Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Uji Mutu Papsmear Sediaan Kering Sebagai Altenatif Pembuatan Sediaan Sitologi Serviks

    Get PDF
    Tujuan: Menguji mutu sediaan papsmear yang dibuat dengan metode "sediaan kering". Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan di laboratorium sitologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta. Dibuat dua buah slide papsmear dari setiap pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan papsmear. Pada kelompok pertama sediaan diproses secara konvensional menggunakan alkohol 95% sebagai larutan fiksasi, sedangkan kelompok kedua sediaan papsmear dikeringkan di udara terbuka kemudian dilakukan rehidrasi menggunakan NaCl 0,9% sebelum dilakukan pewarnaan. Dilakukan perbandingan mutu sediaan ditinjau dari segi densitas seluler, adanya artefak akibat pengeringan di udara terbuka, serta ada tidaknya gangguan akibat latar belakang eritrosit dan latar belakang sel radang. Hasil: Didapatkan 210 pasang sediaan yang dapat dievaluasi. Teknik kering mempunyai adekuasi sediaan yang sama baiknya dengan teknik konvensional. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok ditinjau dari segi densitas seluler, adanya artefak akibat pengeringan di udara terbuka, serta ada tidaknya gangguan akibat latar belakang eritrosit dan latar belakang sel radang. Kesimpulan: Papsmear sediaan kering dapat dipakai sebagai alternatif pembuatan sediaan sitologi serviks saat larutan alkohol 95% tidak tersedia sebagai larutan fiksasi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 145-51] Kata kunci: papsmear sediaan kering, rehidrasi, adekuasi sediaan

    Hubungan antara Derajat Perdarahan dan Ketebalan Endometrium dengan Kerapatan Reseptor Estrogen dan Progesteron pada Wanita Perimenopause dengan Perdarahan Uterus Disfungsi (PUD)

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui hubungan antara derajat perdarahan dan ketebalan endometrium dengan kerapatan reseptor estrogen (RE) dan progesteron (RP) pada kelenjar dan stroma endometrium wanita perimenopause dengan PUD. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan crosssectional dilakukan untuk mengetahui kerapatan RE dan RP dari jaringan kuretase dan hubungannya dengan derajat perdarahan dan ketebalan endometrium. Subjek penelitian adalah 30 wanita perimenopause berusia 40 - 51 tahun dan dilakukan pemeriksaan transvaginal ultrasound untuk mengukur ketebalan endometrium selanjutnya dilakukan pemeriksaan kerapatan RE dan RP dengan teknik histokimia. Analisis statistik untuk mengetahui hubungan ketebalan endometrium dengan kerapatan RE dan RP pada kelenjar dan stroma endometrium menggunakan uji Chi kuadrat. Untuk mencari hubungan antara ketebalan endometrium dan derajat perdarahan digunakan uji t. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat perdarahan dengan ketebalan endometrium (p < 0,001). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketebalan endometrium dengan kerapatan RE baik pada kelenjar maupun stroma (p = 0,194; p = 0,748), juga pada hubungan antara ketebalan endometrium dengan kerapatan RP pada kelenjar endometrium (p = 0,375). Terdapat hubungan yang bermakna antara ketebalan endometrium dengan kerapatan RP di stroma endometrium yang makin rendah (p = 0,031). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat perdarahan dengan kerapatan RE dan RP baik pada kelenjar (p = 0,189; p = 0,063) maupun stroma (p = 0,901; p = 0,071). Kesimpulan: Ketebalan endometrium mempengaruhi derajat perdarahan pada wanita perimenopause dengan PUD. Derajat perdarahan makin banyak pada endometrium yang makin tebal yang menunjukkan kerapatan RP yang sedikit. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 238-44] Kata kunci: derajat perdarahan, ketebalan endometrium, RE, RP, kelenjar endometrium, stroma endometrium, perimenopause, PU

