e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Not a member yet
    254 research outputs found

    Analisis Karakter Fenotip Beberapa Spesies Dendrobium: Phenotype Character Analysis of Orchid Dendrobium

    No full text
    Phenotype character of orchid Dendrobium is known necessarily for the effective conservation to enhance the utilization of genetic resources. The phenotype kinship relationship is able benefit using in the crosses and orchid breeding program of Dendrobium. This research aims to know the phenotype character and kinship relationship some of Dendrobium orchid based on the phenotype character and stomata leaves in the orchid plantations, Batu, Malang East Java. The method of this research is descriptive by direct observation towards 10 species of Dendrobium orchid and refers to the guidebook of ornamental plants characterization of orchid then processed to be binary data and computed into program of PAST.3.5.1. The result of phenotype characteristic analysis obtained the big group, each of group or sub-group that can be elders as crosses sample those are D. strepsiceras, D. laxiflorum, D. liniale, D. secundum, D. sylvnum. The stomata are round and oval while epidermal cells are pentagon and hexagon shaped. Keywords: Dendrobium, stomata, phenotype character, kinship analysis ABSTRAK Karakter Fenotip anggrek Dendrobium perlu diketahui untuk melakukan konservasi yang efektif guna meningkatkan pemanfaatan sumber daya genetik. Hubungan kekerabatan fenotip bisa digunakan sebagai dasar keberhasilan dalam persilangan dan sebagai program pemuliaan spesies anggrek Dendrobium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan karakter fenotip beberapa spesies anggrek Dendrobium berdasarkan karakter fenotip dan sel epidermis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengamatan secara langsung terhadap 10 spesies anggrek Dendrobium dengan mengacu pada buku panduan karakterisasi tanaman hias anggrek kemudian diolah menjadi data biner dan dikomputasikan dalam program PAST. 3.15. Hasil analisis karakter fenotip mendapatkan kelompok besar, masing-masing dalam satu kelompok maupun sub kelompok yang dapat di jadikan tetua sebagai bahan persilangan yaitu pada spesies D. Strepsiceras, D.laxiflorum, D. Liniale, D, secundum, D. Sylvanum. Sedangkan cirri khas dari masing-masing spesies dapat diamati dari waran bunga, aroma bunga, bentuk petala, bentuk labellum,  bentuk bunga, bentuk stomata dan sel epidermis. Stomata   berbentuk bulat dan oval sedangkan sel epidermis berbentuk segi lima dan segi enam. Kata kunci: Dendrobium, stomata, karakter fenotip , analisis kekerabatan &nbsp

    Eksplorasi Pengetahuan Masyarakat Pandalungan Terhadap Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan: Society Knowing Exploration of Pandalungan to Moringa oleifera in Prigen District, Pasuruan

