Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    INVESTIGASI PENYEBAB PENGEBOMAN IKAN DI PERAIRAN TELUK SALEH BERDASARKAN PERSEPSI DAN PRINSIP NELAYAN TERHADAP DESTRUCTIVE FISHING

    No full text
    Fishing with explosives (fish bombs) is one of the cases of destructive fishing that occurs every year on the coast of Saleh Bay, Sumbawa, West Nusa Tenggara. The government has implemented several strategies to reduce destructive fishing, but these cases still occur on the coast of Saleh Bay. This research aims to determine fishermen's perceptions and principles regarding fishing using bombs. This research was conducted from June to August 2023 in Prajak Hamlet, Batu Bangka Village, Sumbawa, West Nusa Tenggara (NTB). The method used in this research is a survey. The survey was conducted through in-depth interviews with respondents. The number of respondents in this study was 50 people. Data were analyzed using descriptive analysis. Data is displayed with graphs. The research results show that there are still 2% of fishermen who think that bombs are a cheap fishing tool, produce abundant fish and are easy to operate. There were 2% of respondents who stated that there was nothing wrong with using bombs. The act of bombing fish was imitated by previous people. As many as 4% of fishermen are not sure that their actions will have an impact on the ocean. The majority of fishermen (72%) have a high level of confidence in using fishing gear recommended by the government, but there are 8% who feel unsure about using fishing gear recommended by the government. The results of this research indicate that there is still potential for fish bombing in the waters of Saleh Bay. Therefore, outreach activities are needed for fishermen regarding the impacts of using fish bombs.Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak (bom ikan) adalah salah satu kasus destructive fishing yang terjadi hampir setiap tahun di pesisir Teluk Saleh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Upaya penyadar tahuan telah dilakukan oleh pemerintah, namun kasus tersebut masih saja terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi  dan prinsip nelayan terhadap penangkapan ikan menggunakan bom. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah survey. Survey dilakukan melalui wawancara mendalam dengan responden. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 50 oran (N=50). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat 2% nelayan yang menggunakan bom karena berprinsip bahwa bom adalah alat tangkap yang murah, hasil melimpah dan mudah dioperasikan. Terdapat 2% responden yang menyatakan bahwa tidak mengapa menggunakan bom. Perilaku pengeboman sering dilihat pada orang terdahulu. Sebanyak 4% nelayan tidak yakin bahwa perbuatannya akan berdampak pada lautan. Sebagian besar nelayan (72%) memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dalam menggunakan alat tangkap yang dianjurkan pemerintah, namun masih terdapat 8% yang merasa tidak yakin untuk menggunakan alat tangkap yang dianjurkan oleh pemerintah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat potensi pengeboman ikan di perairan Teluk Sale

    Tendensi Asal Sarang Penyu yang Direlokasi ke Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan-Bali

    Full text link
    Sea turtles are one of the living fossils that still exist. There are only 7 species of sea turtles in the world. Sea turtles have encountered many threats, even since they were still in the egg on the nesting beach. The nest of turtle eggs on the beach have some threats like predators, theft, sabrasion and coastline changes that increase the action of relocation of turtle nests are needed to save the eggs. Ths study aimed to know the estendency of native places from the eggs which are relocated to semi-natural nests at Turtle Conservation and Education Center, Serangan-Bali. The data was collected from 2015 until 2019. In 5 years the number of nest rescued was 792 and the number of eggwas 87.303. The nest which relocated to semi-natural nest in TCEC came from 27 nesting habitats. Mostly the nest native to Klungkung beach, Serangan beach, and Lembeng beach with the number of turtle eggs on each beach were 211 nests, 179 nests, and 174 nests.Penyu merupakan salah satu living fossil yang masih ditemukan. Hanya terdapat 7 spesies penyu di dunia pada saat ini. Penyu telah menenui banyak ancaman, bahkan sejak masih dalam fase telur di pantai. Telur penyu dalam sarang yang berada di pantai memiliki beberapa ancaman seperti predator, pencurian, abrasi dan perubahan garis pantai yang meningkatkan tindakan relokasi sarang penyu untuk diselamatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kecenderungan tempat asal telur yang dipindahkan ke sarang semi alami di Pusat Konservasi dan Pendidikan Penyu, Serangan-Bali. Pengumpulan data dilakukan selama 5 tahun dari tahun 2015 sampai dengan 2019. Dalam 5 tahun jumlah sarang yang berhasil diselamatkan sebanyak 792 dan jumlah telur 87.303. Sarang telur penyu yang direlokasi ke sarang semi alami TCEC berasal dari 27 pantai habitat bersarang. Sebagian besar sarang penyu yang direlokasi berasal dari Pantai Klungkung, Pantai Serangan, dan Pantai Lembeng dengan jumlah telur penyu di masing-masing pantai adalah 211 sarang, 179 sarang, dan 174 sarang

