Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Differences in Serum Lipid Profile Value in Pregnancy and Postpartum on Severe Preeclampsia: Perbandingan Kadar Profil Lipid Serum pada Preeklampsia Berat dalam Kehamilan dan Postpartum
Abstract
Objective:Uncovering the connection of serum lipid profile (total cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, VLDL) with preeclampsia in pregnancy and postpartum, and its outcome.
Method:This is a cross-sectional comparative analytic study
Result:From 28 preeclampsia subject were found, mean value of systole 165.36 mmHg and 105.71 diastole. Serum lipid profile in pregnancy and postpartum has a significant differences and correlated with preeclampsia, total cholesterol 234.5 mg/dl and 192.71 mg/dl, p=0.000; medium positive in pregnancy with systole r=0.461; p=0.013, weak positive with diastole r=0.380; p=0.046; postpartum with systole medium positive r=0.615; p=0.001, and weak positive with diastole r=0.317; p=0.100. LDL 140.5 mg/dl and 102.5 mg/dl, p=0.000; pregnancy and systole r=0.446; p=0,017; and postpartum were medium positive r=0.546; p=0.003. HDL 51.5 mg/dl and 43.5 mg/dl, p=0.003; not correlated with BP. Triglyceride 268.89 mg/dl and 208.96 mg/dl, p=0.000; pregnancy r=0.516; p=0.005; postpartum r= 0.515; p=0.005 has medium correlation with systole. VLDL 53.78 mg/dl and 41.79, p=0.000; pregnancy r=0.461; p=0.013 systole medium positive; r=0.380; p=0.046 diastole weak positive; postpartum r=0,615; p=0,001 systole strong positive.
Conclusion:All parameter of serum lipid profile in pregnancy and postpartum has significant differences and related with severe preeclampsia. Total cholesterol, LDL, triglyceride, and VLDL correlated with BP in severe preeclampsia.
Key word:endothelial dysfunction, lipid profile, preeclampsia.
Abstrak
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan profil lipid serum (kolesterol total, trigliserida, HDL, LDL, VLDL) dengan preeklampsia dan luarannya dalam kehamilan dan postpartum.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang analitik komparatif
Hasil: Dari 28 subjek dengan preeklamsia, ditemukan rerata systole 165,36 mmHg dan 105,71 diastole. Profil lipid serum dalam kehamilan dan postpartum ditemukan berbeda bermakna dan berhubungan dengan preeklampsia berat, kolesterol total 234,5 mg/dl dan 192,71 mg/dl, p=0,000; kehamilan dengan sistole positif sedang r=0,461; p=0,013, diastole positif lemah r=0,380; p=0,046; postpartum dengan sistole positif sedang r=0,615; p=0,001, dan diastole postitif lemah r=0,317; p=0,100. LDL 140,5 mg/dl dan 102,5 mg/dl, p=0,000; dalam kehamilan dengan sistole r=0,446; p=0,017; dan postpartum positif sedang r=0,546; p=0,003. HDL 51,5 mg/dl dan 43,5 mg/dl, p=0,003; tidak berkorelasi dengan TD. Trigliserida 268,89 mg/dl dan 208,96 mg/dl, p=0,000; kehamilan r=0,516; p=0,005; postpartum r= 0,515; p = 0,005 korelasi positif sedang dengan sistole. VLDL 53,78 mg/dl dan 41,79, p=0,000; kehamilan r=0,461; p=0,013 positif sedang dengan sistole; r=0,380; p=0,046 positif lemah dengan diastole; postpartum r=0,615; p=0,001 positif kuat dengan sistole.
Kesimpulan: Seluruh parameter profil lipid serum kehamilan dan postpartum ditemukan memiliki perbedaan bermakna dan berhubungan dengan preeklampsia berat. Kolesterol total, LDL, trigliserida, dan VLDL ditemukan berhubungan dengan TD pada PEB.
Kata kunci: disfungsi endothel, lipid, preeklampsia
Relationship of the Role of Counselor, Knowledge, Trust, Values, and Social Relationship in Contraception Acceptors’ Decision of Using Intrauterine Device (IUD): Hubungan Faktor Peran Konselor, Pengetahuan, Kepercayaan, Nilai, dan Kekerabatan terhadap Keputusan Akseptor KB untuk Menggunakan Kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)
Abstract
Objective: to assess the relationship of the role of counselor, knowledge, trust, values, and social relationship regarding acceptors’ decision in using intrauterine device at Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang.
