Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik (FPIK UNIPA)
Not a member yet
220 research outputs found
Sort by
Identifikasi Penyakit dan Gangguan Kesehatan Karang di Perairan Pomalaa Sulawesi Tenggara
Coral reef ecosystems have an important role in maintaining the balance of the marine environment, providing habitat for various ecosystems, and supporting the existence of coastal and marine resources. However, coral is also vulnerable to being threatened by various diseases and health disruption which can cause a decline in its quality and sustainability. This research aims to identify types of diseases and coral health disruption, forms of coral growth infected with diseases and disruption, and analyze the prevalence of coral diseases in Pomalaa waters. Sampling was carried out at 4 observation points. The research used a survey method and a belt transect method, measuring 5 m x 50 m to identify coral diseases and health problems. The research results found 6 types of coral disease, namely Black Band Disease (BBD), White Syndromes (WS), Yellow Band Disease (YBD), Pink Plotch (PP), Ulcerative White Spots (UWS), and Red Band Disease (RBS). Coral health disruption are generally caused by coral bleaching, Crown of Thorns Starfish, Growth Anomalies, Pigmentation Response, and Sediment Damage. The decline in the quality of the aquatic environment plays a major role in the emergence of various diseases and disruption of coral health, which have an impact on physiological disturbances for coral biota. Meanwhile, the coral growth forms (lifeforms) that are infected are Acropora Branching, Acropora encrusting, and Coral Massive. The highest prevalence rate of coral disease was at station 1, while the lowest was at station 4. The high prevalence rate of corals was the result of a combination of various natural and anthropogenic factors. The low level of coral prevalence at station 4 is possible because this side is a windward area that is exposed to currents at all times, thus helping corals to clean sediment attached to the surface which may carry bacteria that cause disease and coral health disruption. Global warming, pollution, destructive fishing practices, and invasive species are some of the main causes that increase corals' vulnerability to disease and health disorders. Ekosistem terumbu karang memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut, menyediakan habitat bagi berbagai ekosistem, serta mendukung keberadaan sumberdaya pesisir dan laut. Namun, karang juga rentan terancam oleh berbagai penyakit dan gangguan yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kelestariannya. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi jenis penyakit dan gangguan kesehatan karang, bentuk pertumbuhan karang yang terinfeksi penyakit dan gangguan, serta menganalisis prevalensi penyakit karang di perairan Pomalaa. Pengambilan sampel dilakukan di 4 titik pengamatan, disepanjang wilayah pesisir Pomalaa. Penelitian menggunakan metode survei dan metode transek sabut (belt transect), dengan ukuran 5 m x 50 m untuk mengidentifikasi penyakit dan gangguan kesehatan karang. Hasil penelitian ditemukan 6 jenis penyakit karang yaitu Black Band Disease (BBD), White Syndromes (WS), Yellow Band Disease (YBD), Pink Plotch (PP), Ulcerative White Spots (UWS) , dan Red Band Disease (RBS). Gangguan kesehatan karang yang ditemukan disebabkan oleh pemutihan karang (Bleaching), Crown of Thorns Starfish, Growth Anomalies, Pigmentation Response, dan Sediment Damage. Penurunan kualitas lingkungan perairan sangat berperan terhadap munculnya berbagai penyakit dan gangguan terhadap kesehatan karang. Bentuk pertumbuhan karang (lifeform) yang terinfeksi adalah Acropora Branching, Acropora encrusting, dan Coral Massive. Tingkat prevalensi penyakit karang tertinggi terdapat pada stasiun 1, sedangkan terendah pada stasiun 4. Tingginya tingkat prevalensi karang merupakan akibat dari kombinasi berbagai faktor alami dan antropogenik. Rendahnya tingkat prevalensi karang pada stasiun 4 dimungkinkan karena pada sisi ini merupakan daerah windward yang terkena arus tiap saat, sehingga membantu karang dalam membersihkan sedimen yang menempel pada permukaan yang dimungkinkan membawa bakteri penyebab penyakit dan gangguan kesehatan karang. Pemanasan global, polusi, praktik penangkapan ikan yang merusak, dan spesies invasif adalah beberapa penyebab utama yang meningkatkan kerentanannya terhadap penyakit dan gangguan kesehatan karang. 
