e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau
Not a member yet
1340 research outputs found
Sort by
THE AUTONOMOUS LEARNING IN IMPROVING THE FOUR LANGUAGE SKILLS DONE BY THE BEST STUDENTS OF STMIK AMIKOM AND AKBA SINEMA YOGYAKARTA
This research was to describe the autonomous learning of the ten best students of STMIK Amikom and AKBA Sinema Yogyakarta. Big classes were not sufficient for everyone to learn maximally. This hindrance made some students to be more creative in improving their four language skills of English by automomous learning. The study was categorized as a descriptive qualitative research. The writer uses documentation, observation, in-depth interview, data triangulation and open questionnaire methods and to analyze the data, the writer uses constant comparative study. The results were that first, the students improved listening from news and interview programs on TV and radio, music and films from their private collections such as CD, DVD, cassette or learning from the family member. Second, they improved reading from text, book, novel, newspaper and film/ song text. Third, they improved speaking by oral repeating from song and film, taking part in debating activities or competitions, making conversation in working place or in the organization, and delivering speech. Fourth, they improved writing by writing emails, composing story, writing articles and diary. Fifth, in translation, they used internet because of the time efficiency and also dictionary
Alih Kode dan Campur Kode dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Kelas XI SMAN 6 Kabupaten Bengkulu Tengah
Tujuan penulisan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang beberapa aspek alih kode dan campur kode, dan mencari penyebab terjadinya alih kode dan campur kode yang terdapat di dalam pengajaran bahasa Indonesia di kelas XI SMAN 6 Kabupaten Bengkulu Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis) dengan pendekatan sosiolinguistik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, catatan membaca buku-buku, data internet, jurnal, yang berhubungan dengan objek penelitian terutama ilmu sosiolinguistik yang menjelaskan tentang alih kode dan campur kode. Lalu transkripsi tersebut diteliti berdasarkan teori yang ada, kemudian diklasifikasi dengan melakukan wawancara kepada guru yang bersangkutan. Dari hasil temuan penelitian dan pembahasan, diketahui alasan guru menggunakan alih kode dan campur kode pada pengajarannya, antara lain karena: (1) guru berusaha untuk mendefinisikan kembali situasi yang telah disebutkan sebelumnya (redefinition) agar siswa lebih memahami maksud dari ucapannya, (2) guru berusaha mencairkan suasana kelas yang monoton dengan menggunakan alih kode dan campur kode untuk menimbulkan kesan lucu, dan (3) guru harus mempertegas perintahnya (strengthen command) agar siswa lebih mengerti bahwa hal yang diperintahkan guru harus diikuti. Gejala sosial yang mendasari banyak atau sedikitnya kasus alih kode dan campur kode dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah tingkat kemampuan berbahasa dari guru yang mengajarkan bahasa tersebut. Semakin tinggi kemampuan berbahasanya, maka akan semakin sedikit kasus alih kode itu terjadi, begitu juga sebaliknya.
Kata kunci: alih kode, campur kode, pengajaran bahasa Indonesia
Abstract
The objective of this research was to obtain get empirical data about some aspect displace code and mingle code, and describe factors which was happening of code switching and code mixing. This research represented qualitative method with content analysis technique by using sociolinguistics approach. Data collecting technique was done through observation, note book, internet, journal, related to research object especially sosiolinguistics science explaining about code switching and code mixing. From result of investigation, it was found out that there were some reasons why teachers did code switching and code mixing. They were: (1) teachers define again situation that have been mentioned previously redefinition to be student more is comprehending of intention from its utterance, (2) teachers try to liquefy class atmosphere which monoton by using displacing code and mingle code to evoke humorous impression, and (3) the teacher must reinforce his command (strengthen command) so that students better understand that what the teacher instructed must be followed. The social phenomenon that underlies many or at least cases of code transfers and code mixes in Indonesian language teaching is the level of language skills of the teachers who teach the language. The higher the language capability, the less cases of code change occur, and vice versa.
