Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Factors Related to the Number of Antral Follicles on InVitro Fertilization (IVF)

    Get PDF
    Objective: To determine factors which are related to the number of antral follicles on infertile patients. Method: This cross sectional study was conducted in In-Vitro Fertilization (IVF) clinic of Graha Tunjung, Sanglah hospital, Bali. All fertile patients following the IVF program were calculated the number of antral follicles in both ovarian using transgene USG. This sample was recruited by random sampling from April 1st, 2001 to April 30th, 2011. We analyzed the data using Chi square test through SPSS for Windows 17.0 version. Result: Of 102 samples, the mean of patients’ age was 32.9% (SD 4.6) years old. From 72 patients (70.6%) experienced above 3 years of infertile period, the primary infertile was on 69 patients (67.7%). There was a relationship between patients’ age and the number of antral follicles significantly (prevalence ratio (PR) 1.41; 95% CI 1.11- 1.79). Meanwhile, the number of antral follicles and type of infertile (PR 1.02; 95% CI 0.76-1.37) also infertile period (PR 0.95; 95% CI 0.72-1.27) were not associated significantly. Conclusion: Patients’ age has an association with the number of antral follicles on IVF. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 75-77] Keywords: age, infertile, infertile period, number of antral follicles and type of infertil

    Ovarian Tissue Vitrification as a Method for Ovarian Preservation in Women with Cancer: an Analysis of Granulose Cell Apoptosis

    Get PDF
    Objective: To obtain the effective method of ovarian function preservation with granulose cell apoptosis assessment. Ovarian tissue vitrification became a method for ovarian function preservation in women with cancer. This technique can be done anytime without delay on cancer therapy both in prepubertal and unmarried patient. It can also store many primordial follicles. Ovarian tissue vitrification study is still limited to animal test and there are no data about apoptosis assessment after ovarian vitrification in human ovary. Method: This quasi experimental study was held in Department of Obstetrics and Gynecology Faculty of Medicine University of Indonesia - Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital and Fatmawati Hospital Jakarta from March 2012 to May 2015. Ovaries from thirteen women between 31 and 37 years old who underwent oophorectomy with gynecological indication were examined. Result: There was no morphological difference between follicles from fresh and warmed-vitrified ovaries. The mean protein Bax expression on the fresh ovaries assessed in the form of H-score was 1.66 (SD 0.14) compared with 1.68 (SD 0.13) on the warmedvitrified group (p=0.165). The mean protein Bcl-2 expression on the fresh ovaries examined in the form of H-score was 1.73 (SD 0.10) compared with 1.71 (SD 0.10) on the warmed-vitrified group (p=0.068). Conclusion: Ovarian tissue vitrification does not affect the Bax and Bcl-2 expression on human ovary. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 88-92] Keywords: apoptosis, bax, Bcl-2, ovarian tissue vitrificatio

    Translokasi IUD Copper-T ke Vesika Urinaria disertai Pembentukan Batu Intravesika ( Laporan Kasus )

    Get PDF
    Tujuan: Melaporkan 1 kasus translokasi IUD ke vesika urinaria menyebabkan terjadinya batu yang menempel di IUD di dalam vesika dan mendiskusikan diagnosis dan penanganannya. Hasil: Kasus translokasi IUD ke vesika sejak awal tidak terdiagnosa oleh karena ada riwayat pencabutan IUD dan pasien tidak dalam keadaan KB IUD. Keadaan tidak nyaman di daerah perut bagian bawah sekitar kandung kencing menyebabkan pasien ke dokter urologi, kemudian dilakukan pemeriksaan USG ditemukan batu buli-buli, kemudian dilakukan operasi pengambilan batu secara lithotripsi, waktu dilakukan lithotripsi baru 1/3 bagian tampak seperti benang, coba ditarik tidak bisa, kemudian dikonsulkan ke dokter obgin dan melihat benang putih dan benda putih seperti bodi IUD, didiagnosa translokasi IUD di vesika urinaria. Karena dicoba ditarik tak bisa kemudian dilakukan seksio Alta. Sebelum seksio Alta tampak kavum Retzii perlekatan hebat dan ada bagian buli-buli yang tertarik ke dalam. Lengan IUD sebagian tertanam di dinding vesika dan badan IUD pada ujungnya terdapat batu ukuran 3x2x2 cm3 warna kuning. Kesimpulan: Pada penderita yang sudah berhenti sebagai akseptor IUD, ataupun merasa IUD sudah hilang atau lepas tanpa diketahui dan disertai dengan keluhan perlu diperiksa lebih teliti dengan pemeriksaan USG dan foto abdomen. Kemungkinan terjadi translokasi perlu dipikirkan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 101-3] Kata kunci: translokasi; IUD intra vesika; batu vesika

