eJournal Unika Atma Jaya (Universitas Katolik Indonesia)
Not a member yet
3096 research outputs found
Sort by
ANALISIS KEKUATAN PEMBUKTIAN KESAKSIAN ANAK DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL SELAKU KORBAN KEJAHATAN SEKSUAL
Jurnal ini pada dasarnya membahas mengenai bagaimana kesaksian dari seorang anak dengan disabilitas intelektual yang merupakan korban dari suatu tindak pidana kejahatan seksual digunakan sebagai alat bukti di persidangan. Kejahatan seksual merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia, terlebih apabila dilakukan terhadap seseorang yang lebih rentan untuk dijadikan sasaran akibat keterbatasannya, seperti anak penyandang disabilitas intelektual. Oleh karena itu, dibutuhkan perlindungan hukum yang baik terhadap korban kejahatan seksual yang merupakan anak dengan disabilitas intelektual. Terutama pada saat persidangan karena masih terdapat penegak hukum yang meragukan keterangan korban oleh karena keterbatasan dan juga umurnya, hal tersebut juga berdampak pada keyakinan hakim. Kemudian diciptakan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang membentuk ketentuan bahwa keterangan saksi korban anak dengan disabilitas intelektual kekuatan pembuktiannya tetap setara dengan keterangan korban lainnya karena dalam hal ini korban akan dibantu oleh Pendamping yang ahli dan memahami korban serta sudah disumpah, dan tentunya ditambahkan juga dengan satu alat bukti lainnya yang sah serta keyakinan hakim sebagaimana diaturkan dalam Pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana terkait ketentuan minimum alat bukti. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dari peraturan perundangan, buku, dan lainnya, serta memperoleh data dari studi kepustakaan, teori hukum, dan data wawancara dari narasumber terpercaya.Jurnal ini pada dasarnya membahas mengenai bagaimana kesaksian dari seorang anak dengan disabilitas intelektual yang merupakan korban dari suatu tindak pidana kejahatan seksual digunakan sebagai alat bukti di persidangan. Kejahatan seksual merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia, terlebih apabila dilakukan terhadap seseorang yang lebih rentan untuk dijadikan sasaran akibat keterbatasannya, seperti anak penyandang disabilitas intelektual. Oleh karena itu, dibutuhkan perlindungan hukum yang baik terhadap korban kejahatan seksual yang merupakan anak dengan disabilitas intelektual. Terutama pada saat persidangan karena masih terdapat penegak hukum yang meragukan keterangan korban oleh karena keterbatasan dan juga umurnya, hal tersebut juga berdampak pada keyakinan hakim. Kemudian diciptakan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang membentuk ketentuan bahwa keterangan saksi korban anak dengan disabilitas intelektual kekuatan pembuktiannya tetap setara dengan keterangan korban lainnya karena dalam hal ini korban akan dibantu oleh Pendamping yang ahli dan memahami korban serta sudah disumpah, dan tentunya ditambahkan juga dengan satu alat bukti lainnya yang sah serta keyakinan hakim sebagaimana diaturkan dalam Pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana terkait ketentuan minimum alat bukti. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dari peraturan perundangan, buku, dan lainnya, serta memperoleh data dari studi kepustakaan, teori hukum, dan data wawancara dari narasumber terpercaya
SELF-ACKNOWLEDGEMENT PORTRAYAL OF INDONESIAN READERS THROUGH MOJOK.CO ‘CURHAT’ SECTION
For years, scholars have been researching the quarter-life crisis. Quarter-life crisis (QLC) is a popular term for developmental crisis episodes that occur during early adulthood. It occurs when a person is switching or has just switched from a life structure that is unstable, open, and exploratory to one that is more settled, more predictable, and more rooted in productive roles (Robinson, 2019). A considerable amount of research had successfully spotlighted the existence of QLC in Indonesia. However, limited studies really explained to what extent QLC is projected in society. In addition, none of the studies above managed to show QLC projection through electronic discourse. Experts believe that technology offers opportunities for linguistic