Online Journal System-Kumpulan Jurnal STKIP Singkawang ((Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Singkawang)
Not a member yet
2407 research outputs found
Sort by
Analisis Kemampuan Koneksi Matematis Siswa dalam Memecahkan Masalah Geometri Berdasarkan Tingkat Berpikir Van Hiele di kelas VIII Mts Al-Fatah Singkawang
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa pada materi kubus dan balok. (2) Mengetahui kesalahan kemampuan koneksi matematis siswa pada materi kubus dan balok. (3) Mengetahui faktor penyebab kesalahan kemampuan koneksi matematis siswa pada materi kubus dan balok. Jenis penelitan ini adalah penelitian deskriptif analitis. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII Mts Al-Fatah Singkawang, dan objeknya adalah kemampuan koneksi matematis siswa pada kubus dan balok. Berdasarkan hasil analisis diperoleh: untuk indikator 1 yaitu mengenali dan memanfaatkan hubungan-hubungan antar gagasan matematika rata-ratanya adalah 66,67% dengan kategori sedang; untuk indikator 2 yaitu memahami bagaimana gagasan-gagasan dalam matematika saling berhubungan dan mendasari satu sama lain untuk menghasilkan suatu keutuhan yang koheren rata-ratanya adalah 26,11% dengan kategori rendah; untuk indikator 3 yaitu mengenali dan menerapkan matematika dalam konteks-konteks diluar matematika atau masalah kehidupan sehari-hari rata-ratanya adalah 0,36,% dengan kategori rendah. Bentuk kesalahan-kesalahan koneksi matematis siswa antara lain; (1) tidak mampu memahami masalah. (2) salah memaknai soal. (3) kesalahan konsep dan salah menentukan rumus. (4) kesalahan prosedur, (5) kesalahan dalam mengubah bahasa sehari-hari ke dalam bentuk matematika. (6) kesalahan dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaian soal cerita kubus dan balok. Factor-faktor yang mempengaruhi siswa antara lain; (1) kurangnya dalam memahami masalah dan kurangnya kemampuan siswa dalam melakukan proses pengukuran dan penentuan suatu konsep, (2) kurangnya kemampuan siswa dalam mengungkapkan ide-ide yang ia miliki untuk menyelesaikan soal yang diberikan dan siswa kurang teliti melihat hubungan-hubungan apa dari data yang ada, (3) kurangnya kemampuan siswa dalam mengubah soal dalam bahasa sehari-hari kedalam bentuk matematika. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase siswa dalam memecahkan masalah geometri berdasarkan teori Van Hiele masih berada pada kategori rendah. Jadi dari hasil penelitian didapat bahwa siswa yang memiliki kemampuan koneksi berdasarkan tingkat berpikir level 2 berada di kategori sedang sedangkan kemampuan koneksi dengan tingkat berpikir level 1 dan level 0 berada pada kategori renda
IDENTIFIKASI KECEMASAN MATEMATIKA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kecemasan matematika pada mahasiswa calon guru sekolah dasar. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode expose facto. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dengan mengacu pada standar deviasi dalam menentukan level kecemasan matematika. Hasil penelitian pada 146 mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), diketahui sebanyak 32 mahasiswa (22%) berada pada level kecemasan matematika tingkat tinggi, dan 21 mahasiswa (14%) termasuk dalam kecemasan matematika tingkat rendah. Saran utama dari penelitian ini kepada peneliti selanjutnya adalah penting dirumuskan solusi atas permasalahan kecemasan matematika pada mahasiswa PGSD, mengingat mahasiswa PGSD adalah calon guru yang juga akan mengajarkan mata pelajaran matematika kepada murid-murid SD, sehingga harus terhindar dari masalah kecemasan matematika
Penggunaan Model Problem Based Learning Berbantuan Media Kit Eksperimen Inkuiri Terhadap Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa Kelas XI SMK Pada Materi Fluida Statis
Tujuan penelitia ini adalah untuk memperoleh gambaran penggunaan model probelem based learning untuk meningkatkan peguasaan konsep siswa SMK kelas XI pada materi fluida statis serta untuk memperoleh gambaran tanggapan siswa terhadap model problem based learning. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan desain “pretest-posttest control group design” yang dilaksanakan di kelas XI pada salah satu SMK di kabupaten Sambas untuk tahun pelajaran 2011/2012. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes awal dan tes akhir untuk pengguasaan konsep siswa serta angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap model problem based learning. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh rata-rata N-gain penguasaan konsep siswa 0,33 untuk kelas eksperimen dan 0,206 untuk kelas kontrol. Hasil uji hipotesis menggunakan uji t dua sampel independen dengan SPSS 16 menunjukkan bahwa peningkatan penguasaan konsep siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model problem based learning berbantuan media eksperimen inkuiri lebih tinggi dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan problem based learning dengan metode praktikum bebas. Disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan problem based learning dengan eksperimen inkuiri secara signifikan dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep dan siswa dibandingkan dengan pembelajaran problem based learning dengan praktikum bebas
Penerapan Model Learning Cycle (LC) 7E Sebagai Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Aspek Menafsirkan dan Menyimpulkan Materi Kalor Kelas X SMA