    Pemeriksaan Antigen pp65 dan mRNA pp67 Cytomegalovirus (CMV) Pada Wanita Hamil dengan IgG anti-CMV positif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui proporsi seropositif CMV pada wanita hamil dengan riwayat abortus dan gambaran hasil pemeriksaan antigen pp65 CMV, mRNA pp67 CMV, serta kesesuaiannya pada wanita hamil dengan IgG anti-CMV yang positif. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif. Kesesuaian hasil pemeriksaan antara antigen pp65 dan mRNA pp67 CMV dinilai dengan menghitung nilai kappa (k). Tempat: (1) IGD lantai III dan Poliklinik kebidanan dan kandungan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, (2) Bagian Mikrobiologi dan (3) Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Bahan dan cara kerja: Sampel berasal dari darah wanita hamil dengan riwayat abortus dan darah tali pusat janin yang dilahirkan. Pemeriksaan IgM dan IgG CMV dilakukan dengan metode ELISA, pemeriksaan antigen pp65 CMV dengan teknik imunohistokimia, dan pemeriksaan mRNA pp67 CMV dengan teknik NASBA. Hasil: Selama kurun Januari - Juni 2005, terkumpul 50 sampel yang berasal dari 25 subjek; terdiri dari 25 darah ibu dan 25 darah janin. Seluruh (100%) wanita hamil dengan riwayat abortus dalam penelitian ini memberikan hasil IgG antiCMV yang positif. Tidak ada subjek dengan IgM anti-CMV yang positif. Pada pemeriksaan antigen pp65 CMV terdapat 6% hasil yang positif, yaitu 2% dari sampel ibu dan 4% sampel tali pusat. Tidak terdapat hasil yang positif pada pemeriksaan NASBA mRNA pp67 CMV. Terdapat 26% sampel, yaitu 12% sampel ibu dan 14% sampel janin dengan hasil mRNA pp67 CMV tidak dapat ditentukan. Kesimpulan: Proporsi seropositif IgG anti-CMV pada wanita hamil dengan riwayat abortus dalam penelitian ini adalah sangat tinggi. Pada pemeriksaan antigen pp65 CMV terdapat 6% hasil yang positif. Tidak ada hasil mRNA pp67 CMV yang positif. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada individu yang imunokompeten, jarang sekali terjadi reaktivasi sehingga risiko infeksi CMV kongenital adalah kecil. Dalam penelitian ini tidak terdapat kesesuaian hasil antara pemeriksaan antigen pp65 dan NASBA mRNA pp67 CMV, dengan nilai kappa 0%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 203-12] Kata kunci: antigen pp65, mRNA pp67 CMV, IgG anti-CMV, wanita hamil, riwayat abortus

    Pengaruh Subpasase dan Starvasi Serum Fibroblas sebagai donor Nukleus pada keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi (Suatu upaya peningkatan efisiensi transfer Nukleus sel somatik dengan teknik IDNI)

