eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
    3096 research outputs found

    PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO, RETURN ON EQUITY, DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDEKS LQ45 PERIODE 2018-2021

    Get PDF
    This study analyzes the impact of the Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), and Net Profit Margin (NPM) on stock returns using secondary data from the LQ45 index for the period 2018 - 2021, available on the Indonesia Stock Exchange (IDX). The sampling technique used was purposive sampling, encompassing 27 companies with a total of 106 data samples. The analytical techniques employed included descriptive statistics and multiple linear regression using SPSS software version 29. The results of the study indicate that the Debt to Equity Ratio (DER) has no significant effect on stock returns, the Return on Equity (ROE) has a significant negative effect on stock returns, and the Net Profit Margin (NPM) has a significant positive effect on stock returns

    PELESTARIAN BAHASA DAN BUDAYA DAERAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA BERMEDIA AUDIO VISUAL

    Get PDF
    Tulisan ini dilatarbelakangi oleh adanya ketimpangan pemahaman para mahasiswa Sunda Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNSUR di dalam memahami pernyataan atau ungkapan yang menggunakan bahasa daerah. Berbeda dengan kecepatan mereka pada saat memahami pernyataan yang diungkapkan dengan bahasa asing, atau bahasa Indonesia. Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat yang tidak bisa berbahasa daerah, bahkan seolah merasa takut untuk menggunakannya. Lebih-lebih lagi dengan semakin banyaknya istilah asing yang digunakan dalam kegiatan keseharian, serta intensitas komunikasi yang mengglobal, semakin menambah kelangkaan digunakannya bahasa daerah tersebut. Tentu saja hal ini menjadi sangat ironis, karena banyak masyarakat termasuk mahasiswa yang tidak memahami bahasa daerahnya sendiri, sementara bahasa asing atau bahasa kedua lainnya sangat cepat dipahaminya. Rendahnya minat mahasiswa terhadap pemakaian bahasa daerah, serta adanya pemikiran dan perlakuan yang berbeda terhadap penggunaan bahasa daerah, juga kurangnya keterpahaman mahasiswa terhadap bahasa dan budaya daerah mendorong penulis untuk mencari sebuah solusi dengan memanfaatkan kondisi yang ada melalui pembelajaran bahasa daerah berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan media audio visual. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk meningkatkan kemampuan dan sikap mereka, khususnya para mahasiswa terhadap bahasa daerahnya sendiri. Dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa memahami bahasa daerahnya tersebut, penulis mencoba memberikan sebuah pembelajaran keterampilan berbahasa daerah dengan mengangkat budaya atau kebiasaan sesuai kearifan lokal yang ada di daerah masing-masing. Pengkajian dilakukan di dalam pembelajaran bahasa daerah dengan tujuan meningkatkan kemauan dan kemampuan mahasiswa dalam pelestarian bahasa dan budaya daerah. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah dengan menggunakan metode eksperimental. Metode ini digunakan untuk mengujicobakan keefektifan pemanfaatan Media Audio-Visual di dalam Pembelajaran bahasa daerah dengan mengangkat kearifan lokal. Teknik Penelitian yang penulis gunakan adalah teknik tes dan angket. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan berbahasa daerah secara produktif (berbicara dan menulis) dengan memanfaatkan media audio-visual. Sementara angket digunakan untuk mengetahui respon serta sikap para mahasiswa terhadap pembelajaran dan usaha pelestarian bahasa daerah. Dengan menciptakan sebuah pembelajaran kreatif dan inovatif, penelitian ini mencoba memberikan sebuah solusi guna menjawab tuntutan dan kebutuhan yang ada. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi sebuah upaya dalam pelestarian bahasa daerah khususnya bagi para mahasiswa sebagai bagian terpenting dalam agen perubahan pelestarian bahasa daerah tersebut. Dengan pengemasan pembelajaran bahasa daerah yang mengangkat kearifan lokal melalui media audio-visual tersebut diharapkan tertanam kecintaan mahasiswa terhadap bahasa dan budaya daerahnya sendiri. Tumbuhnya kecintaan terhadap bahasa daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan bangsa sekaligus menjadi daya tarik tersendiri dalam mengangkat budaya daerah di ajang nasional dan internasional. Untuk itulah, penulis merasa penting melakukan penelitian ini sebagai upaya di dalam melestarikan bahasa daerah tersebut

