eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
3096 research outputs found
Sort by
URGENSI PERJANJIAN PERBATASAN LAUT ANTARA INDONESIA DAN TIMOR LESTE DI TINJAU DARI HUKUM LAUT INTERNASIONAL
Pemerintah Indonesia dan Timor Leste Mendesak agar membuat perjanjian batas laut sesuai dengan UNCLOS 1982 dan sampai saat ini permasalahan batas maritim antara Indonesia dan Timor-Leste belum ada kesepakatan yang jelas maka Berdasarkan UNCLOS 1982 apabila batas maritim masuk ke dalam wilayah kedaulatan negara, maka prinsip yang dipergunakan adalah prinsip sama jarak (equidistance). Kedua, tidak adanya wewenang yang jelas dalam pengelolaan perbatasan Indonesia sehingga kondisi perbatasan Indonesia saat ini terutama dari sisi stabilitas keamanan belum kondusif. Berdasarkan Pasal 3 UNCLOS kedua negara mempunyai hak atas lebar laut teritorialnya sampai batas 12 mil diukur dari garis pangkal, apabila tidak saling tumpang tindih wilayah laut teritorialnya. Hak penerapan garis pangkal yang berbeda antara kedua negara. Perbedaannya adalah Indonesia sebagai negara kepulauan berhak menerapkan garis pangkal normal, garis pangkal lurus dari ujung ke ujung dan garis pangkal lurus kepulauan, sedangkan Timor Leste sebagai negara pantai tidak berhak menerapkan garis pangkal kepulauan melainkan hanya dapat menerapkan garis pangkal normal dan garis pangkal lurus. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan Perjanjian yang mendesak antara Indonesia dan Timor Leste segera membuat perjanjian batas laut antara kedua Negara.ABSTRAK
Pemerintah Indonesia dan Timor Leste Mendesak agar membuat perjanjian batas laut sesuai dengan UNCLOS 1982 dan sampai saat ini Pemasalahan batas maritim antara Indonesia dan Timor-Leste belum ada kesepakatan yang jelas maka Berdasarkan UNCLOS 1982 apabila batas maritim masuk ke dalam wilayah kedaulatan negara, maka prinsip yang dipergunakan adalah prinsip sama jarak (equidistance). Kedua, tidak adanya wewenang yang jelas dalam pengelolaan perbatasan Indonesia sehingga kondisi perbatasan Indonesia saat ini terutama dari sisi stabilitas keamanan belum kondusif. Berdasarkan Pasal 3 UNCLOS kedua negara mempunyai hak atas lebar laut teritorialnya sampai batas 12 mil diukur dari garis pangkal, apabila tidak saling tumpang tindih wilayah laut teritorialnya. Hak penerapan garis pangkal yang berbeda antara kedua negara. Perbedaannya adalah Indonesia sebagai negara kepulauan berhak menerapkan garis pangkal normal, garis pangkal lurus dari ujung ke ujung dan garis pangkal lurus kepulauan, sedangkan Timor Leste sebagai negara pantai tidak berhak menerapkan garis pangkal kepulauan melainkan hanya dapat menerapkan garis pangkal normal dan garis pangkal lurus.
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan Perjanjian yang mendesak antara Indonesia dan Timor Leste segera membuat perjanjian batas laut antara kedua Negara.
