Jurnal Online Universitas Jambi
Not a member yet
13172 research outputs found
Sort by
Learning from the Armed Conflict Between India and Pakistan: Is Nuclear Weapons Necessary?
Background: The nuclearization of South Asia poses a long-term threat to the regional and global security. The long-standing rivalry between India and Pakistan is dangerously compounded by their opposing nuclear doctrines, and hence an analysis of their strategic stability is an imperative. Methodology: This study uses the methodology of comparative analysis and analysis of the nuclear postures of India and Pakistan in the context of modern deterrence theory and international law. The analysis rests on empirical evidence from past crises up to the time of the 2025 escalation to gain real world credibility of the doctrines. Objectives:The purpose of this paper is to dissect India's 'No First Use' policy vis-a-vis Pakistan's 'Full-Spectrum Deterrence' and first use ambiguity. It aims to examine how these contrary doctrines contribute to escalation and whether they comply with international legal norms. Findings: The analysis illuminates a critical "stability-instability paradox," in which nuclear weapons prevent total war but lower the threshold for limited conflict. Inconsistencies such as India's massive retaliation vow against Pakistan's tactical nuclear weapons add dangerous pressures to escalation. This asymmetry and poor communication with crisis lead to a very volatile security environment. Originality/Novelty: The novelty of the paper is the integration of the deterrence theory with international law and its application to contemporary empirical data such as the 2025 crisis. It contends that current nuclear postures, far from being stabilizing, have opened new avenues to war, calling conventional wisdom on deterrence into question.Latar Belakang: Nuklearisasi di Asia Selatan menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap keamanan regional dan global. Rivalitas yang telah berlangsung lama antara India dan Pakistan semakin berbahaya karena adanya perbedaan doktrin nuklir mereka. Oleh karena itu, analisis terhadap stabilitas strategis kedua negara menjadi hal yang sangat penting. Metodologi: Studi ini menggunakan metode analisis komparatif terhadap postur nuklir India dan Pakistan dalam konteks teori deterrence modern dan hukum internasional. Analisis ini didasarkan pada bukti empiris dari krisis-krisis sebelumnya hingga eskalasi pada tahun 2025, untuk memberikan kredibilitas dunia nyata terhadap doktrin-doktrin tersebut. Tujuan: Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengurai kebijakan No First Use (Tidak Menyerang Terlebih Dahulu) India dibandingkan dengan Full-Spectrum Deterrence (Penangkalan Spektrum Penuh) Pakistan dan ambiguitas kebijakan serangan pertamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana perbedaan doktrin tersebut berkontribusi terhadap eskalasi, serta menelaah keyakinan dan kelayakan strategis dari doktrin-doktrin tersebut. Temuan: Analisis ini menunjukkan adanya “paradoks stabilitas–instabilitas” yang kritis, di mana senjata nuklir mencegah perang total tetapi menurunkan ambang batas untuk konflik terbatas. Ketidakkonsistenan seperti janji India untuk melakukan pembalasan besar-besaran terhadap penggunaan senjata nuklir taktis Pakistan menambah tekanan berbahaya terhadap eskalasi. Asimetri ini, ditambah dengan komunikasi krisis yang buruk, menciptakan lingkungan keamanan yang sangat tidak stabil. Orisinalitas/Novelty: Keunikan dari makalah ini terletak pada integrasi teori deterrence dengan hukum internasional serta penerapannya terhadap data empiris kontemporer seperti krisis tahun 2025. Makalah ini berargumen bahwa postur nuklir saat ini, alih-alih menciptakan stabilitas, justru membuka jalan baru menuju perang dan menantang pandangan konvensional mengenai deterrence
Sarcasm Analysis Meme 'Adit, tolongin dit' Using Pragmatic Studies
his study analyzes the forms and functions of sarcasm in viral memes and audio parodies on social media using a pragmatic approach. The results show that sarcasm does not merely function as a form of ridicule but becomes a mechanism of humor that emerges through the discrepancy between literal utterances and actual intentions. Based on Attardo's classification, the dominant forms of sarcasm in the data include aggressive sarcasm, mock politeness, ironic encouragement, and hyperbolic sarcasm, which function to criticize characters' behavior, express annoyance, and create comic effects through exaggerated emotional responses. All the data indicate that humor is formed through violations of Grice's maxims, particularly the maxims of quality, quantity, relevance, and manner. These violations do not signify a failure of communication but rather a deliberate linguistic strategy used to create digital humor. Additionally, memes work through a pragmatic construction based on emotional contrast—for example, when a request for help is met with a sarcastic response that enhances the comedic effect while making it easier for the audience to recognize the sarcasm. Overall, this study confirms that understanding sarcasm in digital culture depends on the pragmatic context and shared knowledge among users.