research. Electronic communication is considered an important linguistic means that covers every phase of human life (AbuSa‟aleek, 2015). Here lies the reason why the writers decided to use the corpus to see the projection of QLC through the „Curhat‟ section of Mojok.co. This online-news portal is chosen for the study since it has become a preferred platform for young adult readers mainly ranging from 18-34-year-old readers (Sokowati & Junaedi, 2020; Saraswati & Hastasari, 2020; Utomo, 2015). Reflecting on the section name, the readers share their problems in this section to get suggestions from the editorial in return. However, to see the insight of the readers‟ life experience, this study only analyses the writing from the users. Data for this case study was a corpus compiled from 179 correspondences written by Mojok.co users from November 2016 to October 2020. To analyze the data, this study applies a corpus approach since corpus studies have been used to analyze the representation of life issues from different platforms such as newspapers, Twitter, and fiction (Bednarek, 2020; Simanjuntak, et al., 2020; Pace-Sigge, 2018). First, the data was fed to AntConc, and it resulted in 64,862-word tokens and 7173-word types. Afterward, the writers checked the word list feature. Among the word types, this study focuses on the top 50 most frequent words used in the correspondence. Then, the writers carefully selected the words associated with QLC based on QLC theory from Robinson, Wright, Smith, and Arnett that had been summarized by Agarwal, et al (2020). To examine the issue, the collocation of each word was checked by using the level features. From the concordance line, it can be seen how the words collocated in the readers‟ text. As to the scope and the limitation, this study focuses on one of QLC's developmental features, which is self-acknowledgement. The study showed that the subject of the issues were the users themselves who projected negative emotions such as confusion and helplessness. Furthermore, the most projected problems are correlated with the developmental features one and three: feeling trapped in between and instability in roles and relationships
IDENTITAS PEREMPUAN INDO DALAM GERAKAN BERSAMA SISTERS PADA INSTAGRAM OMROEP BERSAMA
Penjajahan yang dilakukan Belanda di tanah Hindia atau saat ini disebut sebagai Indonesia tidak hanya meninggalkan objek material seperti jalur kereta atau bangunan. Jejak lain dari penjajahan Belanda di Indonesia dapat ditemukan melalui keberadaan orang Indo. Perkawinan campur antara laki-laki Belanda dan perempuan lokal melahirkan anak yang disebut sebagai Indo. Anak-anak Indo ini tinggal di Hindia Belanda bersama orang tua mereka sampai pada tahun 1945 atau saat Indonesia merdeka. Repatriasi yang dilakukan sesudah Indonesia merdeka membawa orang-orang Belanda dan Indo di Indonesia kembali ke Belanda. Bagi orang Indo, kehidupan di Belanda dan tanah Hindia berbeda sehingga mereka perlu melakukan asimilasi dan adaptasi dengan kehidupan di Eropa. Secara spesifik, keberadaan orang Indo di Belanda dimulai dari generasi pertama, yaitu orang Indo yang terkena repatriasi. Penyesuaian atau asimilasi dilakukan oleh orang-orang Indo agar dapat diterima di masyarakat Belanda. Meskipun orang Indo memiliki darah Eropa, terdapat perbedaan yang mencolok terutama dari warna kulit dan kebudayaan. Hal itu menyebabkan orang Indo dipandang sebagai liyan. Seiring perkembangan zaman dan didukung oleh teknologi dalam berkomunikasi, orang-orang Indo ini akhirnya memiliki komunitas sendiri. Salah satu komunitas itu adalah Omroep Bersama. Kegiatan Omroep Bersama dapat dilihat pada media sosial mereka, salah satunya Instagram. Pada bulan Desember 2020, Omroep Bersama mengadakan gerakan Bersama Sisters dengan tagar #femalepower. Gerakan ini berisi 12 foto perempuan Indo atau keturunan Indo dan tiap foto disertai keterangan nama, pekerjaan, dan asal keturunan. Gerakan Bersama Sisters menarik untuk diteliti mengingat terdapat atribut khas Indonesia yang ditampilkan dalam kumpulan foto ini. Masalah penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah representasi identitas perempuan Indo dalam gerakan Bersama Sisters sehingga tujuan penelitian ini adalah menjabarkan identitas perempuan Indo melalui kumpulan foto dan teks yang menyertainya. Untuk menelusuri bagaimana identitas perempuan Indo ini ditampilkan, peneliti menggunakan pendekatan pembentukan identitas sebagai pendekatan utama dan pendekatan relasi kuasa sebagai tambahan. Pada akhirnya, gerakan Bersama Sisters yang digagas oleh Omroep Bersama ini tidak hanya sebagai penunjuk identitas, tetapi juga sebagai penunjuk eksistensi perempuan Indo di Belanda
