Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
    150 research outputs found

    Makna Imago Dei dalam Teologi Pastoral Berdasarkan Lukas 14:12-14 Bagi Kaum Disabilitas dalam Kehidupan Gerejawi

    Full text link
    Artikel ini mengulas tentang konsep Imago Dei dalam  teologi Kristen menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah termasuk kaum disabilitas. Lukas 14:12-14 menekankan panggilan gereja untuk menerima dan melayani mereka yang sering terpinggirkan termasuk miskin dan kaum disabilitas. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana imago dei dalam Lukas 14:12-14 dapat membentuk teologi pastoral yang lebih inklusif bagi kaum disabilitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Tujuan penelitian untuk mengkaji makna Imago Dei kaum penyandang disabilitas dalam terang Lukas 14:12-14 melalui pendekatan teologi pastoral. Hasilnya memberikan pemahaman bahwa setiap individu, termasuk kaum difabel, memiliki martabat dan nilai yang tak ternilai sesuai dengan Imago Dei. Dengan demikian gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi komunitas yang mencerminkan kasih nyata dan keadilan Kristus

    Panggilan Perempuan Perspektif Edith Stein dan Relevansinya bagi Kehidupan Gereja Katolik Masa Kini

    Full text link
    This article examines the calling of women from the perspective of Edith Stein and its relevance to contemporary church life. Despite the significant contributions women have made throughout the history of the church, they are often marginalised in leadership roles and active participation. This research aims to explore Stein's thoughts on the identity and role of women to address the challenges faced by women within the Catholic Church. Drawing on literature studies and a comprehensive analysis of Stein's works, this article demonstrates that an understanding of women's experiences and callings can enrich pastoral and theological practices. This study aims to connect Stein's philosophical insights with contemporary gender issues and provides practical recommendations for enhancing the voice and role of women in ecclesiastical life. Consequently, the article contributes to the discourse on gender justice within the contexts of theology and pastoral care, while providing a fresh perspective on the role of women in the church's mission in the modern era. The conclusion drawn is that Stein's thought remains relevant and can be applied to foster a more inclusive environment for women within church communities. AbstrakArtikel ini mengkaji panggilan perempuan dari perspektif Edith Stein dan relevansinya bagi kehidupan Gereja Katolik masa kini. Meskipun perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah gereja, mereka seringkali terpinggirkan dalam peran kepemimpinan dan partisipasi aktif. Tujuan penelitian ini adalah mendalami pemikiran Stein tentang identitas dan peran perempuan sebagai solusi untuk menjawabi tantangan yang dihadapi perempuan dalam Gereja Katolik. Dengan menerapkan metode studi pustaka, dan analisis mendalam terhadap karya-karya Stein, artikel ini menunjukkan bahwa pemahaman akan pengalaman dan panggilan perempuan dapat memperkaya praktik pastoral dan teologis. Penelitian ini berupaya menghubungkan antara pemikiran filosofis Stein dan isu-isu gender masa kini, serta memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan suara dan peran perempuan dalam kehidupan gerejawi dalam konteks Gereja Katolik. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi bagi diskusi mengenai keadilan gender dalam konteks teologi dan pastoral, serta menawarkan perspektif baru tentang peran perempuan dalam misi gereja di era modern. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa pemikiran Stein tetap relevan dan dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan dalam komunitas gereja

    Hubungan Dukungan Iman Orang Tua dan Dukungan Iman Pembina Remaja Terhadap Spiritualitas Remaja

    Full text link
    Faith support plays an important role in shaping adolescent spirituality. Adolescents who receive simultaneous faith support from parents and youth mentors tend to have higher levels of spirituality. This study aims to determine the relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. This study uses a quantitative method with data collection techniques through distributing questionnaires. The subjects of the study consisted of 120 adolescents aged 15–25 years who were active in the Jakarta Christian Church. The sampling technique used purposive sampling, while data analysis was carried out using the Pearson Product Moment correlation test. The results of the study showed a significant relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. The faith support provided synergistically by both parties showed a significant positive correlation with the development of adolescent spirituality. These findings provide an important contribution to adolescent development, by emphasizing the need for collaboration between youth mentors in the church and parents in supporting optimal adolescent spiritual growth. AbstrakDukungan iman memiliki peran penting dalam membentuk spiritualitas remaja. Remaja yang menerima dukungan iman secara simultan dari orang tua dan pembina remaja cenderung memiliki tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner. Subjek penelitian terdiri dari 120 remaja berusia 15–25 tahun yang aktif di Gereja Kristen Jakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Dukungan iman yang diberikan secara sinergis oleh kedua pihak menunjukkan korelasi positif yang signifikan terhadap perkembangan spiritualitas remaja. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pembinaan remaja, dengan menekankan perlunya kolaborasi antara pembina remaja di gereja dan orang tua dalam mendukung pertumbuhan spiritualitas remaja secara optimal.