    HOMONIMI BAHASA INDONESIA DAN BAHASA SUNDA: MATERI PEMBELAJARAN BAHASA

    Get PDF
    Kajian homonimi sebagian besar membahas makna dalam satu bahasa.Penelitian ini mencoba mengangkat homonimi leksikal dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Homonimi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda ini maksudnya sebuah leksem yang sama dimasukkan ke dalam dua bahasa untuk dicari maknanya. Leksem yang sama tersebut yang ada dalam dua bahasa itu dianalisis perbedaan maknanya. Makna tersebut memiliki perbedaan dalam dua bahasa yang masing-masing makna tersebut tidak bisa ditelusuri sumber maknanya hal ini sebagai langkah awal untuk melihat bahwa leksem yang diambil tidak tertukar dengan polisemi, karena kalau polisemi bisa ditelusuri sumber maknanya dan makna tersebut bisa bermakna untuk dipakai benda lain, bisa untuk digunakan sebagai pengertian yang abstrak, atau karena tanggapan indra, sedangkan homonimi jika ditelusuri sumber maknanya tidak bermuara pada konteks apa pun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk leksem yang ada dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda yang memiliki kesamaan bentuk tetapi memiliki makna berbeda. Penelitian-penelitian sebelumnya pembahasan homonimi kebanyakan leksem yang sama dalam satu bahasa dan maknnya pun dalam satu bahasa juga. Kekhasan penelitian ini mencoba melakukan sebuah perbedaan dalam memaknai leksem yang sama tetapi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Homonimi itu sendiri pada umumnya memiliki bentuk yang sama tetapi makna berbeda seperti kata 'paku' yang bermakna tumbuhan dan alat untuk menempelkan sesuatu. perbedaan homonimi dalam penelitian ini contohnya untuk kata 'amis'. Leksem 'amis' ada dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Namun, jika dilihat maknanya makna leksem ini memiliki makna yang berbeda. 'amis' dalam bahasa Indonesia bermakna anyir, sedangan makna dalam bahasa Sunda adalah manis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Maksudnya bahwa metode penelitiannya merupakan sebuah pemaparan secara deskriptif mengenai makna yang ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia dan kamus bahasa Sunda. Proses penganalisisannya mencari pembuktian atau melihat perbedaan maknanya melalui kajian pustaka dan penelaahan makna melalui makna-makna yang ada di dalam kamus bahasa Indonesia dan kamus bahasa Sunda. Penelitian ini diharapkan memberikan sebuah warna baru yang berkaitan dengan homonimi yang selama ini kebanyakan kajian homoniminya hanya dalam satu bahasa. Penelitian ini mencoba untuk melintas pada homonimi dalam dua bahasa. Dalam hal ini penelitian yang dilakukan adalah dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Manfaat hasil penelitian ini bisa digunakan khususnya dalam pembelajaran homonimi, umumnya dalam pembelajaran semantik. Hasil temuan ini bisa dijadikan sebagai pengembangan dari homonimi yang sudah ada sehingga menambah wawasan baru bahwa homonimi bisa terjadi dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Sunda

    MODEL PEMBELAJARAN LITERASI UNTUK ANAK USIA DINI ALTERNATIF PEMBELAJARAN PADA MASA PANDEMI COVID-19

    Get PDF
    Minimnya literasi anak Indonesia menjadi perhatian khusus bagi pendidik dalam meningkatkan minat baca anak usia dini. Gerakan literasi membaca pada anak usia dini melalui pengenalan cerita belajar dari rumah (BDR) merupakan suatu keniscayaan. Untuk itu, guru dan orang tua peserta didik harus bersinergi, kreatif, dan inovatif dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan bagi anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai cara yang bersifat narasi dan audio-visual. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan mengaplikasikan model pembelajaran literasi untuk anak usia dini dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran literasi untuk anak usia dini penting dan dapat menggunakan (1) model bercerita dengan menyanyi; (2) model bercerita dengan berdiskusi dan tanya jawab atau menceritakan ulang isi buku/gambar (guru/orang tua mengajukan pertanyaan seputar dongeng, memancing dengan cara saling tanya; (4) bercerita dengan model bermain peran. Dengan demikian, melalui pendidikan lierasi pada anak usia dini, peran orang tua dan guru menjadi signifikan dalam menumbuhkembangkan karakter anak dalam berpikir kritis, logis, dan kreatif pada masa yang akan datang

    PENGGUNAAN EKSPRESI METAFORIS BERBAHASA JAWA DALAM TRILOGI NOVEL GLONGGONG (GLONGGONG, ARUMDALU, DAN DASAMUKA)