Kata Kunci : Kesepakatan Batas Laut RI dan RDTL hanya Berdasarkan UNCLOS 1982
Rancang Bangun Pengukuran Kinerja Kabel Audio Pada Sistem Kelistrikan Rumah Tangga
Kabel sangat penting dalam penggunaan listrik sehari-hari, namun pengetahuan tentangnya masih kurang. Pemilihan kabel yang salah dapat merusak isolasi dan menimbulkan kerusakan lainnya. Banyak orang masih menggunakan kabel audio untuk peralatan listrik rumah, padahal kabel tersebut tidak cocok untuk beban listrik AC yang besar. Penelitian ini membandingkan beberapa ukuran kabel audio untuk melihat daya maksimum yang dapat ditanganinya, dengan menggunakan lampu pijar sebagai bebannya. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan multimeter, ampere clamp, dan sensor suhu. Hasilnya, dengan 9 buah lampu pijar masing-masing berdaya 200 W (total 1800 W) dan kabel jenis 2x30x0,14 mm, tegangan terbaca 227 V, arus 6,89 A (1.564,03 W), suhu setelah 2 menit 32,6 °C, dan setelah 5 menit 36,8 °C. Dengan kabel tipe 2x50x0,14mm pada tegangan yang sama, arus 7,06A (1.602,62W), suhu setelah 2 menit adalah 33,1°C, dan setelah 5 menit adalah 36,1°C
Penerapan Termination Criteria Untuk Control Energi Pada Pekerjaan Pemancangan Menggunakan Diesel Hammer Pada Manyar Smelter Project PT. Freeport Indonesia
Artikel ini bertujuan untuk menyajikan salah satu kegiatan praktik keinsinyuran yang dilakukan dalam pekerjaan pemancangan spunpile menggunakan diesel hammer dengan menerapkan termination criteria. Pendekatan ini diterapkan pada tinggi jatuh hammer untuk mengontrol transfer energi dalam proses pemancangan spun pile pada proyek smelter Manyar di PT Freeport Indonesia. Pekerjaan pemancangan adalah proses penanaman tiang pancang hingga mencapai lapisan tanah yang keras. Pada saat proses pemancangan, diperlukan besaran energi tertentu yang harus tercapai untuk menanamkan tiang pancang ke dalam tanah. Besaran energi ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap daya dukung tiang pancang. Penerapan termination criteria adalah untuk mengonfirmasi besaran energi yang tercapai selama proses pemancangan, terutama saat pengambilan kalendering
ENVIRONMENTAL MANAGEMENT STRATEGY USING EMA WITH MFCA IN CEMENT PRODUCTION ACTIVITIES
Penelitian ini mengkaji implementasi environmental management accounting (EMA) dengan material flow cost accounting (MFCA), yang berkaitan dengan biaya-biaya lingkungan yang timbul dan bagaimana penggunaan bahan baku dan energi dalam proses produksi sebagai strategi manajemen ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menerapkan EMA dengan MFCA, diperoleh informasi bahwa dari seluruh biaya bahan baku, 92% merupakan output positif, dan 8% merupakan output negatif. Pada bagian produksi, 89% biaya energi menjadi output positif, dan 11% menjadi output negatif. Sebaliknya, perusahaan mengalami kerugian material sebesar Rp 75.648.480.000 atau 8%. Dengan mengetahui biaya kerugian tersebut, diharapkan perusahaan dapat memperbaiki proses produksi untuk mengurangi kerugian biaya produksi dan terus menerus memperbaiki pemborosan yang terjadi untuk meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan
IDEOLOGI GEOPOLITIK INDONESIA DALAM PIDATO ANIES BASWEDAN DI CONFERENCE ON INDONESIAN FOREIGN POLICY 2023
Geopolitik, sebagai suatu pendekatan analisis kebijakan luar negeri yang berusaha untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi perilaku politik internasional berdasarkan variabel geografi, menjadi suatu acuan pandangan luas seorang pemimpin dalam mengkaji kondisi wilayah yang dipimpinnya. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana ideologi geopolitik Indonesia disampaikan dalam teks pidato Anies Baswedan sebagai calon presiden Indonesia periode 2024-2029 dalam acara Conference on Indonesian Foreign Policy 2023 yang diadakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis linguistik sistemik fungsional oleh Halliday yang mengkaji makna dari setiap klausa dalam teks. Prosedur analisis data dilakuakn dengan Teknik baca dan catat dari hasil transkripsi data teks pidato yang didapatkan melalui video Youtube Metro TV. Hasil dari penelitian ini mendapatkan proses berjumlah 268 buah yang terdiri atas proses relasional sebanyak 118 buah (44%), material sebanyak 47 buah (17.5%), behavioural 41 buah (15.2%), mental sebanyak 26 buah (9.7%), verbal sebanyak 23 buah (8.5%), dan eksistensial sebanyak 13 proses (4.8%). Dari analisis proses-proses tersebut, Anies Baswedan banyak menjabarkan poin-poin dalam aspek kajian internasional yang memaknai sebagai bentuk kritik atas kegagalan kebijakan geopolitik yang dijalankan pemerintah Indonesia sekarang. Register dalam wacana ini, yang terdiri atas field (medan wacana), tenor (pelibat wacana), dan mode (sarana wacana), menyatakan bahwa kebijakan luar negeri, politik luar negeri, posisi Indonesia di dunia internasional, ekonomi Indonesia, dan sistem pertahanan menjadi poin utama sebagai medan wacana yang dibahas sebagai kajian geopolitik. Selain itu, pelibat wacana utama yang tertera ialah Anies Baswedan, serta audiens dari wacana yang disampaikannya antara lain yaitu masyarakat Indonesia, pakar hukum Internasional, duta besar negara sahabat, pegiat kebijakan internasional, diaspora, mahasiswa, pengguna Internet, dan jurnalis. Yang menjadi sarana atau moda dalam wacana ini ialah pidato yang disampaikan secara monolog verbal, dan informatif. Anies juga menyinggung Tidak hanya mengungkapkan kritik, namun ide dan gagasan juga diberikan oleh Anies melalui poin-poin tersebut yang memaknai impian untuk kemajuan Indonesia ke depan dan Indonesia harus memimpin di dunia internasional, tidak lagi sekedar menjadi penonton
KERAGAMAN BAHASA MANDOBO DI PAPUA SELATAN: KAJIAN RAGAM BAHASA DAN KESALINGMENGERTIAN
Studi linguistik, seperti dialektologi dan analisis tingkat kesalingmengertian, menjadi aspek penting dalam mengidentifikasi batasan dan ragam-ragam bahasa dari suatu komunitas tutur. Penelitian terkait dialektologi juga masih jarang dilakukan di Papua, salah satunya di komunitas penutur Mandobo Atas [aax] dan Mandobo Bawah [bwp] di kabupaten Boven Digoel. Kemudian, istilah Mandobo sebagai nama bahasa juga perlu dikonfirmasi lagi ke masyarakat (Farneubun 2002). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memahami fenomena-fenomena tersebut. Bahasa Mandobo secara linguistik diklasifikasikan ke dalam rumpun bahasa Trans-New Guinea dan tergabung dalam sub-keluarga Dumut bersama dengan bahasa lain seperti Ketum [ktt], Kombai [tyn], Wanggom [wng], dan Wambon [wms]. Penelitian ini mendalami ragam-ragam dalam Bahasa Mandobo berdasarkan topografi linguistik dan mengeksplorasi kesalingmengertian diantara ragam-ragam tersebut. Metode diskusi partisipatoris (Hasselbring 2012), seperti Pemetaan Dialek dan daftar pertanyaan-pertanyaan sosiolinguistik digunakan untuk melihat ragam bahasa dan kesalingmengertian. Serta, didukung oleh analisis leksikostatistik (Smith 1984) untuk mencari tahu tingkat kemiripan leksikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, menurut masyarakat, bahasa Mandobo memiliki nama lain, yaitu bahasa Wambon walapun Wambon sendiri sudah memliki ISO code yaitu [wms] yang merujuk pada bahasa Wambon Kenon, Kenyam. Bahasa Mandobo terbagi menjadi dua bahasa: 1) Mandobo Atas, dengan dialek Kokenop/ Kohonope dan Agayop; 2) Mandodo Bawah-Tengah, dengan dialek Bawah dan Tengah. Dialek Bawah memiliki nama lain yaitu Tekamerop dan dialek Tengah memiliki sub-dialek Lugela dan Lugerah. Pembagian ini didasarkan pada tingkat kesalingmengertian. Kesalingmengertian terjadi antara Mandobo Bawah dan Mandobo Tengah, sementara antara Mandobo Atas dengan Mandobo Bawah maupun dengan Mandobo Tengah tidak. Selain itu, tidak terdapat kesalingmengertian antara Bahasa Mandobo Atas maupun Bawah dengan sub-keluarga Dumut lainya. Kesamaan leksikal antara Mandobo Bawah dan Tengah tertinggi adalah 79% (Farneubun 2022). Sementara, antara Mandobo Atas dan Bawah 66%, Mandobo Atas dan Tengah 60%. Persentase kemiripan leksikal Mandobo Atas dan Bawah-Tengah dengan sub-keluarga Dumut lainnya paling tinggi adalah 49%. Dengan demikian, hasil ini mendukung kesimpulan kesalinganmengertian bahasa pada analisis pemetaan dialek dan pertanyaan sosiolinguistik. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi bagi pemahaman dan pelestarian bahasa-bahasa lokal di Papua
