Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
    1492 research outputs found

    GOLF CLUB HOUSE DI SPORT CENTER BANJARBARU

    Get PDF
    The planning of the golf venue at the Banjarbaru Sport Center by the government that prioritizes golfers in the field of achievement must of course have complete facilities and national standards in order to accommodate when South Kalimantan hosts a golf tournament at the national level, the main facility in a golf venue is the Golf Club House which acting as a place of preparation for golfers before or after playing in the field, this club house must not only accommodate the golf course it serves in order to create a bond between the club house and the golf course and provide a sense of comfort for its visitors. To solve these problems, the functional Architecture method and the User Experience concept are used which pay attention to four points in the design, namely air exchange, lighting, materials and exposure to solar heatPerencanaan venue golf di Sport Center Banjarbaru oleh pemerintah yang mengutamakan pegolf dalam bidang prestasi tentu harus memiliki fasilitas yang lengkap dan berstandar nasional agar bisa mewadahi saat Kalimantan selatan menjadi tuan rumah turnamen golf dalam tingkat nasional, fasilitas utama dalam sebuah venue golf adalah Golf Club House yang berperan sebagai tempat persiapan para pegolf sebelum atau sesudah bermain di lapangan, Club house ini selain mewadahi juga harus bisa menjadi gerbang bagi lapangan golf yang dilayaninya agar terciptanya ikatan antara club house dan juga lapangan golf serta memberi rasa nyaman bagi para pengunjungnya. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut digunakanlah metode Arsitektur fungsional dan konsep User Experience yang memperhatikan empat poin dalam perancangannya yaitu pertukaran udara, pencahayaan, material serta paparan panas matahari. &nbsp

    RUANG KERJA BERSAMA DI BANJARBARU

    Get PDF
    The Gig Economy is one result of the influence of the development of internet technology, defined as the trend of working with a short-term contract system, not fixed, but has the advantage of flexibility. Coworking Space is here to offer space rentals that can accommodate high-mobility work activities, targeting consumers; Generation Z as a group of actors who dominate the Gig Economy trend. Greater Flexibility, or better flexibility, is a problem that will be resolved in the design of the Coworking Space in Banjarbaru. Workspaces that have high flexibility are considered the right strategy to meet the needs of high mobility as well. The concept of Fluidity Space is applied using the superimposition method; separate the elements of the event forming the architecture, then rearrange them randomly to form three relationship programs, namely; reciprocity, indifference and conflict. These three relationships will be used to test the flexibility of spaces so that high fluidity is achieved to answer the flexibility problem in the Coworking Space in Banjarbaru. Gig Economy merupakan salah satu hasil dari pengaruh canggihnya perkembangan teknologi internet, didefinisikan sebagai tren bekerja dengan sistem kontrak jangka pendek, tidak tetap, namun memiliki keunggulan bekerja fleksibel. Ruang Kerja Bersama hadir menawarkan penyewaan ruang yang dapat mengakomodasi kegiatan kerja bermobilitas tinggi, dengan target konsumen; generasi Z sebagai kelompok pelaku yang mendominasi tren Gig Economy. Greater Flexibility atau fleksibilitas yang lebih baik, menjadi permasalahan yang akan diselesaikan pada rancangan Ruang Kerja Bersama di Banjarbaru. Ruang kerja yang memiliki fleksibilitas tinggi dianggap sebagai strategi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan mobilitas yang tinggi pula. Konsep Fluidity Space diterapkan dengan menggunakan metode superimposisi; memisahkan unsur-unsur event pembentuk arsitektur, kemudian menyusunnya kembali secara acak membentuk tiga program hubungan yaitu; timbal balik, saling mengabaikan dan bertentangan. Tiga hubungan tersebut digunakan untuk menguji fleksibilitas ruang-ruang yang ada sehingga tercapai fluidity yang tinggi untuk menjawab permasalahan fleksibilitas pada Ruang Kerja Bersama di Banjarbaru.&nbsp