    Primary Prevention of Gynecologic Cancers

    Get PDF
    Pendahuluan: Terdapat tiga jenis kanker yang banyak diderita oleh wanita dalam bidang ginekologi, yaitu kanker serviks, kanker ovarium dan kanker endometrium. Patofisiologi kanker serviks hampir dikenal dengan baik, sedangkan patofisiologi kanker ovarium mulai terbuka, dan patofisiologi kanker endometrium juga mulai diketahui. Dengan dasar tersebut dilakukan penelitian terhadap faktor risiko timbulnya kanker ginekologi. Pengenalan faktor risiko yang didapat dari penelitian epidemiologi menjadi dasar untuk melakukan upaya pencegahan primer kanker ginekologi. Pencegahan primer dilakukan dengan memberikan nasihat dan terapi yang mempunyai pengaruh menurunkan risiko timbulnya kanker ginekologi. Tujuan: Menyampaikan kebijakan pencegahan primer kanker ginekologi berdasarkan hasil penelitian epidemiologi. Bahan dan cara kerja: Kajian pustaka. Hasil: Kanker serviks risikonya dapat diturunkan dengan menghindari pola pasangan ganda, menghindari merokok, mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin C. Kanker ovarium risikonya dapat diturunkan dengan memberi kontrasepsi oral, menyusui, sterilisasi ataupun histerektomi. Kanker endometrium dapat diturunkan risikonya dengan memberikan kontrasepsi oral kombinasi, menurunkan berat badan. Kesimpulan: Dapat dilakukan upaya menurunkan risiko timbulnya kanker ginekologi melalui pencegahan primer. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 245-8] Kata kunci: pencegahan primer, kanker ginekolog

    Perbandingan kadar asam folat pada kehamilan dengan preeklampsia dan kehamilan normal

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan konsentrasi asam folat pada kehamilan dengan preeklampsia dan kehamilan normal dan hubungannya dengan peningkatan konsentrasi homosistein dan tekanan darah. Bahan dan cara kerja: Penelitian kasus-kontrol mengikutsertakan 30 pasien preeklampsia sebagai kasus dan 30 pasien dengan kehamilan normal sebagai kontrol. Imx Folate Reagent Pack dari Abbott Laboratories digunakan untuk mengukur konsentrasi asam folat plasma, sedang konsentrasi homosistein diukur dengan Fluorescent Polarization Immunology Assay. Analisis dilakukan dengan tes Kai-kuadrat atau Fishser’s Exact, T test dan korelasi Pearson. Hasil: Rerata konsentrasi asam folat plasma pada pasien preeklampsia (12,32 ng/mL) lebih rendah dibanding dengan yang didapat pada kehamilan normal (14,22 ng/mL), namun secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,275). Didapatkan perbedaan bermakna (p=0,027) antara rerata konsentrasi homosistein pasien preeklampsia (9,71 μmol/L) dan pasien dengan kehamilan normal (6,13 μmol/L). Tidak terbukti korelasi negatif konsentrasi asam folat plasma (r=-0,3; p=0,123) dan homosistein (r=-0,1; p=0,551) antara pasien preeklampsia dengan kehamilan normal. Namun didapatkan korelasi negatif yang bermakna dari konsentrasi asam folat plasma dengan tekanan sistolik (r=-0,4; p=0,030) dan tekanan diastolik (r=-0,4; p=0,030) pada pasien preeklampsia. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini tidak didapatkan perbedaan bermakna antara konsentrasi asam folat plasma pasien preeklampsia dengan kehamilan normal. Didapatkan hubungan bermakna antara asam folat plasma dengan tekanan sistolik dan diastolik pada pasien preeklampsia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 61-5] Kata kunci: preeklampsia, asam folat, homosistein, tekanan darah sistolik/diastoli

    Pengaruh suntikan depo medroxy progesteron asetat terhadap profil lipid

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian DMPA terhadap profil lipid akseptor. Rancangan/rumusan data: Pre test - post test. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan mulai Januari 2006 sampai Maret 2007 di Kota Tomohon. Pada penelitian ini direkrut 250 orang akseptor DMPA yang memenuhi kriteria inklusi. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah wanita usia 20 - 35 tahun berstatus menikah, masih mengalami menstruasi, tidak menggunakan kontrasepsi hormonal selama 3 bulan terakhir. Sampel dipilih secara simple random sampling, ditentukan 26 orang subjek yang akan dilakukan pemeriksaan laboratorium bertahap pada 1, 3, 6, 9, dan 12 bulan. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data, ditabulasi, dan disajikan dalam bentuk tabel untuk karakteristik subjek, perubahan profil lipid sebelum dan sesudah penyuntikan DMPA dilakukan analisis dengan uji T - Berpasangan. Hasil: Pada penelitian ini sebagian besar akseptor berusia 31 - 35 tahun 40,8 %, pendidikan SLTA 45,2 %, dan tidak bekerja (IRT) 83,6 %, paritas 2 40,8 %, dan IMT rata-rata 24,6. Kadar kolesterol total baseline, 1, 3, 6, 9, 12 bulan (188,31; 174,42; 182,35; 184,08; 182,50; 184,30; p>0,05). Kadar HDL baseline, 1, 3, 6, 9, 12 bulan (57,00; 51,35; 51,19; 49,92; 51,31; 48,38; p0,05). Kadar Trigliserida baseline, 1, 3, 6, 9, 12 bulan (97,31; 88,92; 81,81; 94,60; 99,50; 111,04; p>0,05). Kesimpulan: Terjadi penurunan kadar kolesterol total selama pemakaian DMPA 12 bulan, namun secara statistik tidak bermakna. Tidak terjadi perubahan kadar LDL, trigliserida secara bermakna, namun terjadi penurunan kadar HDL secara bermakna setelah pemberian DMPA selama 12 bulan, bila diukur dari baseline. Penggunaan kontrasepsi DMPA pada calon akseptor yang memiliki risiko tinggi PJK harus dihindari. Perlu dilakukan pemeriksaan profil lipid secara rutin terhadap semua akseptor kontrasepsi DMPA jangka panjang > 1 tahun. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 153-60] Kata kunci: DMPA, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida

