OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Apakah Kadar β-hCG Praevakuasi dan Gambaran Proliferasi Sel Trofoblas secara Mikroskopik dapat digunakan untuk Prediksi Transformasi Keganasan pada Mola Hidatidosa?
AbstrakTujuan: Meneliti perbedaan karakteristik umur, paritas, besar uterus, kadar β-hCG, dan hiperproliferasi pada mola hidatidosa (MH) dengan regresi spontan dan pada MH dengan transformasi keganasan di RS Dr.Hasan Sadikin Bandung. Metode: Penelitian cross sectional deskriptif restrospektif mengambil data umur, paritas, besar uterus, kadar β-hCG pre-evakuasi, dan hiperproliferasi dari rekam medis pasien MH periode 2007-2016. Data diolah menggunakan program SPSS versi 20.0 for Windows. Nilai p0,05). Perbedaan kadar βhCG (mIU/mL) dan tingkat proliferasi menunjukkan hasil signifikan (p0.05). Differences on level of βhCG (mIU/mL) and proliferation state showed significant result (p<0.05). Conclusion: Preevacuation level of β-hCG and histopatology (proliferation state) may predict malignancy transformation in HM.Keywords: Hydatidiform mole, risk factors, remission, malignancy transformatio
Pemulihan Motilitas Usus yang Terlambat Lebih Sering terjadi pada Operasi Onkologi Ginekologi
AbstrakTujuan: Komplikasi selama operasi dan pasca operasi tetap menjadi beban bagi ahli bedah dan pasien serta keluarga mereka juga. Ileus adalah salah satunya, terutama di pembedahan pada rongga peritoneum. Keterlambatan dalam pemulihan motilitas usus dapat menyebabkan ileus. Prosedur sederhana untuk memeriksa pemulihan motilitas usus adalah dengan memeriksa onset bising usus, flatus dan BAB.Metode: Secara retrospektif catatan wanita yang menjalani operasi ginekologi mayor (kelompok A) atau operasi onkologi (kelompok B) dan dievaluasi berdasarkan usia dan indikasi operasi. Hasil darah pra operasi, lama operasi, dan komplikasi selama operasi dicatat. Permulaan bising usus, flatus dan BAB dianalisis dan dibandingkan antara kedua kelompok.Hasil: Sebanyak 889 pasient tidak ada perbedaan antara kelompok usia, kadar hemoglobin serum pra dan pascaoperasi, leukosit sebelum dan sesudah operasi, memerlukan transfusi darah (p> 0,05), namun terdapat perbedaan yang signifikan pada lama operasi. Kesimpulan: Pemulihan motilitas usus lebih awal pada pasien yang menjalani operasi ginekologi dibandingkan dengan kelompok onkologi baik secara klinis maupun secara statistik.Delayed Recovery of Intestinal Motility Occurs more Common in Oncology Gynecology OperationAbstractObjective: Complications during operation and postoperatively remain the burden for the surgeon and patients and their relatives as well. Ileus is one of those, especially those enters the peritoneal cavity. Delay in the recovery of intestinal motility can cause ileus. Simple procedures to check the recovery of intestinal motility are by checking the onset of bowel sound, flatulence and return of bowel movement.Method: We retrospectively identified records of women who underwent major gynecologic surgery (group A) or oncologic surgery (group B). All patients were evaluated by age, relevant medical history, previous surgery, and indication for operation. Preoperative blood results, duration of operation, and complication during the operation were noted. Onset of bowel sound, flatulence and return of bowel movement analyzed and compared between the two groups. Result: Total of 889 patients were studied. There was no difference between groups in term of age, pre- and postoperative serum hemoglobin, pre- and postoperative leucocyte, needing blood transfusion and duration of operation (p>0.05). Conclusion: There is earlier recovery of intestinal motility in patients undergone gynecologic surgery compared to those in the oncologic groups, clinically and statistically significant.Key words: intestinal motility, ileus, postoperative, gynecology, oncolog
Gambaran Rasionalitas Penggunaan Antibiotik berdasarkan Kriteria Gyssens di Bangsal Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