Keywords: code switching, code mixing, teaching Indonesian language
 
Kohesi Leksikal dalam Acara Berasan Masyarakat Sindang Kelingi Musi Rawas
Tujuan penelitian ini secara umum untuk mendeskripsikan kohesi leksikal dalam acara Berasan masyarakat Sindang Kelingi Musi Rawas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam acara Berasan masyarakat Sindang Kelingi Musi Rawas. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah acara Berasan masyarakat Sindang Kelingi Kabupaten Musi Rawas. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kohesi leksikal dalam acara Berasan masyarakat Sindang Kelingi terdapat lima aspek leksikal. Kelima aspek leksikal tersebut yaitu: 1) repetisi (pengulangan unsur wacana, kata, frasa dan klausa); 2) sinonimi (persamaan unsur wacana); 3) kolokasi (pernyataan yang berpola khusus-umum); 4) hiponimi (pernyataan yang berpola atas-bawah); dan 5) antonimi (satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi).
Kata kunci: kohesi leksikal, wacana, acara Berasan
Abstract
Generally, the purpose of this study was to lexical cohesion in the Berasan ceremonial community Sindang Kelingi Musi Rawas. Specifically, this study was to determine the use of lexical cohesion Berasan ceremonial in Sindang Kelingi society at Musi Rawas. The method of this study was qualitative method. The data of this study was Berasan ceremonial which were found out in Berasan ceremonial in Sindang Kelingi society at Musi Rawas. Data source in this study was Berasan ceremonial in Sindang Kelingi Society at Musi Rawas. It can be conluded that there were five lexical aspects of Berasan ceremonial. The five lexical aspects are: (1) repetition (repetition of discourse, phrase and clause); (2) synonym (similarities of discourse element); (3) collocation (statements of specific-general pattern); (4) hiponymy (statements of top-down pattern); and (5) antonymy (lingual element which has opposite meaning).
Keywords: lexical cohesion, discourse, Berasan ceremonial
 
Sikap Pemertahanan Bahasa Jawa pada Masyarakat Desa G2 Dwijaya Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas
The objective of this research was to describe the attitude of Javanese language retention in the community of G2 Dwijaya Village, Tugumulyo Subdistrict, Musi Rawas District in the realm of adolescents and adults. The research method uses a qualitative descriptive method. The subjects of this research were 180 children, adolescents, and adults. Data collection techniques were carried out using questionnaire techniques. The collected data is then analyzed according to the steps of data analysis, starting with scoring, interpretation, and making conclusions. From the results of data analysis, it is known that the attitude of Javanese language retention from adolescents with an average value is 89.38 with a very good category, and for adolescents with an average value of 88.97 with very good categories. Thus, the attitude of Javanese language retention to the people of G2 Dwijaya Village, Tugumulyo District, Musi Rawas Regency reached an average value of 89.18 with a very good Javanese language defense attitude category.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sikap pemertahanan bahasa Jawa pada masyarakat Desa G2 Dwijaya Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas pada ranah remaja dan dewasa. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah anak-anak, remaja, dan dewasa yang berjumlah 180 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis sesuai dengan langkah-langkah analisis data, dimulai dengan penskoran, interpretasi, dan membuat kesimpulan. Dari hasil analisis data diketahui bahwa sikap pemertahanan bahasa Jawa dari golongan remaja dengan nilai rata-rata yaitu 89,38 dengan kategori sangat baik, dan untuk remaja dengan nilai rata-rata yaitu 88,97 dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, sikap pemertahanan bahasa Jawa pada masyarakat Desa G2 Dwijaya Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas mencapai nilai rata-rata yaitu 89,18 dengan kategori sikap pemertahanan bahasa Jawa yang sangat baik
PERBANDINGAN DAYA SIMPAN DAN UJI ORGANOLEPTIK MIE BASAH DARI BERBAGAI MACAM BAHAN ALAMI
This study aims to determine the ratio of storability and organoleptic test of Natural Ingredients used to preserve wet noodles. The type of this research is qualitative descriptive research. The object of this research is wet noodles mixed with carrot juice, pampkin juice and turmeric juice. Data were collected through observation of shelf life for 8 days storage and organoleptic test against 50 panel of consumption panel. The result of the research shows that there is a comparison of storage power of each added juice. The conclusion of this research is the treatment with the longest shelf life that is for 8 day that is wet noodle which is added with carrot juice (P1), while for the fastest storage which is wet noodle is treatment P0 (control) for 1 day. The results of organoleptic test from wet noodles to the most acceptable power are wet noodles with the addition of pumpkin juice (P2)
Interferensi Morfologi dalam Karangan Narasi Mahasiswa Thailand Semester IV Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk interferensi morfologi bahasa Melayu Thailand terhadap bahasa Indonesia dalam karangan narasi mahasiswa Thailand semester 4 yang menempuh pendidikan Strata 1 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tangerang. Untuk menemukan interferensi morfologi dalam karangan narasi, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan dianalisis dengan metode analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa hasil karangan narasi tujuh mahasiswa Thailand, dari data yang diperoleh peneliti menganalisis bentuk-bentuk interferensi dari bentuk afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan dalam bahasa Indonesia. Teknik analisis data dengan langkah-langkah: teknik analisis isi dimulai dengan menentukan masalah penelitian, kategorisasi, interpretasi, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat interferensi pada karangan narasi mahasiswa Thailand semester IV PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang. Di dalam karangan yang mahasiswa buat, terlihat mahasiswa masih menggunakan bahasa Melayu dalam berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Temuan penelitian ini, juga menunjukkan bahwa banyaknya kata yang terinterferensi pada bentuk afiksasi kategori prefiks, sufiks, kombinasi afiks, konfiks, reduplikasi, dan komposisis sedangkan pada afiks kategori infiks tidak terdapat interferensi. Bentuk yang sering terinterferensi adalah pada bentuk afikasisi kategori prefiks, konfiks, dan komposisi dari ke enam karangan mahasiswa.