MODEL PEMBELAJARAN MENULIS ESAI BAHASA INGGRIS BERBASIS PROSES DENGAN PENDEKATAN KOOPERATIF
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang cukup populer, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Pembelajaran secara kooperatif sangat diperlukan pada pembelajaran masa kini karena mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang lebih tinggi, baik tujuan pembelajaran yang bersifat akademik maupun tujuan pembelajaran yang bersifat non-akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rancangan model pembelajaran menulis esai bahasa Inggris berbasis proses dengan menggunakan pendekatan kooperatif. Fokus penelitian adalah pada rancangan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian tahap awal dari penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan Dick and Carey (2015). Penelitian ini dilaksanakan di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan dilaksanakan dari bulan Februari-April 2023 serta melibatkan 2 orang dosen dan 26 mahasiswa. Data diperoleh melalui analisis kebutuhan terhadap model pembelajaran menulis esai bahasa Inggris dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, kuesioner, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian dijelaskan dalam bentuk pemaparan mengenai kondisi umum pembelajaran menulis esai bahasa Inggris saat ini, hasil analisis kebutuhan dosen dan mahasiswa, serta rancangan model pembelajaran menulis esai bahasa Inggris. Rancangan model pembelajaran yang dihasilkan merupakan integrasi dari model pendekataan kooperatif dan model pembelajaran menulis dengan pendekatan proses. Rancangan model menulis esai bahasa Inggris berupa skenario pembelajaran yang terdiri dari pre-writing, while-writing, dan post-writing. Kegiatan pre-writing terdiri dari mengumpulkan ide tulisan dan mengatur ide tulisan. Kegiatan while-writing terdiri dari menulis draft, memeriksa tulisan, dan memperbaiki tulisan. Sementara kegiatan post-writing terdiri dari menilai tulisan dan mempresentasikan tulisan
PENGGUNAAN DIALEK BALI AGA DESA TIGAWASA DALAM INTERAKSI SOSIAL MEDIA FACEBOOK: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan dialek Bali Aga Desa Tigawasa dalam interaksi sosial media, khususnya di platform Facebook. Facebook telah menjadi sarana penting untuk menjaga hubungan dengan teman, keluarga, dan tetangga yang tersebar di berbagai tempat. Dialek Bali Aga Desa Tigawasa merupakan cerminan kekayaan budaya dan linguistik masyarakat Bali yang khas. Namun, keberlanjutan dan pelestarian dialek ini dapat menjadi tantangan mengingat pengaruh modernisasi dan digitalisasi yang dapat memengaruhi cara hidup dan bahasa komunitas Bali Aga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori sosiolinguistik. Data primer berupa unggahan status, komentar, dan interaksi pengguna Facebook yang menggunakan dialek Bali Aga Desa Tigawasa. Dan data sekunder berupa literatur tentang dialek Bali Aga dan sosiolinguistik media sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Melalui penggunaan dialek Bali Aga di Facebook, penutur dapat mengungkapkan koneksi mereka dengan sesama kelompok atau komunitas masyarakat Desa Tigawasa. 2) Penggunaan dialek Bali Aga dapat memperkuat identitas bahasa, menunjukkan dan menciptakan suasana yang lebih pribadi dan otentik. 3) Penggunaan dialek di Facebook dapat digunakan sebagai bagian dari pemertahanan bahasa. 4) Penggunaan dialek Bali Aga sebagai sarana untuk menghormati bahasa tradisional serta mencegah hilangnya warisan linguistik yang sudah turun-temurun. 5) Penggunaan dialek Bali Aga Desa Tigawasa dapat menciptakan rasa keakraban dan kedekatan emosional antara pengguna, khususnya dalam percakapan atau berbagi cerita yang dikhususkan untuk komunitas tutur.
