Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Keberlanjutan Ekologi dan Strategi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan: Mewujudkan Maluku Sebagai Lumbung Ikan Nasional
Selected as the National Fish Reserve (LIN), Maluku Province is known for its abundant marine resources and enormous fishery potential, supported by a capture fishery area of 658,294.69 km² which is the largest in Indonesia. Maluku has three Fishery Management Areas of the Republic of Indonesia (WPPNRI), namely WPPNRI-714, WPPNRI-715, and WPPNRI-718. However, based on production data for the capture fishery and aquaculture sectors in Maluku Province during the 2018-2022 period, these resource potentials have not been optimally utilized. Therefore, this research aims to analyze the ecological conditions and utilization of fishery resources in Maluku Province as a consideration for developing targeted policies and strategies for fishery resource utilization. This research uses a quantitative descriptive approach with data presented in narrative format, simple tables, graphs, and Multidimensional Scaling (MDS) analysis. Data collection was conducted from various sources over a 5-year period (2018-2022). Based on the analysis results, the status of ecological conditions and fishery resource utilization in Maluku Province is classified as less sustainable, indicated by Rapfish scores below 50. To improve the sustainability of fishery resource management in this region, strengthening of monitoring systems and community education about the importance of aquatic ecosystem conservation is needed.Terpilih sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN), Provinsi Maluku dikenal dengan kekayaan laut yang berlimpah dan potensi perikanan yang sangat besar, didukung oleh kawasan perikanan tangkap seluas 658.294,69 km² dan merupakan yang terluas di Indonesia. Maluku memiliki tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), yaitu WPPNRI-714, WPPNRI-715, dan WPPNRI-718. Namun, berdasarkan data produksi sektor perikanan tangkap dan budidaya di Provinsi Maluku selama periode 2018-2022, potensi sumberdaya ini belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi ekologi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di Provinsi Maluku sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan strategi pemanfaatan sumberdaya perikanan yang tepat sasaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan penyajian data dalam format naratif, tabel sederhana, grafik, serta analisis Multidimensional Scaling (MDS). Pengumpulan data dilakukan dari berbagai sumber dengan rentang waktu 5 tahun (2018-2022). Berdasarkan hasil analisis, status kondisi ekologi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di Provinsi Maluku tergolong kurang berkelanjutan, ditunjukkan oleh skor Rapfish yang berada di bawah 50. Untuk meningkatkan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah ini, diperlukan penguatan sistem pengawasan dan edukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian ekosistem perairan
Analisis histopatologi insang ikan belanak Mugil cephalus hasil tangkapan nelayan di Wilayah Bumi Dipasena Mulya, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung
This research was conducted in Bumi Dipasena Mulya, East Rawajitu District, Tulangbawang Regency, Lampung, which is known for its intensive farming and fishing activities, especially mullet fish. The research method used is experimental, by measuring physico-chemical parameters of waters including temperature, salinity, pH and dissolved oxygen (DO). The results of the study showed the average value of several histopathological indicators for mullet fish, namely endema on the gills (3), which indicates swelling of the gill tissue due to fluid accumulation in response to environmental stress, such as pollution. In addition, the necrosis value (1,08) reflects the death of cells in the gill tissue, which is caused by exposure to harmful substances, including heavy metals, which can damage gill function. Congestion (1,92) indicates a buildup of blood in the gill vasculature, associated with an inflammatory or stress response, which can disrupt blood and oxygen flow. These findings emphasize the importance of water quality management to maintain the health of aquatic biota.Penelitian ini dilakukan di Bumi Dipasena Mulya, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, yang dikenal dengan aktivitas petambakan dan perikanan intensif, terutama ikan belanak. