Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi dalam Kehamilan

    Get PDF
    Pendahuluan: Hipertensi dalam kehamilan muncul berupa pre-eklampsia dan eklampsia yang memberikan morbiditas dan mortalitas yang tinggi untuk ibu dan bayinya. Pencegahan primer terhadap penyakit ini belum bisa efektif karena penyebabnya belum jelas diketahui (disease of theories). Pencegahan dan pengobatan yang paling tepat terhadap penyakit ini adalah menghindari kehamilan yang tidak direncanakan dan kalau terjadi penyakit ini dilakukan terminasi kehamilannya. Dalam budaya kita cara tersebut tidak selalu mudah dilaksanakan. Pencegahan pertama dapat dilakukan dengan cara mengenal golongan ibu yang mempunyai faktor risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Tujuan: Untuk mencari faktor risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Rancangan/rumusan data: Studi kepustakaan. Hasil dan kesimpulan: Untuk mencari golongan ibu yang berisiko itu tak selalu mudah oleh karena laporan hasil penelitian kebanyakan berasal dari basis klinis rumah sakit dan jarang yang berasal dari penelitian populasi di masyarakat. Terdapat variasi dalam standar cara menegakkan diagnosis serta pelaporan hasil penelitian tentang preeklampsia dan eklampsia. Berdasarkan rasio risikonya maka kondisi yang memudahkan terjadinya pre-eklampsia secara berturut-turut adalah: penyakit ginjal kronis (20:1), hipertensi kronis (10:1), sindroma antiphospholipid (10:1), riwayat keluarga pernah preeklampsia (5:1), kehamilan kembar (4:1), nullipara (3:1), umur ibu di atas 40 tahun (3:1), diabetes mellitus (2:1) dan kelompok ras Afrika-Amerika (1,5:1). Masih ada faktor lain seperti: obesitas, immunologi, thrombophilia, kalsium, magnesium dan seng dalam diet, vitamin B2, ketinggian tempat tinggal, merokok dan penyakit periodontal yang masih dalam penelitian. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-1: 55-8] Kata kunci: hamil, faktor risiko, pre-eklampsia, eklampsia. Introduction: Hypertension in pregnancy clinically appears as preeclampsia and eclampsia and both cause higher morbidity and mortality to mothers and babies. Primary prevention of this pathology is not effective since the condition is still "disease of theories". The most effective and appropriate prevention of this disease is by avoiding pregnancy or terminating the existing pregnancy. Practically, it is not easy to apply these methods in daily way of life. So primary prevention should be considered by identifying those risk factors in mothers that potentially lead to development of hypertension in pregnancy. Objective: To find the risk factors in mothers leading to become hypertension in pregnancy. Design/data identification: Literature study. Result and conclusion: Looking for these risks is not always easy since despite extensive study of the world-wide pre-eclampsia incidence is mostly derived from hospital-based population rather than geographically- based population. Besides that, there is a great variation in the standard criteria for establishing diagnosis and in the methods of reporting of the research results. And as a consequence fewer studies can be used for comparison. A summary of the risk factors for developing preeclampsia subsequently are as follows: chronic renal disease (20:1), chronic hypertension (10:1), anti-phospholipid syndrome (10:1), family history of pregnancy-induced hypertension (5:1), twin gestation (4:1), nulliparity (3:1), age above 40 years (3:1), diabetes mellitus (2:1), African- American race (1.5:1). A number of studies mention other risk factors such as obesity, immunology, thrombophilia, dietary calcium deficiency, magnesium and zinc deficiency, vitamin B2 deficiency, altitude, smoking, and even periodontal diseases. [Indones J Obstet Gynecol 2006; 30-1: 55-8] Keywords: pregnancy, risk factors, pre-eclampsia, eclampsi

    International Ovarian Tumor Analysis (IOTA) Scoring System to Predict Ovarian Malignancy Preoperatively

    Get PDF
    Objective: To compare diagnostic performance of International Ovarian Tumor Analysis (IOTA) scoring method with Risk of Malignancy Index-4 (RMI-4) and Sassone Morphology Index to predict ovarian malignancy preoperatively. Method: Retrospective study with 119 subject who underwent surgical removal of ovarian tumor and performed histopathological examination at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital on January to December 2013. Demographic status, ultrasound scans, CA-125 level and histopathological result were collected to calculate the score of each method. Sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value and accuracy were calculated by comparing each score with histopathology result. Comparison of diagnostic performance was analyzed by ROC curve. Result: There were 51.26% subjects with benign tumor and 48.74% subjects with malignant tumor. Result was analyzed with sensitivity test (IOTA simple-rules, IOTA subgroup, RMI-4 and Sassone): 98%, 88%, 86% and 79%; specificity: 74%, 67%, 61% and 89%; positive predictive value: 78%, 72%, 68% and 87%; negative predictive value: 98%, 85%, 82% and 81%; and accuracy: 86%, 77%, 73% and 84%. AUC value for IOTA simple-rules, IOTA subgroup, RMI-4 and Sassone were: 0.86, 0.78, 0.73 and 0.84. Comparison of these results were significant with p = 0.000. Conclusion: IOTA simple-rules had better sensitivity, negative predictive value and accuracy than IOTA subgroup, RMI-4 and Sassone morphology index to predict ovarian malignancy preoperatively. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 1: 42-46] Keywords: iota, ovarian neoplasm, risk of malignancy, scorin