    Strategi Pengembangan Wisata Bahari Di Kawasan Ekosistem Terumbu Karang Negeri Morella

    No full text
    Morela coastal waters are a tourist area on Ambon Island with the potential to be a coral reef ecosystem. The Increasing number of visitors and lack of understanding of local people and tourists about the importance of developing conservation and marine tourism. Such conditions underlie the importance of research to formulate strategies  for the development of coral reef ecosystem tourism. The research was analyzed in situ at two station with analyzed coral cover and SWOT. Based on the results of the study, shows that all the potential of coral reef waters in the coral reef ecosystem tourism from the brightness of the waters, coral cover, types of coral life forms, abundance of coral fish, bottom material of the waters, current speed, water depth, water temperature and beach width, are important values ​​that must be developed. The development strategies obtained are; Increase cooperation between the management, the community, and the government in the development & promotion of marine tourism; Increase the development of tourism that contributes to environmental and cultural conservation; Increase socialization activities and promotion of marine tourism packages to the wider community and abroad through online media; Increase awareness of the surrounding community on the importance of protecting coral reef environmental resources; Improving MCS (Monitoring,  controlling and Surveilance) as well as coordination between stakeholders;Perairan pantai Morella merupakan kawasan wisata di Pulau Ambon dengan potensinya adalah ekosistem terumbu karang. Peningkatan jumlah pengunjung dan kurangnya pemahaman masyarakat lokal maupun wisatawan tentang pentingnya pengembangan konservasi dan wisata bahari. Kondisi demikian yang mendasari pentingnya penelitian untuk merumuskan strategi dalam pengembangan wisata ekosistem terumbu karang. Penelitian dianalisis secara insitu pada 2 (dua) stasiun dengan analisis tutupan karang dan SWOT. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa potensi perairan terumbu karang kawasan wisata ekosistem terumbu karang di Pantai Lubang Buaya, Negeri Morella, dari kecerahan perairan, komposisi taksa karang,kelimpahan ikan karang, kecepatan arus, suhu perairan dan gelombang menjadi nilai penting yang harus dikelola secara berkelanjutan. Strategi pengembangan yang diperoleh yaitu; Meningkatkan kerjasama antara pihak pengelola, masyarkat dan pemerintah dalam pengembangan & promosi wisata bahari; Meningkatkan pengembangan pariwisata yang berkontribusi pada konservasi lingkungan dan budaya; Meningkatkan kegiatan sosialisasi dan promosi paket wisata bahari kepada masyarakat luas dan manca negara melalui media dalam jaringan; Meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar akan pentingnya menjaga sumberdaya lingkungan terumbu karang ; Meningkatkan MCS (Monitoring, Controling dan Survelance) serta koordinasi antara stakeholder; Peningkatan sarana dan prasarana penunjang serta Meningkatkan akses permodalan