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, dengan pengukuran parameter fisika-kimia perairan meliputi suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut (DO). Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata beberapa indikator histopatologi ikan belanak, yaitu endema pada insang (3), yang menunjukkan adanya pembengkakan jaringan insang akibat akumulasi cairan sebagai respons terhadap stres lingkungan, seperti pencemaran. Selain itu, nilai necrosis (2,08) mencerminkan kematian sel-sel pada jaringan insang, yang disebabkan oleh paparan zat berbahaya, termasuk logam berat, yang dapat merusak fungsi insang. Kongesti (1,92) mengindikasikan penumpukan darah di pembuluh darah insang, terkait dengan respon inflamasi atau stres, yang dapat mengganggu aliran darah dan oksigen. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas perairan untuk menjaga kesehatan biota akuatik
Pemetaan Peran dan Kolaborasi Stakeholder dalam Pengelolaan Ekowisata serta Pengembangan Ekonomi Kreatif Sentra Tapis Lampung di Desa Wisata Lugusari, Provinsi Lampung
The latest tourism development is focused on the attraction of living activities and rural resources by highlighting various potential regional authenticity. As a derivative of the concept of sustainable tourism development, the development of tourism villages directly contributes to the preservation and introduction of local culture, superior agricultural and plantation activities, as well as triggering the creation of various creative ideas to support the local economy. The selection of this research location was based on research that the Governor of Lampung Province had issued a 2022 decree determining 3 tourism villages focused on developing Lampung Tapis centers, one of which was Lugusari Tourism village, Pagelaran District, Pringsewu Regency. This was welcomed very positively by various welcome who involved themselves directly in developing and promoting various potentials and attractions in the Lugusari Tourism village. Seeing the large number of contributes entering, it is important to identify each stakeholder and carry out role mapping so that the direction of effective and optimal collaboration can be seen. Data were collected by observation, interviews, and literature studies, then analyzed descriptively qualitatively. Based on the research results, it was identified that the tourism pentahelix plays an active role in the management of the Lugusari Tourism village which includes government, private, academic, media, and especially the community stakeholders. The flow of stakeholder coordination in the Lugusari Tourism village is centered on the village government which is at the lead of control regarding regulatory direction, ideas, concepts and program implementation as well as controlling the management conditions of the Lugusari Tourism village. Furthermore, the role of stakeholders in Lugusari Tourism village is divided into 5, namely policy creator (government), Regulator (government), Facilitator (government, academics, business and media), Accelerator (Business and Media), and Implementer (Community).Pengembangan pariwisata terkini banyak difokuskan pada daya tarik berupa aktivitas kehidupan dan sumber daya pedesaan dengan mengangkat berbagai potensi keaslian daerah. Sebagai salah satu turunan dari konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan, pengembangan desa wisata secara langsung berkontribusi terhadap pelestarian serta pengenalan budaya setempat, kegiatan pertanian dan perkebunan unggulan, maupun memicu terciptanya berbagai ide kreatif untuk mendukung perekonomian lokal. Pemilihan lokasi penelitian ini berdasarkan penelaahan bahwa Gubernur Provinsi Lampung telah mengeluarkan Surat Keputusan Tahun 2022 penetapan 3 Desa Wisata fokus pengembangan sentra tapis Lampung, salah satunya yaitu Desa Wisata Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu. Hal ini disambut sangat positif oleh berbagai pihak dengan melibatkan diri secara langsung untuk mengembangkan serta mempromosikan berbagai potensi dan daya tarik di Desa Wisata Lugusari. Melihat banyaknya pihak yang masuk, maka menjadi hal yang penting untuk mengidentifikasi masing-masing stakeholder dan melakukan pemetaan peran agar terlihat arah kolaborasi yang efektif dan optimal. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dan studi literatur, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi bahwa pentahelix pariwisata berperan aktif dalam pengelolaan Desa Wisata Lugusari yang meliputi stakeholder pemerintah, swasta, akademisi, media, dan utamanya juga Masyarakat. Alur koordinasi stakeholder di Desa Wisata Lugusari berpusat di pemerintah pekon yang menjadi ujung kendali terkait arahan regulasi, ide, konsep, maupun implementasi program serta pengendalian kondisi pengelolaan Desa Wisata Lugusari. Selanjutnya, peran pemangku kepentingan di Desa Wisata Lugusari terbagi mejadi 5 yaitu pembuat kebijakan (pemerintah), Regulator (pemerintah), Fasilitator (pemerintah, akademisi, bisnis, dan media), Akselerator (Bisnis dan Media), dan Implementer (Masyarakat)
Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Di Kampung Air Mandidi Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah
Kajian tentang nilai ekonomi ekosistem mangrove sangat penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Penilaian ekonomi mangrove dengan justifikasi dan pendekatan ilmiah yang tepat dapat digunakan untuk memperkirakan nilai submberdaya pada ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai ekonomi total ekosistem mangrove untuk berbagai pemanfaatan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar masyarakat terhadap manfaat keberadaaan ekosistem mangrove di Kampung Air Mandidi Kabupaten Nabire. Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Juli 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan metode wawancara. Penentuan jumlah responden dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel secara sengaja dari responden yang mengetahui dan memahami keadaan ekosistem mangrove di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kawasan ekosistem mangrove Kampung Air Mandidi seluas 94,57 ha mempunyai nilai manfaat ekonomi total sebesar Rp. 4.725.928.149/tahun dengan penyumbang nilai manfaat terbesar adalah dari nilai manfaat langsung. Nilai manfaat ekonomi total dapat dijadikan acuan atau dasar pembanding bagi masyarakat dan pemerintah dalam menentukan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove yang ada. Secara parsial faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap kesediaan membayar masyarakat atau Willingness To Pay (WTP) terhadap keberadaan ekosistem mangrove adalah faktor pendapatan dengan nilai sig 0.00 < α 0.05. Sedangkan faktor usia, tingkat pendidikan jumlah tanggungan dan lama tinggal tidak berpengaruh secara signifikan.Studies on the economic value of mangrove ecosystems are very important to overcome problems that occur in managing mangrove ecosystems. An economic valuation of mangroves with justification and an appropriate scientific approach can be used to estimate the value of resources in the mangrove ecosystem. This research aims to analyze the total economic value of the mangrove ecosystem for various uses and analyze the factors that influence the community's willingness to pay for the benefits of the existence of the mangrove ecosystem in Air Mandidi Village, Nabire Regency. The research was conducted in May – July 2023. The research methods used were survey methods and interview methods. Determining the number of respondents was carried out using a purposive sampling method, namely taking samples deliberately from respondents who knew and understood the state of the mangrove ecosystem at the research location. The research results show that the Air Mandidi Village mangrove ecosystem area covering an area of 94.57 ha, has a total economic benefit value of IDR. 4,725,928,149/year with the largest contributor to the benefit value being the direct benefit value. The total economic benefit value can be used as a reference or basis for comparison for the community and government in determining management and utilization policies for existing mangrove forests. Partially, the factor that has a significant influence on the community's willingness to pay (WTP) for the existence of the mangrove ecosystem is the income factor. with a sig value of 0.00 < α 0.05. Meanwhile, the factors of age, education level, number of dependents and length of stay do not have a significant effect.
Struktur Komunitas Mikroalga di Wisata Air Umbul Kabupaten Klaten
