Jurnal terbitan UBD (Universitas Buddhi Dharma)
Not a member yet
2850 research outputs found
Sort by
q
Penelitianaainiaabertujuan untukaamenganalisisaapengaruhaateknologi informasi, perilaku wajib pajak, sosialisasi perpajakan, dan sanksi pajak terhadapaakepatuhanawajibapajakaorang pribadi pelaku UMKM di Kelurahan Neglasari. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, denganaapengumpulanadataamelaluiakuesioneraayang disebarkan kepadaa70aresponden yang dipilih menggunakanateknikapurposiveasamplingadariatotalapopulasia228 UMKM. Data yang terkumpulaakemudianadiolahadanadianalisisamenggunakanaaSPSS versi 27, melalui serangkaian tahapan yaitu ujiavaliditas, ujiareliabilitas, ujiaasumsiaklasik, aanalisisaregresialinieraberganda, serta uji hipotesis.
Hasil analisis menunjukkan bahwa teknologi informasiaamemilikiaapengaruh signifikan terhadapakepatuhanawajibapajakadengananilaiaatahitung sebesar 3,445 dan signifikansi 0,001. Perilaku wajib pajak jugaaberpengaruhasignifikan dengan nilai tahitung 4,505 dan signifikansi < 0,001. Sosialisasiaaperpajakanaberpengaruhasignifikanadengan nilai t hitung 2,620 dan signifikansi 0,011. Namun demikian, sanksi pajak tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan, dengan nilai tahitung -0,485 danasignifikansi 0,629. aSecaraabersama-sama, keempat variabel tersebut memiliki pengaruhaasignifikanaasecaraaasimultanaaterhadapaakepatuhanaawajib pajak, ditunjukkan oleh nilai F hitung 185,336 yang lebih besar dari Fatabel 2,51 dengan tingkat signifikansi < 0,001.
Berdasarkanahasilapenelitian, dapatadisimpulkanabahwaaaakepatuhan pajak pelaku UMKM dapat ditingkatkanamelaluiapemanfaatan teknologi informasiayang optimal, pembentukanaperilaku wajib pajakayang positif, sertaaapeningkatanaefektivitas sosialisasiaperpajakan. Sementara itu, penerapanasanksiaapajak belumaamemberikanaapengaruhaayangaaberartiaaterhadap tingkatakepatuhan wajibapajakadiawilayahatersebut.
Efektivitas Pemberdayaan UMKM Melalui Pendampingan Komunitas untuk Pengembangan Industri Kreatif Budaya Tionghoa sebagai Destinasi Wisata Kota Tangerang
This study aims to identify the influence of Business Assistance, Cultural Product Innovation, and Community Engagement on the Sustainability of Chinese culture based MSMEs in Tangerang City, with Tourism Attractiveness as a mediating variable. Tangerang City has significant potential to develop creative products rooted in Chinese culture; however, many MSMEs face challenges such as limited managerial capacity, product innovation, and community involvement in promoting cultural tourism. The study employs a quantitative approach using Structural Equation Modeling (SEM) with a Partial Least Squares (PLS) method to test the relationships among variables. Data were collected through a survey of 200 Chinese culture–based creative MSME actors selected via purposive sampling. The findings reveal that Business Assistance, Cultural Product Innovation, and Community Engagement exert a positive and significant effect on MSME Sustainability, with contributions of 21.5%, 19.8%, and 23.0%, respectively. Moreover, Tourism Attractiveness was found to partially mediate these relationships, further strengthening their positive impact on MSME sustainability. These results carry important practical and policy implications. First, the findings may serve as a foundation for local governments to design integrated MSME empowerment programs through business training, product innovation, and community collaboration. Second, the study provides a basis for developing culture based MSME assistance practices that not only enhance business capacity but also reinforce local cultural identity to expand tourism attractiveness. Thus, this research makes a direct contribution to public policy and culture based MSME empowerment strategies, with the potential to improve local economic competitiveness while preserving cultural heritage in Tangerang City.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh Pendampingan Bisnis, Inovasi Produk Budaya, dan Keterlibatan Komunitas terhadap Keberlanjutan UMKM berbasis budaya Tionghoa di Kota Tangerang, dengan Daya Tarik Wisata sebagai variabel mediasi. Kota Tangerang memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk kreatif berbasis budaya Tionghoa, namun banyak UMKM menghadapi kendala seperti kurangnya kapasitas manajerial, inovasi produk, dan keterlibatan komunitas dalam promosi wisata budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) untuk menguji hubungan antar variabel. