Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Perawatan Antenatal dan Peranan Asam Folat dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Hamil dan Janin
N/
Effect of Anti Zona Antibody on In Vitro Growth and In Vitro Maturation of Intact Follicles
Tujuan: Mengetahui pengaruh antibodi anti zona pellucida terhadap
perkembangan (in vitro growth = IVG) dan pematangan (in vitro maturation
= IVM) folikel.
Tempat: Laboratorium biologi dan reproduksi Fakultas Kedokteran
Hyogo, Nishinomiya, Jepang.
Rancangan/rumusan data: Studi eksperimen pada hewan coba.
Bahan dan cara kerja: Dilakukan pengambilan 80 folikel intak secara
mekanik dari ovarium mencit (C57BL/6 x DBA2-F1 mice) usia 16
hari kemudian dilakukan inkubasi pada medium yang mengandung antibodi
anti zona pellucida selama 8 hari. Antibodi ini diambil dari kelinci
yang disuntikkan komponen ZPA dan ZPC mencit. Serum kelinci
normal digunakan sebagai kontrol. Folikel dikelompokkan menjadi 4
kelompok dengan masing-masing terdiri dari 20 folikel. Kelompok 1 sebagai
kontrol, kelompok 2 diinkubasi dengan serum kelinci normal,
kelompok 3 diinkubasi dengan anti ZPA dan kelompok 4 diinkubasi
dengan anti ZPC. Setelah 8 hari seluruh folikel dipindahkan ke medium
IVM untuk dinilai perubahannya menjadi folikel antral.
Hasil: Secara morfologis tidak dijumpai perbedaan bermakna pada
perkembangan folikel antara kelompok kontrol dan perlakuan. Tetapi
antibodi anti zona pellucida mempengaruhi perkembangan folikel antral
pada kelompok perlakuan. Secara statistik dijumpai perbedaan bermakna
dalam jumlah folikel antral antar kelompok 3 dan 4 dengan
kelompok 1 dan 2. Pada kelompok 3 (anti ZPA) 9 dari 20 folikel (45%)
berkembang menjadi folikel antral sedangkan pada kelompok 4 (anti
ZPC) 11 dari 20 folikel (55%) berkembang menjadi folikel antral,
dibandingkan dengan kelompok 1 dan 2, masing-masing 100% dan 85%
folikel pre antral berkembang menjadi folikel antral. Kemudian seluruh
folikel antral ditransfer ke medium IVM dan diinkubasi selama 16-17
jam. Pada kelompok 1, 100% folikel mengalami mucifikasi, sedangkan
pada kelompok 2, 3 dan 4 masing-masing sebesar 75%, 55% dan 15%
folikel mengalami mucifikasi. Setelah dilakukan denudasi germinal vesicles
(GV) dijumpai sebanyak 5% pada kelompok 1,5% pada kelompok
2, dan 10% pada kelompok 4. Sedangkan pada kelompok 3 tidak dijumpai
GV. Metafase 1 dijumpai sebanyak 40% pada kelompok 1,35% pada
kelompok 2,50% pada kelompok 3 and 50% pada kelompok 4. Sedangkan
metafase 2 dijumpai sebanyak 55% pada kelompok 1,60% pada
kelompok 2, dan 40% pada kelompok 3. Tidak dijumpai metafase 2 pada
kelompok 4. Beberapa oosit yang berdegenerasi dijumpai pada kelompok
2 (5%), kelompok 3 (5%) dan kelompok 4 (30%). Terdapat perbedaan
bermakna dalam hal pematangan folikel (IVM) antara kelompok
kontrol dan perlakuan.
Kesimpulan: Antibodi anti zona pellucida mempengaruhi proses
perkembangan dan pematangan folikel in vitro. Efeknya pada fertilisasi
masih harus diteliti lebih lanjut.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 226-30]
Kata kunci: folikel intak, perkembangan folikel (IVG), pematangan
folikel (IVM), antibodi anti zona pellucida, folikel antral, mucifikasi,
germinal vesicles, metafase-1, metafase-
Kemampuan bayar keluarga untuk mendapatkan pertolongan persalinan di Indonesia (Analisis Data Susenas Kor 2001)
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kemampuan membayar keluarga
dengan penggunaan pelayanan kesehatan terutama penggunaan
pelayanan persalinan di Indonesia.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan riset observasional
dengan rancangan potong lintang menggunakan data kor Susenas 2001.