Microalgae give an idea of the fertility of a body of water because the more microalgae in a body of water, the more fertile the water is. This research aims to determine the structure of the microalgae community in the Umbul water tourism area of Klaten Regency. This type of research is descriptive quantitative with a survey method. The data collection technique uses purposive sampling with hand-collection techniques. The data analysis technique uses the Shanon-Wiener diversity index (H'), species evenness index, dominance index, and species richness index as well as looking at physical and chemical parameters to determine water quality. The most common microalgae come from the Bacillariophceae and Cyanophyceae classes.The Shannon-Wiener diversity index for the three stations is in the stable category but the highest index value is at station III at 2.860 and the lowest index value at station I is 2.427. The highest species evenness index was at station I, namely 0.864, and the lowest index at station II was 0.764, so the species evenness index was stable. The highest Dominance Index at station II is 0.13 but is still close to 0 so the dominance index is low. The highest species richness index was at station III and the lowest at station II was 4.83. According to the results of the Umbul Nilo diversity index, Umbul Ponggok and Umbul Sigedang are included in the unpolluted categoryMikroalga memberikan gambaran terhadap kesuburan suatu perairan, karena semakin banyak mikroalga di suatu perairan menandai perairan tersebut semakin subur. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur komunitas mikroalga di wisata air umbul Kabupaten Klaten. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan metode survey. Teknik pengumpulan datan menggunakan purposive sampling dengan teknik hand collection. Teknik analisis data menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Wiener (H’), Indeks kemerataan jenis, indeks dominasi dan indeks kekayaan jenis serta melihat parameter fisika dan kimianya untuk menentukan kualitas air. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ketiga stasiun berada pada kategori stabil tetapi nilai indeks tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 2,860 dan nilai indeks terendah pada stasiun II sebesar 2,427. Indeks kemerataan jenis tertinggi pada stasiun I yaitu sebesar 0,864 dan indeks terendah pada stasiun II sebesar 0,764 sehingga indeks kemerataan jenis stabil. Indeks Dominasi tertinggi pada stasiun II yaitu sebesar 0,13 tetapi masih mendekati 0 sehingga indeks dominasi rendah. Indeks kekayaan jenis tertinggi pada stasiun III dan terendah pada stasiun II sebesar 4,83. Menurut hasil indeks keanekaragaman Umbul Nilo, Umbul Ponggok dan Umbul Sigedang termasuk dalam kategori tidak tercemar
Hibridisasi ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) dan ikan kaviat (Barbonymus schwanenfeldii) dengan menggunakan pemijahan buatan
Fish hybridization is the process of crossing two different fish species to produce offspring that have characteristics of both parents. The main purpose of hybridization is usually to combine superior traits from both species, such as faster growth, disease resistance, or improved meat quality. The experimental design used in this study was a completely randomized design (CRD) with 2 treatments and each treatment consisted of 3 replicates. The treatments were as follows: P1 = Koi X Koi Fish Hatchery (control), P2 = Koi X Kaviat Fish Hatchery. The results showed that the pH value in borehole water quality was 7.89 with Kohaku broodstock producing fecundity of 640 eggs, obtained an average Fertilization Rate (FR) of 17.29% resulting from the average of each egg sample calculation. The highest number of fertilized eggs was found in the PIU1 treatment which was 1470 eggs and the average Hatching Rate (HR) was 49.35%. The conclusion of this study is that hybridization between Koi and Kaviat fish can produce good potential performance based on water quality that can be maintained well with test parameters seen from fecundity, FR, HR, Length Growth, and good Survival Rate (SR). Superior fecundity and quality in the hybridization process between koi and caviat fish can occur well if several environmental factors such as temperature and pH are still on an optimal scale.Hibridisasi ikan merupakan proses persilangan antara dua spesies ikan yang berbeda untuk menghasilkan keturunan yang memiliki karakteristik dari kedua induknya. Tujuan utama dari hibridisasi ini biasanya adalah untuk menggabungkan sifat-sifat unggul dari kedua spesies, seperti pertumbuhan yang lebih cepat, ketahanan terhadap penyakit, atau peningkatan kualitas daging. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan dan masing-masing perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah sebagai berikut: P1 = Penetasan Ikan Koi X Koi (kontrol), P2 = Penetasan Ikan koi X Kaviat. Hasil penelitian menunjukkan Nilai pH pada kualitas air sumur bor berada di 7,89 dengan indukan Kohaku menghasilkan fekunditas sebanyak 640 butir, didapatkan rata-rata Fertilization Rate (FR) yaitu 17,29% dihasilkan dari rata-rata masing-masing perhitungan sampel telur. Jumlah telur tertinggi yang dibuahi terdapat pada perlakuan PIU1 yaitu sebanyak 1470 telur dan rata-rata Hatching Rate (HR) sebesar 49,35%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Hibridisasi antara ikan Koi dan Kaviat mampu menghasilkan performa potensi yang baik berdasarkan kualitas air yang dapat terjaga baik dengan parameter uji yang dilihat dari fekunditas, FR, HR, Pertumbuhan Panjang, dan Survival Rate (SR) yang baik. Fekunditas dan kualitas yang unggul dalam proses hibridisasi antara ikan koi dan ikan kaviat dapat terjadi dengan baik apabila beberapa faktor lingkungan seperti suhu dan pH masih dalam skala optimal
Analisis Data Satelit Altimetri Dalam Pemantauan Gelombang Laut di Perairan Provinsi Bengkulu
Bengkulu Province, located on the west coast of Sumatra Island and facing directly onto the Indian Ocean, causes sea waves in Bengkulu Waters to be directly influenced by its geographical conditions. Sea waves in Bengkulu Waters vary due to the influence of monsoon winds and global climate. Seasonal variations in significant wave height (SWH) obtained from altimetry satellite imagery in five regions representing Bengkulu, namely Mukomuko Waters, North Bengkulu, Bengkulu City, Seluma, and Kaur can be used to monitor sea waves. The coordinates of the five regions representing Bengkulu Waters are as follows: Mukomuko is located at 2°40'20.82" S, 100°38'47.12" E; North Bengkulu at 3°20'6.55" S, 101°4'59.68" E; Bengkulu City is located at 4°0'7.57" S, 101°31'49.10" E; Seluma is located at 4°20'0.00"S, 102° 0'0.00"E; and Kaur is located at 5°0'59.65"S, 102°49'24.50"E. The data used for five years (2018-2022) is in the form of an average daily SWH every 3 hours and is processed using Panoply software to display the distribution of SWH and time series for each of the five regions in Bengkulu Waters. The results of the study show that the highest sea waves occurred in Kaur Waters, reaching 3.9 meters in August 2022 with an average wave height of 1.73 meters. Meanwhile, the lowest sea wave height occurred in Mukomuko Waters which reached 2.7 meters in January and February 2022, with an average wave height of 0.3 meters. Sea wave height in Mukomuko Waters, North Bengkulu Waters, Bengkulu City Waters, Seluma Waters, and Kaur Waters showed an increasing trend over the past five years. The relationship between significant wave height and season shows a consistent pattern.Wilayah Provinsi Bengkulu, yang terletak di pesisir barat Pulau Sumatera, dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia mengakibatkan gelombang laut di Perairan Bengkulu dipengaruhi secara langsung oleh kondisi geografis tersebut. Gelombang laut di Perairan Bengkulu mengalami variasi yang dipengaruhi oleh monsun dan iklim global. Variasi musiman Spectral signifikan wave height (SWH) yang berasal dari data citra satelit altimetri di lima wilayah yang mewakili Bengkulu, yaitu perairan Mukomuko, Bengkulu Utara, Kota Bengkulu, Seluma, dan Kaur dapat digunakan dalam pemantauan gelombang laut. Koordinat dari lima wilayah yang mewakili perairan laut Bengkulu, yaitu wilayah Mukomuko berada di 2°40'20.82"LS, 100°38'47.12"BT; Bengkulu Utara berada di 3°20'6.55"LS, 101° 4'59.68"BT; Kota Bengkulu berada di 4°0'7.57"LS, 101°31'49.10"BT; Seluma berada di 4°20'0.00"LS, 102° 0'0.00"BT; dan Kaur berada di 5°0'59.65"LS, 102°49'24.50"BT. Data yang digunakan selama 5 tahun (2018-2022) berupa data SWH rata-rata harian per 3 jam dan diolah menggunakan software panoply untuk menampilkan distribusi SWH masing-masing area serta SWH time series di lima wilayah Perairan Provinsi Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang laut tertinggi terjadi di perairan Kaur sebesar 3,9 m pada bulan Agustus 2020 dan rata-rata gelombang tinggi di Perairan Kaur sebesar 1,73 m. Sedangkan tinggi gelombang laut minimum yang terjadi di Perairan Mukomuko sebesar 0,3 m pada bulan Januari dan Februari 2022 dan rata-rata tinggi gelombang laut di perairan Mukomuko sebesar 0,3 m. Berdasarkan data tinggi kenaikan gelombang laut yang diperoleh yang di tunjukan pada grafik bahwa Ketinggian gelombang signifikan spektral di perairan Mukomuko, perairan Bengkulu Utara, perairan Kota Bengkulu, Perairan Seluma, dan perairan Kaur menunjukkan tren Tinggi gelombang signifikan spektral selama 5 tahun menunjukkan bahwa terjadi tren nilai Spektral tinggi gelombang signifikan pada setiap tahunnya. Hubungan Spectral ketinggian gelombang signifikan menunjukkan pola yang konsisten terhadap musim