AbstrakTujuan: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional terjadi di banyak rumah sakit dan dikaitkan dengan peningkatan jumlah resistensi antibiotik di seluruh dunia. WHO telah menggambarkan bahwa saat ini sedang terjadi “krisis” resistensi antibiotik yang berpotensi menyebabkan musibah secara global. Di Indonesia termasuk RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung data penelitian yang menggambarkan kualitas penggunaan antibiotik masih terbatas.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratif dengan desain cross sectional dilaksanakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode September–November 2016 pada pasien rawat inap di bangsal Obstetri dan Ginekologi. Rasionalitas penggunaan antibiotik diukur berdasarkan kriteria Gyssens yang mengklasifikasikan kasus penggunaan antibiotik berdasarkan suatu alur memuat indikasi, jenis antibiotik, dosis, rute, interval, dan waktu pemberiannya.Hasil: Dari 150 kasus mayoritas merupakan kasus obstetri (62,7%) dengan kelompok umur terbanyak antara 21−35 tahun (73,3%). Berdasarkan kriteria gyssens didapatkan terbanyak adalah kategori V (40,3%), sedangkan kategori 0 (antibiotik rasional) didapatkan sebanyak (22%).Kesimpulan: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berdasarkan kriteria Gyssens masih tinggi ditemukan di bangsal Kandungan dan KebidananThe Rationality of Antibiotic use based on Gyssens Criteria at Obstetric and Gynecology Ward Dr. Hasan Sadikin General HospitalAbstractObjective: The use of irrational antibiotics occurs in many hospitals and is associated with an increase of antibiotic resistance worldwide. WHO has described that there is currently a “crisis” of antibiotic resistance that has the potential to cause a global disaster. In Indonesia, including dr. Hasan Sadikin Hospital research data describing the quality of antibiotic use is still limited.Method: This study is a descriptive explorative research with cross sectional design that was conducted in dr. Hasan Sadikin Hospital on September until November 2016 with the sample was all inpatient that trated in the Obstetric and Gynecology ward.. The rationality of antibiotic use is measured by the Gyssens criteria that classify cases of antibiotic use based on a path containing indications, type of antibiotics, doses, routes, intervals, and time of administration.Result: Of the 150 cases the majority were obstetric cases (62.7%) with the most age group between 21-35 years (73.3%). Based on the criteria gyssens obtained the most is category V (40.3%), while category 0 (rational antibiotics) obtained as much (22%).Conclusion: The use of irrational antibiotics based on the Gyssens criterion is still high in the Obstetric and Gynecology wardKey words: Antibiotics, quality of antibiotic use, criteria gyssen
Penggunaan Magnesium Sulfat untuk Menurunkan Angka Kejadian Cerebral Palsy pada Bayi Prematur
AbstrakLatar belakang: Magnesium Sulfat merupakan senyawa kimia yang sudah banyak terbukti manfaatnya pada kehamilan. Selain digunakan sebagai obat anti kejang, dan obat tokolitik pada kontraksi prematur, magnesium sulfat berperan banyak pada proses intraseluler, diantaranya sebagai agen vasodilator pembuluh darah otak, menurunkan reaksi inflamasi, seperti sitokin dan zat radikal bebas, serta mencegah masuknya ion kalsium kedalam sel. Prematuritas merupakan masalah serius karena hampir sebagian besar dari neonatus yang berhasil hidup akan mengalami kecacatan neurologis kongenital termasuk cerebral palsy (CP).Metode: Analitik korelatif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien dengan diagnosa cerebral palsy yang melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan riwayat lahir prematur. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah total sampel 30 pasien. Analisis data secara statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan 7 (23,3%) pasien anak dengan diagnosa cerebral palsy memiliki riwayat ibu hamil dengan pemberian magnesium sulfat (MgSO4), dan 23 (76,6%) pasien dengan diagnosa cerebral palsy memiliki riwayat ibu hamil tanpa pemberian magnesium sulfat (MgSO4). Hasil analisa data dengan menggunakan uji Chi-square didapatkan ρ-value 0,001< α = 0,05.