Sampel yang digunakan adalah seluruh rumah tangga yang memiliki
anak usia ≤ 1 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis
data menggunakan uji kai kuadrat dan uji regresi logistik dengan
tingkat kemaknaan p < 0,05.
Hasil: Kemampuan membayar keluarga memiliki hubungan yang
bermakna dengan pemilihan tenaga penolong persalinan (p < 0,001; OR
= 1,5; CI 95% = 1,405 - 1,668).
Kesimpulan: Kemampuan membayar keluarga berhubungan dengan
pemilihan penolong persalinan. Kemampuan membayar rendah memiliki
risiko lebih tinggi untuk memilih penolong persalinan non tenaga kesehatan.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 26-32]
Kata kunci: penolong persalinan, kemampuan membaya
Hubungan ekspresi Her-2/neu dan p53 terhadap respons terapi dan kelangsungan hidup penderita kanker ovarium jenis epitel
Tujuan: Untuk mengetahui adanya over ekspresi Her-2/neu dan p53
pada penderita kanker ovarium jenis epitel yang telah dilakukan operasi
dan kemoterapi di RSCM dan hubungannya dengan derajat keganasan
histopatologi, respons kemoterapi dan survival 1 tahun, 3 tahun, dan 5
tahun.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan penelitian potong
lintang dengan historical cohort untuk mendapatkan gambaran prevalensi
over ekspresi Her-2/neu dan p53 pada penderita tumor ganas ovarium
jenis epitel, faktor-faktor risiko klinis, derajat keganasan histopatologis
dan bagaimana hubungan faktor-faktor risiko tersebut dengan
keberhasilan terapi yang telah diberikan dan survival 1 tahun, 2 tahun,
dan 5 tahun di RSCM dari Januari 1999 sampai Desember 2003.
Hasil: Sejak Januari 1998 sampai 31 Desember 2003, dapat dikumpulkan
178 kasus kanker ovarium jenis epitel sesuai pemeriksaan histopatologi
di Bagian Patologi Anatomi FKUI. Dari 178 kasus tersebut
yang dapat dimasukkan ke dalam penelitian ini sesuai dengan kriteria
inklusi sebanyak 34 kasus (telah memenuhi minimal sampel 30 kasus).
Pada analisa data demografi ternyata insidensi terbanyak pada usia ratarata
penderita 45,7 tahun dan sebagian besar kasus datang ke RSCM
pada stadium lanjut 64,7% dengan jenis tipe sel yang mempunyai perangai
buruk 41,4% (clear cell/small cell, adenocarcinoma, dan undifferentiated).
Pada penelitian ini didapatkan angka survival penderita karsinoma
ovarium, survival ≥ 1 tahun (70,5%), survival ≥ 3 tahun (47,1%),
dan survival ≥ 5 tahun (41,2%), sedangkan prevalensi over ekspresi pada
subjek penelitian sebanyak 8,8%, lebih rendah dari yang didapatkan
peneliti-peneliti lain. Ekspresi protein gen p53 positif (+1, +2, +3) didapatkan
sebanyak 50% dan negatif ekspresi 50%. Pada analisa korelasi
dengan berbagai variabel klinis, yakni tipe sel, diferensiasi sel, stadium,
respons kemoterapi, lama bebas penyakit dan survival 1 tahun, 2 tahun,
dan 5 tahun tidak tampak perbedaan yang berarti, distribusi pada ekspresi
Her-2/neu dan p53 positif dan negatif hampir merata. Tidak terbukti
adanya perbedaan yang bermakna dengan p > 0,05. Sedangkan
hubungan variabel klinis dengan respons kemoterapi dan survival pada
penelitian ini memperlihatkan perbedaan yang cukup bermakna misalnya
pada pembedahan komplit memberikan angka survival 1 tahun, 3
tahun, dan 5 tahun yang lebih baik dibandingkan sitoreduksi sub-optimal
terbukti dengan analisa statistik koefisien korelasi rank spearman
didapatkan angka rs = 0,450 dengan p = 0,011 (p < 0,05).