Rehabilitasi Sebagai Upaya Pelesterian Terumbu Karang di Wilayah Konservasi Perairan Indonesia
Coral reef ecosystems are vulnerable to damage. This ecosystem is found in tropical and subtropical seas and consists of reefs (calcareous structures) derived from coral animals and other biota. Considering these issues, efforts are needed to find other ways to enhance the exploration of marine resources without causing damage or increasing environmental productivity. This research employs the process of literature review. The results of article searches in the identified databases show that there are various factors that cause damage to the coastal coral reef ecosystem. There are two human (anthropogenic) factors, including the dumping of garbage into the sea, the use of destructive fishing tools, the mining of corals for consumption, and the temperature, brightness, and predators of coral. The damage to the coral reef ecosystem is caused by the human factor (80.98%) compared to the natural factor (58.09%). Addressing this problem, coral reefs in Indonesia have been saved through rehabilitation and conservation using techniques such as spider web transplantation and hybrid shelves and cor, as well as developing CMRIS (Coral Reef Management Information System) and COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Programme) as technology systems.Ekosistem terumbu karang rentan terhadap kerusakan. Ekosistem ini ditemukan di laut tropis dan subtropis dan terdiri dari terumbu (struktur kapur) yang berasal dari hewan karang dan biota lain. Dengan mempertimbangkan masalah-masalah ini, perlu dilakukan upaya tambahan untuk meningkatkan eksplorasi sumber daya laut tanpa mengorbankan lingkungan atau meningkatkan produktivitasnya. Penelitian ini menggunakan metode literatur review. Menurut hasil pencarian artikel dalam database yang dimaksud, berbagai faktor dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan terumbu karang di pesisir pantai ada dua yaitu faktor manusia (antropogenik) termasuk pembuangan sampah ke laut, penggunaan alat tangkap ikan yang merusak, penambangan karang untuk dimakan, dan faktor alam yaitu peerubahan suhu, kecerahan, dan pemangsa karang. Kerusakan ekosistem terumbu karang disebabkan oleh faktor manusia sebesar (80,98 %) dibandingkan dengan faktor alam sebesar (58,09 %). Mengatasi masalah ini, terumbu karang di Indonesia telah diselamatkan melalui rehabilitasi dan transplantasi dengan menggunakan teknik seperti spider web, transplantasi dengan metode hybrid rak dan cor, juga mengembangkan CMRIS (Coral Reef Management Information System) dan COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) sebagai sistem teknologi
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Terhadap Penghidupan Masyarakat Pesisir Distrik Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan
This study aims to identify the utilization of Non-Timber Forest Products (NTFPs) in the mangrove ecosystem and analyze their impact on the livelihoods of coastal communities in Teminabuan District, South Sorong Regency. The research was conducted from July to September 2024 using direct interviews with 50 respondents selected through purposive sampling, specifically community members who utilize mangrove resources. Data were collected through inventory to obtain comprehensive information on the types, quantities, and productivity of each NTFP commodity, and then analyzed using qualitative descriptive methods. The results indicate two main categories of NTFP utilization: flora (mangrove leaves, pedada, nipah, coconut, and rattan) and fauna associated with mangroves (honeybees, crabs, clams, ants, catfish, and shrimp). The utilization of NTFPs includes direct consumption, traditional medicine, sales, tourism, and garden creation. Mangroves play an important role as a source of food and livelihood for coastal communities, thus the utilization of NTFPs is carried out sustainably. This study provides baseline data on the potential of mangrove NTFPs in Teminabuan District, supporting sustainable management, community empowerment, forest conservation, and the improvement of coastal community welfare. These findings contribute to local economic development and the conservation of mangrove ecosystems in Southwest Papua.