Kata kunci: interferensi morfologi, karangan narasi, mahasiswa Thailand
Abstract
The objective of this research was to describe the forms of morphological interference of Thai Malay to Indonesian in the narrative of Thai students of the 4th semester who studied in Strata 1 Indonesian Language and Literature Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Muhammadiyah Tangerang University. To find morphological interference in narrative essay, the researcher uses qualitative descriptive method, and analyzed by content analysis method. Data collection techniques used documentation techniques in the form of a narrative of seven Thai students, from data obtained by researchers analyzing the forms of interference from the form of affixation, reduplication, and compounding in the Indonesian language. Data analysis techniques with steps: content analysis techniques begin by determining research problems, categorization, interpretation, and conclusions. Based on the result of the research, there is interference on student narration of Thailand semester IV PBSI FKIP, Muhammadiyah Tangerang University. In the essay that the students make, it is seen that students still use Malay language in communicating orally and in writing. The findings of this study also show that the number of interferenced words in the form of affixation of categories of prefixes, suffixes, affix combinations, confix, reduplication and compositions whereas in the affix of the infix category there is no interference. Frequently interfered forms are in the form of affiliation categories of prefixes, confixes, and compositions of the six student compositions.
Keywords: morphological interference, narrative essay, Thai college student
PENGARUH MODEL ACCELERATED LEARNING CYCLE TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MATERI BILANGAN BULAT
The research aims at knowing the influence of Accelerated Learning Cycle Model on Mathematic Problem Solving of Integers material. The method used in this research was quantitative approach with pre-experimental method. The research used One Group Pretest-Posttest Design. The research was conducted at Grade IV SDN 13 Sungaiselan, Central Bangka Regency. The techniques of data analysis were through the use of Lilliefors normality test and The Related hypothesis test. The result of the research was Accelerated Learning Cycle Model influenced Mathematic Problem Solving of Integers material.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Accelerated Learning Cycle terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika materi bilangan bulat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian Pre-Eksperimental. Desain yang dipakai adalah The One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN 13 Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan uji normalitas statisika Lilliefors dan uji hipotesis menggunakan statistika The Related. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Accelerated Learning Cycle berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika materi bilangan bulat
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DRILL
The purpose of writing this kel meaning is so that we can know and apply the drill method in the teaching and learning process in an effective teaching. If we want to produce something or a learning system that is good and in accordance with what is expected, it must have effective and creative learning by applying the method. While the teaching method is said to be efficient if its application in producing something expected is relatively using energy, effort, expenditure, and minimum time or the smaller the energy, effort, cost, and time spent the more efficient the method. The method in writing this article is by literature study. The results obtained are in the form of writing exposure to creative thinking skills in mathematics learning using the drill method.Tujuan dari penulisan arti kel ini adalah agar kita dapat mengetahui dan menerapkan metode drill dalam proses belajar mengajar dalam suatu pengajaran yang efektif. Bila kita ingin menghasilkan sesuatu atau sistem pembelajaran yang baik dan sesuai dengan yang di harapkan maka harus memiliki pembelajaran efektif dan kreatif dengan menerapkan metode tersebut. Sedangkan metode mengajar dikatakan efesien bila penerapannya dalam menghasilkan sesuatu yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, pengeluaran, dan waktu minimum atau semakin kecil tenaga, usaha,biaya, dan waktu yang dikeluarkan semakin efesien metode itu. Metode dalam penulisan artikel ini adalah dengan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari pemaparan tersebut disimpulkan metode drill merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif peserta didik