    Suplemen antioksidan VCO (Virgin Coconut Oil) yang diperkaya dengan Zn bagi penderita Candidiasis Vagina

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui aktivitas SOD, katalase, dan GSH-PX limfosit, serta kadar MDA plasma penderita Candidiasis Vagina yang diintervensi VCO yang diperkaya dengan Zn selama 2 bulan. Rancangan/rumusan data: Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Analisis data menggunakan anova single faktor, dilanjutkan dengan uji Duncan bila terdapat signifikansi. Tempat: Sampel sekret diperoleh dari RS Sinar Kasih, tempat prostitusi (Gang Sadar), Puskesmas, dan praktik dokter di Purwokerto. Pengujian aktivitas enzim antioksidan dan kadar MDA di laboratorium Klinik Mediko Purwokerto. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan mulai Oktober 2006 sampai April 2007. Sebanyak 30 responden dipilih berdasar kriteria seperti berikut, sekret vagina mengandung C. albicans lebih dari 105 cfu/ml, sukarela, sehat, bersedia menandatangani informed consent, dan tinggal di Purwokerto. Responden dibagi dalam 3 kelompok; kelompok A sebanyak 10 orang diintervensi dengan VCO yang diperkaya Zn dengan dosis 2 sdm/hari; kelompok B sebanyak 10 orang diintervensi dengan dosis 1 sdm/hari; dan kelompok C sebanyak 10 orang sebagai kontrol. Pengambilan sampel darah dilakukan 3 kali yaitu pada baseline, 1 dan 2 bulan setelah intervensi. Uji aktivitas enzim antioksidan dan kadar MDA menggunakan spektrofotometer. Hasil: Setelah 2 bulan intervensi, aktivitas enzim SOD meningkat dari 87,32 menjadi 348,70 unit/mg protein (p=0,00016), katalase meningkat dari 20,42 menjadi 40,12 Unit/mg protein (p=0,031); demikian pula glutation peroksidase limfosit juga meningkat dari 5,77 menjadi 10,64 μmol/gr protein (p=0,036). Sebaliknya kadar MDA plasma menurun dari 1.858,86 menjadi 1.214,36 pmol/ml (p=0,019). Kesimpulan: Intervensi VCO yang disuplementasi dengan Zn kepada penderita Candidiasis Vagina berpotensi sebagai antioksidan. Selanjutnya, mereka disarankan mengkonsumsi suplemen dengan dosis 1 sdmx1. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 177-82] Kata kunci: SOD, katalase, GSH-PX, MDA, candidiasis vagina

    Hubungan pengetahuan dan sikap bidan tentang rujukan kasus obstetri dengan ketepatan rujukan: suatu studi analisis verifikatif di Kabupaten Bantul, Yogyakarta

    Get PDF
    Tujuan: Memperoleh informasi mengenai ketepatan rujukan kasus obstetri oleh bidan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Metode: Rancangan penelitian ini menggunakan metode survei eksplanatoris terhadap pengetahuan dan sikap bidan tentang rujukan kasus obstetri dengan ketepatan rujukannya. Data dikumpulkan secara potong silang, dengan rancangan retrospektif (kasus-kontrol). Subjek penelitian 109 responden. Analisis data menggunakan prosedur analisis uji t, Mann-Whitney, uji Chi-Kuadrat, uji korelasi VCramer dan analisis regresi logistik ganda. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan skor pengetahuan berdasarkan rujukan tepat vs tidak tepat (81,2 vs 63,6;