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan dari pemberian magnesium sulfat pada ibu hamil terhadap angka kejadian cerebral palsy pada bayi prematur di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. The Used of Sulfate Magnesium to Reduce Incidence of Cerebral Palsy on Preterm BirthAbstractObjective: Magnesium Sulfate is a chemical compound that has been widely used in pregnant women and has proven benefits to the condition of pregnancy. Prematurity is a serious problem because most of the successful neonates will experience congenital neurological disability including cerebral palsy (CP).Method: This research is a kind of analytic correlative research with cross sectional design. The research subjects were pediatric patients with a diagnosis of cerebral palsy who performed the examination at Hasan Sadikin Hospital Bandung, with a history of premature birth. Samples were taken by purposive sampling technique with a total number of samples 30 patients. Statistical analysis using Chi-square statistical test.Result: The result of this research showed 7(23,3%) pediatric patients with a diagnosis of cerebral palsy had a history of pregnant women with administration of magnesium sulfate (MgSO4), and 23(76,6%) patients with a diagnosis of cerebral palsy has a history of pregnant women without administration of magnesium sulphate (MgSO4). The data were analyzed using Chi-square test and obtained ρ-value 0,001 <α = 0,05.Conclusion: There is a significant relationship between administration of magnesium sulfate in pregnant women and the incidence of cerebral palsy in premature infants at Hasan Sadikin Hospital Bandung.Key words: magnesium sulfate, preterm birth, premature infants, cerebral pals
Hubungan antara Faktor Risiko Demografi dan Klinis terhadap Kejadian Persalinan Preterm Dini dan Lanjut
Tujuan: Persalinan preterm dini dan lanjut masih menjadi penyebab penting morbiditas dan mortalitas perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, menganalisis hubungan faktor risiko demografi dan klinik dengan persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut periode Januari 2015-Desember 2016. Metode: Penelitian secara potong lintang retrospektif dilaksanakan pada bulan April-Juni 2017 dengan sumber data rekam medis Rumah Sakit Hasan Sadikin. Hasil: penelitian menunjukan insidensi persalinan preterm adalah 38,54%. Diskusi: Terdapat hubungan signifikan dari faktor risiko pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini terhadap kejadian persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut. Pendidikan SD meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 2,3 kali, perawatan antenatal kurang dari 4 kali selama kehamilan meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,6 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,9 kali. Ketuban pecah dini meningkatkan kejadian persalinan preterm lanjut 2,6 kali (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini, dengan persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut. Relation between Demographic and Clinical Risk Factors to the Occurrence of Spontaneous Early and Late Preterm Birth Abstract Objective: Early and late preterm birth remains an important cause of perinatal morbidity and mortality. Various studies indicate the incidence of is influenced by demographic and clinical factors affecting baby’s outcome. This study aims to analyze demographic and clinical factor’s relations of spontaneous early and late preterm birth in Hasan Sadikin General Hospital, from January 2015 until December 2016. Method: Retrospective-cross sectional was conducted in April until June 2017 from Hasan Sadikin General Hospital’s medical record, collected from January 2015 to December 2016. Results: Incidence of preterm birth from January 2015 until December 2016 was 38,54%. There was significant relations of education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane with spontaneous early and late preterm birth. Education level of elementary school increased the incidence of spontaneous early preterm birth 2.3 times, previous preterm birth increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.6 times, antenatal care less than 4 times increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.9 times. Premature rupture of membrane increased the incidence of spontaneous late preterm birth 2.6 times (p<0.05. Conclusion: there is a relations between education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane, with spontaneous early and late preterm birth.Keywords: Demographic factors, clinical factors, preterm spontaneous early delivery, spontaneous late preterm deliver