Keberadaan Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera (EPT) Sebagai Bioindikator Pencemaran di Sungai Bone Gorontalo
Rivers play a crucial role as aquatic ecosystems within the hydrological cycle, serving as vital areas for environmental water absorption. Their conditions are intricately shaped by both human activities and the inherent characteristics of their surrounding environments. Among these rivers, the Bone River stands as a pivotal hub of community life in Gorontalo, yet it faces significant vulnerability to pollution. This research endeavors to assess the water quality of the Bone River utilizing Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera (EPT) as bioindicators. Conducted between March and April 2021, the study spanned eight carefully selected observation stations, covering the river's course from upstream to downstream. The evaluation of water quality is undertaken through a quantitative analysis of biotile diversity parameters, encompassing calculations of EPT diversity, percentage abundance, and the overall diversity of macrozoobenthos families. From the research findings, it was revealed that the Bone River hosts 16 EPT families, comprising a total of 1438 individual observations. Across the eight stations, the diversity of the EPT family encompassed 16 taxa, inclusive of 7 Ephemeroptera and 9 Trichoptera taxa, with Plecoptera notably absent. Notably, the results of the Biotilik examination yielded a score of 2.28 for the water quality of the Bone River. This score indicates a pollution burden on the river, as evidenced by elevated Biological Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) concentrations at select observation sites, surpassing established quality standards. Furthermore, the absence of macrozoobenthos, particularly Plecoptera, which are known for their sensitivity to pollution, further underscores the compromised state of the river's water quality.Sungai merupakan ekosistem akuatik vital dalam siklus hidrologi dan berfungsi sebagai daerah penyerapan air untuk lingkungannya. Kondisi sungai dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik dan karakteristik lingkungan di sekitarnya. Sungai Bone, sebagai salah satu pusat aktivitas masyarakat di Gorontalo, rentan terhadap pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas perairan Sungai Bone dengan menggunakan Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera (EPT) sebagai bioindikator. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2021 di delapan stasiun pengamatan terpilih yang mewakili hulu hingga hilir Sungai Bone. Penilaian kualitas perairan dianalisis secara kuantitatif dengan melihat parameter keberagaman biotilik melalui perhitungan keragaman dan persentase kelimpahan EPT serta perhitungan keragaman famili makrozoobentos secara keseluruhan didukung dengan parameter fisika kimia air. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 16 famili EPT di sepanjang Sungai Bone dengan total pengamatan 1438 individu. Keragaman famili EPT yang ditemukan di 8 stasiun sebanyak 16 taksa yang mewakili Ephemeroptera (7 taksa) dan Trichoptera (9 taksa) dan tanpa kehadiran Plecoptera. Hasil pemeriksaan Biotilik menunjukkan bahwa kualitas perairan Sungai Bone mendapatkan skor 2,28. Hal ini menunjukkan bahwa Sungai Bone telah mengalami pencemaran, didukung dengan konsentrasi BOD dan COD di beberapa stasiun pengamatan yang telah melewati baku mutu dan tidak ditemukannya makrozoobentos (Plecoptera) yang bersifat sensitif terhadap pencemaran
Peningkatan Efisiensi Pakan dan Performa Pertumbuhan Ikan Betok (Anabas testudineus) yang Dipelihara pada Periode Pemuasaan yang Berbeda
