Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Glutathione Peroxidase1 Gene Polymorphism (GPx1 Pro198Leu) in Association with Blighted Ovum

    Get PDF
    Objective: To evaluate salivary GPx-1 gene polymorphism in pregnant women suffering from blighted ovum. Method: In this case-control study, 34 blighted ovum patients and 34 healthy controls were studied. Genomic DNA was extracted from the saliva. The genotypes were determined by restriction fragment length polymorphism (RFLP-PCR) technique. Mad Calc (version 12.1) was used for statistical analysis. Result: The frequency of CC, CT, and TT genotypes of GPx-1 gene were 41%, 44% and 14%, respectively in blighted ovum patients and in healthy volunteers were 44%, 47%, and 8.82-9%, respectively. After statistical analysis, the study showed no significant association between this polymorphism and blighted ovum (with p = 0.63). Conclusion: These results indicated no significant association between GPx-1 (Pro198Leu) polymorphism and blighted ovum. However, further research is required to clarify the role of gene polymorphism in blighted ovum. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 1: 15-18] Keywords: abortion, blighted ovum, glutathione peroxidase-1, GPx- 1, RFLP-PC

    Pergeseran Kausa Kematian Ibu Bersalin di RSU Sanglah Denpasar, Selama Lima Tahun, 1996 - 2000

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui pergeseran kausa kematian maternal di RSU Sanglah dalam periode 1996 - 2000 dibandingkan dengan hasilhasil penelitian sebelumnya. Rancangan/rumusan data: Penelitian dilakukan secara deskriptif. Data yang didapat ditabulasi dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan narasi dan diberikan bahasan sesuai dengan keperluannya. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Sanglah Denpasar. Bahan dan cara kerja: Data sekunder seluruh kematian ibu yang dibahas dalam audit kematian ibu, laporan mingguan serta hasil rekapitulasi data di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Sanglah yang terjadi antara 1 Januari 1996 sampai dengan 31 Desember 2000 dan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Hasil: Didapatkan 48 kasus kematian dari 28.872 persalinan (170/100.000). Dari jumlah itu 33,33% oleh karena perdarahan, 12,5% oleh karena infeksi dan 35,42% karena preeklampsia/eklampsia dan 18,75% karena kelainan medis lain. Telah terjadi pergeseran kausa kematian ibu dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kematian ibu karena perdarahan telah bergeser dari 68,5% (1969 - 1971) menjadi 47,62% (1972 - 1974), 51,61% (1975 - 1977), 28,6% (1988 - 1990), menurun tajam menjadi 7,14% (1993 - 1995). Kematian karena infeksi mengalami naik turun dari 14,8% (1969 - 1971) menjadi 38,09% (1972 - 1974), 12,9% (1975 - 1977), 14,3% (1988 - 1990) dan 7,14% (1993 - 1995). Yang menyolok adalah pergeseran kematian karena preeklampsia/ eklampsia yang meningkat dari 10,8% (1969 - 1971), 22,59% (1975 - 1977), 38,1% (1988 - 1990) dan tertinggi 78,57% (1993 - 1995). Kelainan medis yang menyertai ibu hamil mulai meningkat sebagai penyebab kematian sebesar 10,4% (1969 - 1971), 12,9% (1975 - 1977), 19,1% (1988 - 1990) dan menjadi 18,75% (1996 - 2000). Penyakit medis tersebut misalnya penyakit jantung, gagal ginjal, penyakit hati, stroke, anemia hemolitik dan peritonitis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 175-8] Kata kunci: angka kematian ibu, penyebab kematian

    Preliminary Study: Comparation Study between Parecoxib 40 mg iv and Morphine 5 mg iv As Postoperative Analgesics Following Gynecologic Laparatomy Surgery