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran peningkatan pemahaman konsep siswa melalui penerapan model Learning Cycle (LC) 7E pada materi kalor kelas X SMA. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan bentuk pre-eksperiment. Desain yang digunakan adalah one group pretest posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X salah satu SMA Negeri di Kota Singkawang. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XB yang berjumlah 17 siswa dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Alat pengumpulan data berupa tes pemahaman konsep berbentuk pilihan ganda dan non tes yang berupa respon siswa terhadap penerapan model LC 7E. Nilai reliabilitas tes pilihan ganda sebesar 0,71 berada pada kategori tinggi. Peningkatan pemahaman konsep siswa setelah diterapkan model LC 7E pada materi kalor di kelas X mengalami peningkatan dengan N-gain sebesar 0,78 berada pada kategori tinggi. Respon siswa terhadap penerapan model LC 7E sebesar 89% dengan kategori sangat baik
The Professionalism of Indonesian Teachers in The Future
Teachers are the most crucial factor in learning. Therefore, the process and success of learning as a determinant of the quality of education in the future were determined by the professionalism of teachers. The professionalism of Indonesian teachers in the future must be in line with the demands of their profession, namely (1) having teacher competence covering pedagogic competence, personality competence, social competence, and professional competence, (2) realizing Indonesian language learning in accordance with current curriculum , (3) implementing the paradigm of 21st century learning that has nationalism, global perspective, and multi-literacy to produce graduates who have soft skill and hard skills that are superior and competitive so that they become qualified human resources
ANALISIS KELANCARAN PROSEDURAL MATEMATIS SISWA PADA MATERI PERSAMAAN EKSPONEN KELAS X SMA NEGERI 2 SINGKAWANG
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelancaran prosedural matematis siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Singkawang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif, bentuk penelitian yang digunakan deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas Xa SMA Negeri 2 Singkawang. Pengambilan data menggunakan instrumen berupa tes essay yang disesuaikan dengan karekteristik kelancaran prosedural matematis dan telah diujikan dengan validasi isi, validasi konstruk, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Hasil penelitian menunjunkan kelancaran prosedural matematis siswa; (1) kelompok atas yaitu 64% dengan kategori rendah, khususnya pada indikator fleksibel yaitu 74% dengan kategori sedang, indikator efisien yaitu 78% dengan kategori sedang dan indikator efektif yaitu 41% dengan kategori sangat rendah; (2) kelompok tengah yaitu 53% dengan kategori sangat rendah, khususnya pada indikator fleksibel yaitu 90% dengan ketegori sangat tinggi, indikator efisien yaitu 36% dengan kategori sangat rendah dan pada indikator efektif yaitu 33% dengan kategori sangat rendah; (3) kelompok bawah yaitu 34% dengan kategori sangat rendah, khususnya pada indikator fleksibel yaitu 48% dengan kategori sangat rendah, indikator efisien yaitu 33% dengan kategori sangat rendah dan pada indikator efektif yaitu 22% dengan kategori sangat renda
Penerapan Model Pembelajaran Self-Directed Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis Mahasiswa
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan pemahaman matematis mahasiswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan model pembelajaran Self-Directed Learning dan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan konvensional. Penelitian ini melibatkan dua kelas. Kelas pertama memperoleh pembelajaran menggunakan model pembelajaran Self-Directed Learning dan kelas kedua memperoleh pembelajaran menggunakan konvensional. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan pemahaman matematis. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Galuh mahasiswa semester 2 tahun akademik 2017/2018. Analisis data dilakukan terhadap rataan gain ternormalisasi kedua kelompok sampel dengan menggunakan uji perbedaan rataan gain ternormalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemahaman matematis mahasiswa antara mahasiswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan model pembelajaran self-directed learning dengan mahasiswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan konvensional
Bimbel Activities Program Guide Using Collaborative Approach of School Elementary Student at Village Pajintan
Free Tutoring Program conducted by lecturers collaborate with students STKIP Singkawang seeing their children's needs will be additional learning after school. Tutoring helps students in doing homework on a given subject in school and help the students' understanding of the lessons they do not understand at school. In addition to assisting students in understanding cognitive activities, tutors also inculcate moral values are good to the students as a way to talk, behave towards older people and others. Tutoring also helps faculty to see the education of elementary school children in pajintan and tutors teach students to develop their abilities in front of the children as their stock later after becoming a teacher. Tutoring activity is carried out twice a week is Saturday and Sunday at 15: 00-16: 030. Kids will get together and tutor will ask them what they learned today. Then divide each tutor will be in accordance with the appropriate number of students and subjects what they want to learn. The number of students in the activities is 26 students tutoring kids who follow learning have willingness to learn. Results are expected after tutoring activities are the students who are expected to gain new knowledge or mastery of a better school after attending tutorin