eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
3096 research outputs found
Sort by
PENERAPAN BUDAYA NRIMO ING PANDUM DALAM PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIROR THERAPY (REBT) UNTUK MEREDUKSI SELF INJURY REMAJA
Self injury is a form of behavior carried out by individuals as an effort to reduce emotional pain and disappointment, this is not done with the intention of committing suicide, but only as an action that can transfer inner pain and emotional disappointment to others. wounds made to body parts resulting from self-injury. The aims of this research are (1) to determine the factors that can influence self-injury in adolescents and (2) to determine the application of the culture of caring for teenagers in the REBT approach to reduce self-injury behavior in adolescents. This article was written using a literature review by examining various relevant literature. The existence of this literature review can be used by counselors and other researchers to increase insight regarding the concept of implementing a nrimo ing pandum culture in the REBT approach to reduce self-injury behavior in adolescents. The research results show that there are several factors that influence adolescent self-injury, including individual personality, individual psychology, family, environment, parenting patterns and romantic relationships. There are efforts that can be made to reduce self-injury by using the REBT approach containing Nerimo Ing Pndum's cultural values, the steps for implementing which have been explained. Suggestions for further researchers are to carry out the effectiveness of the REBT approach containing Nerimo Ing Pndum cultural values to reduce adolescent self-injury.Perilaku menyakiti diri sendiri (self injury) merupakan suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu sebagai upaya untuk mengurangi rasa sakit dan kecewa secara emosional, hal ini dilakukan tidak dengan niat untuk bunuh diri, melainkan hanya sebagai tindak yang dapat mengalihkan rasa sakit batin dan kecewa emosional kepada luka yang dibuat pada anggota tubuh yang ditimbulkan akibat melakukan tindakan self injury. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self injury pada remaja dan (2) mengetahui penerapan budaya nrimo ing pandum dalam pendekatan REBT untuk mereduksi perilaku self injury pada remaja. Penulisan artikel ini menggunakan literature review dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan. Adanya literature review ini dapat dijadikan oleh konselor maupun peneliti lainnya guna menambah wawasan terkait konsep penerapan budaya nrimo ing pandum dalam pendekatan REBT untuk mereduksi perilaku self injury pada remaja. Hasil penelitianbahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi self injury remaja diantaranya kepribadian individu, psikologis individu, keluarga, lingkungan, pola asuh dan hubungan asmara. Adapun upayan yang dapat dilakukan untuk mereduksi self injury dengan menggunakan pendekatan REBT bermuatan nilai-nilai budaya Nerimo Ing Pndum yang telah dijelaskan langkah-langkah pelaksanaannya. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah untuk melakukan efektifitas pendekatan REBT bermuatan nilai-nilai budaya Nerimo Ing Pndum untuk mereduksi self injury remaja
STRES AKADEMIK DAN PROKRASTINASI AKADEMIK DENGAN RESILIENSI AKADEMIK PADA SISWA KELAS X SMA STRADA SANTO THOMAS AQUINO
Academic stress is a response to academic stressors that exert pressure on individuals. Academic procrastination is the behavior of delaying the initiation and completion of tasks. Academic resilience is the ability to persist under pressure in academic contexts. This correlational quantitative research investigates the relationship between academic stress, procrastination, and academic resilience among 10th-grade students at SMA Strada Santo Thomas Aquino. Data collection utilized questionnaires with the following instruments: The academic resilience instrument consisted of 71 valid statements with a reliability coefficient 0.944. The academic stress instrument consisted of 30 valid statements with a