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan efektivitas Parecoxib 40 mg iv dengan Morfin 5 mg iv dalam 24 jam pertama pascaoperasi laparotomi ginekologi. Bahan dan cara kerja: Penelitian pendahuluan ini yang berupa penelitian acak tersusun dilakukan pada 20 pasien di RSCM, dibagi dalam kelompok eksperimen (40 mg iv Parecoxib) dan kelompok kelola (Morfin 5 mg iv). Pemantauan dilakukan selama 24 jam. Efektivitas diukur dengan t test dengan variabel VAS (Visual Analog Scale), MAP, denyut jantung, efek samping, dan dosis penanggulangan yang diperlukan pada efek samping. Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok yang berhubungan dengan VAS, MAP, denyut jantung, nausea muntah, dan pethidin tang diperlukan. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok Parecoxib 40 mg iv dan Morfin 5 mg iv sebagai analgesik pascabedah pada laparotomi ginekologi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 223-8] Kata kunci: ginekologi, laparotomi, analgesia, terap

    Kekuatan Otot Dasar Panggul pada Primigravida (Penelitian Pendahuluan)

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui ada tidaknya penurunan kekuatan otot dasar panggul selama kehamilan, yang dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya stres inkontinensia urin. Tempat: Poliklinik Obstetri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan dan cara kerja: Subjek penelitian adalah primigravida. Penilaian dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada kehamilan 20-28 minggu dan 29-36 minggu. Kekuatan otot dasar panggul diukur dengan alat myofeedback, yaitu Myomed 932 (Enraf Nonius, The Nederlands). Pasien melakukan 3 kontraksi maksimal dengan interval istirahat di antaranya. Dari 3 kontraksi tersebut diambil rata-ratanya dalam satuan hPa dan dijadikan sebagai nilai kekuatan otot dasar panggul. Hasil: Selama Oktober 2006 hingga Mei 2007, diperoleh 67 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Karakteristik subjek penelitian: 80,6% berada dalam kelompok umur 18-30 tahun. Hampir berimbang kelompok subjek yang berpendidikan menengah (56,7%) dan tinggi (43,3%). Sebagian besar adalah ibu rumah tangga (61,2%). Tiga kelompok suku bangsa terbanyak yaitu Jawa (29,8%), Betawi (26,9%) dan Sunda (17,9%). Dengan uji t tidak berpasangan, ditemukan bahwa kekuatan otot dasar panggul primigravida pada trimester II dan trimester III tidak terdapat perbedaan bermakna (p = 0,936). Rerata pada trimester II yaitu 30,76 ± 9,60 hPa dan pada trimester III yaitu 30,90 ± 9,67 hPa. Rerata pada seluruh kehamilan yaitu 30,83 ± 9,60 hPa. Kesimpulan: Kecenderungan kekuatan otot dasar panggul yang diukur dengan alat Myomed 932 pada primigravida kehamilan trimester II adalah 30,76 ± 9,60 hPa dan trimester III adalah 30,90 ± 9,67 hPa. Tidak terdapat perbedaan bermakna kekuatan otot dasar panggul pada primigravida kehamilan trimester II dan trimester III. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 77-81] Kata kunci: otot dasar panggul, kekuatan, primigravida, stres inkontinensia uri

    Korelasi kadar endothelin-1 darah tali pusat dan kerusakan vaskular plasenta pada pertumbuhan janin terhambat