Abstrak
Studi ini menganalisis bentuk dan fungsi sarkasme dalam meme viral dan parodi audio di media sosial menggunakan pendekatan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ejekan, tetapi menjadi mekanisme humor yang muncul melalui ketidaksesuaian antara ucapan literal dan niat sebenarnya. Berdasarkan klasifikasi Attardo, bentuk sarkasme yang dominan dalam data meliputi sarkasme agresif, sopan santun palsu, dorongan ironis, dan sarkasme hiperbolik, yang berfungsi untuk mengkritik perilaku karakter, mengekspresikan ketidaknyamanan, dan menciptakan efek komik melalui respons emosional yang berlebihan. Semua data menunjukkan bahwa humor terbentuk melalui pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice, khususnya maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara. Pelanggaran ini tidak menandakan kegagalan komunikasi, melainkan strategi linguistik yang disengaja untuk menciptakan humor digital. Selain itu, meme bekerja melalui konstruksi pragmatik berdasarkan kontras emosional—misalnya, ketika permintaan bantuan dibalas dengan respons sarkastis yang memperkuat efek komedi sambil memudahkan audiens mengenali sarkasme. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pemahaman sarkasme dalam budaya digital bergantung pada konteks pragmatik dan pengetahuan bersama di antara pengguna.his study analyzes the forms and functions of sarcasm in viral memes and audio parodies on social media using a pragmatic approach. The results show that sarcasm does not merely function as a form of ridicule but becomes a mechanism of humor that emerges through the discrepancy between literal utterances and actual intentions. Based on Attardo's classification, the dominant forms of sarcasm in the data include aggressive sarcasm, mock politeness, ironic encouragement, and hyperbolic sarcasm, which function to criticize characters' behavior, express annoyance, and create comic effects through exaggerated emotional responses. All the data indicate that humor is formed through violations of Grice's maxims, particularly the maxims of quality, quantity, relevance, and manner. These violations do not signify a failure of communication but rather a deliberate linguistic strategy used to create digital humor. Additionally, memes work through a pragmatic construction based on emotional contrast—for example, when a request for help is met with a sarcastic response that enhances the comedic effect while making it easier for the audience to recognize the sarcasm. Overall, this study confirms that understanding sarcasm in digital culture depends on the pragmatic context and shared knowledge among users.
Abstrak
Studi ini menganalisis bentuk dan fungsi sarkasme dalam meme viral dan parodi audio di media sosial menggunakan pendekatan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ejekan, tetapi menjadi mekanisme humor yang muncul melalui ketidaksesuaian antara ucapan literal dan niat sebenarnya. Berdasarkan klasifikasi Attardo, bentuk sarkasme yang dominan dalam data meliputi sarkasme agresif, sopan santun palsu, dorongan ironis, dan sarkasme hiperbolik, yang berfungsi untuk mengkritik perilaku karakter, mengekspresikan ketidaknyamanan, dan menciptakan efek komik melalui respons emosional yang berlebihan. Semua data menunjukkan bahwa humor terbentuk melalui pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice, khususnya maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara. Pelanggaran ini tidak menandakan kegagalan komunikasi, melainkan strategi linguistik yang disengaja untuk menciptakan humor digital. Selain itu, meme bekerja melalui konstruksi pragmatik berdasarkan kontras emosional—misalnya, ketika permintaan bantuan dibalas dengan respons sarkastis yang memperkuat efek komedi sambil memudahkan audiens mengenali sarkasme. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pemahaman sarkasme dalam budaya digital bergantung pada konteks pragmatik dan pengetahuan bersama di antara pengguna
Kolokasi dan Prosodi Semantik pada Kata Capek, Lelah dan Penat Berbasis Linguistik Korpus
Sinonyny is an important component of a language’s lexical system, as words with similar meanings cannot always be used interchangeably in real-life contexts. Language learners often understand differences between synonyms only in terms of their lexical meanings, without considering usage contexts and subtle semantic nuances, which can lead to difficulties in language comprehension. The development of corpus linguistics provides an empirical approach that enables the analysis of word usage based on authentic language data. This study examines the different meanings and usage patterns of the Indonesian words capek, lelah and penat by employing the LCC Indonesia 2023 corpus and a qualitative corpus-based approach. The findings indicate that capek tends to be used subjectively and informally, lelah is used in a neutral and descriptive manner, and penat is used in an emotional and reflective context. These results demonstrate that the synonymy among the three words is contextual in nature and has important implications for lexical semantic studies and vocabulary learning in Indonesian.
