E-Journal Universitas Janabadra
Not a member yet
1365 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU PETANI TERHADAP RISIKO PRODUKSI BUNGA MELATI PUTIH (Jasminum sambac L.) DI DESA DEPOK
This study aims to determine the factors that influence farmers’ behavior towards the risk of white jasmine flower production. The sampling technique used was simple random sampling with a total sample of 30 white jasmine flower growers. This research was conducted in Depok Village, Kandeman District, Batang Regency, which is an area that produces the highest white jasmine flower production in Central Java. Data analysis technique used was multiple linear regression analysis. The results showed that together all independent variables influenced farmers’ behavior towards the risk of white jasmine flower production with an F calculated value of 14,593 > F table value of 2,60. However, based on the results of the t test (partial test), the factors that influence farmer behavior towards the risk of white jasmine flower production are the age factor with t count 3,983 > t table (2,064), the length of education factor with t count -3,931 > t table (2,064), the total factor of farmer family members with a t count value -4,029 > t table (2,064) and a factor of farming experience with a t count value -7,494 > t table (2,064), while the land area factor does not partially affect farmer behavior on the risk of white jasmine flower production because the t value is 1,866 < t table (2,064). The coefficient of determination (R2) is 0,752, meaning that 75,2% of changes in the independent variables affect changes in the dependent variable, while the rest are influenced by other factors not discussed in this study. Keywords: White Jasmine, Farmer’s Behavior, Depok VillageINTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku petani terhadap risiko produksi bunga melati putih. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 petani bunga melati putih. Penelitian ini dilakukan di Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang yang merupakan daerah penghasil produksi bunga melati putih tertinggi di Jawa Tengah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama seluruh variabel independen memengaruhi perilaku petani terhadap risiko produksi bunga melati putih dengan nilai F hitung sebesar 14,593 > nilai F tabel yaitu 2,60. Akan tetapi, berdasarkan hasil uji t (uji parsial), faktor-faktor yang memengaruhi perilaku petani terhadap risiko produksi bunga melati putih adalah faktor umur dengan nilai t hitung 3,983 > t tabel (2,064), faktor lama pendidikan dengan nilai t hitung -3,931 > t tabel (2,064), faktor total anggota keluarga petani dengan nilai t hitung -4,029 > t tabel (2,064) dan faktor pengalaman usahatani dengan nilai t hitung -7,494 > t tabel (2,064), sedangkan faktor luas lahan secara parsial tidak memengaruhi perilaku petani terhadap risiko produksi bunga melati putih karena nilai t hitungnya 1,866 < t tabel (2,064). Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,752, artinya 75,2% perubahan variabel independen berpengaruh terhadap perubahan variabel dependen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Kata Kunci: Melati Putih, Perilaku Petani, Desa Depo
KESUKSESAN WIRAUSAHAWAN MUDA DI SETIA FARM, PURWOREJO
Salah satu anak muda yang berhasil membangun usaha atau bisnis adalah Setyo Hermawan (23 tahun) pendiri Setia Farm di Purworejo, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses kewirausahaan yang dilakukan Setia Farm serta faktor pendukung dan penghambat dalam mengelola kewirausahaan di Setia Farm. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain penelitian one-shot atau cross-sectional. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa Proses Kewirausahaan Setia Farm memiliki rasa tanggung jawab terhadap usaha yang dijalankan yang sejalan dengan usaha peternakan sapi. Faktor pendukung secara internal adalah pelayanan yang relatif baik kepada konsumen. Faktor pendukung dari luar adalah bisa bergaul dan diterima di tengah-tengah kerabat. Faktor penghambat secara internal adalah kurangnya pengendalian diri dengan mengutamakan keinginan untuk mencapai hal yang tertinggi tanpa melihat dampak negatifnya. Faktor penghambat secara internal adalah kurangnya pengendalian diri dengan mengutamakan keinginan untuk mencapai hal yang tertinggi tanpa melihat dampak negatifnya
PERTUMBUHAN DAN HASIL GALUR-GALUR F2 TANAMAN JAGUNG (Zeea mays L.) DI LAHAN KERING
