Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
Perbandingan Konsentrasi Asam Pekat (H2SO4) Dalam Proses Hidrolisis Terhadap Kadar Gula Pereduksi Kulit Kakao Sebagai Substrat Dalam Pembuatan Bioetanol
The main advantage of biofuel in the form of bioethanol is that it is more environmentally friendly than fossil fuels because bioethanol produces lower carbon emissions when burned. The high cellulose content in cocoa shells has the potential to be further processed into products of economic value, one of which is in the manufacture of bioethanol using a hydrolysis process. The purpose of this study was to determine the effect of variations in sulfuric acid (H2SO4) concentration in the hydrolysis process on the reducing sugar content of cocoa peels as a substrate in the manufacture of bioethanol. The design used in this research is a completely randomized design (CRD) consisting of one factorial, namely variation of H2SO4 concentration (1 M, 2 M, and 3 M (v/v)) in the hydrolysis process. The test of reducing sugar content in this study used the Nelson Somogyi method. The results showed the reducing sugar content of H2SO4 concentration variations of 1 M, 2 M, and 3 M (v/v) were 308 ppm, 200 ppm and 592 ppm. Based on data analysis using ANOVA and Fisher's further test (LSD) at 95% confidence level, the best concentration of sulfuric acid in the cocoa shell hydrolysis process is at a concentration of 3 M with the highest reducing sugar content of 641 ppm at a hydrolysis temperature of 100oC.Keuntungan utama bahan bakar nabati (BBN) berupa bioetanol yaitu lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil, karena bioetanol menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah saat dibakar. Kandungan selulosa yang tinggi pada kulit kakao sangat berpotensi untuk diolah lebih lanjut menjadi produk yang bernilai ekonomi salah satunya adalah dalam pembuatan bioetanol dengan menggunakan proses hidrolisis. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi asam sulfat (H2SO4) pada proses hidrolisis terhadap kadar gula pereduksi dari kulit kakao sebagai substrat dalam pembuatan bioetanol. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktorial yaitu variasi konsentrasi H2SO4 (1 M, 2 M, dan 3 M (v/v)) pada proses hidrolisis. Pengujian kadar gula pereduksi pada penelitian ini menggunakan metode Nelson Somogyi. Hasil penelitian menunjukkan kadar gula pereduksi dari variasi konsentrasi H2SO4 1 M, 2 M, dan 3 M (v/v) yaitu sebesar 308 ppm, 200 ppm dan 592 ppm. Berdasarkan analisis data menggunakan ANOVA dan uji lanjut Fisher (LSD) dengan selang kepercayaan 95%, konsentrasi asam sulfat terbaik dalam proses hidrolisis kulit kakao yaitu pada konsentrasi 3 M dengan kadar gula pereduksi tertinggi sebesar 641 ppm pada suhu hidrolisis 100˚C
IDENTIFIKASI HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP PURSE SEINE YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) LEMPASING
Potensi perikanan di Indonesia cukup tinggi salah satunya Provinsi Lampung, Potensi perikanan di Provinsi Lampung sebesar 387.000 ton/tahun. Salah satu pelabuhan perikanan pantai yang ada di Lampung yaitu pelabuhan Lempasing. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lempasing adalah salah satu tempat pendaratan Ikan yang terdapat di Kota Bandar Lampung yang berbatasan dengan daerah teluk Lampung. Salah satu kapal yang ada di PPP Lempasing adalah kapal Purse Seine. Kapal Purse Seine menjadi salah satu pemasok sumber daya ikan di ppp lempasing. Adapun tujuan kegiatan identifikasi yaitu untuk mengetahui jenis ikan, panjang ikan dan berat ikan hasil tangkapan kapal Purse Seine yang ada di PPP Lempasing. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara, identifikasi ikan dengan cara pengukuran panjang dan berat ikan. Rata – rata hasil yang didapat dari identifikasi ini yaitu panjang dan berat 5 jenis ikan. Panjang dan berat rata – rata masing-masing adalah ikan tongkol 25 cm dan 241,9 gr, ikan layang 14,4 cm dan 30,5 gr , ikan lemuru 12,4 cm dan 2,7 gr , ikan selar 11 cm dan 19,9 gr dan ikan kembung banjar 14,9 dan 37,1 gr
PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP BUBU DI KM. SRI ASIH PADA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) LEMPASING
Potensi sumberdaya ikan di Provinsi Lampung cukup besar mengingat luasnya wilayah perairan yang ada di Indonesia. Pemanfaatan sumberdaya ikan dilakukan dengan berbagai jenis alat penangkapan ikan di PPP Lempasing. Salah satu jenis alat penangkapan ikan yang umumnya digunakan adalah bubu (trap). Alat tangkap bubu dapat terbuat dari kayu, bambu, plastik, jaring, ataupun kawat. Pengoperasiannya dilakukan secara pasif, yaitu menunggu ikan masuk kedalam bubu dan terperangkap hingga tidak dapat keluar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap bubu dan hasil tangkapan bubu di KM. Sri Asih Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lempasing. Pengambilan data di lakukan pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2022 di KM. Sri Asih Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing, Bandar Lampung. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, interview, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah pengoperasian alat tangkap bubu di KM. Sri Asih meliputi 5 tahapan pengoperasian yaitu, tahap persiapan, pencarian daerah penangkapan ikan, pemasangan bubu (setting), perendaman bubu (soaking), serta pengangkatan bubu (hauling). Pada alat tangkap bubu hasil tangkapan utama adalah rajungan dan kepiting. Sedangkan hasil tangkapan sampingan adalah keong siput, ikan kurisi, serta ikan kerapu
PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI DESA WIYONO KAB. PESAWARAN MENUJU KELOMPOK TANI MANDIRI DAN PROFESIONAL DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN PROVINSI LAMPUNG
Desa Wiyono merupakan desa pertanian memiliki potensi sumber daya alam yang sangat kaya walaupun dilingkup perkotaan. Komoditas utama sektor pertanian adalah padi dan perkebunan juga merupakan unggulan dengan luas areal 549 ha (78% dari luas wilayah Desa) dengan komoditi utama kakao. Kurangnya kapasitas yang memadai telah menjadi kendala dalam meningkatkan ketahanan pangan bagi kelompok tani Desa Wiyono. Diperlukan peningkatan kemandirian dan dinamika kelompok tani melalui transfer teknologi berupa teknik pengomposan dengan memanfaatkan agen hayati serta upaya mendorong kelembagaan berusaha tani yang berbadan hukum. Program membimbing kelompok tani dalam proses pendirian Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dilakukan dengan mengadakan pelatihan tentang penyelenggaraan administrasi kelompok. Pelatihan mengenai teknik pengomposan organik fokus pada pemanfaatan limbah pertanian dan organik sebagai bahan baku untuk menghasilkan kompos dengan modul komposter. Dengan penerapan teknik pengomposan yang efektif, kelompok tani dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Pendekatan ini bukan hanya memberikan manfaat ekonomi langsung bagi kelompok tani, tetapi juga memperkuat kapasitas mereka dalam mengelola usaha pertanian secara berkelanjutan. Oleh karena itu, implementasi program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat diadopsi oleh komunitas pertanian serupa di wilayah sekitarnya
Eksplorasi Ikan Wild Betta burdigala (Kottelat & Ng, 1994) (Anabantiformes: Oshpronemidae) pada Musim Hujan dan Musim Kemarau
Betta burdigala tercatat sebagai ikan endemik Pulau Bangka, termasuk kelompok wild betta yang berstatus terancam punah (Critically endangered). Betta burdigala memiliki morfologi tubuh dan warna yang menarik, namun kajian mengenai ikan ini masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi habitat dan kualitas air B. burdigala pada musim hujan dan kemarau melalui eksplorasi. Metode yang digunakan yaitu survei dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif eksploratif. Hasil yang didapatkan bahwa B. burdigala dapat ditemukan pada musim hujan dan kemarau, namun saat musim kemarau B. burdigala cenderung bersembunyi di tanah basah yang berisikan gambut sehingga sulit ditemukan. Nilai kualitas air pada kedua musim memiliki perbedaan diantaranya perbedaan parameter suhu, pH, DO (oksigen terlarut) dan TDS, namun B. burdigala dapat beradaptasi di kondisi lingkungan tersebut. Adanya kajian ini memberikan informasi bahwa B. burdigala dapat ditemukan pada musim hujan dan kemarau dengan kondisi habitat, nilai kualitas air dan warna air yang berbeda