Abstrak
Sinonim merupakan komponen penting dalam sistem kosakata bahasa, karena pilihan kata yang serupa tidak selalu dapat menggantikan satu sama lain dalam kehidupan nyata. Seringkali, orang yang mempelajari bahasa hanya memahami perbedaan sinonim berdasarkan makna leksikalnya, tanpa mempertimbangkan konteks penggunaan dan nuansa makna. Ini menyebabkan masalah dalam memahami bahasa. Perkembangan linguistik korpus memberikan pendekatan empiris yang memungkinkan analisis penggunaan kata yang didasarkan pada data nyata. Kajian ini meneliti penggunaan makna yang berbeda dari kata capek, lelah dan penat dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan LCC Indonesia 2023 dan pendekatan kualitatif berbasis korpus. Hasil analisis menunjukkan bahwa capek cenderung digunakan secara subjektif dan informal, lelah digunakan secara netral dan deskriptif, dan penat digunakan secara emosional dan reflektif. Hasil menunjukkan bahwa sinonimi ketiga kata tersebut bersifat kontekstual dan penting untuk studi semantik leksikal dan pembelajaran kosakata dalam bahasa Indonesia.Sinonyny is an important component of a language’s lexical system, as words with similar meanings cannot always be used interchangeably in real-life contexts. Language learners often understand differences between synonyms only in terms of their lexical meanings, without considering usage contexts and subtle semantic nuances, which can lead to difficulties in language comprehension. The development of corpus linguistics provides an empirical approach that enables the analysis of word usage based on authentic language data. This study examines the different meanings and usage patterns of the Indonesian words capek, lelah and penat by employing the LCC Indonesia 2023 corpus and a qualitative corpus-based approach. The findings indicate that capek tends to be used subjectively and informally, lelah is used in a neutral and descriptive manner, and penat is used in an emotional and reflective context. These results demonstrate that the synonymy among the three words is contextual in nature and has important implications for lexical semantic studies and vocabulary learning in Indonesian.