    Tafsir Ekoteologis atas Ritual Manuan Raja ni Duhutduhut dalam Adat Kematian Batak Toba

    Full text link
    The global ecological crisis not only causes physical environmental damage but also reflects humanity's spiritual disconnection from the earth as a sacred home. This article explores the traditional rite of manuan raja ni duhutduhut from the Toba Batak saur matua death tradition as a form of ecological liturgy that unites body, land, and spirituality. This research uses a symbolic hermeneutics approach with a literature review of traditional texts and ecotheological theories from Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, and Thomas Laqueur. The analysis shows that the act of planting trees in this rite is not merely a symbol of respect for ancestors but also a form of spiritual participation in ecological regeneration. This article proposes a reinterpretation of the rite as a liturgical practice of planting memories that is inclusive and contextual. The implication is that local Toba Batak spirituality has the potential to contribute to the restoration of the relationship between humans and the earth, while also being an expression of ecological faith in response to the global ecological crisis. AbstrakKrisis ekologis global tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga mencerminkan keterputusan spiritual manusia dari bumi sebagai rumah yang sakral. Artikel ini menelusuri ritus adat manuan raja ni duhutduhut dari tradisi kematian saur matua Batak Toba sebagai bentuk liturgi ekologis yang menyatukan tubuh, tanah, dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika simbolik dengan studi pustaka terhadap teks adat dan teori ekoteologi dari Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, dan Thomas Laqueur. Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan menanam pohon dalam ritus ini bukan sekadar simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga bentuk partisipasi spiritual dalam regenerasi ekologis. Artikel ini mengusulkan reinterpretasi ritus tersebut sebagai praktik liturgi tanam kenangan yang bersifat inklusif dan kontekstual. Implikasinya, spiritualitas lokal Batak Toba memiliki potensi kontribusi terhadap pemulihan relasi manusia dan bumi, sekaligus menjadi ekspresi iman ekologis dalam merespons krisis ekologi global.Krisis ekologis global yang ditandai oleh kerusakan lingkungan dan keterputusan manusia dari alam mendorong pembacaan ulang terhadap praktik budaya yang mengandung makna regeneratif. Artikel ini menafsirkan ulang salah satu ritus dalam adat kematian Batak Toba, yaitu manuan raja ni duhutduhut, praktik menanam pohon yang dilakukan dalam upacara kematian untuk seseorang yang telah menikah serta memiliki anak, cucu, bahkan cicit. Ritus ini secara adat hanya dilakukan untuk kematian yang dianggap sempurna, dikenal sebagai saur matua. Dengan pendekatan tafsir simbolik terhadap teks adat dan kajian pustaka, serta pemikiran dari Ronald L. Grimes tentang ritual sebagai tindakan tubuh, Sallie McFague dan Leonardo Boff tentang ekoteologi, dan Thomas Laqueur tentang pohon sebagai penanda ingatan yang hidup, artikel ini menunjukkan bahwa tindakan menanam pohon dapat dibaca sebagai liturgi ekologis yang menyatukan dimensi spiritual dan ekologis. Tulisan ini tidak bermaksud menggantikan ritus adat, melainkan mengusulkan bahwa semangat regeneratifnya dapat diterapkan secara lebih luas, pada kematian siapapun tanpa dibatasi usia, status sosial, atau lokasi pemakaman. Kesimpulan utama menunjukkan bahwa nilai adat yang hidup dapat tetap relevan dalam merespons krisis ekologi masa kini. Kata-kata kunci: Ekoteologi; kematian saur matua; liturgi ekologis; manuan raja ni duhutduhut; penanaman poho

    Munus Triplex Transformatif: Reinterpretasi Jabatan Kristus Menjawab Usulan Ekspansi Sahabat-Pelayan dari Moltmann dan Nugent