    MUSEUM SUNGAI DI BANJARMASIN

    Get PDF
    The river museum in Banjarmasin is a place to capture the existence of rivers in Banjarmasin. The existence of rivers decrease in function and existence until it turns into a dead river. The river's existence is influenced by river culture. River culture is formed by people whose lives depend on rivers. Therefore, to preserve the information related to this matter, efforts are made by preserve and communicate it to the public by create a river museum.To create a river museum, the point of view concept is used which tells the museum narrative based on time, place, and actor. This concept is supported by the application of the sense of place method. Thus, river museums can make visitors educated and empathize with rivers in Banjarmasin.Museum sungai di Banjarmasin adalah wadah untuk mengabadikan eksistensi sungai di Banjarmasin. Eksistensi sungai berkurang fungsi dan keberadaannya hingga berubah menjadi sungai mati. Eksistensi sungai dipengaruhi oleh kebudayaan sungai. Kebudayaan sungai dibentuk oleh masyarakat yang hidupnya bergantung pada sungai. Oleh karena itu, untuk mengabadikan informasi-informasi terkait hal tersebut, diupayakan dengan pelestarian dan pengkomunikasiannya kepada masyarakat dengan mewujudkan museum sungai.Untuk mewujudkan museum sungai, digunakan konsep point of view yang menceritakan narasi museum berdasarkan waktu, tempat, dan pelaku. Konsep tersebut didukung dengan penerapan metode sense of place. Dengan demikian, museum sungai dapat membuat pengunjung teredukasi dan berempati terhadap sungai di Banjarmasin

    PERANCANGAN KAMPUNG VERTIKAL DI DESA MURUNG KENANGA KABUPATEN BANJAR

    Get PDF
    The design of a vertical village in Murung Kenanga Village is a village design that is arranged upward with the aim of structuring slum areas, as well as efforts to overcome population density while still paying attention to the socio-culture of the people of Murung Kenanga Village. In an effort to pay attention to the socio-culture of the people of Murung Kenanga Village, the concept of character is used in designing a vertical village with a contextual approach. The contextual approach is carried out with the context of the site and cultural context. With the approach taken, it is hoped that it can bring the character of life of Murung Kenanga Village residents to the design of a vertical village in overcoming slum areas without giving significant changes to the lives of residents of origin in Murung Kenanga VillagePerancangan kampung vertikal di Desa Murung Kenanga merupakan sebuah rancangan kampung yang disusun ke atas dengan tujuan sebagai penataan kawasan kumuh, serta upaya mengatasi kepadatan penduduk dengan tetap memperhatikan sosial budaya masyarakat Desa Murung Kenanga. Dalam upaya memperhatikan sosial budaya masyarakat Desa Murung Kenanga, maka digunakanlah konsep character dalam merancang kampung vertikal dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual dilakukan dengan konteks tapak dan konteks budaya. Dengan pendekatan yang dilakukan di harapkan dapat membawa karakter kehidupan warga Desa Murung Kenanga pada perancangan kampung vertikal dalam mengatasi kawasan kumuh tanpa memberikan perubahan yang signifikan terhadap kehidupan warga asal  di Desa Murung kenanga

    PERANCANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA TAMBANG ORANJE NASSAU