    Status Keberlanjutan Banggai Cardinalfish di kabupaten Banggai Laut

    Full text link
    Banggai Islands-Central Sulawesi-Indonesia holds one of the endemic marine biodiversity, the Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni). The Banggai Cardinalfish has been listed as Endangered on the IUCN (International Union for the Conservation of Nature) Red List since 2007, and the 17th CITES CoP in appendix II of CITES in 2016. There are two main threats to the species, namely utilisation as ornamental fish and habitat degradation. This study aims to determine the sustainability status of Banggai cardinalfish in Banggai Laut Regency. This research was conducted from January to March 2024 in three villages (Popisi Village, Tolisetubono Village and Bonebaru Village) in North Banggai District, Banggai Laut Regency, Central Sulawesi Province. This research uses descriptive qualitative methods, which uses primary and secondary data to assess the five dimensions of sustainability of Banggai Cardinalfish management: ecological, social, economic, policy and institutional dimensions and technology and infrastructure. Each data obtained will be scored to get the median value of each attribute. The scoring data obtained from each attribute was analysed with RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries) to reflect the sustainability position with a scale score of 0% (poor) to 100% (good). The results showed that the multidimensional sustainability index of Banggai Cardinalfish management is 54.70 which means that the sustainability status of Banggai Cardinalfish management is quite sustainable, with the value of each dimension showing the value of ecology (70.05), social (64.12), economy (43.34), policy and institutions (36.92) and technology and infrastructure (58.06).Kepulauan Banggai-Sulawasi Tengah-Indonesia menyimpan salah satu keanekaragaman hayati laut endemik yaitu Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni). Banggai Cardinalfish saat ini telah didaftarkan sebagai spesies yang terancam punah oleh (Endangered) pada Red List IUCN (International Union for the Conservation of Nature) sejak tahun 2007, dan CoP CITES ke-17 dalam lampiran II CITES di tahun 2016. Terdapat dua ancaman utama bagi spesies yaitu pemanfaatan sebagai ikan hias dan degradasi habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan Banggai Cardinalfish di Kabupaten Banggai Laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2024  berlokasi di Tiga Desa (Desa Popisi, Desa Tolisetubono dan Bonebaru) yang berada di Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu mengunakan data primer dan sekunder untuk menilai lima dimensi keberlanjutan pengelolaan Banggai Cardinalfish:  dimensi ekologi, sosial, ekonomi, kebijakan dan kelembagaan dan teknologi dan infrastukture. Setiap data yang diperoleh akan dilakukan skoring untuk mendapat nilai median dari setiap atribut. Data skoring yang diperoleh dari setiap atribut dianalisis dengan RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries) untuk mencerminkan posisi keberlanjutan dengan skala nilai skor 0% (buruk) hingga 100% (baik). Hasil penelitian menunjukkan Indeks keberlanjutan multidimensi pengelolaan Banggai Cardinalfish yaitu 54,70 yang berarti status keberlanjutan pengelolaan Banggai Cardinalfish cukup berkelanjutan, dengan nilai masing-masing dimensi menunjukkan nilai yaitu ekologi (70,05), social (64,12), ekonomi (43,34), kebijakan dan kelembagaan (36,92) dan teknologi dan infrastukture (58,06)

    Perbandingan Performa Juvenil teripang pasir, Holothuria scabra yang diberi pakan Ulva dan Sargassum.