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 200 pelaku UMKM kreatif berbasis budaya Tionghoa yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendampingan Bisnis, Inovasi Produk Budaya, dan Keterlibatan Komunitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Keberlanjutan UMKM, dengan kontribusi masing-masing sebesar 21,5%, 19,8%, dan 23,0%. Selain itu, Daya Tarik Wisata terbukti memediasi secara parsial hubungan tersebut, meningkatkan dampak positif terhadap keberlanjutan UMKM. Model penelitian ini memiliki kemampuan prediksi yang baik, dengan nilai R² 0,689 untuk Daya Tarik Wisata dan 0,743 untuk Keberlanjutan UMKM. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah dan lembaga terkait merancang program pemberdayaan UMKM yang terintegrasi, mencakup pelatihan bisnis, inovasi produk, dan kolaborasi komunitas, untuk mendukung pertumbuhan UMKM berbasis budaya Tionghoa di Kota Tangerang. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kebijakan publik dan praktik pemberdayaan UMKM berbasis budaya
PENGARUH PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA PEDAGANG PASAR LAMA TANGERANG
Technological progress is reshaping traditional markets, bringing improvements in speed, convenience, and reach to day-to-day trading. Digital payment platforms such as QRIS and All Payment along with e-commerce channels allow merchants to process transactions more quickly and give customers flexible, cash-free options. Although these innovations promise greater operational efficiency, widespread uptake remains uneven. Two persistent hurdles are low digital literacy and anxieties over data security, issues that often breed resistance and mistrust among stallholders. Findings from surveys and in-depth interviews suggest that tailor-made education and hands-on training are pivotal in changing perceptions. By demonstrating practical advantages like simplified bookkeeping, real-time sales tracking, and broader customer access training sessions help traders see technology as an ally rather than a threat. Equally important is the coordinated support of local governments, market management bodies, and technology vendors. Their collaboration can produce policies that lower adoption costs, provide subsidies for devices, and establish on-site help desks to address technical problems swiftly. Such institutional backing both incentivizes merchants and accelerates the diffusion of digital tools throughout the market ecosystem. Furthermore, guaranteeing reliable internet connectivity and user-friendly interfaces reduces friction in daily use, reinforcing trader confidence. Early adopters already report smoother workflows, faster customer turnover, and better record-keeping accuracy. These outcomes highlight the need for a multifaceted strategy combining capacity-building, stakeholder engagement, and infrastructure enhancement to modernize traditional commerce while safeguarding its cultural vibrancy and social relevance.Teknologi saat ini sudah sangat berkembang dimana setiap orang sudah mulai menggunakan teknologi, salah satunya pada bisnis yang ada di pasar lama dimana teknologi sangat membantu dalam aktivitas perdagangan. Penggunaan teknologi memberikan berbagai manfaat yang dapat memudahkan para pedagang dalam menjalankan aktivitas perdagangan yang mereka lakukan. Teknologi juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional bagi para pedagang pasar lama. Misalnya dengan adanya sistem pembayaran digital (Qris, All Payment) dan platform e-commerce yang dapat mempermudah para pedagang dan juga pelanggan dalam melakukan transaksi dengan lebih cepat dan efisien. Namun terdapat hambatan seperti, kurangnya pemahaman teknologi dan ketidakpercayaan terhadap keamanan data yang ada dalam sebuah teknologi. Dimana hal ini membuat banyak pedagang masih tidak mau untuk menggunakan teknologi dalam aktivitas dagangannya. Melalui metode kuesioner dan wawancara, dapat ditemukan bahwa pendidikan dan pelatihan terarah dapat meningkatkan adopsi teknologi. Sehingga dengan pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para pedagang mengenai adopsi teknologi dan manfaat utama yang dapat dihasilkan dalam penggunaan teknologi dalam aktivitas yang dilakukan pedagang. Pentingnya dukungan dari pihak terkait juga tidak bisa diabaikan, karena hal ini dapat memotivasi pedagang untuk lebih terbuka terhadap teknologi yang dapat mempermudah aktivitas perdagangan yang mereka lakukan. Dengan kolaborasi yang baik, adopsi teknologi bisa lebih cepat dan luas. Selain itu, kemudahan akses terhadap perangkat teknologi dan dukungan teknis yang berkelanjutan juga dapat membantu mengurangi ketidakpercayaan dan meningkatkan kepercayaan pedagang terhadap teknologi baru. Maka dari itu sudah banyak para pedagang di pasar lama sudah mulai mengunakan teknologi dan mereka juga sudah merasakan kemudahan dari penggunaan teknologi tersebut.