Fish feed is known to account for 60-70% of total aquaculture costs, posing a significant challenge to farmers. To address the issue, this study explored the effectiveness of periodic starvation in improving feed efficiency and growth performance of climbing perch while reducing the cost of purchasing feed. The method used was a completely randomized design (CRD) analyzed using ANOVA. Four treatments were applied with three replicates each. The treatments consisted of P0 (no fasting), P1 (one day of fasting followed by one day of feeding), P2 (one day of fasting and two days of feeding), and P3 (one day of fasting and three days of feeding). The parameters observed included feed efficiency, growth in length and absolute weight, and fish survival rates. The results showed that periodic starvation significantly impacted the absolute body weight growth and feed efficiency (P<0.05). However, no effect was observed on the survival rates and absolute length growth. Among the treatments, P1 showed the best results, with feed efficiency of 21.87%, length growth of 0.23 cm, weight growth of 0.22 g, and survival rate of 100%. In conclusion, this study found that periodic starvation combined with feeding could significantly improve fish feed use efficiency and save fish farmers' costs.Pakan ikan diketahui menyumbang 60-70% dari total biaya akuakultur, sehingga menjadi tantangan yang signifikan bagi pembudidaya. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi efektivitas pemuasaan periodik dalam meningkatkan efisiensi pakan dan kinerja pertumbuhan ikan sekaligus mengurangi biaya pembelian pakan. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang dianalisis menggunakan ANOVA. Empat perlakuan diterapkan dengan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan tersebut tterdiri dari P0 (tanpa puasa), P1 (satu hari puasa diikuti dengan satu hari pemberian pakan), P2 (satu hari puasa dan dua hari pemberian pakan), dan P3 (satu hari puasa dan tiga hari pemberian pakan). Parameter yang diamati meliputi efisiensi pakan, pertumbuhan panjang dan berat mutlak, serta tingkat kelangsungan hidup ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelaparan periodik secara signifikan berdampak pada pertumbuhan berat badan absolut dan efisiensi pakan (P<0,05). Namun, tidak berpengaruh pada tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan panjang mutlak. Di antara perlakuan yang diberikan, P1 menunjukkan hasil terbaik, dengan efisiensi pakan 21,87%, pertumbuhan panjang 0,23 cm, pertumbuhan berat 0,22 g, dan tingkat kelangsungan hidup 100%. Kesimpulannya, penelitian ini menemukan bahwa pemuasaan berkala yang dikombinasikan dengan pemberian pakan secara signifikan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan ikan dan menghemat biaya pembudidaya ikan
Aspek Pertumbuhan Ikan Julung-Julung (Hemiramphus lutkei, Valenciennes 1847) yang Dipasarkan di Kabupaten Manokwari
This study aims to determine the biological aspects of julung fish by providing basic information regarding size distribution, sex ratio, length-to-weight relationship, growth pattern, and condition faktors. Data collection was carried out at Sanggeng Market and Borobudur market which are fish marketing places in Manokwari Regency, November 2021-January 2022 using a descriptive research method. Fish sampling was done randomly. The results showed that the sex ratio of male fish (1278 fish) was greater than the number of female fish (575 fish), this means that it was significantly different and did not follow a 1:1 ratio. The size distribution of julung-julung fish varies from 200-287 mm for male fish and 220-309 mm for females. Body weight 23-63 grams for males and 31-73 grams for females. The relationship between fish length and weight follows the regression equation W = 0.0021L1.779 for males, and W = 0.0235L1.3656 for females. The growth pattern of fish was allometric negative (b < 3) for both males and females. Condition faktor values ranged from 0.012-1.079 for males and 0.645-1.630 for females. The conclusion of this study is that fish growth is strongly influenced by faktors such as gender, age.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi ikan julung dengan memberikan informasi dasar mengenai sebaran ukuran , rasio jenis kelamin, hubungan panjang berat, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi. Pengambilan data dilaksanakan di Pasar Sanggeng dan pasar Borobudur yang merupakan tempat pemasaran ikan di Kabupaten Manokwari, pada Bulan November 2021-Januari 2022 dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. Pengambilan sampel ikan dilakukan secara acak. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasio kelamin ikan jantan (1278 ekor) lebih banyak dari jumlah ikan betina (575 ekor), hal ini berarti berbeda nyata dan tidak mengikuti perbandingan 1:1. Sebaran ukuran ikan julung-julung bervariasi 200-287 mm untuk ikan jantan dan 220-309 mm untuk betina. Berat tubuh 23-63 gram untuk jantan dan 31-73 gram untuk betina. Hubungan panjang berat ikan mengikuti persamaan regresi W = 0,0021L1,779 untuk jantan, dan W = 0,0235L 1,3656 untuk betina. Pola pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif (b < 3) baik jantan maupun betina. Nilai faktor kondisi berkisar 0,012-1,079 untuk jantan dan 0,645-1,630 untuk betina. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin,umur