    Get PDF
    Moringa oleifera is the traditional medicinal plant in Indonesia and it has a complete source of nutrition and it is beneficial to human health from its roots, stems, leaves and fruit. The utility of plants in life is a part of Botany that can be studied through the branch of Biology, Ethnobotany. The aims of this study was to determine the benefits, description and distribution of Moringa plants in Jatiarjo and Dayurejo Village in Prigen District, Pasuruan. This study uses descriptive methods which include: literature study, field observations, structural interviews and open manner, data analysis and documentation of the distribution of Moringa oleifera villages. The results of this study indicate the potential of Moringa oleifera plant in Dayurejo Village as a traditional medicine of 28%, a food ingredient of 30%, a hedgerow of 20%, traditional ritual of 10%, and an additional economic value of 12%. Whereas in Jatiarjo Village as food of  40%, traditional rituals of 10%, additional economic value of 6%, a hedgerow of 12% and a traditional medicine of 32%. The organ plant of Moringa oleifera which are leaves utilizing are 54% in Dayurejo and 60% in Jatiarjo Village. The number of Moringa oleifera was found 79 individuals in hamlet of Klataan and 35 in Tonggowah. Keywords: Ethnobotany, Prigen Pasuruan Moringa oleifera. ABSTRAK Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman obat tradisional di Indonesia dan ia memiliki sumber nutrisi yang lengkap dan bermanfaat bagi kesehatan manusia baik akar, batang, daun dan buah. Pemanfaatan tumbuhan dalam kehidupan manusia adalah bagian dari Botani yang dapat di kaji melalui cabang ilmu Biologi yaitu Etnobotani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat, deskripsi dan distribusi tanaman Moringa oleifera di Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang meliputi: studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara dilakukan secara terstruktur dan terbuka, analisis data, dan dokumentasi persebaran tanaman Moringa oleifera. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya potensi tanaman Moringa oleifera di Desa Dayurejo sebagai obat tradisional 28 %, sebagai bahan pangan 30 %, sebagai tanaman pagar 20 %, ritual adat 10 %, dan tambahan nilai ekonomi 12 %, pada Desa Jatiarjo 40 % sebagai bahan pangan, 10 % ritual adat, 6 % sebagai tambahan nilai ekonomi, 12 % sebagai pagar dan 32 % sebagai obat tradisonal. Bagian organ tanaman Moringa oleifera yang di manfaatkan daun 54 % pada Desa Dayurejo dan 60 % Desa Jatiarjo. Jumlah Moringa oleifera yang ditemukan sebanyak 79 individu di Dusun Klataan dan 35 individu di Dusun Tonggowah.  Kata kunci: Etnobotani, Prigen Pasuruan,  Moringa oleifera

    Studi Populasi Kepiting (Scylla sp.) di Hutan Mangrove Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan: Study of Crabs (Scylla sp.) Population in Mangrove Forest of Nguling District, Pasuruan

    Get PDF
    Mangrove crabs play an important role in aquatic ecosystems on the decomposition of organic waste in every activity. This study aims was to analyze the population density of mangrove crabs (Scylla sp). The sampling method was carried out directly in the field using trap tools provided by purposive sampling. Arrest of 20 ‘bubu’ in three different stations, namely station 1 mangrove density is good, station 2 is medium density, and station 3 is bad density. The study obtained three types of mangrove crabs, in station 1 the percentage obtained by Scylla serrata male 11% and females 33% those were higher than stations 2 and 3 i.e. 0%. The percentage of male and female type of Scylla olivacea in station 3 was higher i.e. 100% compared to stations 2 and 3. For the Scylla paramamosain male type station 1 was higher i.e. 26%, but for the highest female species at station 2 obtain 41%. Abiotic measurements at each station include temperature, salinity, water pH, dissolve oxygen, and humidity. The density of mangroves greatly affects the growth of crabs, because the higher the density of mangroves, the more produced litter. Keywords: mangrove crabs (Scylla sp), mangrove forest ABSTRAK Kepiting bakau berperan penting pada ekosistem perairan pada penguraian sampah organik di setiap aktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepadatan populasi kepiting bakau (Scylla sp). Metode pengambilan sampel dilakukan langsung dilapangan dengan menggunakan alat-alat perangkap yang disediakan secara purposive sampling. Penangkapan menggunakan 20 bubu di 3 stasiun berbeda, yaitu stasiun 1 kerapatan mangrove baik, stasiun 2 kerapatan sedang, stasiun 3 kerapatan buruk. Penelitian analisis hutan mangrove menunjukkan bahwa diperoleh 3 jenis kepiting bakau, pada stasiun 1 persentase yang didapat jenis Scylla serrata jantan 11% dan betina 33% lebih tinggi dibandingkan stasiun 2 dan 3 yaitu  0%. Persentase jenis Scylla olivacea jantan dan betina di stasiun 3 lebih tinggi yaitu 100% dibandingkan stasiun 2 dan 3. Jenis Scylla paramamosain jantan di stasiun 1 lebih tinggi yakni 26%, namun untuk spesies betina tertinggi di stasiun 2 sebesar 41%. Pengukuran abiotic di setiap stasiun meliputi, suhu, salinitas, pH air, DO, dan kelembapan. Semakin tinggi kerapatan mangrove, maka populasi kepiting yang ditemukan semakin besar. Kata kunci: kepiting bakau, hutan mangrov