PARADOKS KEBIJAKAN DI ERA OTONOMI DAERAH: STUDI KASUS KEBIJAKAN BAHASA PROVINSI JAWA TENGAH
Otonomi daerah merupakan sebuah era kekuasaan yang dimulai setelah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Di era ini setiap provinsi perlu menentukan identitas lokalnya (baca: budayanya) dan dalam hal kebahasaan setiap provinsi perlu membuat kebijakan bahasa daerah untuk keperluan identitas lokal. Namun demikian, kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat ratusan bahasa sehingga akan sulit menetapkan satu identitas budaya untuk mewakili sebuah provinsi. Persoalannya ialah, dalam realitas masyarakat yang sangat heterogen, bagaimana kebijakan bahasa yang ada pada saat ini dan bagaimana respons masyarakat yang identitas etnisnya tidak terakomodasi. Makalah ini akan membahas kasus kebijakan bahasa daerah di Provinsi Jawa Tengah melalui kajian dokumen kebijakan, literatur dan wawancara kelompok etnis Sunda-Brebes di Provinsi Jawa Tengah. Komunitas ini penting diteliti karena mereka merupakan penduduk asli di Jawa Tengah meskipun memiliki identitas yang berbeda. Perlu diketahui pula bahwa penelitian kualitatif yang menggunakan data wawancara ini menggunakan purposive sampling dalam pemilihan sampel. Hal ini penting dilakukan karena penulis lebih menekankan pada subjek penelitian yang merasakan efek langsung dari penerapan kebijakan bahasa di Jawa Tengah, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk keperluan makalah ini, penulis hanya menggunakan satu sampel data wawancara dari Kecamatan Brebes. Namun demikian, meskipun jumlahnya kecil pendapatnya memberikan gambaran masyarakat Sunda-Brebes mengingat ia tidak hanya seorang asli Sunda-Brebes, tetapi juga guru bahasa daerah dan seniman Sunda. Perlu pula dicatat bahwa wawancara dilakukan kurang lebih selama dua jam dan pertanyaan dibangun dalam diskusi dari pertanyaan “Apa yang Anda rasakan dan Anda lakukan ketika kebijakan bahasa Jawa diterapkan di seluruh Provinsi Jawa Tengah? Kedua pertanyaan pokok ini penting karena perasaan dan tindakan/perilaku merepresentasikan kesetujuan ataupun penolakan. Temuan menunjukkan bahwa Jateng telah menetapkan dan menerapkan (1) Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa, (2) Peraturan Gubernur Jateng No. 57/2013, dan (3) Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 55 Tahun 2014. Saat ini seluruh sekolah di Jateng mengajarkan bahasa Jawa, termasuk wilayah orang Sunda-Brebes. Terhadap kebijakan tersebut, seorang guru sekolah dasar yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di Kecamatan Salem berpendapat bahwa “Kami merasa terjajah.” Pernyataan itu merupakan salah satu ekspresi jujur yang didapatkan oleh peneliti ketika melakukan pengumpulan data. Sebagai guru dan seniman yang memiliki keterikatan dengan budaya Sunda, sekolahnya tetap mengajarkan aksara Jawa tetapi ia sendiri masih melatih murid-muridnya bermain karawitan. Ia juga mengklaim bahwa anak-anak asuhannya selalu memenangkan pertandingan seni Sunda. Apa yang diungkapkan dan yang dilakukan ini merupakan sebuah artikulasi kelompok minoritas yang bertahan dalam kondisi tidak menguntungkan secara politis. Di sisi lain, pengajaran bahasa Jawa masih memiliki tantangan teknis karena tidak memiliki guru yang memadai. Dengan demikian, pertanyaannya kembali apakah kebijakan yang bersifat homogen tersebut perlu dipertahankan di tengah masyarakat yang heterogen dan memiliki kesetaraan hak budaya
PRAGMATIC METAPHOR IN THE STATEMENT OF ELITES OF THE ACEH GOVERNMENT WHEN CONTROLLING COVID-19 IN ACEH PROVINCE