Analisis Hasil Tangkapan Payang di Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, Sumatera Barat
This research used the research object of payang fishing gear in the Pasie Nan Tigo area, Koto Tangah District, Padang City, which was carried out in May 2023. The method used is a descriptive method by making direct observations at the location of the trawl fishing gear in terms of the construction of the fishing gear, fishing area and type of fish caught. Based on the results of this research, the number of payang fishing gear found in Pasie Nan Tigo Village, Koto Tangah District, Padang City is 40 units. The method of operating the payang fishing gear is by circling schools of fish. The results caught by Payang fishing gear are Euthynnus sp, Rastrelliger sp., Katsuwonus pelamis, Stolephorus sp., Trichiurus sp., Leiognathus sp. and so on.Penelitian ini menggunakan objek penelitian alat tangkap pukat payang yang ada didaerah Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang yang dilaksanakan bulan Mei Tahun 2023. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan melakukan observasi secara langsung ke lokasi alat tangkap pukat payang ditinjau dari konstruksi alat tangkap, daerah penangkapan dan jenis ikan hasil tangkapan. Berdasarkan hasil penelitian ini, jumlah alat tangkap payang yang terdapat di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang sebanyak 40 unit. Metode pengoperasian alat tangkap payang adalah dengan cara melingkari gerombolan ikan. Pelepasan alat tangkap dimulai dari sayap bagian kanan. Hasil tangkapan alat tangkap payang adalah Tongkol (Euthynnus sp.), Kembung (Rastrelliger sp.), Cakalang (Katsuwonus pelamis), Teri (Stolephorus sp.), Layur (Trichiurus sp.), Peperek (Leiognathus sp.) dan lain sebagainya
Analisis pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata dalam mendukung wisata mangrove masyarakat Kampung Mandar Kabupaten Banyuwangi
The use of mangrove fruit to create economic benefit for the community is anticipated to bolster conservation efforts for the mangrove environment. In Mandar Banyuwangi Village, one application of mangrove fruit is its conversion into flour. This study aimed to examine the proximate composition of Rhizophora mucronata mangrove flour and evaluate the profitability of processing this flour into pastries. The analysis conducted encompasses the proximate content test (including protein, fat, water, ash, and carbs) and a profit analysis that factors in the cost of goods sold (COGS). Mangrove flour manufactured by Poklahsar “Mina UPA Karya” is derived from the fruit of Rhizophora mucronata. The processing method necessitated seven days to manufacture mangrove flour. The proximate composition of mangrove flour, as per SNI criteria, includes water and carbohydrate content, although protein, fat, and ash content are marginally over or below SNI specifications. Mangrove flour is utilized in a variety of desserts, including nastar, kastengel, cookies, almond chocolate, roses, jam sumprit, chocolate sumprit, peanut cake, and krispi brownies. Products made using processed mangrove flour in pastries yield a profit margin of 9.16% of the cost of goods sold (COGS). The R/C, BEPs, BEPq, profit, and profitability ratio of the mangrove flour processing business indicate profitability, since they go over the minimum requirements of profitability criteria.Pemanfaatan buah mangrove untuk menghasilkan nilai ekonomi bagi mansyarakat diharapkan mendukung kegiatan pelestarian ekosistem mangrove. Salah satu pemanfaatan dari buah mangrove di Kampung Mandar Banyuwangi adalah menjadi tepung. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan proksimat tepung mangrove Rhizophora mucronata, dan menganalisis profit usaha olahan tepung mangrove menjadi kue kering. Analisis data yang digunakan adalah uji kandungan proksimat (protein, lemak, air, abu, dan karbohidrat) dan analisis profitabilitas dengan mempertimbangkan harga pokok penjualan (HPP). Tepung mangrove yang dihasilkan Poklahsar “Mina UPA Karya” berbahan baku buah Rhizophora mucronate. Proses produksi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tepung mangrove selama 7 hari. Kandungan proksimat tepung mangrove yang sesuai standar SNI adalah kadar air dan kandar karbohidrat, sedangkan kadar protein, kadar lemak dan kadar abu sedikit kelebihan atau kekurangan dari syarat SNI. Tepung mangrove digunakan sebagai campuran kue kering, yang terdiri dari: nastar, kastengel, kukis, coklat almond, mawar, sumprit selai, sumprit coklat, kue kacang, dan brownies krispi. Produk olahan tepung mangrove menjadi kue kering menghasilkan nilai margin profit sebesar 9,16% dari nilai HPP. Nilai R/C, BEPs, BEPq, profit, dan rentabilitas dari usaha olahan berbasis tepung mangrove dapat dinyatakan menguntungkan karena menghasilkan nilai diatas standar dari kriteria profitabilitas
Aspek Biologi Udang Jerbung (Penaeus merguiensis de Man 1888) di Perairan Kabupaten Teluk Bintun, Papua Barat
The waters of Bintuni Bay have abundant natural resources, especially aquatic biota. One of the aquatic biota with high economic value is the Jerbung shrimp (Penaeus merguiensis). Currently, information about the biological aspects of shrimp in the waters of Bintuni Bay is still very lacking. Specifically, the aim of this research is to examine the size structure, first caught size (L50%), infinity size (L∞), growth patterns, condition factors and gonad maturity level (TKG) of Jerbung shrimp in the waters of Bintuni Bay. The research method used is the survey method. The research was carried out from March to April 2023. The results showed that the average carapace length and weight of male shrimp were 4.6 cm and 14.8 gr. Meanwhile, the average shell length and weight of female shrimp are 5.4 cm and 25.8 grams. The L50% value of male and female shrimp is 5.3 cm and 5.8 cm, the ½ L∞ value of male and female shrimp is 3.4 cm and 3.5 cm. If L50% > ½ L∞ means the size of the shrimp caught is quite large. The growth pattern of male and female shrimp is negative allometry (b = 0.1035 and b = 0.7424). The condition factor values for male and female shrimp are 0.31 and 1.73. The results of TKG observations showed that 75.2% of female shrimp were in TKG I and II, meaning that 50% of the shrimp caught had not yet reached TGK III and IV at the time of the research.Ditinjau dari potensi sumber daya alam, kawasan pesisir pantai Teluk Bintuni memiliki kekayaan alam berlimpah terutama biota perairan. Salah satu biota perairan yang bernilai ekonomi tinggi adalah udang Jerbung (Penaeus merguiensis). Saat ini, informasi tentang aspek biologi udang di perairan Teluk Bintuni masih sangat minim. Secara khusus tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji struktur ukuran, ukuran pertama kali tertangkap (L50%), ukuran infinity (L∞), pola pertumbuhan, faktor kondisi dan tingkat kematangan gonad (TKG) udang Jerbung di perairan Teluk Bintuni. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei. Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Maret sampai April 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata ukuran panjang karapas dan berat udang jantan yaitu 4.6 cm dan 14.8 gr. Sedangkan rerata ukuran panjang kerapas dan berat udang betina yaitu 5.4 cm dan 25.8 gr. Nilai L50% udang jantan dan betina yaitu 5.3 cm dan 5.8 cm, nilai ½ L∞ udang Jantan dan betina yaitu 3.4 cm dan 3.5 cm. Jika L50% > ½ L∞ berarti ukuran udang yang tertangkap sudah cukup besar. Pola pertumbuhan udang jantan dan betina yaitu alometri negatif (b = 0.1035 dan b = 0.7424). Nilai faktor kondisi udang jantan dan betina yaitu 0.31 dan 1.73. Hasil pengamatan TKG menunjukan bahwa 75.2% udang betina berada pada TKG I dan II, artinya 50% udang yang tertangkap belum mencapai TGK III dan IV pada saat dilakukan penelitian
Distiribusi Spasial Habitat Bentik dan Substrat di Pantai Ngurbloat Memanfaatkan Data Allen Coral Atlas