    Get PDF
    Orange Nassau is a Dutch heritage coal mine site that has been established since 28 September 1849. Which is the starting place where the Banjar war started. This site is also known as the oldest coal mine site in Kalimantan Selatan and even Indonesia. Unfortunately, the existing site condition is not maintained well and less known for what it actually is. Therefore, this site needs “Design of Orange Nassau Cultural Heritage Area” as an architecture solution, to protect its heritage, embracing its historical background and developing its potential. The method that was used for the design is Conservation Revitalization method: Adaptive Re-use, this method aims to conserve the Orange Nassau heritage with new function adjustment. In specific, giving this area an educative and recreation facilities with enchanting architectural ways. Sense of place is also used as the concept. Which has meaning as making a place where emotional bonding between place and human can rhyme together. In conclusion, this design is about conserving the heritage site and maintaining the authenticity of colonial architecture with the concept that is applied.Tambang Oranje Nassau merupakan situs tambang batubara peninggalan Belanda yang berdiri pada 28 September 1849. Tambang Oranje Nassau ini juga merupakan tempat terjadinya awal Perang Banjar, situs ini disebut sebagai tambang batubara tertua di Kalimantan Selatan dan Indonesia. Namun, kondisi situs dan Kawasan nya kurang terawat dan minimnya informasi yang diperoleh dari sana. Sehingga, kawasan tersebut memerlukan Perancangan Kawasan Cagar Budaya Tambang Oranje Nassau yang dapat melindungi situs tersebut dengan merancang Kawasan yang menyatu dengan arsitekturnya. Metode yang digunakan untuk merancang kawasan ini adalah metode Konservasi Revitalisasi: Adaptive Re-use, metode ini bertujuan untuk melestarikan situs Tambang Oranje Nassau dengan penyesuaian fungsi baru. Penyesuaian fungsi baru yang dimaksud dalam kawasan ini adalah memberikan sarana edukatif dan rekreatif dengan cara yang menarik. Konsep yang digunakan dalam perancangan ini adalah konsep Sense Of Place, konsep Sense Of Place diartikan ikatan emosional antara tempat dengan manusia. Sehingga inti dari perancangan ini adalah melestarikan situs bersejarah yang ada pada kawasan ini dengan mempertahankan Arsitektur Kolonial nya dan memberikan informasi sejarah situs dengan penerapan konsep yang dipilih

    PRARANCANGAN PABRIK METIL METAKRILAT DARI ASETON SIANOHIDRIN DAN METANOL DENGAN PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 665.000 TON/TAHUN

    No full text
    Metil metakrilat (MMA) adalah salah satu bentuk monomer dari akrilik resin. Bahan kimia ini mempunyai rumus molekul CH2=C(CH3)COOCH3, sedangkan karakteristik lainnya antara lain mendidih pada temperatur 1101ºC, sedikit larut dalam air dan beberapa solvent organik lainnya. Metil metakrilat banyak digunakan dalam industri pelapis kulit(24%), industri kosmetik (21%), industri cat(18%), industri peralatan rumah tangga (10%), industri polimer(8%) dan untuk industri lainnya (19%). Pabrik metil metakrilat (MMA) ini direncanakan beroperasi selama 3600hari/tahun dengan kapasitas produksi sebesar 65.000 ton/tahun. Proses pembuatan metil metakrilat berlangsung melalui dua tahapan reaksi yaitu reaksi pertama merupakan reaksi hidrolisis, aseton sianohidrin bereaksi  dengan asam sulfat membentuk metakrilamidosulfat, reaksi berlangsung pada fase cair, irreversible, eksotermis dan non adiabatis yang dilakukan di dalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB). Sedangkan reaksi kedua merupakan reaksi esterifikasi, metakrilamid sulfat bereaksi dengan metanol membentuk metil metakrilat. Reaksi berlangsung pada fase cair, irreversible, eksotermis dan non adiabatis yang dilakukan di dalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB). Reaksi hidrolisis dilakukan pada suhu 1130℃ dan tekanan 71 atm, sedangkan reaksi esterifikasi terjadi pada suhu 120 ℃ dan tekanan 70 atm. Pemurnian produk metil metakrilat dilakukan dengan proses distilasi dan dekantasi, sehingga diperoleh produk dengan kemurnian 99,75%. Adapun berdasarkan hasila nalisa ekonomi diperoleh nilai investasi modal total (TCI) adalah sebesar Rp. 632.257.576.143,- dan diperoleh hasil penjualan yaitu sebesar Rp. 2.519.976.153.777,- Selain itu diperoleh juga Return of Investment (ROI) sebelum pajak sebesar 15% dan Return ofl nvestment (ROI) sesudah pajak sebesar 10%. Pay Out Time (POT) sebelum pajak yaitu 2,33 tahun dan Pay Out Time (POT) sesudah pajak sebesar 2,9 tahun. Sehingga diperoleh nilai Break Event Point (BEP) sebesar 40,77% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 28,42%. Berdasarkan pertimbangan hasil evaluasi tersebut, maka pabrik metil metakrilat dengan kapasitas 65.000 ton/tahun ini layak untuk didirikan. Kata kunci: Metil metakrilat, aseton sianohidrin, asam sulfat, metanol, hidrolisis, esterifikas