Method: An observational analytical cross-sectional research carried out on June 2017 until September 2017 in the Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Mohammad Hoesin General Hospital. 40 subjects were included. The frequency and distribution data were described in table form, bivariate analysis was performed to assess the relationship between independent and dependent variables statistically using Chi-square/Fisher Exact test. Multivariate analysis using logistic regression test was performed to assess which independent variable affects acceptors’ decision the most. Data analysis was performed using SPSS 18.0 version.
Results: There were no statistically differences in age, duration of marriage, parity, number of children born alive, abortion, education, and jobs between the two groups (p<0.05). There was statistically significant relationship between knowledge, social relationship, and the role of counselor with contraception acceptors’ decision (p<0.005), but there was no significant relationship between trust and values with contraception acceptors’ decision (p>0.05). Meanwhile, the logistic regression analysis showed that the role of counselor significantly affects contraception acceptors’ decision (PR=108.989, p value=0.002).
Concluson: The role of counselor is a factor that affects contraception acceptors’ decision in using IUD.
Keywords: IUD, role of counselor, social relationship, trust, values, knowledge
Abstrak
Tujuan: untuk mengetahui hubungan faktor peran konselor, pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan kekerabatan terhadap keputusan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang.
Metode: Penelitian analitik observasional rancangan cross sectional ini dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang sejak bulan Juni sampai September 2017. Didapatkan sampel sebanyak 40 wanita melahirkan memenuhi kriteria inklusi. Frekuensi dan distribusi data dijelaskan dalam bentuk tabel, analisa bivariat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan secara statistik antara variabel bebas dan dengan variabel terikat menggunakan uji Chi Square/Fisher Exact dan analisis multivariat untuk mengetahui variabel independen mana yang paling besar pengaruhnya terhadap keputusan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD menggunakan uji Regresi Logistik. Analisa data menggunakan SPSS versi 18.0.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan karakteristik pasien baik usia, lama pernikahan, paritas, jumlah anak hidup, abortus, pendidikan dan pekerjaan antara kedua kelompok (p<0,05). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, kekerabatan, dan peran konselor dengan keputusan akspetor KB IUD (p<0,05), namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaan dan nilai dengan keputusan akspetor KB IUD (p > 0,05). Pada analisis regresi logistik didapatkan hasil peran konselor berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan akseptor KB IUD (PR = 108,989, p value = 0,002).
Keimpulan: Peran konselor merupakan faktor yang mempengaruhi keputusan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
Kata Kunci: IUD, Peran Konselor, Kekerabatan, Kepercayaan Nilai, Pengetahuan
Microscopic Examination of Urine Samples as the Early Detection of Asymptomatic Urinary Tract Infection in Pregnant Women: A Cross-Sectional Study: Uji Mikroskopik Spesimen Urin sebagai Deteksi Dini Infeksi Saluran Kemih tidak Bergejala pada Perempuan Hamil: Sebuah Studi Potong Lintang
Abstract
Objectives:To investigate the role of microscopic examination of urine sample in supporting early diagnosis of asymptomatic urinary tract infection (UTI) in pregnant women. To compare correspondence between microscopic examination and urine culture result as a gold standard diagnostic modality to support the diagnosis of UTIs and as an evidence-based to start empirical therapy.
Methods: Microscopic analysis was conducted in 74 centrifuged and non-centrifuged urine samples from 317 pregnant who came to six healthcare centres in Jakarta, which showed a positive result of nitrite examination. The results of the microscopic examination of bacteriuria and leukocyturia were compared with a urine culture.
Results: Sensitivity of centrifuged bacteriuria was the highest among the other microscopic parameters, which was 74% with the p-value of 0.009. Combination of bacteriuria and leukocyturia≥3/HPF dan≥5/HPF have increased the specificity with the value of 91.5% and 93.6% in non-centrifuged urine.