reliability coefficient 0.914. The academic procrastination instrument consisted of 40 valid statements with a reliability coefficient 0.914. The correlational analysis results indicate that the computed correlation coefficient (r = 0.660) exceeds the critical value (r = 0.318), indicating a positive and significant relationship between academic stress, academic procrastination, and academic resilience. The school's counseling team used these findings as the foundation to develop relevant support services.Stres akademik merupakan respon terhadap stresor akademik yang memberikan tekanan pada individu. Prokrastinasi akademik merupakan perilaku penundaan untuk memulai dan menyelesaikan tugas. Resiliensi akademik merupakan kemampuan bertahan dengan keadaan penuh tekanan dalam konteks akademik. Penelitian kuantitatif korelasional ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dan prokrastinasi akademik dengan resiliensi akademik pada siswa kelas X SMA Strada Santo Thomas Aquino. Pengumpulan data instrumen penelitian berupa angket sebagai berikut Instrumen resiliensi akademik memiliki 71 pernyataan valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,944. Instrumen stres akademik memiliki 30 pernyataan valid dengan koefisien realiabilitas sebesar 0,914. Instrumen prokrastinasi akademik memiliki 40 pernyataan valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,914. Hasil analisis korelatif menunjukkan bahwa r hitung (0,660) > r tabel (0,318), sehingga diketahui terdapat hubungan secara positif dan signifikan stres akademik dan prokrastinasi akademik dengan resiliensi akademik. Tim BK sekolah disarankan memanfaatkan penelitian ini sebagai dasar menyusun layanan yang relevan
Screening for Developmental Coordination Disorder in Elementary School Children Aged 6 – 8 Years During Covid-19 Pandemic in Cirebon City: A Comparative Study with Stunted and Normal-Height Children
Pendahuluan: Gangguan perkembangan koordinasi (GPK) merupakan gangguan neurodevelopmental pada anak, berupa defisit keterampilan motorik kasar dan halus. Anak dengan perawakan pendek sering mengalami berbagai masalah neurodevelopmental. Di Indonesia, belum ada penelitian secara spesifik membahas atau mengetahui mengenai GPK pada anak perawakan pendek dan normal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran GPK pada anak perawakan pendek dan perbandingannya dengan anak perawakan normal.
Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 172 anak sekolah dasar usia 6 – 8 tahun di Kota Cirebon. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Penilaian GPK dinilai berdasarkan kuesioner DCDQ 2007 dan DCDDaily-Q terjemahan Bahasa Indonesia. Uji statistik menggunakan IBM SPSS ver 22.
Hasil: Jumlah proporsi GPK berdasarkan kuesioner DCDQ 2007 dan DCDDaily-Q yaitu 11,0% (n=19). Kejadian GPK pada anak perawakan pendek ditemukan lebih banyak dibandingkan anak perawakan normal (14,1% vs 8,9%). Hasil uji analisis didapatkan adanya perbedaan yang bermakna antar kedua kelompok pada rerata mean skor variabel performa (p=0,040) dan pembelajaran aktivitas motorik (AM) (p=0,035) pada subjek penelitian dengan GPK.
Simpulan: GPK lebih banyak ditemukan pada anak dengan perawakan pendek, terutama dengan defisit variabel performa dan pembelajaran AM. Deteksi dini perkembangan motorik anak sangat diperlukan, terutama saat pandemi COVID-19.Introduction: Developmental coordination disorder (DCD) is a neurodevelopmental disorder in children characterized by deficit in gross and fine motor skills. The majority of stunted children often experience various neurodevelopmental problems. In Indonesia, there are limited studies about DCD, specifically in stunted and normal-height children. This research aims to describe DCD in stunted children and its comparison with normal-height children.
Methods: A cross-sectional study of 172 elementary school children in Cirebon City. Sampling was done by consecutive sampling method. DCDQ 2007 and DCDDaily-Q was used to determine DCD in children and had been validated in Indonesian. Statistical analysis is conducted using IBM SPSS Ver 22.