Implikasi hasil penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana media sosial memengaruhi praktik linguistik dan peran dialek dalam membangun identitas serta interaksi sosial di dunia maya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dialek Bali Aga di Desa Tigawasa tidak hanya berperan sebagai ciri identitas linguistik, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan nuansa emosional, memperkuat solidaritas kelompok, dan sebagai bentuk kreativitas verbal dalam komunikasi daring. Hal ini dapat menjadi landasan bagi penelitian lebih lanjut tentang pelestarian dialek lokal di era digital, serta mengembangkan strategi untuk mempertahankan kekayaan linguistik dan budaya di tengah arus globalisasi dan teknologi yang semakin pesat
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Mulai tahun 2022 satuan pendidikan di Indonesia menerapkan kurikulum merdeka. Salah satu aspek penting dalam kurikulum merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan model pembelajaran yang mengakomodasi, melayani, dan mengakui keberagaman peserta didik dalam belajar yang sesuai dengan kesiapan dan minat belajarnya. Pembelajaran berdiferensiasi mengakui perbedaan individual peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Pada pembelajaran berdiferensiasi peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru bisa mengenali kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda, kemudian merancang materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, merancang metode pembelajaran yang paling efektif, dan menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dan efektif untuk setiap peserta didik, sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tentang (1) penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tanggul Jember, dan (2) dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi peserta didik di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tanggul Jember. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi. Data dalam penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penggalian data dilakukan pada tanggal 31 Juli 2023 sampai dengan 01 Desember 2023. Adapun sumber datanya adalah guru Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Tanggul sebanyak lima orang dan peserta didik kelas X dan XI. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data model interaktif Milles dan Huberman yang terdiri dari kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan.
Berdasarkan pemaparan analisis data dapat disimpulkan bahwa dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Tanggul Jember terdapat beberapa tahapan, yaitu: (1) guru melakukan pemetaan kebutuhan peserta didik melalui asesmen diagnostik. Asesmen diagnostik yang dilakukan oleh guru meliputi asesmen diagnostik nonkognitif dan diagnostik kognitif; (2) merancang perencanaan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan peserta didik. Dari hasil pemetaan pada asesmen doagnostik, guru merancang pembelajaran berdiferensiasi yang meliputi: diferensiasi konten, proses, dan produk. Pada diferensiasi konten, guru menyediakan konten materi yang diajarkan kepada peserta didik sesuai dengan kesiapan belajar, minat, atau profil gaya belajarnya (visual, auditori, kinestetik) dan kombinasi dari ketiganya. Pada diferensiasi proses, guru mengembangkan kegiatan bervariasi, dan menerapkan pengelompokan yang fleksibel. Pada diferensiasi produk, guru menyediakan keragaman variasi produk tagihan kepada peserta didik; (3) melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi, guru menciptakan suasana lingkungan belajar yang kondusif. Beberapa cara yang telah dilakukan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif antara lain: dengan mengembangkan komunitas belajar, membangun sikap menghargai, menciptakan rasa aman secara fisik dan psikis, dan membangun harapan untuk mencapai kesuksesan; dan (4) melakukan evaluasi dan refleksi kegiatan pembelajaran yang sudah berlangsung. Pada tahap ini, guru melakukan kegiatan asesmen secara berkelanjutan yang dimulai dari asesmen diagnostik di awal pembelajaran dan dilanjutkan dengan melakukan penilaian proses dan penilaian hasil belajar. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki dampak positif bagi peserta didik, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya semangat dan antusias peserta didik selama mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia
KONTRIBUSI JOB DEMANDS DAN JOB RESOURCES TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PEKERJA CREATIVE AGENCY DI JAKARTA
This study aims to examine the contributions of job demands and job resources to the psychological well-being of creative agency workers. Creative agencies often require longer working hours and higher workloads to meet customer demands. However, the resources provided by companies to support workers sometimes do not adequately compensate for these demands, which can negatively impact workers' psychological well-being. Despite this, creative agencies depend heavily on their workers to achieve company targets, and the psychological well-being of these workers plays a crucial role in their ability to develop their potential and function optimally. It is predicted that adequate job resources to meet job demands will enhance the psychological functioning of workers.
This research utilized quantitative methods and involved 106 creative agency workers in Jakarta, selected through convenience sampling. The instruments used for measurement were the Questionnaire sur les Ressources et Contraintes Professionnelles and the Psychological Well-Being Scale. The results of multiple regression analysis indicated that job demands and job resources significantly contribute to the psychological well-being of creative agency workers. Specifically, job demands have a negative impact on psychological well-being, whereas job resources have a positive impact. Therefore, even though the work is demanding, sufficient resources can help maintain the psychological well-being of workers