Abstrak
Sinonim merupakan komponen penting dalam sistem kosakata bahasa, karena pilihan kata yang serupa tidak selalu dapat menggantikan satu sama lain dalam kehidupan nyata. Seringkali, orang yang mempelajari bahasa hanya memahami perbedaan sinonim berdasarkan makna leksikalnya, tanpa mempertimbangkan konteks penggunaan dan nuansa makna. Ini menyebabkan masalah dalam memahami bahasa. Perkembangan linguistik korpus memberikan pendekatan empiris yang memungkinkan analisis penggunaan kata yang didasarkan pada data nyata. Kajian ini meneliti penggunaan makna yang berbeda dari kata capek, lelah dan penat dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan LCC Indonesia 2023 dan pendekatan kualitatif berbasis korpus. Hasil analisis menunjukkan bahwa capek cenderung digunakan secara subjektif dan informal, lelah digunakan secara netral dan deskriptif, dan penat digunakan secara emosional dan reflektif. Hasil menunjukkan bahwa sinonimi ketiga kata tersebut bersifat kontekstual dan penting untuk studi semantik leksikal dan pembelajaran kosakata dalam bahasa Indonesia
Preserving Local Wisdom through Subak Analogy Videos for Teaching Computer Network Concepts
This study aims to identify the usefulness of subak analogy videos for learning computer network concepts and to analyze the effectiveness of their use based on students' experiences and understanding. This study uses a qualitative approach with a naturalistic type. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation of 43 vocational high school students studying computer network concepts. Data analysis was carried out using the Miles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and concluding. The study results showed that subak analogy videos were beneficial for students in understanding computer network concepts. Students expressed that subak analogies provide a concrete picture of data flow in computer networks, making them easier to understand than conventional approaches. In addition, data analysis showed increased student understanding, as demonstrated by their reflections in discussions and problem-solving based on computer network concepts. These findings indicate that using subak analogy videos can be an effective learning strategy in improving students' understanding of computer network concepts
DESAIN MULTIMEDIA INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN ADOBE FLASH CS4 PROFESSIONAL PADA MATERI DINAMIKA PARTIKEL
Kecenderungan cara belajar fisika yang biasa dilakukan oleh para guru terkadang sering membuat siswa merasa bosan bahkan kurang menyukai pelajaran fisika. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas guru untuk membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Salah satu yang dapat diupayakan guru adalah dengan membuat media pembelajaran yang menarik. Misalnya dengan menciptakan media pembelajaran baru dengan menggunakan Adobe Flash CS4 Professional. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain multimedia interaktif sebagai media pembelajaran fisika pada materi dinamika partikel menghasilkan sebuah produk yang berupa multimedia interaktif sebagai media pembelajaran fisika dan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap multimedia interaktif sebagai media pembelajaran fisika pada materi dinamika partikel. Hasil analisis dari respon siswa (responden) menyatakan multimedia yang dikembangkan ini termasuk dalam kategori cukup baik (75,37%). Untuk kriteria manfaat media pembelajaran termasuk dalam kategori baik (76,29%), dan kriteria tampilan desain multimedia interaktif sebagai media pembelajaran termasuk dalam kategori cukup baik (69,09%). Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian, dapat disimpulkan bahwa  desain multimedia interaktif sebagai media pembelajaran fisika dengan menggunakan Adobe Flash CS4 Professional pada materi dinamika partikel dapat meningkatkan keaktifan siswa, belajar juga menyenangkan dan tidak merasa bosan, penyajian materi dalam media pembelajaran lebih mudah dipahami serta mampu membuat siswa belajar secara mandiri
PERSEPSI SISWA TENTANG KEGIATAN PRAKTIKUM BIOLOGI DI LABORATORIUM SMA NEGERI SE-KOTA JAMBI
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang kegiatan praktikum biologi di laboratorium SMA Negeri se-Kota Jambi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan populasi seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri se-kota Jambi dan sampel sebanyak 286 siswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian yang telah dilakukan di SMA Negeri se-kota Jambi mengenai persepsi siswa tentang kegiatan praktikum biologi menunjukkan bahwa kegiatan praktikum biologi di SMA Negeri se-kota Jambi telah berlangsung dengan baik sebesar 64,34% dengan jumlah siswa sebanyak 184 orang, kegiatan praktikum biologi berlangsung cukup baik sebesar 33,92% dengan jumlah siswa sebanyak 97 orang, dan kegiatan praktikum biologi yang tidak berlangsung dengan baik (buruk) sebesar 1,75% dengan jumlah siswa sebanyak 5 orang. Kegiatan praktikum biologi di laboratorium SMA Negeri se-kota Jambi untuk tahap persiapan kegiatan praktikum dikategorikan baik sebesar 72,20%, tahap pelaksanaan (kerja) praktikum dikategorikan baik sebesar 67,22%, dan tahap penutup kegiatan praktikum dikategorikan baik sebesar 72,99%. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan kegiatan praktikum biologi di SMA Negeri se-kota Jambi sudah dilaksanakan dengan baik