    Full text link
    The concept of the triplex munus, Christ as prophet, priest, and king, has been a dominant paradigm since the Reformation through the thought of John Calvin. The changing landscape of the church has prompted a reconsideration of its relevance. Jürgen Moltmann and John C. Nugent have suggested expanding it to a quadruplex munus by adding friend and servant, but this article critiques this approach for its tendency to reinforce the framework of tradition and shift attention from spiritual depth to a purely social orientation. Based on qualitative methods and an intertheological synthesis of classical and contemporary sources, this study proposes a transformative triplex munus that maintains the classical structure while enriching its meaning through two inter-office dimensions: relational (friend) and actional (servant). The results show that the transformative triplex munus maintains doctrinal continuity while encouraging participatory, egalitarian, and context-sensitive church praxis without the addition of a fourth office. The relational dimension guides liberating proclamation, while the actional dimension directs priesthood and kingship as concrete services to many. This framework provides operational guidelines for contemporary church proclamation, reconciliation, and leadership. AbstrakKonsep munus triplex, yakni Kristus sebagai nabi, imam, dan raja, telah menjadi paradigma dominan sejak Reformasi melalui pemikiran Yohanes Calvin. Perubahan lanskap gereja mendorong peninjauan ulang relevansinya. Jürgen Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan sahabat dan pelayan, namun artikel ini mengkritisi pendekatan tersebut karena berisiko mengaburkan kerangka tradisi dan menggeser perhatian dari kedalaman spiritual ke orientasi sosial semata. Berbasis metode kualitatif melalui sintesis interteologis atas sumber klasik dan kontemporer, penelitian ini menawarkan munus triplex transformatif yang mempertahankan struktur klasik sekaligus memperkaya makna melalui dua dimensi lintas jabatan: relasional (sahabat) dan aksional (pelayan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa munus triplex transformatif mampu menjaga kesinambungan doktrinal sambil mendorong praksis gereja yang partisipatif, egaliter, dan peka konteks tanpa penambahan jabatan keempat. Dimensi relasional menuntun pewartaan yang membebaskan, sedangkan dimensi aksional mengarahkan keimaman dan kerajaan sebagai pelayanan yang nyata bagi banyak orang. Kerangka ini memberi pedoman operasional bagi pewartaan, pendamaian, dan kepemimpinan gereja kontemporer.Konsep munus triplex (Kristus sebagai nabi, imam, dan raja) telah lama menjadi paradigma dominan dalam kristologi dan eklesiologi, terutama sejak Reformasi melalui karya Yohanes Calvin. Namun, konteks gereja yang terus berubah menimbulkan tantangan baru yang memerlukan tinjauan ulang terhadap relevansi konsep ini. Jürgen Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan dimensi sahabat dan pelayan, guna menjawab tantangan gereja kontemporer yang semakin dinamis dan plural. Penelitian ini berpendapat usulan tersebut bermasalah, karena penambahan satu jabatan baru berpotensi mengaburkan kerangka teologis warisan tradisi serta beresiko membuat gereja terlalu berfokus pada dimensi sosial hingga melupakan kesehatian spiritualnya. Sebagai alternatif, artikel ini menawarkan reinterpretasi melalui konsep munus triplex transformatif, sebuah sintesis baru yang mempertahankan struktur klasik munus triplex namun memperkaya maknanya melalui lensa relasional (sahabat) dan aksional (pelayan). Melalui metode kualitatif dengan sintesis interteologis yang mengintegrasikan perspektif klasik dan kontemporer, penelitian ini menemukan bahwa munus triplex transformatif mampu menjaga kesinambungan doktrinal sekaligus mendorong praksis gereja yang partisipatif, egaliter, dan relevan secara sosial tanpa menambahkan jabatan keempat. Kebaruan penelitian ini terletak pada kemampuannya mengatasi ketegangan teologis antara kontinuitas historis dan tantangan kontemporer melalui integrasi dimensi relasional dan aksional dalam munus triplex

    Menalar Kontribusi Hermeneutik Alkitab untuk Mengokohkan Kehidupan Iman Kristen di Era Postmodern

