari pada α (0,05), artinya tidak ada hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di Ruang Intensive Care Unit RSUD Pare Kab Kediri tahun 2013
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN ADL (ACTIVITY DAILY LIVING) PADA LANSIA THE CORRELATION BETWEEN FAMILY SUPPORT AND ELDERLY DAILY LIVING ACTIVITIES INDEPENDENCES
Usia lanjut merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia, yaitu bagian dari proses kehidupan yang akan dialami oleh setiap individu. Lansia mengalami berbagai macam perubahan diantaranya perubahan fisik dan psikologis. Hal tersebut membuat lansia mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari – hari sehingga dukungan keluarga sangat dibutuhkan lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian ADL pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner kemandirian ADL (Indeks Barthel). Berdasarkan uji korelasi Spearman Rank (Rho) diperoleh p value 0,018, sehingga p < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian ADL (activity daily living) pada lansia. Dari penelitian ini diharapkan keluarga lebih berperan aktif dalam mendukung aktivitas sehari – hari pada lansia sehingga lansia lebih mandiri dalam menjalankan kelangsungan hidupnya sehari – hari
RUANG PRIVASI MENGAMBARKAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA PRIVATE ROOM DESCRIBE AGGRESSIVE BEHAVIOR IN ADOLESCENCE
Tindakan kekerasan yang dilakukan remaja semakin meningkat, penyebab agresif meliputi keadaan homestatis, biologis, lingkungan, dan sosial. Penelitian ini merupakan penelitian korelatif, yang bertujuan untuk menganalisa hubungan antara ruang privasi dengan perilaku agresif remaja dengan 47 responden sesuai dengan kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden memiliki ruang privasi kategori baik yaitu 36 orang (75,59%), sebagian besar responden yaitu 25 orang (53,19%) berperilaku agresif ringan. Pada analisis Spearman, menunjukan tidak ada hubungan signifikan antara ruang privasi dengan perilaku agresif remaja, hasil tersebut dimungkinkan karena ada faktor lain yang lebih mendukung seperti pola asuh, kekerabatan, tuna wisma, yatim piatu, pendidikan rendah, media komunikasi masal dan sebagainya. Saran penelitian ini bagi orang tua agar memperhatikan kebutuhan seorang remaja yang mencari ideal diri dengan memberikan ruang yang memenuhi kebutuhan meskipun dalam kondisi yang standar
PENGARUH TEH PEPPERMINT TERHADAP DISMENORRHOE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN STIKES MAHARANI MALANG EFFECT OF PEPPERMINT TEA ON DISMENORRHOE IN MIDWIFERY STUDENTS OF DIII STUDY PROGRAM STIKES MAHARANI MALANG
Keluhan yang sering terjadi saat menstruasi adalah timbulnya dismenorhoe yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, yang biasanya sering mengkonsumsi obat-obatan kimia utnuk mengatasinya akan berdampak negatif pada organ tubuh. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh konsumsi teh peppermint terhadap dismenorhea pada mahasiswa program studi DIII Kebidanan STIKes Maharani Malang. Penelitian ini menggunakan desain “One Group Pretest-Postestâ€. Sampel yang digunakan 46 responden. Sebagian besar responden ( 67,4%) mengalami nyeri dismenorrhea pada tingkat sedang. Hampir setengah responden ( 41,3%) menyebutkan bahwa mereka tidak mengalami dismenorrhea setelah mengkonsumsi teh peppermint. Hasil uji statistic Wilcoxon Sign Rank Test dengan n = 46, asymp sig. (2-tailed) 0,000 < α = 0,05 sehingga ada pengaruh konsumsi teh peppermint terhadap nyeri disminorhea pada mahasiswa Prodi DIII Kebidanan STIKES Maharani Malang. Kram menstruasi adalah rasa nyeri yang dipicu oleh produksi berlebihan dari hormon prostaglandin yang menyebabkan kejang rahim. Asam lemak omega-3 yang terkandung dalam peppermint membantu penurunan produksi prostaglandin dengan cara menghambat transportasi dan pembentukan hormon prostaglandin, dengan menurunnya prostaglandin, kram menstruasi dapat berkurang. Meningkatkan upaya mencari informasi pengaruh pemberian teh peppermint sehingga responden dapat mengetahui manfaat yang diperoleh nantinya pada saat mengalami disminorhea
GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN IBU DALAM PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA 36 – 48 BULAN
Keberhasilan cakupan pelaksanaan pemantauan atau deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang balita tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan dan orangtua, khususnya ibu. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang sering dijumpai di masyarakat, tetapi terkadang kurang mendapatkan penanganan yang tepat. Kendala yang ditemui di lapangan adalah kurangnya pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang anak usia 36 – 48 bulan, terutama dalam tes perkembangan yang dilakukan setiap 6 bulan sekali. Anak pada usia tersebut sudah jarang atau tidak pernah datang ke posyandu lagi karena anak sudah masuk PAUD dan persepsi ibu bahwa anak telah diberikan imunisasi wajib sehingga tidak perlu ke posyandu, sehingga tidak jarang ditemukan permasalahan dalam tumbuh kembang pada usia tersebut. Melihat fenomena diatas, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan ibu dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia 36-48 bulan.Penelitian ini menggunakan Jenis penelitian non eksperimen dengan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 36 – 48 bulan, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah multistage random sampling dengan 2 tahap. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas X Kota Bandung pada bulan Oktober sampai November 2016 dengan jumlah sampel 76 ibu.Hasil penelitian ditemukan dari 76 responden yang memiliki anak usia 36-48 bulan, didapatkan data bahwa 59 responden (77.63%) ibu berada dalam kategori tidak patuh dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Perlu adanya upaya yang dapat membantu memfasilitasi ibu dalam melakukan upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dengan menggunakan perkembangan tehnologi maupun meningkatkan kinerja dari petugas puskesmas serta para kader.  Kata Kunci : Kepatuhan, Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak usia 36 – 48 bulan
PENERAPAN PENILAIAN FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA IBU HAMIL TRIMESTER 2 DAN 3 APPLICATION OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS RISK FACTOR TOOLS AT TRIMESTER 2 AND 3 OF PREGNANT WOMEN
Prevalensi DM di Indonesia menduduki peringkat ke 4 dunia berdasarkan wawancara tahun 2013 yaitu 2,1%. (Kementerian Kesehatan RI 2014). Salah satu bentuk diabetes dimana kadar gula darah menetap tinggi selama kehamilan yaitu Gestational diabetes (GDM). GDM ini muncul pada satu diantara 25 kehamilan di seluruh dunia dan dihubungkan dengan komplikasi pada ibu maupun bayinya (IDF, 2016).  Diperlukan metode screening dan bersifat pencegahan supaya angka kejadian DM tidak semakin tinggi. Penelitian melibatkan 30 orang partisipan ibu hamil trimester 2 dan 3 yang diberikan kuesioner faktor risiko DM tipe II dan dilakukan pengukuran kadar gula darah puasa (GDP). Secara univariat deskripsi faktor risiko DM tipe 2 dari 8 item faktor risiko terdapat dominansi faktor risiko yaitu IMT>25 (40%), Lingkar pinggang> 90cm (60%), aktifitas fisik minimal (40%), konsumsi sayur dan buah yang tidak setiap hari (53%), serta keluarga inti dengan riwayat DM ada 30%. Berdasarkan uji hipotesis dengan korelasi pearson, ada hubungan yang signifikan antara penilaian faktor risiko DMT2 dengan kadar GDP yaitu 0,00 (α=0,01) dan koefisien korelasi, 0,880. Semakin tinggi nilai faktor risiko DMT2 maka semakin tinggi kadar GDP. Berdasarkan hasil penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara kohort pada ibu yang mengalami kadar gula tinggi saat kehamilan dengan terjadinya insiden DM dikemudian hari. Selain itu, perlu dibuat alat ukur penilaian faktor risiko DM khusus untuk ibu hamil serta dilakukan pemeriksaan GDP saat kehamilan untuk deteksi dini GDM