PERBANDINGAN MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI RANGKAIAN LISTRIK SMA NEGERI DI KECAMATAN TANAH SEPENGGAL LINTAS KABUPATEN BUNGO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara miskonsepi yang terjadi pada siswa kelas X MIA di SMA Negeri 1 Tanah Sepenggal Lintas dengan siswa di SMA Negeri 2 Tanah Sepenggal Lintas Tahun Pelajaran 2018/2019 pada materi rangkaian listrik. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Tanah Sepenggal Lintas dan di SMA Negeri 1 Tanah Sepenggal Lintas. Data penelitian diperoleh dengan cara menyebarkan instrumen Four-Tier Diagnostic Test kepada siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini yaitu 2 sekolah kelas X MIA yang ada di SMA Negeri 1 Tanah Sepenggal Lintas sebanyak 88 siswa dan SMA Negeri 2 Tanah Sepenggal Lintas sebanyak 24 siswa. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif. Dengan analisis perbandingan menggunakan analisis Uji T Sampel Berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara miskonsepsi yang dialami oleh siswa SMA Negeri 1 Tanah Sepenggal Lintas dan SMA Negeri 2 Tanah Sepenggal Lintas dengan persentase perbandingannya yaitu sebesar 14%:10%. Dengan sub materi yang paling banyak miskonsepsinya yaitu pada rangkaian paralel arus akan dibagi pada cabang pertama dan dibagi lagi pada cabang berikutnya
Kelayakan Media Pembelajaran Flipbook Digital Nepenthes spp. Kalimantan Barat Untuk Pembelajaran Materi Keanekaragaman Hayati Kelas X: (Feasibility of Digital Flipbook Learning Media Nepenthes spp. West Kalimantan for Learning Biodiversity Materials for Class X)
Digital flipbook learning media can be used on material examples of biodiversity because it can display descriptions and images needed in the exploration of Indonesia's biodiversity, and in this study, researchers provided information on the diversity of Nepenthes spp. in the forests of West Kalimantan, the purpose of the study was to determine the feasibility of digital flipbook media Nepenthes spp. The form of research used in this study is research and development or research and development (R&D). This research and development adopts the development model developed by Alessi and Trollip, which refers to the production of a multimedia product for learning. In this study, three aspects are assessed by experts, namely media aspects, material aspects, and language aspects; the percentage of validator assessments in the media aspect is 91% with very valid criteria, in the material aspect is 90% with very valid criteria, and in the language aspect is 83% with very valid criteria, and based on the research that has been done, it can be concluded that the digital flipbook learning media on biodiversity material has very valid criteria and is suitable for use as a learning medium.
Abstrak. Media pembelajaran flipbook digital dapat digunakan pada materi contoh keanekaragaman hayati karena dapat menampilkan deskripsi dan gambar yang diperlukan dalam eksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia, dan dalam penelitian ini peneliti memberikan informasi keanekaragaman Nepenthesspp. yang ada di hutan Kalimantan Barat, tujuan penelitian untuk mengetahui kelayakan media flipbook digital Nepenthes spp. kalimantan barat sebagai media pembelajaran pada materi Keanekaragaman Hayati di kelas X SMA, Bentuk penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah adalah penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D), Penelitian dan pengembangan ini mengadopsi model pengembangan yang dikembangkan oleh Alessi dan Trollip, dimana model pengembangan ini merujuk pada menghasilkan suatu produk multimedia untuk pembelajaran. Pada penelitian ini terdapat tiga aspek yang jadi penilaian para ahli yaitu aspek media, aspek materi dan aspek bahasa, persentase penilaian validator pada aspek media yaitu 91% dengan kriteria Sangat Valid, pada aspek materi yaitu 90% dengan kriteria Sangat Valid, dan pada aspek bahasa yaitu 83% dengan kriteria Sangat Valid, dan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa media pebelajaranFlipbook digital materi keaneragaman hayati memiliki kriteria sangat validdan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Cooperative Script Berbantuan Media Kartu Berpasangan di SMP Negeri Satap Matawai Iwi: (Improving Student Learning Outcomes with Cooperative Script Learning Model Assisted by Paired Card Media at SMP Negeri Satap Matawai Iwi)