Conclusion: This result showed that the best method of microscopic examination for early diagnosis of asymptomatic urinary tract infection in pregnant women is the detection of bacteriuria in centrifuged urine. Combination of bacteriuriaandleukocyturiatest, as well as leukocyturia≥3/HPF and≥5/HPF, can be used to rule out the diagnosis of UTI at an early stage.
Keywords: asymptomatic urinary tract infection, bacteriuria, leukocyturia,microscopic examination, urine culture.
Abstrak
Tujuan: Mengetahui peran pemeriksaan mikroskopis sampel urin dalam mendukung diagnosis dini infeksi saluran kemih asimptomatik (ISK) pada perempuan hamil. Membandingkan kesesuaian antara pemeriksaan mikroskopis dan hasil kultur urin sebagai modalitas diagnostik standar emas untuk mendukung diagnosis ISK dan sebagai dasar bukti untuk memulai terapi empiris.
Metode: Penelitian uji mikroskopik dilakukan pada 74 sampel urin disentrifugasi dan tidak sentrifugasi, dari 317 sampel urin perempuan hamil yang berobat ke-enam puskesmas di Jakarta dengan uji nitritpositif. Hasil uji mikroskopik bakteri uria dan leukosit uria dibandingkan dengan hasil kultururin.
Hasil: Sensitivitas bakteriuria yang disentrifugasi menunjukan hasil yang paling baik dibandingkan dengan parameter uji mikroskopik lain, yaitu 74% dengan nilai p yang bermakna sebesar 0,009. Kombinasi bakteri uria dan leukosituria ≥3/LPB dan ≥5/LPB dapat meningkatkan spesifisitas uji dengan nilai 91,5% dan 93,6% pada urin yang tidak disentrifugasi.
Kesimpulan: Hasil menunjukkan bahwa bakteri uria pada urin yang disentrifugasi, merupakan metode yang paling baik untuk membantu diagnosis dini ISK tidak bergejala pada perempuan hamil. Uji kombinasi bakteri uria dan leukosituria, serta uji leukosituria ≥3/LPB dan ≥5/LPB dapat dimanfaatkan untuk membantu secara dini menyingkirkan orang yang tidak mengalami ISK.
Kata kunci: bakteriuria, infeksi saluran kemih tidak bergejala, kultur urin,leukosituria, uji mikroskopi
Improvement Knowledge and Attitude about Adolescent’s Reproductive Health through Education Intervention in Junior and Senior High: Peningkatan Pengetahuan dan Sikap tentang Kesehatan Reproduksi Remaja melalui Intervensi Penyuluhan pada Siswa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas Negeri
Abstract
Objective:To determine the changesin point of view and positive attitudes towards adolescent reproductive health in junior and senior high school students in Southeast Sulawesi after counseling interventions.
Methods: Experimental Research with The One Group Pretest-Posttest Design. The population in the study were all adolescents aged between 12-19 years as students in Southeast Sulawesi. The sampling was performed by Simple stratified random sampling technique with a sample of 300 people for middle and high school students. The instrument used was a questionnaire with data analysis by using the t-test.
Results:Showed that the level of knowledge and attitudes of students about adolescent reproductive health was differed between pretest & posttest in junior and senior high school students (Ï<0.05),because the students who were given counseling interventions with lecture methods, powerpoint, and discussion, will add to the broader understanding and insight and tend to generate positive responses from studentsm so that they have good basic knowledge and attitudes about adolescent reproductive health.
Conclusion:The study was the increase in knowledge and positive attitudes about adolescent reproductive health after counseling interventions.
Keywords:adelescent, counseling, knowledge and attitude, reproductive health
Abstrak
Tujuan:Untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan sikap yang positif tentang kesehatan reproduksi remaja pada siswa SMP dan SMA Negeri di Sulawesi Tenggara setelah dilakukan intervensi penyuluhan.
Metode: Penelitian Eksperimen (pre-experiment) dengan rancanganThe One Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian adalah keseluruhan remaja yang berusia antara 12-19 tahun yang sementara berstatus sebagai siswa SMP dan SMA Negeri di Sulawesi Tenggara. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknikSimple stratified random sampling dengan jumlah sampel 300 orang untuk siswa SMP dan SMA.Instrumen yang dipakai adalah angket dengan analisis data menggunakan uji-t.