    Full text link
    Artikel ini mengemukakan tentang pentingnya mengajarkan firman Allah kepada orang percaya supaya dihayati dan diterapkan maknanya dalam kehidupan mereka. Mengingat akan keyakinan gereja bahwa Alkitab memiliki otoritas atas kehidupan orang percaya termasuk di era postmodern ini. Untuk mencapai pengajaran yang relevan dengan kebutuhan itu, maka dibutuhkan hermeneutik Alkitab sebagai jawaban final terhadap isu postmodern. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan studi pustaka. Peneliti menemukan bahwa otoritas Alkitab sangat esensial bagi gereja di dunia postmodern. Berita Alkitab  menyediakan fondasi kebenaran yang objektif dan transenden di tengah relativisme dan subjektivitas yang merajalela. Demikian juga Alkitab menjadi kompas moral dan teologis yang esensial untuk menavigasi isu-isu kompleks. Berita Alkitab  juga dibutuhkan guna mempertahankan identitas dan misi gereja yang unik dalam lanskap budaya postmodern yang terus berubah dan sering kali menantang klaim-klaim kebenaran absolut. Gereja tidak dapat berdiri tegak jika tanpa kebenaran Injil Kristus. Kesimpulannya, hermeneutik Alkitab merupakan sumber yang tepat dan sahih guna menjawab semua pemikiran postmodern yang menyerang iman Kristen

    Pengajaran Baptisan Roh Kudus Perspektif Pentakostal dan Pertumbuhan Rohani Jemaat Kontemporer: Studi Kasus pada Jemaat GBI Jalan Tapos Cibinong

    No full text
    Baptisan Roh Kudus merupakan doktrin sentral dalam teologi Pentakostal yang diyakini membawa transformasi rohani bagi jemaat, tetapi tetap menjadi perdebatan di berbagai tradisi gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengajaran Baptisan Roh Kudus dalam perspektif Pentakostal serta implikasinya terhadap pertumbuhan rohani jemaat kontemporer, dengan studi kasus di GBI Jalan Tapos Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan studi kasus, melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemimpin gereja dan jemaat, observasi ibadah, serta analisis dokumentasi program pembinaan rohani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengajaran yang sistematis dan berbasis komunitas, seperti Kehidupan Orientasi Melayani (KOM) dan Community of Love (COOL), efektif dalam memperkuat pemahaman doktrinal dan pengalaman rohani jemaat. Selain itu, ibadah profetik dan altar call berperan dalam menciptakan ruang bagi jemaat untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus secara personal. Namun, gereja perlu menjaga keseimbangan antara pengalaman rohani dan kedewasaan doktrinal agar tidak terjadi subjektivisme rohani yang berlebihan. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan pengajaran yang adaptif dan kontekstual diperlukan untuk memastikan relevansi doktrin Baptisan Roh Kudus dalam menghadapi tantangan gereja masa kini.Baptisan Roh Kudus merupakan doktrin utama dalam teologi Pentakostal yang diyakini membawa transformasi rohani bagi jemaat, tetapi masih menjadi perdebatan di berbagai tradisi gereja. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengajaran Baptisan Roh Kudus dalam perspektif Pentakostal serta implikasinya terhadap pertumbuhan rohani jemaat kontemporer, dengan studi kasus di GBI Jalan Tapos Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan studi kasus melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemimpin gereja dan jemaat, observasi ibadah, serta analisis dokumentasi program pembinaan rohani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran Baptisan Roh Kudus yang sistematis dan kontekstual berdampak positif terhadap kedewasaan iman, disiplin rohani, dan keterlibatan jemaat dalam pelayanan. Namun, gereja perlu menjaga keseimbangan antara pengalaman rohani dan pemahaman doktrinal agar jemaat tidak hanya berfokus pada manifestasi karunia Roh, tetapi juga bertumbuh dalam karakter yang mencerminkan buah Roh Kudus. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa strategi pengajaran yang adaptif dan berbasis komunitas diperlukan agar jemaat dapat mengalami kepenuhan Roh Kudus secara otentik serta relevan dengan tantangan gereja masa kini

    Providensia Allah dalam Tantangan Judi Online: Respons Teologis terhadap Krisis Iman Kristen

