Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
    220 research outputs found

    Efisiensi Biaya Pakan Melalui Pemanfaatan Rayap Pohon (Coptotermes sp.) dalam Pembesaran Ikan Mas Komet(Carassius auratus auratus)

    Get PDF
    The purpose of this research are to know comet goldfish growth by percentage termites and pelet feed, Food Convertion Ratio (FCR) and Food Efficiency (FE)  of each treatment, and analyze the cost of feed consumed. The treatment on this study using termites feed and pelet by different percentages. Aquarium A treatment = 20% termites; 80% pelets, aquarium B = 40% termites; pelets 60% and aquariums C = termites 60%; pelet 40%. The results showed that the percentage of pellet feed on termites and provide a better relative growth in treatment A 0.42 grams, C 0.26 grams and 0.10 grams B. FCR best value is obtained by treatment A 2.04 followed by C 3.3 and B 7.9. Similarly, the value of feed efficiency best values ​​obtained by the treatment of A 51.6%, followed by C 29.58% and B 11.02%. Values ​​lowest feed costs obtained by the treatment A Rp. 4112, -, followed by C Rp. 4496, - and B Rp. 5008, -. Results showed that utilization of 20% termite can be a complementary feed in comet fish rearing.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pertumbuhan relatif ikan mas komet dengan persentasi pakan rayap dan pelet, rasio konversi pakan dan efisiensi pakan dari masing-masing perlakuan, dan menganalisis biaya pakan yang dikonsumsi. Perlakuan pada penelitian ini menggunakan pakan rayap dan pelet dengan persentase yang berbeda. Perlakuan A = rayap 20% ; pelet 80%, B = rayap 40% ; pelet 60% dan C = rayap 60% ; pelet 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pakan rayap dan pelet memberikan pertumbuhan relatif yang lebih baik pada perlakuan A 0,42 gram, B 0,10 gram dan C 0,26 gram. Nilai FCR yang terbaik diperoleh oleh perlakuan A 2,04 diikuti oleh C 3,3 dan B 7,9. Begitu pula dengan nilai Efisiensi pakan nilai terbaik diperoleh oleh perlakuan A 51,6%, diikuti oleh C 29,58% dan B 11,02%. Nilai biaya pakan yang terendah didapat oleh perlakuan A Rp. 4.112,-, diikuti oleh C Rp. 4.496,- dan B Rp. 5.008,-. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan rayap pohon sebesar 20% dapat menjadi pakan komplementer dalam pembesaran ikan komet