Hasil:Menunjukkan tingkat pengetahuan dan sikap siswa tentang kesehatan reproduksi remaja berbeda antara pretest dan posttest pada siswa SMP dan SMA Negeri di Provinsi Sulawesi Tenggara (Ï value< 0,05).Hal ini disebabkan karena pada siswa SMP dan SMA Negeri di Provinsi Sulawesi Tenggara yang diberikan intervensi penyuluhan dengan metode ceramah, visualisasi (power point), dan tanya jawab, akan menambah pemahaman dan wawasan yang lebih luas dan cenderung menimbulkan respon yang positif dari siswa sehingga memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan reproduksi remaja.
Kesimpulan:Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap yang positif tentang kesehatan reproduksi remaja setelah intervensi penyuluhan.
Kata Kunci:remaja,penyuluhan, pengetahuan dan sikap, kesehatan reproduks
The 45o Mediolateral Episiotomy: Does it Reduce to the Incidence of Extended Laceration Incidence and Postlabour Pain? Episiotomi Mediolateral 45 Derajat terhadap Kejadian Perluasan Cedera dan Nyeri Pascasalin pada Primigravida
Abstract
Objective: To see the relation between 45 and 60 degrees mediolateral episiotomy to extended laceration incidence and post labor pain in primigravida.Method: The research used simple randomization design which was conducted in the Department of Obstetrics and Gynecology, Teaching Hospital, Faculty of Medicine, Universitas Hasanuddin from April 2018 to September 2018. There were 80 samples for the 45 degrees mediolateral episiotomy group and 80 samples for the 60 degrees group.Result: After the Chi-Square correlation test has been carried out, the research result indicates that there is higher incidence in 60 degrees mediolateral episiotomy group in extended perineal laceration (p=0.002), and Fisher Exact test shows that post labor pain (p=0.000) higher in the same group compared to the 45 degrees group.Conclusion: Mediolateral episiotomy 45 degrees has lower extended perineal laceration and post labor pain compared to the 60 degrees group.Key Words: episiotomy, mediolateral 45, mediolateral 60, perineal laceration, postlabor pain, primigravida
Abstrak
Tujuan: mengetahui hubungan episiotomi mediolateral 45 dan 60 derajat terhadap kejadian perluasan cedera dan nyeri pasca salin pada primigravida.Metode: simple randomization. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Pendidikan Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin periode April 2018–September 2018. Total sampel yang diperoleh adalah 80 untuk kelompok 45 derajat dan 80 sampel untuk kelompok 60 derajat.Hasil: setelah dilakukan uji hubungan dengan Chi Square terdapat hubungan yang signifikan pada episiotomi 60 derajat dengan kejadian perluasan cedera (p=0.002) dan uji Fisher menyatakan hubungan bermakna nyeri pasca salin pada kelompok yang sama (p=0,000) dibandingkan episiotomi 45 derajat. Episiotomi mediolateral 45 derajat memiliki luaran lebih sedikit menyebabkan kejadian perluasan cedera dan nyeri pasca salin dibandingkan episiotomi 60 derajat.Kata kunci: episiotomi, mediolateral 45, mediolateral 60, ruptur perineum, nyeri pasca salin, primigravid
The Influence of Education Level and Occupation of Pregnant Women to the use of Maternal and Child Health (MCH) Handbook: Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan Ibu Hamil dengan Pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Abstract
Objective: to investigate the relationship between education level and occupation of pregnant women with MCH handbook utilization at the Pekauman Public Health Center of Banjarmasin in July–August 2018.
Methods: the method that was used is analytical observational research with cross-sectional design. The number of research sample is 50 people with systematic random sampling techniques, and data were analyzed by chi-square statistical tests.
Results: the majority of respondents were34 pregnant women (68%) with low education level, and36 pregnant women (72%) were unemployed. There were 36 pregnant women (72%) with ineffective MCH handbook utilization. The statistical result between education level of pregnant women with MCH handbook utilization is p-value = 0.005 (p < 0.05) and between occupation of pregnant woman with MCHhandbook utilization is p-value = 0.001 (p <0.05).
Conclusion: there a significant relationship of education leveland occupation of pregnant women with MCH handbook utilization at the Pekauman Public Health Center of Banjarmasin in July-August 2018.
