Jurnal Islaminomics (Journal of Islamic Economics, Business,and Finance)
Not a member yet
61 research outputs found
Sort by
TINJAUAN PERSPEKTIF BALANCED SCORE CARD (BSC) ATAS KINERJA BANK SYARIAH
Partisipasi dan penawaran produk dan layanan berbasis syariahtidak hanya dilakukan oleh perbankan syariah saja, melainkan jugadiikuti oleh perbankan konvensional. Dua kubu tersebut tentu sajaberbeda dalam beberapa hal prinsip. Hal ini kemudian menjaditantangan bagi pelaku perbankan syariah untuk terus meningkatkanproses operasional, selain juga melakukan pengembangan produksyariah sehingga dapat bersaing dalam tataran global. Kinerjasangat erat hubungannya dengan sejauh mana bisnis proses yangefektif dan efisien dijalankan oleh semua elemen organisasi yangterlibat dalam perbankan syariah. Bisnis Proses berkaitan eratdengan tujuan bisnis dari sebuah organisasi. Tulisan ini dirancanguntung mengkaji hal tersebut
KONSEP JUAL BELI DALAM ISLAM (Analisis Pemikiran Abdu al-Rahman al-Jaziri dalam Kitab al-Fiqh ‘Ala alMadahib al-Arba’ah)
Jual beli dalam Islam berorientasi pada saling menguntungkan.Untuk itu riba dalam Islam dilarang (haram), karena di dalam ribaada pihak yang diuntungkan, di pihak lain dirugikan. Jual belidengan riba pada permukaan memiliki esensi yang sama yaitumencari keuntungan, tetapi secara subtansial keduanya sangatlahberbeda. Jual beli mencari keuntungan dengan tidak ada pihak yangmerasa dirugikan. Sementara pada riba hanya berorientasi padakeuntungan semata, persoalan ada yang merasa dirugikan tidakdipertimbangkan. Bahkan tidak ada sama sekali dalam konsep riba.Dalam Alqur’an jual beli dan riba disebutkan dalam satu ayat,dengan penyebutan Allah menghalalkan jual beli, danmengharamkan riba. Ini satu isyarat antara jual beli dan riba sangattipis perbedaanya. Jika seorang muslim tidak tahu konsep jual belidalam Islam, akan mudah terjebak pada perbuatan riba. Untuk itupara pemikir Islam (ulama fikih) berusaha kerasa menangkap pesanpesan teks ke-agamaan khususnya yang berkaitan dengan konsepjual beli dalam Islam. Langkah-langkah yang ditempuh oleh paraulama fikih satu sama lain sangatlah berbeda. Dari langkah-langkahitu semua ulama berusaha membangun argumen tentang konsep jualbeli dalam Islam. Silang pendapat antara ulama satu dengan yanglain tentang konsep jual beli dalam Islam tidak bisa dibendung.Semua mengalir dan melahirkan kelompok-kelompok (mazhab)fikih baik besar maupun kecil. Mazhab fikih yang populer di duniaini terdiri dari empat hazhab; yaitu Imam Abu Hanifah (MazhabHanafi), Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal(Hanbali). Empat kelompok besar ini masing-masing membangunmetode untuk memutuskan sebuah hukum, khususnya jual belidalam Islam.Pada jurnal ini penulis bermaksud menganalisis pemikiran Abdu alRahman al-Jaziri dalam Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madahib al-Arba’ah.Bagaimana Abdu al-Rahman al-Jaziri ini membangun argumendalam memutuskan konsep jual beli dalam Islam. Apa yangdijadikan sumber utama oleh Abdu al-Rahman al-Jaziri dalammembangun argumen.76 │Jurnal ISLAMINOMIC Vol. V. No. 2, Agustus 2016Penelitian ini termasuk penelitian Kepustakaan (Library Reseach).Sumber primer dalam penelitian ini kitab Fikih Ala Mazahib alArba’ah karya Abdu al-Rahman al-Jaziri, sedangkan sumberskunder penelitian ini buku, kitab jurnal, dan artikel yang adakolerasi langsung atau tidak langsung topik bahasan yang dimaksud.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif analisis