Kesimpulan: Ditemukan angka prevalensi over ekspresi protein gen
Her-2/neu di RSCM (+2) 8,8% dan ekspresi protein gen p53 50%. Pada
penelitian ini tidak ditemukan hubungan bermakna antara over ekspresi
protein gen Her-2/neu dan p53 dengan gambaran diferensiasi sel, respons
kemoterapi dan survival, akan tetapi didapatkan hubungan yang
bermakna antara variabel klinis jenis tindakan operasi, stadium, dan diferensiasi
sel dengan respons kemoterapi dan survival.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 193-205]
Kata kunci: over ekspresi, Her-2/neu, p53, respons kemoterapi, survival
Efektivitas bladder training terhadap fungsi eliminasi Buang Air Kecil (BAK) pada ibu postpartum spontan
Tujuan: Mengetahui efektivitas bladder training terhadap fungsi
eliminasi buang air kecil (BAK) spontan pada ibu postpartum.
Rancangan/rumusan data: Penelitian ini menggunakan disain
kuasi eksperimen post test only dengan kelompok kontrol.
Tempat: (1) IGD Lt. III RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), (2)
IRNA A Lt. II kanan RSCM.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih
dua minggu pada tahun 2007 dengan jumlah sampel 70 responden.
Kelompok kontrol sejumlah 36 responden dan pada 34 orang responden
kelompok intervensi mendapat perlakuan bladder training. Kedua
kelompok dinilai kemampuan BAK spontan setiap 2 jam sampai 6 jam
postpartum. Untuk menguji hubungan karakteristik yang juga merupakan
variabel counfonding dengan kemampuan eliminasi BAK, uji
yang digunakan korelasi, t test, dan Anova.
Hasil: Bladder training mempengaruhi waktu terjadinya BAK pada
ibu postpartum. Tidak ada perbedaan bermakna terjadinya eliminasi
BAK spontan dengan karakteristik umur, berat badan bayi, dan lama
kala II. Ada perbedaan bermakna terjadinya eliminasi BAK spontan antara
kelompok kontrol dan intervensi dengan paritas dan keadaan perineum.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi kemampuan eliminasi
BAK spontan pada ibu postpartum adalah primipara dan keadaan perineum
yang tidak utuh.
Kesimpulan: Bladder training dapat dilakukan mulai 2 jam postpartum
dan hasilnya efektif untuk mengembalikan fungsi eliminasi BAK
spontan pada ibu postpartum, sehingga disarankan agar intervensi ini
dapat diterapkan.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 206-11]
Kata kunci: bladder training, eliminasi buang air kecil (BAK),
postpartum spontan
Bcl-2 dan Indeks Apoptosis pada Hiperplasia Endometrium non-atipik simpleks dan kompleks
Tujuan: Untuk menilai perbedaan dan hubungan ekspresi Bcl-2 dan
indeks apoptosis pada hiperplasia endometrium non-atipik simpleks dan kompleks.
Bahan dan cara kerja: Blok parafin jaringan hiperplasia endometrium
non-atipik dari hasil kuretase bertingkat sebanyak masingmasing
28 kasus hiperplasia simpleks dan kompleks. Ekspresi protein
Bcl-2 dinilai dengan pengecatan imunohistokimia dan ditentukan persentase immuno-staining Bcl-2 pada kelenjar endometrium serta intensitas staining. Penilaian apoptosis pada potongan jaringan yang sama dengan menggunakan metode terminal deoxynucleotidyl transferasemediated deoxy-uridine triphosphate nick end labeling (TUNEL) assay.
Persentase jumlah positif sel dan sel yang mengalami apoptosis dihitung dalam 10 lapangan pandang (dengan pembesaran 40 x). Analisis data untuk uji beda 2 kelompok tidak berpasangan dan korelasi dengan derajat kemaknaan p ≤ 0,05 serta dilakukan perhitungan rasio prevalensi.