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pada ekosistem mangrove serta menganalisis dampaknya terhadap penghidupan masyarakat pesisir di Distrik Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan. Penelitian dilaksanakan pada Juli hingga September 2024 menggunakan metode wawancara langsung terhadap 50 responden yang dipilih secara purposive sampling, yaitu masyarakat yang memanfaatkan mangrove. Data dikumpulkan melalui inventarisasi untuk memperoleh informasi komprehensif mengenai jenis, jumlah, dan produktivitas masing-masing komoditas HHBK, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua kategori utama pemanfaatan HHBK, yaitu flora (daun bakau, pedada, nipah, kelapa, dan rotan) serta fauna hasil ikutan mangrove (lebah madu, kepiting, kerang, semut, ikan sembilang, dan udang). Pemanfaatan HHBK meliputi konsumsi langsung, obat tradisional, penjualan, wisata, dan pembuatan kebun. Mangrove memiliki peran penting sebagai sumber pangan dan penghidupan masyarakat pesisir, sehingga pemanfaatan HHBK dilakukan secara berkelanjutan. Penelitian ini memberikan data dasar mengenai potensi HHBK mangrove di Distrik Teminabuan yang mendukung pengelolaan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian hutan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal dan konservasi ekosistem mangrove di Papua Barat Daya
Analisis Hubungan Kualitas Tanah Terhadap Produksi Tambak di Pulau Mangkudulis Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara
Mangkudulis Island is one of the regions in the Tana Tidung Regency, North Kalimantan Province, which has significant potential in fisheries, particularly traditional shrimp pond aquaculture for tiger shrimp (Penaeus monodon). In general, environmental factors, such as soil quality, will affect the quality of pond water. The issue of water quality in shrimp ponds generally begins with soil quality, including pH, redox potential, organic carbon content, total nitrogen, C/N ratio, Fe, Mn, Al, and soil texture. This study aims to analyze soil quality parameters in relation to tiger shrimp pond production. The research was conducted over two months, from August to September 2022, in the tiger shrimp ponds on Mangkudulis Island. Soil samples were analyzed in a laboratory for parameters such as pH, redox potential, organic matter, texture, and heavy metals. The results of the soil quality measurements from Mangkudulis Island shrimp ponds indicate that the soil quality, based on parameters such as pH, redox potential, organic matter, and texture, does not meet the standard quality criteria. However, the levels of heavy metals (Al, Fe, and Mn) are within the acceptable standards. The average results for each parameter were: pH 5.5, redox potential -293 mV, organic carbon 2.26%, total nitrogen 0.18%, C/N ratio 13.15, sand 12.20%, silt 52.72%, clay 35.08%, Al 11.14 ppm, Fe 36.26 ppm, and Mn 17.42 ppm. These results were compared with shrimp production data obtained through interviews with pond owners. The average pond production is 300 kg/hectare, with 70,000 seed shrimp stocked at a density of 40 shrimp per kg. This result is not optimal due to the soil quality in the Mangkudulis ponds. Proper soil management needs to be implemented before the ponds are reused.Pulau Mangkudulis merupakan salah satu daerah di Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara, memiliki potensi perikanan yang cukup besar, khususnya perikanan budidaya tambak tradisional udang windu. Secara umum, faktor lingkungan yaitu kualitas tanah akan mempengaruhi kualitas air tambak. Permasalahan kualitas air dalam tambak umumnya bermula dari kualitas tanah, seperti pH, reaksi redoks, kandungan C organik, N total, rasio C/N, Fe, Mn, Al, dan tekstur tanah. Tujuan dari penelitian ini Menguji parameter kualitas tanah tambak dengan Menganalisis kualitas tanah terhadap. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu dari bulan Agustus hingga September 2022, di tambak udang windu pulau Mangkudulis Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara. Sampel tanah dianalisis pada Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Data kuantitatif dari pengukuran kualitas tanah dianalisis dengan metode statistik menggunakan Ms. Excel untuk mendapatkan minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi. Hasil pengukuran kualitas tanah tambak pulau Mangkudulis Kabupaten Tanah Tidung menunjukkan bahwa, kualitas tanah tambak bersifat asam dengan nilai pH 4.0; pH2 yaitu 4.07, dan pH yaitu 3.78, yang berkorelasi terhadap nilai potensial redoks, bahan organik, kandungan Al, Fe, dan Mn. Hasil kualitas tanah tersebut menjadi faktor penurunan produksi tambak udang windu di Pulau Mangkudulis Kabupaten Tana Tidung.