    Persentase Tutupan Terumbu Karang di Perairan Pasir Putih Kabupaten Manokwari

    Get PDF
    This research was done on October-November 2014 at Pasir Putih coastal area of Manokwari Regency and located at Air Salobar beach. The research aimed to know percent cover of coral reef, physical and chemical water quality, also the correlation of water quality to  coral reef percent cover at southern west part of Pasir Putih coast in Manokwari. The method used in this study was Point Intercept Transect  (PIT) at the depth of 3 m (Transect I), 7 m (Transect II) dan 10 m (Transect III) to determine coral reef. Results showed that percent cover of coral reef on Transect I was 91%, Transect II 78% amd Transect III 54%. Coral reef condition in Pasir Putih coast was in good to very good status.  Very good confition was in Transecr I and II, whereas good condition on Transect III. Dominant lifeform of growth on Transect I and III was coral branching. The percentage cover of coral branching on Transect I was 59% and Transect III was 20%. Lifeform growth  of coral branching found was dominated by coral genus Montipora and Psammocora. Genus Montipora on this area was spesies Montipora digitata. On the other hand, genus Psammocora found in the same location was spesies Psammocora contigua. Moreover, dominant lifeform of growth on Transect II was Coral Encrusting (28%). Physical chemical quality of sea-water in Pasir Putih consisted of temperature 27,5-29°C, dissolved oxigen 5,08-5,2 ppm, pH 7,03-7,15, salinity 30-31‰, current 0,08 m/s and clearness 16 m. These grades of physical chemical quality of sea-water was ideal to the growth of coral reef. Correlation of water quality parameter that has most siginificant effect (ρ = 0,01) to coral reef percent cover was temperature, dissolved oxygen and water depth.Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2014 di perairan Pasir Putih Kabupaten Manokwari, berlokasi di Pantai Air Salobar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persentase tutupan terumbu karang, kualitas fisik-kimia air dan korelasi kualitas fisik-kimia air terhadap persentase tutupan terumbu karang di bagian barat daya perairan Pasir Putih, Manokwari. Metode yang digunakan untuk memperoleh data persentase tutupan karang adalah Point Intercept Transect  (PIT) pada kedalaman 3 m (Transek I), 7 m (Transek II) dan 10 m (Transek III). Hasil pengamatan diperoleh persentase tutupan karang pada Transek I adalah 91%, Transek II adalah 78% dan Transek III adalah 54%. Kondisi terumbu karang di perairan Pasir Putih berada dalam kondisi baik hingga sangat baik. Kondisi sangat baik terdapat pada Transek I dan II, sedangkan kondisi baik terdapat pada Transek III. Bentuk pertumbuhan yang paling dominan pada Transek I dan III adalah coral branching. Persentase tutupan coral branching pada Transek I adalah 59% dan Transek III adalah 20%. Bentuk pertumbuhan Coral Branching yang ditemukan, didominasi oleh karang dari genus Montipora dan Psammocora. Untuk genus Montipora yang ditemukan adalah spesies Montipora digitata. Sedangkan dari genus Psammocora yang ditemukan adalah spesies Psammocora contigua. Sedangkan bentuk petumbuhan yang paling dominan pada Transek II adalah Coral Encrusting (28%). Kualitas fisik-kimia air yang diukur pada perairan Pasir Putih adalah suhu 27,5-29°C, Oksigen terlarut 5,08-5,2 ppm, pH 7,03-7,15, salinitas 30-31‰, kecepatan arus 0,08 m/s dan kecerahan perairan 16 m. Nilai kualitas fisik-kimia air ini termasuk ideal bagi pertumbuhan terumbu karang. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa parameter kualitas air yang paling berpengaruh atau sangat signifikan (ρ = 0,01) terhadap persentase tutupan karang adalah suhu, oksigen terlarut dan kedalaman perairan

    Manfaat Ekonomi Ekowisata Hiu Paus (Rhincodon typus) di Kampung Akudiomi Distrik Yaur Kabupaten Nabire

    Get PDF
    Model utilization of whale sharks that benefit the economy as well as providing protection against a whale shark can be done through tourism with the concept of ecotourism. Akudiomi village is one of the villages in the region of Teluk Cenderawasih National Park that has the object and attraction-based whale sharks. Increased tourist arrivals to the region has given economic benefits for all parties. The purpose of this research is to know the economic benefit gained by the stakeholders and in particular to know the welfare of the local travel business operators of whale shark ecotourism activities. The study was conducted from March to May 2014 in Kampung Akudiomi Nabire district of Papua province. The results of the study informs that activity-based ecotourism whale sharks in the waters Akudiomi had a positive impact that is bringing economic benefits to all stakeholders, including local communities. The economic benefits obtained by each party is different, depending on the policies in the tariff, as well as the type of activity and the number of tourist visits. Although it has provided economic benefits, the welfare of the local travel trade is still relatively low (33%) and moderate (67%), the general ability of a per capita income lower than the level of consumption.Model pemanfaatan hiu paus yang memberi manfaat ekonomi sekaligus memberikan perlindungan terhadap hiu paus dapat dilakukan melalui pariwisata dengan konsep ekowisata. Kampung Akudiomi merupakan salah satu kampung di wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang memiliki objek dan daya tarik wisata berbasis hiu paus. Meningkatnya kunjungan wisatawan ke wilayah ini telah memberi manfaat ekonomi bagi berbagai pihak. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui manfaat ekonomi yang diperoleh para pemangku kepentingan dan secara khusus mengetahui tingkat kesejahteraan pelaku usaha wisata lokal dari aktifitas ekowisata hiu paus. Studi dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2014 di Kampung Akudiomi Kabupaten Nabire Propinsi Papua. Hasil penelitian menginformasikan bahwa kegiatan ekowisata berbasis hiu paus di perairan Akudiomi telah memberikan dampak positif yaitu mendatangkan manfaat ekonomi bagi para pemangku kepentingan termasuk masyarakat lokal. Manfaat ekonomi yang diperoleh oleh masing-masing pihak berbeda-beda, tergantung dari kebijakan dalam penetapan tarif, serta jenis kegiatan dan jumlah kunjungan wisatawan. Meskipun telah memberi manfaat ekonomi, tingkat kesejahteraan pekerja wisata lokal masih tergolong rendah (33%) dan sedang (67%), secara umum kemampuan pendapatan perkapita lebih kecil dari tingkat konsumsi