Results: The proportion of DCD based on DCDQ 2007 and DCDDaily-Q was 11.0%. The incidence of DCD in stunted children was found to be higher than in normal-height children (14.1% vs 8.9%). Analysis test showed that there was a significant difference between the two groups in the mean quality score of the performance (p = 0.040) and learning activity daily living (ADL) (p = 0.035) on subjects with DCD,
Conclusion: DCD were more commonly found in stunted children, especially deficits in performance and learning ADL. Early detection for children's motor development is very necessary, especially during the Covid-19 pandemic
Cultural Influences on Problem Solving and Decision-Making in Student Projects: A Comparative Study between Indonesia and Germany
Differences in cultural dimensions across countries can influence approaches and behavior patterns in education. Therefore, this study aims to analyze the influence of culture on problem-solving and decision-making in student projects in Indonesia and Germany. A comparative approach between the two countries identifies significant cultural differences in power distance, individualism, masculinity, uncertainty avoidance, long-term orientation, and indulgence. The research method used is a qualitative approach with descriptive analysis. Data was collected through interviews and observations of students involved in the project. The study results show that cultural differences affect students' approaches to problem-solving and decision-making. In Indonesia, group cooperation and conformity to social norms play an important role, while independence and critical thinking are prioritized in Germany. The implications of this research are the importance of increasing cultural awareness, developing collaborative skills, increasing independence and critical thinking, and empowering students with cultural knowledge. By understanding cultural differences and taking the right steps, educators can create an inclusive learning environment and prepare students to face the challenges of an increasingly globalized world
Perancangan Sistem Erp Modul Point Of Sale Berbasis Odoo Pada Banyuwangi Festival Dengan Metode Rapid Application Development
The sales report of SMEs at the Banyuwangi Festival is an indicator of the success of the festival. In the process of collecting the sales report, the Banyuwangi Tourism and Culture Office, as the current responsible party, still does it without an information system, making the management of the sales report of SMEs at the Banyuwangi Festival inefficient. Using the Rapid Application Diagram (RAD) method, the design of an ERP system in the form of a point of sale module based on the Odoo application at the Banyuwangi Tourism and Culture Office and the Banyuwangi Festival SMEs is carried out to obtain an efficient process of collecting the sales report of SMEs at the Banyuwangi Festival. The design using the RAD method is carried out to obtain results that are in line with user needs. The results of this research show that the designed ERP system can improve business process efficiency for institutions and efficient sales management for SMEs. The impact of this research is expected to improve data management accuracy, increase collaboration, and optimize sales of Banyuwangi Festival SME products
ANALISIS KASUS PEMBUNUHAN BERENCANA BRIGADIR J OLEH FERDI SAMBO (Dalam Tinjauan Hukum, Norma Moral Obyektif & Subyektif): Indonesia
Pembunuhan berencana merupakan tindakan kriminal yang sangat keji karena menghilangkan nyawa seseorang dan direncanakan sedemikian rupa baik secara pribadi maupun kelompok. Kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J menarik untuk dianalisis dari sudut pandang filsafat karena melibatkan pertimbangan mendalam mengenai moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, dan kebebasan individu. Analisis filosofis ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasi etis dan normatif dari tindakan tersebut, serta bagaimana tindakan tersebut melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan moralitas. Fokus penulisan ini ditujukan untuk menganalisa serta memahami kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J dari sudut pandang hukum dan moral. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami bahwa kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J tidak dibenarkan secara hukum dan moral sehingga sanksi yang diberikan sangat tegas. Metode penulisan ini menggunakan analisis kasus secara kualitatif menggunakan pendekatan hukum, moral, dan literasi. Temuan dari penulisan ini antara lain bahwa kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Ferdy Sambo tidak dibenarkan secara moral, norma obyektif, maupun norma subyektif. Alasannya karena pembunuhan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, apalagi membunuh dengan direncanakan adalah suatu kekejian. Membunuh dengan melibatkan orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang dianut oleh masyarakat pada umumnya dan juga bertentangan dengan hati nurani yang benar. Relevansi norma obyektif dari kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Ferdy Sambo terhadap Brigadir J dalam pandangan moral menunjukkan bahwa perilaku yang didasarkan pada kebebasan individu cenderung mengarah pada hal negatif.Pembunuhan berencana merupakan tindakan kriminal yang sangat keji oleh karena menghilangkan nyawa seseorang dan direncanakan sedemikian rupa baik secara pribadi maupun kelompok. Fokus penulisan ini ditujukan untuk menganalisa serta memahami kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdi Sambo terhadap Brigadir J dari sudut pandang hukum dan moral. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memahami bahwa kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Ferdi Sambo terhadap Brigadir J tidak dibenarkan secara hukum dan moral sehingga sanksi yang diberikan sangat tegas. Metode penulisan ini menggunakan analisis kasus secara kualitatif menggunakan pendekatan hukum, moral dan literasi. Temuan dari penulisan antara lain bahwa kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Ferdy Sambo tidak dibenarkan secara moral, dan norma obyektif serta norma subyektif. Alasannya karena pembunuhan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, apalagi membunuh dengan direncanakan adalah suatu kekejian. Membunuh dengan melibatkan orang lain merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang dianut oleh masyarakat pada umumnya dan juga bertentangan dengan hati nurani yang benar. Relevansi norma obyektif dari kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Ferdy Sambo terhadap Brigadir J dalam pandangan moral menunjukkan bahwa perilaku yang didasarkan pada kebebasan individu cenderung mengarah pada hal negatif
RETENSI DAN INOVASI FONOLOGIS PROTOBAHASA AUSTRONESIA (PAN) PADA BAHASA MBOJO (BMb)
Makalah ini mengkaji retensi dan inovasi fonologis yang terjadi protobahasa Austronesia (PAN) pada bahasa Mbojo (BMb). Melalui refleksi fonem-fonem proto PAN pada , akan terlihat berbagai kaidah perubahan (inovasi) fonologis primer maupun sekunder yang memaknai inovasi yang terjadi pada BMb. Maka, tujuan makalah ini yaitu mencoba mendeskripsikan fonem PAN yang mengalami retensi dan inovasi fonologis pada bahasa Mbojo (BMb). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa 200 kosakata Swadesh. Pengumpulan data lapangan dilakukan dengan metode simak dan cakap dengan teknik catat dan rekam. Kemudian menggunakan metode cakap semuka dengan menggunkan teknik dasar pancing dengan teknik bawahan catat, dan rekam. Data dianalisis dengan menerapkan metode kualitatif dengan menggunakan metode inovasi bersama dan metode komparatif. Hasil penelitian disimpulkan bahwa beberapa fonem PAN mengalami retensi dan inovasi pada BMb. Berikut beberapa fonem PAN yang mengalami retensi pada BMb diantaranya; *i, *u, *a, *p, *b, *t, *k, *m, *n, *ŋ, *s, *l, *r, dan *w. Hampir semua fonem vokal mengalami retensi pada setiap posisi, sedangkan untuk fonem konsonan hanya mengalami retensi pada posisi awal dan tengah, dikarenakan BMb pada dasarnya tidak memiliki konsonan akhir atau biasa disebut bahasa vokalic. Adapun Inovasi fonologis PAN-BMb yaitu inovasi primer dan inovasi sekunder. Inovasi primer yang terjadi pada PAN-BMb berupa inovasi subtitusi PAN *t > BMb /d/. Sedangkan untuk inovasi sekunder PAN-BMb ditemukan terdapat enam inovasi, seperti; (1) inovasi subtitusi berupa *l > /r/ dan *k > /h/; (2) inovasi split berupa *b > /mb/, *t > /nt/, *d > /nd/, dan *a > /ua/; (3) inovasi merger berupa *mp > /p/, dan *kw > /k/; (4) inovasi lenisi berupa *b > /w/, dan *p > /f/; (5) inovasi aferesis berupa *k > /Ø/ dan *t > /Ø/; (6) inovasi epentesis berupa *Ø > /h/. inovasi yang terjadi pada PAN-BMb, baik inovasi primer maupun inovasi sekunder, kerap ditemokan pada posisi ultima dan penultima