    Keanekaragaman dan Kepadatan Populasi Cacing Tanah di Perkebunan Jeruk Organik Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang: The Diversity and Density of Earthworm Populations in Organic Orange Plantations in Karangploso District, Malang Regency

    Get PDF
    Earthworm is one of the soil fauna that plays an important role in soil fertility. The density of earthworm is influenced by the physical factor-kima soil. Research aims to determine the diversity and density of earthworm in organic citrus plantation in Karangploso district of Malang. The method of research conducted in a systematic, systematised quantitative use transect line of 50 m each line is taken 10 dots is 5 m with 3 times repeated at each station, the station 1 Citrus Garden fruitful (KJB), Station 2 Citrus groves have not been fruitful (KJBB). Observations were conducted in May 2019. The results of the research found 3 genus of earthworm species Pheretima, Pontoscolex and Microscolex. The highest density of earthworm in organic citrus plantations is a genus of Microscolex 0.348 individual/m2; The lowest density genus Pontoscolex 0.124 individual/m2. Earthworm density in organic citrus plantations is a genus Pontoscolex 0.156 individual/m2; Lowest density genus Pheretima 0.042 individual/m2.  The ecological type of earthworm in this plantation is epigeic and anesic type. The correlation between the physics-chemistry factor of soils with earthworm density indicates a positive correlation in the genus Pheretima with temperature, humidity and soil pH. The genus Pontoscolex is positively correlated with temperature, moisture content and soil pH. In the genus Microscolex correlated positively with temperature, humidity and moisture content. The physical-chemical factor of the soil has a close connection with the existence of earthworm where strong correlation in temperature and humidity. Keywords: earthworms, density, orange plantations ABSTRAK Cacing tanah merupakan salah satu fauna tanah yang berperan penting dalam kesuburan tanah. Kepadatan cacing tanah dipengaruhi oleh faktor fisika-kima tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan cacing tanah di perkebunan jeruk organik kecamatan Karangploso Malang. Metoda penelitian dilakukan secara diskriptif kuantitatif secara sistemastis menggunakan transek garis sepanjang 50 m setiap garis diambil 10 titik berjarak 5 m dengan dilakukan 3 kali ulangan pada setiap stasiun, Stasiun 1 kebun jeruk berbuah (KJB), stasiun 2 kebun jeruk belum berbuah (KJBB). Pengamatan dilakukan pada bulan Mei 2019. Hasil penelitian ditemukan 3 genus cacing tanah yakni genus Pheretima, Pontoscolex dan Microscolex. Kepadatan cacing tanah tertinggi di perkebunan jeruk organik adalah genus Microscolex 0,348 individu/m2; kepadatan terendah genus Pontoscolex 0,124 individu/m2. kepadatan cacing tanah di perkebunan jeruk organik adalah genus Pontoscolex 0,156 individu/m2 ; kepadatan terendah genus Pheretima 0,042 individu/m2.  Tipe ekologi cacing tanah pada perkebunan ini yaitu tipe epigeik dan anesik. Korelasi antara faktor fisika-kimia tanah dengan kepadatan cacing tanah menunjukkan korelasi positif pada genus Pheretima dengan suhu, kelembaban dan pH tanah. Pada genus Pontoscolex berkolerasi positif dengan suhu, kadar air dan pH tanah. Pada genus Microscolex berkolerasi positif dengan suhu, kelembaban dan kadar air. Faktor fisika-kimia tanah memiliki hubungan erat dengan keberadaan cacing tanah dimana korelasi yang kuat pada suhu dan kelembaban. Kata kunci: cacing tanah, kepadatan, perkebunan jeru

