e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Studi Manajemen Perkawinan Ternak Dengan Teknik Inseminasi Buatan (IB) Pada Sapi Madura Di UPT Pembibitan dan Kesehatan Hewan

    Full text link
    Artificial Insemination (AI) is a mating process, by unnaturally bringing sperm and egg cells together in female livestock (poultry and ruminants) with the help of human hands. The success of the AI technique is influenced by three main factors namely; livestock, cement and humans. UPT Livestock Breeding and Animal Health of Madura is one of the institutions for preserving Madura cattle germplasm, which further optimizes the AI program. The aim is to find out the factors that influence the success of Artificial Insemination, the process of detecting lust (estrus) and Artificial Insemination techniques. The method used in this study was direct observation using the artificial insemination method, namely rectovaginal. AI is an attempt to insert semen into the reproductive tract of female livestock using artificial tools and with human assistance or in other words marriages that are not carried out naturally. Detection of lust (Estrus) is the observation of signs of heat in a cow to be inseminated, detection of heat is an important factor in the process of artificial insemination because it determines the time for proper and successful mating. The AI technique in cattle is the rectovaginal method, in which the hand is inserted into the rectum and then holds the part of the cervix that is most easily identified because it has a hard anatomy, then the insemination gun is inserted through the vulva, into the vagina up to the cervix.Inseminasi Buatan (IB) adalah proses perkawinan, dengan mempertemukan antara sel sperma dan sel telur secara tidak alami yang dilakukan pada ternak betina (unggas dan ruminansia) dengan bantuan tangan manusia. Keberhasilan teknik IB dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu; ternak, semen dan manusia. UPT Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Madura merupakan salah satu instansi pelestarian plasma nutfah sapi Madura, yang lebih mengoptimalisasikan program IB. Tujuannya untuk mengetahu faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan Inseminasi Buatan, proses deteksi birahi (estrus) dan teknik Inseminasi Buatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan secara langsung dengan metode pada saat Inseminasi Buatan yaitu Rektovaginal. IB merupakan upaya memasukkan semen kedalam saluran reproduksi ternak betina dengan menggunakan alat buatan dan dengan bantuan manusia atau dengan kata lain perkawinan yang bukan dilakukan secara alami. Deteksi Birahi (Estrus) merupakan pengamatan terhadap tanda-tanda birahi pada sapi yang akan diinseminasi, deteksi birahi merupakan faktor penting dalam proses inseminasi buatan karena merupakan penentu waktu untuk melakukan perkawinan secara tepat dan berhasil. Teknik IB pada ternak sapi adalah dengan metode rektovaginal yaitu tangan dimasukkan kedalam rektum kemudian memegang bagian serviks yang paling mudah diidentifikasi karena mempunyai anatomi yang keras, kemudian insemination gun dimasukkan melalui vulva, ke vagina hingga ke bagian serviks

    Fermentasi Bunga Telang (Clitoria ternatea L) Dengan Penambahan Madu Baduy Produk SR12 Sebagai Inovasi Bioteknologi Kombucha