    PRARANCANGAN PABRIK GLISEROL DARI EPICHLOROHYDRIN DAN NATRIUM HIDROKSIDA DENGAN KAPASITAS 17.500 TON/TAHUN

    Get PDF
    Gliserol merupakan senyawa alkohol dengan gugus hidroksil berjumlah tiga buah. Gliserol memiliki sifat fisik yaitu cairan yang kental tak berwarna, rasanya manis dan higroskopis. Aplikasi gliserol dalam industri adalah sebagai solvent untuk pembuatan kosmetik dan industri makanan, sebagai plasticizing  dalam fotografi dan humektan dalam pembuatan dental cream.  Pada industri farmasi gliserol digunakan sebagai ekstraktan untuk produksi obat-obatan (antibiotic dan kapsul). Pabrik gliserol yang direncanakan dibangun di daerah Cilegon, Banten ini diproduksi dari bahan epichlorohydrin dan natrium hidroksida dengan menggunakan proses hidrolisis. Reaksi pembuatan gliserol dari epichlorohydrin dan natrium hidroksida terjadi dalam continuous stirred tank reactor (CSTR) yang disusun secara seri pada fase cair-cair. Reaksi bersifat eksotermis dan berlangsung pada suhu 150 ℃ pada tekanan 5 atm. Keluaran reaktor yang sudah melalui proses netralisasi dialirkan menuju evaporator untuk memisahkan epichloirohydrin dan air. Keluaran dari evaporator kemudian dilarutkan dengan isopropyl alcohol dan dipisahkan dengan alat decanter untuk memisahkan antara gliserol dan Natrium klorida. Kemudian keluaran produk gliserol akan dialirkan menuju penyimpanan produk. Kapasitas pabrik gliserol diproduksi dengan kapasitas 17.500 ton/tahun dengan 330 hari kerja dalam 1 tahun dan dioperasikan mulai tahun 2023. Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 132 orang dan bentuk perusahaan Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem organisasi garis dan staf. Kebutuhan utilitas diambil dari sungai Ciunjung sebanyak 9026,5026 Kg/jam. Sedangkan kebutuhan listrik untuk operasional pabrik sebesar 153,06 kW disuplai dari PLN setempat dan memiliki cadangan energi dari generator. Hasil analisa ekonomi menunjukkan bahwa nilai  Return on Invesment (ROI) sesudahppajak untuk pabrik ini sebesar 20%, Pay Out Time (POT) sesudah pajak sebesar 3,34 tahun. Sedangkan nilai Break Even Point (BEP) sebesar 46% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 21%. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pabrik ini bisa dipertimbangkan pendiriannya dan dapat diteruskan ke tahap perencanaan pabrik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pabrik ini layak untuk didirikan.   Kata kunci : Epichlorohydrin, Gliserol, Natrium, Break Event Point dan Shut Down Poin

    PRARANCANGAN PABRIK DIOCTYL PHTHALATE DARI PHTHALIC ANHYDRIDE DAN 2-ETHYL HEXANOL DENGAN KATALIS TETRABUTYL TITANATE MELALUI PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 25.000 TON/TAHUN