Perbedaan Morfologi dan Fragmentasi DNA Sperma sebelum dan sesudah Kriopreservasi dengan Metode Slow Cooling di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan parameter fragmentasi DNA, morfologi sperma pasca proses pembekuan dengan metode slow cooling. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian obervasional analitik dengan pendekatan pre-post design. Subjek penelitian adalah sperma dengan hasil analisis yang normal sesuai dengan standar WHO (n=25). Penelitian dilakukan di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli hingga Agustus 2017.Hasil: Setelah proses kriopreservasi, terdapat peningkatan fragmentasi DNA tiga kali lipat (nilai p<0,05) dan terdapat penurunan jumlah morfologi normal sebesar 50% (nilai p<0,05).Kesimpulan: Terdapat penurunan kualitas sperma pasca proses kriopreservasi dengan metode slow cooling.Difference of DNA Fragmentation, Morphology Sperm before and after Cryopreservation with Slow Cooling Method in Aster Fertility Clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractObjective: Of this study was to compare sperm quality parameters including DNA fragmentation and morphology after cryopreservation with slow-cooling method.Method: This was an analytical observational study with pre and post design. Subjects were men whose sperm analysis met the WHO criteria of being normal (n=25). The study was conducted at the Aster Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from July to August 2017.Results: After cryopreservation, there was a three fold increase of DNA fragmentation (with p value <0.05) and a decrease in morphology 50% (with p value <0.05).Conclusion: There is a decrease in sperm quality after cryopreservation with slow-cooling method.Key words: DNA fragmentation, morphology, slow cooling, spermatozo
Gambaran Karakteristik dan Luaran pada Preeklamsi Awitan Dini dan Awitan Lanjut Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
AbstrakTujuan: Meneliti karakteristik dan luaran pada preeklamsia awitan dini dan awitan lambat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data diambil dari rekam medis.Hasil: Terdapat 347 pasien preeklamsi, 137 preeklamsi awitan dini, 192 awitan lambat dan 18 eklamsi. Distribusi umur preeklamsi awitan dini 20 sampai 35 tahun 45 orang (32,85%), pada awitan lambat tersering pada umur >35 tahun 64 orang (33,33%). Distribusi paritas preeklamsi awitan dini paritas 1−3 yaitu 102 orang (74,5%) dan awitan lambat 118 orang (61,5%). Luaran bayi menunjukkan bayi yang lahir sesuai usia kehamilan pada preeklamsi awitan dini sebanyak 83,9% dan awitan lambat sebanyak 77,6% dan nilai APGAR 1 menit 7-10 pada preeklamsi awitan dini adalah 46% dan awitan lambat adalah 72,4%. Sindrom HELLP parsial adalah komplikasi terbanyak, yaitu 64 kasus (18,44%), 39 kasus pada preeklamsi awitan dini, dan 22 kasus pada preeklamsi awitan lambat.Kesimpulan: Tidak ada perbedaan signifikan luaran bayi antara preeklamsia awitan dini dan awitan lambat. Komplikasi tersering adalah sindroma HELLP parsial.Description of Characteristic and Outcome in Early Onset Preeclampsia and Late Onset Preeclampsia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung Abstract Objective: To describe the characteristics and outcome in early onset and late onset pre-eclampsia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Method: A cross sectional study with retrospective approach by examining medical record at Dr. Hasan Sadikin General Hospital.Result: Showed 347 patients preeclampsia,137 early-onset preeclampsia, 192 late-onset and 18 eclampsia. Distribution by age in early-onset preeclampsia by age group 20 to 35 years ie 45 women (32.85%), late onset age group >35 years ie 64 women (33.33. Distribution based on parity in early onset preeclampsia in the 1−3 parity group of 102 women (74.5%) and late-onset of 118 women (61.5%). Infant outcome average for gestational age at early-onset of 83.9% and late-onset of 77.6% and APGAR value of 1 min 7−10 in early-onset was 46% and late-onset was 72.4%. The partial HELLP syndrome was the most common complication, ie 64 cases (18.44%), with the occurrence of early-onset preeclampsia 39 cases, in the late-onset 22 cases.Conclusion: No significant difference was found in infant outcome between the two groups . The most common complication is partial HELLP syndrome.Key words: Characteristics, outcomes, early onset preeclampsia, late onset preeclampsia