TINGKAT TUTUR DAN FUNGSI SOSIALNYA DALAM PENGGUNAAN BAHASA JAWA OLEH MASYARAKAT PENUTUR BAHASA JAWA DI LAMPUNG
Bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling dominan digunakan di Lampung sebab penggunanya mencapai 55,32% dari keseluruhan populasi (Suyanto & F. A., 2017). Dalam bahasa Jawa terdapat tiga tingkat tutur utama yang mencerminkan tingkat formalitas dan kesantunan seorang penutur terhadap mitra tuturnya (Poedjosoedarmo, 1968). Kesantunan merefleksikan jarak yang menunjukkan adanya hubungan kekuasaan (Meyerhoff, 2015), status sosial, dan solidaritas di antara penutur dan mitra tutur (Holmes, 2013: 290) oleh karena adanya faktor sosial, salah satunya usia (Mesthrie et al., 2009: 311). Hingga saat ini belum ada studi yang membahas secara spesifik hubungan antara tingkat tutur dan fungsi sosialnya, khususnya penutur bahasa Jawa di Lampung. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui sebaran tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat penutur bahasa Jawa di Lampung dan fungsi sosialnya. Data dikumpulkan dengan cara menggunakan formulir yang dibagikan secara daring berisi lima buah studi kasus dalam berbagai konteks sosial. Data yang telah terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan mempertimbangkan persentase hasil sebaran tingkat tutur dengan teori tingkat tutur Poedjosoedarmo (1968). Selanjutnya, realisasi tingkat tutur dianalisis untuk menemukan hubungan sosial yang membentuk fungsi sosial bahasa. Dari 10 responden, 36 dari 50 ujaran dalam berbagai konteks (72%) menggunakan ragam ngoko, 9 menggunakan madya (18%), 1 menggunakan krama (2%), dan 4 menggunakan bahasa Indonesia (8%). Ragam ngoko secara mutlak digunakan dalam percakapan antarteman dan antara kakak-adik tetapi juga mendominasi dalam tiga konteks lainnya, kecuali percakapan dengan pakde yang didominasi oleh ragam madya. Satu-satunya ragam krama digunakan dalam konteks percakapan dengan Ketua RT. Sementara itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan ragam madya atau ngoko. Ragam krama yang sebagian besar digantikan oleh ragam ngoko menunjukkan lemahnya fungsi kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Hal ini diperkuat dengan penggunaan madya yang juga sebagian besar digantikan oleh ragam ngoko atau bahasa Indonesia dalam percakapan terhadap Ketua RT dan pakde. Dominasi ragam ngoko menunjukkan bahwa fungsi solidaritas menjadi fungsi sosial paling menonjol pada masyarakat penutur bahasa Jawa di Lampung
PRESERVASI KEARIFAN LOKAL BAHASA JAWA UNTUK MENJUNJUNG WATAK DAN KEPRIBADIAN BANGSA AGAR KOMUNIKASI TERJAGA KESANTUNANNYA
Artikel ini merupakan penelitian awal mengenai preservasi kearifan lokal BJ krama untuk menjunjung watak dan kepribadian bangsa agar komunikasi terjaga kesantunannya. Preservasi kearifan lokal pada dasarnya adalah usaha pelestarian untuk pengawetan, pemeliharaan, penjagaan, dan perlindungan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam budaya masyarakat. Sebagai langkah awal, penelitian ini akan mempreservasi kearifan lokal BJ krama agar dapat dijadikan model untuk melakukan preservasi kearifan lokal BJ. Kearifan lokal pada aspek BJ verbal krama dapat dilakukan melalui pembelajaran di sekolah, kongres BJ, pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu. Atau sosialisasi secara langsung kepada masyarakat. BJ verbal krama yang perludisosialisasikan kepada masyarakat dapat diawali dengan kosakata BJ krama dan bentuk-bentuk kalimat sederhana. Di samping itu, BJ krama dapat menyertakan berbagai ajaran, semboyan, selogan yang diwujudkan dalam bahasa verbal. Di samping bahasa verbal, kearifan lokal BJ juga dapat dalam bentuk bahasa nonverbal.Bahasa nonverbal adalah bahasa yang diungkapkan selain menggunakan kata-kata. BJ nonverbal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahasa nonverbal dinamis dan bahasa nonverbal statis. BJ nonverbal dinamis dapat berupa gerakan tubuh, gerakan tangan, gerakan bagian kepala, dll. Bahasa nonverbal statis dapat berupa paras muka, warna kuliat, bentuk