Ngurbloat Beach, located in the Kei Islands, Maluku Province, has a varied coastal ecosystem, including benthic habitats that play an important role in ecological balance and sustainability of marine resources. This study aims to map the spatial distribution of benthic habitats including substrates in the waters of Ngurbloat Beach by utilizing Allen Coral Atlas data. The analysis was conducted through classification of high-resolution satellite images using remote sensing and geographic information system (GIS) methods. The results showed that the total mapped area was 183 ha. Benthic habitats in this area are dominated by coral reefs (18.99%), seagrasses (0.85%), microalgae (2.93%) and sand substrates (16.42%), rocks (39.44%) and dead corals (22.7%). Oceanographic factors and anthropogenic activities in the waters of Ngurbloat Beach affect the distribution of benthic habitats, especially coral reefs that have suffered serious damage and need to be rehabilitated. The utilization of Allen Coral Atlas data proved effective in providing accurate spatial data for benthic ecosystem mapping, which can support conservation efforts and sustainable management of coastal resources.Pantai Ngurbloat, yang terletak di Kepulauan Kei, Provinsi Maluku, memiliki ekosistem pesisir yang bervariasi, termasuk habitat bentik yang berperan penting dalam keseimbangan ekologi dan keberlanjutan sumber daya laut. Studi ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial habitat bentik termasuk substrat di perairan Pantai Ngurbloat dengan memanfaatkan data Allen Coral Atlas. Analisis dilakukan melalui klasifikasi citra satelit resolusi tinggi menggunakan metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan total luasan yang berhasil dipetakan adalah 183 ha. Habitat bentik di kawasan ini didominasi oleh terumbu karang (18,99%), lamun (0,85%), mikroalga (2,93%) dan substrat pasir (16,42%), batu (39,44%) serta karang mati (22,7%). Faktor oseanografi dan aktivitas antropogenik di perairan Pantai Ngurbloat mempengaruhi distribusi habitat bentik, khususnya terumbu karang mengalami kerusakan yang cukup serius sehingga perlu untuk direhabilitasi. Pemanfaatan data Allen Coral Atlas terbukti efektif dalam menyediakan data spasial yang akurat untuk pemetaan ekosistem bentik, yang dapat mendukung upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan
Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo
Mangroves are coastal ecosystems, especially in tropical areas including Tomini Bay, Gorontalo Province. Mangrove ecosystems not only function as coastal abrasion barriers, natural protection from ocean waves, but also as plants that are beneficial to human life, especially for coastal communities. . This study aimed to identify and analyze the structure of mangrove communities on the coast of Tomini Bay, Boalemo Regency, Gorontalo Province. Data collection was carried out using the line transect method at four observation stations for the seedling and sapling categories., then analyzed to determine the absolute density, absolute frequency, and dominance of species. Mangroves found in Tomini Bay, Boalemo Regency from the four stations consist of A. marina, B. gymnorhiza, B. parviflora, C. decandra, C. tagal, R. apiculata, R. mucronata, R. stylosa, S. alba, S. caseolaris, X. moluccensis. In the seedling category, the C. tagal mangrove species at station 2 (Dulangeya Village) showed the highest value in Boalemo Regency, with an absolute density of 56 ind/m², an absolute frequency of 0.48, and a relative dominance of 87.5%. On the other hand, the B. gymnorhiza species recorded the lowest value compared to all observation stations in Boalemo Regency, with an absolute density of only 1 ind/m², an absolute frequency of 0.05, and a relative dominance of 1.56%. The C. tagal mangrove sapling category at station 2 (Dulangeya Village) had the highest absolute density, absolute frequency, and relative dominance in Boalemo Regency, at 8.36 ind/m2 and 0.71 and 73.85, respectively. R. apiculata had the lowest density of all stations in Boalemo Regency, at 0.04 ind/m2 and 0.05 and 0.35, respectivelyMangrove merupakan ekosistem yang ada di pesisir, terutama di daerah tropis termasuk Teluk Tomini Provinsi Gorontalo. Ekosistem mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi pantai, pelindung alami dari air gelombang laut, tetapi juga sebagai tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, terutama bagi masyarkat pesisir. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis struktur komunitas mangrove di pesisir pantai Teluk Tomini Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Pengambilan data dilakukan dengan metode transek garis dan memilik empat stasiun pengamatan untuk kategori semai dan pancang, selanjutnya dianalisis untuk mengetahui kerapatan mutlak, frekuensi mutlak, dominansi jenis. Mangrove yang ditemukan di Teluk Tomini Kabupaten Boalemo dari keempat stasiun terdiri dari A. marina, B. gymnorhiza, B. parviflora, C. decandra, C. tagal, R. apiculata, R. mucronata, R. stylosa, S. alba, S. caseolaris, X. moluccensis. Kategori semai, jenis mangrove C. tagal di stasiun 2 (Desa Dulangeya) menunjukkan nilai tertinggi di Kabupaten Boalemo, dengan kerapatan mutlak sebesar 56 ind/m², frekuensi mutlak 0,48, serta dominansi relatif mencapai 87,5%. Sebaliknya, jenis B. gymnorhiza tercatat memiliki nilai terendah dibandingkan dengan semua stasiun pengamatan di Kabupaten Boalemo, dengan kerapatan mutlak hanya 1 ind/m², frekuensi mutlak 0,05, dan dominansi relatif sebesar 1,56%. Kategori pancang jenis mangrove C. tagal pada stasiun 2 (Desa Dulangeya) memiliki kerapatan mutlak dan frekuensi mutlak serta dominansi relative tertinggi di Kabupaten Boalemo yakni 8,36 ind/m2 dan 0,71 serta 73,85%. Jenis R. apiculata merupakan jenis mangrove yang memiliki kerapatan terendah dari semua stasiun di Kabupaten Boalemo yakni 0,04 ind/m2 dan 0,05 serta 0,35%
Mata Air dan Kelimpahan Vegetasi Pada Taman Wisata Alam Gunung Meja Kabupaten Manokwari
Water is a vital need for every life, so if there is no water there will certainly be no life. This research aims to determine the pattern of springs, diversity and similarity of types around the springs. The research method uses surveys and sampling techniques. Research results of Meja Mountain Natural Tourism Park (MMNTP) from 9 springs have 7 different spring patterns. The largest water discharge in the spring pattern that comes out between the rocks, while the smallest water comes out of seepage of soil pores. The largest water discharge is located in Manggoapi with coordinates -0.847744, 134.069008. While the smallest water discharge comes from springs that emerge from the ground located in Brawijaya with coordinates -0.854717, 134.075233. The woody vegetation type diversity index has a high value which reflects the diversity of types in the MMNTP. Meanwhile, the similarity index is higher than the difference, indicating that woody vegetation has similarities between the observation plots. Establish from seedlings to dominant trees including Palaquium amboinensis, Artocarpus altilis, Lansium domesticum, Pometia coriacea, Pometia pinnata, and Koordersiodendron pinnatum. The six types are thought to have suitable habitats, need lots of water and have related relationships.Air menjadi kebutuhan vital bagi setiap mahluk hidup, sehingga apabila tidak ada air dipastikan tidak ada kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi mata air, keanekaragaman dan kesamaan jenis pada sekitar mata air. Metode penelitian dengan menggunakan survey dan teknik sampling. Hasil penelitian TWAGM dari 9 mata air memiliki 7 pola mata air yang berbeda. Debit air terbesar pada pola mata air yang keluar diantara bebatuan, sementara terkecil air yang keluar dari rembesan pori-pori tanah. Debit air terbesar berlokasi di Manggoapi dengan titik koordinat -0.847744, 134.069008. Sementara debit air yang terkecil berasal dari mata air yang muncul dari tanah berlokasi di Brawijaya dengan titik koordinat -0.854717, 134.075233. Indeks keanekaragaman jenis vegetasi berkayu memiliki nilai tinggi yang mencerminkan keberaragaman jenis pada TWAGM. Sementara itu indeks kesamaan lebih tinggi dibandingkan perbedaan menunjukan vegetasi berkayu memiliki kesamaan diantara plot-plot pengamatan. Tegakkan mulai semai sampai pohon yang mendominasi diantaranya Palaquium amboinensis, Artocarpus altilis, Lansium domesticum, Pometia coriacea, Pometia pinnata, dan Koordersiodendron pinnatum. Ke-6 jenis diduga berhabitat yang sesuai, perlu banyak air dan memiliki hubungan yang berkaitan