The CORRELATION BETWEEN EMOTIONAL INTELLIGENCE AND READING COMPREHENSION ACHIEVEMENT OF THE ELEVENTH GRADE STUDENTS
Theory of emotional intelligence has been proven to contribute to the teaching and learning process, and increase students’ achievement. This research was aimed to investigate whether or not there was correlation betweem emotional intelligence and reading comprehension achievement of the eleventh grade students of SMAN 2 Kota Lubuklinggau. Two hundred and ninety four students participated in this research. Emotional intelligence questionnaire and reading comprehension test were used as the instruments. Analyses by Pearson Product-Moment Correlation revealed that there was a significant correlation between emotional intelligence and reading comprehension achievement with r-obtained (.155) and p (.008). Among the four aspects of emotional intelligence, only emotional management correlated significantly with reading comprehension achievement. Furthermore, regression analyses showed that emotional management had 2.5% contribution in predicting students’ reading comprehension
KECAKAPAN MATEMATIS (MATHEMATICAL PROFICIENCY) SISWA DALAM PEMBELAJARAN OPEN-ENDED DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecakapan matematis siswa pada pembelajaran konvensional dengan pembelajaran menggunakan pendekatan Open-Ended. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Subjek penelitian terdiri dua kelas, kelas VII E sebagai kelas kontrol dan VII F sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan instrumen yang berupa lembar tes kecakapan matematis yang terdiri dari tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test). Kecakapan matematis yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 5 indikator, yaitu: Conceptual understanding (pemahaman konsep); Procedural fluency (kelancaran prosedur); Strategic competency (kompetensi strategis); Adaptive reasoning (penalaran adaptif); dan Productive disposition (disposisi produktif). Perbedaan kecakapan matematis siswa dilihat melalui pengujian hipotesis, statistik yang digunakan adalah uji t. Sebelum melakukan pengujian statistik uji t maka terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas varian. Pada tes awal dapat dilihat bahwa nilai signifikansi t-test for equality of means untuk data tes awal adalah 0,554 atau lebih dari 0,05. Dengan demikian maka terima H0 dan tolak H1 yang menyatakan tidak ada perbedaan kecakapan matematis yang menggunakan pendekatan Open-Ended dengan Pembelajaran Konvensional, sedangkan pada tes akhir diperoleh nilai signifikansi t-test for equality of means 0,000 < 0,005, dengan demikian maka tolak H0 dan terima H1 yang menyatakan bahwa ada perbedaan kecakapan matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Open–Ended dengan pembelajaran konvensional.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecakapan matematis siswa pada pembelajaran konvensional dengan pembelajaran menggunakan pendekatan Open-Ended. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Subjek penelitian terdiri dua kelas, kelas VII E sebagai kelas kontrol dan VII F sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan instrumen yang berupa lembar tes kecakapan matematis yang terdiri dari tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test). Kecakapan matematis yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 5 indikator, yaitu: Conceptual understanding (pemahaman konsep); Procedural fluency (kelancaran prosedur); Strategic competency (kompetensi strategis); Adaptive reasoning (penalaran adaptif); dan Productive disposition (disposisi produktif). Perbedaan kecakapan matematis siswa dilihat melalui pengujian hipotesis, statistik yang digunakan adalah uji t. Sebelum melakukan pengujian statistik uji t maka terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas dan homogenitas varian. Pada tes awal dapat dilihat bahwa nilai signifikansi t-test for equality of means untuk data tes awal adalah 0,554 atau lebih dari 0,05. Dengan demikian maka terima H0 dan tolak H1 yang menyatakan tidak ada perbedaan kecakapan matematis yang menggunakan pendekatan Open-Ended dengan Pembelajaran Konvensional, sedangkan pada tes akhir diperoleh nilai signifikansi t-test for equality of means 0,000 < 0,005, dengan demikian maka tolak H0 dan terima H1 yang menyatakan bahwa ada perbedaan kecakapan matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Open–Ended dengan pembelajaran konvensional