    Full text link
    The increasingly widespread phenomenon of online gambling in the digital age presents a serious challenge to the understanding of Christian faith, particularly regarding the doctrines of providence and God's sovereignty. Using qualitative methods through literature study and theological analysis, this study raises the claim that winning in gambling is part of God's sovereignty and critiques the narrow view that separates winning and losing within the framework of providence. This study aims to theologically examine how online gambling practices contradict Christian work ethics and deny the fundamental principle of God's providence. The findings indicate that online gambling is not simply a moral issue, but a theological deviation that undermines the meaning of divine calling and human responsibility. Gambling makes money and wealth the center of life's hopes, replacing hard work and discipline, and leading to dependency and financial ruin, especially for the younger generation. This study affirms that God's providence is relational, not fatalistic. God remains sovereign, but His involvement in history respects human freedom and demands moral accountability. Choices remain within the scope of providence, but they carry ethical consequences that cannot be ignored. AbstrakFenomena judi online yang kian marak di era digital menghadirkan tantangan serius terhadap pemahaman iman Kristen, khususnya terkait doktrin providensia dan kedaulatan Allah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur dan analisis teologis, penelitian ini mengevaluasi klaim bahwa kemenangan dalam perjudian adalah bagian dari kedaulatan Allah, serta mengkritisi pandangan sempit yang memisahkan antara kemenangan dan kekalahan dalam kerangka providensia. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis bagaimana praktik judi online bertentangan dengan etika kerja Kristen dan mengingkari prinsip dasar providensia Allah. Hasil temuan menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar persoalan moral, melainkan penyimpangan teologis yang mengaburkan makna panggilan ilahi dan tanggung jawab manusia. Judi menjadikan uang dan keberuntungan sebagai pusat harapan hidup, menggantikan kerja keras dan disiplin, serta menyebabkan ketergantungan dan kehancuran finansial, khususnya bagi generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa providensia Allah bersifat relasional, bukan fatalistik. Allah tetap berdaulat, namun keterlibatan-Nya dalam sejarah menghargai kebebasan manusia dan menuntut akuntabilitas moral. Pilihan berjudi tetap berada dalam cakupan providensia, tetapi membawa konsekuensi etis yang tidak bisa diabaikan.Fenomena judi online semakin marak di era digital dan menantang pemahaman iman Kristen tentang providensia Allah. Panggilan dan kedaulatan Allah sebagai fondasi etika kerja menuntut tanggung jawab individu dalam mengelola hidup sebagai bentuk ibadah. Namun, judi online bertentangan dengan prinsip ini karena menggantikan kerja keras dengan spekulasi berbasis keberuntungan, yang pada akhirnya merusak disiplin dan dedikasi generasi muda dalam mewujudkan panggilan ilahi mereka. Penelitian ini mengkaji secara teologis bagaimana judi online mengingkari providensia Allah serta menelaah klaim bahwa kemenangan dalam perjudian merupakan bagian dari kedaulatan-Nya. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis teologis, penelitian ini menegaskan bahwa uang dapat memperbudak manusia melalui sistem judi online, yang pada gilirannya menimbulkan ketergantungan dan kehancuran finansial. Selain itu, penelitian ini meluruskan asumsi bahwa Allah berdaulat atas kemenangan semu dan tidak berdaulat atas kekalahannya adalah bentuk pembatasan kebesaran Allah. Temuan juga menunjukkan bahwa providensia Allah bersifat relatif dan kondisional, yang memperlihatkan respons manusia terhadap panggilan ilahi. Dalam konteks ini, kehendak bebas manusia berperan besar dalam menentukan konsekuensi yang mereka hadapi akibat memilih perjudian sebagai jalan hidup. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa providensia Allah tidak dapat dipahami secara fatalistik, melainkan sebagai panggilan aktif untuk hidup dalam tanggung jawab dan integritas di tengah tantangan era disrupsi

    Keselamatan Tanpa Sekat (Studi Hermeneutis Mengenai Konsep Keselamatan Universal Menurut Markus 7:24-30)