MATURASI INDUK UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI BIBIT UNGGUL KALIANDA LAMPUNG SELATAN
The availability of broodstock in vannamei shrimp cultivation, especially in hatchery activities, is generally the main requirement. The lack of availability of good quality broodstock is an obstacle in shrimp hatchery activities. One of them is a decrease in egg hatchability which can affect the number and quality of Nauplius produced. Maturation is the initial stage in the process of prospective parent vannamei shrimp becoming mature gonads. Apart from that, the aim of maturation is to maximize growth into adult parent shrimp so that prospective parent vannamei shrimp are ready for spawning. Data collection through observation, documentation, and direct participation in the field in parent maturation activities. The average fecundity produced by each parent during the research ranged from 150-250 thousand eggs. Meanwhile the Hatching Rate was 78.60-79.91%, in December it was 68.37-72.71%. Fertilization Rate (FR) 60-75, Survival of vannamei shrimp in November 91.5%. December 89.5%. The results of water quality measurements, the temperature in the broodstock maturation rearing tank at PT Bibit Unggul Kalianda is around 28-30 oC and the salinity is around 30 ppt.Ketersediaan induk pada budidaya udang vannamei khususnya dalam kegiatan pembenihan umumnya menjadi persyaratan utama. Kurangnya ketersediaan induk yang berkualitas baik menjadi kendala dalam kegiatan pembenihan udang. Salah satu di antaranya yaitu terjadinya penurunan daya tetas telur yang dapat mempengaruhi jumlah serta kualitas Nauplius yang diproduksi. Maturasi merupakan tahap awal proses calon induk udang vannamei menjadi matang gonad selain itu tujuan maturasi adalah untuk memaksimalkan pertumbuhan menjadi induk udang dewasa sehingga calon induk udang vannamei siap untuk dilakukan pemijahan. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, serta partisipasi langsung ke lapangan dalam kegiatan maturasi induk. Fekunditas rata-rata yang dihasilkan setiap induk selama penelitian adalah berkisar antara 150-250 ribu telur. Sedangkan Hatching Rate adalah 78.60-79.91%, dibulan Desember 68.37-72.71%. Fertilization Rate (FR) 60-75, Kelangsungan hidup udang vannamei di bulan November 91.5%. bulan Desember 89.5%. Hasil pengukuran kualitas air, Suhu pada bak pemeliharaan maturasi induk di PT Bibit Unggul Kalianda berkisar 28-30 oC dan salinitas berkisar 30 ppt
Optimasi Budidaya Bawang Merah Secara Organik dengan Formulasi Kompos Gulma Siam Berbasis Agens Hayati
Conventional shallot cultivation has brought negative effects such as chemical pollution, decrease in biodiversity, and fungal pathogen resistance. The use of organic fertilizer and biopesticides is a good solution to overcome the problems. This research was done to find optimum dose of siam weed compost combined with biocontrol of avirulent Fusarium oxysporum f. sp. cepae on shallot production. A single factor arranged in Randomized Complete Design with 3 replications was used. The treatment was the dose of siam weed compost i.e. A = control, B = 5 tons/ha, C = 10 tons/ha, D = 15 tons/ha, and E = 20 tons/ha. Siam weed compost was enriched with the biocontrol before used. The results showed that up to 20 tons/ha, siam weed compost increased only shallot growth of fresh and dry weight of plant. There was no significant effect to shallot yield. Incidence of moler disease was very low during the research.