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kadar Endothelin- 1 (ET-1) darah tali pusat pada a.Umbilikalis bayi PJT dan normal serta korelasi antara kadar ET-1 dengan kerusakan vaskular plasenta. Tempat: Instalasi Gawat Darurat Obstetri Ginekologi Lantai III RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Bahan dan cara kerja: Enam puluh empat subjek, masing-masing 32 orang untuk kelompok kasus (bayi PJT) dan 32 orang kelompok bayi normal dilakukan pemeriksaan kadar ET-1 darah tali pusat (a.Umbilikalis) dengan metoda ELISA dan perbedaan rerata kadar ET-1 tersebut akan diuji secara statistik. Sampel plasenta dari seluruh subjek penelitian dilakukan pemeriksaan histopatologi dan berdasarkan kriteria Salafia. Hasil: Rerata berat lahir bayi pada kelompok PJT lebih rendah dibandingkan rerata kelompok kontrol (1.843 ± 364,4 vs 3.162,5 ± 327,3 gram, p = 0,000). Perbedaan bermakna secara statistik antara kelompok PJT dan kontrol juga diperoleh dari rerata kadar ET-1 8,15 ± 2,7 vs 5,6 ± 1,7 pg/ml, p = 0,000, skor Salafia 6,78 ± 1,7 vs 3,41 ± 1,4, p = 0,000 dan berat plasenta 344,4 ± 81,9 vs 460,16 ± 70,9 gram, p = 0,000. Korelasi antara kadar ET-1 dengan skor Salafia diperoleh nilai p = 0,01 yang berarti terdapat korelasi yang bermakna antara kedua variabel dengan nilai korelasi 0,395, menunjukkan bahwa korelasinya positif dengan kekuatan yang lemah. Antara kadar ET-1 dengan berat lahir bayi terdapat korelasi yang bermakna dengan nilai korelasinya adalah -0,479 menunjukkan korelasi negatif berarti makin tinggi kadar ET-1 makin rendah berat lahir bayi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar ET-1 darah tali pusat antara bayi PJT dan normal di mana kadar pada PJT lebih tinggi, demikian juga skor Salafia antara kedua kelompok. Ditemukan korelasi positif yang lemah antara kadar ET-1 dan skor Salafia sedangkan antara kadar ET-1 dan berat lahir bayi terdapat korelasi negatif sedang. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 123-30] Kat

    Ekspresi MMP-2 dan TIMP-2 karsinoma endometrium operabel pada lapisan endometrium dan miometrium sebagai pertanda terjadinya invasi miometrium dan metastasis KGB pelvis

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekspresi MMP-2 dan TIMP-2 pada lapisan endometrium dan miometrium dalam dapat dijadikan petanda terjadinya invasi miometrium dan metastasis KGB pelvis karsinoma endometrium. Bahan dan cara kerja: Penelitian bersifat retrospektif. Melakukan pemeriksaan imunohistokimia ekspresi MMP-2 dan TIMP-2 pada lapisan endometrium dan miometrium penderita karsinoma endometrium operabel tahun 1997-2006 dan mengujinya dengan variabel invasi dan metastasis KGB. Hasil: Prevalensi karsinoma endometrium tahun 1997-2006 di RSCM adalah 70 penderita atau 7,0 per tahun. Terdapat 64 penderita yang ditemukan rekam medisnya dan hanya 36 yang dapat ditemukan parafin bloknya dan hanya 30 yang dapat dilakukan pemeriksaan imunohistokimia. Ekspresi MMP-2 maupun TIMP-2 pada endometrium dan miometrium karsinoma endometrium tidak berbeda MMP-2 = 0,78 (0,001), TIMP-2 = 0,79 (0,001). Ekspresi MMP-2 endometrium dan miometrium karsinoma endometrium berhubungan dengan invasi miometrium dan LVSI tetapi tidak dengan metastasis KGB pelvis karsinoma endometrium. Sedangkan ekspresi TIMP-2 pada lapisan endometrium dan miometrium karsinoma endometrium berpengaruh terhadap invasi limfo-vaskular dan metastasis KGB pelvis. Kesimpulan: Pada penelitian ini ekspresi MMP-2 pada endometrium dan miometrium karsinoma endometrium dapat dipakai sebagai pertanda terjadinya invasi > 50% miometrium dan adanya LVSI, tetapi tidak pada metastasis KGB pelvis. Sedangkan ekspresi TIMP-2 pada lapisan endometrium dapat dipakai sebagai pertanda terjadinya LVSI dan metastasis KGB, dan pada lapisan miometrium dapat dipakai sebagai pertanda terjadinya LVSI. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 229-37] Kata kunci: MMP-2, TIMP-2, invasi, metastasis KGB