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini untuk mempelajari pengaruh subpasase dan starvasi serum fibroblas sebagai donor nukleus pada keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi. Rancangan/rumusan data: Eksperimen laboratorium. Sel donor yang digunakan adalah fibroblas fetus kambing. Sitoplasma resipien yang digunakan adalah oosit kambing yang dilakukan maturasi in vitro pada tahap metafase II (M-II) yang telah dilakukan enukleasi (Oosit enukleasi). Bahan dan cara kerja: Dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap pendahuluan dan tahap eksperimen. Tahap pendahuluan adalah optimalisasi prosedur TNS teknik IDNI. Tahap eksperimen terdiri dua tahap. Tahap I: Studi pengaruh subpasase (sel donor A) dan kultur starvasi serum (sel donor B) terhadap derajat apoptosis sel donor. Tahap II: Studi pengaruh derajat apoptosis sel donor terhadap perkembangan sel rekonstruksi hasil transfer nukleus sel somatik dengan teknik IDNI. Penelitian tahap pendahuluan menunjukkan bahwa teknik IDNI dapat digunakan sebagai metode TNS, melalui integritas sel rekonstruksi, yaitu sitoplasma yang diaspirasi sebanyak 10-25%, tidak ada lisis dan degenerasi. TNS menggunakan sel donor subpasase, dari 72 sel rekonstruksi yang dilakukan aktivasi terjadi 12 (16,67%) pembelahan dan menggunakan sel donor starvasi serum, dari 68 sel rekonstruksi yang dilakukan aktivasi terjadi 7 (10,29%) pembelahan. Hasil: Penelitian tahap I menunjukkan bahwa subpasase 3 mempunyai persentase sel hidup yang masih baik (79,55% ± 1,72), apoptosis dini 24,00% ± 6,08 dan apoptosis lanjut 11,67% ± 2,08. Kultur starvasi serum dari subpasase 3 pada hari ke 3 mempunyai persentase sel hidup yang masih baik (56,1% ± 5,94), mengalami proses apoptosis dini 41,67 ± 2,08 dan apoptosis lanjut 42,33% ± 7,57. Analisis statistik menunjukkan bahwa sistem kultur (subpasase dan starvasi serum) mempunyai asosiasi kuat dengan hidup, apoptosis dini dan apoptosis lanjut dari sel donor. Penelitian tahap II menunjukkan bahwa dari 125 sel rekonstruksi menggunakan nukleus donor sel donor A terjadi pembelahan sel sebanyak 19 (15,2%) dan terjadi pertumbuhan 4-8 sel dan morula masingmasing ada 3 (0,8%). Dari 118 sel rekonstruksi menggunakan nukleus donor sel donor B terjadi pembelahan sel sebanyak 15 (12,7%), terjadi pertumbuhan 4-8 sel sebanyak 7 (5,93%) dan tidak ada yang mencapai morula. Analisis statistik menunjukkan bahwa derajat apoptosis sel donor (hidup, apoptosis dini dan apoptosis lanjut) mempunyai asosiasi kuat dengan perkembangan sel rekonstruksi. Kesimpulan: Viabilitas dan ukuran kecil (≤ 6 cm) dari sel donor meningkatkan keberhasilan perkembangan sel rekonstruksi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 155-73] Kata kunci: subpasase, starvasi serum, sel hidup, apoptosis, pembelahan, pertumbuha

    Tes Pap, Tes HPV dan Servikografi sebagai Pemeriksaan Triase untuk Tes IVA Positif: Upaya Tindak Lanjut Deteksi Dini Kanker Serviks pada Fasilitas Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas beserta Analisis Sederhana Efektivitas Biayanya