This study discusses the style of communication of the Aceh Government elites during the Covid-19 response in Aceh Province. The statements of the government elites are important to study because the government elites have a role, power and authority in the form of policies. What is the policy and wisdom of the speech acts of the Aceh Government elites during the response to Covid-19 in Aceh? This is the focus of the research so that a comprehensive description of the language style and speech acts of the Aceh Government elite will be obtained in response to the Covid-19 Pandemic. The statement of the Aceh Government elites when responding Covid-19 Pandemic actually contains many metaphorical elements that have led to various interpretations and perceptions in the wider community. On the one hand, the Aceh Government issued a statement with the aim of wanting to reduce and break the chain of the spread of Covid-19 while at the same time controlling the social life situation of the community to keep it safe and under control, on the other hand it turns out that this statement can be interpreted differently by many people. Therefore, this study aims to identify and analyze the pragmatic function of metaphors in the speech of the Aceh Government elites during the Covid-19 response in Aceh Province. Data collection was carried out through mass media coverage. The statements of the Aceh Government elites in the mass media are collected, identified and classified so that they compile statements that lead to a metaphor. Furthermore, the data is analyzed in terms of the pragmatic function as a knowledge and learning social communication for the wider community. The mass media which is used as a reference source for data collection is representative mass media read by the people of Aceh, both printed and online media. The statement of the Aceh Government elites that has gone viral in the social life of the community will be prioritized as the primary data source. Thus, the stages of this research are (1) providing data; (2) data description; (3) and data analysis. Data analysis was carried out by coding (Saldana, 2009), then interpreted with a semantic approach. The results showed that the statements of the Aceh Government elites when responding Covid-19 Pandemic generally contained assertive, directive, and expressive pragmatic functions. This function shows the existence of a linguistic strategy in the social communication of the Aceh Government elites to provide services to the community as well as an effort to break the chain of the spread of Covid-19 in Aceh. This pragmatic function is also related to the politeness of language in the Acehnese government elite in the face of a disease that has plagued globally
KAJIAN LANSKAP LINGUISTIK : MENELISIK KEBERADAAN CINA BENTENG DI TANGERANG
Penelitian ini mengungkap tanda dalam bahasa yang digunakan di lanskap Pasar Lama, Tangerang. Pasar Lama merupakan sebuah lanskap yang menjadi saksi kehadiran Cina Benteng dari jaman sebelum era penjajahan di Kota Tangerang hingga modern ini. Lokasi Pasar Lama berdekatan dengan Sungai Cisadane yang merupakan jantung dari transportasi sungai di masa lalu. Etnis Cina Benteng bermukim dan berniaga serta menjalankan aktivitas sosial budaya di sekitar Pasar Lama. Di jaman modern, Pasar Lama berkembang sebagai pusat kuliner di Kota Tangerang. Penelitian Lanskap Linguistik (LL) ini menjawab dua pertanyaan penelitian yaitu bahasa – bahasa yang digunakan dalam lanskap, distribusi bahasa, dan fungsi dari LL. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan melakukan dokumentasi visual lanskap dan metode etnografi. Etnografi perlu dilakukan pada penelitian ini untuk dapat menemukan persepsi masyarakat setempat terkait fungsi lanskap. LL mengkaji kehadiran bahasa dalam ruang dan tempat. Puzey (2016) memaparkan bahwa LL adalah kajian linguistik terapan yang memanfaatkan bidang sosiolinguistik, semantik, dan semiotik serta bersinggungan dengan berbagai konsep seperti geografi, sastra, pendidikan atau psikologi sosial. LL mengkaji isu – isu yang muncul atas kehadiran dan interaksi bahasa di ruang publik. Bahasa di ruang publik berinteraksi dengan bahasa lain dan aspek sosial budaya yang menjadi latar. Melalui penelusuran tanda dalam LL dapat ditelusuri adanya konstruksi simbolis dalam