    Stimulasi ovarium dan hubungannya dengan usia terjadinya menopause

    Get PDF
    Tujuan: Diketahuinya hubungan antara stimulasi ovarium dengan usia terjadinya menopause. Tempat: Poliklinik Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan Klinik Melati RSAB Harapan Kita, di Jakarta. Rancangan/rumusan data: Analisis potong lintang dengan membandingkan usia terjadinya menopause pada perempuan yang pernah mendapat stimulasi ovarium dengan usia menopause pada perempuan yang tidak pernah mendapat stimulasi ovarium di populasi. Bahan dan cara kerja: Dilakukan wawancara pada pasien yang telah menopause di poliklinik ginekologi RSUPN CM. Untuk kasus data diambil dari pasien yang telah mendapatkan stimulasi ovarium dan dilakukan wawancara. Hasil: Didapatkan 267 subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria penerimaan dan kriteria penolakan. Pada kelompok kasus didapatkan usia rata-rata subjek 51,45 tahun. Rata-rata usia menopause pada kelompok kasus adalah 48,04 tahun dengan 27 subjek (19,42 %) mengalami menopause. Pada kelompok kontrol didapatkan usia rata-rata subjek 54,58 tahun. Rata-rata usia menopause kelompok kontrol 49,12 tahun. Menopause dini pada kelompok kontrol sebanyak 13 subjek (10,16%). Dari uji statistik didapatkan bahwa stimulasi ovarium memiliki hubungan yang bermakna dengan timbulnya menopause (p = 0,034), rasio prevalensi didapatkan RP= 2,13 (95% IK 1,04-4,34). Kesimpulan: Stimulasi ovarium merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan terjadinya menopause dini dengan rasio prevalensi sebesar 2,13 (IK 95% 1,04-4,34). [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 242-9] Kata kunci: usia menopause, menopause dini, stimulasi ovarium, fertilisasi in vitro

    Hubungan pajanan infeksi helicobacter pylori dengan kejadian hiperemesis gravidarum

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui keterkaitan dan besar risiko infeksi Helicobacter Pylori terhadap kejadian Hiperemesis Gravidarum. Tempat: Ruang perawatan kebidanan dan poliklinik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, RSPAD Gatot Subroto Jakarta, RSUD Tangerang. Rancangan/rumusan data: Penelitian bersifat Comparative Cross Sectional yang membandingkan adanya Ig G anti Helicobacter Pylori pada kelompok kasus perempuan hamil dengan Hiperemesis Gravidarum dan kelompok kontrol yaitu perempuan hamil yang asimptomatik. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan selama 15 bulan (Agustus 2006 - Oktober 2007). Selama periode tersebut didapat 55 perempuan hamil usia gestasi 6-16 minggu yang menderita Hiperemesis Gravidarum dan 55 perempuan hamil asimptomatik dengan usia gestasi yang sama. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, ultrasonografi, pemeriksaan laboratorium: darah tepi, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, gula darah, urinalisa, keton urin dan serologi IgG anti Helicobacter Pylori. Adanya infeksi Helicobacter Pylori ditandai dengan adanya IgG pada serum sampel yang ditegakkan dengan pemeriksaan ELISA di Laboratorium Biomedik RSU Mataram, sedangkan diagnosis Hiperemesis Gravidarum ditegakkan dengan gejala klinis dan keton urin positif. Data penelitian diolah dengan menggunakan program STATA 8, analisa kesetaraan kelompok penelitian dengan uji chi square dan analisa multivariat dengan metoda regresi logistik bagi variabel independen yang menunjukkan kemaknaan pada analisa bivariat. Hasil: IgG anti Helicobacter Pylori positif didapat pada 37 perempuan (67,3%) kelompok kasus, dan 19 perempuan (34,5%) kelompok kontrol. Prevalensi Helicobacter Pylori seropositif pada kelompok kasus 56,97% - 77,63% dan pada kelompok kontrol 29,96% - 39,04% (95% CI). Terdapat hubungan bermakna antara infeksi Helicobacter Pylori dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,001). Didapati pula hubungan bermakna antara indeks masa tubuh (IMT) 25 dengan kejadian Hiperemesis Gravidarum (p 0,014). Tidak didapati perbedaan bermakna pada usia, pendidikan, pekerjaan serta jumlah anak. Kesimpulan: Perempuan hamil muda yang terinfeksi Helicobacter Pylori dan perempuan hamil muda dengan berat badan berlebih, berisiko lebih tinggi mengalami Hiperemesis Gravidarum. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 143-50] Kata kunci: infeksi helicobacter pylori, serologi, hiperemesis gravidaru