PRINSIP KEADILAN DALAM IJĀRAH MUNTAHIYAH BI ATTAMLĪK (IMBT); KUH PERDATA vs FIKIH KLASIK
Akad IMBT maupun sewa beli pertama kali muncul untukmenampung persoalan bagaimanakah caranya memberikan jalankeluar apabila pihak penjual menghadapi banyaknya permintaandari pembeli untuk membeli barangnya akan tetapi calon pembelibelum mampu membayar harga barang yang dibeli secara tunai.Pihak penjual bersedia menerima harga barang itu dicicil ataudiangsur oleh pembeli tetapi penjual memerlukan jaminan bahwabarangnya sebelum harga dibayar lunas tidak akan dijual lagi olehsi pembeli. Dengan dijadikannya penyewa, maka si pembeliterancam pidana manakala ia sampai berani menggelapkan obyekperjanjian. Keberadaan azas kebebasan berkontrak bagi para pihakyang akan melakukan perjanjian memberikan inspirasi bagi parapengusaha untuk mengembangkan bisnis dengan cara IMBT.Mereka berpandangan bahwa kalau mereka hanya denganmenggunakan jual beli semata maka barang dari pengusaha tidakakan laku, ini disebabkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yangrendah dan tidak memiliki banyak uang kontan.Sementara itu, pengumpulan dua akad dalam satu akad tidak samadengan pengumpulan dua akad yang terjadi dalam sewa-beli. Akadbai‘ yang dikumpulkan dengan akad ijarah atau hibah merupakandua akad yang berbeda dan dilaksanakan secara sendiri-sendiridalam waktu yang berbeda pula. Akad bai‘ merupakan akad pokoksedangkan akad ijarah atau akad hibah merupakan akad tambahansebagai syarat (digantungkannya) akad pokok. Sedangkan dalamsewa beli, akad ijārah dan bai‘ keduanya dicampur menjadi satukemudian dilaksanakan secara sekaligus dalam satu aktivitasmuamalah. Pembayaran yang dilakukakan selama masa angsurandapat berubah fungsi, tergantung dari kemampuan pembeli untukmelunasi angsurannya. Jika pembeli tidak dapat melunasiangsurannya, maka pembayaran tersebut berfungsi sebagai sewa,tetapi jika mampu melunasinya, berfungsi sebagai pembayaran88 │Jurnal ISLAMINOMIC Vol. V. No. 2, Agustus 2016harga jual beli. Adanya karakter sewa beli seperti itu menjadikanbentuk akad dalam sewa beli tidak jelas karena tidak termasukkategori bai’ maupun ijarah, dan tidak pula termasuk kategori akadbersyarat yang dibolehkan. Dengan tidak jelasnya bentuk akadtersebut, kiranya akad sewa beli dapat dikategorikan sebagai akadyang mengandung ”garār”. Selain itu, akad sewa beli yangseringkali disertai dengan klausul-klausul yang meniadakan hakhak pembeli atau yang mengeksploitir pembeli serta terjadinyaketidakseimbangan kedudukan antara penjual dan pembeli. Denganadanya klausul seperti itu, maka sewa beli dapat dikategorikansebagai akad yang mengandung syarat yang dilarang oleh syara’ danbisa juga dikategorikan sebagai akad yang mengandung “gubn”.Tulisan ini diketengahkan guna memperbandingkan kedua konseptersebut
Analisis Implementasi Maqashid Syariah Pada Lembaga Pengelola Zakat Dalam Membangun Konsep Pemberdayaan Masyarakat
Zakat merupakan salah satu ajaranIslam yang memiliki dimensi yangsangat luas yang meliputi nilaiprivat-publik, dimensi ketuhanan(habluminallah) dan kemanusiaan(habluminannas) serta duniawidan ukhrowi. Dengan kata lainzakat memiliki dimensi ibadah,sosial dan ekonomi. Di lihat daridimensi ibadah, zakat merupakansalah satu kewajiban umat Islamyang sangat penting, di manaperintah zakat selalu beriringandengan perintah shalat
Pengaruh Tabungan Haji Terhadap Tingkat Laba pada Unit Perbankan Syariah di Indonesia.