sebuah ruang publik melalui penggunaan bahasa. Konstruksi simbolis ini menggambarkan relasi kuasa dalam masyarakat yang meliputi sosial, politik, dan budaya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan ancangan kualitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penelitian ini memanfaatkan dua teori utama yaitu Puzey (2016) untuk memaparkan LL dalam cakupan penggunaan bahasa, distribusi, dan agen dari LL dan Landry dan Borhouis (1997) untuk menelisik dua fungsi LL yaitu fungsi informasional dan fungsi simbolis. Hasil penelitian menunjukan bahwa kawasan Pasar Lama masih memegang peranan sebagai pusat kebudayaan yang bahkan di era modern ini menjadi kaya dengan berbagai macam pertemuan budaya. Hal ini direpresentasikan dalam bahasa – bahasa yang muncul dalam lanskap Pasar Lama adalah bahasa Cina, bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Pali,dan bahasa Asing lain. Selanjutnya dari aspek fungsi, fungsi simbolis terlihat lebih dominan dibandingkan dengan fungsi informasional berdasarkan sudut pandang informan. Melalui hasil penelitian tersebut dapat diinterpretasikan bahwa Cina Benteng dengan bertahan, lestari, dan berakulturasi dengan aspek budaya dan sosial di sekitarnya
KONSTRUKSI PANDEMI COVID-19 SEBAGAI MEDAN PERANG DALAM JUDUL MEDIA DARING DI INDONESIA
Pandemi Covid-19 yang ditetapkan secara resmi di Indonesia pada Maret 2020 melahirkan konstruksi makna yang dibentuk dari berbagai judul media daring di Indonesia. Konstruksi makna yang dibangun melalui judul media daring di Indonesia adalah bahwa pandemi Covid-19 merupakan medan perang. Konstruksi tersebut dibentuk melalui kata-kata seperti “strategi perang”, “misi perang”, “perang melawan”, “memenangkan perang”, “menakar kekuatan”, “panglima perang melawan Covid-19”, “perang belum berakhir”, “kalah perang”, “pahlawan perang”, “perang total”, “semangat perang”, “garis depan”, “gugur dalam perang”, “peran dalam perang”, “garda terdepan”, “nyatakan perang”, “musuh tak kelihatan”, “memerangi pandemi”, “pertempuran global”, “pelacak penyebaran”, “babak baru”, “ancaman nirmiliter”, “darurat sipil”, “adu canggih”, dan sebagainya yang digunakan dalam judul berita media daring dalam konteks situasi pandemi Covid-19. Kata-kata tersebut merepresentasikan pola pikir para pejabat pemerintah yang berwenang dalam penanganan pandemi Covid-19 sekaligus pola pikir masyarakat pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pandemi Covid-19 dikonstruksi sebagai medan perang melalui judul-judul media daring di Indonesia. Penelitian ini menerapkan analisis wacana kritis model Van Dijk untuk menelisik konstruksi makna pandemi Covid-19 sebagai medan perang. Peneliti mengumpulkan data berupa judul media daring yang memuat kata “perang”, “pandemi”, “corona”, dan “Covid-19”. Analisis wacana kritis model Van Dijk mengkaji dari tinjauan kognitif bagaimana pandemi Covid-19 dapat dikonstruksi sebagai medan perang oleh pejabat pemerintah maupun masyarakat. Melalui analisis wacama kritis model Van Dijk ini, dapat diperoleh gambaran bahwa terdapat beberapa konstruksi makna terkait pandemi Covid-19 sebagai medan perang yaitu: (1) Covid-19 tidak hanya dimaknai sebagai virus semata, tetapi juga sebagai musuh yang tidak tampak dan sulit dikalahkan; (2) Peran-peran dalam dunia militer diadopsi dalam upaya penanganan pandemi Covid-19; (3) Ungkapan-ungkapan yang lazim ditemukan dalam konteks perang diadopsi dalam konteks pandemi Covid-19; (4) Pandemi Covid-19 adalah momentum menunjukkan nasionalisme dan patriotisme; (5) Pandemi Covid-19 adalah momentum untuk pengembangan sains dan teknologi; dan (6) Pandemi Covid-19 adalah momentum solidaritas internasional
KAJIAN PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA INDONESIA PADA MASA PANDEMI COVID-19