Hasil: Karakteristik subjek pada kedua kelompok sama. Tidak terdapat
perbedaan intensitas staining positif kuat pada epitel kelenjar
hiperplasia simpleks 85,7% pada hiperplasia kompleks 96,4% (p =
0,176). Ekspresi Bcl-2 pada hiperplasia endometrium kompleks lebih
tinggi dibandingkan yang simpleks (p = 0,013). Nilai ekspresi Bcl-2
dengan cut off point 0,92 didapatkan bahwa endometrium dengan Bcl-2 ≥ 0,92 mempunyai risiko 2,6 kali untuk terjadinya hiperplasia non-atipik kompleks (p = 0,001; Rasio Prevalensi 2,6; 95%, CI = 1,3 - 5,1). Indeks apoptosis pada hiperplasia endometrium simpleks lebih tinggi dibandingkan yang kompleks (p = 0,014). Nilai indeks apoptosis dengan cut off point 9 menunjukkan bahwa pada endometrium dengan indeks apoptosis ≥ 9 mempunyai risiko 3,8 kali terjadinya hiperplasia non-atipik simpleks (p = 0,002; Rasio Prevalensi 3,8; 95%, CI = 1,4 - 9,9). Pada hiperplasia yang simpleks terdapat korelasi negatif derajat sedang antara ekspresi Bcl-2 dan indeks apoptosisnya (r = -0,664; p = 0,000), sedangkan pada yang kompleks tidak adanya suatu korelasi negatif (r = -0,208; p = 0,85).
Kesimpulan: Ekspresi Bcl-2 pada hiperplasia endometrium nonatipik
kompleks lebih tinggi dibanding yang simpleks dan nilai indeks
apoptosis lebih rendah pada hiperplasia kompleks dibandingkan yang
simpleks. Korelasi negatif antara ekspresi Bcl-2 dan indeks apoptosis
hanya didapatkan pada kasus hiperplasia non-atipik simpleks.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 48-55]
Kata kunci: Bcl-2, indeks apoptosis, hiperplasia endometrium nonatipik simpleks dan komplek
Peran polimorfisme gen Collagen type 1 alpha 1 (COL1α1) terhadap penurunan densitas mineral tulang vertebra lumbal akseptor KB suntik DMPA
Tujuan: Untuk menilai dampak pemakaian kontrasepsi suntik DMPA
pada densitas mineral tulang Vertebrata Lumbal (VL.1-4) pada
akseptor jangka panjang (≥ 5 tahun), dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry
(DEXA), sekaligus melihat apakah ada peranan faktor genetik
dalam hal ini polimorfisme gen Collagen type 1 Alpha 1 (COL1α1)
terhadap penurunan DMT pada akseptor KB suntik DMPA tersebut
dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR).
Tempat: Penelitian dilakukan di Makassar antara Januari 2007 -
Maret 2007 pada 31 orang akseptor suntik DMPA jangka panjang (≥ 5
tahun).
Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang.
Hasil: Karakteristik sampel berdasarkan usia terbanyak: 30-35 tahun.
Pendidikan SLTA (61,3%), Berat badan 40-45 kg (77,4%), Tinggi
badan: 145-149 cm (38,7%), Indeks Massa Tubuh (IMT): 20,0-25,0
kg/m2 (87,1%). Ditemukan 19 orang (61,3%), dengan DMT V. Lumbal
normal dan 12 orang (38,7%) dengan DMT V.L-4 dibanding V.L-1 dan
V.L-2. Prevalensi polimorfisme gen COL1α1 pada penelitian ini 45,2%
(32,3% G/T dan 12,9% T/T). Kejadian osteopeni lebih banyak ditemukan
pada subjek yang memiliki gen heterozigot (G/T atau S/s) daripada
subjek yang mempunyai gen homozigot normal (G/G atau S/S) =
(p=< 0,05), dan tidak ditemukan kejadian osteopenia pada subjek yang
memiliki polimorfisme gen homozigot (T/T atau s/s).
Kesimpulan: Akseptor yang memiliki polimorfisme gen heterozigot
(G/T atau S/s) memiliki kecenderungan untuk menderita osteopeni lebih
tinggi daripada yang memiliki gen normal (G/G atau S/S). Di pihak lain,
akseptor yang memiliki polimorfisme gen homozigot (T/T atau s/s) justru
cenderung tidak menderita osteopeni.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 176-84]
Kata kunci: DMT, DMPA, polimorfisme gen COL1α
Effects of Peritoneal Fluid on Sperm Motility and Viability in Endometriosis
Objective: To know the effects of peritoneal fluid on sperm motility and viability in patients with endometriosis.
Design/data identification: This was a laboratory experimental study to peritoneal fluid from endometriosis and non-endometriosis patients who underwent surgery in Dr. Hasan Sadikin Hospital and around with endoscopy facility which fulfill inclusion and exclusion criterias. Experiments was performed in ASTER Fertility Clinic, Dr.
Hasan Sadikin Hospital.