    Get PDF
    Dioctyl phthalate yang merupakan suatu  senyawa  yang  banyak  digunakan sebagai bahan  pembantu dalam  industri plastik (plasticizer) dan sebagainya dimana industri-industri tersebut akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Beberapa industri yang memanfaatkan dioctyl phthalate yaitu industri kulit  imitasi,  kabel,  sol  sepatu  dan  lain sebagainya. Selain itu dioctyl phthalate sebagai plasticizer juga digunakan untuk berbagai resin dan elastomer. Sehingga peluang berkembangnya industri dioctyl phthalate di Indonesia cukup besar, maka perlu direncanakan perancangan pabrik kimia dengan produk dioctyl phthalate. Pabrik ini direncanakan beroperasi selama 330 hari/tahun dengan kapasitas produk dioctyl phthalate sebesar 25.000 ton/tahun dan rencana didirikan pada tahun 2024. Bahan baku utama yang diperlukan adalah phthalic anhydride dan 2-ethyl hexanol dengan bantuan katalis tetrabutyl titanate. Pabrik direncanakan akan didirikan di Gresik, Jawa Timur. Reaksi pembentukan dioctyl phthalate berlangsung secara eksotermis pada suhu 165oC dan tekanan 1 atm dalam continuous stirred tank reactor (CSTR). Di dalam reaktor terjadi reaksi esterifikasi pembentukan dioctyl phthalate. Hasil keluaran reaktor kemudian diproses lebih lanjut untuk mendapatkan dioctyl phthalate berbentuk cairan bening. Dioctyl phthalate berbentuk cairan bening diperoleh dari proses adsorpsi menggunakan karbon aktif pada suhu 102,1353°C dan tekanan 1 atm hingga warna dari dioctyl phthalate menjadi 10 hazen. Pemasaran dioctyl phthalate diutamakan untuk konsumsi dalam negeri dan juga dipasarkan keluar negeri. Bentuk perusahaan berupa Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem organisasi line and staff. Sistem kerja karyawan berdasarkan pembagian menurut jam kerja yang terdiri dari shift and non shift dengan tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 132 orang. Adapun hasil analisa ekonomi memberikan hasil Total Capital Investment (TCI) adalah sebesar Rp 526.254.442.821,09,- dan diperoleh hasil penjualan yaitu sebesar Rp 1.087.065.000.000,00,-. Selain itu diperoleh juga Return of Investment (ROI) sebelum pajak sebesar 27% dan Return of Investment (ROI) sesudah pajak sebesar 17%. Pay Out Time (POT) sebelum pajak yaitu 2,72 tahun dan Pay Out Time (POT) sesudah pajak sebesar 3,65 tahun. Sehingga diperoleh Break Event Point (BEP) sebesar 50,70% dan Shut down point (SDP) sebesar 30,98%. Berdasarkan pertimbangan hasil evaluasi tersebut, maka pabrik dioctyl phthalate dengan kapasitas 25.000 ton/tahun ini layak untuk didirikan.   Kata kunci: dioctyl phthalate, phthalic anhydride, 2-ethyl hexanol, tetrabutyl titanate, karbon aktif, esterifikas

    PRARANCANGAN PABRIK ASAM ASETILSALISILAT (ASPIRIN) DENGAN PROSES SINTESIS ASAM SALISILAT, ASETAT ANHIDRAT DAN KALSIUM OKSIDA SEBAGAI REACTION ACCELERATOR & ACID NEUTRALIZING AGENT KAPASITAS 2000 TON/TAHUN