    Get PDF
    Metafora merupakan gaya bahasa yang sering digunakan dalam komunikasi. Penggunaan metafora dalam percakapan sehari-hari merupakan bentuk kreativitas dari penutur. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, banyak digunakan metafora dalam bentuk kata-kata, frasa, peribahasa, dan lain-lain. Tuturan metaforis juga seringkali ditemukan pada novel. Hal tersebut diberikan pengarang dengan tujuan untuk memperindah bahasa dalam novel atau pun menampilkan khazanah budaya lokal. Penelitian ini merupakan kajian Stilistika yang berfokus pada salah satu alat Stilistika yaitu permajasan, dan dispesifikkan ke dalam majas metafora. Majas metafora merupakan majas yang membandingkan antara dua hal yang bersifat menyatu (luluh) atau perbandingan yang bersifat langsung karena kemiripan / kesamaan yang bersifat konkret / nyata atau bersifat intuitif / perceptual. Penelitian ini berfokus pada penggunaan tuturan-tuturan metaforis berbahasa Jawa di dalam trilogi novel glonggong (glonggong, arumdalu, dan dasamuka) sebagai ungkapan ekspresif di dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, dan yang digambarkan dalam novel tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tuturan-tuturan metaforis dalam ungkapan-ungkapan berbahasa Jawa yang digunakan pengarang sebagai representasi dari kehidupan masyarakat Jawa dalam novel trilogi tersebut. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trilogi novel glonggong (glonggong, arumdalu, dan dasamuka). Trilogi novel glonggong yang memiliki seri: glonggong, arumdalu, dan dasamuka, menceritakan sebuah peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi pada masa Perang Diponegoro atau Perang Jawa di era kolonial Belanda (glonggong dan arumdalu) dan peristiwa yang terjadi di era kolonial Inggris (dasamuka). Ternyata, dibalik peristiwa besar, terdapat peristiwa-peristiwa kecil yang tidak kalah menarik. Data dalam penelitian ini diambil dari kata-kata, frasa, klausa, dan kalimat yang mengandung ekspresi metaforis yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Jawa di dalam novel tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan teknik catat. Kajian ini mendeskripsikan bagaimana pengarang mengungkapkan ekspresi metaforis sebagai pengungkapan bentuk fisik perempuan dalam pandangan masyarakat Jawa, pengungkapan metaforis melalui peribahasa, penyebutan nama bentuk bangunan, dan ungkapan tingkat kehidupan sosial orang Jawa dalam trilogi novel tersebut

    NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TUTURAN DOMESTIK BAHASA BANJAR

    Get PDF
    Lokalitas secara umum menyatakan tentang sebuah kebudayaan masyarakat yang berada di wilayah tertentu. Kelokalitasan ini dapat berwujud dalam berbagai unsur budaya, salah satunya bahasa daerah Banjar. Bahasa Banjar dituturkan dengan beragam fungsi, seperti untuk berkomunikasi dengan tujuan memberi nasihat dalam lingkungan domestik. Tuturan domestik artinya tuturan yang digunakan antar keluarga dalam skala rumah tangga saja. Penelitian ini sebagai salah satu sumber khazanah pengetahuan lokal yang memiliki nilai kearifan. Topik penelitian tentang nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tuturan masyarakat daerah, yaitu Banjar Nilai kearifan ini sangat diperlukan sebagai materi edukatif bagi generasi sekarang yang berada yang rentan menerima pengaruh budaya luar tanpa memandang usia dan waktu. Masalah yang dikaji yaitu 1. Bagaimana wujud dan makna tuturan domestik bahasa Banjar. 2. Apa saja nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tuturan domestik bahasa Banjar. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan 1. Wujud dan makna tuturan domestik di bahasa Banjar . 2. nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tuturan domestik bahasa Banjar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik penelitian yaitu studi pustaka dan wawancara.Sumber data berasal tuturan nasihat masyarakat Banjar dalam keluarga saat berada di rumah di wilayah Banjarbaru, Banjarmasin, dan Martapura, Kalimantan selatan. Waktu pengambilan data dari bulan Desember 2020 sampai dengan Januari 2021. Analisis data dengan menggunakan teknik interpretasi. Langkah kerja penelitian meliputi pengumpulan data, klasifikasi data, analisis data, interpretasi data, dan penyajian data. Penyajian data dengan menggunakan kata-kata biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1.Wujud dan makna tuturan domestik bahasa Banjar ini salah satu contohnya supaya iwak barasa nyaman wan kada baliir di bumbui lawan bawan uyah, wan asam kamal, 'supaya ikan terasa enak dan tidak berlendir, baiknya diberi bumbu dengan garam dan asam jawa.’.2. Nilai kearifan lokal dalam tuturan Bahasa Banjar antara lain meliputi pengetahuan tentang kebersihan, pengetahuan tentang kehati-hatian, pengetahuan tentang tata cara mengelola bahan makanan, dan pengetahuan tentang kesehatan . Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tuturan nasihat bertema domestik di dalam rumah keluarga masyarakat Banjar memiliki nilai kearifan lokalitas yang bermanfaat sebagai bagian dari materi edukasi keluarga pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari

    ANALISIS EKSPERIMENTAL UNTUK MENEMUKAN CIRI DISTINGTIF KOMPOSISI TINGKAT TITI NADA DAN DISTRIBUSI TEKANAN DALAM FRASA DAN KALIMAT BAHASA INDONESIA

    Get PDF
    Deskripsi Halim (1984) mengenai sistem tingkat tinggi nada dan distribusi tekanan dalam bahasa Indonesia menarik untuk diamati. Titi nada sebagai penanda suara digambarkan terbagi dua jenis, yaitu penanda suara netral atau tidak netral berdasarkan emosi penutur. Pelebaran dan penyempitan penanda suara dirangsang secara emosi, bukan secara gramatikal sehingga tidak dapat dihubungkan dengan struktur kalimat ujaran tempat penanda suara itu berada. Halim menjelaskan bahwa bahasa Indonesia mempunyai tiga buah tingkat titi nada kontrastif, yaitu tinggi, netral atau tengah, dan rendah. Halim (1984) telah meneliti intonasi bahasa Indonesia menggunakan pendekatan impresionistik dan pendekatan akustik menggunakan alat mingograf. Sumber data yang digunakan adalah hasil rekaman wawancara informan, yaitu masyarakat Indonesia yang berada di Universitas Michigan. Fitur-fitur suprasegmental yang diukur adalah tekanan dan intonasi yang diidentifikasi secara auditoris, dicatat, dan dianalisis. Hasil rekaman dianalisis menggunakan alat penganalisis intonasi mingograf di Laboratorium Fonetik Universitas Michigan. Hasil penelitian Halim (1984) tentang intonasi bahasa Indonesia menyebutkan adanya karakterisasi intonasi distingtif dalam bahasa Indonesia, yaitu pola intonasi, kelompok jeda, kontur, dan fonem intonasi. Berdasarkan penelitian Halim tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji hasil penelitian Halim (1984) mengenai ciri distingtif komposisi tinggi nada dan tekanan dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian eksperimental menggunakan perangkat lunak Praat (Boersma dan Weenink, 2010). Sumber data penelitian adalah tuturan dari penutur bahasa Indonesia (N=10) berusia 18-20 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah frasa dan kalimat dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nilai pada fitur-fitur akustik, seperti komposisi tingkat titi nada berdasarkan nilai frekuensi fundamental (F0), initial pitch (Hz), final pitch (Hz), dan durasi (sc) pada masing-masing eksperimen. Variasi nilai akustik tersebut menunjukkan adanya ciri distingtif titi nada dan karakterisasi tekanan dalam bahasa Indonesia

    PERAN MEDIA SOSIAL DALAM PEMAKNAAN “NEW NORMAL”

    Get PDF
    Di era yang super canggih saat ini, media memiliki peran yang sangat penting. Melalui media, masyarakat dapat mengetahui segala informasi dari seluruh penjuru dunia tanpa ada batas. Kondisi pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini semakin membuat peran media menjadi lebih besar lagi, termasuk dalam memberikan pemaknaan kepada masyarakat tentang istilah new normal. Kata new normal dalam satu tahun belakangan ini, selama COVID-19 terjadi menjadi kata yang cukup paling banyak diucapkan dan ditampilkan di berbagai media, baik di media elektronik maupun media cetak. Media elektronik menjadi media yang paling banyak diakses terutama aplikasi-aplikasi media sosial. Yin (2012) menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, media sosial muncul sebagai media yang paling popular untuk menyediakan sumber-sumber informasi dan komunikasi cepat khususnya selama bencana alam. Sligh (2019) menyatakan bahwa media bagaikan sebuah kendaraan untuk menyiarkan konten-konten kepada masyarakat. Selain itu, Carr dan Hayes (2015) menyatakan bahwa media sosial juga dapat mengisolasi manusia secara unik dan menguji perinsip komunikatif untuk memajukan pemahaman tentang manusia dengan manusia yang lain dan manusia dengan interaksi komputer. Dengan pernyataan Yin (2012), Sligh (2019) dan Carr dan Hayyes (2015) tersebut, maka penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, peneliti ingin menjelaskan bagaimana peran media dalam memberikan pemaknaan kata new normal kepada masyarakat. Tujuan kedua adalah menjelaskan tentang keterkaitan antara latar belakang pendidikan partisipan dengan pemaknaan kata new normal karena seperti di banyak negara maju, pendidikan telah menjadi prinsip utama dan merupakan jalan menuju mobilitas sosial dan kemakmuran ekonomi menuju abad kedua puluh satu (Bathmaker, Ingram, dan Waller, 2013). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk menganalisis pemaknaan konsep kata new normal, sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendukung analisis pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa korpus data tertulis yang berasal dari hasil survei kecil (mini survey) dengan menggunakan aplikasi Google Forms yang melibatkan sekitar 71 orang dengan rentang usia 25 hingga 70 tahun dari berbagai tingkat pendidikan. Pemilihan responden pada rentang usia ini dikarenakan pada rentang usia tersebut para responden telah memiliki kecenderungan emosional yang stabil dan positif serta telah dapat lebih memperhatikan informasi dengan lebih baik (Charles dan Carstensen, 2010). Jawaban akan diolah dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel sebagai data dasar (basic data) dalam menghitung prosentase jawaban responden dan Antconc untuk melihat kecenderungan-kecenderungan kata atau kalimat yang sering muncul dalam pemaknaan kata new normal