LAPORAN KASUS: Eksensefali sebagai Salah Satu Komplikasi Amniotic Band Syndrome
AbstrakAmniotic band syndrome(ABS) merupakan kelainan non genetik dengan spektrum luas dari konstriksi dan amputasi sederhana pada jari ekstremitas hingga kelainan kraniofasial mayor hingga defek visera bahkan kematian. Beberapa laporan kasus menyebut anensefali merupakan contoh defek kraniofasial yang dihubungkan dengan ABS. Sonografi membantu diagnosis eksensefali sebagai kondisi peralihan menuju kondisi terminal anensefali sebagai kondisi yang lebih sering ditemukan yaitu kondisi otak janin sudah habis teresorbsi oleh cairan serebrospinal. Fetus dengan eksensefali tidak dapat bertahan hidup, sebagian besar berakhir dengan abortus, intrauterine fetal death dan stillbirth sehingga jika terdeteksi perlu dipertimbangkan untuk dilakukan terminasi kehamilan. Berdasar laporan kasus persalinan spontan Bracht di kamar bersalin RS Hasan Sadikin pada 1 Desember 2016, Ny RA 33 tahun, G3P1A1 gravida 30-31 minggu, letak sungsang, eksensefali, anemia. Pada laporan kasus ini ditemukan membran amniotik berfusi dengan kranium bayi dan absennya tulang tengkorak pada tempat perlekatan membran amnion. Eksensefali pada kasus ini diperkirakan diawali oleh residu selaput korion berupa jaringan fibrosa yang membentang cavum korionik dan menekan kranium sehingga migrasi membran neurokranium tergganggu dan berakhir dengan akalvaria. Ekstremitas yang berkembang sempurna namun cacat pada beberapa segmen terutama tempat perlekatan membran amnion dan kranium sesuai letak kejadian cincin konstriksi mendukung teori Torpin. Kata kunci: amniotic band syndrome; acrania Exencephaly as One of Amniotic Band Syndrome ComplicationAbstractAmniotic Band Syndrome includes a spectrum of non-genetic anomalies, varying from simple digital band constriction to major craniofacial and visceral defects, and even fetal death. Anencephaly represents the most common neural tube defect. Sonographic as well as pathologic evidence points to a close link between exencephaly (also frequently referred to as “acrania”) and anencephaly. It has been proposed that the brain tissue of exencephalics may gradually degenerate due to the exposure to amniotic fluid in combination with mechanical trauma. ABS is an aetiological factor in exencephaly. Appropriate counselling for affected families needs to be given after prenatal diagnosis. Based on medical report Mrs RA 33 years old , G3P1A1 30-31 weeks of pregnancy, breech presentation, exencephaly, anemia that delivered her baby on Delivery Room Hasan Sadikin General Hospital at December 1,2016.Amniotic membrane found fused with fetal cranium and on its attachment found that the cranium was absent (acrania) In the case reported here, the amniotic membrane was well fused to the scalp, and skull bones were absent on the site of attachment of the amniotic membrane. This case supports Torpin’s hypothesis of early amnion rupture, with failure of the cranial bones to develop at the site of attachment of the amniotic band as “early amnion disruption sequence.”. The fibrous strands would entangle and entrapped the fetal head, resulting in faulty migration of the membranous neurocranium which leads to exencephaly on this case. Keywords: Amniotic band syndrome; exencephal
Program Akselerasi Penurunan Angka Kematian Ibu POGI Jabar Zero Mother Mortality Preeclampsia (ZOOM)