    Full text link
    Gram positive and negative bacteria have always been a problem for the survival of living things in a high threshold as normal flora. Telang flower contains anthocyanins which are efficacious as antioxidants and antibacterials so that kombucha has a high potential to be fermented by kombucha as the latest biotechnology product innovation in improving the immune system with the addition of a concentration of Baduy honey Product SR12 which has the potential to inhibit the growth of pathogens. This study aims to produce information regarding the concentration of Baduy honey product SR12 which has the potential as a gram-positive and gram-negative antibacterial. The research design used was a randomized block design which was divided into 2 factors. Factor I is the Concentration of Telang Flower Kombucha Sugar (Clitoria ternatea L) solution in the first fermentation (20%, 30%, and 40%) and factor II is the concentration of baduy honey product SR12, namely (20%, 30%, and 40%). Each treatment was repeated 3 times. The results obtained were processed using statistical analysis using one-way ANOVA at the 95% level. If the data from the research results have significant differences, ideally it can be followed up using a post hoc test. The results obtained in this study were the concentration of Baduy honey Product SR12 was positively correlated in preventing the growth of pathogens in both gram-positive and gram-negative bacteria. The conclusion in this study is that kombucha flower telang has the ability as a gram positive and negative antibacterial and can also be developed as the latest biotechnology product innovation. Telang  flower kombucha fermentation with a concentration of Baduy honey Product SR12 of 40% had the highest antibacterial activity when compared to fermented telang flower kombucha at concentrations of Baduy honey Product SR12 with a concentration of 20% and 30%. The average diameter of the inhibition zone produced by Staphylococcus aureus bacteria is 20.08 mm in the strong category, Staphylococcus epidermidis 17.98 mm in the strong category, Pseudomonas aeruginosa 17.27 mm in the strong category, and Escherichia coli 16.59 mm strong category.Bakteri gram positif dan negatif selalu menjadi permasalahan bagi kelangsungan makhluk hidup dalam ambang batas yang tinggi sebagai flora normal. Bunga telang mengandung antosianin yang berkhasiat sebagai antioksidan dan antibakteri sehingga berpotensi tinggi untuk difermentasi oleh kombucha sebagai inovasi produk bioteknologi terkini dalam meningkatkan sistem imunitas dengan penambahan konsentrasi madu Baduy Produk SR12 yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan informasi mengenai konsentrasi madu Baduy Produk SR12 yang berpotensi sebagai antibakteri gram positif dan negatif. : Desain Penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terbagi menjadi 2 faktor. Faktor I yaitu Larutan Konsentrasi Gula Kombucha Bunga Telang (Clitoria ternatea L) pada fermentasi yang pertama yaitu (20%, 30%, dan 40%) dan faktor II yaitu konsentrasi madu jenis  madu baduy produk SR12 yaitu (20%, 30%, dan 40%). Setiap perlakuan dilakukan pengulamgan sebanyak 3 kali. Hasil Penelitian yang diperoleh  diolah datanya menggunakan analisis statistik yaitu menggunakan ANOVA satu jalur pada taraf 95%. Jika data dari hasil penelitian memiliki perbedaan bermakna idealnya dapat ditindaklanjuti menggunakan uji post hoc. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah konsentrasi madu Baduy Produk SR12 berkolerasi secara positif dalam mencegah pertumbuhan patogen baik pada bakteri gram positif maupun negatif. : Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kombucha bunga telang memiliki kemampuan sebagai antibakteri gram positif dan negatif dan dapat juga dikembangkan sebagai inovasi produk bioteknologi terkini. Fermentasi kombucha bunga telang dengan konsentrasi madu Baduy Produk SR12  sebesar 40% memilki aktivitas sebagai antibakteri tertinggi jika dibandingkan dengan fermentasi kombucha bunga telang pada  konsentrasi madu Baduy  Produk SR12  konsentrasi 20% dan 30%. Nilai rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan pada bakteri Staphylococcus aureus adalah sebesar 20,08  mm dengan kategori  kuat, Staphylococcus epidermidis 17,98  mm dengan kategori  kuat, Pseudomonas aeruginosa 17,27  mm dengan kategori  kuat, dan Escherichia coli 16,59  mm dengan kategori kuat

    Keanekaragaman Subordo Serpentes Di Kawasan Pantai Sendangbiru Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur

    Full text link
    The diversity of the Suborder Serpentes has an important role in the ecosystem and is used as a parameter of environmental quality. The high diversity of the Suborder Serpentes in Indonesia is not matched by adequate research and publications. The Sendangbiru beach area is a Nature Reserve area which has the potential to become a natural habitat for all types of animals, especially the Serpentes Suborder because it has a stable temperature and many unspoiled habitats. This study aims to find out what types of snakes are in the area and how the diversity, level of abundance, and dominance of the Suborder Serpentes are. This research method uses a descriptive explorative method by exploring the routes on Sendangbiru beach area. The suborder Serpentes found will be measured for morphometry, namely by measuring the snake's body which includes body length, tail length, total length, number of scales, and sex. This study found 6 species of snakes. The six species found consisted of the Aglypha, Solenoglypha, and Ophistoglypha snakes. The snake species that have been found belong to the Colubridae family as many as 4 species from 3 different genera, namely the species Dendrelaphis pictus of the genus Dendrelaphis, the species Ahaetulla nasuta and Ahaetulla prasina of the genus Ahaetulla, and the species Chrysopelea paradisi of the genus Chrysopelea. While the other 2 species are the Viperidae family with the species name Cryptelytrops albolabris, the genus Cryptelytrops, and the Pythonidae family, with the species name Malayopython reticulatus, the genus Malayopython. The diversity index (H') in the Sendangbiru beach area is 1.79 with a moderate diversity value, an evenness value (E) 1 and indicates that the suborder found on Sendangbiru beach area has an even value and stable community, and a dominance value (C ) 0.17 with a low dominance value.Keanekaragaman Subordo Serpentes memiliki peranan penting dalam ekosistem dan digunakan sebagai salah satu parameter kualitas lingkungan. Tingginya keanekaragaman Subordo Serpentes di Indonesia tidak diimbangi dengan penelitian dan publikasi yang memadai. Kawasan pantai Sendangbiru merupakan kawasan Cagar Alam yang berpotensi sebagai habitat alami dari semua jenis hewan khususnya Subordo Serpentes karena memiliki temperatur yang stabil dan banyak habitat yang masih alami. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan apa saja jenis ular yang berada di Kawasan tersebut dan bagaimana keanekaragaman, tingkat kemelimpahan, dan dominansi Subordo Serpentes. Metode penelitian ini mengguanakan metode deskriptif eksploratif yaitu dengan mengeksplorasi jalur-jalur di kawasan Pantai sendangbiru. Subordo Serpentes yang ditemukan akan diukuran morfometri yaitu dengan cara mengukur tubuh ular yang meliputi panjang tubuh, panjang ekor, panjang total, jumlah sisik, dan jenis kelamin. Penelitian ini menemukan ular sebanyak 6 spesies. Enam spesies yang ditemukan terdiri dari golongan ular Aglypha, Solenoglypha, dan Ophistoglypha. Spesies ular yang telah ditemukan tergolong dari famili Colubridae sebanyak 4 spesies dari 3 genus yang berbeda, yaitu spesies Dendrelaphis pictus genus Dendrelaphis, spesies Ahaetulla nasuta dan Ahaetulla prasina genus Ahaetulla, dan spesies Chrysopelea paradisi genus Chrysopelea. Sedangkan 2 spesies lainnya yaitu famili Viperidae dengan nama spesies Cryptelytrops albolabris genus Cryptelytrops, dan famili Pythonidae dengan nama spesies Malayopython reticulatus genus Malayopython. Indeks Keanekaragaman (H’) di kawasan pantai Sendangbiru yaitu 1,79 dengan nilai keanekaragaman yang sedang, nilai kemerataan (E) 1 dan menunjukkan bahwa Subordo yang ditemukan di kawasan pantai Sendangbiru memiliki nilai yang merata dan komunitas stabil, dan nilai dominansi (C) 0,17 dengan nilai dominansi yang rendah

    Eksplorasi Dan Pengujian Tumbuhan Obat Masyarakat Kecamatan Merawang Sebagai Peningkat Imun Dan Makanan

    Full text link
    This study aims to determine the types and parts of herbal medicinal plants used as immune boosters and food by the people of Merawang District and to determine the content of chemical compounds in medicinal plants used as immune enhancers and food by the people of Merawang District. This research was conducted in September-November 2021. Samples were obtained from 5 villages (Balunijuk village, Pagarawan village, Jada Bahrin village, Jurung village, and Kimak village) in Merawang District, Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province. The results showed that medicinal plants found in 5 villages in Merawang sub-district (Balunijuk village, Pagarawan village, Jada Bahrin village, Jurung village, and Kimak village) contained 6 types of plants and their family names Akar Medang Sahang (Lauraceae), Pepper (Piperaceae), Coriander roots, Kecapa stems (Asteraceae), Pandan roots & Belacan stems (Pandanaceae & Verbenaceae) have the potential to cure various diseases, one of which is overcoming problems with ulcers, stomach acid, jaundice, and impotence. Parts of the plant used start from the roots, stems, to leaves. The results of the TLC method showed that each extract contained active secondary metabolites, namely alkaloids, flavonoids, and triterpenoids.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan obat yang digunakan sebagai peningkat imun dan makanan oleh masyarakat Kecamatan Merawang dan mengetahui kandungan senyawa kimia yang ada di dalam tumbuhan obat herbal yang digunakan sebagai peningkat imun dan makanan oleh masyarakat Kecamatan Merawang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September - November 2021. Sampel diperoleh dari 5 desa (desa Balunijuk, desa Pagarawan, desa Jada Bahrin, desa Jurung, dan desa Kimak) di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hasil penelitian didapatkan tumbuhan obat yang ditemukan di 5 desa di kecamatan Merawang (desa Balunijuk, desa Pagarawan, desa Jada Bahrin, desa Jurung, dan desa Kimak) terdapat 6 jenis tumbuhan beserta nama familinya Akar Medang Sahang (Lauraceae), Lada  (Piperaceae), Akar Ketumbal, Batang Kecapa (Asteraceae), Akar Pandan & Batang Belacan  (Pandanaceae & Verbenaceae) memiliki potensi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya mengatasi masalah penyakit maag, asam lambung, penyakit kuning, dan lemah syahwat. Bagian tumbuhan yang digunakan mulai dari akar, batang, hingga daun. Hasil pengujian dengan metode KLT didapatkan masing-masing ekstrak terdapat senyawa aktif metabolit sekunder yaitu alkaloid, falvonoid, dan triterpenoid