Increasing maize production is done by utilizing all available planting land, one of which is by intensifying and extensifying dry land. To release new seeds in the form of lines into varieties, agronomic studies are needed. This study aims to determine the growth and yield of 15 selected lines of F2 maize (Zea mays L.) compared to their parents and the national variety Lamuru planted on dry land. The experiment was conducted from November 2022 to March 2023 in Segara Katon Village, Gangga District, North Lombok Regency. This study used a Randomized Block Design (RBD) with a total of 19 treatments, namely 15 F2 lines; 3 parental varieties; and 1 composite variety in dryland. The experiment was repeated three times to obtain 57 experimental units. The results showed that there were several F2 lines of maize plants that had better growth when compared to the parental varieties and national variety Lamuru in dryland. There is an F2 strain that has a higher yield, J50, when compared to its parents and the national variety Lamuru. The J50 line and 12 other F2 lines, other than J40 and J42, can be suggested for the establishment of a base population to create superior dryland varieties.INTISARIPeningkatan produksi jagung dilakukan dengan memberdayakan seluruh lahan tanam yang ada, salah satunya adalah dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan kering. Untuk melepas benih baru yang berupa galur menjadi varietas diperlukan kajian secara agronomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil 15 galur terpilih tanaman F2 jagung (Zea mays L.) dibandingkan dengan tetuanya dan varietas nasional Lamuru yang ditanam di lahan kering. Percobaan dilakukan dari bulan November 2022 sampai bulan Maret 2023 di Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan jumlah perlakuan sebanyak 19 perlakuan yaitu 15 galur F2; 3 varietas tetua; dan 1 varietas komposit di lahan kering. Percobaan diulang tiga kali sehingga diperoleh 57 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa galur F2 tanaman jagung yang lebih baik pertumbuhannya jika dibandingkan dengan varietas tetua dan varietas nasional Lamuru di lahan kering. Terdapat galur F2 yang memiliki daya hasil lebih tinggi, yaitu J50, jika dibandingkan varietas tetua dan varietas nasional Lamuru. Galur J50 dan 12 galur F2 lainnya, selain J40 dan J42 dapat disarankan untuk pembentukan populasi dasar untuk membuat varietas unggul lahan kering
Dialog Interaktif Tentang “Arti Penting Sertifikat Tanah” (Program “KAWRUH” RRI Yogyakarta)
dan pemahaman tentang pertanahan terutama menyangkut legalitas bukti hak berupa Sertifikat, yang diantaranya menyangkut pendaftaran tanah yang menjadi dasar penerbitan Sertifikat tanah. Sertifikat sebagai bukti ha katas sebidang tanah memberikan fungsi berupa antara lain, kepastian hukum baik kepastian obyek meliputi luas, letak dan batas-batas dan kepastian subyek yaitu pemilik ha katas bidang tanah yang tercantum dalam Sertifikat, disamping fungsi lain seperti memudahkan pembuktian apabila terjadi sengketa. Namun hingga saat ini masih terdapat tanah-tanah yang belum terdapat bukti hak berupa Sertifikat karena belum dilakukan pendaftaran, baik pendaftaran pertama kali dari pemilik maupun pihak yang memperoleh hak karena peralihan seperti jual beli, atau waris. Mengingat pentingnya Sertifikat tanah tersebut perlu diberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat agar setiap bidang tanah didaftarkan hingga memiliki bukti hak berupa Sertifikat. Permasalahan : Bagaimana agar pihak-pihak yang sudah memiliki tanah ataupun yang menerima perolehan tanah dapat memperoleh bukti hak berupa Sertifikat?. Adapun tujuan kegiatan dialog interaktif ini untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat perlunya memiliki bukti ha katas tanah berupa Sertifikat, sehingga bagi pemilik hak baik pihak yang telah memiliki tanah namun belum bersertifikat maupun pihak yang memperoleh hak karena membeli atau karena waris atau karena perbuatan hukum lain segera melakukan pendaftaran tanah sehingga dapat memperoleh bukti hak berupa Sertifikat. Sedangkan metode kegiatan dilakukan dengan penyampaian materi dari nara sumber yang kompeten, kemudian dibuka tanya jawab kepada pemirsa dan diberikan tanggapan atau penjelasan dari nara sumber. Dari kegiatan ini nampak antusias dari para pemirsa RRI dengan beberapa pertanyaan yang diajukan dan diberikan jawaban serta penjelasan oleh para nara sumber, harapannya masyarakat dapat mengerti dan memahami tentang arti pentingnya Sertifikat ha katas tanah dan selanjutnya pemilik atau pihak yang menerima perolehan ha katas tanah dapat segera melakukan pendaftaran dan memperoleh Sertifikat
PENGARUH PEMBERIAN ABU SEKAM PADI DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN OKRA PADA TANAH GAMBUT