    Profile of Maternal Referral Cases

    Get PDF
    Objective: To explore the demography of maternal referral cases in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) along with the accuracy of referral. We also aim to evaluate the types of referral, origin of referral, referring healthcare facility and quality of referring healthcare facility. Method: The design of this study was a cross sectional design which described the accuracy of obstetrics referred cases in Emergency Unit Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital from 2013 to 2014. Result: The total referred obstetric cases in 2013 was 1,645 patients. It was consisted of 1,307 appropriate (79.5%) and 338 inappropriate (20.5%) referred cases. Primary healthcare and general hospital were the most often referring cases to RSCM during two consecutive years. The top three cases referred to RSCM in both 2013 and 2014 were preterm premature rupture of membrane (PPROM), continued by severe preeclampsia and preterm labor. Conclusion: The number of referral cases in Indonesia is considered high, particularly in RSCM as the tertiary healthcare facility. There are still a high number of inappropriate referrals originating from primary healthcare facilities, pointing to the fact that the referral system is not running according to design or plan. To improve the quality of referral system, proper monitoring and evaluation of referral should be performed by local health department. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 64-66] Keywords: maternal case, referral syste

    Perbandingan kadar interleukin-10 serum antara wanita hamil normal dan hamil dengan ancaman persalinan preterm

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan kadar interleukin-10 serum wanita hamil normal dan wanita hamil dengan ancaman persalinan preterm. Tempat: Poliklinik Kebidanan dan lantai III Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang, dinilai secara acak serentak 2 populasi yaitu kehamilan normal dan ancaman persalinan preterm dengan jumlah sampel masing-masing 26 pasien. Pemeriksaan kadar interleukin-10 serum dilakukan dengan metode ELISA. Hasil: Kadar interleukin-10 serum wanita yang mengalami ancaman persalinan preterm (8,28+6,87) pg/ml lebih tinggi bermakna dari kadar interleukin serum wanita hamil normal (4,00+2,40) pg/ml

    Dengan kesehatan perempuan menuju Indonesia sehat

    Get PDF
    N/

    Karakteristik Pasien Endometriosis di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Selama Periode 1 Januari 2000 - 31 Desember 2005

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien endometriosis yang berobat ke RSCM. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif. Karakteristik pasien endometriosis di RSCM. Tempat: Poliklinik Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta. Bahan dan cara kerja: Dilakukan pendataan dari catatan medik tentang karakteristik faktor risiko semua pasien endometriosis baru yang didiagnosis pertama pada tanggal 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2005 dengan hasil histopatologi (+) endometriosis. Hasil: Didapatkan 111 sampel yang sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan. Rerata usia pasien adalah 33,39 ± 6,40 tahun, di mana yang terbanyak adalah kelompok usia 30 - 34 tahun (29,72%). Sebagian besar pasien (68,47%) datang atas keinginan sendiri, dan hanya 1 pasien (0,9%) rujukan dari bidan. Sisanya rujukan dokter umum dan SpOG. Lebih dari separuh (63,96%) pasien mengalami dismenorea, tetapi pasien yang datang dengan keluhan utama dismenorea hanya 29,73%. Pasien lain datang dengan keluhan nyeri perut (27,3%), benjolan di perut (22,52%), gangguan haid (10,81%), ingin anak (7,21%) dan gangguan berkemih (2,71%). Sebagian besar subjek sudah menikah (77,48%), dan hampir separuhnya (48,84%) mengalami infertilitas, baik primer maupun sekunder. Rerata usia menars adalah 13,19 ± 1,87 tahun. Usia menars terbanyak adalah 12 tahun, sebanyak 36 pasien (32,43%). Sebagian besar pasien (85,59%) memiliki siklus haid normal (antara 21 - 35 hari), dengan banyaknya haid yang juga normal (2 - 5 pembalut/ hari). Untuk lama haid, ternyata cukup banyak pasien yang mengalami haid lebih lama dari lama haid normal, yaitu sebanyak 48,65%. Hampir seluruh subjek tidak menggunakan kontrasepsi oral (91%). Berdasarkan diagnosis preoperatif, sebanyak 35,13% pasien terdiagnosis sebagai endometriosis. Sebanyak 26,13% pasien mempunyai diagnosis preoperatif selain endometriosis atau adenomiosis. Intra operatif dilakuan penilaian stadium endometriosis menurut (revised) American Fertility Society (AFS 1 - 4), di mana sebagian besar pasien menderita endometriosis stadium 3 dan 4 (sedang - berat), yaitu sebanyak 44,14% dan 46,35%. Pada penelitian ini didapatkan keluhan dismenorea lebih banyak ditemukan pada stadium 4, yaitu sebanyak 49,30%, walaupun terdapat 2 pasien (2,81%) pasien dengan dismenorea berada pada stadium 1 (minimal). [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 73-8] Kata kunci: endometriosis, karakteristik, faktor risik