    Uji Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L) dan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti L

    Full text link
    Dengue fever is an infectious disease caused by a virus transmitted by the mosquito Aedes aegypti L. One of the DBD vector eradication programs involves using synthetic insecticides. The use of synthetics (chemicals) is known to be very effective, relatively easy, and practical, but it has a negative impact on the environment. One is using natural insecticides; in this way, it is expected to inhibit the life cycle of mosquitoes before they develop to adulthood. The natural insecticide used is a plant insecticide from the green leaf plant (Pipper betle L) and the leaf of the papaya (Carica papaya L), because both plants have a secondary metabolite compound that can inhibit the growth of the larvae of the mosquito Aedes aegypti L. The method in this study is a simple experimental design with a complete random effect (RAL) to see the effectiveness of extracts of green coriander leaves and papaya leaves. With each extract being tested for its effectiveness, three treatments and one control were performed. The research using the extraction method, i.e., the mazeration method of observing larval death, was conducted for 1 hour of observation to determine the effectiveness of treatment extracts tested using Anova level 5% and probit analysis to determine LC50 values. The average mortality of mosquito larvae (Aedes aegypti L) after treatment with ethanol extract of green syrup leaves at a concentration of 60% at 100%, at a concentration of 40% at 87%, and at a concentration of 20% at 47%. Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti L. Salah satu program  pemberantasan  vektor  DBD adalah dengan menggunakan insektisida sintetik, penggunaan insektisida sintetik (kimia) dikenal sangat efektif, relatif mudah dan praktis tetapi berdampak negatif terhadap lingkungan hidup. Untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan insektisida kimia perlu dicari alternatif lain yang lebih aman. Salah satunya adalah menggunakan insektisida alami,dengan cara ini diharapkan akan menghambat siklus hidup nyamuk sebelum berkembang sampai dewasa. Insektisida alami yang digunakan adalah insektisida nabati dari tumbuhan daun sirih hijau(Pipper betle L)dan daun pepaya (Carica papaya L),karena kedua tanaman ini memiliki senyawa metabolit sekunder yang mampu menghambat proses pertumbuhan larva nyamuk Aedes aegypti L. Metode dalam penelitian ini adalah eksperimental sederhana dengan rancangan acak lengkap (RAL) untuk melihat pengaruh keefektifan ekstrak daun sirih hijau dan daun pepaya.Dengan uji efektifitas masing – masing ekstrak dilakukan 3 macam perlakuan dan satu kontrol.Penelitian menggunakan metode ekstraksi yaitu metode mesarasi pengamatan kematian larva dilakukan selama 1 jam pengamatan untuk mengetahui pengaruh keefektifan ekstrak perperlakuan diuji menggunakan Anova taraf 5% dan  analisi probit untuk mengetahui  nilai LC50. Rata – rata mortalitas larva nyamuk  Aedes aegypti L  setelah diberi perlakuan ekstrak etanol daun sirih hijau  pada konsentrasi 60% sebesar 100% dan pada konsentrasi 40% sebesar 87% dan konsentrasi 20% sebesar 47%. Sedangkan pada perlakuan ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 60 % sebesar 60% ,40% sebesar 40% dan 20% sebesar 23%.kontrol positif atau tanpa pemberian ekstrak adalah 0%. Penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun sirih hijau dan daun pepaya efektif dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti L. Konsentrasi yang efektif dalam membunuh larva adalah konsentrasi 60%.dan kematian 50% dari larva uji berada pada konsentrasi 20%

    Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan PH pada Produk Inovasi Minuman Probiotik Jalembi (Jambu Merah, Lemon, Melon, Bit) dengan Starter Lactobacillus plantarum