 
Analysis of the Use of the Budget at the Regional Disaster Management Agency (BPBD) in the Distribution of Goods to Communities Affected by Natural Disasters in Yogyakarta City
Disasters are a series of events that threaten people's lives, caused by environmental damage, high rainfall, and irresponsible community behavior that worsens disaster conditions, especially floods, which often occur in Indonesia. Natural, non-natural, and human factors. Natural factors include: Earthquakes, Tusunami, Losor Land. Non-natural factors include: Forest Fires. This study aims to analyze the use of the budget by the Regional Disaster Management Agency (BPBD) in distributing goods to people affected by natural disasters in Yogyakarta. The approach used is descriptive qualitative with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The results of the study show that budget management in BPBD has been carried out in accordance with applicable regulations, but faces several obstacles such as limited funds, complex bureaucracy, and time mismatches between budget planning and disaster events. The distribution strategy of goods is carried out through the identification of needs in the field, procurement based on applications, as well as documentation and evaluation in a transparent and accountable manner. SWOT analysis is also used to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the use of the BPBD budget. This study concludes that the effectiveness and efficiency of budget use are greatly influenced by an adaptive planning system and good inter-agency coordination. These findings are expected to be strategic inputs for improving financial governance in disaster management at the regional level
Lanskap Linguistik dari Penamaan Ruang Terbuka di Pantai Indah Kapuk
The observation of languages in public spaces, including signboards and written text, falls under the concept of linguistic landscape (LL). The research aims to analyze language patterns and uncover the meanings embedded in the names of these public spaces. By applying the principles of linguistic landscape theory (Landry and Bourhis, 1997), which examine how public language reflects social identities and dynamics. This research adopts a descriptive and qualitative approach to investigate the linguistic landscape of open space naming in Pantai Indah Kapuk. Data were collected through observations and interviews with several informants. The main objective is to identify language patterns using the Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) and the Oxford English Dictionary (OED). Furthermore, to explain the meanings of the names, the author analyzed the presuppositional meanings according to Nystroom: categorial, associative, and emotive. The author using the UCREL Semantic Analysis System (USAS) to decode categorical meanings, while associative and emotive meanings were derived from interview data. The results of this study are as follows: Analyzing the names of eight open spaces in PIK revealed the language pattern where English is the most dominantly used language. Additionally, the author identified eight categorical meaning, USAS categories Z2, W3, and M7 being the most dominant. The categorial meanings that emerge from the names of open spaces are related to geography, natural features, and specific locations based on USAS categories. Furthermore, the most common associative meaning is positive, highlighting the identity, culture, history, and environment of PIK. Finally, the emotive meanings found indicate positive emotions such as joy and satisfaction, reflecting the ability of these locations to leave a deep and lasting impression on visitors
Pelaksanaan Retensi Dan Migrasi Data Dalam Upaya Mendukung Implementasi Rekam Medis Elektronik Di Rumah Sakit Hermina Serpong