Tabungan haji berbanding lurus dengan tingkat laba pada unitperbankan syariah di Indonesia. Tabungan haji merupakan halbaru dalam perbankan syariah dengan akad al-qard wa al-ijārahyaitu pinjaman kebajikan atau murni tanpa imbalan. Bank tidakmengambil keuntungan dari akad ini, akan tetapi bankmengambil keuntungan dari penggunaan akad ijarah, denganmengambil upah jasa (free ujarah) dari biaya-biaya pengurusanibadah haji. Apakah jenis pembiayaan yang dijalankan oleh unitsyariah sesuai dengan prinsip kedua akad tersebut, padahal bankmerupakan salah satu lembaga profit yang senantiasa mengambilkeuntungan pada setiap transaksi yang dijalankan, kemudian darimana bank mendapatkan keuntungan dari pembiayaan jenis ini
PENGARUH DPK, INFLASI, DAN NPF TERHADAP PEMBIAYAAN UKM; STUDI PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA 2012-2013
Keberlangsungan UKM sangat dipengaruhi oleh pembiayaan danpembiayaan UKM dipengaruhi secara signifikan oleh jumlah DPK,inflasi, dan NPF. Ketiganya mampu menjelaskan perubahan sebesar98,6% yang secara parsial dengan level of significant 5% ketigavariabel dependen memengaruhi secara signifikan terhadappembiayaan UKM kecuali tingkat inflasi. Hal ini ditunjukkan olehnilai koefisien beta sebesar -636,008. Secara berurut palingberpengaruh adalah DPK, kemudian NPF, dan terakhir factorinflasi. Alat analisa yang penulis gunakan yaitu kuantitatif analisisregresi linier berganda dengan pertimbangan R2, Uji T-test, Uji F,serta uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, multikolinieritas,heteroskedastisitas, dan autokorelasi
Tingkat Bagi Hasil dan Pendapatan Nasional dan Pengaruhnya Terhadap Simpanan Mudharabah pada Bank Umum Syariah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat bagihasil dan pendapatan nasional terhadap simpanan mudharabahpada Bank Umum Syariah. Variabel dalam penelitian ini adalahtingkat bagi hasil yang diproksikan dengan total bagi hasilsimpanan mudharabah (tabungan dan deposito) dan pendapatannasional yang diproksikan dengan tingkat pertumbuhankemakmuran dari suatu penduduk yang dihitung melaluibarometer Produk Domesti Bruto (PDB). Penelitian inimenggunakan data laporan keuangan 10 dari 11 Bank UmumSyariah yang terdaftar di Bank Indonesia periode 2011-2013.Teknik pengolahan data menggunakan pengujian asumsi klasik,analisis regresi linier berganda, pengujian hipotesis, analisiskoefisien korelasi, dan analisis koefisien determinasi. Hasilpenelitian menggunakan program SPSS seri 21.0 dikethauipersamaa regresi linier berganda menunjukkan bahwa secaraparsial tingkat bagi hasil berpengaruh positif dan signifikan, akantetapi pada variabel pendapatan nasional tidak berpengaruhterhadap simpanan mudharabah. Sedangkan ketika diuji secarasimultan, kedua variabel independen tersebut tingkat bagi hasildan pendapatan nasional berpengaruh signifikan terhadapsimpanan mudharabah.