    Full text link
    One of the causes of the failure of anemia prevention therapy in pregnant women with the potential for stunting is the side effects of nausea and vomiting from Blood Supplement Tablets so most pregnant women choose not to consume iron supplements given by the government for free. This has opened up opportunities for the discovery of product innovations for probiotic drinks from jalembi juice (red guava, lemon, melon, beetroot) with a starter Lactobacillus plantarum to be developed as a candidate for a health drink to replace anti-anemia anemia for pregnant women. The purpose of this study was to test the total lactic acid bacteria (LAB), pH, and temperature of jalembi juice probiotic drink with L. plantarum starter. This research method was carried out by calculating the total amount of LAB of L. plantarum using the Total Plate Count (TPC), pH, and temperature of the jalembi juice probiotic drink. Data analysis was carried out using a quantitative descriptive approach. The results of this study indicated that the total LAB of L. plantarum contained in the jalembi juice probiotic drink was 1.7 x 108 CFU/ml with an average pH and temperature of 3.38 and 22.4 ºC respectively. This study concludes that the total LAB in the jalembi juice probiotic drink with L.plantarum starter according to the recommended standards can have an effect on body health, which is around 108 -109 CFU/ml.   Salah satu penyebab kegagalan terapi pencegah anemia pada ibu hamil berpotensi stunting adalah efek samping mual dan muntah dari Tablet Tambah Darah (TTD), sehingga kebanyakan ibu hamil memilih tidak mengkonsumsi TTD diberikan pemerintah secara gratis. Hal inilah yang membuka peluang penemuan produk inovasi minuman probiotik dari jus jalembi (jambu biji merah, lemon, melon, bit) dengan starter Lactobacillus plantarum untuk dikembangkan sebagai kandidat minuman kesehatan pengganti TTD antianemia bagi ibu hamil.  Tujuan penelitian ini adalah menguji total bakteri asam laktat (BAL), pH, dan suhu minuman probiotik jus jalembi dengan starter L. plantarum. Metode penelitian ini dilakukan dengan menghitung jumlah total BAL L. plantarum menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT), pH, dan suhu dari minuman probiotik jus jalembi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total BAL L. plantarum yang terkandung di dalam minum probiotik jus jalembi sebesar 1,7 x 108 CFU/ml dengan rata-rata pH dan suhu masing masing  sebesar 3,38 dan 22,4 ºC. Kesimpulan dari penelitian ini adalah total BAL pada minuman probiotik jus jalembi dengan starter L.plantarum sesuai dengan standard yang direkomendasikan mampu berefek pada kesehatan tubuh yaitu berkisar 108 -109 CFU/ml

    Analisis Tingkat Pencemaran Air Sungai Berdasarkan Kadar Fluorida Di Kota Mataram Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis

    Full text link
    River water pollution levels can be analysed based on fluoride levels. Excessive fluoride levels will cause fluorosis of the bones. While fluoride deficiency will cause brittleness of teeth and thinning of bones. The purpose of this study was to determine the level of river water pollution based on fluoride levels in Mataram City. Fluoride levels were tested by adding a solution of zirconyl alizarin as a reagent and a solution of Na arsenite, which was then analysed by UV-Vis spectrophotometry with a wavelength of 535 nm. The results showed that the fluoride levels in the 7 tested samples met the fluoride quality standards. The highest fluoride content of river water in Mataram city is 1.046 mg/L, while the lowest is 0.213 mg/L. From this study it can be concluded that based from 7 points location water river sample in Mataram City are not polluted by fluoride.Tingkat pencemaran air sungai dapat dianalisis salah satunya berdasarkan kadar fluorida. Kadar fluorida yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fluorosis pada tulang. Sedangkan kekurangan fluorida akan menyebabkan kerapuhan pada gigi dan penipisan tulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran air sungai berdasarkan kadar fluorida di Kota Mataram. Pengujian kadar fluorida dilakukan dengan menambahkan larutan zirconil alizarin sebagai reagen dan larutan Na arsenit, yang kemudian diuji secara spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 535 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fluorida pada 7 sampel yang diuji telah memenuhi standar baku mutu fluorida. Kadar fluorida tertinggi terdapat pada sampel 2 dan sampel 4 sebesar 1,046 mg/L, sedangkan kadar fluorida terendah terdapat pada sampel 6 dan sampel 7 sebesar 0,213 mg/L. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari 7 titik lokasi pengambilan sampel air sungai di Kota Mataram tidak tercemar fluorida