Keywords: level ofeducation, occupation, MCH handbook
Abstrak
Tujuan: untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan Ibu hamil dengan pemanfaatan buku KIA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Periode Juli–Agustus 2018
Metode: metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Besar sampel penelitian adalah 50 orang dengan teknik pengambilan systematic random sampling dan datadianalisis dengan uji statistik chi square
Hasil: sebagian besar responden adalah 34 ibu hamil (68%) dengan tingkat pendidikan rendah dan 36 ibu hamil (72%) yang tidak bekerja. Terdapat 36 ibu hamil (72%) dengan pemanfaatan buku KIA yang tidak efektif. Hasil uji statistik antara tingkat pendidikan ibu hamil dengan penggunaan buku KIA adalah p value = 0.005 (p < 0.05) dan antara pekerjaan ibu hamil dengan pemanfaatan buku KIA adalah p value = 0.001 (p < 0.05).
Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakana tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu hamil dengan pemanfaatan buku KIA di Puskesmas Pekauman Banjarmasin periode Juli–Agustus 2018
Kata kunci: tingkatpendidikan, pekerjaan, buku KI
Factors Affecting the Drop Out Rate of Family Planning Intrauterine Device: Hubungan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Drop Out Peserta Akseptor Keluarga Berencana IUD dengan Tingkat Kepatuhan
Abstract
Objective: to assess the association between risk factors related to IUD acceptors' compliance at RSMH Palembang.
Methods: This cross-sectional study was conducted in the Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Mohammad Hoesin Hospital/Faculty of Medicine Sriwijaya University Palembang since May - December 2017. Subjects were women who use IUD contraceptives in the Department of Obstetrics and Gynecology Dr.MohammadHoesin Hospital Palembang and meet our inclusion and exclusion criteria. Medical counselling, knowledge, and side effects were assessed using a questionnaire. Data were analyzed by Chi-square test using SPSS software version 17.
Results: There was a significant relationship between side effects and compliance of IUD use. There was no significant correlation between knowledge and medical counselling with compliance of IUD.
Conclusions: Side effects associated with compliance of IUD.
Keywords:compliance, contraception, IUD
Abstrak
Tujuan: mengetahui hubungan faktor-faktor resiko yang bermakna dalam mempengaruhi kepatuhan peserta akseptor IUD di RSMH Palembang.
Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang sejak Mei – Desember 2017. Sampel penelitian ini adalah perempuan yang menggunakan kontrasepsi IUD di Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Konseling medik, pengetahuan, dan efek samping dinilai dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Chi square menggunakan SPSS versi 17.
Hasil: Ada hubungan bermakna antara efek samping IUD dengan kepatuhan pemakaian IUD. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dan konseling medic dengan kepatuhan akseptor IUD.
Kesimpulan: Efek samping IUD mempengaruhi kepatuhan pemakaian IUD.
Kata kunci: IUD, kontrasepsi, kepatuhan
Concordance of Human Papillomavirus Type 16 and 18 in Cervical and Oral Specimen of Cervical Cancer Patients: Perbandingan Tingkat Kesesuaian Hasil Identifikasi Human Papilomavirus Tipe 16 dan 18 antara Spesimen Serviks dan Oral pada Penderita Kanker Serviks
Abstract
Objective : To determine the conformity of HPV type 16 and 18 in cervical and oral/buccal specimens from cervical cancer patients.
Methods :A cross-sectional study was conducted in March - September 2016 at several hospitals in Makassar. HPV 16 and 18 genotyping in cervical and oral fluid of 77 patients with cervical cancer performed with PCR method.
Results : The prevalence of HPV type 18 infection both in the cervical and the oral fluid was higher than HPV type 16 [9(47.4%) vs 5(26.3%)]. The aggreement of HPV type 18 infection (r=0.328;p=0.000) in the cervical-oral sites was higher than HPV type 16 (r=0.194;p=0.042).
Conclusion : HPV type 16 and 18 could infect both cervix and oral cavity although type-specific concordance is low.