    Get PDF
    Industri kimia merupakan industri yang memiliki banyak keterkaitan dengan industri lain, salah satunya industri farmasi. Aspirin dalam bidang farmasi dan kesehatan digunakan sebagai antipiretik, analgesik (penenang), dan anti-inflammatory. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, konsumsi aspirin terus meningkat setiap tahunnya. Selain kebutuhan dalam negeri, konsumsi aspirin di beberapa negara lain juga cukup besar. Untuk itu perlu didirikan pabrik aspirin di Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan aspirin dalam negeri, menghemat biaya dari pengurangan biaya impor, serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor aspirin. Proses pembuatan aspirin dalam pabrik ini terdiri dari empat tahap utama yaitu, tahap penyiapan bahan baku, tahap sintesis, tahap pengeringan, dan tahap pengepakan. Bahan baku asam salisilat, asetat anhidrat dan kalsium oksida  direaksikan dalam reaktor tangki alir berpengaduk (RATB) dengan rasio reaktan 1,04:1:0,5 pada kondisi suhu dijaga 70 oC tekanan 1 atm dengan lama waktu reaksi 20 menit. Produk reaksi mengandung sekitar 70% asam asetilsalisilat dan sekitar 30% kalsium asetat. Kalsium asetat yang dihasilkan berfungsi sebagai eksipien sehingga produk yang dihasilkan dapat langsung dikempa menjadi tablet aspirin. Pabrik aspirin dengan  kapasitas 2.000 ton/tahun dioperasikan selama 330 hari dalam 1 tahun dan direncanakan berlokasi di daerah Tangerang, Banten, Provinsi Jawa Barat dengan kebutuhan luas area sebesar 11.464,04 m2 . Jumlah tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 130 orang dengan  bentuk perusahaan Perseroan Terbatas (PT). Kebutuhan utilitas diambil dari Sungai Cisadane sebanyak 60,0299 m3/hari sedangkan  kebutuhan listrik untuk operasional pabrik sebesar 364,5064 kW. Berdasarkan hasil analisa ekonomi, didapat nilai sesudah pajak untuk Return on Invesment (ROI) sebesar 20% dan Pay Out Time (POT) selama 3,50 tahun. Sedangkan nilai Break Even Point (BEP) sebesar 45% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 29%. Hasil analisa ekonomi tersebut  menunjukkan bahwa pabrik layak didirikan.  Kata kunci: Aspirin, Asam Salisilat, Asetat Anhidrat, Kalsium Oksida, RAT

    PRARANCANGAN PABRIK ASETON DARI ACETYLENE DENGAN PROSES HIDRASI KAPASITAS 16.500 TON/TAHUN

    Get PDF
                 Aseton (2-propanon, dimetil keton, CH3COCH3) adalah keton yang paling sederhana. Aseton digunakan dalam pembuatan berbagai pelapis dan plastik, dan sebagai bahan baku untuk sintesis kimia berbagai produk seperti keten, metil metakrilat, bisphenol a, alkohol diacetone, metil isobutyl  keton, heksilen glikol (2-metil-2,4-pentanadiol), dan isopropone. Prarancangan pabrik aseton dari acetylene direncanakan akan didirikan pada tahun 2024 kapasitas 16.500 ton/tahun.              Proses yang digunakan pabrik ini dengan cara hidrasi acetylene yang terbagi atas dua tahap proses  yaitu tahhap sintesa dan tahap pemurnian. Bahan utama untuk pembuatan aseton adalah acetylene dengan kemurnian 99,8%. Proses sintesa adalah tahap pembentukan aseton terjadi dengan mereaksikan acetylene dan oksigen pada reaktor fix bed multitube dengan temperatur 250oC dan tekanan 1,8 atm selama 14 detik dengan katalis zinc oxide (ZnO). Gas keluaran reaktor berupa campuran aseton, acetylene dan air dalam fase uap dengan gas hydrogen dan karbon dioksida dialirkan ke cooler sehingga suhunya didinginkan menjadi 93oC. Selanjutnya gas dialirkan ke separator, hasil atas dari separator  kemudian dialirkan menuju flare  pada suhu 93ºC untuk melepaskan  hidrogen, acetylene, karbon dioksida ke udara. Hasil bawah separator diteruskan menggunakan pompa  berupa aseton dan air  kemudian  masuk ke cooler 2 untuk menurunkan suhu uap sebelum masuk kedalam menara distilasi  suhunya menjadi 57,71 ºC dan dimurnikan dalam menara distilasi. Menara distilasi merupakan tempat pemurnian aseton dari acetylene dan air. Produk akhir berupa aseton dengan kemurnian 99,6% sebagai produk atas disimpan pada tangki penampung produk.              Nilai Return on Investment (ROI) sesudah pajak untuk pabrik ini adalah sebesar 52,46% dan waktu pengembalian modal (POT) sesudah pajak adalah 0,87 tahun. Sedangkan kapasitas Break Even Point (BEP) adalah sebesar 42,40% dan kapasitas Shut Down Point (SDP) adalah 33,27%. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pabrik ini layak untuk dipertimbangkan pendiriannya dan dapat diteruskan ke tahap perencanaan pabrik.   Kata kunci : Aseton, acetylene, katalis ZnO, Break even point

    1,406

    full texts

    1,492

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