    Jenis-Jenis Kima dan Kelimpahannya di Perairan Amdui Distrik Batanta Selatan Kabupaten Raja Ampat

    Get PDF
    Giant clams, fauna that wellknown protected worldwide were also found in Raja Ampat. This study aimed to inventarus the giant clam species and its abundancy, and was done on March-April  2014 in Amdui that has coral reef ecosystem. Three sites study were in  Ayem isle, Sawaris Bay and Sawros Bay, and the method used observation and belt transect technique.  Giant clams found consisted 8 species that were T. crocea,  T. maxima, T. squamosa, T .gigas, H. porcellanus, H. hippopus, T. tevoroa dan T.derasa. The highest abundancy of giant clams was in station I dominated by T. maxima with percentage 48.387 %, and then the lowest abundancy was T.squamosa (3.225 %) also the density of T.squamosa only 0.002 individu/m2 .  At station II, the highest abundancy was  T. maxima (38.805 %) and the lowest T. squamosa 2.985%. The density however, ranged  from T.maxima 0.004 to 0.052  individu/m2. At station III, T.crocea dominantly covered at 139.860%, and the lowest abundancy was  T.tevoroa 0.699%, and the highest density was T.crocea 0.112 individu/m2 .Kima merupakan salah satu jenis molusca laut yang banyak ditemukan di perairan Raja Ampat. Hewan ini dilindungi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-April  2014, di perairan Amdui yang memiliki ekosistem terumbu karang, dan  ditetapkan 3 lokasi pengamatan yaitu: Pulau Ayem, Teluk Sawawris dan Teluk Sawros. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi dengan teknik belt transek, dan bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan kima di perairan Amdui. Kima yang ditemukan di perairan laut Kampung Amdui Kabupaten Raja Ampat yaitu 8 jenis terdiri dari T. crocea,  T. maxima, T. squamosa, T .gigas, H. porcellanus, H. hippopus, T. tevoroa dan T.derasa. Kelimpahan relatif kima pada stasiun I tertinggi didominasi oleh jenis T. maxima dengan persentase 48.387 % dengan kelimpahan relatif terendah pada jenis T.squamosa dengan persentase 3.225 % dan kepadatan terendah pada jenis T.squamosa dengan persentase 0.002 individu/m2 .. Kelimpahan relative kima tertinggi pada stasiun II didominasi oleh jenis T. maxima yaitu 38.805 % dan kelimpahan relative terendah pada jenis T. squamosa adalah 2.985%. Kepadatan terendah adalah 0.004 individu/m2 pada jenis T.maxima.Sedangkan kepadatan tertinggi pada jenis T. maxima adalah 0.052  terdapat pada stasiun II. Kelimpahan relative kima tertinggi pada stasiun III didominasi oleh jenis T.crocea yaitu  139.860%, dan dengan kelimpahan relative terendah pada jenis T.tevoroa adalah 0.699% dengan kepadatan kepadatan tertinggi pada jenis T.crocea adalah 0.112 individu/m2

    Kelimpahan Makrozoobentos di Daerah Bervegetasi (Lamun) dan Tidak Bervegetasi di Teluk Doreri Manokwari

    No full text
    Macrozoobenthos in vegetated area of seagrass had abundancy higher  (0,070-0,085 ind/2738,06 cm3) than the un-vegetated area (0,035-0,067 ind/2738,06 cm3). This finding revealed by t-test that shown by accepted H1. It means a significant difference between the abundancy of macrozoobenthos in vegetated to un-vegetated areas.  The number of species found in vegetated area by using corer in Doreri Bay was 113 species and in unvegetated area was 57 species.Makrozoobentos  di  daerah  bervegetasi  (lamun)  memiliki  kepadatan  yang  lebih tinggi  yaitu  berkisar  antara  0,070-0,085  ind/2738,06  cm3,  dibandingkan  dengan    pada daerah yang tidak bervegetasi yaitu berkisar antara 0,035-0,067 ind/2738,06 cm3. Angka ini juga dibuktikan dengan uji t yang menunjukkan H1 diterima yang berarti ada perbedaan yang nyata antara kepadatan makrozoobentos yang ditemukan di daerah bervegetasi dan daerah tidak bervegetasi. Jumlah spesies yang ditemukan di daearah bervegetasi dengan alat corer di Teluk Doreri adalah 113 spesies  dan di daerah tidak bervegetasi ditemukan 57 spesies