    Keanekaragaman Plankton Di Kolam Pertumbuhan Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) Yang Terparasiti Di Desa Balongpanggang Gresik: Diversity of Plankton in the Growth Pond of Parasitized Milkfish (Chanos chanos Forsskal) in Balongpanggang Village, Gresik

    Get PDF
      The role of plankton in ecology as a parameter of lush or not a waters, because plankton is the basis of the natural feed chain in the waters. The previous research has been done on the morphology and anatomy of milkfish (Chanos chanos Forsskal) at the pond in the village of Balongpanggang, Gresik, where the waters are polluted. Parasitic worms found nematodes in fish intestines have an impact on losses for fish farmers. The purpose of this study is to identify, find out the differences, determine the level of risk of the type of plankton and determine the condition of abiotic factors in the pond. The study used 24 samples from 3 parasites and 1 non-parasite pond using the Randomized Block Design (RBD) method. Based on the results of observations and identification of plankton in the Integrated Milkfish Growth Pool, there were 53 cells of Chlorococcum humicola and 37 individuals of Stentor roeseli. Phytoplankton found in all ponds, namely Chlorella variegatus, Chlorococcum humicola, Navicula cuspidata, Navicula placentula, Nostoc sphaericum, and Protococcus viridis. While Zooplankton is only 1 in all pools, namely Stentor roeseli. Unparasitic ponds have the highest plankton diversity level (5.7), rather than parasitic ponds 2 (5.0). The condition of abiotic factors (pH) in all ponds is still in accordance with water quality standards for aquaculture ponds. Keywords: Plankton, Identification, Diversity level   ABSTRAK Peranan plankton dalam ekologi sebagai parameter subur tidaknya perairan, karena plankton merupakan dasar mata rantai  pakan alami di perairan Penelitian terdahulu dilakukan pada morfologi dan anatomi ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) dalam suatu tambak di desa Balongpanggang, Gresik yang perairannya tercemar. Ditemukan cacing parasit nematoda dalam usus ikan yang berimbas pada kerugian bagi petani ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi, mengetahui perbedaan, tingkat kenekargaman jenis plankton dan kondisi faktor abiotik kolam. Penelitian menggunakan 24 sampel dari 3 kolam yang terparasiti dan 1 kolam yang tidak terparasiti dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi plankton pada Kolam Pertumbuhan Ikan Bandeng yang Terparasiti didapatkan spesies Chlorococcum humicola sebanyak 53 sel dan spesies Stentor roeseli sebanyak 37 individu. Ditemukan Fitoplankton yang keberadaannya ada di semua kolam, yaitu Chlorella variegatus, Chlorococcum humicola, Navicula cuspidata, Navicula placentula, Nostoc sphaericum, dan Protococcus viridis. Sedangkan Zooplankton hanya 1 disemua kolam, yaitu Stentor roeseli. Kolam tidak terparasiti merupakan kolam yang memiliki nilai tingkat keanekaragaman plankton tertinggi (5,7), daripada kolam terparasiti 2 (5,0). Kondisi faktor abiotik (pH) pada semua kolam masih sesuai standar kualitas air untuk budidaya tambak. Kata kunci: Plankton, Identifikasi, Indeks Keanekaragama

    Pengaruh Pemberian Sari Tebu (Saccharum officinarum L.) terhadap Kadar Gula Madu Lebah Apis mellifera: The Effect of Giving Sugarcane Juice (Saccharum officinarum L.) to the Sugar Content of Honey Bee Apis mellifera