    Full text link
    Sandfish (Holothuria scabra) are one of the economically important marine animals found in the coastal of the Kei Islands (Tual City and Southeast Maluku Regency). The large exploitation pressure caused the sandfish population in the Kei Islands to decline drastically. This problem can be overcome by farming activities (greeding, nursery and grow-out). Nursery is an important segment in the farming series because through nursery the seeds are prepared to a size that good for rearing in grow-out containers or restocking into nature. This research aims to see the effect of giving Sargasum sp and Ulva sp extracts on the growth and survival of sandfish juveniles. This research doing from August – September 2022 at the Tual Teripang Center, Ohoitel village, Tual City. Juvenile sandfish used as research objects size 3 – 6 mm and stocking density is 40 individu per container. The feed used as treatment was Ulva sp extract 50 g/container (treatment A) and Sargasum sp extract 50 g/container (treatment B). Feeding is done every day and water changes are 70-100% per day. The calculation of growth and survival rate is the variable that observed in this study. The average absolute growth in body length in treatment A was 0.69 mm and in treatment B was 1.72 mm. Through the T test on growth, it was obtained that Pvalue (0.0006) < α (0.05) which means that the two treatments had different effects on juvenile growth. For survival, the average percentage for Treatment A was 40% and Treatment B was 62.5%. Through the T test on survival, it was obtained that Pvalue (0.0048) < α (0.05) which means that the two treatments had different effects on the survival of juvenile sea cucumbers. It was concluded that treatment B was better for the growth of juvenile sandfish than treatment A.Teripang pasir (Holothuria scabra) merupakan salah satu hewan laut ekonomis penting yang ditemukan di perairan Kepulauan Kei (Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara). Besarnya tekanan eksploitasi menyebabkan populasi teripang di Kepulauan Kei menurun secara drastis. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan kegiatan budidaya (pembenihan, pendederan dan pembesaran). Pendederan merupakan sekmen penting dalam rangkaian budidaya karena melalui pendederan benih disiapkan sampai ukuran yang aman untuk dibudidayakan pada wadah pembesaran atau direstoking ke alam. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh pemberian ekstrak Sargassum dan Ulva sp terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup juvenil teripang pasir. Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus – September 2022 di Tual Teripang Center, desa Ohoitel, Kota Tual. Juvenil teripang yang digunakan sebagai objek penelitian berukuran 3 – 6 mm dan padat tebar sebanyak 40 ekor per wadah. Pakan yang digunakan sebagai perlakuan yaitu ekstrak Ulva 50 g/wadah (Perlakuan A) dan ekstrak Sargassum 50 g/wadah (Perlakuan B). Pemberian pakan dilakukan setiap hari dan pergantian air 70-100% per hari. Perhitungan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup merupakan variabel yang diamati dalam penelitian ini. Rata-rata pertumbuhan mutlak panjang tubuh Perlakuan A sebesar 0,69 mm dan Perlakuan B sebesar 1.72 mm. Melalui Uji T terhadap pertumbuhan diperoleh Pvelue (0,0006) < α (0,05) yang bermakna bahwa kedua Perlakuan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan juvenil. Untuk kelangsungan hidup diperoleh rata-rata persentase Perlakuan A sebesar 40% dan Perlakuan B sebesar 62,5%. Melalui Uji T terhadap kelangsungan hidup diperoleh Pvelue (0,0048) < α (0,05) yang bermakna kedua Perlakuan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kelangsungan hidup juvenil teripang. Disimpulkan bahwa Perlakuan B memiliki pengaruh yang lebih baik dari Perlakuan A

    DNA Barcoding dan Filogeni Molekukuler Belangkas Tachypleus (Horseshoe crab) dari Pulau Madura, Jawa Timur, Indonesia

    Full text link
    Horseshoe crab is a marine animal that is often found in Madura waters. Horseshoe crab is Indonesia's marine biodiversity that has not been widely exploited. This aquatic animal is also called a living fossil, which means it has been alive since ancient times. Information regarding the genetic and phylogenetic structure of Horseshoe crab in the Madura area is still rarely known. Therefore, it is necessary to study to reveal the type of Horseshoe crab using the DNA barcoding method and molecular phylogeny. This research uses COI as a molecular marker, using the PCR method. With DNA barcoding, it only requires very few/small specimens but is able to document the diversity of taxonomic groups that are not yet known or come from areas that have never been identified, and is able to reveal new variations/new diversity in species that were previously classified as only one species. The results showed that the Tachypleus samples were 100% close to Tachypleus gigas. The phylogenetic results of samples from the island of Madura are in the same group as Tachypleus gigas from other locations.Belangkas merupakan hewan laut yang sering ditemukan di perairan Madura. Belangkas adalah kekayaan hayati laut Indonesia yang belum banyak dimanfaatkan. Hewan akuatik ini juga disebut living fosil yang artinya sudah hidup sejak zaman purba. Informasi terkait struktur genetik dan filogenetik dari belangkas di daerah madura masih jarang diketahui. Oleh karena itu perlu pengkajian untuk mengungkap jenis belangkas dengan menggunakan metode DNA barcoding dan filogenetiknya. Penelitian ini menggunakan COI sebagai marka molekuler, dengan metode PCR. Dengan DNA barcoding hanya memerlukan spesimen yang sangat sedikit/kecil tetapi mampu mendokumentasikan keragaman grup-grup taksonomi yang belum di kenal atau berasal dari daerah yang belum pernah teridentifikasi, dan mampu mengungkapkan variasi baru/keragaman baru pada spesies-spesies yang sebelumnya digolongkan pada satu spesies saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel Tachypleus mempunyai kedekatan 100% dengan Tachypleus gigas. Hasil filogenetik sampel dari pulau Madura berada dalam satu kelompok dengan Tachypleus gigas dari lokasi lain