    Komposisi Kimia Cacing Kacang (Sipunculus nudus) di Kabupaten Raja Ampat dan Kabupaten Manokwari

    Get PDF
    Phylum Sipuncula is an unique marine creature, as its external morphology. This animal like  a worm, and thus its name peanut worm. Papua people live in coast nearby ate this organism as food, but its nutrition status was not yet discussed. Research was done in March-Paril 2014, with the goal of determining chemical composition of S. nudus taken from Raja Ampat and Manokwari. Results showed that water content S. nudus of Sowi 4 Manokwari) was 8.06%, highest fat content found on sample of Kampung Amdui Raja Ampat (1.70%), as well as protein ( 82.46%). The highest carbohydrate was in sample of Sowi 4 Manokwari (7.26%), but  the fibre was in sample of Kampung Amdui Raja Ampat(11.07 Mg/100g) and 297.01Mg/100g. Other mineral such as kalium od  Sowi 4 Manokwari sample was 207.48Mg/100g. The difference  on size length and weight were not affect the percentage of nutrition value of S. nudus.Filum Sipuncula adalah biota laut unik, dari penampilan luarnya. Hewan ini mirip dengan cacing, sehingga diistilahkan peanut worm. Masyarakat pesisir Papua khususnya di Papua Barat telah memanfaatkan organisme ini sebagai bahan pangan, tetapi komposisi gizi dari spesies inu belum banyak dibahas. Penelitian dilakukan Maret-April 2014, bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia dari Sipuncula nudus yang diambil dari perairan Raja Ampat dan Manokwari. Hasil menunjukkan bahwa kadar air S. nudus dari Kelurahan Sowi 4 Manokwari) yaitu 8.06%, kadar lemak tertinggi terdapat pada Kampung Amdui Raja Ampat) yaitu 1.70%, kadar protein tertinggi berasal dari Kampung Amdui Raja Ampat) yaitu 82.46%, karbohidrat tertinggi berasal dari Kelurahan Sowi 4 Manokwari) yaitu 7.26% dan kadar serat kasar Kelurahan Sowi 4 Manokwari) yaitu 1.05%. Sedangkan untuk kadar mineral besi dan kalsium tertinggi sampel dari Kampung Amdui Raja Ampat 11.07 Mg/100g  dan kalsium sebesar 297.01Mg/100g. Sedangkan  kadar mineral kalium tertinggi dari lokasi Kelurahan Sowi 4 Manokwari yaitu 207.48Mg/100g. Perbedaan ukuran panjang dan berat tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap persentase kandungan gizi dan mineral dari Sipunculus nudus

    Status Mutu Kualitas Air Laut Pantai Maruni Kabupaten Manokwari

    Get PDF
    This study aimed to know the concentration of ammoniac, nitrate and orthophosphates cited in quality standard for marine biotas and to determine the water quality by using pollution index.   Concentration of ammoniac and nitrate during the study in Maruni Beach- Manokwari showed that the numbers has higher than environmental  quality standard at the two periods done.  Orthophosphates, on the other hand, was still under the minimum number according to  Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut.  Status of water quality in Maruni Beach based on pollution index was in light pollution to medium categories.  Parameters that contributed to the condition was ammoniac and nitrate that over to the limit of environmental standard quality.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Amonia, Nitrat dan Ortoposfat serta parameter lainnya yang tertera pada baku mutu air laut untuk biota laut dan mengetahui status mutu kualitas air laut dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Konsentrasi ammonia dan nitrat dari dua periode pengamatan dalam satu wilayah Pantai Maruni secara konsisten menunjukkan hasil yang melebihi nilai ambang batas baku mutu lingkungan, sedangkan ortofosfat pada semua titik sampling masih dibawah nilai ambang batas baku mutu lingkungan sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut. Status mutu kualitas air laut Pantai Maruni berdasarkan analisis Indeks Pencemaran (IP) termasuk dalam kategori cemar ringan hingga cemar sedang. Parameter yang berkontribusi terhadap kondisi ini adalah ammonia dan nitrat yang telah melebihi baku mutu lingkungan