    Get PDF
    The disruption of nectar and pollen providers for honey bees is currently a problem in the availability of natural feed. During the dry season, alternative feed sources are given to bee colonies to increase honey production. The purpose of this study was to determine the effect of feeding of sugarcane juice (Saccharum officinarum) on the sugar content of Apis mellifera honey with a comparison of the original feed in the form of nectar and pollen. This research was conducted at Batu city beekeeping. The method in this study used 4 treatments and 6 replications using the ANOVA test which was processed using SPSS 16 Analysis of the results obtained were PS 881 Sugar Cane, BL Sugar Cane, PSJK Cane is the same, but different from the control. Sugar cane has an influence on increasing sugar levels in honey.  Keywords: Artificial feed, refractometer ABSTRAK Terganggunya penyedia nektar dan polen bagi lebah madu saat ini merupakan permasalahan dalam ketersediaan pakan alami. Pada saat musim paceklik, diberikan sumber pakan alternatif kepada koloni lebah untuk meningkatkan produksi madu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan sari tebu (Saccharum officinarum) terhadap kadar gula madu Apis mellifera dengan perbandingan pakan asli berupa nektar dan polen. Penelitian ini dilakukan di peternakan lebah kota Batu. Metode pada penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 6 ulangan dengan menggunakan uji Anova yang diolah menggunakan SPSS 16. Analisis hasil yang didapatkan yaitu Tebu PS 881, Tebu BL , Tebu PSJK adalah sama, tetapi berbeda dengan kontrol. Tebu memiliki pengaruh terhadap peningkatan kadar gula pada madu. Kata Kunci: Pakan buatan, refraktomete

    Distribusi Serangga Hama pada Lahan Pertanaman Kedelai (Glicyne max) Fase Generatif di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari, Malang: Distribution of Pest Insect at Land of Soybean (Glycine max) Plant Generative Phase of Technical Implementation of Palawija Seed Development Unit of Singosari, Malang

    Get PDF
    Pest insects are a term used to refer to insects that potentially as pests, which have the potential activity to cause harm in an agro-ecosystem, either because its activity is damaging directly or indirectly. The purpose of this research is to know the type, distribution, and abiotic factors that affect the distribution of pest insects found in soybean plants of generative phase at technical implementation of Palawija (crops) Seeds Development unit, Singosari, Malang. This research uses descriptive method. Observation of pest insects on soybean plants is conducted directly (visual), based on the presence of pest insects that are considered to represent the soybean plant. The sample taking technique of pest insects uses direct technique per habitat. The results showed that pest insect species are found in generative phase of soybean plants were Spodoptera litura, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, and Phaedonia inclusa. The pest insects were uniform distributing pattern which the average values ​​of all species per week of S. litura, L. indicate, C. chalcites, and P. inclusa, in soybean plants are 0.15, 0.2, 0.17, and 0.19. Based on the results of correlation data analysis, abiotic factors measured temperature and humidity did not affect to the pattern of individual pest insect distribution on soybean plants. Keywords: Distribution pattern, Pest insect, and Soybean. ABSTRAK Serangga hama merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan serangga-serangga yang berpotensi sebagai hama yang memiliki aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerugian secara ekonomis dalam suatu agroekosistem, baik karena aktivitasnya merusak secara langsung ataupun tidak langsung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis, distribusi, dan faktor abiotik yang mempengaruhi distribusi serangga hama yang ditemukan pada tanaman kedelai di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari, Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melakukan pengamatan serangga hama pada tanaman kedelai secara langsung (visual). Teknik pengambilan sampel serangga hama yang digunakan adalah teknik langsung perhabitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga hama yang ditemukan pada tanaman kedelai fase generatif ada 4 spesies yaitu Spodoptera litura, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, dan Phaedonia inclusa. Keempat spesies tersebut pada pertanaman kedelai berdistribusi dengan pola seragam (uniform) berdasarkan nilai hasil perhitungan Indeks Morishita pada tiap spesies menunjukkan angka di bawah 1 yaitu dengan nilai rata-rata tiap spesies mulai dari yang tertinggi ke yang terendah adalah 0,2 (L. indicata); 0,19 (P. inclusa); 0,17 (C. chalcites); dan 0,15 (S. litura). Berdasarkan hasil analisis data korelasi, faktor abiotik yang diukur (suhu dan kelembaban) tidak berpengaruh terhadap pola sebaran individu serangga hama pada tanaman kedelai. Kata kunci: Pola sebaran, Serangga hama, dan Kedelai