Okra (Abelmoschus esculentus L. Moench) is a highly nutritious and economical vegetable commodity. Efforts made to increase okra production so that it is high both in terms of quantity and quality can be carried out through efforts to expand the planting area and increase the yield per unit area of planting area by planting okra plants on peat soil. This study aims to obtain the best interaction dose of rice husk ash and NPK fertilizer for the growth and yield of okra plants on peat soil. This research was conducted in the research area of the Faculty of Agriculture, University of Tanjungpura. The research was conducted from May 29 - August 27 2022. This study used an experimental method with a factorial Completely Randomized Design (CRD) pattern with two treatments and 3 replications. The first factor was rice husk ash with 3 levels, namely a1 = 5 tonnes/ha equivalent to 125 g/polybag, a2 = 10 tonnes/ha equivalent to 250 g/polybag, a3 = 15 tonnes/ha equivalent to 375 g/polybag. The second factor was NPK fertilizer at 3 levels, namely n1 = 200 kg/ha equivalent to 5 g/polybag, n2 = 400 kg/ha equivalent to 10 g/polybag, n3 = 600 kg/ha equivalent to 15 g/polybag. Variables observed included: plant height (cm), dry weight (g), root volume (cm3), number of fruits per plant (fruit), fruit weight per plant (g), and fruit weight per fruit ((g). Yields The study showed that the interaction between rice husk ash and NPK fertilizer had no significant effect on all observational variables.The application of rice husk ash at a dose of 10 tons/ha was the best dose to increase the growth and yield of okra plants on peat soil.The application of NPK fertilizer at a dose of 400 kg/ha ha provides growth and yield of okra plants on peat soils. Keywords: Rice husk ash, NPK fertilizer, peatsoil INTISARITanaman Okra (Abelmoschus esculentus L. Moench) merupakan salah satu komoditas sayur yang bergizi tinggi dan ekonomi tinggi. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan produksi okra agar tinggi baik dari segi kuantitas dan kualitas dapat dilakukan melalui usaha perluasan areal tanam dan peningkatan hasil persatuan luas areal tanam adalah menanam tanaman okra pada tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis interaksi abu sekam padi dan pupuk NPK yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman okra di tanah gambut. Penelitian ini dilakukan di lahan Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian dilakukan mulai pada tanggal 29 Mei - 27 Agustus 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama abu sekam padi sebanyak 3 taraf yaitu a1 = 5 ton/ha setara dengan 125 g/polybag, a2 =10 ton/ha setara dengan 250 g/polybag , a3 = 15 ton/ha setara dengan 375 g/polybag. Faktor kedua adalah pupuk NPK sebanyak 3 taraf yaitu n1 = 200 kg/ha setara dengan 5 g/polybag, n2 = 400 kg/ha setara dengan 10 g/polybag, n3 = 600 kg/ha setara dengan 15 g/polybag. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman (cm), berat kering (g), volume akar (cm3), jumlah buah per tanaman (buah), berat buah per tanaman (g), dan berat buah per buah ((g). Hasil penelitian menunjukkan Interaksi antara abu sekam padi dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pemberian abu sekam padi dengan dosis 10 ton/ha merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman okra pada tanah gambut. Pemberian pupuk NPK dengan dosis 400 kg/ha memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman okra pada tanah gambut. Kata Kunci: Abu sekam padi, okra, pupuk NPK, tanah gambu
KAJIAN YURIDIS TENTANG PERJANJIAN TINDAKAN BEDAH PLASTIK ESTETIK PADA LAYANAN KLINIK BEDAH PLASTIK
Fokus penelitian adalah mengkaji tentang penerapan perjanjian tindakan bedah plastik estetik pada layanan klinik bedah plastik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perjanjian tindakan bedah plastik estetik pada layanan Klinik Bedah Plastik dan untuk mengetahui penyelesaian yang dilakukan jika terjadi ketidaksesuaian hasil tindakan bedah plastik estetik pada layanan Klinik Bedah Plastik. Penelitian ini berjenis yuridis empiris. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilaksanakannya tindakan bedah plastik estetik, pihak klinik atau dokter dan pasien melakukan perjanjian perse tujuan melakukan tindakan. Pasien juga memberikan keterangan terkait dengan kondisi kesehatan melalui persetujuan informed consent. Penyelesaian yang dilakukan jika terjadi ketidaksesuaian hasil tindakan bedah plastik estetik pada layanan Klinik Bedah Plastik adalah pihak klinik memberikan solusi tindakan revisi dengan prosedur yang telah ditetapkan, hanya saja ketidakpuasan tindakan bedah plastik sesuai ekspektasi pribadi, target, selera dari pasien bukan merupakan bagian dari ketentuan revisi karena dokter sudah memaksimalkan kemampuan sesuai dengan harapan pasien