    Get PDF
    Tujuan: Memperoleh informasi tentang efektivitas pemeriksaan dalam bentuk Nilai Prediksi Positif dan Analisis Efektivitas Biaya tes Pap, tes HPV, servikografi dan gabungan dari dua atau tiga pemeriksaan tersebut sebagai pemeriksaan triase untuk tes IVA positif dalam upaya mendeteksi lesi prakanker serviks. Tempat: Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rancangan/rumusan data: Selama kurun waktu penelitian yaitu antara bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menerima 130 orang perempuan dengan hasil tes IVA positif dan 1 orang dengan dugaan kanker serviks yang dirujuk dari 8 Puskesmas dan Klinik Bersalin di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Empat belas orang bidan dari Puskesmas dan Klinik selama kurun waktu tersebut telah melakukan pemeriksaan terhadap 1250 perempuan sesuai kriteria inklusi yaitu berusia antara 25 hingga 45 tahun. Terhadap seluruh kasus yang dirujuk peneliti melakukan berturut-turut pengambilan sampel tes Pap, sampel tes HPV untuk pemeriksaan dengan metode Hybrid Capture 2, pemeriksaan servikografi dan dilanjutkan dengan kolposkopi. Bila didapatkan lesi epitel putih dilakukan biopsi-histopatologi. Data hasil pemeriksaan dianalisis untuk uji diagnostik dengan komputer menggunakan program Stata 7.0. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menggunakan program Treeage@. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil tes IVA positif pada 130 perempuan (10,4%) dari 1250 perempuan usia 25-45 tahun yang diperiksa. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan hasil positif lesi prakanker pada 67 perempuan (persentasenya sekaligus menggambarkan Nilai Prediksi Positif dari pemeriksaan kolposkopi + biopsi pada kasus dengan tes IVA positif, yaitu: 51,5%). Prevalensi lesi prakanker serviks pada penelitian ini adalah 5,4% dengan prevalensi lesi derajat tinggi 0,2% yaitu sekitar 2% dari seluruh kasus IVA positif yang dirujuk. Satu kasus yang dirujuk dengan kanker serviks ternyata memang positif menderita kanker serviks stadium 3B. Seluruh kasus lesi derajat tinggi (3 kasus) adalah NIS2. Hasil Nilai Prediksi Positif yang sekaligus menggambarkan efektivitas masing-masing pemeriksaan sebagai triase pada tes tes IVA positif: tes Pap 82% (CI 95% 75%; 88%), tes HPV 58% (CI 95% 49%; 66%), servikografi 94% (CI 95% 90%; 98%), tes Pap+HPV 73% (CI 95% 64%; 79%), tes Pap+servikografi 86% (CI 95% 81%; 90%), tes HPV+servikografi 78% (CI 95% 72%; 84%), tes Pap+HPV+servikografi 77% (CI 95% 72%; 82%). Pemeriksaan triase yang lebih efektif biaya dibandingkan rujukan langsung tes IVA positif untuk kolposkopi apabila diasumsikan bahwa pasien dari dalam kota adalah servikografi, tes Pap dan gabungan tes Pap+servikografi, sedangkan bila diasumsikan pasien dari luar kota maka seluruh pemeriksaan triase yang diteliti terbukti lebih efektif biaya. Kesimpulan: Pemeriksaan triase dengan tes Pap, tes HPV dan servikografi maupun gabungannya dapat meningkatkan efektivitas pemeriksaan dan efektivitas biaya tes IVA dalam mendeteksi lesi prakanker serviks. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 201-11] Kata kunci: tes IVA, tes Pap, tes HPV, servikografi, pemeriksaan triase, analisis efektivitas biay