    Profil Sebaran Burung Di Pohon Peneduh Sepanjang Jalan MT. Haryono dan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang: Profile Distribution of Birds in Shade Tree along the MT. Haryono Road and Tlogomas Subdistrict Lowokwaru, Malang

    Get PDF
    The bird is a wildlife that is easily found in almost area vegetation. In this case the bird is one of the bioindikator an area to know a change an environment and reflect the stability of the habitat. This research aims was to know the type and spread of the distribution of birds on a shade tree in the M.T. Haryono road and Tlogomas Malang. Research used the method of cruising or descriptive-explorative directly in the field with the recorded data coordinates the types of birds that are found in shade trees along the road by using GPS. The study found four types of bird i.e. emprit/Javan Munia (Lunchura leucogastroides) as much as 102 points of distribution, sparrows (Passer domesticus) as many as 18 point spread, bird cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) a total of 11 points distribution and species of birds spotted Dove (Streptopelia chinensis) 8 point spread. With the number of whole namely 139 point distribution of all trees shade. Based on studies generated frequency in the morning is 66, 2% and in the afternoon is 25, 9%. The shade tree most frequently was found by the bird are the trees of Trembesi and Mahoni.  Keywords: spatial distribution of birds, shade trees, road ABSTRAK Burung merupakan satwa liar yang mudah ditemukan hampir di daerah yang memiliki vegetasi. Dalam hal ini burung merupakan salah satu bioindikator suatu daerah untuk mengetahui suatu perubahan suatu lingkungan dan mencerminkan stabilitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan persebaran distribusi burung pada pohon peneduh di jalan M.T. Haryono dan Tlogomas Kota Malang. Penelitian menggunakan metode jelajah atau deskriptif-ekploratif secara langsung di lapangan dengan mencatat data koordinat jenis-jenis burung yang ditemukan di pohon peneduh  sepanjang jalan raya dengan menggunakan GPS. Ditemukan empat jenis burung yaitu emprit/ bondol jawa (Lunchura leucogastroides) sebanyak 102 titik persebaran, burung gereja (Passer domesticus) sebanyak 18 titik persebaran, burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) sebanyak 11 titik persebaran dan spesies burung tekukur biasa (Streptopelia chinensis) 8 titik persebaran. Dengan jumlah keseluruhan yaitu 139 titik persebaran dari semua pohon peneduh yang ada. Berdasarkan penelitian dihasilkan frekuensi pada pagi hari yaitu 66, 2 % dan pada sore hari diketahui 25, 9%. Pohon peneduh yang paling sering ditemukan oleh burung adalah pohon Trembesi dan Mahoni.    Kata kunci: Distribusi spasial burung, pohon peneduh, jalan ray

    Uji Antagonis Jamur Gliocladium sp dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium sp Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang (Musa paradisiaca L.): The Antagonist Test of Gliocladium sp Fungus on the growth inhibiting of the Fusarium sp that Cause Wilt Diseases in Banana (Musa paradisiaca L.)