    Pengaruh pemberian clomiphene citrate atau letrozole terhadap folikel, endometrium dan lendir serviks (uji klinik pada perempuan infertil dengan gangguan ovulasi WHO II)

    Get PDF
    Tujuan: Untuk membandingkan perbedaan diameter folikel, jumlah folikel matur, kualitas endometrium, kualitas lendir serviks dan keberhasilan ovulasi antara pemberian clomiphene citrate (CC) atau letrozole. Bahan dan cara kerja: Uji acak terkontrol buta berganda dengan desain paralel tanpa matching mulai periode 1 September 2007 sampai 31 Januari 2008 di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Jumlah sampel adalah 40 perempuan infertil dengan gangguan ovulasi WHO II terbagi masingmasing 20 subjek pada kelompok CC dan kelompok letrozole dengan randomisasi blok. Variabel bebas adalah CC (50mg/hari) dan letrozole (2,5mg/hari) diberikan pada siklus haid hari ke-3 sampai 7. Variabel tergantung adalah diameter folikel, jumlah folikel matur, kualitas endometrium, kualitas lendir serviks dan keberhasilan ovulasi. Analisis data untuk uji beda 2 kelompok tidak berpasangan dengan chi square, t test, Mann Whitney dan uji korelasi Lambda dan Spearman, dengan derajat kemaknaan

    Profile of pregnant women with tuberculosis at the tuberculosis policlinic of the eradication of tuberculosis, Tuberculosis Foundation, Baladewa Central Jakarta

    Get PDF
    Objective: To know profile of pregnant women with tuberculosis at PPTI Baladewa polyclinic Jakarta, to evaluate impacts of tuberculosis medicinal treatment on pregnancy and to know the obstacles of pregnant women to look for tuberculosis treatment. Methods: Subjects were all pregnant women with tuberculosis and received tuberculosis treatment at polyclinic of PPTI Baladewa from January 2006 - December 2007. We reviewed medical record and did home visitation to fill questioners. Results: All subjects were in reproductive age and most of all were low socio-economic group. Pulmonary tuberculosis was found in 88.2% cases and Extrapulmonary tuberculosis in 11.8% cases. We found 29.4% relapse cases and 11.8% multi-drug resistance. Sputum examination with a smear positive for acid fast-bacillus was found in 52.9% cases. There was abnormality for all chest x-rays. The third most frequently symptoms were cough more than two weeks (88.2%), weight loss (88.2%) and anorexia (82.4%). Average time for the patients to look for treatment was 50.71 ± 31.2 days. The patients need more time because most of the symptoms are also present in pregnancy, the patients know absolutely nothing about TB and healthcare provider didn’t examine carefully. Treatment for the patients was given immediately without considering the gestational age. Conclusion: No harmful effect was observed for neonates even if the drugs were given in the first trimester of pregnancy. [Indones J Obstet Gynecol 2009;33-4:210-5] Keywords: profile, pregnancy, tuberculosi

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