Penelitian ini mengkaji pengaruh Era Pandemi Covid – 19 yang telah melanda dunia sejak awal februari 2020 sampai dengan saat ini, terhadap bahasa Indonesia dan belum tahu kapan akan berakhir. Sebagai warga dunia yang bersifat global, Bahasa Indonesia turut mengalami dampak dari keadaan tersebut, khususnya didalam perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memdapat pengaruh langsung dengan banyaknya istilah – istilah asing yang masuk, seperti : Stay at home, hand Sanitizer, epidemic. Immunity, quarantine, lockdown, ventilator, respirator, vaccine, home isolation, cluster of cases, close contact. Kajian morfologi menganalisis proses berbagai pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia, dalam penelitian ini khusus akan mengkaji istilah – istilah asing, singkatan dan akronim yang masuk kedalam perbendaharaan Bahasa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini mendata, mendeskripsikan dan menganalisis bentuk – bentuk apa saja dari proses pembentukan kata yang terdapat dalam istilah – istilah asing yang masuk ke dalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain kwalitatif deskriptif. Data kata – kata dan peristilahan asing di data hari harian, kompas, Harian waspada dan Harian Tribun. Dari Desember 2020 sampai dengan Januari 2021. Sebanyak 60 hari, menemukan sebanyak 100 Data terdiri dari istilah asing, singkatan dan akronim. Data di kumpulkan dan diklasifikasi berdasarkan jenis pembentukan kata borrowing dan dianalisis proses pembentukannya. Kajian ini bertopang pada Yule George (2010) ,tentang pembentukan kata , antara lain : etymology, coinage, borrowing, compounding, blending, clipping, backformation, conversion, acronyms, derivation, multiple processes . Analisis menggunakan menggunakan unsur dari : Pedoman Pembentukan Istilah ( 2008 ) yaitu : Penamaan Istilah. Yaitu : 1) Penterjemahan dan 2) penyerapan. Artikel jurnal dari kajian pembentukan kata khususnya borrowing / pinjaman / serapan, juga memberi ide dan mengilhami penelitian ini sebagai kajian terdahulu, antara lain : , Bela Megawati (2019), Dian Sengkey Syutrika ( 2016 ), Triwahyuni Nurlis dkk (2018), Budi Winarto Arif (2013). Nurweni Ari (2010). Hasil dari penelitian ini, menemukan dua proses borrowing istilah asing, yaitu : Istilah – istilah asing yang masuk ke dalam Bahasa Indonesia dengan proses penerjemahan dan istilah asing yang masuk kedalam Bahasa Indonesia dengan proses penyerapan. kedua proses proses peristilahan asing yang masuk dan menjadi bahasa Indonesia, sebagai pengaruh dari Era Pandemi Covid – 19 terhadap bahasa Indonesia
THE INFLUENCE OF PROFITABILITY, SOLVENCY, AND STOCK RETURNS ON THE ACCEPTANCE OF GOING CONCERN AUDIT OPINION
The purpose of this study is to analyze the effect of profitability, leverage, and stock returns on going concern audit opinion. In this study, nominal scale computations on going concern audit opinion serve as the dependent variable. Profitability, leverage, and stock return are the independent variables in this study. The variables for profitability, leverage, and stock return are determined using a ratio scale, while the variables for going concern audit opinion are determined using a nominal scale. The population used is all of the mining sector companies that are listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during 2020-2022. The number of samples in this study were 10 companies using a purposive sampling method so that 30 samples were obtained. This study used the logistic regression method using SPSS26 application. The result showed that profitability had a negative effect on going concern audit opinion, while leverage and stock return had no effect on going concern audit opinio
THE EFFECT OF PROFITABILITY, LEVERAGE AND LIQUIDITY ON COMPANY VALUE IN MANUFACTURING SECTOR LISTED ON THE BEI
This study discusses the influence of profitability, leverage and liquidity on company value. Purposive sampling was used as a sample method. 72 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2018–2022 period were the research subjects. The findings show how profitability, leverage, and liquidity all impact business value. Leverage, liquidity, and profitability all impact a company's value, but profitability has no impact. Profitability serves as a measure for the success of business management. Leverage is a measurement of how far debt finances an institution and the possibility of default on its debt obligations. Liquidity is seen from how easy it is for an asset or institutional security to be converted into cash which is considered a very liquid asset because it can be used at any time