    Ekologi dan Dimensi Pengelolaan Keberlanjutan Mangrove (Studi Kasus Lokasi Ekowisata Guraping, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara)

    Full text link
    The mangrove ecosystem is a potential coastal and marine area that has a very important resource function. The mangrove ecosystem must be managed sustainably so that it can provide optimal benefits, especially the mangrove ecosystem in Guraping Village which has been designated as an ecotourism area. The aim of this research is to analyze the ecological condition of the mangrove ecosystem and analyze the dimensions of sustainable management of the mangrove ecosystem in Guraping Village. The method used in this research line transect method with a 10x10 meter quadrant to determine ecological conditions. Interviews were conducted with key respondents from stakeholders and the dimensions of sustainable management were analyzed using Rapfish. Measurement of environmental parameters directly on site. The results obtained from this research can determine the ecological condition of mangroves at the research location which still have good status based on the number of species, species density, species cover, diversity index, mangrove canopy cover data. The calculation of the results of the assessment of the dimensions of mangrove sustainability management, which consists of ecological dimensions, economic dimensions, socio-cultural dimensions, legal, institutional and policy dimensions and technological and infrastructure dimensions, is classified as a less accountable level category.Ekosistem mangrove merupakan potensi wilayah pesisisr dan laut yang memiliki fungsi sumberdaya yang sangat penting. Ekosistem mangrove harus dikelola secara berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal khususnya ekosistem mangrove di Kelurahan Guraping yang telah ditetapkan sebagai area ekowisata. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kondisi ekologi ekosistem mangrove dan menganalisis dimensi pengelolaan keberlanjutan ekosistem mangrove di Kelurahan Guraping. Metode pengukuran mangrove yang digunakan metode line transect dgn kuadran 10x10 meter untuk mengetahui kondisi ekologi. Wawancara dilakukan pada responden kunci dari stake holders dan dimensi pengelolaan berkelanjutan yang di analisis dengan menggunakan Rapfish. Pengukuran parameter lingkungan secara langsung di lokasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat diketahui kondisi ekologi mangrove di lokasi penelitian yang masih berstatus baik berdasarkan jumlah spesies, kerapatan spesies, penutupan spesies, indeks keanekaragaman, data tutupan kanopi mangrove. Kalkulasi hasil penilaian dimensi pengelolaan keberlanjutan mangrove yang terdiri dari dimensi dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi hukum, kelembagaan dan kebijakan dan dimensi teknologi dan infrastruktur tergolong level kategori kurang akuntabel