hidung, bentuk pipi, bentuk gigi. Bahkan BJ nonverbal statis dapat pula berupa status sosial, seperti asal keturunan, tingkat pendidikan, jenis profesi, kekayaan, dan lain-lain. Tujuan penelitiannya adalah (a) ingin mendeskripsikan cara memilih BJ krama dalam bentuk verbal dan nonverbal yang diduga dapat menjunjung watak dan kepribadian bangsa untuk menjaga kesantunan berkomunikasi, dan (b) ingin menemukan strategipreservasi kearifan lokal bahasa Jawa baik verbal maupun nonverbal yang dapat menjunjung watak dan kepribadian bangsa untuk menjaga kesantunan berkomunikasi. Jenis penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (a) teknik observasi (simak, libat cakap, dan catat), (b) wawancara, dan (c) kajian terhadap dokumen-dokumen yang mengandung kearifan lokal. Teknik analisis data secara konkret meliputi (a) identifikasi data, (b) klasifikasi data, dan (c) interpretasi data. Temuan hasil penelitian meliputi (a) usaha untuk melestarikan BJ krama dapat dilakukan melalui (i) menyelenggarakan lomba-lomba pidato dan menulis dalam BJ, (ii) memberikan bantuan pendanaan pada kelompok masyarakaat yang peduli pada BJ, (iii)menyebarluaskan semboyan, selogan, dan pitutur luhur di lingkungan masyarakat, dan (b) strategi untuk memelihara BJ krama meliputi (i) mewajibkan pembelajaran BJ di sekolah difokuskan pada BJ krama, (ii) sosialisasi BJ krama kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti pondok-pondok BJ, (iii) lembaga pemerintah, seperti Dinas Kebudayaan dan Balai Bahasa secara terus-menerus membuat program yang diperuntukkan bagi masyarakat, iv) berbagai lomba pidato atau menulis menggunakan BJ krama terus digiatkan
PENERAPAN PEDAGOGI GENRE DALAM BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BERBASIS TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE
Membangun konteks, pemodelan, mengkonstruksi teks secara bersama-sama, mengkonstruksi teks secara mandiri merupakan tahapan yang dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang bersumber dari bahan ajar. Terapan tahapan tersebut untuk melatih keterampilan mengonstruksi pengetahuan dalam beragam konteks dan aktivitas. Dengan empat tahapan tersebut diharapkan keterampilan berbahasa dapat terlatihkan daan sampai pada penggunaan. Selain itu juga pengembangan bahan ajar mengacu pada pengimplementasian kecakapan abad 21 yang memanfaatkan teknologi informasi sesuai dengan konsep Technological pedagogical content knowledge (TPACK). Tujuan penelitian ini adalah tergambarnya bahan ajar yang mengakomodasi pedagogi genre, Kecakapan Abad 21 (creative, critical thinking, collaborative, dan communication, serta pemanfaat teknologi informasi dalam mengembangkan bahan ajar yang merupakan tuntutan Kurikulum 2013. Data penelitian berupa bahan ajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diperoleh dalam aktivitas perkuliahan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik konten analisis. Data berupa bahan ajar Bahasa Indonesia tingkat SMA yang dibuat 22 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan, Bogor. Hasil penelitian ini adalah 1) tersaji aktivitas-aktivitas atau visualisasi membangun konteks dengan beragam variasi visualisasi sesuai kompetensi dasar yang dikembangkan, 2) Terdapat variasi pemodelan teks dengan beragam tema teks, struktur teks dengan pengembangan gagasannya, 3) terdapat aktivitas mengkonstruksi teks secara berkelompok dalam bentuk diskusi (kolaborasi) dengan memunculkan keterampilan berpikir kritis, 4) menyajikan bentuk mengomunikasikan dalam bentuk kolaborasi dengan menyampaikan atau mempresentasikan hasil diskusi, 4) terdapat sajian aktivitas mengkonstruksi teks secara kreatif dan mandiri sehingga diharapkan melalui petunjuk aktivitas ini menghasilkan produk tulisan sesuai jenis teks, 5) penggambaran pemilihan bahan ajar dan aktivitas yang memanfaatkan ketersediaan teknologi informasi dalam beragam platform aktivitas sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diajarkan. 6) Pendeskripsian penyajian bahan ajar dilihat dari relevansi pengembangan materi sesuai kompetensi dasar, 7) Penggambaran penerapan pedagogi genre secara menyeluruh untuk semua pengembangan kompetensi dasar, 8) ketersajian aktivitas yang berkenaan dengan terapan keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan memirsa