    Identifikasi Ikan Genus Mystus Dengan Pendekatan Genetik

    Get PDF
    The fish of the Bagridae Family in Indonesia reach  until 60 species and one of them is from the genus Msytus.  The method is used for fast and accurate species identification was needed. DNA barcoding was a new identification method with molecularly approach. The CO1 gene was amplified and PCR products were sequenced and analyzed using bioinformatics software. Editing of sequencing results and determining the nucleotide composition were analyzed with Mega5 software. The DNA sequence was aligned with ClustalW vers. 1.4. Sequences are compared with GenBank data using BLAST (Basic Local Aligment Search Tools) and BOLDSystems. Phylogenetic tree was made using Neighbor_Joining method. One example of the identification of fish from the confirmed Mystus genus is Mystus nigriceps being the Mystus singaringan.Ikan-ikan dari Famili Bagridae di Indonesia mencapai 60 jenis dan salah satunya dari genus Msytus. Metode yang digunakan untuk identifikasi ikan yang sangat cepat dan akurat sangat diperlukan.  DNA barcoding adalah teknik identifikasi baru dengan pendekatan molekular. Gen CO1 diamplifikasi dan produk PCR disekuensing serta dianalisis dengan menggunakan software bioinformatika.  Pengeditan hasil sekuensing dan penentuan komposisi nukleotida dianalisis dengan software Mega5. Urutan DNA disejajarkan dengan ClustalW vers. 1.4. Sekuens dibandingkan dengan data GenBank menggunakan BLAST (Basic Local Aligment Search Tools) dan BOLDSystems.  Pohon filogenetik dibuat dengan menggunakan metode Neighbor_Joining. Salah satu contoh identifikasi ikan dari genus Mystus yang telah dikonfirmasi adalah Mystus nigriceps menjadi Mystus singaringan

    Aspek Biologi dan Pemetaan Daerah Penangkapan Lobster (Panulirus spp) di Perairan Kampung Akudiomi Distrik Yaur Kabupaten Nabire

    Get PDF
    oai:ojsfpik.ejournalfpikunipa.ac.id:article/12This research was done on March-April 2014 at village of Akudiomi that was wellknown as Kwatisore in Nabire Regency  at Papua Province. The research aimed to determine species composition, length-weigh relationship, local fishermen inventarization and mapping lobster fishing ground. Method used was descriptive with observation techniqu, sampling and interview.  Also, the mapping and identification the correlation between physical oceanography  parameters (temperature, salinity, depth and pH) on the fishing ground of lobster was to know the effect on the lobster availability. Resuls showed that during field observation, three species of lobsters were caught by fisheremen in Akudiomi that are P. versicolor for 111 individu, P. longipes and  Thenus spp was 1 individu consecutively.  The prediction of lobster growth pattern only done for  P. versicolor  as the dominant species caught in Akudiomi, that P. versicolor’ carapace length 8-13 and weight 250-1,097 gr/individu. Correlation between carapace length and weight of  P.versicolor indicated positive with the same direction at 0.8636, (near 1). Analysis growth pattern P. versicolor showed   , thus means   or allometric negative (the growth of length faster than weight). Regression analysis indicated that temperature, depth, salinity and pH  significantly affected  the yield of lobster caught by fishermen in Akudiomi.  Morevoer, oseanography aspects that had  significant  effect to caught of lobster temperature, salinity and pH.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2014 di kampung Akudiomi yang dikenal sebagai  perairan Kwatisore Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui komposisi jenis, mengukur panjang-berat, meng-iventarisasi nelayan lokal dan memetakan daerah penangkapan lobster. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi, pengambilan sampling dan wawancara. Pemetaan dan identifikasi hubungan parameter oseanografi perairan (suhu, salinitas, kedalaman dan pH) di daerah penangkapan lobster untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ketersediaan sumberdaya lobster. Hasil identifikasi diperoleh 3 jenis lobster yang tertangkap oleh nelayan di perairan kampung Akudiomi yaitu P. versicolor berjumlah 111 ekor, P. longipes dan Thenus spp masing-masing berjumlah 1 ekor. Pendugaan pola pertumbuhan lobster dilakukan hanya pada P. versicolor yang merupakan spesies dominan tertangkap oleh nelayan. Panjang karapas P. versicolor berkisar 8-13 cm dan berat berkisar 250-1,097 gr/ekor. Pola hubungan panjang karapas dan berat lobster P.versicolor menunjukkan nilai korelasi positif atau searah terhadap pertumbuhan dengan nilai korelasi 0.8636, koefisien ini bernilai positif (mendekati 1). Berdasarkan analisis pola pertumbuhan P. versicolor diperoleh persamaan , maka pola pertumbuhan relative bernilai  yang berarti allometrik negatif artinya pertumbuhan panjang lebih cepat dari pada pertumbuhan berat.  Analisis regresi menunjukan bahwa suhu, kedalaman, salinitas dan pH berpengaruh nyata terhadap variasi hasil tangkapan lobster di perairan kampung Akudiomi. Faktor oseanografi yang berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan lobster adalah suhu, salinitas dan pH