Pengupahan Perspektif Ekonomi Islam Pada Perusahaan Outsourcing
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui danmenjelaskan pandangan Ekonomi Islam terhadap sistempengupahan pada PT. Samuderanayaka Grahaunggul.Menggunakan metodologi penelitian kualitatif dalam penelitianyang bersifat lapangan (field research) ini. Sumber datadiperoleh langsung dari lokasi penelitian yang bertempat dikantor pusat PT. Samuderanayaka Grahaunggul melaluidokumen yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.Selain itu, data juga didapat melalui wawancara dengan GeneralManager perusahaan tersebutdan Manager Accounting FinanceOfficer. Setelah terkumpul dengan lengkap kemudian dianalisissecara deskriftif dimana data- data umum yang telahdikumpulkan ditarik kesimpulan secara khusus. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa Secara umum ketentuan pengupahanperusahaan outsourcing yang diberlakukan PT. Sangu terhadaptenaga kerja outsourcing nya telah memenuhi aspek-aspekSyariah Islam, antara lain di tinjau dari perjanjian kerjanya.Karena masalah upah diputuskan oleh mereka yangmengadakan perjanjian kerja. Dalam melaksanakan perjanjiankerja, PT.Sangu memberikan kejelasan kepada tenaga kerjaoutsourcing baik dari aspek bentuk dan jenis kerjanya, masakerjanya, maupun upah yang diberikan. Sebagaimana Islamsangat menekankan dalam hal pengupahan harus dengan rasakeadilan dan tidak ada unsur kedzaliman
Analisis Persepsi Jamaah Umrah Dalam Penerapan Prinsip Syariat Islam Pada Pelayanan Di PT. Cahaya Azami Wisata Jakarta
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana persepsi jamaah umrah dalam penerapan syariat Islampada pelayanan di PT. Cahaya Azami Wisata Jakarta. Metodepenelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengansumber data berupa data primer dan data sekunder. Adapun dataprimer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh jamaah umrah PT.Cahaya Azami Wisata Jakarta. Sedangkan data sekunder diperolehdari buku-buku, penelitian dan skripsi sebelumnya. Teknikpengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumendari PT. Cahaya Azami Wisata. Penelitian ini mengambil sampel 28responden yang merupakan jamaah umrah PT. Cahaya AzamiWisata Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prinsipsyariah Gharar memiliki tingkat persepsi yang paling tinggidibandingkan dengan prinsip syariah lainnya, yaitu : maisir,risywah, amanah, kerja sama dan mashlahah. Ini menunjukkanbahwa jamaah umrah sangat membutuhkan informasi pelayanan danfasilitas yang sangat jelas dari biro perjalanan haji dan umrah
PRINSIP, KETENTUAN, DAN KARAKTERISTIK PEMBIAYAAN (BANK) SYARIAH
The characteristics of Islamic financing must follow the governingQur’anic verses and the Hadis of the Prophet Muhammad Puh. Thismeans that the epistemology derives from the Tauhidi Principle,being different from the one of the conventional economy andbanking that is deriving from the western culture and purely rationalthinking. Their basic and main principles are for the creation ofboth, the individual and collective well being of the society,consisting of Tauhidi Principle, vicegerency, justice, and materialand spiritual balances. These principles can be fulfilled by adheringto the Qur’anic stipulations, ie, emphasizing on trade and doing noribawi transactions (QS. 2: 275), and working on cooperative basis(QS. 5: 2). These stipulations bring about a deep and widesignificance and implication.For creating the collective well being of the society, Islamicfinancing can only be implemented by using the existing contracts,without riba, non gharar, non maysir, aiming on non ribawi workresults, common profit, using quasi equity and not purely moneyloan, risk sharing concept, being trustworthy, and keeping promisesreligiously. Consequently, money is put in its basic function that isas a medium of exchange and as a measure of the counter valuebeing goods, services, and productive business in the real sector ofthe economy