    INVOLVING STUDENTS IN FORMULATING PATTERNS OF CHANGING SIMPLE PAST VERBS

    Get PDF
    This research aims to explore the implementation of an inductive learning method to keep students engaged in learning activities rather than passively listening to the teacher's explanation in a junior high school. Conducted in an EFL class with 38 second grade students on beginner English level, this method modifies, Observe - Hypothesize - Experiment method from Lewis (1993) by adding one element, Share. The method provides students a wide opportunity to observe real examples of language use, compile simple hypotheses about the rules or patterns in these examples, test these patterns in different sentences, and share their works with their classmates. Besides, this method helps students to identify the patterns one by one instead of learning all past verb changes at the same time. The simple past verbs were divided into at least 4 groups of regular and irregular verbs. The first regular group was the addition of -d to the base words such as love-loved, dance-danced. The second was the addition of -ed such as talk-talked, want-wanted. The next was changing y into i and the adding of -ed as found in study-studied. And the last regular verb was doubling the last consonant of the base word and followed by -ed as in step-stepped. While in irregular groups, the first was a group without any changes in the base form. The next was a group where the vowel was changed. Then, a group where changes occurred on some of the vowels and consonants. The last was a group where the word changed completely. Related to students' perception of the implementation of this method, it has improved students' participation in classroom activities and most of them stated that they felt more encouraged while working in a group as well as in individual work and while presenting or sharing the result of their group work in front of the class. They also felt more confident in using simple past tense in different sentences. However, this method also has several weaknesses, such as the need for more time in its preparation and class management

    Pengenalan Program Studi Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Melalui Edukasi Pembuatan Masker Peel Off

    Get PDF
    Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ) menyelenggarakan edukasi pembuatan masker peel off sebagai strategi promosi dan edukasi. Pembuatan masker dipilih karena menggambarkan prodi Farmasi. Formulasi dan manufakturing juga merupakan capaian yang harus dimiliki lulusan farmasi. Saat ini kosmetik banyak diminati remaja muda, dan merupakan salah satu industri yang banyak membutuhkan keahlian farmasis. Edukasi pembuatan masker diberikan kepada siswa SMA Karangturi Semarang yang dilakukan di laboratorium FKIK UAJ. Evaluasi keberhasilan edukasi dilakukan melalui google form. Kegiatan diikuti 77 peserta. Hasil kuisioner menunjukan 79% peserta menyatakan topik yang dibawakan menarik dan 72,6% menyatakan topik yang dibawakan sesuai kebutuhan. Sebanyak 95% peserta puas dengan Fasilitas atau Laboratorium FKIK UAJ. Sebanyak 85,5% peserta menyatakan pelayanan pendampingan baik, 74,2% peserta menyatakan mendapatkan pelayanan baik dan 79% peserta menyatakan setiap pertanyaan atau keluhan yang diajukan ditanggapi dengan baik. Hal ini menujukan kesiapan panitia yang baik. Sebanyak 71% menyatakan kegiatan yang dilakukan berlangsung sesuai harapan. Sebanyak 75% peserta menyatakan kesediaannya menjadi peserta apabila Prodi Farmasi FKIK UAJ kembali mengadakan kegiatan dan 85% peserta ingin kembali mengunjungi kampus UAJ. Kegiatan ini berdampak baik bagi pengenalan kampus FKIK UAJ dan meningkatkan ketertarikan peserta terhadap FKIK UAJ, termasuk Program Studi Farmasi

    2,450

    full texts

    3,096

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