    Monoplant® the Indonesian Implant: The Overview of Implant and Its Development

    Get PDF
    Norplant®, as a first-generation levonorgestrel implant and containing six capsules, has been shown to be effective as long-term contraception since more than 25 years ago. In the process, then the number of implants was reduced to two rods called Norplant-2®, which is then updated into Jadena® (in Indonesia) or Jadelle® (in America). As a country with the largest implant acceptors in the world, Indonesia has developed its own implant method consisting of two rods called Indoplant®. Currently being developed implant that consists of single rod called Monoplant®. Monoplant® is expected to be the best option because it only consists of a single rod implant that is easy to insertion and remove, effective and safe for at least three years. [Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 40-6

    The Effect of Analog GnRH before Laparoscopic Cystectomy to Ovarian Reserve which was Measured with anti Müllerian Hormone at Bilateral Endometriosis Cyst

    Get PDF
    Objective: To know the effect of preoperative GnRH-a treatment to preserve the ovary after laparoscopic excision of endometriomas by measuring antimüllerian hormonal before and after operation and analize the correlation with age and size of the endometrioma. Methods: Double blind randomized control trial, which is done to patients with bilateral endometriomas in Raden Saleh Clinic. Subject devided into groups GnRH-a and placebo. Patient was undergoing laparoscopic excision after four weeks of medication (GnRHa or placebo). AMH Serum levels was measured before preoperative medication and four weeks after operation. Result: There were eight bilateral endometriomas (25% patients requirement), 4 patient GnRH-a and four patients placebo, all with primary infertility. The average changes of AMH serum level before and after laparoscopy ovarian cystectomy in GnRH-a groups was 0.011 ng/ml and placebo groups was 1.502. The average changes of AMH serum level, in age strativication on both groups show the same result, GnRH-a 0.035 and placebo 1.681. In diameter cyst strativication, GnRH-a 0.011 and placebo 1.090. Conclusions: With the restrictiveness of the patient, this study find GnRH-a therapy initiated before laparoscopic cystectomy has better outcomes in ovarian reserve compared with placebo, and also the same result in age and size of cyst strativication analize. [Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 14-7] Keywords: laparoscopic cystectomy, GnRH-a, ovarian reserv

    The effect of 17β Estradiol Exposure on Mutant p53 Expression in Hydatidiform Mole Trophoblast Cell Culture

    Get PDF
    Objectives: To compare the mutant p53 expression in normal trophoblast (N) cell culture with hydatidiform mole trophoblast (HM) cell culture which was exposed to 17β estradiol. Methods: An experimental study conducted at the Laboratory of Physiology Faculty of Medicine, Brawijaya University Malang using N cell culture and HM cell culture with 17β estradiol exposure. Trophoblast cell culture of normal and hydatidiform mole was divided in 6 groups, such as: 1. Without added 17β estradiol; 2. Added 5 nm 17β estradiol; 3. Added 10 nm 17β estradiol; 4. Added 20 nm 17β estradiol; 5. Added 40 nm 17β estradiol; 6. Added 80 nm 17β estradiol. Then performed immunocytochemistry staining using p53 mutant primary antibody and observed the expression of p53 mutant. Data from observations analized with the ANOVA test and correlation test. Results: Mutant p53 expression in N cell culture showed no significant differences in each treatment dose of 17β estradiol (p = 0086 > 0.05). The dose at 80nm 17β estradiol showed an average of highest mutant p53 expression on N cell culture rather than giving the dose of 17β estradiol on 40 nm, 20 nm, 10nm and 5 nm. While the control group showed a lowest average of mutant p53 expression in N cell culture when compared to the treatment group which was exposed to 17β estradiol. Mutant p53 expression in HM cell culture showed a significant difference at each treatment dose of 17β estradiol (p = 0.000 < 0.05). The existence of the effect of 17β estradiol begins when the expression of mutant p53 in HM cell culture becomes higher after being given treatment in the form of 17β estradiol on the dose of 5 nm compared with the expression of 17β estradiol in the control group. Then the expression of mutant p53 in HM cell culture is increasing when given doses of 17β estradiol at 20 nm and 40 nm. At a dose of 40 nm it shows the highest expression of mutant p53. Expression of mutant p53 in HM cell culture decreased when given at doses 80 nm. Conclusion: Mutant p53 expression in N cell culture exposed to 17β estradiol showed no significant difference. Expression of mutant p53 in HM cell culture which was exposed to 17β estradiol showed a significant difference. Mutant p53 expression in N and HM cell culture which was exposed to 17β estradiol showed significantly different, in which mutant p53 expression in N cell culture is lower than the expression of mutant p53 in HM tissue culture. [Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 30-5] Keyword: p53 mutant, 17β-estradiol, hydatidiform mol

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