    Efek Rumah ikan terhadap kehadiran ikan karang

    No full text
    The fish apartment is one of the concepts of artificial structures on the seabed where the design and construction are created to resemble the conditions of natural reefs. The fish apartment is designed with concrete material which is combined by utilizing waste pearl shells with the same construction but different in the application of the use of shells. This study was carried out for 6 months with 12 observations, which aimed to examine the treatment preferences of the fish apartment that have an impact on the presence of fish in the vicinity. The fish apartment is placed in two different locations to see the preference of the fish in the fish apartment. Data was collected using the visual census method to determine the effect of the fish apartment on the presence of fish using data analysis of variance (ANOVA) with the factorial randomized block design experimental method. The assessment of the effect of fish apartment on the presence of fish was carried out by treating the fish apartment construction itself, and other treatments that were also tested were sampling time, placement position, and repetition (groups). The types of fish observed in the fish apartment and its surroundings were 19 families on good coral reef locations, and 15 families on damaged coral reef locations. The number of fish observed was more in a fish apartment without pearl shells.Rumah ikan merupakan konsep habitat buatan di dasar laut yang desain dan kosntruksinya dibuat menyerupai kondisi terumbu karang alami. Rumah  ikan didesain dengan material beton yang dipadukan dengan limbah cangkang mutiara dengan konstruksi yang sama namun berbeda dalam penerapan penggunaan cangkang. Penelitian ini berlangsung selama 6 bulan dengan 12 kali pengamatan, yang bertujuan untuk mengkaji preferensi perlakuan terhadap rumah ikan yang berdampak pada keberadaan ikan di sekitarnya. Rumah ikan ditempatkan di dua lokasi berbeda untuk melihat ketertarikan ikan pada rumah ikan. Pengumpulan data menggunakan metode sensus visual untuk mengetahui pengaruh rumah ikan terhadap keberadaan ikan menggunakan data analysis of variance (ANOVA) dengan metode eksperimen rancangan acak kelompok faktorial (RAK factorial). Penilaian pengaruh rumah ikan terhadap keberadaan ikan dilakukan dengan perlakuan konstruksi rumah ikan itu sendiri, dan perlakuan lain yang juga diuji adalah waktu sampling, posisi penempatan, dan pengulangan (kelompok). Hasil pengujian menunjukkan bahwa faktor bangunan rumah ikan, waktu pengamatan, dan kelompok (pengulangan pengambilan data) berpengaruh nyata terhadap keberadaan ikan, sedangkan faktor posisi bertelur tidak berpengaruh nyata terhadap keberadaan ikan. Jenis ikan yang diamati di apartemen ikan dan sekitarnya adalah 19 famili pada lokasi terumbu karang baik, dan 15 famili pada lokasi terumbu karang rusak. Jumlah ikan yang diamati lebih banyak pada rumah ikan tanpa cangkang mutiara.   Kata kunci: Rumah ikan; cangkang kerang mutiara; ikan karan

    Dinamika Populasi Bakteri Pada Budidaya Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) Sistem Resirkulasi

    Full text link
    Koi fish (Cyprinus rubrofuscus) is one of the aquaculture commodities that is highly marketable because of its unique color pattern and body shape. The prevalence of parasites and pathogenic agents in Koi fish among farmers poses challenges and leads to the occurrence of numerous illnesses. Water quality management is implemented in an effort to prevent several infectious microorganisms. The application of a recirculation system is used to enhance water quality and bolster the disease resistance of Koi fish. The objective of this study was to evaluate the application of RAS technology in the koi fish culture under different filter media on bacterial density. This study used four treatments, namely treatment A (RAS with a dacron filter and pumice), B (RAS with a dacron filter and sand), C (RAS with a sand and pumice filter), and K (control without a recirculation system). The parameter observed in this study was the density of bacteria in the koi fish rearing-media. These findings demonstrated that the utilization of various filters had an impact on bacterial density. Treatment C (RAS with sand and pumice filter) exhibited the greatest bacterial density with an average value exceeding 3.4 log CFU. mL-1 from the first week to the third week. The density of nitrifying bacteria in the koi fish production system is positively influenced by the high-quality maintenance practices that are maintained under optimal conditions.Ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) merupakan salah satu komoditas akuakultur yang memiliki daya jual yang tinggi karena memiliki corak warna dan keindahan bentuk tubuhnya. Budidaya ikan koi di masyarakat terdapat permasalahan karena hadirnya mikroba seperti parasit dan patogen lainnya yang menyebabkan timbulnya berbagai jenis penyakit. Manajemen kualitas air dilakukan sebagai upaya mencegah masuknya berbagai mikroorganisme penginfeksi. Penerapan sistem resirkulasi digunakan untuk meningkatkan kualitas air dan resistensi ikan koi terhadap penyakit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi teknologi sistem resirkulasi pada budidaya ikan koi dengan media filter yang berbeda terhadap populasi bakteri. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu perlakuan A (RAS dengan filter dakron dan batu apung), B (RAS dengan filter dakron dan pasir), C (RAS dengan filter pasir dan batu apung), dan K (kontrol tanpa sistem resirkulasi). Parameter yang diamati yaitu kepadatan bakteri di media pemeliharaan ikan koi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan filter yang digunakan mempengaruhi kepadatan bakteri yang dihasilkan. Kepadatan bakteri tertinggi diperoleh pada perlakuan C (RAS dengan filter pasir dan batu apung) yang memiliki nilai rata-rata pada minggu pertama sampai minggu ketiga yaitu lebih dari 3,4 log CFU/ml. Peningkatan kepadatan bakteri nitrifikasi di sistem budidaya ikan koi didukung dengan kualitas pemeliharaan yang juga berada dalam kondisi optimal