    Perubahan Densitas Mineral Tulang Lumbal Perempuan Pengguna Kontrasepsi Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) selama 6 Bulan di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui densitas mineral tulang (DMT) lumbal perempuan Indonesia berusia 20 - 35 tahun sebelum dan setelah pemberian kontrasepsi suntik DMPA selama 6 bulan, dan mengetahui hubungan antara faktor asupan kalsium dan aktivitas fisik perempuanperempuan tersebut dengan DMT lumbal. Tempat: Puskeskmas Kecamatan Tebet, Jakarta Timur, Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan Klinik Imunoendokrinologi Yasmin, Jakarta Pusat. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat eksperimental self-controlled dengan rancangan pra-intervensi dan pasca-intervensi pada kelompok subyek. Bahan dan cara kerja: Sembilan-belas responden perempuan paritas satu berusia antara 20-35 tahun menjalani pemeriksaan densitas mineral tulang (DMT) lumbal 1-4 dengan menggunakan densitometri DEXA (dual energy x-ray absorptiometry). Para responden adalah akseptor KB suntik depo medroksi progesteron asetat (DMPA) pertama kali, dengan jadual pemberian sebesar 150 mg DMPA intramuskular tiap tiga bulan. Selain itu, didapatkan data mengenai berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), asupan kalsium per hari dan aktivitas fisik responden. Kemudian dilakukan pemeriksaan DMT lumbal 1-4 yang kedua setelah 6 bulan penggunaan kontrasepsi DMPA. Hasil: Didapatkan rata-rata usia subyek (n = 11) adalah 25,0 ± 4,2 tahun (rentang 20 - 33 tahun). Rata-rata berat badan, tinggi badan dan indeks massa tubuh berturut-turut adalah sebesar 49,7 ± 6,2 kg (41 - 60 kg); 151,8 ± 6,2 cm (142 - 163 cm) dan 21,61 ± 2,74 kg/m2 (17,69 - 26,67 kg/m2). Densitas mineral tulang (DMT) L1-L4 awal menunjukkan rata-rata 0,958 ± 0,023 g/cm2 (0,876 - 1,080 g/cm2), rata-rata nilai T awal sebesar -1,26 ± 0,61 (-1,85 sampai dengan -0,25). Nilai rata-rata asupan kalsium per hari sebesar 329,01 ± 228,22 mg (78,25 - 784,55 mg). Rata-rata DMT L1-L4 akhir adalah sebesar 0,969 ± 0,078 g/cm2 (0,844 - 1,084 g/cm2), rata-rata nilai T akhir sebesar -1,17 ± 0,65 (-2,21 sampai dengan -0,22). Rata-rata pengeluaran energi total (Total Energy Expenditure [TEE]), laju metabolik basal (Basal Metabolic Rate [BMR]) dan faktor aktivitas (Activity Factor [AF]) berturut-turut adalah sebesar 2157,51 ± 342,55 kkal (1679,58 - 2753,49 kkal); 1288,05 ± 69,64 kkal (1189,20 - 1411,30 kkal) dan 1,68 ± 0,24 (1,4 - 2,1). Rata-rata persentase perubahan DMT adalah sebesar 1,13 ± 2,86% (-3,76 sampai dengan 6,74%). Terdapat korelasi yang sangat lemah dan tidak bermakna statistik antara faktor aktivitas dengan persentase perubahan DMT (r = 0,066, p = 0,846), antara IMT dengan persentase perubahan DMT (r = 0,098, p = 0,774). Sedangkan korelasi antara asupan kalsium per hari dengan persentase perubahan DMT adalah lemah (r = 0,457) dengan tingkat kemaknaan 0,158 (tidak bermakna). Analisis multivariat menunjukkan tidak ada perubahan yang bermakna secara statistik antara persentase perubahan DMT dengan IMT, asupan kalsium dan faktor aktivitas (p = 0,515). Kesimpulan: Pada sebelas responden yang diteliti, tidak terdapat perubahan bermakna DMT lumbal 1-4 setelah pemberian DMPA selama 6 bulan pertama dan tidak terdapat korelasi yang bermakna antara penggunaan DMPA selama 6 bulan pertama dengan indeks massa tubuh, asupan kalsium dan aktivitas fisik. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 243-50] Kata kunci: densitas mineral tulang (DMT), depo medroksi progesteron asetat (DMPA), indeks massa tubuh (IMT), asupan kalsium, faktor aktivitas

    Uji tapis depresi menggunakan mini ICD-10 dan faktor-faktor yang berhubungan pada pasien dengan keganasan ginekologi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui prevalensi depresi pada pasien dengan keganasan ginekologi dan faktor-faktor yang berhubungan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Bahan dan cara kerja: Sampel penelitian adalah pasien dengan keganasan ginekologi yang datang ke Poliklinik Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Metode sampling yang digunakan adalah convenient sampling. Penelitian dilakukan dengan pengisian kuesioner dan lembar Mini International Neuropsychiatric Interview for International Classification of Disease- 10 (MINI ICD-10) melalui hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap responden dan melalui rekam medik untuk memastikan diagnosis. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan jumlah pasien penderita depresi sebanyak 29 pasien dari total 81 sampel (35,8%). Proporsi kejadian depresi lebih besar pada kelompok pasien yang berusia > 45 tahun (41,2%), tingkat pendidikan rendah (37,9 %), tingkat pendapatan rendah (38,0%), tidak bekerja (24,0%), status pernikahan pisah/cerai/janda (50,0%), mengetahui diagnosis keganasan < 1 bulan (100%), jenis keganasan Ca serviks (42,2%), dan stadium keganasan III-IV (36,4%). Didapatkan hubungan yang bermakna antara jenis keganasan dengan kejadian depresi (p=0,02). Kesimpulan: Prevalensi depresi pada pasien dengan keganasan ginekologi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sebesar 35,8%. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis keganasan dengan kejadian depresi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 167-71] Kata kunci: depresi, keganasan ginekologi, prevalensi, MINI ICD-10