PendahuluanAngka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Selain itu AKI merupakan salah satu target utama yang telah ditentukan oleh WHO sebagai indikator kesehatan suatu negara.1 Dari hasil survey yang dilakukan, AKI di Indonesia telah menurun dari waktu ke waktu, namun masih relatif tinggi dibandingkan negara Asia lainnya. Jumlah angka kematian ibu di Indonesia (angka nasional) tahun 1991 sebanyak 390 sedangkan pada tahun 2015 menurun mencapai 305/100.000 jumlah kelahiran hidup.2 Di sisi lain, angka kematian ibu Provinsi Jawa Barat tahun 2015 adalah sebanyak 823/100.000.3Rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi antara lain pendarahan, preeklamsi-eklamsi dengan komplikasi, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang cukup penting, yaitu pemberdayaan perempuan yang belum baik, latar belakang pendidikan, sosioekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan kebijakan publik. Kaum lelaki pun dituntut harus berupaya lebih aktif dalam segala permasalahan bidang reproduksi. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural agar perempuan dapat lebih mendapat perhatian dari masyarakat. Sangat diperlukan upaya peningkatan pelayanan perawatan ibu oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat lainnya terutama suami.Kematian ibu disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan (HDK) secara global menempati nomor dua setelah kasus perdarahan, demikian pula di Indonesia.4 Pada tahun 2016 dalam rangka menunjang kegiatan penurunan angka kematian ibu, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bersama Kantor Kementerian Kesehatan mengeluarkan Panduan Nasional Praktik Kedokteran (PNPK) tentang preeklamsi yang menjadi dasar untuk pembuatan standar pelayanan preeklamsi di seluruh Indonesia dan diharapkan mampu membantu mempercepat penurunkan AKI
Karakteristik Pasien Tumor Trofoblas Gestasional Risiko Rendah dengan Kemoresitensi terhadap Metotreksat yang Dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2011−2015
AbstrakTujuan: Penelitian ini akan mendeskripsikan karakteristik pasien TTG risiko rendah yang resisten terhadap metotreksat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama periode 2011-2015.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif, berlokasi di Departemen Obstetri dan Ginekologi dan Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari bulan April sampai Mei 2017.Hasil: Selama periode penelitian didapatkan 46 kasus TTG risiko rendah yang resisten terhadap metotreksat. Jumlah kejadian terbanyak pada rentang usia 31-35 tahun (45,6%), 36,9% dengan paritas 2, 69,6% dengan gejala klinis perdarahan vagina abnormal, 91,3% dengan kehamilan sebelumnya mola hidatidosa, 52,5% kasus memiliki interval antara kehamilan dengan diagnosis TTG ≤ 4 bulan, 60,9% kasus kadar β-hCG awal > 100.000 mIU/ml. Sebanyak 28,3% kasus bermetastasis, 76,9% di paru-paru dan 23% di otak. Sebagian besar kasus TTG ditemukan pada stadium I (65,2%) pada tahap II, III dan IV adalah 10,9%, 15,2% dan 8,7%.Diskusi: Resistensi terhadap metotreksat pada kasus TTG risiko rendah kebanyakan terjadi pada pasien berusia 31-35 tahun, paritas 2, gejala klinis perdarahan vagina abnormal, kehamilan sebelumnya mola hidatidosa, interval antara kehamilan sebelumnya dengan saat didiagnosis TTG ≤4 bulan, β-hCG awal >100.000 mIU/ml, dan paling banyak ditemukan pada stadium I.Characteristic of Low Risk Gestational Thropoblastic Neoplasia Patien with Chemoresistance to Methotrexate at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2011−2015Abstract Objecttive: This research will describe the characteristics of patients with low risk GTN with chemoresistancy to methotrexate at Hasan Sadikin Hospital Bandung during the period 2011-2015.Method: This research was a descriptive retrospective study located at Obstetrics and Gynecology Department and Medical Record Installation of Hasan Sadikin Hospital Bandung from April to May 2017.Results: During research period that was 46 low risk GTN cases with chemoresistancy to methotrexate. Number of incident mostly in 31−35 years (45,6%), 36,9% with parity 2, 69,6% with clinical symptom of abnormal vaginal bleeding, 91,3% with previous pregnancy hydadityform mole, 52,5% had interval between pregnancy with GTN diagnose was ≤4 months, 60,9% with intial β-hCG >100.000 mIU/ml, 28,3% case metastasized, 76,9% in lung and 23% in brain. Most of the GTN cases found in stage I ( 65,2%), in stage II, III and IV was 10,9%, 15,2% and 8,7%. Discussion: Chemoresistancy to methotrexate in low risk GTN mostly occur in 31-35 years of age, parity 2, mostly clinical symptom of abnormal vaginal bleeding, hidatydiform mole previous pregnancy, interval between pregnancy was ≤ 4 months, intial β-hCG >100.000 mIU/ml, and mostly found in first stage.Key words: Low risk gestational thropoblastic neoplasiac, hemoresistan