KAJI EKSPERIMENTAL PENGARUH TEMPERATUR KARBONISASI, DAN SUPLAI UDARA TERHADAP KARAKTERISTIK PEMBAKARAN BIOBRIKET TONGKOL JAGUNG
ABSTRACTThe world energy consumption has been increasing continuously. On the other hand reserve of energy resources, specially fossil fuel energy resources tend to decrease. To anticipate the scarce of energy or even crisis of energy, the study to look for the source of alternative energy require to be done. Energy sources of agriculture residue biomass, specially corn cob is very attractive to be studied because of its availability which is abundante ( 7.315.861 ton / year) but not yet been exploited maximally.This research investigated the influence of carbonisation temperature, briquetting pressure and velocity of air on combustion characteristic of corn cob biomass. In this research, carbonisation was conducted in three different temperatures, i.e. 220 0C, 300 0C and 380 0C. Supplay of combustion air were varied with four velocities, i.e. 0,1 m/s, 0,2 m/s, 0,3 m/s and 0,4 m/s.From the experimental result, it can be concluded that process of carbonisation can improve content of fixed carbon, heating value and mean of heat released rate of fuel. Increasing carbonisation temperature will increase heating value, decrease mean of CO emission of charcoal production, but the mean of mass losses and heat released rate will decrease. Increasing velocity of supplay air will increase the mean of mass losses and flue gas temperatur will go down. From air velocity 0,1 m/s to 0,3 m/s, CO emission goes down and goes up at 0,4 m/s.Keyword : biomass, briquetting pressure, carbonisation, combustion, corn co
SISTEM PENELUSURAN SILSILAH RAJA MATARAM DENGAN REPRESENTASI KNOWLEDGE VIA LOGIC STATEMENTS
ABSTRACTStudy of family pedigress of The King of Mataram is the net of The first King of Mataram Panembahan Senopati’s descent. There are the Kings of Yogyakarta kingdom, Surakarta kingdom, Mangkunegaran kingdom and Pakualaman kingdom. The family of the Kingdoms can search to know their from whom one’s father or mother is decended or their descent. There are many unix atributs or characteristic in study of family pedigress of the king of Mataram.The first, this research is to develop knowledge representation of ancestry of the king of Mataram in logic statement. Knowledge aquisisition is study library and interview to collect data knowledge. Consult historian and history laboran to validation of data. Kowledge representation on fact and rule. The second, this research is to develop searching software. The methot of them are analize, design, implementation, test and developing. This research’software is SWI PROLOG 5.7.7. The rule is in the form ”silsilah(variable_1, variable_2).”. System input is the name one person in ancestry of the king of Mataram. There is in the form ”silsilah_nama(X).” The output of system are the list name of person in ancestry of the king of Mataram who has search. The product of this research is searching software. The mehot of test this software is black box test. This product is having ability or autority to do what required.This research can developed to increase data validation and credibility of person, and extend the domain.Key word: searching, ancestry, King of Mataram, knowledge, logic statement
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI GOGO AROMATIK LOKAL DENGAN APLIKASI KOMPOS JERAMI PADI PADA SISTEM PERTANAMAN LORONG DAN MONOKULTUR
Aromatic upland rice is currently planted with an Alley Cropping system to get around land limitations. To compare how the growth and production response compared to the monoculture system on the application of composted organic fertilizer, a field experiment was conducted to evaluate and analyze the effect of various doses of composted organic fertilizer on the growth and production of local aromatic upland rice grown in Monoculture and Alley Cropping systems. The experiment was conducted in a Randomized Complete Block Design (RCBD) to test four doses of compost fertilizer, namely 0, 4, 8, and 16 tons/ha, respectively, in both cropping systems. The results showed that the analysis of growth and generative components of local aromatic upland rice with Alley Cropping and Monoculture cropping systems were better in the application of compost 15 tons per hectare. The highest average yield of local aromatic upland rice when compared between Alley Cropping and Monoculture planting is still the highest Monoculture system with the average Dry grain weight per hectare with 15 tons/ha Compost in this experiment which is 4,141.61 kg of grain/ha while planting the Alley Cropping system only produces an average of 917.69 kg/ha. INTISARIPadi gogo Aromatik saat ini banyak ditanam dengan sistem Alley Cropping menyiasati keterbatasan lahan. Untuk membandingkan bagaimana respon pertumbuhan dan produksi dibandingkan dengan sistem monokultur pada pengaplikasian Pupuk organic Kompos, maka sebuah Percobaan lapangan dilakukan untuk mengevaluasi dan menganalisis pengaruh berbagai dosis pupuk organik kompos terhadap pertumbuhan dan produksi padi gogo aromatic lokal yang ditanam pada sistem Monokultur maupun Alley Cropping. Percobaan dikakuakn dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) untuk menguji Empat dosis pupuk kompos yaitu 0, 4, 8, dan 16 ton/ha, masing-masing pada kedua sistem pertanaman. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan dan Komponen generatif padi gogo aromatik lokal dengan sistem pertanaman Alley Cropping maupun Monokultur yang lebih baik adalah pada aplikasi kompos 15 ton per hektar. Rata-rata produksi padi gogo aromatik lokal tertinggi jika dibandingkan antara pertanaman Alley Cropping dan Monokultur yang trtinggi masih ssitem Monokultur dengan rata-rata bobot gabah Kering per hektar dengan aplikasi kompos jerami padi sebanyak 15 ton/ha pada percobaan ini yaitu 4.141,61 kg gabah/ha sementara penanaman sistem Alley Cropping hanya menghasilkan rata-rata 917.69 kg
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA DI KOTA SINGKAWANG
This study aims to determine the priority strategy in developing agro-tourism in Singkawang City through an analysis of internal and external factors. The research was conducted in Singawang City, West Kalimantan, at Buyfresh Buyfarm Agrotourism, Bougenville Hill Park Agrotourism, and Camping Agrotourism. Research data were analyzed through descriptive analysis, SWOT analysis by analyzing internal and external factors (IFE and EFE matrices), SWOT matrix, and the strategic decision-making stage using the QSPM matrix. The results showed that the position of the Agro-tourism strategy in Singkawang City concerning the condition of internal factors was in moderate/average conditions (IFE Score 2.464), meanwhile. The part of the Agrotourism strategy in Singkawang City towards external conditions in response to opportunities and threats needs to be more robust (EFE Score 1.773). The system for developing agro-tourism in Singkawang City is in the Quadrant I (Strenght-Opportunities) position, namely supporting aggressive growth policies. Alternative strategies that can be used, namely (SO1) utilizing the beauty of natural panoramas and several existing tourist objects to attract investors to develop agro-tourism and become the most desirable tourism sector in Singkawang City; (SO2) utilizing Agrotourism, which is well-known for its characteristics and characteristics in becoming a local cultural development area in Singkawang City; and (SO3) using soil fertility as a planting medium for attractive local plants to be souvenirs and enjoyed by visitors. Keywords: Agrotourism, development strategy, QSPM, SWOTINTISARITujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan strategi prioritas dalam mengembangkan agrowisata di Kota Singkawang melalui analisis faktor internal dan eksternal. Penelitian dilaksanakan di Kota Singawang Kalimantan Barat, bertempat di Agrowisata Buyfresh Buyfarm, Agrowisata Taman Bukit Bougenville, dan Agrowisata Bisa Camping. Data hasil penelitian dianalisis melalui analisis deskriptif, analisis SWOT dengan menganalisis faktor internal dan eksternal (matriks IFE dan EFE), matriks SWOT, serta tahap pengambilan keputusan strategi menggunakan matriks QSPM. Hasil penelitian diperoleh bahwa posisi strategi Agrowisata di Kota Singkawang terhadap kondisi faktor-faktor internal berada pada kondisi sedang/rata-rata (Skor IFE 2,464), sedangkan. Posisi strategi Agrowisata di Kota Singkawang terhadap kondisi eksternal dalam merespon peluang dan ancaman yang ada pada tingkatan lemah (Skor EFE 1,773). Strategi pengembangan Agrowisata di Kota Singkawang berada pada posisi Kuadran I (Strenght-Opportunities) yaitu mendukung kebijakan pertumbuhan agresif. Dengan alternatif strategi yang dapat digunakan yaitu (SO1) memanfaatkan keindahan panorama alam dan beberapa objek wisata yang ada untuk menarik investor sebagai upaya mengembangkan Agrowisata dan menjadi sektor pariwisata yang paling diminati di Kota Singkawang; (SO2) memanfaatkan Agrowisata yang terkenal dengan ciri dan khasnya dalam menjadi daerah pengembangan budaya lokal Kota Singkawang; dan (SO3) memanfaatkan kesuburan lahan sebagai media tanam bagi tanaman-tanam lokal yang menarik untuk dapat menjadi oleh-oleh dan dinikmati pengunjung.Kata Kunci: Agrowisata, QSPM, strategi pengembangan, SWO