    Pemanfaatan, Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pelestarian Ekosistem Pesisir Distrik Manokwari Selatan

    No full text
    Selain kajian ekologi, kajian  sosial ekonomi tentang peran masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir juga perlu dilakukan untuk mendesain model pengelolaan pesisir yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk pemanfaatan sumberdaya pesisir oleh masyarakat di Distrik Manokwari Selatan dan untuk mengetahui persepsi dan partisipasi masyarakat tentang pelestarian ekosistem pesisir. Penelitian berlangsung pada April  hingga  Juli 2013, bertempat di Rendani, Sowi IV, dan Arfai, Distrik  Manokwari Selatan.  Pengumpulan data dilakukan  dengan observasi dan wawancara. Pengolahan data persepsi secara  tabulasi  yang dinyatakan dalam persen (%) dan disajikan dalam bentuk diagram, selanjutnya dilakukan analisa interpretasi dengan menggunakan referensi terkait. Hasil penelitian memberi informasi bahwa masyarakat telah memanfaatkan mangrove dan karang untuk berbagai peruntukan, sedangkan lamun belum dimanfaatkan. Terdapat bentuk pemanfaatan yang bersifat merusak seperti penebangan mangrove  dan penambangan karang. Responden menilai bahwa kondisi lingkungan pesisir telah rusak, terutama ekosistem mangrove (97%) dan terumbu karang (83%). Permasalahan yang paling dominan adalah berkurangnya sumberdaya ikan (98%) dan terkontaminasinya laut oleh sampah (97%). Responden juga menilai bahwa perlu ada upaya pelestarian sumberdaya alam pesisir dan lautan seperti penanaman mangrove (47%) dan karang (32%). Partisipasi masyarakat dalam pelestarian ekosistem pesisir tergolong rendah, baru sampai pada tahap restorasi, dan termasuk partisipasi yang dimobilisasi.Beside the study of ecology, socio-economic studies on the role of the community in exploiting the coastal resources is also necessary to design the right model of coastal management. The purpose of this study was to determine the shape of coastal resource use by communities in Distrik Manokwari Selatan and to know the perception and public participation on the preservation of coastal ecosystems. The study lasted from April to July 2013, at Rendani, Sowi IV, and Arfai, Distrik Manokwari Selatan. The data collection is done by observation and interviews. Data processing perception of tabulation expressed in percent (%) and are presented in chart, then analyzed using the interpretation of related references. The results of this study provide information that people use mangrove and coral, while seagrass untapped. There are forms of  destructive using such as the harvesting of mangroves and coral mining. Respondents judged that the condition of the coastal environment has been damaged, especially mangrove ecosystems (97%) and coral reefs (83%). The problems most dominant is the reduction of fish resources (98%) and contamination of the sea by garbage (97%). Respondents also considered that there should be efforts to conserve coastal and marine natural resources such as mangrove planting (47%) and Coral (32%). Community participation in the preservation of coastal ecosystems is low, to reach the phase of restoration, and included participation mobilized

    187

    full texts

    220

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