This research was conducted to improve learning outcomes using the Cooperative Script learning model with the help of paired card media. This type of research is Classroom Action Research (PTK) consisting of pre-cycle, Cycle I, and Cycle II. Each cycle consists of four stages, namely, planning, implementation, observation, and reflection. In the pre-cycle the average score was 57.9%, 10 people completed it with a percentage of 41.66% and 14 students did not complete it with a percentage of 58.33%. In the activity, namely the affective aspect, there were 4 students with a good rating, 10 students with a fairly good rating, and 10 students with a poor rating. The average score for student cognitive in cycle I was 72.0%, of which 15 students completed with a percentage of 62.5% and 9 students did not complete with a percentage of 37.5%. Student activities, namely the affective aspect, there are 5 students with a very good predicate, 15 students with a good predicate, and 4 students with quite good predicate. Cognitive cycle II students with an average of 85% in cycle II completed 22 students with a percentage of 91.66% and 2 students who did not complete with a percentage of 8.33%. Student activity is the affective aspect, there are 21 students with a very good predicate, and 3 students with a good predicate. It was concluded that the application of the Cooperative Script learning model assisted by paired card media could improve student learning outcomes in class VIII human respiratory system material at Satap Matawai Iwi State Middle School.
Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar menggunakan model pembelajaran Cooperative Script dengan berbantuan media kartu berpasangan. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari prasiklus, Siklus I, Siklus II. Tiap Siklus terdiri empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada prasiklus nilai rata-rata 57,9% yang tuntas 10 orang dengan presentase 41,66% dan siswa yang tidak tuntas 14 orang dengan presentase 58,33%. Aktivitas yaitu aspek afektif terdapat terdapat 4 orang siswa yang predikat baik, 10 orang siswa dengan predikat cukup baik, dan 10 orang siswa dengan predikat kurang baik. Kognitif siswa pada siklus I nilai rata-rata seluruh siswa 72.0% yang tuntas 15 orang siswa dengan presentase 62,5% dan siswa yang tidak tuntas 9 orang siswa dengan presentase 37,5%. Aktivitas siswa yaitu aspek afektif terdapat 5 orang siswa dengan predikat sangat baik, 15 orang siswa yang predikat baik, 4 orang siswa dengan predikat cukup baik. Kognitif siswa siklus II dengan rata-rata siklus II 85% yang tuntas 22 orang siswa dengan presentase 91,66% dan siswa yang tidak tuntas 2 orang siswa dengan presentase 8,33%. Aktivitas siswa yaitu aspek afektif yang terdapat 21 orang siswa dengan predikat sangat baik, 3 orang siswa dengan predikat baik. Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Script berbantuan media kartu berpasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa Pada materi sistem pernapasan pada manusia kelas VIII di SMP Negeri Satap Matawai Iwi.
Pengaruh Green Accounting, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham
This study aims to analyze the effect of green accounting, company size, and profitability on stock prices of companies in the Energy, Transportation, and Logistics sectors listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the period 2021-2023. The green accounting variable is measured using the dummy method, company size is proxied by total assets, and profitability is measured using Return on Equity (ROE). The research data is obtained through published financial statements and analyzed using the panel data regression method. The results indicate that green accounting and profitability have a significant positive effect on stock prices, while company size has an insignificant effect. These findings suggest that the implementation of green accounting and profitability levels are important factors considered by investors in making investment decisions.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh green accounting, ukuran perusahaan, dan profitabilitas terhadap harga saham pada perusahaan sektor Energi, Transportasi, dan Logistik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2021-2023. Variabel green accounting diukur menggunakan metode dummy, ukuran perusahaan diproksikan dengan total aset, dan profitabilitas diukur menggunakan Return on Equity (ROE). Data penelitian diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan dan dianalisis menggunakan metode regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa green accounting dan profitabilitas memiliki pengaruh positif signifikan terhadap harga saham, sementara ukuran perusahaan memberikan pengaruh yang tidak signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan green accounting dan tingkat profitabilitas menjadi faktor penting yang dipertimbangkan investor dalam pengambilan keputusan investasi