    Hubungan kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada preeklampsia berat

    Get PDF
    Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar albumin urin dan berat badan lahir bayi pada ibu hamil dengan preeklampsia berat dan normotensi serta menganalisis hubungan antara kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada preeklampsia berat. Rancangan/rumusan data: Studi belah lintang yang melibatkan 40 ibu hamil dengan preeklampsia berat dan 40 ibu hamil normotensi di RSUP Dr Kariadi Semarang pada kurun waktu bulan Mei - Desember 2007. Bahan dan cara kerja: 40 ibu hamil aterm dengan preeklampsia berat dan 40 ibu hamil aterm normotensi dilakukan pengambilan darah untuk kemudian diperiksa berbagai parameter kimiawi serta dilakukan pengambilan urin untuk kemudian diperiksa kadar albumin urin kuantitatif dengan menggunakan alat MODULAR yang didasarkan pada metode imunoturbidimetri. Berat badan bayi diukur segera setelah bayi lahir. Kadar albumin urin kuantitatif kemudian dianalisis korelasinya dengan berat badan lahir bayi. Hasil: Rerata kadar albumin urin pada ibu hamil dengan preeklampsia berat (736,7 mg/dl) lebih tinggi dibanding dengan yang didapat pada kehamilan normal (156,9 mg/dl) dan secara statistik bermakna (p < 0,001). Rerata berat badan lahir bayi yang dilahirkan oleh ibu hamil dengan preeklampsia berat (2880 gram) lebih rendah dibanding dengan yang dilahirkan oleh ibu hamil normotensi (2910 gram) namun secara statistik tidak bermakna. Tidak terdapat hubungan antara kadar albumin urin ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu dengan preeklampsia berat. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa walaupun kadar albumin urin pada ibu hamil dengan preeklampsia berat lebih tinggi dibanding ibu hamil normotensi namun tidak terdapat perbedaan berat badan lahir bayi yang dilahirkan serta tidak terdapat hubungan antara kadar albumin urin dengan berat badan lahir bayi pada ibu dengan preeklampsia berat. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 8-13] Kata kunci: preeklampsia berat, kadar albumin urin, berat badan lahir bay

    Peningkatan kadar soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) sebagai petanda aktivasi endotel pada serum penderita sindrom antifosfolipid yang dipajankan pada kultur endotel tali pusat manusia

    Get PDF
    Tujuan: Mendapatkan kadar soluble VCAM-1 (sVCAM-1) pada serum penderita APS yang dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia untuk membuktikan adanya peran aktivasi endotel pada mekanisme terjadinya trombosis pada penderita APS (antiphospholipid syndrome). Bahan dan cara kerja: Penelitian eksperimental laboratorium secara in vitro di Makmal Terpadu Imuno-Endokrinologi/FKUI pada tahun 2003. Sebanyak masing-masing 14 sampel serum yang berasal dari pasien APS dan non APS yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berdasarkan batasan operasional (kriteria Sapporo). Kemudian kultur sel endotel dipajankan selama 24 jam dengan medium perlakuan yang ditambahkan 20 % serum dari masing-masing penderita APS atau non APS. Kemudian diukur kadar sVCAM-1 pada masing-masing sampel dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Secara statistik didapatkan perbedaan bermakna (p < 0,05) antara kadar sVCAM-pada serum APS dibandingkan dengan serum non APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia. Secara statistik juga didapatkan perbedaan bermakna (p < 0,05) pada kadar sVCAM-1 pada serum APS dibandingkan dengan serum non APS setelah dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia selama 24 jam per 10.000 sel endotel. Kesimpulan: Produksi sVCAM-1 oleh sel endotel vena umbilikalis manusia yang dipajankan dengan serum APS lebih tinggi daripada yang dipajankan dengan serum non APS. Kadar sVCAM-1 pada serum APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia didapatkan lebih tinggi daripada serum non APS yang tidak dipajankan pada kultur sel endotel vena umbilikalis manusia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 35-40] Kata kunci: soluble VCAM-1 (sVCAM-1); APS (Antifosfolipid sindrom); Kriteria Sapporo; ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