Keywords :Human papillomavirus,servix, oral cavity
Abstrak
Tujuan: Mengetahui tingkat kesesuaian hasil pemeriksaan HPV tipe 16 dan 18 antara spesimen serviks dan oral/buccal pada penderita kanker serviks.
Metode: Penelitian cross sectional ini dilakukan pada Maret – September 2016 pada beberapa rumah sakit di Makassar. Pemeriksaan HPV 16 dan 18 pada cairan serviks dan oral dari 77 orang penderita kanker serviks menggunakan teknik PCR.
Hasil: Prevalensi infeksi bersama pada serviks dan oral HPV tipe 18 lebih tinggi dibandingkan HPV tipe 16 [9(47,4%) vs 5(26,3%)]. Tingkat kesesuaian antara HPV tipe 18 (r=0,328;p=0,000) pada serviks dan oral lebih tinggi dibandingkan tipe 16 (r=0,194;p=0,042).
Kesimpulan: HPV tipe 16 dan 18 dapat menginfeksi serviks dan oral meskipun tingkat kesesuaian kedua tipe ini lemah.
Kata kunci : Human papillomavirus, serviks, kavum ora
Relationship of Serum Cortisol Levels with Postpartum Blues on Dystocia Labor: Hubungan Kadar Kortisol Serum dengan Kejadian Postpartum Blues pada Persalinan Distosia
Abstract Objective: To determine the relationship of elevated serum cortisol levels in the mother with dystocia labor
Methods :this study was a prospective cohort, with mother who had dystocia labor as case group and mother with normal delivery as control group at RSUP Prof.DR.RD Kandou, and affiliation hospitals from October 2016 until March 2017. Data were analyzed With SPSS version 2.0 to see the significancy level.
Results: from 32 cases, 16 cases with dysocystia labor and 16 cases with normal delivery. Of all cases with abnormal postpartum serum cortisol levels, the most were housewives with 14 cases (70%), based on educational level, most of whom below bachelor degree were 18 cases (90%). While cases with EPDS(Edinburgh postpartum depresson scale) score ≥10, found the most patients who underwent a cesarean section as many as 11 cases (68.75%). In the Mann-Whitney statistical test, it showed that serum cortisol levels (p=0.007) and EPDS score (p=0.001) had a significant relationship for risk of postpartum blues in dystocia labor.
Conclusions: there was a significant relationship between serum cortisol levels and EPDS score with risk of postpartum blues on dystocia labor.
Keywords: dystocia labor, EPDS score, postpartum blues, serum cortisol level.
Abstrak
Tujuan : mengetahui adanya hubungan peningkatan kadar kortisol serum pada ibu dengan persalinan distosia.
Metode : penelitian ini adalah jenis kohort prospektif (cohort prospective), dengan kelompok ibu yang melahirkan dengan persalinan distosia sebagai kelompok kasusdan ibu yang melahirkan tanpa komplikasi persalinan sebagai kelompok kontrol di Bagian Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof.DR.R.D Kandou, dan RS jejaring mulai Oktober 2016 sampai Maret 2017.Data dianalisa dengan SPSS versi 2.0 untuk melihat tingkat kemaknaannya.
Hasil : dari 32 subjek penelitian, 16 subjek dengan persalinan distosia dan 16 subjek dengan persalinan normal. Dari seluruh subjek penelitian yang mempunyai kadar kortisol serum postpartum abnormal,berdasarkan jenis pekerjaan, paling banyak adalah ibu rumah tangga dengan 14 subjek (70 %).Berdasarkan tingkat pendidikan, didapatkan paling banyak adalah SD,SMP,SMA sebanyak 18 subjek (90%). Sedangkan subjek yang mempunyai skor EPDS ≥ 10, ditemukan paling banyak subjek yang menjalani prosedur bedah sesar sebanyak 11 pasien (68,75%). Dalam uji statistik Mann-Whitney, menunjukkan bahwa kadar kortisol serum .(p=0.007) dan skor EPDS (p=0.001) mempunyai hubungan yang kuat untuk terjadinya postpartum blues pada persalinan distosia.
Kesimpulan : terdapat hubungan bermakna kadar kortisol serum dan skor EPDS dengan postpartum blues pada persalinan distosia.
Kata kunci : kadar kortisol serum, persalinan distosia, postpartum blues, skor EPDS