    Studi Etnobotani Kunyit (Curcuma) Pada Masyarakat Desa Klabetan Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan Madura Jawa Timur: Study Of Kunyit (Curcuma) Etnobotani In The Community Of Klabetan Village, District, Sepulu, Bangkalan Madura District, Jawa Timur

    Full text link
    Turmeric (Curcuma) is known to originate from Southeast Asia which is spread in Mmalaysia. Indonesia, Australia, to Africa. In Indonesia alone, turmeric (Curcuma) is relatively easy to find and its use has expanded not only for purposes of health but for turmeric (Curcuma) or called "Konyek" in Madurese language is a plant that has often been used by the people of Klabetan Village as food and traditional medicine which is often called "Jhemoh" in Madurese Language. In general, drinking herbal medicines made from plants has started since hereditary by the Madurese people. This study aims to determine the public perception about the use of turmeric (Curcuma) in Klabetan village, Ten sub-district, Bangkalan. The researcher used an explorative descriptive method: literature study, field observations, interviews, data analysis and documentation of the appearance of turmeric plants (Curcuma) in Klabetan Village, Ten District of Bangkalan Regency. The results of the study answered as food ingredients 51%, drugs 46% and traditional rituals 3%. Parts of plant organs (Curcuma) number of leaves 38%, rhizome 50% stems 12%. The amount of turmeric (Curcuma) was found in 7 points in Bindeng Hamlet and 6 points in Bilarangan Hamlet from three hamlets.  Tanaman kunyit(Curcuma) relatif mudah ditemukan dan penggunannya sudah meluas tidak hanya untuk keperluan memasak namun juga untuk kesehatan. kunyit (Curcuma) atau disebut Konyek dalam Bahasa Madura adalah tanaman yang sudah sering dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Klabetan sebagai bahan pangan maupun obat tradisional yang sering disebut Jhemoh dalam Bahasa Madura. Secara umum minum jamu diracik dari tumbuhan telah terjadi mulai sejak turun-temurun oleh masyarakat Madura. Penelitian bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang pemanfaatan kunyit (Curcuma) di Desa Klabetan kecamatan Sepuluh kabupaten Bangkalan. Menggunakan metode deskriptif esploratif: studi pustaka, pengamatan di lapang, wawancara, analisis data dan dokumentasi persebaran tanaman kunyit (Curcuma) di Desa Klabetan Kecamatan Sepuluh Kabupaten Bangkalan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua karakteristik kunyit yaitu kunyit (Curcuma) dengan kunyit pada pada organ sebagai bahan pangan 51% ,  obat obatan 46% dan ritual adat 3%. Bagian organ tanaman (Curcuma) jumlah daun 38%, rimpang 50% batang 12%. Jumlah kunyit (Curcuma) yang ditemukan sebanyak 7 titik di Dusun Bindeng dan 6 titik Dusun Bilarangan dari tiga Dusun

    Etnobotani Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata L.) Di Suku Dayak Seruyan Desa Telaga Pulang Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah

    No full text
    The use of the Ciplukan plant as a traditional medicine for diabetes mellitus diseases has been known for a long time by people of Dayak Seruyan tribe. This study aims to describe the ethnobotany study of the Ciplukan plant; phytochemical content and the usage techniques by people of Dayak Seruyan tribe, the village of Telaga Pulang, Seruyan regency, Central Kalimantan. This type of research is descriptive-exploratory with the approach of PEA (Participatory Ethnobotanical Appraisal) with data collection technique by interview and observation. The results showed that phytochemical content of Ciplukan plant are saponins, flavonoids, polyphenols and fisalins which this content affects the ß cells of the pancreatic insulin. People of Dayak Seruyan tribe using Ciplukan’s root as a medicine of diabetes mellitus diseases. The herb technique is by boiling it until the color of the Ciplukan root’s water is slightly reddish. The Ciplukan’s root can be directly taken in nature with the terms by placing offerings or Pekaras (rice, salt, and spike) that wrapped in a cloth or plastic instead of the root taken with say permission to take the roots from that plant. The boiled water of the Ciplukan’s root that feels very bitter by people is trusted as a medicine for diabetes mellitus diseases. People can develop the use of other medicinal plants with sustainable as a regional inventory and develop local knowledge about various kinds of traditional medicinal plants (herbals) to preserve various kinds of medicinal plants.Pemanfaatan tumbuhan ciplukan sebagai obat tradisional untuk penyakit diabetes mellitus sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat suku dayak seruyan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kajian etnobotani dari tumbuhan ciplukan; mengetahui organ tumbuhan ciplukan yang dimanfaatkan sebagai obat diabetes mellitus dan teknik peramuan organ tumbuhan ciplukan sebagai obat diabetes mellitus oleh masyarak  at suku dayak seruyan desa telaga pulang kabupaten seruyan Kalimantan tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2020. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif-eksploratif dengan pendekatan PEA (Participatory Ethnobotanical Appraisal) dengan metode survey dengan teknik wawancara. Narasumber penelitian ini adalah penderita diabetes mellitus, peramu/batra dan sesepuh di Desa Telaga Pulang. Pemilihan dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian mengkaji tentang etnolinguistik, etnoantropologi dan etnofarmakologi tumbuhan ciplukan. Organ tumbuhan ciplukan yang digunakan sebagai obat penyakit diabetes mellitus adalah akar ciplukan. Teknik peramuannya dengan cara direbus dengan air  sampai warna air akar ciplukan berwarna agak kemerahan. Penggunaan ramuan obat dari akar ciplukan dapat diminum setiap hari sebanyak ½ gelas untuk dua kali minum per hari. Penyimpanan ramuan disimpan dalam botol dalam bentuk cairan. Cara mendapatkan akar ciplukan langsung di ambil di alam, dan sebagai ganti dari akar yang diambil dengan meletakkan sesajen atau pekaras (beras, garam, dan paku) yang dibungkus dengan kain atau plastik, dengan berhakikat atau mengucapkan izin untuk mengambil akar dari tanaman tersebut sebagai obat penyakit diabetes mellitus. Rebusan air akar ciplukan yang terasa sangat pahit oleh masyarakat, sehingga dipercaya sebagai obat dari penyakit diabetes mellitus. Dengan adanya penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengembangkan pemanfaatan tumbuhan obat lainnya secara berkelanjutan sebagai inventarisasi daerah dan mengembangkan pengetahuan lokal daerah mengenai berbagai macam tumbuhan obat secara tradisional (herbal) agar dapat melestarikan berbagai macam tumbuhan obat

    DETEKSI SUPLEMEN BEBAS KANDUNGAN DNA BABI YANG TERSEDIA DI RUMAH SAKIT KRAKATAU MEDIKA CILEGON DENGAN METODE REAL TIME PCR: DETEKSI SUPLEMEN BEBAS KANDUNGAN DNA BABI YANG TERSEDIA DI RUMAH SAKIT KRAKATAU MEDIKA CILEGON DENGAN METODE REAL TIME PCR

    Full text link
    Indonesia is a country where the majority of the population is seasonal, so the halalness of a product is very important. Supplements are one of the products that are widely circulated in Indonesia, so they must provide halal guarantees for these products as evidenced by the existence of a halal label. In its circulation, supplements are still found without a halal label, so an authentication is needed to prove the halalness of the product. This study was conducted to prove the halalness of supplement products without halal labels by taking five samples randomly from the Pharmacy Installation of Krakatau Medika Hospital which were analyzed by the Real Time PCR method. The DNA of the five supplement samples was isolated using a Commercial Kit and the isolated DNA was amplified by Real Time PCR for 30 cycles. From the results of the Real Time PCR analysis, it was found that no pork DNA contaminants were found in the five supplement samples analyzed Keywords: Supplement, Realtime PCR, Pig DNA, HalalIndonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, sehingga kehalalan suatu produk merupakan hal yang sangat penting. Suplemen merupakan salah satu produk yang banyak beredar di Indonesia sehingga harus memberikan jaminan halal dari produk tersebut yang dibuktikan dengan label halal. Dalam peredarannya, masih diketemukan suplemen tanpa label halal, dan diperlukan autentifikasi untuk membuktikan kehalalan produk tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan kehalalan produk suplemen tanpa label halal dengan mengambil lima sampel secara acak dari instalasi Farmasi Rumah Sakit Krakatau Medika yang dianalisis dengan metode Real Time PCR. DNA kelima sampel diisolasi dengan menggunakan kit komersial dan DNA hasil isolasi diamplifikasikan dengan Real Time PCR sebanyak 30 siklus. Dari hasil analisis Real Time PCR dihasilkan bahwa tidak diketemukan kontaminan DNA babi pada kelima sampel suplemen yang dianalisis.                                                                                                       Kata kunci: Suplemen, Realtime PCR, DNA Babi, Hala

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