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor 24 tahun 2022 tentang Rekam Medis menjelaskan bahwa semua rumah sakit di Indonesia harus memiliki Rekam Medis Elektronik (RME) dan teridentifikasi masih banyak rumah sakit di Indonesia yang tidak siap dalam penyelenggaraan RME. Umumnya tantangan-tantangan rumah sakit adalah kurangnya Sumber Daya Manusia serta besarnya jumlah rekam medis berbasis kertas yang masih harus dimigrasikan ke rekam medis berbasis elektronik. Retensi merupakan kegiatan pemisahan antara rekam medis aktif dan non aktif. Rekam medis aktif adalah rekam medis yang dibuat secara elektronik dari rekam medis berbasis kertas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada pihak Rumah Sakit Hermina Serpong dalam pelaksanaan retensi dan migrasi data rekam medis. Pelaksanaan retensi dan migrasi data dilakukan oleh staff instalasi rekam medis dan mahasiswa serta dosen STIKes Widya Dharma Husada khususnya prodi DIII RMIK dari tanggal 14 April hingga 9 Mei 2025. Kegiatan pengabdian ini berhasil meretensi dan memigrasikan data rekam medis sebanyak 15.000 rekam medis milik rumah sakit Hermina Serpong dari target 34.000 rekam medis. Rumah Sakit Hermina Serpong disarankan untuk melakukan kegiatan retensi dan migrasi data secara berkala. Selain itu, rumah sakit harus menyediakan ruang dan rak khusus untuk penyimpanan rekam medis inaktif yang belum dimigrasikan. Rumah sakit juga bisa bekerja sama dengan institusi pendidikan seperti Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan untuk membantu dan mendukung proses retensi dan migrasi data.Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (PMK RI) No. 24 tahun 2022 tentang Rekam Medis, semua fasilitas kesehatan di Indonesia wajib menyelenggarakan Rekam Medis Elektronik, termasuk rumah sakit. Masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum siap dalam penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik. Beberapa masalah yang dihadapi rumah sakit adalah keterbatasan sumber daya manusia dan banyaknya rekam medis berbasis kertas yang masih harus dimigrasikan menjadi rekam medis berbasis elektronik. Kegiatan retensi merupakan kegiatan pemilahan antara rekam medis aktif dan rekam medis non aktif. Rekam medis aktif adalah rekam medis berbasis kertas yang kemudian dikonversikan menjadi rekam medis elektronik. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk membantu pihak Rumah Sakit Hermina Serpong dalam pelaksanaan retensi dan migrasi data rekam medis. Pelaksanaan retensi dan migrasi data dilakukan oleh petugas rekam medis rumah sakit bersama dosen dan mahasiswa Program Studi DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKes Widya Dharma Husada dari tanggal 14 April sampai dengan 9 Mei 2025. Kegiatan pengabdian ini berhasil meretensi dan memigrasikan data rekam medis sebanyak 15.000 rekam medis milik rumah sakit Hermina Serpong dari target 34.000 rekam medis. Rumah Sakit Hermina Serpong disarankan untuk melakukan kegiatan retensi dan migrasi data secara berkala. Rumah Sakit juga sebaiknya menyediakan ruangan dan rak khusus penyimpanan untuk menyimpan rekam medis-rekam medis inaktif yang belum dimigrasikan. Selanjutnya, rumah sakit dapat bekerja sama dengan institusi pendidikan seperti Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan terkait bantuan dan pendampingan pelaksanaan retensi dan migrasi data
Pelatihan Pembuatan Logo dan Brosur Penerimaan Santri Baru di Lembaga Pendidikan Al Qur’an Kalitebu Qur’any
Pelatihan Pembuatan Logo dan Brosur Penerimaan Santri Baru di Lembaga Pendidkan Al Qur’an Kalitebu Qur’any dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian yang mengintegrasikan praktik kewirausahaan dengan desain komunikasi visual. Program ini dirancang untuk memperkuat identitas visual kelembagaan sekaligus mendukung strategi rekrutmen santri baru. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan bentuk workshop dan pendampingan praktik langsung, sehingga pengurus dan tenaga pengajar LPQ tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap tahap proses desain. Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi beberapa tahapan, meliputi identifikasi kebutuhan mitra, konseptualisasi logo sesuai nilai kelembagaan, pembuatan desain digital dengan perangkat lunak sederhana, finalisasi desain berdasarkan masukan pengurus, serta penyusunan brosur penerimaan santri baru. Luaran akhir yang dihasilkan berupa logo identitas baru LPQ yang lebih representatif serta brosur promosi yang komunikatif, menarik, dan siap digunakan baik untuk distribusi cetak maupun digital. Evaluasi pasca-pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengurus mengenai pentingnya identitas visual dalam membangun citra lembaga. Selain itu, media promosi baru yang dihasilkan dinilai mempermudah komunikasi dengan calon wali santri, sekaligus memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitas rekrutmen. Dengan adanya program ini, LPQ Kalitebu Qur’any diharapkan mampu memperkuat posisi kelembagaannya, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta menjadi lebih adaptif menghadapi tantangan persaingan di era modern.Pelatihan Pembuatan Logo dan Brosur Penerimaan Santri Baru di Lembaga Pendidkan Al Qur’an Kalitebu Qur’any dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian yang mengintegrasikan praktik kewirausahaan dengan desain komunikasi visual. Program ini dirancang untuk memperkuat identitas kelembagaan sekaligus mendukung strategi rekrutmen santri baru. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan bentuk workshop dan pendampingan praktik langsung, sehingga pengurus dan tenaga pengajar LPQ tidak hanya menerima materi konseptual, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap tahap proses desain. Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi beberapa tahapan, meliputi identifikasi kebutuhan mitra, konseptualisasi logo sesuai nilai kelembagaan, pembuatan desain digital dengan perangkat lunak sederhana, finalisasi desain berdasarkan masukan pengurus, serta penyusunan brosur penerimaan santri baru. Produk akhir yang dihasilkan berupa logo identitas baru LPQ yang lebih representatif serta brosur promosi yang komunikatif, menarik, dan siap digunakan baik untuk distribusi cetak maupun digital. Evaluasi pasca-pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengurus mengenai pentingnya identitas visual dalam membangun citra lembaga. Selain itu, media promosi baru yang dihasilkan dinilai mempermudah komunikasi dengan calon wali santri, sekaligus memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitas rekrutmen. Dengan adanya program ini, LPQ Kalitebu Qur’any diharapkan mampu memperkuat posisi kelembagaannya, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta menjadi lebih adaptif menghadapi tantangan persaingan di era modern
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Desa Sukagalih melalui Urban Farming berbasis Hidroponik di Lahan Terbatas
Keterbatasan lahan pertanian di wilayah pedesaan akibat alih fungsi lahan menjadi tantangan serius bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Untuk menjawab persoalan tersebut, urban farming berbasis hidroponik hadir sebagai solusi alternatif. Sistem ini memungkinkan pemanfaatan pekarangan sempit secara lebih efisien, dengan hasil panen cepat dan memiliki nilai ekonomi. Program pengabdian masyarakat di Desa Sukagalih dirancang untuk memberdayakan warga melalui penerapan urban farming hidroponik di lahan terbatas. Rangkaian kegiatan dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, persiapan melalui observasi lapangan dan koordinasi dengan mitra lokal. Kedua, pelaksanaan pelatihan yang meliputi penyampaian teori hidroponik serta praktik sistem Deep Flow Technique (DFT). Ketiga, pendampingan intensif sekaligus pemantauan perkembangan keterampilan peserta. Terakhir, dilakukan evaluasi serta pendampingan pascapanen untuk memastikan keberlanjutan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas peserta dalam mengelola budidaya hidroponik secara mandiri. Lahan sempit dapat dimanfaatkan lebih optimal, menghasilkan sayuran berkualitas yang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Keberhasilan program ini ditopang oleh pendekatan partisipatif dan kolaboratif dengan pemangku kepentingan setempat.Secara keseluruhan, kegiatan membuktikan bahwa urban farming berbasis hidroponik efektif sebagai strategi pemberdayaan masyarakat desa, khususnya pada wilayah dengan keterbatasan lahan. Keberlanjutan program direkomendasikan melalui diversifikasi jenis tanaman serta integrasi dengan program pemerintah, misalnya Pekarangan Pangan Lestari (P2L).Keterbatasan lahan pertanian di wilayah pedesaan yang mulai terdampak alih fungsi lahan menjadi tantangan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan keluarga. Urban farming berbasis hidroponik hadir sebagai solusi alternatif karena mampu memanfaatkan pekarangan sempit secara efisien, dengan hasil panen yang relatif cepat dan bernilai ekonomi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberdayakan masyarakat Desa Sukagalih melalui penerapan urban farming berbasis hidroponik pada lahan terbatas. Kegiatan dilakukan dalam beberapa tahapan, mulai dari persiapan melalui observasi lapangan dan koordinasi dengan mitra, pelaksanaan pelatihan yang meliputi penyampaian teori hidroponik dan praktik sistem hidroponik Deep Flow Technique (DFT), pendampingan intensif serta pemantauan perkembangan peserta, hingga evaluasi akhir dan pendampingan pasca panen. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas peserta dalam mengelola budidaya hidroponik secara mandiri. Pemanfaatan lahan sempit menjadi lebih optimal dengan peningkatan produktivitas sayuran yang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Pendekatan partisipatif dan kolaboratif dengan pemangku kepentingan lokal menjadi kunci keberhasilan program ini. Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa hidroponik berbasis urban farming dapat menjadi strategi pemberdayaan masyarakat desa, khususnya di wilayah dengan keterbatasan lahan. Keberlanjutan program direkomendasikan melalui diversifikasi jenis tanaman serta integrasi dengan program pemerintah seperti Pekarangan Pangan Lestari (P2L)
PERBANDINGAN ALGORITMA NAIVE BAYES DAN DECISION TREE ID3 DALAM MENGKLASIFIKASIKAN PENYAKIT DIABETES
Diabetes adalah suatu penyakit metabolik yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa atau gula darah, yang seiring waktu dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi, seperti penyakit jantung koroner, stroke, obesitas, serta gangguan pada mata, ginjal, dan saraf, pembuluh darah. Berdasarkan data yang didapatkan dari The International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes pada tahun 2021 di seluruh dunia mencapai 537 juta dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 643 juta di tahun 2030 dan 783 juta pada tahun 2045 dengan peningkatan sebesar 46%. Data mining adalah teknik dalam ilmu komputer yang sering digunakan untuk memprediksi kejadian di masa depan, dan menjadi salah satu metode yang banyak diterapkan dalam memprediksi apakah seseorang didiagnosis positif atau negatif diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode yang paling baik dalam mengklasifikasikan penyakit diabetes. Metode digunakan untuk prediksi ini adalah algoritma naïve bayes dan ID3. Data untuk penelitian ini diperoleh dari website kaggle dengan 9 atribut dan 768 data. Setelah proses pembersihan data, data dikurangi menjadi 420 data yang digunakan dalam analisis. Hasil pengolahan data mining menunjukkan bahwa algoritma ID3 menghasilkan akurasi sebesar 79.1% dan naïve bayes menghasilkan akurasi sebesar 76.5% dengan menggunakan metode evaluasi 10-fold cross validation. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa algoritma naïve bayes dan ID3 terbukti andal dalam memprediksi penyakit diabetes
RANCANG BANGUN ALAT DOORLOCK DENGAN BIOMETRIK SIDIK JARI
Keamanan rumah merupakan aspek krusial dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dengan meningkatnya kasus pencurian sebesar 23,46% selama masa pandemi. Kondisi ini mendorong perlunya inovasi dalam sistem keamanan rumah yang lebih modern, andal dan pintar. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pengembangan sistem doorlock berbasis biometrik dan Internet of Things (IoT) yang mampu memberikan perlindungan maksimal sekaligus kemudahan bagi penggunaan. Penelitian ini merancang dan membangun prototipe sistem doorlock yang menggunakan sensor sidik jari FPM10A sebagai metode autentikasi utama. Sistem dikendalikan oleh mikrokontroler ESP8266 yang terintegrasi dengan platform Home Assistant untuk memungkinkan kontrol jarak jauh melalui perangkat pintar. Sensor magnet reed digunakan untuk mendeteksi kondisi terbuka atau tertutupnya pintu, sedangkan data sidik jari disimpan langsung di alat guna meningkatkan kecepatan, keandalan dan keamanan proses autentikasi. Untuk memastikan keberlanjutan operasional, sistem juga dilengkapi dengan baterai cadangan agar tetap berfungsi saat terjadi pemadaman listrik. Pengujian dilakukan menggunakan metode black-box serta penyebaran kuesioner kepada pengguna untuk menilai kenyamanan dan keandalannya. Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu mengenali sidik jari secara akurat, memberikan notifikasi saat pintu dibuka tanpa izin, dan tetap berfungsi dalam kondisi darurat. Kesimpulannya, sistem ini efektif meningkatkan keamanan rumah dan membuktikan bahwa integrasi biometrik dan IoT merupakan solusi yang praktis serta adaptif terhadap kebutuhan modern