    Analisis Laju dan Kandungan Nutrien pada Sedimen di Instalasi Transplantasi Karang Metode Vertikal Pulau Samalona Kota Makassar

    Full text link
    Samalona Island is a small island that administratively belongs to the inner zone of the Spermonde Islands region with low live coral cover. One effort to improve coral conditions is to carry out vertical transplantation, but hydro-oceanographic conditions are thought to be an inhibiting factor, including sediment. The research carried out aims to determine the suitability of oceanographic parameters, estimate sediment rates, and determine the phosphate and nitrate in sediments. The research method used a field experiment method by taking water and sediment samples and installing sediment traps for 15 days. The parameters measured in situ are temperature, pH, current speed, salinity, and dissolved oxygen, while the ex-situ test is the dry weight of sediment, TSS, nitrate, and phosphate concentrations. Data analysis uses descriptive statistics and is categorized according to the evaluation instrument used. The research results show that the values for temperature, pH, current speed, salinity, and dissolved oxygen meet the standard criteria for coral-based on PP 21/2022. The sediment rate during the research period was 0,003 – 0,015 gr/cm2/day, so it was categorized as having the potential damage to corals with a mild to severe impact level. The nitrate concentration in sediment ranges from 0,19 – 0,25 ppm while phosphate ranges from 0,35 – 0,72 ppm, so it can be said to be waters with a medium trophic level (mesotrophic). The current speeds and sediment rates potentially accelerate nutrient concentrations and cause sediment resuspension, thereby closing coral polyps, especially on corals closest to the substrate where vertical coral transplant installations are installed.Pulau Samalona merupakan pulau kecil yang secara administrasi termasuk inner zone wilayah Kepulauan Spermonde dengan kondisi tutupan karang hidup rendah. Salah satu upaya memperbaiki kondisi karang yaitu dengan melakukan transplantasi metode vertikal namun kondisi hidrooseanografi diduga menjadi faktor penghambat termasuk kondisi sedimen. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui kesesuaian parameter oseanografi dengan baku mutu, mengestimasi laju sedimen, dan mengetahui kandungan nutrien pada sedimen (fosfat, nitrat). Metode penelitian menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pengambilan sampel air dan sedimen serta pemasangan sediment trap selama 15 hari dengan pengambilan setiap 5 hari. Parameter yang diukur secara in situ yaitu suhu, pH, kecepatan arus, salinitas, dan oksigen terlarut sedangkan pengujian eksitu untuk mengetahui berat kering sedimen, konsentrasi TSS, nitrat,  dan fosfat. Analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dan dikategorisasi sesuai instrumen evaluasi yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan nilai suhu, pH, kecepatan arus, salinitas, dan oksigen terlarut memenuhi kriteria baku mutu air laut untuk biota karang berdasarkan PP 21/2022. Laju sedimen selama periode penelitian yaitu 0,003 – 0,015 gr/cm2/hari sehingga dikategorikan berpotensi menyebabkan kerusakan pada karang dengan tingkat dampak ringan hingga berat. Konsentrasi nutrien nitrat pada sedimen berkisar 0,19 – 0,25 ppm sedangkan fosfat berkisar 0,35 – 0,72 ppm sehingga dapat dinyatakan termasuk perairan dengan tingkat kesuburan sedang (mesotrofik). Kecepatan arus yang cukup kuat dan laju sedimen dengan tingkatan dampak ringan hingga berat dapat mengakselerasi konsentrasi nutrien dan menyebabkan resuspensi sedimen sehingga menutup polip karang utamanya pada karang terdekat dengan substrat yang terpasang instalasi transplantasi karang metode vertikal

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