Method: Semen samples were normozoospermic of which has been prepared using swim up method with sperm count 3 x 106/ml. The sperm were exposed to peritoneal fluid from endometriosis and non-endometriosis patients and analyzed at h 0, 1, 3, 6, and 24 to see the difference of sperm motility and viability postincubation with endometriosis peritoneal fluid. The sperm viability was detected using trypan blue 0.4%.
Result: Exposure of sperm to peritoneal fluid reduced sperm motility significantly from the h 6 observation (Zw = 2.17; p = 0.03) and the h 24 (Zw = 2.35; p = 0.01). The sperm viability which incubated with endometriosis peritoneal fluid reduced significantly from h 6 observation (Zw = 1.99; p = 0.04) and the h 24 (Zw = 2.55; p = 0.01).
Conclusion: The endometriosis peritoneal fluid reduced the motility and viability of the sperm began from the h 6 postincubation. This indicate the possibility of involvement of endometriosis peritoneal fluid to infertility.
[Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 18-20]
Keywords: sperm motility, sperm viability, endometriosi
The Comparison of Clinical and Surgical Staging of Cervical Cancer: A Retrospective Study on Patients at Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta, Indonesia
Objective: To evaluate the accuracy of clinical examination in determining the stage of operable cervical cancer and the extent of the disease.
Method: The study involved 58 subjects from outpatient, emergency unit, and ward of Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, from January 2008 to December 2010 with a diagnosis of cervical cancer. Patients who were diagnosed with cervical cancer up to stage IIA were included and patients lost to follow-up, receiving preoperative neo-adjuvant chemotherapy, and died before getting treatment were excluded. The outcomes evaluation were postoperative clinical staging, including the presence of enlarged lymph nodes, parametrial involvement, and tumor size. Lymph nodes, parametrial, and the tumor size were assessed
from the surgery and pathological anatomy results.
Result: The age distribution of 58 subjects ranged from 25 to 70 years (mean 48.39 years, SD 8.82). Squamous cell carcinoma was the most frequent type (44.9%), followed by adenocarcinoma (24.1%). Errors in preoperative clinical staging compared with postoperative was 40% in stage IA1, 9.52% in stage IB1, 17.65% in stage IB2, and 7.14% in stage IIA. Sensitivity, specificity, positive predictive value, and negative predictive value for preoperative
clinical examination of lymph nodes were 11.1%, 100%, 100%, and 85.96%. Sensitivity, specificity, positive predictive value, and negative predictive value for preoperative clinical examination of parametrial involvement were 37.5%, 100%, 100%, and 90.90%. Sensitivity, specificity, positive predictive value, and negative predictive value for preoperative clinical examination of the tumor size were 91.84%, 88.89%, 97.83% and 66.67%.
Conclusion: Clinical examination has limitation, especially in
determining lymph nodes and parametrial involvement. Other diagnostic modalities in determining the extent of the disease is necessary. Enforcement of the right diagnosis in patients with cervical cancer is needed to determine the appropriate treatment.
[Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 25-9]
Keywords: staging, cervical cancer, preoperative, postoperativ
Correlation of Inhibin A Serum Level with Preeclampsia
Objective: The purpose of this research is to analyze the difference of Inhibin A serum level between preeclampsia patients with normal pregnant patients and to analyze the relation between Inhibin A serum level with preeclampsia.
Method: Comparison of average Inhibin A serum level of the preeclampsia group with normal pregnancy was analyzed by using Mann-Whitney test, and the correlation between Inhibin A serum level and preeclampsia was using biserial point correlation test. Samples were obtained from blood of patient suffered preeclampsia
and also normal pregnancy, each containing 17 samples according inclusion and exclusion criterias. Patients came to Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals in August to November 2010.
Result: Characteristic test in two groups of study showed that both groups were homogeny and could compared. Mean level of Inhibin A serum was higher in preeclampsia (1268.08 pg/ml) than normal pregnancy (911.12 pg/ml) (p = 0.042) there was a strong positive correlation between Inhibin A serum level with preeclampsia (r pbi = 0.354; p = 0.027).
Conclusion: From this research, we can conclude that Inhibin A serum level in preeclampsia is higher than normal. There is a positive correlation of Inhibin A serum level with preeclampsia.
[Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 36-9]
Keywords: inhibin A serum, normal pregnancy, preeclampsi