    INDEX

    No full text
    N/

    Endometriosis: Tinjauan Perangai Imunopatobiologi sebagai Modalitas Baru untuk Menegakkan Diagnosis Endometriosis Tanpa Visualisasi Laparoskopi (Kajian Pustaka)

    Get PDF
    Tujuan: Meninjau perangai imunopatobiologi penderita endometriosis sebagai modalitas baru untuk menegakkan diagnosis endometriosis tanpa visualisasi laparoskopi. Rancangan/rumusan data: Tinjauan pustaka. Kesimpulan: Endometriosis bisa dilihat sebagai proses inflamasi pelvis dengan perubahan fungsi sel yang berkaitan dengan kekebalan dan jumlah makrofag aktif yang meningkat dalam cairan peritoneum yang mensekresi berbagai produk lokal, seperti faktor pertumbuhan dan sitokin. Meningkatnya sitokin dan faktor-faktor lain dalam cairan peritoneum diikuti dengan meningkatnya faktor-faktor serupa, seperti CRP, SAA, TNF- α, MCP-1, IL-6 dan CCR1, dalam darah tepi pada penderita endometriosis. Monosit CD44+ dan CD14+ meningkat secara bermakna, sementara limfosit T CD3+ dan limfosit B CD20+ menunjukkan pengurangan sedikit tetapi bermakna dalam darah tepi penderita endometriosis. Ini menunjukkan bahwa endometriosis dapat dilihat sebagai penyakit lokal dengan manifestasi, sub-klinis sistemik. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 180-4] Kata kunci: endometriosis, faktor inflamasi, sitokin, sel darah puti

    Uji klinik kemoradiasi dibanding radiasi terhadap respons infeksi hPV dan respons klinik pada karsinoma sel skuamos serviks uteri

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui apakah ekspresi virus HPV berpengaruh terhadap keberhasilan terapi Karsinoma Skuamos sel Serviks Uteri (KSSU). Penelitian ini menggunakan rancangan Studi Intervensi tanpa kontrol, kuasi eksperimental. Bahan dan cara kerja: Subjek adalah penderita KSU stadium lanjut yang mendapat kemoradiasi dan radiasi saja. Hasil: Dari 45 penderita KSU yang memenuhi syarat penelitian. Dua puluh tujuh penderita mendapat Kemoradiasi sedangkan yang hanya mendapat radiasi adalah 28 penderita. Dari pemeriksaan HC-II sebelum dilakukan terapi, dari kelompok kemoradiasi hanya 1 penderita (2,7%) dengan HPV negatif, sedang kelompok radiasi saja, semua didapatkan HPV positif sebelum dilakukan terapi. Dari kelompok kemoradiasi 8 penderita ( 29,6%) didapatkan parsial respons, sedangkan 7 penderita (25%) dengan parsial respons dari kelompok radiasi saja. Setelah terapi, 12 penderita (42,9%) didapatkan HPV masih positif pada kelompok radiasi saja, dibandingkan 6 penderita (22,2%) dari kelompok kemoradiasi. Dari kelompok persistensi HPV ini didapatkan 4 penderita (22,2%) dengan parsial respons dibandingkan 11 penderita (29,7%) dari kelompok HPV negatif pascaterapi. Kesimpulan: Ada kecenderungan kemoradiasi lebih punya pengaruh terhadap persistensi HPV. 22,2% penderita pada kelompok kemoradiasi mempunyai persistensi HPV dibandingkan 42,9 % pada kelompok radiasi saja. Secara statistik perbedaan ini tidak bermakna (

    Prevalensi infeksi klamidia pada jaringan serviks dan jaringan tuba dan sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko lain di kalangan pasien kehamilan tuba terganggu (Studi Epidemiologi di RSCM)

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengetahui prevalensi infeksi klamidia di jaringan serviks dan jaringan tuba dengan menggunakan metode pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan bersamaan dengan itu dicoba untuk diketahui sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko di kalangan pasien dengan kehamilan tuba terganggu. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang (cross sectional). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 2008 sampai Agustus 2008 terhadap 25 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi salpingektomi pengangkatan tuba) di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Semua subjek penelitian mengisi formulir persetujuan, melakukan pengisian kuesioner berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologi, kemudian dilakukan pengambilan swab serviks dan sampel jaringan tuba untuk dilakukan deteksi infeksi klamidia dengan menggunakan metode PCR. Hasil dan kesimpulan: Didapatkan prevalensi infeksi klamidia trakomatis di jaringan serviks dan jaringan tuba pada pasien dengan kehamilan tuba terganggu adalah 12% (3/25) dan 4% (1/25). Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat datang, didapatkan kecenderungan peningkatan risiko infeksi klamidia di serviks pada usia di atas 31 tahun, status pendidikan SD-SLP, usia di atas 21 tahun saat melakukan hubungan seksual, riwayat infertilitas, riwayat keputihan, riwayat infeksi kemih, dan servisitis walaupun secara statistik tidak bermakna. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 80-6] Kata kunci: kehamilan tuba terganggu, infeksi klamidia trakomatis, PC

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