Budidaya bawang merah secara konvensional telah membawa efek negatif seperti pencemaran lingkungan, menurunnya biodiversitas, dan resistensi jamur patogen. Penggunaan pupuk organik dan biopestisida menjadi solusi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum kompos gulma siam yang dikombinasikan dengan agens hayati Fusarium oxysporum f. sp. cepae avirulen. Penelitian ini menggunakan faktor tunggal yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah dosis kompos gulma siam, A = kontrol, B = 5 ton/ha, C = 10 ton/ha, D = 15 ton/ha dan E = 20 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan dosis 20 ton/ha pupuk gulma siam hanya meningkatkan pertumbuhan tanaman pada variabel bobot segar dan bobot kering tanaman. Tidak ada beda nyata pada variabel hasil. Insidensi penyakit moler sangat rendah selama penelitian
Distribusi Penyakit Bulai Jagung (Peronosclerospora maydis) pada Lahan Pertanaman Jagung dengan Pendekatan Geostatistik
Downy mildew Peronosclerospora spp. is an important disease in corn (Zea mays L.). The damage of downy mildew caused by Peronosclerospora spp. is this pathogen can reach 90-100%, especially in corn varieties that are susceptible to downy mildew. So far, most research has only been limited to knowing the incidence of the disease, without being able to describe the spatial distribution pattern of downy mildew in the planting area. This research aims to determine the occurrence of disease and the spatial distribution patterns of downy mildew on a geospatial basis. Samples were taken from three corn fields affected by downy mildew on three fields planted with corn plants that were attacked by downy mildew. Data on the level of infestation, along with its coordinates, were used to create a theoretical semivariogram model, Gaussian, spherical, exponential. The distribution pattern is approached by interpolating attack level data using the kriging method. The research results show that the appropriate theoretical semivariogram model to describe the distribution of P. maydis in the observation area is the Gaussian model. The distribution of pathogens throughout the observation area began with a clustered pattern and evened out at the end of the observation. Foci had a clustered pattern in the first to fourth weeks of observation. Then each foci experienced development, so that the distribution pattern changed to become even after the fifth week of observation
Inventarisasi Dan Formulasi Tanaman Pestisida Nabati Pada Petani Di Sumatera Barat
This study aims to inventory the plants used by farmers in West Sumatra to make vegetable pesticide ingredients and determine their effectiveness and to formulate botanical pesticides based on their effectiveness in killing insects. Data collection was carried out by direct interviews with farmers. Testing the active substance content of vegetable pesticides is carried out by means of a phytochemical test in the laboratory. The effectiveness of the plant extracts from the inventory was tested in the laboratory. Testing the effectiveness of botanical pesticide formulations is carried out in the field. Formulation effectiveness data were observed qualitatively by farmer groups from the number of leaf vegetables eaten by caterpillars or insects for approximately 2 weeks. There were 44 (forty four) species of plants used by farmers as ingredients for making vegetable pesticides, and 20 (twenty) species of phytochemical tests were carried out, followed by 17 (seventeen) species of effectiveness tests. Formulas for vegetable pesticides are made based on the results of laboratory extract effectiveness tests. The results of the study showed that plants that were effective as ingredients for vegetable pesticides were surian, neem, karakok, citronella which were made with the following formulations: Formula 1 (Surian and Karakok), Formula 2 (Surian, Mindi, Karakok), Formula 3 (Mindi and Karakok) , and Formula 4 (Surian, Mindi, Karakok, Lemongrass Wangi). The results of the effectiveness test of the botanical pesticide formulas in the field showed that the F2 and 4 formulas were more effective than the F1 and F3.Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi tumbuhan yang digunakan oleh petani di Sumatera Barat untuk membuat bahan pestisida nabati dan mengetahui efektivitasnya serta memformulasi pestisida nabati berdasarkan efektivitasnya dalam membunuh serangga. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara langsung dengan petani. Pengujian kandungan zat aktif pestisida nabati dilakukan dengan uji fitokimia di laboratorium. Efektifitas ekstrak tanaman hasil inventarisasi diuji di laboratorium. Pengujian efektifitas formulasi pestisida nabati dilakukan di lapangan. Data efektifitas formulasi diamati secara kwalitatif oleh kelompok tani dari jumlah daun sayuran yang dimakan oleh ulat atau serangga selama lebih kurang 2 minggu. Tumbuhan yang digunakan oleh petani sebagai bahan pembuatan pestisida nabati sebanyak 44 (empat puluh empat) spesies, dan yang dilakukan pengujian fitokimia sebanyak 20 (dua puluh) spesies, dan dilanjutkan dengan uji efektifitas di laboratorium sebanyak 17 (tujuh belas) spesies. Formula pestisida nabati dibuat berdasarkan hasil uji efektifitas ekstrak tumbuhan di laboratorium. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tumbuhan yang efektif sebagai bahan pestisida nabati adalah surian, nimba, karakok, sereh wangi yang dibuat dengan formulasi : Formula 1 (Surian dan Karakok), Formula 2 (Surian, Mindi, Karakok), Formula 3 (Mindi dan Karakok), dan Formula 4 (Surian, Mindi, Karakok, Sereh Wangi). Hasil uji efektifitas formula pestisida nabati di lapangan menunjukkan bahwa formula F2 dan Formula 4 lebih efektif dibandingkan dengan F1 dan F3
Persepsi dan Kepuasan Konsumen Pada Pembelian Kopi Nira Aren Di Pondok Kopi Aren Damai Langgeng Kota Pekanbaru
This research aimed to understand customer characteristics, analyzed perception based on the level of importance dan performance of marketing mix attributes, and assesed consumer satiscfaction level with the marketing atribut of Pondok Kopi Aren Damai Langgeng in Pekanbaru City. The respondents were selected by purposive sampling method. Data were analyzed using descriptive analysis, Importance Performance Analysis (IPA) and the Customer Satisfaction Index (CSI) method. The research results indicated that the highest to lowest level of importance and performance of marketing mix variables, in sequence, are product, place, price and promotion. Meanwhile, in terms of performance, the sequence are product, price, place and promotion.The results showed the characteristic of consumers based on gender were dominated by men, with the age category “late adulthood” which is 36-45 years, married, has college education, with a job as a entrepreneur and average monthly income >IDR.4.500.000. Based on the Cartesian diagram analysis, the atribut that urgently need improvement are business sign, facilities and infrastructure. The results of the research showed that the Customer Satisfaction Index (CSI) is 79,32%, which indicates that customer satisfaction is within the category of satisfied.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik konsumen, menganalisis persepsi berdasarkan tingkat kepentingan dan kinerja atribut bauran pemasaran, serta menilai tingkat kepuasan konsumen terhadap atribut pemasaran Pondok Kopi Aren DAMAI LANGGENG di Kota Pekanbaru. Responden dipilih menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, Importance Performance Analysis (IPA) dan metode Customer Satisfaction Index (CSI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepentingan dan kinerja variabel bauran pemasaran yang tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah produk, tempat, harga dan promosi. Sedangkan dari segi kinerja, urutannya adalah produk, harga, tempat dan promosi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik konsumen berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh laki-laki, dengan kategori usia “dewasa akhir” yaitu 36-45 tahun, status menikah, pendidikan perguruan tinggi, bekerja sebagai wirausaha/pengusaha dan pendapatan rata-rata bulanan >Rp4.500.000. Berdasarkan analisis diagram kartesius, atribut yang perlu diprioritaskan perbaikannya adalah papan nama usaha, sarana dan prasarana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Customer Satisfaction Index (CSI) sebesar 79,32% yang menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan berada dalam kategori puas