    Full text link
    This study examines the narrative of the Syro-Phoenician woman in Mark 7:24-30 to understand the concept of universal salvation revealed by Jesus Christ in the context of His mission. This topic is important considering the tension between Jesus’ mission initially aimed at the people of Israel and the evidence that salvation is also intended for Gentiles without ethnic or social discrimination. The purpose of the study is to analyze how the dialogue between Jesus and the Syro-Phoenician woman affirms the universality of the gift of salvation that transcends social and ethnic boundaries. The method used is a historical-critical approach and textual exegesis by examining the historical, cultural context, and theological message of the narrative in depth. The research results show that the faith of the Syro-Phoenician woman serves as an indicator of the acceptance of the universality of salvation, affirming that God’s salvation is not limited by ethnic or social identity but depends on a sincere response of faith. These findings contribute to the understanding of inclusivity in church ministry in spreading the grace of salvation to all humanity with full conviction and hope. AbstrakPenelitian ini mengkaji narasi perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 untuk memahami konsep keselamatan universal yang diungkapkan oleh Yesus Kristus dalam konteks misi-Nya. Topik ini penting mengingat adanya ketegangan antara misi Yesus yang awalnya ditujukan kepada bangsa Israel dengan bukti bahwa keselamatan juga diperuntukkan bagi orang non-Yahudi tanpa diskriminasi etnis maupun sosial. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana dialog antara Yesus dan perempuan Siro-Fenisia menegaskan universalitas anugerah keselamatan yang melampaui batas-batas sosial dan etnis. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dan eksegesis teks dengan menelaah konteks historis, budaya, serta pesan teologis narasi tersebut secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman perempuan Siro-Fenisia menjadi indikator penerimaan universalitas keselamatan, yang menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak terbatas oleh identitas etnis atau sosial, melainkan bergantung pada respons iman yang sungguh-sungguh. Temuan ini memberikan kontribusi pada pemahaman inklusivitas pelayanan gereja dalam menyebarkan kasih karunia keselamatan kepada seluruh umat manusia dengan penuh keyakinan dan harapan.Diskusi teologis tentang keselamatan universal menjadi isu penting dalam pemikiran Kristen, khususnya mengenai ruang lingkup keselamatan. Penelitian ini bertujuan mengkaji kisah perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30 sebagai dasar diskusi teologis keselamatan universal menggunakan metode hermeneutik untuk menganalisis makna teks, latar belakang historis, dan konteks sosial-budaya. Keselamatan dalam Kristus bersifat universal dan inklusif, melampaui segala sekat pembatas dan menghapuskan hakikat diskriminatif sebagaimana dicontohkan oleh narasi perempuan Siro-Fenisia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah ini mengungkapkan inklusivitas keselamatan yang melampaui batas etnis dan agama, dengan iman sebagai kunci utama memperoleh anugerah Allah. Keselamatan yang ditawarkan Kristus tidak mengenal diskriminasi berdasarkan ras, suku, status sosial, atau latar belakang budaya, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki iman teguh. Yesus membuka pintu keselamatan bagi non-Yahudi yang secara historis dianggap "outsider". Dialog tersebut mendemonstrasikan transformasi pemahaman misi dari terbatas pada Israel menjadi universal. Narasi ini menegaskan bahwa keselamatan Allah bersifat demokratis tanpa hierarki sosial. Perikop ini memberikan landasan bagi dialog antaragama serta keadilan sosial dalam masyarakat multikultural kontemporer, mendorong gereja mengadopsi pendekatan inklusif dalam pelayanan

    Stewardship Ekologis Berbasis Alkitab: Integrasi Hermeneutika Kontekstual dan Doktrin Ineransi

    Full text link
    Krisis ekologis global menuntut respons teologis yang tidak sekadar bersifat etis, tetapi juga epistemologis dan praksis. Kajian ini menyusun kerangka integratif antara doktrin ineransi Alkitab, hermeneutika kontekstual, dan teologi stewardship untuk menjawab ketegangan antara otoritas Kitab Suci dan tanggung jawab ekologis gereja. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif berbasis studi literatur, teks-teks seperti Kejadian 1:26–28 dan 2:15 dianalisis secara historis-linguistik dan kontekstual untuk merumuskan pemahaman baru mengenai mandat manusia terhadap ciptaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa reinterpretasi konsep “menguasai” (רָדָה, rādâ), “menaklukkan” (כָּבַשׁ, kābaš), “mengusahakan” (עָבַד, ʿābad), dan “memelihara” (שָׁמַר, šāmar) memungkinkan transformasi pemahaman iman yang berakar pada otoritas Alkitab dan sekaligus relevan terhadap krisis lingkungan. Teologi stewardship diposisikan sebagai ekspresi iman yang inkarnatif, menjembatani spiritualitas, liturgi, dan advokasi ekologis dalam praksis komunitas. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan ekoteologi Kristen yang kontekstual dan performatif, serta menawarkan dasar konseptual bagi gereja untuk hadir sebagai agen transformasi ekologis melalui integrasi iman, sains, dan keadilan ciptaan

    143

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