    Get PDF
    The fungus Gliocladium sp. is the microbial soil that can be isolated from the root zone of banana plant  (Musa Paradica L.) Those fungi are included in the group of potentially antagonistic microbes in the growth inhibiting of Fusarium sp fungus which infects the plants and it cause disease on banana crops withered. This research aim was to know the difference of growth inhibiting percentage of Gliocladium sp, to the Fusarium sp. fungus at pH 5.5 and pH 7. This research uses experiment methods. The results of the growth inhibiting percentage in the last day was higher at pH 5.5 of 35.2% whereas at pH 7 of 14%. This indicates that the growth of the fungus is more suitable in pH acidic approach because of its nature which is able to adjust to the fungal metabolism. The inhibition mechanism of the Gliocladium sp. on fungus inhibiting of Fusarium sp. has the stages of the competition, lysis and mycoparasit. Keywords: Gliocladium sp., Fusarium sp, banana plants, pH ABSTRAK Jamur Gliocladium sp. merupakan mikroba tanah yang dapat diisolasi dari daerah perakaran tanaman pisang (Musa Paradica L.) Jamur tersebut termasuk dalam kelompok mikroba antagonis yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp yang menginfeksi tanaman yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persentase daya hambat jamur Gliocladium sp. dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. pada pH 5,5 dan pH 7. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan eksperimen. Hasil dari persentase daya hambat hari terakhir lebih tinggi pada pH 5,5 sebesar 35,2% sedangkan pada pH 7 sebesar 14%. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan jamur lebih cocok di pH mendekati asam karena sifatnya yang mampu menyesuaikan dengan metabolisme jamur. Mekanisme Penghambatan jamur Gliocladium sp. kepada jamur Fusarium sp. mempunyai tahap kompetisi, lisis dan mikoparasit. Kata kunci: Gliocladium sp., Fusarium sp., tanaman pisang, p

    Analisis Struktur Skeleton Embrio Kadal (Mabouya multifasciata) dengan Pewarnaan Alizarin Red: Skeleton Structure Analysis of the Lizard Embryo (Mabouya multifasciata) with Staining Alizarin Red

    Get PDF
    The bone growth on any organisms have different patterns and equity. In the embryo of ossification lizards happened it during the eggs in the body of the parent before was born. The research aim is to find a bone structure of the embryo that was 48 days old. The method used qualitative with the technique of purposive sampling and alizarin red staining.  Using the six embryos of  lizards (mabouya multifasciata) and it was taken directly from the mother. The analysis used is counting the long of vertebrae and extremitie. The obtained results  were the red colur on limb and vertebrae. Sections of the anterior extremity which undergoes ossification is the humerus, radius, the ulna, phalanges and claws. The posterior extremity which ossification is the femur, the fibula, the tibia, phalanges and claws. The vertebrae bone that it hapened ossification was cervical vertebrae , vertebrae thoracic, lumbar vertebrae , sacralis vertebrae and caudalis vertebrae. Whereas a bone in the part of the limb posterior ones which are not hapened ossification is the carpal and metacarpal. Keywords : lizard, alizarin red, bone structure ABSTRAK Struktur pertumbuhan tulang pada setiap masing-masing organisme mempunyai pola berbeda dan persamaan. Pada embrio kadal osifikasi terjadi semasa fase telur dalam tubuh induk sebelum dilahirkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur tulang embrio berumur 48 hari. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan pewarnaan alizarin red.  Menggunakan embrio kadal (Mabouya multifasciata) sebanyak enam ekor diambil langsung dari perut induknya.  Analisis adalah menghitung panjang tulang vertebrae dan ekstremitas. Hasil yang telah didapat adalah tulang ekstremitas dan vertebrae yang telah berwarna merah. Bagian tulang ekstremitas anterior yang telah terosifikasi adalah  humerus, radius, ulna,  falang dan cakar. Pada tulang ekstremitas posterior yang sudah mengalami osifikasi adalah  femur,  fibula, tibia, falang dan  cakar. Tulang vertebrae yang sudah mengalami osifikasi adalah  vertebrae servikalis, vertebrae torakalis, vertebrae lumbalis, vertebrae sacralis dan vertebrae caudalis. Sedangkan tulang di bagian ekstremitas posterior yang belum mengalami osifikasi yaitu  carpal dan  metacarpal.   Kata Kunci : kadal, alizarin red, struktur tulan

    211

    full texts

    254

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Ilmiah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